Indonesia Emas Terancam dari Dimensi Literasi?

Ketika Indonesia memancang cita-cita besar menjadi negara maju pada tahun 2045 lewat visi Indonesia Emas, ada satu dimensi dasar yang kerap terpinggirkan: literasi. Kemampuan membaca, memahami informasi, dan berpikir kritis bukan sekadar modal pelengkap—melainkan fondasi utama yang menentukan arah dan kualitas kemajuan bangsa. Tanpa kemampuan tersebut, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau kecanggihan industri bisa menjadi bangunan rapuh tanpa dasar yang kokoh.

Menurut catatan UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Itu berarti, dari setiap 1.000 orang, hanya satu yang benar-benar memiliki kebiasaan membaca. Riset lain mencatat bahwa orang Indonesia rata-rata hanya membaca sekitar 5,91 buku per tahun dan menghabiskan sekitar 129 jam untuk membaca dalam setahun. Padahal secara infrastruktur, Indonesia tergolong siap: perpustakaan tersedia di banyak tempat, akses internet makin luas, dan gawai digital merajalela. Masalahnya bukan pada sarana, tetapi pada budaya—membaca belum menjadi kebiasaan yang hidup dalam keseharian.

Sebagai perbandingan, negara-negara maju memiliki budaya literasi yang tertanam kuat. Finlandia, misalnya, dikenal sebagai negara dengan salah satu tingkat literasi terbaik di dunia. Warganya membaca rata-rata 15 buku per tahun, dengan estimasi waktu membaca sekitar 280 jam. Perpustakaan berdiri untuk setiap 4.500 penduduk, dan kebiasaan membaca ditanamkan sejak bayi melalui program hadiah buku untuk keluarga baru. Di Jepang, tingkat literasinya mendekati sempurna (99%). Masyarakatnya terbiasa membaca di mana pun—termasuk di dalam kereta bawah tanah. Setiap tahun, orang Jepang rata-rata membaca 10 buku dan menghabiskan sekitar 220 jam untuk membaca.

Negara-negara Skandinavia lainnya seperti Norwegia dan Swedia juga menunjukkan kekuatan literasi yang mengakar. Di Norwegia, program membaca di sekolah telah berjalan selama dua dekade, dengan rata-rata 6,48 buku dibaca per tahun dan waktu membaca sekitar 153 jam. Swedia lebih tinggi lagi, dengan estimasi 12 buku per tahun dan hampir 250 jam membaca. Islandia bahkan lebih ekstrem—rakyatnya membaca 14 hingga 15 buku per tahun dengan rata-rata waktu membaca sekitar 300 jam, didorong oleh jumlah perpustakaan terbanyak per kapita di dunia dan budaya membaca yang dianggap sebagai identitas nasional.

Bandingkan pula dengan negara-negara tetangga dan pesaing regional. Malaysia tercatat sebagai salah satu negara dengan minat baca tinggi di Asia Tenggara, dengan 24 buku dibaca per orang per tahun dan rata-rata waktu membaca mencapai sekitar 487 jam per tahun. Singapura, meskipun lebih kecil secara geografis, memiliki ekosistem literasi digital yang matang. Penduduknya membaca sekitar 6,72 buku setahun, dan menghabiskan waktu sekitar 155 jam untuk membaca, dengan program literasi dimulai sejak pendidikan usia dini. Thailand juga tidak tertinggal jauh, dengan kebiasaan membaca sekitar 6,37 buku per tahun dan berbagai inisiatif nasional seperti Hari Buku dan program “One Tambon One Book” untuk mendorong minat baca di tingkat lokal.

Kesenjangan yang lebar ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya tertinggal dari negara maju, tetapi juga dari negara-negara tetangganya sendiri. Literasi yang rendah membuka peluang bagi berbagai risiko sosial: maraknya disinformasi, radikalisme digital, dan kesulitan dalam menghadapi kompleksitas global. Literasi bukan semata kemampuan membaca teks, tetapi membaca konteks dan zaman. Ia menjadi benteng pertama melawan kebodohan, kesesatan berpikir, dan manipulasi informasi.

Namun harapan tetap ada. Dari komunitas literasi akar rumput, guru-guru inovatif, hingga inisiatif digital seperti dongeng daring dan buku visual berbasis budaya lokal—tanda-tanda kebangkitan mulai muncul. Yang diperlukan kini adalah komitmen kolektif dan dukungan sistemik: kebijakan yang progresif, keluarga yang mendukung, sekolah yang kreatif, dan media yang mendidik.

Karena Indonesia Emas sejatinya tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau industri, tetapi juga dari seberapa dalam rakyatnya berpikir, membaca situasi, dan memahami dunia dengan cerdas dan berempati.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *