Technoscience

Mengambil Data Otak

Saat ini, teknologi yang bisa membaca gelombang otak sedang berkembang pesat. Banyak produk yang dijanjikan bisa membantu seseorang tidur lebih nyenyak, mengurangi kecemasan, atau meningkatkan kenyamanan. Namun, meskipun teknologi ini menjanjikan berbagai manfaat, ada hal penting yang perlu diperhatikan: data otak mungkin sedang dijual tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Beberapa perusahaan yang mengembangkan teknologi ini mengumpulkan informasi dari otak. Data yang diambil bisa mengungkapkan banyak hal, seperti kondisi kesehatan mental, perasaan, bahkan pola pikir . Meskipun data ini bisa dianonimkan (dihapus identitasnya), tetap saja informasi ini sangat pribadi dan sensitif. Hal ini membuat banyak orang khawatir tentang siapa yang mengakses dan menggunakan data mereka. Namun, ada masalah besar: Saat ini, tidak ada aturan yang jelas tentang bagaimana data ini harus dilindungi. Sementara perangkat medis seperti Neuralink (milik Elon Musk) diharuskan mengikuti aturan perlindungan data yang ketat, perangkat yang hanya bertujuan untuk “kenyamanan” tidak perlu mengikuti aturan yang sama. Perangkat-perangkat ini, meskipun tidak dimaksudkan untuk pengobatan, sering kali mengumpulkan dan menggunakan data tanpa pengawasan yang cukup.

Mengambil data dari otak tidak hanya berisiko bagi privasi, tetapi juga bisa membawa bahaya serius jika disalahgunakan. Data yang mengungkapkan kondisi mental, perasaan, atau pola kognitif seseorang bisa disalahgunakan untuk memanipulasi keputusan atau tindakan. Misalnya, informasi tentang kecemasan atau stres bisa digunakan oleh perusahaan untuk membuat iklan yang lebih efektif dan memanipulasi perasaan agar membeli produk tertentu. Selain itu, data otak yang dikumpulkan tanpa persetujuan bisa digunakan untuk eksperimen yang tidak diketahui oleh konsumen, atau bahkan untuk pencurian identitas dan penyalahgunaan informasi pribadi. Jika informasi ini sampai jatuh ke tangan yang salah, bisa menyebabkan diskriminasi atau stigmatisasi terhadap individu yang memiliki gangguan mental atau pola pikir tertentu.

Sudah ada beberapa implementasi dan kasus nyata terkait pengambilan dan pemanfaatan data otak ini. Salah satunya adalah perusahaan seperti Neuralink yang menggunakan teknologi untuk membaca aktivitas otak dengan tujuan untuk membantu pengobatan gangguan saraf atau meningkatkan kemampuan otak manusia. Namun, di luar aplikasi medis, perangkat lain yang mengklaim membantu meningkatkan kualitas hidup, seperti alat yang diklaim bisa membantu tidur lebih baik atau mengurangi stres, sering kali tidak diawasi ketat. Beberapa produk ini mengumpulkan data otak pengguna tanpa jelas mengungkapkan bagaimana data tersebut akan digunakan atau dilindungi. Terkadang, pengguna tidak diberi informasi yang cukup mengenai apa yang terjadi dengan data mereka, dan apakah itu dijual atau dibagikan ke pihak ketiga.

Beberapa negara bagian di Amerika Serikat sudah mulai mengatur perlindungan data saraf. Colorado, misalnya, baru saja mengesahkan undang-undang yang memperluas cakupan Undang-Undang Privasi Colorado untuk mencakup data biologis. California juga mengesahkan undang-undang pada bulan September untuk menawarkan persyaratan privasi baru terkait data otak. Namun, perlindungan ini masih terbatas, dan banyak tempat lain yang belum memiliki aturan yang jelas.

Para senator Amerika Serikat, termasuk Chuck Schumer, Maria Cantwell, dan Ed Markey, baru-baru ini meminta Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk mengubah aturan ini. Mereka ingin FTC memperkenalkan aturan yang lebih ketat untuk melindungi data otak, dengan cara mewajibkan perusahaan untuk melaporkan bagaimana mereka mengumpulkan dan menggunakan data tersebut. Mereka juga berharap agar ada perlindungan yang lebih baik untuk mencegah data otak dijual tanpa izin.

Data otak bisa mengungkapkan banyak hal yang sangat pribadi. Misalnya, perangkat yang mengukur aktivitas otak bisa mengetahui apakah seseorang sedang stres, cemas, atau bahkan depresi. Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, bisa menimbulkan masalah besar. Itulah mengapa perlindungan data otak menjadi sangat penting. Kita semua harus lebih sadar tentang bagaimana data pribadi dikumpulkan dan digunakan. Tanpa perlindungan yang jelas, seseorang mungkin tidak tahu seberapa banyak informasi pribadinya yang telah dijual atau digunakan tanpa izin.

Teknologi yang membaca otak memang membawa manfaat, tetapi kita perlu hati-hati dengan bagaimana data otak digunakan. Perlindungan yang lebih kuat diperlukan untuk menjaga agar data pribadi tetap aman. Perlu didorong agar ada aturan yang lebih ketat supaya perusahaan tidak sembarangan menjual data pribadi.[]

Mengambil Data Otak Read More »

Pembatas Kecepatan

Kebut-kebutan di jalanan menjadi salah satu penyebab utama kematian di jalan raya. Di Amerika Serikat, hampir sepertiga dari semua kematian akibat kecelakaan disebabkan oleh pengemudi yang melaju dengan kecepatan tinggi, dan angka ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa negara bagian di AS mulai memperkenalkan teknologi pembatas kecepatan cerdas yang bisa membantu mencegah pengemudi kebut-kebutan.

Salah satu solusi yang sedang diuji adalah sistem yang disebut intelligent speed assistance (ISA), yaitu perangkat yang dapat mengatur kecepatan mobil agar tidak melebihi batas yang ditentukan. Di New York, ada RUU yang sedang dibahas yang akan mewajibkan pengemudi dengan banyak pelanggaran untuk memasang perangkat ISA di mobil mereka. Sistem ini bertujuan untuk mencegah pengemudi mengemudi lebih dari 5 mil per jam di atas batas kecepatan yang berlaku.

Virginia menjadi negara bagian pertama yang mewajibkan pengemudi yang dihukum karena melaju lebih dari 100 mil per jam untuk memasang perangkat GPS yang mencegah mereka melebihi batas kecepatan lebih dari 10 mil per jam. RUU ini disahkan setelah Washington, D.C. juga menerapkan aturan serupa bagi pengemudi dengan lisensi yang dicabut atau dibekukan karena kebut-kebutan.

Di New York, gerakan untuk menggunakan sistem ISA berkembang pesat setelah beberapa insiden tragis, termasuk kecelakaan yang merenggut nyawa seorang ibu dan dua anaknya yang tertabrak oleh pengemudi dengan lisensi yang dibekukan. Para pendukung sistem ini, termasuk anggota dewan kota dan organisasi keselamatan jalan, kini mendesak legislator negara bagian untuk segera mengambil langkah dengan mengesahkan RUU yang mengatur pembatasan kecepatan otomatis bagi pengemudi bermasalah.

Di sisi lain, beberapa negara bagian lain seperti Georgia juga tengah menunggu persetujuan gubernur untuk menerapkan aturan serupa. Namun, ada beberapa kendala, seperti yang terjadi di California, di mana gubernur Gavin Newsom memveto RUU terkait dengan alasan adanya evaluasi federal yang sedang berlangsung terkait teknologi pembatas kecepatan ini.

Ada beberapa jenis sistem ISA yang tersedia. Ada yang hanya memberi peringatan saat pengemudi melaju terlalu cepat, dan ada pula yang bisa langsung menghentikan percepatan mobil jika pengemudi tetap melaju melebihi batas kecepatan. Pada tahun 2013, setelah menyelidiki kecelakaan besar yang menyebabkan sembilan kematian, National Transportation Safety Board (NTSB) mendorong untuk penerapan teknologi ini di seluruh kendaraan baru. Uni Eropa sendiri sudah mewajibkan pemasangan sistem ini di mobil-mobil baru sejak tahun lalu.

Penerapan teknologi pembatas kecepatan ini bukan hanya untuk melindungi pengemudi itu sendiri, tetapi juga untuk keselamatan semua orang di jalan. Dengan sistem ini, pengemudi yang sering melanggar batas kecepatan bisa dibantu untuk lebih berhati-hati dan mengemudi dengan aman, mengurangi risiko kecelakaan dan penyalahgunaan kebebasan berkendara.

Dengan semakin banyaknya negara bagian yang mencoba menerapkan sistem pembatas kecepatan ini, diharapkan keselamatan di jalan raya dapat meningkat dan pengemudi lebih disiplin dalam berkendara, tanpa mengorbankan nyawa orang lain di jalan. Bagaimana di tempat anda?[]

Pembatas Kecepatan Read More »

Konflik Satelit

Eropa kini berada di persimpangan yang sangat penting dalam hal teknologi satelit. Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah apakah Eropa akan memilih teknologi satelit dari Amerika Serikat (AS) atau China. Pilihan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang pengaruh politik, ekonomi, dan bahkan keamanan internasional yang akan berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat Eropa.

Brendan Carr, Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS, mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana pengaruh politik dapat membentuk keputusan jangka panjang Eropa terkait teknologi satelit. Carr menyatakan bahwa jika Eropa lebih memilih untuk bekerja sama dengan China dalam hal satelit, mereka akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar di masa depan. Menurut Carr, Eropa seharusnya fokus pada ancaman jangka panjang yang ditimbulkan oleh kebangkitan Partai Komunis China.

Salah satu contoh utama dalam persaingan ini adalah Starlink, yang dimiliki oleh SpaceX, perusahaan milik Elon Musk. Starlink adalah jaringan satelit terbesar di dunia yang menyediakan layanan internet dan konektivitas ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Namun, beberapa negara Eropa mulai mempertanyakan keputusan untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Musk. Baru-baru ini, sejumlah pemerintah Eropa menangguhkan pembicaraan pembelian layanan Starlink setelah Musk mengungkapkan bahwa akses internet Ukraina bisa terhenti di medan perang jika Starlink dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa Starlink, meskipun sangat efisien, juga bisa digunakan untuk tujuan yang kontroversial.

Meskipun Eropa memiliki alternatif untuk teknologi satelit, seperti Eutelsat milik Prancis, namun alternatif-alternatif ini masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Starlink. Eutelsat hanya mengoperasikan sekitar sepersepuluh jumlah satelit yang dimiliki Starlink, dan biaya layanan yang ditawarkan jauh lebih tinggi. Selain itu, perusahaan satelit China, seperti Spacesail, meskipun baru memiliki sedikit satelit, memiliki rencana ambisius untuk meluncurkan hingga 15.000 satelit pada tahun 2030. Ini menempatkan mereka dalam posisi yang lebih baik untuk menjadi pesaing berat bagi Starlink di masa depan.

Jika Eropa memilih untuk terus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS, mereka akan mengandalkan teknologi yang telah terbukti efisien dan dapat diakses dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, keputusan ini bisa berisiko membawa dampak politik yang besar, terutama mengingat ketegangan yang meningkat antara AS dan beberapa negara Eropa. Di sisi lain, memilih untuk bergantung pada satelit China membawa tantangan tersendiri. Banyak yang khawatir bahwa ini bisa memperburuk ketegangan politik dengan AS dan sekutu lainnya, serta meningkatkan risiko keamanan. China memiliki ambisi besar dalam teknologi satelit dan AI, yang bisa menempatkan Eropa dalam posisi yang sangat sulit jika terjadi konflik politik di masa depan.

Eropa kini dihadapkan pada pilihan besar yang bisa menentukan arah masa depan teknologi satelit mereka. Memilih teknologi satelit dari AS menawarkan efisiensi dan biaya yang lebih terjangkau, tetapi membawa risiko politik, sementara memilih teknologi China memberikan peluang untuk pertumbuhan yang lebih cepat tetapi menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan hubungan internasional. Keputusan ini tidak hanya akan mempengaruhi ekonomi dan teknologi Eropa, tetapi juga posisi mereka di panggung dunia dalam beberapa dekade mendatang.

Sumber: Jess Weatherbed, “It’s time for Europe to choose between US or Chinese satellite tech, says FCC chair,” Financial Times, 16 April 2025.

Konflik Satelit Read More »

Al-Biruni: Perjalanan Ilmuwan dari Desa yang Mengubah Dunia

Di sebuah desa kecil di Khwarezm, yang kini terletak di Uzbekistan, lahir seorang anak lelaki yang kelak akan dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan dunia: Abu Rayhan al-Biruni. Cerita tentang masa kecil dan perjalanan hidupnya yang luar biasa bukan hanya menggambarkan ketekunan seorang ilmuwan, tetapi juga menjadi cerminan dari semangat pencarian ilmu yang tak kenal lelah, didorong oleh lingkungan yang sangat mendukung ilmu pengetahuan pada masa itu.

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, dalam keluarga yang sederhana di wilayah Khwarezm, yang saat itu merupakan bagian dari Kekhalifahan Abbasiyah. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan luar biasa. Pada masa kecilnya, seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, Al-Biruni tidak hanya terfokus pada pendidikan agama, tetapi juga sangat tertarik pada pengetahuan ilmiah. Ia menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku yang tersedia dan berdiskusi dengan guru-gurunya tentang berbagai topik, terutama astronomi dan matematika.

Namun, meskipun berasal dari keluarga yang tidak kaya raya, Al-Biruni selalu memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu. Semangatnya untuk memahami alam semesta dan segala aspeknya mendorongnya untuk terus belajar. Ia tahu bahwa meskipun ia berasal dari desa kecil, dunia ilmu pengetahuan terbuka lebar untuk mereka yang berusaha keras mencapainya. Al-Biruni merasa bahwa pencarian pengetahuan adalah sebuah perjalanan yang tak terbatasi oleh status sosial atau asal usul.

Al-Biruni tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang dia peroleh di rumah atau di kampung halamannya. Seiring berjalannya waktu, ia merasa perlu untuk mempelajari ilmu pengetahuan dari lebih banyak sumber. Pada usia muda, ia meninggalkan kampung halamannya dan melanjutkan pendidikannya di Baghdad, yang saat itu menjadi pusat intelektual dunia Islam. Baghdad merupakan ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah dan terkenal dengan Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), tempat berkumpulnya ilmuwan-ilmuwan besar dari berbagai disiplin ilmu.

Kekhalifahan Abbasiyah dikenal karena kemajuan yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, yang didorong oleh kepemimpinan yang sangat mendukung riset dan pengembangan ilmu. Khalifah-khalifah Abbasiyah memfasilitasi para ilmuwan dengan menciptakan lembaga-lembaga pendidikan yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu, tanpa melihat latar belakang sosial mereka. Bait al-Hikmah adalah pusat intelektual di mana berbagai disiplin ilmu, mulai dari matematika, astronomi, kedokteran, hingga filosofi, berkembang pesat. Al-Biruni menjadi salah satu ilmuwan yang memanfaatkan fasilitas ini untuk memperdalam pengetahuannya.

Di Baghdad, Al-Biruni bertemu dengan berbagai ilmuwan besar dan mulai belajar dari mereka, tetapi yang lebih penting lagi adalah semangatnya untuk mengembangkan pengetahuan lebih jauh lagi. Al-Biruni bukan hanya seorang pelajar biasa; ia adalah seorang yang terus-menerus bertanya dan menganalisis. Tak jarang, ia meluangkan waktu berjam-jam untuk mengamati fenomena alam dan langit. Ia merasa bahwa pencarian pengetahuan harus dilakukan dengan ketekunan dan akurasi.

Sebagai seorang ilmuwan, Al-Biruni memiliki pandangan yang luas. Ia tidak hanya puas dengan pengetahuan dunia Islam, tetapi juga tertarik untuk mempelajari budaya dan pengetahuan dari bangsa-bangsa lain. Salah satu hal yang paling menarik dari perjalanan intelektual Al-Biruni adalah ketertarikannya untuk mempelajari ilmu dari India.

Pada suatu waktu, ia melakukan perjalanan ke India untuk mempelajari astronomi dan matematika dari bangsa tersebut. Di sana, ia menguasai bahasa Sanskerta dan mempelajari teks-teks ilmiah India, yang membuatnya menjadi salah satu ilmuwan pertama yang dapat menggabungkan pengetahuan Barat, Timur Tengah, dan India dalam karyanya.

Namun, bukan hanya budaya India yang memengaruhi Al-Biruni. Ia juga mempelajari karya-karya ilmuwan dari Yunani, Persia, dan bahkan Mesir. Al-Biruni meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara atau budaya. Bagi Al-Biruni, pengetahuan adalah milik umat manusia dan harus terus diperluas.

Al-Biruni dikenal luas karena kemampuannya yang luar biasa dalam banyak disiplin ilmu, namun dua bidang yang paling menonjol dari karyanya adalah astronomi dan geografi. Dalam astronomi, ia mengembangkan teori-teori yang sangat maju untuk masanya, termasuk pengukuran posisi bintang dan pengamatan gerakan planet. Ia bahkan mampu menghitung panjang dan lebar bumi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi menggunakan teknik yang ia kembangkan sendiri.

Namun, pencapaian terbesar Al-Biruni mungkin adalah karya monumentalnya yang berjudul Kitab al-Hind (Buku tentang India). Buku ini merupakan hasil riset dan observasi mendalam tentang kebudayaan, agama, dan ilmu pengetahuan India. Ia menulis tentang berbagai aspek kehidupan di India, mulai dari sistem kasta hingga metode ilmiah yang digunakan oleh para ilmuwan India pada masa itu. Buku ini adalah hasil dari pengamatan langsung Al-Biruni selama ia tinggal di India dan menjadi salah satu karya ilmiah yang paling dihormati dalam sejarah.

Al-Biruni juga mempopulerkan metode ilmiah dengan mengedepankan eksperimen dan pengamatan langsung. Ia mengutamakan verifikasi teori-teori melalui percobaan dan observasi ketimbang hanya mengandalkan tulisan-tulisan sebelumnya. Ini merupakan langkah besar menuju perkembangan metode ilmiah modern.

Kepemimpinan Islam pada masa Al-Biruni sangat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan. Khalifah-khalifah Abbasiyah, khususnya, memandang bahwa kemajuan dalam ilmu pengetahuan adalah bagian dari kemajuan peradaban Islam. Mereka tidak hanya mendukung para ilmuwan dengan memberikan fasilitas untuk riset, tetapi juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan seperti Bait al-Hikmah yang berfungsi sebagai pusat intelektual dan riset.

Khalifah Harun al-Rasyid dan putranya, Al-Ma’mun, adalah dua contoh pemimpin yang sangat mendukung pengembangan ilmu. Mereka mendirikan Bait al-Hikmah dan memberikan dana serta sumber daya yang diperlukan bagi ilmuwan untuk melakukan riset dan mengembangkan ilmu. Keberadaan lembaga-lembaga ini memungkinkan ilmuwan seperti Al-Biruni untuk memiliki akses yang luas terhadap berbagai pengetahuan dan riset dari berbagai penjuru dunia, yang membantu mereka berkembang sebagai ilmuwan besar.

Kisah hidup Al-Biruni mengajarkan kita banyak hal, terutama tentang ketekunan, rasa ingin tahu, dan keteguhan hati dalam mencari ilmu. Sejak masa kecilnya, ia sudah memiliki tekad kuat untuk belajar dan memahami dunia. Semangatnya untuk mencari kebenaran, tanpa memandang batas-batas geografis atau budaya, menjadi teladan bagi kita semua.

Pencarian ilmu yang tak kenal lelah, baik melalui eksperimen maupun observasi, adalah contoh nyata dari pentingnya riset dan ketelitian dalam dunia ilmiah. Al-Biruni mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah mengenal batas, dan setiap langkah kecil menuju pemahaman baru dapat membawa dampak besar bagi kemajuan peradaban manusia.

Dari seorang anak desa yang penuh rasa ingin tahu hingga menjadi ilmuwan besar yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, perjalanan hidup Al-Biruni adalah bukti nyata dari kekuatan ilmu pengetahuan dan dedikasi seorang ilmuwan. Ia tidak hanya mengembangkan berbagai bidang ilmu seperti astronomi, matematika, dan geografi, tetapi juga menunjukkan pentingnya rasa ingin tahu yang mendalam sejak masa kecil. Semangat Al-Biruni untuk terus belajar dan menggali pengetahuan, serta ketulusannya dalam berbagi ilmu, meninggalkan warisan yang masih dihargai hingga hari ini.

Al-Biruni: Perjalanan Ilmuwan dari Desa yang Mengubah Dunia Read More »

Kiamat Sains di Amerika?

Pada masa lalu, Kesultanan Utsmaniyah dikenal dengan julukan “The Sick Man of Europe” — simbol dari sebuah kekuasaan besar yang perlahan merosot karena korupsi internal, lemahnya sistem pemerintahan, tekanan geopolitik, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan zaman. Hari ini, Amerika Serikat, negara yang dulunya dianggap mercusuar demokrasi dan sains dunia, mulai menunjukkan gejala-gejala serupa. Salah satu indikator paling mengkhawatirkan adalah pelemahan terhadap dunia akademik dan sains — sebuah kemunduran peradaban yang mengingatkan kita pada detik-detik terakhir imperium yang sedang sekarat.

Masa pemerintahan Donald Trump menandai babak baru dari konflik antara politik populis dan komunitas ilmiah. Selama pandemi COVID-19, Trump secara terbuka meremehkan sains dan ahli epidemiologi, menyebarkan disinformasi, serta mempromosikan obat-obatan tanpa dasar ilmiah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bahkan dilaporkan disensor dan dipolitisasi dalam hal pelaporan data pandemi (Antonio, 2021). Kondisi ini bukan hanya mencederai kepercayaan publik terhadap sains, tetapi juga membuat pengambilan keputusan kebijakan menjadi tidak berbasis data. Amerika Serikat, negara yang dahulu menjadi pemimpin riset dunia, mulai kehilangan arah dalam kebijakan ilmiah dan kesehatan masyarakat.

Pada April 2025, beberapa laporan mengabarkan bahwa “Mahasiswa Internasional di AS Alami Pencabutan Visa Mendadak”. Kasus ini adalah refleksi langsung dari kebijakan eksklusif dan xenofobia yang tumbuh subur di bawah bayang-bayang Trumpisme. Mahasiswa internasional — tulang punggung kampus-kampus top dunia seperti MIT dan Harvard — kini hidup dalam ketidakpastian hukum dan politik. Langkah ini menandai pergeseran besar: dari negara yang dulunya membuka pintu bagi otak-otak cemerlang dari seluruh dunia, menjadi negara yang menutup diri dalam paranoia dan ketakutan. Pencabutan visa ini bukan hanya masalah administratif, melainkan juga isyarat ideologis bahwa sains dan pendidikan tidak lagi menjadi prioritas nasional.

Polarisasi ekstrem juga merambat hingga ke dunia akademik. Universitas-universitas yang secara historis menjadi pusat perdebatan dan kemajuan ide justru menjadi medan perang ideologi. Penolakan terhadap prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan — seperti teori perubahan iklim atau vaksinasi — tidak lagi dibatasi pada ruang privat atau media sosial, melainkan mendapat panggung resmi dalam lembaga negara. Dalam penelitian terbaru, dijelaskan bahwa ketegangan politik di era Trump memicu resistensi terhadap aturan, bahkan ketika aturan tersebut netral dan berbasis sains. Jika aturan berasal dari kubu lawan politik, masyarakat cenderung menolaknya meski mereka sebelumnya mendukungnya (Feldhaus et al., 2024). Inilah bentuk nyata dari kemunduran rasionalitas publik.

Munculnya era “post-truth” selama pemerintahan Trump memperparah situasi. Berita palsu, teori konspirasi, dan pengabaian terhadap fakta menjadi norma baru. Riset menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya pada narasi-narasi alternatif meskipun bertentangan dengan bukti ilmiah (Nardon, 2017). Sains menjadi “relatif”, tergantung siapa yang mengucapkannya dan dari partai mana ia berasal. Dalam konteks ini, akademisi dan ilmuwan menghadapi delegitimasi. Pengetahuan tidak lagi dihormati sebagai hasil riset, melainkan dipandang sebagai “agenda elit” yang bertentangan dengan “kehendak rakyat”. Paradoksnya, inilah kondisi klasik dari masyarakat yang sedang jatuh ke dalam spiral kemunduran peradaban.

Amerika Serikat belum sepenuhnya kehilangan sains dan akademiknya. Masih ada universitas yang berjuang, masih ada ilmuwan yang berbicara, dan masih ada jurnalis yang melawan disinformasi. Namun, pertanyaannya bukan lagi apakah kemunduran ini nyata — tetapi seberapa lama sains dapat bertahan dalam sistem yang sudah menormalisasi kebodohan dan propaganda. Bila kondisi ini berlanjut — bila visa dicabut tanpa sebab, bila sains disensor, bila akademisi dicurigai, dan bila logika digantikan oleh fanatisme politik — maka kematian sains bukan hanya kemungkinan, melainkan takdir. Dan dengan matinya sains, akan datang kematian dari harapan, inovasi, dan masa depan.

