Lingkungan

Dampak Sosial Pencairan Glester

Kita sering mendengar bahwa es di kutub dan gunung-gunung tinggi sedang mencair akibat perubahan iklim. Tapi, pernahkah anda berpikir bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia secara langsung? Tidak hanya soal suhu yang makin panas, ternyata hilangnya gletser juga membawa dampak besar pada kehidupan sosial dan budaya banyak komunitas di dunia.

Dua antropolog dari Rice University, Cymene Howe dan Dominic Boyer, mengangkat persoalan ini dalam sebuah komentar ilmiah yang diterbitkan pada 29 Mei 2025 di jurnal ternama Science. Dalam tulisan mereka, Howe dan Boyer mengajak kita untuk tidak hanya melihat pencairan gletser dari sisi ilmiah atau fisik semata, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Menurut penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal yang sama, jika kita tetap menjalankan kebijakan iklim seperti sekarang, lebih dari 75% es gletser di seluruh dunia bisa lenyap sebelum abad ini berakhir. Ini bukan hanya soal angka yang besar—dampaknya bisa sangat terasa bagi masyarakat yang hidup di sekitar gletser.

Gletser selama ini bukan hanya sumber air bersih bagi sekitar 2 miliar orang, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya dan spiritual beberapa komunitas. Ada masyarakat yang menganggap gletser sebagai makhluk hidup atau tempat suci. Ketika gletser itu mencair atau hilang, bagi mereka, itu seperti kehilangan bagian dari jiwa dan sejarah nenek moyang mereka. Bahkan, beberapa komunitas sampai mengadakan upacara pemakaman untuk gletser yang telah hilang.

Howe dan Boyer juga mengembangkan proyek bernama Global Glacier Casualty List, sebuah platform digital yang mendokumentasikan gletser-gletser yang telah mencair atau sedang dalam kondisi kritis. Proyek ini menggabungkan ilmu iklim, ilmu sosial, dan narasi masyarakat lokal untuk mengingatkan kita bahwa apa yang hilang bukan sekadar bongkahan es, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia.

Selama lima tahun terakhir, dunia kehilangan sekitar 273 miliar ton es per tahun, menjadikannya periode terburuk dalam sejarah pencatatan pencairan es. Namun, ironisnya, angka sebesar itu belum cukup mendorong tindakan serius terhadap krisis iklim. Inilah alasan mengapa Howe dan Boyer percaya bahwa ilmu sosial harus bekerja bersama dengan ahli gletser dan ilmuwan iklim, untuk menjelaskan betapa pentingnya fenomena ini dan bagaimana begitu banyak kehidupan dan komunitas manusia terdampak ketika gletser menghilang.

Kemunculan tulisan ini di Science cukup istimewa karena jurnal tersebut biasanya hanya memuat penelitian dari bidang ilmu alam dan fisika. Dalam tulisannya, Howe dan Boyer menekankan bahwa mengatasi krisis iklim tidak hanya soal mengukur suhu dan mencatat data, tetapi juga soal memahami budaya, mengenang sejarah bersama, dan mendorong aksi kolektif.

PBB bahkan telah menetapkan tahun 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser, sebagai upaya untuk menyadarkan dunia tentang pentingnya menjaga gletser. Howe dan Boyer menyatakan bahwa jika umat manusia bisa menahan kenaikan suhu global hingga maksimal 1,5°C, kita masih bisa menyelamatkan separuh gletser yang tersisa. Dengan kata lain, harapan masih ada—tetapi kita harus bertindak sekarang.

Walaupun sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah melihat gletser secara langsung, kehilangan mereka tetap akan berdampak pada kehidupan kita. Mulai dari pasokan air bersih, ekosistem, hingga warisan budaya. Seperti yang dikatakan Howe, “Kita sudah kehilangan banyak, tetapi masih ada begitu banyak yang bisa diselamatkan — untuk kita dan untuk generasi yang akan datang.”[]

Dampak Sosial Pencairan Glester Read More »

Selamatkan Glester Bumi!

Bayangkan jika sebagian besar gletser di dunia — bongkahan es raksasa yang menjadi sumber air bagi jutaan orang — mencair dan hilang selamanya. Ini bukan fiksi ilmiah. Ini kenyataan yang mungkin terjadi jika kita gagal membatasi pemanasan global.

