Technoscience

Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan berhasil menyaksikan secara langsung gempa lambat (slow slip earthquake) yang terjadi di bawah laut Jepang. Peristiwa ini merupakan momen langka di mana tekanan tektonik dilepaskan secara perlahan di sepanjang zona patahan besar di bawah laut. Gempa ini tidak seperti gempa biasa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, seperti gerakan lambat yang membuka sumbat tekanan dalam perut Bumi.

Peristiwa unik ini berhasil terekam oleh sensor dasar laut yang dipasang jauh dari daratan, tepatnya di zona rawan tsunami di lepas pantai Jepang. Peneliti dari University of Texas di Austin menyamakan peristiwa ini dengan gerakan ritsleting yang terbuka perlahan di antara dua lempeng tektonik yang saling bergesekan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science pada 26 Juni 2025 dengan judul ilmiah “Migrating shallow slow slip on the Nankai Trough megathrust captured by borehole observatories.”

Sensor yang digunakan merupakan hasil dari program pemantauan bawah laut yang dimulai sejak 2016 oleh International Ocean Discovery Program. Sensor-sensor tersebut dipasang di kedalaman hampir 450 meter di bawah dasar laut. Teknologi ini sangat sensitif dan mampu mendeteksi pergerakan sekecil beberapa milimeter—sesuatu yang tidak mungkin ditangkap oleh GPS darat biasa.

Tim peneliti mencatat bahwa gempa lambat ini terjadi pada musim gugur tahun 2015 dan melintasi bagian luar zona patahan di dekat dasar laut, wilayah yang terkenal rawan tsunami saat gempa dangkal terjadi. Hebatnya, pergerakan yang sama kembali terjadi di tahun 2020, menunjukkan bahwa fenomena ini mungkin rutin dan tidak acak. Gerakan tersebut tidak memperparah potensi tsunami, melainkan membantu melepaskan energi secara aman.

Patahan Nankai sendiri memiliki reputasi sebagai penghasil gempa besar dan tsunami mematikan, seperti yang terjadi pada tahun 1946 ketika gempa berkekuatan 8,0 menghancurkan 36.000 rumah dan menewaskan lebih dari 1.300 orang. Namun, temuan baru ini memberi harapan bahwa sebagian energi di zona ini mungkin dilepaskan secara bertahap melalui gempa lambat yang tidak merusak.

Sensor menunjukkan bahwa gerakan lambat ini menyebar sekitar 30 mil (sekitar 48 km) dari garis pantai Jepang ke arah laut, lalu meredup saat mendekati tepi benua. Butuh waktu berminggu-minggu bagi gempa ini untuk merambat sejauh 20 mil (sekitar 32 km), memperlihatkan bahwa proses ini sangat lambat namun stabil.

Yang menarik, kedua gempa lambat ini terjadi di wilayah yang memiliki tekanan fluida bawah tanah yang sangat tinggi. Ini menjadi petunjuk kuat bahwa tekanan fluida memainkan peran penting dalam memicu gempa lambat—sebuah teori lama dalam dunia geofisika yang akhirnya mendapatkan bukti nyata.

Penemuan ini memiliki dampak besar terhadap pemahaman kita tentang bagaimana lempeng tektonik saling berinteraksi dan melepaskan energi. Para peneliti kini berharap bisa menerapkan metode yang sama di wilayah lain, seperti zona patahan Cascadia di Amerika Utara. Berbeda dengan Nankai, Cascadia belum menunjukkan tanda-tanda adanya pelepasan tekanan melalui gempa lambat di wilayah yang paling berisiko tsunami. Ini mengkhawatirkan karena Cascadia diyakini dapat menghasilkan gempa berkekuatan 9 dan tsunami dahsyat.

Menurut Demian Saffer, Direktur UTIG dan salah satu peneliti utama dalam studi ini, metode pengamatan presisi tinggi seperti yang diterapkan di Jepang perlu segera diterapkan di wilayah seperti Cascadia. Ia menambahkan bahwa sangat penting untuk mengetahui apakah patahan di sana juga memiliki mekanisme pelepas tekanan, atau justru benar-benar ‘terkunci’ dan diam hingga suatu saat meledak dalam gempa besar.

Penelitian ini memberikan harapan bahwa tidak semua bagian dari patahan aktif menghasilkan bencana. Sebagian di antaranya mungkin justru menjadi “katup pengaman alami” yang melepaskan tekanan secara teratur dan lambat. Dengan terus memasang sensor dan memantau pola-pola ini, para ilmuwan bisa memahami lebih jauh dinamika bawah tanah Bumi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk masyarakat.

Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation Amerika Serikat, dan sensor bawah lautnya dipasang oleh Integrated Ocean Drilling Program. Data tambahan diperoleh dari kabel observasi bawah laut milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC). Semua hasil ini membuka jendela baru dalam mempelajari siklus gempa bumi, khususnya di kawasan Cincin Api Pasifik yang dikenal paling aktif secara seismik di dunia.

Temuan gempa lambat ini memperlihatkan bahwa Bumi tidak selalu melepaskan tekanannya dengan keras dan tiba-tiba. Kadang, ia hanya “mendesah pelan” di kedalaman laut, tanpa disadari oleh dunia di permukaan.[]

Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung Read More »

Penemu Beta Blocker: Kisah James Black Menyelamatkan Jutaan Nyawa

James Black adalah sosok luar biasa di dunia kedokteran modern. Ia menciptakan dua kelompok obat revolusioner yang telah menyelamatkan jutaan nyawa: beta blocker untuk penyakit jantung dan histamin antagonis untuk sakit maag. Berkat penemuan ini, ia dianugerahi Penghargaan Nobel di bidang Kedokteran pada tahun 1988.

Black bukan sekadar ilmuwan biasa. Ia memperkenalkan pendekatan baru dalam menciptakan obat, yaitu dengan merancang molekul sintetis yang mampu menghalangi molekul alami penyebab penyakit di dalam tubuh. Pendekatan ini bukan hanya inovatif, tetapi juga menjadi fondasi bagi banyak penemuan obat modern setelahnya.

Obat ciptaannya, propranolol dan cimetidine, bukan hanya populer, tetapi menjadi yang paling banyak diresepkan pada masanya. Cimetidine bahkan mencetak sejarah sebagai obat resep pertama yang menghasilkan penjualan lebih dari satu miliar dolar.

Lahir pada 14 Juni 1924 di kota kecil Uddingston, Skotlandia, James Black tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang mantan penambang yang kemudian menjadi insinyur pertambangan lewat pendidikan malam. Ibunya seorang penganut Baptis yang taat, namun keluarga mereka tetap hangat dan penuh musik.

Sejak kecil, James diajak oleh sang ayah untuk menjauhi kehidupan tambang dan mengejar pendidikan yang lebih baik. Di sekolah, ia dikenal cerdas, terutama dalam matematika dan musik. Gurunya melihat potensi besar dan mendorongnya ikut ujian masuk Universitas St Andrews di usia 15 tahun.

Keputusannya untuk belajar kedokteran dipengaruhi oleh kakaknya, William, yang juga kuliah di sana. Ia berhasil masuk dan belajar dengan sangat giat, bahkan mendapat banyak penghargaan akademis. Namun, setelah lulus, ia merasa tidak cocok menjadi dokter rumah sakit karena cara sebagian dokter memperlakukan pasien tanpa empati.

Black akhirnya memutuskan menjadi dosen fisiologi di Singapura selama tiga tahun, guna melunasi utangnya selama kuliah. Sepulang dari sana, ia kembali ke Inggris dan menjadi kepala departemen fisiologi di Sekolah Kedokteran Hewan Universitas Glasgow. Di sinilah ia mulai meneliti dua hal penting: efek serotonin pada lambung dan cara menurunkan kebutuhan oksigen pada jantung penderita angina.

Salah satu momen paling berpengaruh dalam hidupnya adalah saat melihat ayahnya meninggal karena serangan jantung. Hal itu membuatnya berpikir: bagaimana jika efek adrenalin pada jantung bisa dihambat agar jantung tidak perlu bekerja terlalu keras? Gagasan ini menjadi awal mula terciptanya beta blocker.

Berkat makalah lama dari ilmuwan lain bernama Raymond Ahlquist, Black menyadari adanya dua jenis reseptor adrenalin di tubuh, yaitu alfa dan beta. Ia lalu berpikir, jika bisa menciptakan molekul yang mirip adrenalin tapi tidak memicu kerja jantung, maka reseptor bisa diblokir dan kebutuhan oksigen jantung bisa dikurangi.

Pada tahun 1958, Black menawarkan idenya kepada perusahaan kimia terbesar Inggris saat itu, ICI. Di sanalah ia memimpin tim peneliti dan akhirnya menciptakan propranolol, yang disetujui untuk digunakan secara medis pada tahun 1964. Obat ini menjadi penyelamat bagi penderita tekanan darah tinggi, kecemasan, hingga tremor.

Metodenya sangat berbeda dari ilmuwan lain pada masa itu. Jika biasanya para ilmuwan mencoba berbagai molekul secara acak, Black justru merancang molekul dari awal dengan tujuan tertentu. Pendekatan ini dianggap seperti menembakkan peluru dari senapan, dibandingkan menebar peluru dari senapan angin.

Setelah sukses dengan propranolol, Black melanjutkan karyanya di perusahaan Smith, Kline & French. Di sana, ia menciptakan cimetidine, obat pertama yang mampu menghambat kerja histamin di lambung. Obat ini kemudian dikenal dengan merek dagang Tagamet dan menjadi obat paling laris di dunia.

Meski penemuan-penemuannya membawa keuntungan besar bagi perusahaannya, Black tidak mengejar kekayaan. Ia hanya ingin menyelesaikan masalah medis yang ada di depan matanya. Prinsip inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pribadi yang tulus dan berdedikasi.

Setelah keluar dari industri, Black kembali ke dunia akademik. Ia sempat mengajar di berbagai universitas ternama dan mendirikan James Black Foundation untuk mendukung penelitian farmakologi. Pada tahun 1992, ia diangkat menjadi Rektor Universitas Dundee hingga tahun 2006.

Sepanjang hidupnya, Black menerima banyak penghargaan bergengsi, termasuk Penghargaan Lasker, Knight dari Ratu Elizabeth, hingga Medali Emas Wellcome. Namun, kehormatan tertinggi datang pada tahun 1988 saat ia menerima Hadiah Nobel Kedokteran atas kontribusinya bagi dunia.

Di balik kesuksesannya, kehidupan pribadi Black juga penuh cerita. Ia menikah dua kali dan memiliki satu putri. Ia sempat kehilangan istri pertamanya, Hilary, pada tahun 1986, dan menikah lagi dengan Profesor Rona MacKie pada 1994. Ia tetap aktif berkarya hingga tahun-tahun terakhir hidupnya.

Pada tahun 2002, Black didiagnosis menderita kanker prostat dan diperkirakan hanya akan hidup dua tahun. Namun, ia bertahan hingga delapan tahun kemudian. James Black wafat pada 22 Maret 2010 di usia 85 tahun. Warisannya dalam dunia kedokteran tetap hidup dan menyentuh kehidupan jutaan orang hingga kini.[]

Penemu Beta Blocker: Kisah James Black Menyelamatkan Jutaan Nyawa Read More »

Produksi Energi Terbarukan Tidak Serta Merta Mengurangi Produksi Energi Fosil di Amerika

Penambahan kapasitas energi terbarukan di Amerika Serikat ternyata tidak secara otomatis menurunkan produksi bahan bakar fosil. Temuan ini berasal dari sebuah studi yang dilakukan oleh Ryan Thombs, asisten profesor sosiologi pedesaan dari Penn State University.

Dalam riset yang dipublikasikan di Journal of Environmental Studies and Sciences pada 20 Mei 2025, Thombs menganalisis data produksi energi dari 33 negara bagian penghasil bahan bakar fosil di AS, mencakup periode antara tahun 1997 hingga 2020. Amerika sendiri adalah penghasil energi dan pengemisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia.

Hasilnya cukup mengejutkan. Thombs tidak menemukan hubungan langsung antara peningkatan energi terbarukan dan penurunan produksi bahan bakar fosil. Ini berarti bahwa meningkatnya energi dari sumber terbarukan seperti matahari, angin, dan air belum tentu menggantikan energi dari batu bara, minyak bumi, atau gas alam.

Faktor-faktor tetap seperti ketersediaan cadangan bahan bakar fosil di tiap negara bagian ternyata menjelaskan lebih dari 96% variasi dalam produksi energi fosil. Artinya, negara bagian dengan cadangan fosil besar tetap cenderung terus memproduksi bahan bakar tersebut, terlepas dari seberapa banyak mereka berinvestasi dalam energi terbarukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa upaya transisi energi membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih tegas dan terfokus. Menurut Thombs, hanya mengandalkan pertumbuhan energi terbarukan belum cukup. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan tambahan yang secara langsung membatasi produksi bahan bakar fosil. Contohnya termasuk pajak karbon, batasan produksi, dan kebijakan untuk tidak mengeksplorasi cadangan fosil tertentu.

Fakta bahwa bahan bakar fosil menjadi penyumbang lebih dari 75% emisi gas rumah kaca dan hampir 90% emisi karbon dioksida, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, membuat peralihan ini semakin mendesak. Meskipun investasi dalam energi terbarukan terus meningkat dan kini mencakup porsi terbesar dalam proyek energi baru, peralihan tersebut belum sepenuhnya menggantikan energi fosil.

Studi ini menggunakan pendekatan analisis data yang kuat dan mencakup produksi energi per kapita dari berbagai jenis bahan bakar, termasuk energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, biomassa, dan biofuel, serta bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam.

Thombs mengakui bahwa hasil ini mungkin terbatas hanya pada konteks Amerika Serikat dan periode waktu yang diteliti. Namun, ia menyarankan agar penelitian serupa dilakukan di negara lain dan dalam konteks kebijakan berbeda, untuk mengetahui apakah temuan ini berlaku secara global.

Ia menambahkan, ada kemungkinan energi terbarukan akan mulai menggantikan bahan bakar fosil jika terjadi perubahan besar dalam sistem politik dan ekonomi, terutama jika didorong oleh regulasi negara bagian. Namun, transisi ini akan terhambat jika energi fosil dan terbarukan sama-sama tersedia melimpah di suatu wilayah, seperti yang terjadi di banyak negara bagian penghasil energi di AS.[]

Produksi Energi Terbarukan Tidak Serta Merta Mengurangi Produksi Energi Fosil di Amerika Read More »

MRI Ajaib: Mendeteksi Penuaan dan Risiko Demensia Sebelum Gejala Muncul

Bayangkan jika kesehatan masa depan Anda bisa terlihat dari satu pemindaian otak. Kini hal itu bukan lagi sekadar imajinasi. Para ilmuwan dari Duke University, Harvard, dan University of Otago di Selandia Baru telah menciptakan alat pemindai otak berbasis MRI yang dapat mengukur seberapa cepat seseorang menua. Bahkan, alat ini mampu memprediksi risiko penyakit seperti demensia dan penyakit kronis lainnya, jauh sebelum gejala pertama muncul.

Penelitian ini dipublikasikan pada 1 Juli 2025 di jurnal Nature Aging. Dengan menggunakan data dari studi jangka panjang yang melibatkan 1.037 orang sejak mereka lahir di kota Dunedin, Selandia Baru, para peneliti berhasil menciptakan sebuah model bernama DunedinPACNI. Model ini dilatih untuk memperkirakan kecepatan penuaan seseorang hanya melalui satu kali pemindaian otak MRI yang diambil ketika mereka berusia 45 tahun.

Berbeda dari alat ukur penuaan lainnya yang hanya mengandalkan data satu waktu dari kelompok usia berbeda, pendekatan ini menggunakan data riil yang melacak satu individu secara berkelanjutan. Selama hampir dua dekade, para peneliti memantau tekanan darah, indeks massa tubuh, kadar glukosa dan kolesterol, fungsi paru dan ginjal, bahkan kesehatan gigi para peserta studi.

Ketika diterapkan pada berbagai data dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Amerika Latin, alat ini menunjukkan hasil yang konsisten. Mereka yang dinilai mengalami penuaan lebih cepat memiliki kinerja kognitif yang lebih buruk, mengalami penyusutan hippocampus lebih cepat (bagian otak yang penting untuk memori), dan lebih rentan mengalami penurunan kemampuan berpikir di masa tua.

Bahkan, dalam salah satu analisis terhadap 624 orang berusia 52 hingga 89 tahun, ditemukan bahwa mereka yang menunjukkan penuaan tercepat 60% lebih mungkin mengalami demensia beberapa tahun kemudian. Mereka juga mengalami gangguan memori dan kemampuan berpikir lebih awal dibandingkan dengan yang menua lebih lambat.

Tak hanya itu, mereka yang menua lebih cepat juga terbukti lebih rapuh, lebih sering mengalami serangan jantung, penyakit paru, atau stroke. Bahkan, mereka memiliki kemungkinan 18% lebih besar untuk didiagnosis penyakit kronis dalam beberapa tahun, dan 40% lebih tinggi untuk meninggal dunia dalam kurun waktu tersebut.

Temuan ini memperlihatkan keterkaitan erat antara penuaan otak dan tubuh. Yang mengejutkan, korelasi ini ditemukan konsisten di berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan demografi—termasuk populasi berpendapatan rendah dan non-kulit putih di Inggris dan Amerika Latin. Artinya, alat ini tidak hanya berlaku untuk satu kelompok masyarakat saja.

