sunashadi.com, TECHNOSCIENCE – Bumi ternyata memiliki cahaya panas rahasia yang tidak terlihat mata manusia. Cahaya ini berupa energi inframerah jauh yang perlahan keluar menuju luar angkasa. Penemuan ini diungkap melalui misi PREFIRE milik NASA. Dengan satelit kecil berukuran seperti kotak sepatu, ilmuwan bisa melihat bagaimana panas bergerak dari kutub hingga ke seluruh dunia.
Cahaya Panas yang Tak Terlihat
Misi PREFIRE atau Polar Radiant Energy in the Far-InfraRed Experiment diluncurkan pada 2024. Dua satelit kecil ini bertugas mengukur seberapa banyak panas yang keluar dari Bumi. Panas tersebut sebenarnya adalah energi yang Bumi serap dari Matahari lalu dilepaskan kembali. Namun, cara pelepasannya dipengaruhi oleh es, awan, dan uap air.
Selain itu, wilayah kutub berperan besar dalam proses ini. Daerah tropis menyerap energi matahari dalam jumlah besar. Energi itu kemudian bergerak ke kutub melalui angin dan arus laut. Karena kutub menerima sedikit cahaya matahari, sebagian energi dipantulkan atau dilepaskan kembali ke luar angkasa.
sunashadi.com, TECHNOSCIENCE – Badai antariksa terdengar seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah. Namun, fenomena ini nyata dan sangat berpengaruh pada kehidupan modern. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida (CO₂) justru bisa memperparah dampak badai antariksa terhadap satelit. Temuan ini mengejutkan banyak ilmuwan karena bertentangan dengan asumsi awal.
Geomagnetic storm atau badai geomagnetik terjadi ketika partikel bermuatan dari Matahari menghantam atmosfer Bumi. Akibatnya, atmosfer bagian atas menjadi lebih padat untuk sementara. Kondisi ini menambah hambatan atau drag pada satelit. Hambatan tersebut memengaruhi kecepatan, ketinggian, hingga masa operasional satelit.
Menurut penelitian dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters pada 17 Agustus 2025, peningkatan CO₂ membuat atmosfer bagian atas semakin tipis dan dingin. Dengan demikian, badai antariksa di masa depan mungkin terlihat lebih “tenang” karena kepadatan awal lebih rendah. Namun, justru dampaknya bisa lebih ekstrem.
sunashadi.com, TECHNOSCIENCE – Tsunami selalu menjadi ancaman besar bagi wilayah pesisir. Gelombang raksasa ini sering muncul setelah gempa besar di dasar laut. Baru-baru ini, satelit NASA bernama SWOT berhasil menangkap detail menakjubkan dari tsunami di Kamchatka, Rusia. Hasil ini menjadi langkah maju dalam memprediksi bencana serupa di masa depan.
Gempa Dahsyat di Kamchatka dan Awal Tsunami
Pada 30 Juli 2025, gempa berkekuatan 8,8 magnitudo mengguncang Semenanjung Kamchatka. Guncangan itu terjadi pada pukul 11.25 waktu setempat. Hanya sekitar 70 menit setelah gempa, tsunami terbentuk dan menyebar ke Samudra Pasifik. Satelit SWOT yang bekerja sama antara NASA dan badan antariksa Prancis CNES menangkap momen ini dengan detail.
Biasanya, gempa besar atau longsoran bawah laut mampu menggeser kolom air laut secara masif. Pergeseran inilah yang menciptakan gelombang besar. Prosesnya mirip seperti batu kecil yang dilempar ke kolam dan menimbulkan riak ke segala arah. Namun, kali ini pengamatannya dilakukan langsung dari luar angkasa.
Data Satelit SWOT dan Kehebatan Teknologinya
Satelit SWOT, singkatan dari Surface Water and Ocean Topography, memiliki kemampuan unik. Ia dapat memotret bentuk, tinggi, dan arah gelombang tsunami dengan sangat detail. Data yang diperoleh bahkan mencatat tinggi gelombang awal tsunami sekitar 45 sentimeter atau 1,5 kaki. Angka ini mungkin tampak kecil, namun di perairan dangkal, gelombang tersebut bisa berubah menjadi puluhan meter.
Selain itu, data SWOT juga dibandingkan dengan model prakiraan tsunami dari NOAA, yaitu badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa model NOAA sangat akurat. Artinya, teknologi satelit benar-benar memperkuat sistem peringatan dini.
Pentingnya Data untuk Peringatan Dini
Bagi para ilmuwan, informasi dari satelit SWOT sangat berharga. Menurut Ben Hamlington dari NASA Jet Propulsion Laboratory, gelombang yang tampak kecil di laut lepas bisa menjadi bencana besar di pantai. Karena itu, validasi model melalui data nyata sangat penting.
Di sisi lain, NOAA menggunakan data ini untuk memperbaiki sistem prakiraan tsunami mereka. Sistem tersebut mengandalkan kombinasi skenario gempa-tsunami berdasarkan catatan lama dan sensor lautan. Dengan tambahan data satelit, akurasi prediksi meningkat tajam.
Josh Willis, seorang ahli oseanografi dari NASA, menegaskan bahwa data SWOT membantu ilmuwan “membalikkan” penyebab tsunami. Dengan kata lain, mereka bisa memahami lebih jelas proses terbentuknya gelombang. Hal ini juga memastikan peringatan kepada masyarakat pesisir lebih tepat waktu.
Belajar dari Bencana Masa Lalu
Pentingnya inovasi ini terasa ketika mengingat tsunami besar pada 2004 di Samudra Hindia. Saat itu, gelombang besar melanda Indonesia dan menewaskan ratusan ribu orang. Jika data satelit semacam SWOT sudah ada, peringatan dini mungkin bisa lebih cepat.
Menurut Vasily Titov, kepala ilmuwan NOAA di Seattle, data SWOT mampu memperkuat prakiraan operasional tsunami. Inilah kemampuan yang sudah lama dicari sejak tragedi Sumatra 2004. Karena itu, temuan kali ini sangat diapresiasi dalam dunia ilmiah.
Peran Internasional dalam Proyek SWOT
Proyek SWOT tidak hanya milik NASA dan CNES. Badan antariksa Kanada (CSA) dan Inggris juga turut menyumbangkan teknologi. Instrumen penting seperti radar Ka-band, GPS ilmiah, dan radiometer dibuat khusus untuk misi ini.
Selain itu, pusat penelitian Caltech di California juga berperan dalam mengelola komponen SWOT. Kolaborasi internasional ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa menyatukan banyak negara demi keselamatan bersama.
Manfaat Langsung bagi Masyarakat Pesisir
Bagi masyarakat pesisir, data semacam ini memberi harapan baru. Prediksi yang lebih akurat berarti waktu evakuasi lebih panjang. Dengan demikian, nyawa manusia bisa lebih banyak diselamatkan.
Selain itu, informasi yang cepat membantu pemerintah menyiapkan jalur evakuasi dan simulasi bencana. Di era perubahan iklim, ketika risiko bencana meningkat, teknologi ini menjadi sangat penting.
Langkah Besar dalam Ilmu Bumi
Apa yang dilakukan satelit SWOT membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti pada teori. Ia benar-benar memberi manfaat nyata. Dari luar angkasa, kita bisa melihat ancaman alam dan mempersiapkan diri lebih baik.
Karena itu, kolaborasi lintas negara dalam proyek ini sangat berarti. Bukan hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk melindungi jutaan orang di sepanjang pesisir dunia.
Sumber artikel ini berasal dari NASA’s Jet Propulsion Laboratory, dipublikasikan pada 17 Agustus 2025. Data tersebut menegaskan betapa pentingnya teknologi satelit dalam mitigasi bencana tsunami.[]
sunashadi.com, TECHNOSCIENCE – Gempa bumi selalu datang tiba-tiba. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa warga Alaska bisa memiliki waktu hingga 50 detik untuk bersiap menghadapi guncangan besar. Waktu ini memang singkat, tetapi cukup untuk melakukan langkah penyelamatan.
Mengapa Peringatan Dini Gempa Penting?
