Ketika Hutan Hujan Hilang, Bumi Terjebak dalam Panas Ekstrem

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa hilangnya hutan hujan tropis saat peristiwa kepunahan massal terbesar di Bumi — yang dikenal sebagai “Kematian Besar” — mungkin menjadi penyebab utama dari pemanasan global berkepanjangan yang terjadi setelahnya. Sekitar 252 juta tahun lalu, peristiwa ini menghapus sebagian besar kehidupan laut dan banyak spesies darat, diduga akibat aktivitas vulkanik besar di Siberia. Namun, para ilmuwan selama ini masih bertanya-tanya mengapa pemanasan ekstrem tersebut berlangsung selama lima juta tahun.

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Universitas Leeds dan Universitas Geosains China di Wuhan kini telah menemukan bukti baru yang menguatkan hipotesis bahwa kehancuran hutan hujan tropis menyebabkan hilangnya fungsi Bumi dalam menyerap karbon dioksida. Saat hutan ini lenyap, CO₂ yang seharusnya diserap oleh tanaman dan tanah dibiarkan melayang bebas di atmosfer, menyebabkan suhu global terus naik.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis catatan fosil dan kondisi iklim purba melalui batuan-batuan khas di China. Mereka memetakan perubahan produktivitas tanaman selama peristiwa tersebut dan menemukan bahwa vegetasi hancur secara drastis. Hasil riset ini dipublikasikan dalam Nature Communications pada 2 Juli 2025.

Penulis utama makalah ini, Dr. Zhen Xu dari Universitas Leeds, menyatakan bahwa kepunahan hutan tropis ini merupakan satu-satunya dalam sejarah Bumi yang dikaitkan dengan lonjakan suhu ekstrem. Temuan ini menegaskan bahwa sistem iklim Bumi memiliki “titik kritis”, yaitu ambang batas yang jika terlewati, pemanasan global bisa melaju tak terkendali.

China memiliki catatan geologi paling lengkap tentang peristiwa kepunahan ini. Dr. Xu melanjutkan kerja para profesor senior di bidang paleontologi China, dan sejak 2016 melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah terpencil untuk mengumpulkan data fosil. Ia kemudian bekerja sama dengan Profesor Benjamin Mills di Inggris untuk memodelkan bagaimana kehilangan hutan berdampak pada sistem iklim.

Model iklim yang mereka buat menunjukkan bahwa penurunan penyerapan karbon akibat hancurnya hutan sesuai dengan besarnya pemanasan yang terjadi setelah peristiwa tersebut. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa jika hutan tropis saat ini mengalami kehancuran serupa akibat pemanasan global, maka iklim kita mungkin tidak akan kembali ke kondisi sebelum era industri — bahkan jika emisi CO₂ dihentikan.

Profesor Mills memperingatkan bahwa dalam skenario semacam itu, pemanasan bisa terus meningkat karena sistem karbon Bumi telah terganggu dalam jangka waktu geologis. Ini berarti pemulihannya bisa memakan waktu jutaan tahun.

Profesor Hongfu Yin dan Profesor Jianxin Yu menambahkan bahwa penting bagi paleontologi untuk menggabungkan metode lama dan teknologi baru seperti pemodelan numerik untuk memahami masa lalu dan melindungi masa depan. Mereka berharap hasil kerja mereka bisa berdampak luas, bukan hanya untuk ilmu pengetahuan tetapi juga bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di Bumi.

Penelitian ini didanai oleh UK Research and Innovation (UKRI) dan National Natural Science Foundation of China (NSFC), serta didukung oleh ETH+, Australian Research Council, dan berbagai lembaga internasional lainnya. Dengan studi ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana hutan tropis yang kini kita miliki bisa jadi menjadi satu-satunya penghalang terakhir terhadap bencana iklim tak terbendung.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *