
Elizabeth Blackwell lahir pada 3 Februari 1821 di Bristol, Inggris, dalam keluarga religius dan makmur. Ayahnya, Samuel Blackwell, adalah pengusaha gula yang juga aktif dalam gerakan penghapusan perbudakan. Kehidupan masa kecil Elizabeth bahagia dan penuh dengan semangat belajar, di mana ia lebih banyak dididik oleh guru privat dibandingkan sekolah formal. Kecintaannya pada buku mengisi hari-harinya dan membentuk cita-cita besarnya di kemudian hari.
Pada tahun 1832, keluarganya pindah ke Amerika Serikat setelah bisnis ayahnya terbakar habis. Mereka mencoba membangun hidup baru, namun nasib berkata lain. Ayah Elizabeth meninggal dunia enam tahun kemudian, membuat keluarga mereka berada di ambang kebangkrutan. Demi menyambung hidup, Elizabeth dan kakak-kakaknya membuka sekolah kecil untuk anak-anak perempuan di Cincinnati.
Meskipun memiliki daya tarik terhadap laki-laki, Elizabeth memutuskan untuk tidak bergantung pada pernikahan. Ia memilih hidup mandiri dan menjadi guru di negara bagian bagian selatan yang masih memberlakukan perbudakan. Di sana, ia mengalami pergolakan batin karena menyaksikan ketidakadilan terhadap para budak. Pengalaman ini memperkuat prinsip moral dan sosial yang ia pegang sepanjang hidupnya.
Keputusan untuk menjadi dokter datang setelah seorang teman yang sekarat mengungkapkan bahwa ia akan lebih nyaman dirawat oleh seorang dokter perempuan. Hal ini menyentuh hati Elizabeth dan mendorongnya untuk menekuni dunia medis, meskipun ia sempat merasa jijik terhadap penyakit. Dengan tekad kuat, ia mulai menabung untuk kuliah kedokteran dengan mengajar di negara-negara bagian selatan.
Perjuangannya untuk masuk sekolah kedokteran tidaklah mudah. Ia ditolak berkali-kali sampai akhirnya diterima di Geneva Medical College, New York, karena para mahasiswa pria di sana mengira aplikasi Elizabeth hanyalah lelucon. Ketika ia benar-benar hadir di kelas, semua orang terkejut, namun ia tetap bertahan dan menunjukkan kesungguhan dalam belajar.
Elizabeth lulus pada 23 Januari 1849 sebagai perempuan pertama di Amerika yang meraih gelar dokter. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Eropa dan sempat belajar di Paris. Sayangnya, ia kehilangan penglihatan di mata kirinya akibat kecelakaan saat merawat bayi. Peristiwa ini menghentikan impiannya menjadi ahli bedah, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengabdi di dunia medis.
Sekembalinya ke Amerika, ia mendirikan praktik sendiri karena tidak ada rumah sakit yang mau mempekerjakannya. Pada 1857, ia berhasil mendirikan rumah sakit bernama New York Infirmary for Indigent Women and Children bersama adiknya, Emily, dan seorang dokter perempuan lain. Rumah sakit ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi tempat pelatihan bagi perawat.
Pada 1858, Elizabeth menjadi perempuan pertama yang terdaftar secara resmi di British Medical Register, yang membuatnya dapat berpraktik di Inggris. Ketika Perang Saudara Amerika pecah pada 1861, ia membantu melatih perawat dan mempromosikan pentingnya kebersihan dalam merawat tentara yang terluka.
Tahun 1868, cita-citanya mendirikan sekolah kedokteran bagi perempuan akhirnya tercapai. Sekolah ini menjadi tempat pendidikan kedokteran modern yang setara dengan institusi pria, dengan kurikulum tiga tahun, pelatihan klinis, dan ujian independen. Ia mengajar langsung sebagai profesor kebersihan, sementara Emily mengajar obstetri.
Pada 1869, Elizabeth kembali ke Inggris secara permanen dan membuka praktik di London. Ia membentuk National Health Society untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya sanitasi. Ia juga menjadi dosen di London School of Medicine for Women hingga harus pensiun karena masalah kesehatan.
Meskipun pensiun, Elizabeth tetap aktif menulis buku-buku tentang kesehatan dan isu sosial. Ia menekankan pentingnya peran perempuan dalam dunia kedokteran. Pada usia 74, ia menerbitkan autobiografinya berjudul Pioneer Work in Opening the Medical Profession to Women yang menjadi bukti ketekunan dan kontribusinya bagi dunia medis.
Elizabeth tidak pernah menikah, tetapi pada tahun 1854 ia mengadopsi seorang anak yatim dari Irlandia bernama Kitty yang setia menemaninya sepanjang hidup. Menjelang akhir hayatnya, ia tinggal di Hastings, Inggris, dan setiap musim panas berlibur ke Kilmun, Skotlandia. Pada 1907, ia jatuh dari tangga dan mengalami penurunan fisik dan mental.
Elizabeth Blackwell wafat pada 31 Mei 1910 di usia 89 tahun akibat stroke. Sesuai keinginannya, abunya dikuburkan di gereja St Munn’s di Kilmun. Warisan perjuangannya membuka jalan bagi perempuan lain untuk berkarier di dunia kedokteran dan menjadi simbol kekuatan tekad serta pengabdian.[]