Sistem peringatan dini gempa bekerja dengan mendeteksi gelombang awal yang disebut gelombang P. Gelombang ini bergerak lebih cepat dari gelombang S yang lebih merusak. Karena itu, sistem bisa memberi sinyal sebelum guncangan kuat benar-benar terasa.
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan tim dari University of Alaska Fairbanks menunjukkan hasil yang menjanjikan. Mereka memodelkan bagaimana sistem seperti USGS ShakeAlert, yang sudah dipakai di California, Oregon, dan Washington, dapat bekerja di Alaska.
Hasilnya mengejutkan. Kota kecil seperti Sand Point bisa mendapat 10 detik peringatan. King Cove bisa meraih 20 detik, sementara Chignik bahkan sampai 50 detik.
Hasil Penelitian Terbaru Tentang Gempa di Alaska
Penelitian ini dilakukan oleh Alex Fozkos dari Alaska Earthquake Center. Ia menganalisis skenario gempa dengan magnitudo 7,3 yang pernah terjadi di dekat Sand Point. Hasil simulasi menunjukkan peringatan bisa datang beberapa detik sebelum guncangan besar terasa.
Selain itu, penelitian yang diterbitkan di Bulletin of the Seismological Society of America pada 5 Agustus 2025 menjelaskan skenario lebih luas. Misalnya, simulasi gempa berkekuatan 8,3 bisa memberi warga di pesisir Alaska Selatan dan Tenggara peringatan hingga 30 detik.
Peneliti juga menekankan perbedaan antara magnitudo dan intensitas gempa. Magnitudo mengukur energi di sumber gempa, sedangkan intensitas menggambarkan seberapa kuat guncangan di lokasi tertentu. Karena itu, gempa besar tidak selalu terasa sama di semua tempat.
Michael West, direktur Alaska Earthquake Center, menambahkan bahwa penelitian ini membuat konsep peringatan dini lebih nyata bagi masyarakat. Menurutnya, algoritma rumit yang digunakan telah diterjemahkan menjadi skenario sederhana yang mudah dipahami.
Tantangan dan Harapan untuk Sistem di Alaska
Namun, ada tantangan besar. Alaska memiliki kondisi tektonik yang jauh lebih kompleks dibanding pantai barat Amerika Serikat. Ada gempa kerak dangkal, gempa dalam di slab, hingga gempa akibat pergeseran sesar. Karena itu, sistem harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi lokal.
Selain itu, jaringan sensor juga masih terbatas. Untuk membangun sistem peringatan yang handal, Alaska membutuhkan sekitar 450 stasiun seismik aktif. Dari jumlah itu, baru ada 20 stasiun. Sisanya perlu dibangun atau ditingkatkan kualitasnya.
Jika sistem ini berhasil, fokus utama akan diberikan pada wilayah padat penduduk seperti Anchorage, Fairbanks, Kodiak, dan Prince William Sound. Daerah-daerah ini dihuni 90 persen penduduk Alaska, sehingga manfaatnya akan sangat besar.
Di sisi lain, semakin banyak sensor berarti deteksi gempa akan lebih cepat. Dengan begitu, peringatan bisa dikirimkan lebih awal. Hal ini terbukti di California, di mana ShakeAlert sudah berjalan dengan baik karena jaringan sensor yang padat.
Karena itu, penelitian Fozkos memberi angka nyata yang menunjukkan keuntungan bagi masyarakat Alaska. Ia menekankan bahwa warga berhak mendapatkan data yang sesuai dengan kondisi geologi Alaska, bukan hanya hasil dari studi di wilayah lain.
Waktu 10 hingga 50 detik memang terasa singkat. Namun, dalam keadaan darurat, waktu itu bisa menyelamatkan banyak nyawa. Orang bisa menjauh dari bangunan rapuh, berhenti mengemudi, atau melindungi diri di tempat aman.
Sistem peringatan dini gempa bukan sekadar teknologi, melainkan alat penyelamat. Jika berhasil diterapkan di Alaska, teknologi ini bisa menjadi model bagi wilayah rawan gempa lain di dunia.
