Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan berhasil menyaksikan secara langsung gempa lambat (slow slip earthquake) yang terjadi di bawah laut Jepang. Peristiwa ini merupakan momen langka di mana tekanan tektonik dilepaskan secara perlahan di sepanjang zona patahan besar di bawah laut. Gempa ini tidak seperti gempa biasa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, seperti gerakan lambat yang membuka sumbat tekanan dalam perut Bumi.
Peristiwa unik ini berhasil terekam oleh sensor dasar laut yang dipasang jauh dari daratan, tepatnya di zona rawan tsunami di lepas pantai Jepang. Peneliti dari University of Texas di Austin menyamakan peristiwa ini dengan gerakan ritsleting yang terbuka perlahan di antara dua lempeng tektonik yang saling bergesekan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science pada 26 Juni 2025 dengan judul ilmiah “Migrating shallow slow slip on the Nankai Trough megathrust captured by borehole observatories.”
Sensor yang digunakan merupakan hasil dari program pemantauan bawah laut yang dimulai sejak 2016 oleh International Ocean Discovery Program. Sensor-sensor tersebut dipasang di kedalaman hampir 450 meter di bawah dasar laut. Teknologi ini sangat sensitif dan mampu mendeteksi pergerakan sekecil beberapa milimeter—sesuatu yang tidak mungkin ditangkap oleh GPS darat biasa.
Tim peneliti mencatat bahwa gempa lambat ini terjadi pada musim gugur tahun 2015 dan melintasi bagian luar zona patahan di dekat dasar laut, wilayah yang terkenal rawan tsunami saat gempa dangkal terjadi. Hebatnya, pergerakan yang sama kembali terjadi di tahun 2020, menunjukkan bahwa fenomena ini mungkin rutin dan tidak acak. Gerakan tersebut tidak memperparah potensi tsunami, melainkan membantu melepaskan energi secara aman.
Patahan Nankai sendiri memiliki reputasi sebagai penghasil gempa besar dan tsunami mematikan, seperti yang terjadi pada tahun 1946 ketika gempa berkekuatan 8,0 menghancurkan 36.000 rumah dan menewaskan lebih dari 1.300 orang. Namun, temuan baru ini memberi harapan bahwa sebagian energi di zona ini mungkin dilepaskan secara bertahap melalui gempa lambat yang tidak merusak.
Sensor menunjukkan bahwa gerakan lambat ini menyebar sekitar 30 mil (sekitar 48 km) dari garis pantai Jepang ke arah laut, lalu meredup saat mendekati tepi benua. Butuh waktu berminggu-minggu bagi gempa ini untuk merambat sejauh 20 mil (sekitar 32 km), memperlihatkan bahwa proses ini sangat lambat namun stabil.
Yang menarik, kedua gempa lambat ini terjadi di wilayah yang memiliki tekanan fluida bawah tanah yang sangat tinggi. Ini menjadi petunjuk kuat bahwa tekanan fluida memainkan peran penting dalam memicu gempa lambat—sebuah teori lama dalam dunia geofisika yang akhirnya mendapatkan bukti nyata.
Penemuan ini memiliki dampak besar terhadap pemahaman kita tentang bagaimana lempeng tektonik saling berinteraksi dan melepaskan energi. Para peneliti kini berharap bisa menerapkan metode yang sama di wilayah lain, seperti zona patahan Cascadia di Amerika Utara. Berbeda dengan Nankai, Cascadia belum menunjukkan tanda-tanda adanya pelepasan tekanan melalui gempa lambat di wilayah yang paling berisiko tsunami. Ini mengkhawatirkan karena Cascadia diyakini dapat menghasilkan gempa berkekuatan 9 dan tsunami dahsyat.
Menurut Demian Saffer, Direktur UTIG dan salah satu peneliti utama dalam studi ini, metode pengamatan presisi tinggi seperti yang diterapkan di Jepang perlu segera diterapkan di wilayah seperti Cascadia. Ia menambahkan bahwa sangat penting untuk mengetahui apakah patahan di sana juga memiliki mekanisme pelepas tekanan, atau justru benar-benar ‘terkunci’ dan diam hingga suatu saat meledak dalam gempa besar.
Penelitian ini memberikan harapan bahwa tidak semua bagian dari patahan aktif menghasilkan bencana. Sebagian di antaranya mungkin justru menjadi “katup pengaman alami” yang melepaskan tekanan secara teratur dan lambat. Dengan terus memasang sensor dan memantau pola-pola ini, para ilmuwan bisa memahami lebih jauh dinamika bawah tanah Bumi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk masyarakat.
Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation Amerika Serikat, dan sensor bawah lautnya dipasang oleh Integrated Ocean Drilling Program. Data tambahan diperoleh dari kabel observasi bawah laut milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC). Semua hasil ini membuka jendela baru dalam mempelajari siklus gempa bumi, khususnya di kawasan Cincin Api Pasifik yang dikenal paling aktif secara seismik di dunia.
Temuan gempa lambat ini memperlihatkan bahwa Bumi tidak selalu melepaskan tekanannya dengan keras dan tiba-tiba. Kadang, ia hanya “mendesah pelan” di kedalaman laut, tanpa disadari oleh dunia di permukaan.[]
Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung Read More »