Sebuah studi ilmiah internasional terbaru yang diterbitkan pada 29 Mei 2025 dalam jurnal Science oleh tim dari ETH Zurich dan 10 institusi lainnya menunjukkan bahwa kita bisa menyelamatkan dua kali lebih banyak es gletser jika pemanasan global dibatasi hingga 1,5°C, dibandingkan dengan skenario suhu naik hingga 2,7°C sebagaimana yang diproyeksikan oleh kebijakan iklim saat ini.

Peneliti dari sepuluh negara menggunakan delapan model komputer untuk mensimulasikan masa depan lebih dari 200.000 gletser di luar wilayah kutub Greenland dan Antarktika. Hasilnya sangat mengkhawatirkan: bahkan jika suhu global stabil di tingkat saat ini (sekitar 1,2°C), sekitar 39% massa es gletser tetap akan mencair. Jika pemanasan mencapai 2,7°C, kita akan kehilangan lebih dari setengah es gletser dunia. Namun, jika kita berhasil menjaga pemanasan hingga hanya 1,5°C, maka lebih dari 54% es tersebut masih bisa diselamatkan.

Gletser bukan hanya elemen alam yang indah, tetapi juga memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Mereka adalah sumber air tawar utama, pelindung alami terhadap bencana seperti banjir gletser dan longsor, serta menopang ekonomi pariwisata di wilayah pegunungan. Jika mencair, gletser juga menyumbang signifikan terhadap kenaikan permukaan laut yang mengancam daerah pesisir.

Yang lebih mengkhawatirkan, para ilmuwan menekankan bahwa bahkan jika emisi karbon berhenti hari ini, gletser akan terus mencair selama berabad-abad karena efek panas masa lalu yang tertinggal di atmosfer. Ini artinya, sebagian besar gletser sudah “terkutuk” untuk mencair, dan hanya tindakan segera yang bisa mengurangi kerusakan lebih lanjut. Penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar 40% massa es gletser kemungkinan besar sudah tidak bisa diselamatkan.

Setiap kenaikan suhu sebesar 0,1°C diperkirakan menyebabkan hilangnya sekitar 2% es gletser tambahan. Artinya, perbedaan antara 1,5°C dan 2,7°C bukanlah perbedaan kecil — melainkan perbedaan antara kehilangan sebagian dan mayoritas gletser dunia.

Tahun ini, yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser, menjadi momen penting untuk aksi global. Konferensi tingkat tinggi tengah berlangsung, termasuk di Swiss dan Tajikistan, untuk menyusun Deklarasi Gletser Dushanbe, sebagai langkah konkret melindungi es dunia dan ilmu pengetahuan cryosferik selama dekade 2025–2034.

Meskipun keputusan besar ada di tangan para pemimpin dan industri, setiap individu juga bisa berperan. Mulai dari mengurangi penggunaan energi fosil, beralih ke transportasi ramah lingkungan, mengurangi konsumsi daging, hingga mendukung kebijakan dan gerakan pelestarian lingkungan. Gletser mencair bukan hanya isu di ujung dunia — tapi masalah bersama seluruh umat manusia.[]

Selamatkan Glester Bumi! Read More »

10 Burung Baru Ditemukan di Pulau-Pulau Kecil Dekat Sulawesi

Pada awal tahun 2020, sebuah penemuan luar biasa dilakukan oleh tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menemukan 10 jenis burung baru — terdiri dari 5 spesies dan 5 subspesies — di beberapa pulau kecil di sekitar Sulawesi, Indonesia.

Penemuan ini dianggap sangat istimewa karena burung merupakan hewan yang paling dikenal di dunia, dan sejak tahun 1999, biasanya hanya sekitar 5 atau 6 spesies baru yang ditemukan setiap tahun. Namun dalam satu kali ekspedisi, tim ini berhasil menemukan jumlah yang luar biasa banyak.

Penemuan burung-burung ini dilakukan di wilayah yang disebut Wallacea, yaitu kumpulan pulau-pulau di antara Asia dan Australia. Wilayah ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat unik. Nama Wallacea diambil dari Sir Alfred Wallace, seorang penjelajah terkenal yang dahulu mengoleksi spesimen dari kawasan ini.

Tim peneliti melakukan ekspedisi selama enam minggu, dari November 2013 hingga Januari 2014. Mereka menyusuri pulau-pulau Taliabu, Peleng, dan Togian. Pulau-pulau ini sangat terpencil dan belum banyak dieksplorasi oleh peneliti sebelumnya.

Beberapa faktor yang membuat burung-burung ini baru ditemukan sekarang adalah karena pulau-pulau tersebut sangat terisolasi dan sulit dijangkau. Selain itu, sebagian besar kolektor dan peneliti di masa lalu hanya menjelajah di sepanjang pantai, dan tidak sampai ke bagian tengah atau pegunungan.

Tim peneliti juga memanfaatkan teknologi modern seperti penelitian genetik dan analisis bentuk tubuh untuk memastikan bahwa burung-burung yang mereka temukan benar-benar berbeda dari yang sudah dikenal sebelumnya.

Inilah daftar burung baru yang ditemukan: Di Pulau Taliabu ditemukan tiga spesies baru yaitu Taliabu Grasshopper-Warbler, Taliabu Myzomela, dan Taliabu Leaf-Warbler. Selain itu ditemukan pula tiga subspesies baru yaitu Taliabu Snowy-browed Flycatcher, Taliabu Island Thrush, dan Sula Mountain Leaftoiler. Di Pulau Peleng ditemukan dua spesies baru yaitu Peleng Fantail dan Peleng Leaf-Warbler, serta satu subspesies baru yaitu Banggai Mountain Leaftoiler. Di Pulau Togian ditemukan satu subspesies baru yaitu Togian Jungle-Flycatcher.

Sayangnya, selama ekspedisi, peneliti menemukan bahwa banyak hutan di Pulau Taliabu dan Peleng sudah rusak parah. Hutan dataran rendah hampir habis, dan hutan pegunungan juga mulai terancam akibat penebangan liar dan kebakaran hutan.

Beberapa burung yang ditemukan masih bisa bertahan di hutan sekunder (hutan yang tumbuh kembali setelah rusak), tapi ada juga yang sangat bergantung pada hutan asli. Tanpa tindakan konservasi yang serius, bisa jadi burung-burung baru ini akan punah dalam beberapa dekade ke depan.

Penemuan ini menunjukkan bahwa masih banyak spesies yang belum kita ketahui, terutama di daerah terpencil seperti Wallacea. Dengan bantuan ilmu pengetahuan modern dan semangat eksplorasi, para peneliti yakin masih banyak makhluk hidup lain yang menunggu untuk ditemukan — asalkan kita tetap menjaga kelestarian alam tempat mereka hidup.

Intinya, Indonesia, khususnya wilayah Wallacea, masih menyimpan banyak misteri alam. Penemuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga hutan dan alam kita adalah kunci untuk mengenal dan melindungi keanekaragaman hayati yang luar biasa.[]

10 Burung Baru Ditemukan di Pulau-Pulau Kecil Dekat Sulawesi Read More »

Lautan Semakin Gelap

Selama dua dekade terakhir, para ilmuwan menemukan bahwa lebih dari seperlima lautan dunia — mencakup wilayah seluas lebih dari 75 juta kilometer persegi — telah mengalami fenomena yang disebut “penggelapan laut”. Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang dilakukan oleh University of Plymouth dan Plymouth Marine Laboratory, dan dipublikasikan pada 27 Mei 2025 di situs resmi University of Plymouth.

Penggelapan laut terjadi ketika cahaya dari matahari atau bulan tidak bisa menembus laut sedalam biasanya. Ini disebabkan oleh perubahan sifat optik air laut, seperti meningkatnya kandungan sedimen, bahan organik, atau ganggang mikroskopis. Zona laut yang biasanya mendapat cahaya — dikenal sebagai zona fotik — adalah tempat tinggal bagi 90% kehidupan laut. Jika zona ini menjadi lebih dangkal, banyak makhluk laut yang akan kehilangan habitat dan sumber makanannya.