Amerika Serikat saat ini tidak hanya sedang mengalami gejala-gejala fisik atau ekonomi sebagai negara “sakit”, tetapi sedang menghadapi krisis eksistensial yang merobek fondasi intelektual dan etisnya. Trumpisme menjadi metafora sekaligus mesin dari kemunduran ini. Ketika negara mulai memusuhi ilmu pengetahuan, menyingkirkan intelektual, dan menggantinya dengan kultus pribadi serta ketakutan etnis, maka jelas bahwa sang “Sick Man” telah muncul kembali — kali ini, di jantung dunia modern.

Kiamat Sains di Amerika? Read More »

10 Perusahaan Tambang Emas Terbesar 2024

Sumber: Elements

Newmont, sebuah perusahaan tambang emas dari Amerika Serikat, memimpin daftar dengan produksi 5.88Moz. Perusahaan ini adalah satu-satunya produsen emas yang terdaftar di S&P 500 Index.

Rusia, dengan dua perusahaan tambang emas terbesar, POLYUS dan POLYMETAL yang masing-masing menghasilkan 2.87Moz dan 1.4Moz, diperkirakan akan menjadi produsen emas terbesar di dunia pada tahun 2029.

Barrick dari Kanada mengikuti dengan produksi sebesar 4.84Moz. Emas adalah komoditas yang paling berharga di Kanada, dengan nilai produksi mencapai $9.3 miliar.

Di Afrika Selatan, ANGLOGOLD ASHANTI memproduksi 2.81Moz dan GOLD FIELDS sebanyak 2.13Moz.

KINROSS juga dari Kanada memiliki produksi sebanyak 2.38Moz sementara AGNICO EAGLE menghasilkan 1.73 Moz.

NEWCREST dari Australia menutup daftar sepuluh besar dengan produksi sebesar 2.06 Moz.

Data ini merupakan data hingga Maret tahun ini dan menunjukkan dominasi beberapa negara dalam industri pertambangan emas global.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produksi emas di tahun ini telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan Newmont sebagai produsen terbesar. Namun, tantangan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses produksi ini memerlukan inovasi dan efisiensi yang lebih besar.

10 Perusahaan Tambang Emas Terbesar 2024 Read More »

Produksi Tembaga Global 2021: Analisis dan Implikasi

Sumber: Elements

Manusia telah mengandalkan tembaga sejak zaman prasejarah karena tingginya konduktivitas, kelenturan, dan konduktivitas listriknya. Pada tahun 2021, produksi tembaga global mencapai 21,0 juta ton. Chile adalah produsen terbesar dengan kontribusi 5,6 juta ton atau 27% dari total produksi dunia. China mengikuti dengan produksi sebesar 1,8 juta ton.

Teknologi hijau seperti kendaraan listrik dan panel surya membutuhkan tembaga; oleh karena itu permintaan terhadap logam merah ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Chile memiliki dua tambang terbesar di dunia, Escondida dan Collahuasi. Selain menjadi produsen besar, China juga merupakan konsumen terbesar tembaga yang dimurnikan di dunia dengan konsumsi mencapai 54%.

Negara lain seperti Peru dan Amerika Serikat juga berkontribusi signifikan dalam produksi tembaga global. Sebagian besar tembaga yang diproduksi di Amerika Serikat berasal dari deposit di Arizona, Utah, New Mexico, Nevada, dan Montana.

Sebagai perbandingan visual, Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia dengan ketinggian 830 m digunakan untuk menggambarkan skala produksi bahan bakar fosil ini.

Dalam konteks pengurangan emisi karbon dan pemanasan global, data ini menjadi sangat relevan. Kita ditantang untuk mencari alternatif energi yang lebih bersih dan berkelanjutan agar dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Produksi Tembaga Global 2021: Analisis dan Implikasi Read More »

Produksi Bahan Bakar Fosil vs Mobil Listrik

Sumber: Elements

Pada tahun 2022, dunia mencatat rekor baru dalam produksi bahan bakar fosil. Dalam gambar ini, terlihat jelas bahwa minyak mentah, gas alam cair, dan batu bara adalah tiga sumber utama energi. Minyak mentah memiliki volume 5,08 m³ dan tinggi 1.706 m, menunjukkan dominasinya dalam produksi energi.

Gas alam cair juga memiliki peranan penting dengan volume 7,08 m³ dan tinggi 1.913 m. Sementara itu, batu bara tidak kalah pentingnya dengan volume 9,88 m³ dan tinggi mencapai 2.141 m.

Fakta menarik lainnya adalah bahwa bahan bakar fosil masih menyumbang lebih dari 80% konsumsi energi primer global. Ini menggambarkan betapa ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil sangat tinggi.

Sebagai perbandingan visual, Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia dengan ketinggian 830 m digunakan untuk menggambarkan skala produksi bahan bakar fosil ini.

Dalam konteks pengurangan emisi karbon dan pemanasan global, data ini menjadi sangat relevan. Kita ditantang untuk mencari alternatif energi yang lebih bersih dan berkelanjutan agar dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan demikian, tren positif dalam produksi mobil listrik menunjukkan komitmen global yang kuat terhadap energi bersih dan ramah lingkungan. Ini juga menandakan era baru dalam industri otomotif di mana kendaraan listrik menjadi pilihan utama konsumen.

Produksi Bahan Bakar Fosil vs Mobil Listrik Read More »

Peningkatan Produksi Aluminium Global 2021

Sumber: Elements

Produksi aluminium mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2021. China mendominasi produksi global dengan mencatatkan angka 39 juta ton, menjadikannya negara dengan kapasitas peleburan aluminium terbesar di dunia. Lebih dari 80% kapasitas peleburan China menggunakan tenaga batu bara, sehingga intensif emisi.

Amerika Serikat menjadi importir aluminium terbesar di dunia, sementara Rusia menempati posisi ketiga sebagai produsen global. Negara-negara lain seperti UAE, Australia, Bahrain, India dan Kanada juga berkontribusi dalam produksi aluminium global.

Data kuantitatif menunjukkan bahwa produksi aluminium oleh China mencapai 39M ton pada tahun 2021. Sementara itu, Amerika Serikat mengimpor sebanyak 880K ton aluminium. Produksi Rusia mencapai angka 3.7M ton.

Proses produksi melibatkan penggunaan bauksit dan alumina serta mineral kriolit sebagai bahan baku utama. Elektrolisis adalah tahapan kunci dalam proses ini dimana alumina dicairkan dalam sel reduksi elektrolitik.

Peningkatan permintaan akan aluminium mendorong inovasi dan efisiensi dalam proses produksinya untuk meminimalisir dampak lingkungan akibat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama proses peleburan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produksi aluminium di tahun 2021 telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan China sebagai produsen terbesar. Namun, tantangan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses produksi ini memerlukan inovasi dan efisiensi yang lebih besar.

Peningkatan Produksi Aluminium Global 2021 Read More »

Keuntungan Industri Minyak dan Gas

Sumber: Elements

Pada tahun 2022, industri minyak dan gas mencatatkan keuntungan tertinggi, didorong oleh kenaikan harga energi. Pada tahun itu, pendapatan bersih industri minyak dan gas global naik dari $10 juta pada tahun 2010 menjadi $87 juta.

Industri ini telah menggunakan keuntungannya untuk berbagai tujuan sejak tahun 2015. Pada tahun itu, industri mengalokasikan 87% dari pengeluaran kas untuk belanja modal di bidang minyak dan gas, sementara hanya 13% yang dialokasikan untuk dividen. Namun, pada tahun 2022, industri menurunkan proporsi belanja modal di bidang minyak dan gas menjadi 47%.

Di sisi lain, industri mengalami peningkatan signifikan dalam pengeluaran untuk energi bersih. Pada tahun 2021, industri mengalokasikan 39% dari total pengeluaran kas untuk belanja modal di bidang energi bersih. Hal ini menandai transformasi besar dalam alokasi pendanaan industri.

Namun, utang netto juga menjadi bagian penting dari struktur pengeluaran kas industri ini. Pada tahun 2022, industri mengalokasikan $41 juta atau lebih dari separuh pendapatan bersih untuk pembayaran utang netto.

Dari data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa kendala utama dalam jangka panjang adalah tingginya emisi yang dihasilkan saat produksi bahan bakar/elektrisitas. Namun, jika kita melihat total emisi siklus hidup, kendaraan listrik memiliki emisi terendah dibandingkan dengan kendaraan hibrida dan mesin pembakaran internal.

Keuntungan Industri Minyak dan Gas Read More »