William Buckland: Pemburu Fosil Paling Berani di Zamannya

Siapa sangka seorang pendeta bisa menjadi pelopor ilmu fosil dan geologi modern? William Buckland membuktikan bahwa ilmu dan iman bisa berjalan beriringan. Ia tak hanya mendalami kitab suci, tapi juga mendalami batuan dan tulang purba. Dari penggalian gua hingga penemuan dinosaurus pertama di Inggris, Buckland meninggalkan jejak kuat dalam sejarah sains. Kisahnya menarik karena penuh warna, semangat, dan kejutan.
William Buckland lahir pada 12 Maret 1784 di Axminster, Inggris. Ia tumbuh di lingkungan pedesaan dekat tambang, tempat banyak fosil ditemukan. Ayahnya kerap mengajaknya menyusuri daerah itu, mencari fosil siput laut dan batu unik.
Sejak kecil, William belajar di rumah. Namun, ia kemudian masuk sekolah formal di Tiverton dan Winchester College. Di sana, ia memperluas koleksi fosilnya hingga mencakup spons laut dari bukit kapur sekitar sekolah.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford. Ia belajar klasik dan teologi, lalu ditahbiskan sebagai imam pada 1808. Namun, cintanya pada geologi tak pernah padam.
Penjelajah Batu dan Penggali Sejarah Bumi
Selain mengajar, Buckland menjelajahi Inggris dan Irlandia dengan menunggang kuda. Ia meneliti lapisan tanah dan membawa pulang batu dan fosil untuk dipelajari. Pada 1813, ia menjadi pengganti dosennya sebagai pengajar mineralogi di Oxford.
Sejak 1816, ia mulai menggali gua-gua di Eropa dan menemukan banyak sisa tulang hewan purba. Di Yorkshire, ia menemukan tulang-tulang gajah, kuda nil, bahkan hyena. Penemuan itu membuatnya mendapat Medali Copley dari Royal Society pada 1822.
Tak hanya itu, pada 1823, Buckland menemukan kerangka manusia yang dikenal sebagai “Red Lady of Paviland”. Awalnya, ia mengira itu sisa wanita dari era Romawi. Namun, tes modern menunjukkan kerangka itu milik pria dari 33.000 tahun lalu.
Temuan Dinosaurus Pertama dan Teori Penciptaan
Pada 1824, Buckland mengumumkan penemuan fosil dinosaurus pertama di Inggris: Megalosaurus. Ia juga menemukan fosil rahang mamalia yang lebih tua dari era Tersier, hal yang sangat langka.
Di tahun yang sama, ia menjadi Presiden Geological Society. Dengan pendapatan yang lebih baik, ia menikah dengan Mary Morland, seorang ilustrator sains. Mereka menghabiskan bulan madu dengan menjelajahi situs geologi di Eropa.
Pasangan ini punya sembilan anak, dan tetap aktif menulis serta menggambar fosil bersama. Salah satu karya paling terkenalnya terbit tahun 1836: buku “Geology and Mineralogy”. Dalam buku itu, ia mulai meninggalkan kepercayaan bahwa banjir besar Nuh menjelaskan semua fosil.
Buckland adalah tokoh penting dalam upaya menyatukan sains dan agama. Ia mendukung teori celah waktu (Gap Theory), yang menyisipkan jutaan tahun antara ayat-ayat penciptaan dalam Alkitab. Dengan begitu, ia mencoba menjembatani iman dengan sains modern.
Namun, pandangannya terus berkembang. Setelah bertemu Louis Agassiz di Swiss pada 1838, Buckland menerima teori zaman es. Ia menyadari bahwa batuan di Inggris terbentuk oleh gletser, bukan oleh banjir besar.
Meski teorinya ditentang banyak orang, Buckland tetap yakin. Ia menyampaikan bukti-bukti kuat dalam pertemuan ilmiah. Ia bahkan kembali menjabat sebagai presiden Geological Society pada 1840.
Pada 1845, Buckland menjadi kepala biara Westminster dan tinggal di Islip, dekat Oxford. Ia bertanggung jawab atas renovasi gereja dan sekolah, sambil tetap menulis.
Sayangnya, pada 1850, penyakit mulai melemahkan tubuh dan pikirannya. Ia meninggal enam tahun kemudian, tepatnya 14 Agustus 1856, dalam usia 72 tahun.
Kuburannya harus diledakkan lebih dulu karena tanahnya terdiri dari batu kapur Jurassic—seolah bumi ingin bercanda terakhir dengan sang geolog. Sampai hari ini, kisah Buckland tetap menginspirasi banyak ilmuwan dan pecinta alam.[]
William Buckland: Pemburu Fosil Paling Berani di Zamannya Read More »