Dengan menggunakan data satelit NASA dan pemodelan komputer, peneliti menganalisis perubahan kedalaman zona fotik dari tahun 2003 hingga 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa 21% lautan global mengalami penurunan pencahayaan. Bahkan, lebih dari 9% wilayah laut — setara dengan luas benua Afrika — mengalami penurunan cahaya lebih dari 50 meter. Sekitar 2,6% dari lautan bahkan mengalami penurunan lebih dari 100 meter.

Meski sebagian besar lautan menjadi lebih gelap, ada juga sekitar 10% wilayah laut — lebih dari 37 juta kilometer persegi — yang justru menjadi lebih terang dalam 20 tahun terakhir. Namun, perubahan ini tetap menjadi perhatian karena bisa mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.

Para peneliti menyebut penyebab penggelapan laut berbeda-beda tergantung lokasinya. Di daerah pesisir, penyebab utamanya adalah limpasan air hujan yang membawa pupuk pertanian, sedimen, dan bahan organik ke laut. Sementara di laut lepas, faktor seperti perubahan suhu permukaan laut dan mekar alga yang tidak stabil diduga menjadi penyebab utama.

Dr. Thomas Davies dari University of Plymouth mengatakan bahwa perubahan ini bisa mengganggu hewan laut yang sangat bergantung pada cahaya untuk bertahan hidup dan berkembang biak. “Kita juga bergantung pada laut untuk bernapas, mendapatkan makanan, dan melawan perubahan iklim,” ujarnya. Oleh karena itu, perubahan ini bukan hanya masalah laut, tapi juga menyangkut kesehatan dan keberlangsungan hidup manusia di Bumi.

Profesor Tim Smyth dari Plymouth Marine Laboratory menambahkan bahwa jika zona fotik terus menyempit, hewan-hewan akan terpaksa naik ke permukaan laut, di mana mereka akan bersaing lebih keras untuk makanan dan ruang hidup. Hal ini dapat menyebabkan perubahan besar dalam seluruh rantai makanan laut.[]

Lautan Semakin Gelap Read More »

Peta Polusi Dunia: Kota Mana yang Makin Bersih, Mana yang Makin Kotor?

Sebuah studi besar yang dilakukan oleh para peneliti dari George Washington University bersama Washington University di St. Louis dan University of North Carolina di Chapel Hill mengungkap gambaran lengkap tentang polusi udara dan emisi karbon di lebih dari 13.000 kota di seluruh dunia. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi lingkungan perkotaan yang sangat beragam, tergantung pada wilayah dan kebijakan lingkungan di masing-masing kota.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa parah polusi udara dan seberapa besar emisi karbon di berbagai kota dunia. Data ini sangat penting untuk membantu pemerintah, ilmuwan, dan aktivis lingkungan dalam mengambil langkah nyata mengurangi polusi dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta perubahan iklim. Penelitian ini mencakup data dari tahun 2005 hingga 2019, menggunakan teknologi pengamatan satelit, pengukuran langsung di darat, serta model komputer untuk menghitung emisi karbon di tingkat kota.

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa lebih dari 50% kota yang diteliti menunjukkan bahwa berbagai jenis polusi—seperti nitrogen dioksida dan karbon dioksida—berasal dari sumber yang sama, yaitu kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembangkit listrik. Artinya, jika pemerintah dan masyarakat dapat mengendalikan sumber utama ini, maka beberapa jenis polusi bisa dikurangi secara bersamaan. Pendekatan terpadu ini dapat menjadi strategi yang efisien dalam upaya membersihkan udara di kawasan perkotaan.

Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa kota-kota di negara maju seperti di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang yang menerapkan kebijakan lingkungan yang ketat, cenderung mengalami penurunan tingkat polusi secara keseluruhan. Ini menjadi bukti nyata bahwa regulasi dan kebijakan yang kuat dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, kota-kota di wilayah yang sedang berkembang—khususnya di Asia Selatan seperti India dan Bangladesh, serta di beberapa bagian Afrika—justru mengalami peningkatan signifikan dalam hal polusi dan emisi karbon. Hal ini sering kali terjadi karena pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri yang sangat cepat, namun tidak dibarengi dengan peraturan dan pengawasan lingkungan yang memadai. Akibatnya, kualitas udara di kota-kota ini terus memburuk, membahayakan kesehatan penduduknya.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa teknologi satelit memainkan peran penting dalam proses pemantauan polusi udara secara global. Dengan bantuan penginderaan jauh dari satelit, para peneliti dapat memantau kondisi udara bahkan di wilayah yang sebelumnya sulit diakses atau tidak memiliki sistem pemantauan darat. Hal ini membuka peluang besar bagi negara-negara di seluruh dunia untuk lebih memahami dan menangani masalah polusi udara di wilayah masing-masing.