Dengan kombinasi penelitian, dukungan pemerintah, dan kesadaran masyarakat, Alaska bisa lebih siap menghadapi guncangan besar di masa depan. Karena itu, langkah kecil seperti membangun sensor menjadi pondasi penting menuju keselamatan yang lebih besar.[]
Jauh di bawah lautan beku Antartika, tersimpan rahasia geologi yang luar biasa. Peneliti baru saja memetakan 332 jurang raksasa bawah laut atau submarine canyons. Beberapa di antaranya memiliki kedalaman lebih dari 4.000 meter. Temuan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengungkap peran penting jurang ini bagi iklim dunia.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Barcelona dan University College Cork. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Marine Geology pada 9 Agustus 2025. Pemetaan dilakukan menggunakan data resolusi tinggi, yang mampu menunjukkan detail dasar laut secara belum pernah terjadi sebelumnya.
Selain itu, temuan ini mengungkap bahwa jurang-jurang tersebut terbentuk dari proses glasial dan arus sedimen yang kuat. Keduanya membentuk lembah curam yang memengaruhi arus laut, distribusi nutrien, dan bahkan kestabilan es di Antartika.
Yang menarik, perbedaan bentuk dan struktur jurang di Antartika Timur dan Barat memberi petunjuk tentang sejarah es purba di benua tersebut. Di sisi lain, penemuan ini juga memperlihatkan titik-titik rentan yang terancam mencair akibat air laut hangat.
Pola makan tinggi lemak bukan hanya memengaruhi berat badan. Penelitian terbaru mengungkap bahwa makanan berlemak juga mengubah bentuk dan fungsi astrocytes, sel otak berbentuk bintang di bagian striatum. Bagian otak ini berperan dalam mengatur rasa senang saat makan.
Astrocytes selama ini kurang diperhatikan dibandingkan neuron. Namun, riset baru menunjukkan sel ini ternyata memegang kendali besar dalam metabolisme dan fungsi otak. Bahkan, dengan sedikit manipulasi, astrocytes bisa mengembalikan kemampuan otak yang menurun akibat obesitas.
Di sisi lain, para peneliti menemukan bahwa mengatur aktivitas astrocytes pada tikus tidak hanya mempengaruhi metabolisme. Proses ini juga membantu tikus belajar kembali suatu tugas yang sebelumnya terganggu karena obesitas.
Saklar Kecil dengan Dampak Besar
Astrocytes tidak menghasilkan sinyal listrik seperti neuron, sehingga sulit dipelajari di masa lalu. Namun, berkat teknologi pengamatan terbaru, kita tahu bahwa astrocytes bekerja erat dengan neuron untuk menjaga fungsi sistem saraf.
Membayangkan evolusi berjalan dalam kecepatan kilat mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, para ilmuwan di Scripps Research baru saja mewujudkannya melalui teknologi yang mereka sebut T7-ORACLE. Alat ini bisa mempercepat proses evolusi protein hingga 100.000 kali lebih cepat dari cara alami.
Dalam dunia medis, protein berperan penting untuk berbagai fungsi tubuh dan terapi. Namun, memodifikasi atau menciptakan protein baru sering memakan waktu lama. Karena itu, T7-ORACLE hadir untuk memangkas waktu yang biasanya butuh berbulan-bulan menjadi hanya beberapa hari.
Selain itu, teknologi ini membuka peluang besar untuk menciptakan obat, terapi kanker, hingga diagnostik penyakit yang lebih efektif. Prosesnya menggunakan bakteri E. coli yang sudah direkayasa dengan sistem replikasi virus bacteriophage T7.
Cara Kerja Mesin Evolusi Cepat
Secara sederhana, evolusi protein di laboratorium melibatkan proses mutasi dan seleksi berulang. Metode lama memerlukan banyak langkah manipulasi DNA dan pengujian. Di sisi lain, T7-ORACLE melakukan evolusi secara terus-menerus di dalam sel bakteri.
Selama ini banyak orang percaya bahwa semua kehidupan di Bumi bergantung pada sinar matahari. Namun, penelitian terbaru membuktikan hal berbeda. Sekelompok ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) menemukan bahwa mikroba di kedalaman Bumi justru bisa hidup tanpa cahaya sama sekali. Mereka mendapatkan energi dari gempa bumi.
Temuan ini cukup mengejutkan. Sebab, lingkungan di kedalaman Bumi selama ini dianggap tidak ramah bagi kehidupan. Tidak ada cahaya, tidak ada tumbuhan, dan sangat minim sumber makanan organik. Tetapi, di sanalah ternyata kehidupan masih bisa bertahan.
Selain itu, penelitian ini memberi petunjuk penting untuk mencari kehidupan di planet lain. Jika mikroba bisa hidup di tempat gelap di Bumi, maka mungkin ada kehidupan di planet tanpa matahari.
Tenaga Gempa Sebagai Sumber Energi
Gempa bumi ternyata bukan hanya merusak permukaan tanah. Getaran yang dihasilkan mampu memecahkan batuan di kerak Bumi. Pecahan batu ini memicu reaksi kimia yang menghasilkan hidrogen dan zat pengoksidasi seperti hidrogen peroksida (H₂O₂).
Gempa bumi memang selalu mengundang ketakutan. Tapi di balik guncangannya, seringkali tersimpan rahasia besar yang belum terpecahkan. Baru-baru ini, rekaman CCTV dari Myanmar menjadi perbincangan hangat para ilmuwan. Pasalnya, video tersebut tidak hanya menampilkan retakan tanah yang biasa terjadi saat gempa, tetapi juga mengungkap sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.
CCTV itu merekam pergerakan patahan bumi yang tidak lurus. Tanah ternyata tidak hanya tergeser ke samping, tapi melengkung saat bergerak. Fenomena ini disebut curved fault slip atau kelengkungan slip patahan. Penemuan ini membuka mata banyak ahli geologi tentang dinamika gempa bumi yang lebih kompleks dari dugaan.
Rekaman itu berasal dari kamera pengawas yang berada di sekitar Patahan Sagaing, Myanmar. Kamera itu berdiri sekitar 20 meter dari jalur patahan dan berjarak 120 kilometer dari pusat gempa. Gempa tersebut berkekuatan 7,7 magnitudo dan terjadi pada 28 Maret lalu.
Pada awalnya, banyak orang menonton video itu karena dramatis. Guncangan besar dan pergeseran tanah tampak jelas. Namun, seorang ahli geofisika bernama Jesse Kearse melihat lebih dari sekadar retakan. Saat menonton ulang video itu untuk kelima kalinya, dia menyadari bahwa tanah tidak hanya bergeser ke samping, tapi juga bergerak dalam jalur melengkung.
Lubang hitam sering dikenal sebagai tempat yang menelan segalanya, bahkan cahaya. Namun, siapa sangka bahwa objek kosmik ini juga bisa “bernyanyi”? Tentu saja, bukan dalam bentuk suara seperti yang kita dengar, melainkan getaran khas yang dikenal sebagai quasinormal modes. Getaran ini menghasilkan gelombang gravitasi yang bisa terdeteksi di Bumi.
Selain itu, para ilmuwan menemukan bahwa getaran ini menyimpan informasi penting tentang massa dan bentuk lubang hitam. Sayangnya, perhitungan getaran ini sangat rumit, apalagi jika getarannya cepat melemah. Itulah sebabnya, metode yang lebih canggih dibutuhkan.
Baru-baru ini, peneliti dari Kyoto University menawarkan pendekatan baru. Mereka menggunakan teknik matematika bernama exact WKB analysis. Teknik ini awalnya berkembang di dunia matematika murni. Namun, kini mulai digunakan untuk menjelaskan fisika lubang hitam secara lebih detail.
Rahasia Getaran yang Tak Terdeteksi Selama Puluhan Tahun
Metode exact WKB memungkinkan ilmuwan menelusuri jejak gelombang dari lubang hitam hingga ke angkasa jauh. Teknik ini memakai pendekatan angka kompleks untuk menjelajahi area yang tak bisa dihitung dengan metode biasa. Di sinilah muncul fenomena menarik bernama Stokes curves.