Ahmad Hariri, profesor psikologi dan ilmu saraf di Duke University, menjelaskan bahwa selama ini banyak terapi untuk penyakit Alzheimer gagal karena dimulai terlalu lambat, saat kerusakan otak sudah terlalu parah. Dengan alat ini, harapannya diagnosis dapat dilakukan lebih dini, sebelum kerusakan otak berkembang terlalu jauh.

Lebih lanjut, menurut Ethan Whitman—penulis utama yang tengah menempuh studi doktoral di Duke—alat ini juga bisa membantu menjelaskan mengapa beberapa orang menua lebih cepat dari yang lain, misalnya akibat kualitas tidur buruk atau gangguan mental tertentu.

Meski saat ini DunedinPACNI masih digunakan dalam dunia riset, tim berharap ke depannya alat ini bisa diintegrasikan dalam layanan kesehatan untuk memprediksi penuaan dan risiko penyakit dengan lebih akurat. Mereka juga telah mengajukan hak paten untuk teknologi ini. Penelitian ini mendapat dukungan dari U.S. National Institute on Aging, UK Medical Research Council, dan New Zealand Health Research Council.[]

MRI Ajaib: Mendeteksi Penuaan dan Risiko Demensia Sebelum Gejala Muncul Read More »

Benarkah Orang Kidal Lebih Kreatif?

Selama bertahun-tahun, orang sering percaya bahwa orang kidal memiliki bakat kreatif yang lebih besar dibandingkan dengan yang dominan tangan kanan. Namun, penelitian terbaru dari Cornell University justru membantah anggapan tersebut. Tim psikolog yang dipimpin oleh Daniel Casasanto melakukan tinjauan besar terhadap hasil studi yang telah dilakukan selama lebih dari 100 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada bukti konsisten yang mendukung keunggulan kreativitas pada orang kidal. Bahkan, dalam beberapa tes, orang tangan kanan justru menunjukkan keunggulan tipis dalam kemampuan berpikir kreatif.

Dalam studi yang dipublikasikan pada 1 Juli 2025 dalam jurnal Psychonomic Bulletin and Review, Casasanto dan timnya menyaring hampir 1.000 makalah ilmiah sejak tahun 1900. Mayoritas studi tersebut dieliminasi karena tidak menyajikan data secara standar atau hanya melibatkan peserta tangan kanan. Hanya tersisa 17 studi yang dianalisis lebih lanjut, mencakup hampir 50 ukuran efek.

Mereka menemukan bahwa perbedaan dominasi tangan hampir tidak berpengaruh dalam tiga jenis tes laboratorium yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir divergen, yaitu kemampuan menghasilkan berbagai ide baru dalam waktu singkat. Dalam beberapa tes, orang tangan kanan bahkan sedikit lebih unggul. Jadi, mitos bahwa orang kidal secara alami lebih kreatif ternyata tidak didukung oleh data ilmiah secara keseluruhan.

Casasanto menjelaskan bahwa memang ada alasan ilmiah yang membuat orang berpikir orang kidal lebih kreatif. Otak bagian kanan, yang lebih aktif pada proses berpikir divergen, memang lebih dominan pada sebagian orang kidal. Namun, bukti empiris tidak mendukung hipotesis ini.

Lalu mengapa mitos ini tetap dipercaya? Para peneliti mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah fenomena “pengecualian kidal”. Karena hanya sekitar 10% dari populasi yang kidal dan jenius kreatif juga jarang, orang cenderung mengaitkan dua hal ini. Apalagi, seniman dan musisi terkenal seperti Leonardo da Vinci atau Jimi Hendrix yang diketahui kidal semakin memperkuat persepsi ini.

Selain itu, mitos bahwa seniman kreatif cenderung memiliki masalah kesehatan mental juga ikut menambah daya tarik gagasan bahwa orang kidal lebih kreatif. Beberapa studi memang menunjukkan bahwa orang kidal cenderung mengalami tingkat depresi dan skizofrenia yang lebih tinggi, dan ini terkadang diasosiasikan secara keliru sebagai “jiwa seniman yang tersiksa”.

Casasanto juga menyoroti bahwa kesalahan umum dalam statistik turut memperkuat mitos ini. Ketika orang fokus hanya pada profesi seni dan musik di mana orang kidal memang lebih banyak ditemukan, mereka mengabaikan profesi lain yang justru didominasi oleh orang tangan kanan. Ini adalah bentuk “cherry picking” atau hanya memilih data yang sesuai dengan asumsi awal.

Jika survei dilakukan secara menyeluruh di berbagai bidang profesi, maka keunggulan kreativitas orang kidal tidak terlihat lagi. Artinya, keyakinan bahwa orang kidal lebih kreatif hanyalah mitos yang terbentuk dari kebetulan, persepsi sosial, dan penyederhanaan data yang keliru.

Penelitian ini mengajak kita untuk lebih berhati-hati dalam mempercayai stereotip yang belum tentu benar. Kreativitas adalah kemampuan yang bisa dimiliki siapa saja, tidak tergantung pada tangan mana yang dominan. Lebih baik kita fokus pada pengembangan bakat, latihan, dan lingkungan yang mendukung, daripada pada mitos turun-temurun yang belum terbukti kebenarannya.

Penelitian ini dipublikasikan oleh jurnal Psychonomic Bulletin and Review pada tanggal 1 Juli 2025 dan dipimpin oleh Daniel Casasanto, psikolog dari Cornell University. Hasilnya menjadi penegas bahwa anggapan umum mengenai kreativitas orang kidal perlu ditinjau ulang berdasarkan data yang lebih objektif.[]

Benarkah Orang Kidal Lebih Kreatif? Read More »

‘Enzim Sakti’ Ini Bisa Hentikan Penyakit Jantung dan Diabetes?

Ilmuwan dari University of Texas at Arlington (UTA) baru saja menemukan temuan penting yang bisa mengubah cara kita menangani penyakit jantung, diabetes, bahkan kanker. Mereka berhasil mengidentifikasi enzim yang berperan seperti sakelar dalam tubuh—ketika “dimatikan”, enzim ini membantu sistem imun kembali menjalankan tugasnya dengan benar dalam mengatur kolesterol. Temuan ini sangat menjanjikan karena bisa menjadi dasar pengembangan terapi baru untuk jutaan orang yang mengalami penyakit akibat peradangan kronis.

Enzim yang dimaksud bernama IDO1. Dalam kondisi tubuh yang mengalami peradangan, enzim ini menjadi aktif dan menghasilkan zat bernama kynurenine. Zat ini mengganggu kemampuan sel imun, khususnya makrofag, dalam menyerap kolesterol. Padahal, makrofag adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berperan menyerap kolesterol agar tidak menumpuk dalam pembuluh darah.

Peradangan memang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tubuh saat melawan infeksi atau menyembuhkan luka. Namun, jika peradangan berlangsung terus-menerus—seperti akibat stres kronis, infeksi berkepanjangan, atau cedera—justru bisa merusak jaringan tubuh. Salah satu efeknya adalah terganggunya proses penyerapan kolesterol, yang kemudian memicu penyakit-penyakit berbahaya.

Ketika para peneliti mencoba menghambat enzim IDO1, mereka menemukan bahwa makrofag kembali bisa menyerap kolesterol secara normal. Ini berarti, dengan “mematikan” IDO1, tubuh bisa mengendalikan kadar kolesterol dengan lebih baik, serta mengurangi risiko penyakit akibat peradangan.

Selain IDO1, tim peneliti juga mengidentifikasi enzim lain yang memperburuk kondisi ini, yaitu nitric oxide synthase (NOS). NOS ternyata memperparah dampak IDO1 dalam hal mengacaukan regulasi kolesterol. Maka, jika kedua enzim ini bisa dihambat secara bersamaan, pengobatan akan menjadi lebih efektif.

Menurut profesor kimia UT Arlington, Subhrangsu S. Mandal, yang memimpin penelitian ini, temuan ini sangat penting karena akumulasi kolesterol dalam makrofag bisa menyebabkan penyumbatan arteri. Ini adalah pemicu utama penyakit jantung, stroke, dan penyakit kronis lainnya. Dengan mengatasi akar permasalahannya, yaitu peradangan yang tidak terkendali, kita bisa menghentikan penyakit-penyakit ini sebelum berkembang lebih jauh.

Mandal menambahkan bahwa pendekatan baru ini tidak hanya berfokus pada menurunkan kadar kolesterol, tetapi juga pada memperbaiki proses tubuh yang mengelola kolesterol. Ini memberikan harapan baru, terutama bagi pasien yang selama ini kesulitan menurunkan kolesterol hanya dengan diet dan obat penurun lemak.

Tim peneliti terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari peneliti pascadoktoral, mahasiswa doktoral, hingga mahasiswa sarjana. Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya kerja tim dalam penelitian ilmiah yang berdampak luas.

Langkah selanjutnya dari penelitian ini adalah memahami lebih dalam bagaimana IDO1 berinteraksi dengan mekanisme tubuh lainnya, serta mencari tahu apakah ada enzim lain yang turut berperan. Jika proses penghambatan IDO1 bisa dilakukan dengan aman melalui obat-obatan, maka potensi untuk menciptakan pengobatan baru akan sangat besar.

Penelitian ini diterbitkan oleh University of Texas at Arlington pada tanggal 30 Juni 2025, dan telah melalui proses penelaahan sejawat (peer-reviewed), yang menunjukkan kredibilitas dan kekuatan ilmiahnya.

Penemuan ini menjadi titik terang di tengah maraknya penyakit kronis yang dipicu oleh gaya hidup dan stres. Dengan memahami dan mengendalikan peradangan secara tepat, manusia bisa kembali ke kondisi kesehatan yang seimbang.

Dalam dunia medis modern, pendekatan ini juga menggambarkan perubahan paradigma dari mengobati gejala menjadi memperbaiki mekanisme biologis yang terganggu. Maka, penelitian ini bukan sekadar penemuan satu enzim, tapi juga pintu masuk menuju era pengobatan yang lebih canggih dan menyeluruh.

Sebagaimana yang terjadi pada banyak terobosan besar, hasil ini masih memerlukan penelitian lanjutan sebelum bisa dikembangkan menjadi obat siap pakai. Tapi harapan besar sudah di depan mata.

Jika terapi penghambat IDO1 dan NOS benar-benar bisa dikembangkan, maka kita bisa membayangkan masa depan tanpa banyak penyakit degeneratif yang selama ini menghantui umat manusia.[]

‘Enzim Sakti’ Ini Bisa Hentikan Penyakit Jantung dan Diabetes? Read More »

Kamera Super Canggih Ini Siap Mengungkap Misteri Terdalam Alam Semesta

Sebuah tonggak sejarah dalam dunia astronomi telah terjadi. Kamera LSST dengan resolusi 3.200 megapiksel yang dipasang di Observatorium Vera C. Rubin di Chile telah berhasil mengambil gambar pertamanya. Gambar-gambar luar biasa ini mampu menangkap area langit seluas 45 kali ukuran bulan purnama hanya dalam satu jepretan. Perangkat canggih ini siap memulai survei langit selama sepuluh tahun ke depan yang akan mengungkap berbagai misteri kosmos, mulai dari asteroid hingga energi gelap.

Kamera raksasa ini tidak dibangun dalam semalam. Proses pembuatannya memakan waktu hampir dua dekade dan melibatkan ratusan ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk para peneliti dari Prancis melalui lembaga CNRS. Kamera ini disebut LSST, singkatan dari Legacy Survey of Space and Time, dan diluncurkan secara resmi pada 23 Juni 2025 dalam acara perdana di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat di Washington, D.C.

Dengan ukurannya yang setara dengan sebuah mobil kecil, kamera LSST bukan hanya besar secara fisik, tetapi juga dalam kemampuannya. Ia dapat menangkap gambar dalam resolusi sangat tinggi dan dalam bidang pandang yang sangat luas. Dalam tiga malam pengamatan saja, kamera ini mampu memotret seluruh langit belahan selatan Bumi dengan menggunakan enam filter warna yang berbeda.

Gambar-gambar awal yang dirilis menampilkan keindahan Nebula Trifid dan Nebula Lagoon, dua awan gas dan debu yang letaknya ribuan tahun cahaya dari Bumi. Gambar tersebut dihasilkan dari gabungan 678 foto yang diambil dalam waktu lebih dari tujuh jam. Hasilnya begitu detail, hingga objek-objek redup yang sebelumnya tak terlihat kini tampak begitu jelas.

Kamera LSST akan menjalankan misinya dengan cara memotret langit sebanyak 1.000 kali setiap tiga malam selama sepuluh tahun. Dari hasil ini, ilmuwan akan bisa membuat semacam “film” berdimensi empat yang mendokumentasikan perubahan dan dinamika alam semesta dari waktu ke waktu. Proyek ini digadang-gadang akan menghasilkan pandangan paling mendalam terhadap objek-objek paling redup dan paling jauh yang pernah diamati.

Untuk pertama kalinya dalam skala sebesar ini, perubahan sekecil apa pun di langit akan terdeteksi. Mulai dari pergerakan asteroid yang dekat dengan Bumi, hingga ledakan supernova di galaksi yang jauh. Tidak hanya itu, proyek ini juga diharapkan membuka jalan bagi kemajuan besar dalam studi materi gelap dan energi gelap, serta memperluas pengetahuan kita tentang tata surya.

Proyek ambisius ini didanai oleh Departemen Energi Amerika Serikat dan National Science Foundation (NSF). Kamera LSST sendiri dibangun oleh SLAC National Accelerator Laboratory, yang kemudian bekerja sama dengan para ilmuwan dari CNRS untuk menyempurnakan berbagai komponen penting, termasuk sistem pertukaran filter kamera yang bekerja secara otomatis setiap malam.

Sistem ini akan mengganti filter warna kamera yang masing-masing memiliki berat antara 24 hingga 38 kilogram, sebanyak 5 hingga 15 kali per malam. Kombinasi berbagai filter tersebut memungkinkan ilmuwan menentukan posisi dan jarak objek-objek langit dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Kontribusi CNRS tidak berhenti di situ. Para ilmuwan dari lembaga ini juga berperan penting dalam membangun sistem komputasi untuk menganalisis miliaran data gambar yang akan dikumpulkan dari sekitar 17 miliar bintang dan 20 miliar galaksi yang bisa diamati oleh kamera tersebut. Semua data ini akan dirangkai menjadi katalog informasi paling lengkap yang pernah dibuat tentang alam semesta.

Setiap malam, kamera LSST akan menghasilkan data mentah sebesar 20 terabita. Di Prancis, sekitar 40 persen dari data ini akan disimpan dan diproses di fasilitas data IN2P3 (CNRS) yang berlokasi di Lyon. Data tersebut akan dirilis secara berkala kepada komunitas ilmiah internasional untuk mendukung penemuan-penemuan baru yang revolusioner.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa masih mengembangkan teleskop berbasis darat saat sudah ada 25 teleskop luar angkasa yang aktif? Jawabannya adalah karena teleskop darat bisa dibuat lebih besar, lebih sensitif, dan lebih mudah diperbaiki atau ditingkatkan teknologinya. Selain itu, mereka dapat menyimpan dan mengirim data dalam volume yang jauh lebih besar dan lebih cepat dibanding teleskop luar angkasa.

Meskipun pengamatan dari luar angkasa memiliki keunggulan tertentu, teleskop darat seperti milik Observatorium Vera C. Rubin tetap penting dalam dokumentasi semesta secara menyeluruh. Kualitas citra yang lebih tinggi dan volume data yang lebih besar adalah keunggulan utama yang ditawarkan.

Dengan kemajuan teknologi yang diterapkan pada kamera LSST, kita kini memasuki era baru pengamatan langit. Perangkat ini bukan sekadar kamera biasa, melainkan mata raksasa yang akan terus memindai langit dan merekam cerita panjang perjalanan alam semesta dalam rentang waktu sepuluh tahun ke depan.

Proyek ini dinamai untuk menghormati astronom perempuan asal Amerika Serikat, Vera C. Rubin, yang dikenal sebagai pelopor dalam pembuktian keberadaan materi gelap di galaksi. Dedikasinya pada bidang ini telah membuka pintu pemahaman baru tentang struktur dan dinamika alam semesta.

Bagi umat manusia, kamera LSST adalah jendela baru yang mengintip ke dalam rahasia kosmos. Melalui mata teknologinya, kita akan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi jutaan bahkan miliaran tahun yang lalu, saat cahaya dari objek-objek langit itu baru sampai ke Bumi sekarang.

Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) dan dipublikasikan pada 27 Juni 2025. Acara peluncuran gambar pertama diadakan pada 23 Juni 2025 di Washington, D.C., menandai permulaan dari survei langit paling ambisius yang pernah dilakukan umat manusia.[]

Kamera Super Canggih Ini Siap Mengungkap Misteri Terdalam Alam Semesta Read More »

Criticality: Cara Otak Menjaga ‘Ketajamannya’

Otak manusia ternyata bekerja paling baik saat berada di titik rapuh antara keteraturan dan kekacauan. Sebuah teori baru yang dikemukakan oleh Keith Hengen, profesor biologi di Washington University di St. Louis, mengungkap bahwa keadaan ini disebut criticality atau kondisi kritis. Keadaan ini adalah titik manis di mana otak siap belajar, mengingat, dan beradaptasi. Saat otak menjauh dari kondisi ini, risiko munculnya penyakit seperti Alzheimer meningkat. Memahami dan mengembalikan criticality bisa menjadi cara baru mendeteksi dan mengobati penyakit tersebut.

Menurut Hengen, otak yang sehat bukanlah otak yang sudah diprogram sejak lahir. Sebaliknya, otak kita ibarat mesin pembelajar yang siap menerima pengalaman baru setiap hari. Agar mampu belajar, otak harus berada dalam keadaan criticality, sebuah kondisi di mana sistem yang rumit seperti otak berada di batas antara keteraturan dan kekacauan. Di titik inilah, otak kita paling siap menyerap informasi, berpikir, dan mengingat.

Konsep criticality ini diambil dari ilmu fisika. Fisikawan menggambarkannya dengan contoh tumpukan pasir. Saat pasir terus ditambahkan, tumpukan itu semakin curam hingga akhirnya longsor. Tepat sebelum longsor terjadi, tumpukan pasir berada di sudut kritis yang satu langkah lagi menuju ketidakstabilan. Dalam otak, kondisi kritis ini bisa terjadi pada beberapa neuron maupun seluruh area otak. Pola kerja otak dalam hitungan milidetik atau berjam-jam tetap menunjukkan kesamaan, sejalan dengan pengalaman kita yang tidak terbatas waktu.

Hengen bersama rekannya, fisikawan Woodrow Shew dari University of Arkansas, mengusulkan bahwa criticality adalah teori pemersatu untuk memahami kerja otak dan munculnya penyakit. Mereka juga mengembangkan cara mengukur kondisi ini melalui teknologi pencitraan otak seperti fMRI. Dengan alat ini, para ilmuwan dapat mengetahui seberapa dekat otak seseorang dengan kondisi optimalnya.

Teori ini membuka jalan baru dalam memahami penyakit Alzheimer. Alih-alih hanya melihat bagian otak yang rusak atau protein yang menumpuk, Hengen menilai Alzheimer menghancurkan kemampuan otak untuk mempertahankan criticality. Inilah mengapa penderita sering terlihat normal di tahap awal karena otak berusaha keras menutupi masalah dengan berbagai cara. Namun seiring waktu, otak semakin sulit beradaptasi dan memproses informasi, hingga gejala seperti gangguan ingatan mulai tampak.

Penelitian Hengen bersama pakar lainnya menunjukkan bahwa penumpukan protein tau pada Alzheimer memang merusak criticality. Dengan kata lain, penyakit ini secara langsung mengacaukan keseimbangan otak. Temuan ini membuka peluang untuk mendeteksi Alzheimer lebih dini, bahkan sebelum gejala muncul, hanya dengan fMRI dan tes darah canggih. Dengan demikian, intervensi bisa dilakukan sebelum kerusakan terjadi.

Hengen juga meneliti bagaimana tidur memengaruhi criticality. Tidur ternyata berperan seperti tombol reset, mengembalikan otak ke kondisi optimalnya. Hal ini menjelaskan mengapa kurang tidur meningkatkan risiko Alzheimer. Bahkan, terapi berbasis tidur yang dirancang khusus mungkin dapat membantu memperbaiki keseimbangan otak dan memperlambat gejala Alzheimer.

Ke depan, para ilmuwan berharap teori ini dapat menjelaskan lebih banyak hal tentang kemampuan luar biasa otak manusia. Mungkin saja, seseorang yang sangat kreatif berada sangat dekat dengan criticality di bagian otaknya yang mengatur ide. Siapa tahu, bakat yang belum tergali bisa terlihat dengan memahami criticality ini.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Neuron pada 25 Juni 2025 oleh Washington University di St. Louis. Hengen berharap temuan ini dapat menginspirasi dokter, ilmuwan, dan masyarakat luas untuk lebih memahami pentingnya menjaga keseimbangan otak.[]

Criticality: Cara Otak Menjaga ‘Ketajamannya’ Read More »

Deteksi Dini Serangan Jantung Lewat CT Scan

Bayangkan jika hasil pemindaian dada Anda yang dulu pernah dilakukan untuk alasan lain, ternyata menyimpan peringatan tersembunyi tentang kesehatan jantung Anda. Kini, hal itu menjadi mungkin berkat teknologi kecerdasan buatan (AI) terbaru. Para peneliti dari Mass General Brigham bekerja sama dengan Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat (VA) telah mengembangkan algoritma deep learning bernama AI-CAC. Teknologi ini mampu menelusuri hasil CT scan dada lama Anda dan mendeteksi kadar kalsium pada arteri koroner—suatu penanda penting yang dapat memprediksi risiko serangan jantung dan kematian dalam 10 tahun ke depan. Penelitian ini dipublikasikan pada 23 Juni 2025 di jurnal NEJM AI oleh Mass General Brigham.

Setiap tahunnya, jutaan CT scan dada dilakukan, terutama pada orang sehat untuk skrining kanker paru-paru. Namun, para peneliti menyebutkan bahwa hasil scan ini sering kali menyimpan informasi penting tentang risiko penyakit jantung yang terabaikan begitu saja. Menurut Hugo Aerts, PhD, selaku peneliti senior dan direktur Program Kecerdasan Buatan dalam Kedokteran di Mass General Brigham, AI dapat mengubah cara dokter memberikan layanan kesehatan. Teknologi ini memungkinkan dokter mendeteksi tanda-tanda awal penyakit jantung, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi serangan jantung.

CT scan dada memang bisa mendeteksi tumpukan kalsium di pembuluh darah jantung, yang berhubungan dengan risiko serangan jantung. Biasanya, untuk mengukur kadar kalsium secara akurat digunakan CT scan jenis gated yang disesuaikan dengan detak jantung agar hasilnya lebih jelas. Namun kenyataannya, sebagian besar CT scan dada yang dilakukan untuk pemeriksaan rutin adalah jenis nongated. Para peneliti menyadari bahwa kadar kalsium tetap dapat terlihat di hasil CT scan nongated ini. Hal inilah yang mendorong mereka menciptakan AI-CAC, algoritma deep learning yang mampu mengukur kadar kalsium pada arteri koroner meski dari hasil scan nongated, dan memprediksi risiko serangan jantung.

Model AI-CAC ini dilatih menggunakan ribuan CT scan dada para veteran yang dikumpulkan dari 98 pusat medis VA di Amerika. Dalam pengujian terhadap 8.052 hasil CT scan, teknologi ini berhasil mengidentifikasi keberadaan kalsium dengan akurasi hampir 90 persen. Bahkan, AI-CAC juga mampu menilai apakah skor kalsium menunjukkan risiko sedang atau tinggi terhadap penyakit jantung. Pasien dengan skor kalsium sangat tinggi (lebih dari 400) memiliki risiko kematian 3,49 kali lipat lebih tinggi dalam 10 tahun dibandingkan mereka yang skornya nol. Empat ahli jantung yang meninjau temuan ini menyatakan hampir seluruh pasien dengan skor sangat tinggi itu seharusnya mendapatkan terapi penurun lipid.

Saat ini, sistem data gambar di rumah sakit VA menyimpan jutaan CT scan nongated yang awalnya dibuat untuk pemeriksaan lain. Menurut Raffi Hagopian, MD, penulis utama studi ini, inilah peluang besar bagi AI-CAC untuk membantu dokter memanfaatkan data yang sudah ada guna menilai risiko penyakit jantung dan meningkatkan perawatan pasien. Dengan begitu, perawatan medis bisa bergeser dari yang sifatnya reaktif menjadi pencegahan proaktif, sehingga menekan angka kematian, kesakitan jangka panjang, serta biaya kesehatan. Para peneliti juga menyadari adanya keterbatasan, karena studi ini baru dilakukan pada populasi veteran. Ke depan, mereka berencana meneliti lebih luas di masyarakat umum dan menilai apakah teknologi ini dapat memantau efek obat penurun lipid terhadap skor kalsium.

Penelitian penting ini dipublikasikan di NEJM AI pada 23 Juni 2025, dengan sumber utama dari Mass General Brigham bekerja sama dengan Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat.

Ringkasnya, penelitian ini menunjukkan bahwa hasil CT scan lama Anda, yang mungkin sudah terlupakan, bisa menjadi sumber informasi penting untuk memprediksi risiko penyakit jantung. Dengan bantuan kecerdasan buatan, potensi bahaya ini dapat terdeteksi lebih dini, sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan sebelum muncul gejala.[]

Deteksi Dini Serangan Jantung Lewat CT Scan Read More »

Bahan Katalis Baru yang Murah dan Efisien, Produksi Hidrogen Kini Bisa Lebih Hemat

Para ilmuwan dari Korea Selatan berhasil menciptakan bahan baru yang dapat memangkas biaya produksi hidrogen hingga setengahnya. Hidrogen dikenal sebagai salah satu sumber energi bersih yang sangat penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim karena tidak menghasilkan emisi karbon saat digunakan. Dengan bobot yang lebih ringan namun mampu menyimpan energi lebih besar dibandingkan bensin, hidrogen diyakini menjadi solusi masa depan dalam bidang energi. Salah satu cara untuk menghasilkan hidrogen adalah melalui pemecahan air menggunakan listrik, yang disebut elektrolisis air. Metode ini akan sangat ramah lingkungan jika dipadukan dengan energi terbarukan.

Sayangnya, selama ini produksi hidrogen secara besar-besaran terhambat karena tingginya biaya katalis, yakni bahan yang mempercepat reaksi tanpa ikut habis dalam prosesnya. Katalis yang biasa digunakan berbahan logam tanah jarang yang sangat mahal. Oleh karena itu, para peneliti terus mencari alternatif bahan katalis yang lebih terjangkau. Salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah senyawa berbasis logam transisi, seperti fosfida logam transisi (TMP), yang bagus untuk menghasilkan hidrogen namun lemah untuk memproduksi oksigen.

Kabar baiknya, tim peneliti yang dipimpin Profesor Seunghyun Lee bersama Dun Chan Cha dari Hanyang University ERICA, berhasil mengembangkan katalis baru berupa nanosheet fosfida kobalt (CoP) yang ditambahkan boron. Dengan teknik khusus, mereka mengatur kandungan boron dan fosfor secara presisi untuk menciptakan material dengan performa luar biasa dan biaya jauh lebih murah. Penelitian mereka dipublikasikan di jurnal Small pada 19 Maret 2025.

Mereka memanfaatkan kerangka logam-organik (MOF) berbasis kobalt sebagai bahan dasar. MOF ini ditumbuhkan di atas busa nikel, lalu diproses dengan natrium borohidrida untuk memasukkan boron, kemudian diproses lagi dengan natrium hipofosfit untuk menambahkan fosfor. Hasilnya adalah nanosheet dengan permukaan luas dan struktur berpori yang sangat mendukung kinerja katalis.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa material ini mampu memecah air menjadi hidrogen dan oksigen dengan sangat efisien. Salah satu sampel terbaik mereka menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan katalis mahal seperti ruthenium oksida dan platinum, serta tahan digunakan lebih dari 100 jam. Perhitungan teori pun mendukung temuan ini, menunjukkan bagaimana boron dan fosfor membantu mempercepat reaksi dengan baik.

Profesor Lee mengatakan bahwa temuan ini bisa menjadi langkah penting dalam mewujudkan produksi hidrogen hijau berskala besar dengan biaya terjangkau. Jika diterapkan secara luas, teknologi ini dapat mendukung pengurangan emisi karbon di seluruh dunia dan membantu mengatasi perubahan iklim.

Penelitian ini dilakukan oleh tim Industrial Cooperation & Research Planning dari Hanyang University ERICA dan dipublikasikan pada 19 Maret 2025 di jurnal Small.[]

Bahan Katalis Baru yang Murah dan Efisien, Produksi Hidrogen Kini Bisa Lebih Hemat Read More »