Sebagai bagian dari studi ini, para peneliti juga mengembangkan alat digital berupa peta interaktif dan dasbor yang memungkinkan masyarakat umum dan pembuat kebijakan untuk memantau tingkat polusi di berbagai kota secara real-time. Kehadiran alat ini sangat berguna untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong tindakan nyata, baik dari individu maupun pemerintah, dalam mengatasi persoalan polusi udara.

Menurut Prof. Susan Anenberg, salah satu peneliti utama dalam studi ini, hasil penelitian ini merupakan “cuplikan penting tentang bagaimana kota-kota berkembang dan berubah dalam hal kualitas udara.” Ia juga menekankan bahwa meskipun ada kota-kota yang berhasil memperbaiki kondisi lingkungannya, masih banyak yang menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya polusi.

Polusi udara diketahui dapat menyebabkan berbagai penyakit serius, seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan bahkan kematian dini. Sementara itu, emisi karbon dioksida merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat mendukung kebijakan yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil, serta memanfaatkan informasi yang tersedia melalui teknologi untuk membuat keputusan yang lebih bijak demi kesehatan bersama.

Artikel ini disusun berdasarkan hasil studi yang dipublikasikan oleh George Washington University pada 7 Mei 2025, bekerja sama dengan Washington University in St. Louis dan University of North Carolina at Chapel Hill, yang menggunakan data dari satelit, pengukuran darat, dan model komputer untuk memetakan kualitas udara dan emisi karbon di 13.189 kota di seluruh dunia.[]

Peta Polusi Dunia: Kota Mana yang Makin Bersih, Mana yang Makin Kotor? Read More »

Salim Ali: Si “Manusia Burung” dari India

Salim Ali adalah seorang ilmuwan luar biasa yang dikenal sebagai “manusia burung dari India”. Ia adalah orang yang sangat mencintai burung dan menjadi salah satu tokoh paling penting dalam dunia penelitian burung (ornitologi), tidak hanya di India, tapi juga di dunia.

Salim Ali lahir pada 12 November 1896. Ia adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Sayangnya, ayahnya meninggal ketika Salim masih bayi, dan ibunya pun wafat saat ia baru berumur tiga tahun. Ia kemudian dibesarkan oleh bibi dan pamannya di Mumbai.

Sejak kecil, Salim sudah tertarik pada burung. Suatu hari, ketika berumur 10 tahun, ia menembak seekor burung kecil dan penasaran ingin tahu jenisnya. Karena pamannya tidak tahu, mereka pergi ke Bombay Natural History Society. Di sana, Salim bertemu dengan orang yang sangat memahami burung, dan sejak saat itu, minatnya terhadap dunia burung semakin besar.

Salim Ali pernah kuliah, tapi tidak menyelesaikan gelar universitas. Ia sempat tinggal di Burma (sekarang Myanmar) untuk membantu saudaranya, tapi lebih suka mengamati burung di sana. Ia akhirnya kembali ke India dan melanjutkan studi di bidang zoologi (ilmu hewan).

Pada tahun 1918, Salim menikah dengan Tehmina Begum. Beberapa tahun kemudian, ia bekerja di museum Bombay Natural History Society sebagai pemandu, mengenalkan pengunjung pada burung-burung yang diawetkan. Ia bahkan pergi ke Jerman untuk belajar lebih dalam tentang burung dari ahli dunia.

Sayangnya, saat ia kembali ke India, pekerjaannya di museum dihentikan karena kekurangan dana. Meski begitu, semangatnya tak padam. Ia kembali bekerja sebagai pegawai di museum agar bisa tetap meneliti burung. Ia banyak menghabiskan waktu di rumah istrinya di desa Kihim, dekat Mumbai, untuk mengamati burung-burung liar.

Tahun 1930, Salim menerbitkan tulisan ilmiah pertamanya tentang burung manyar. Tulisan ini membuat namanya dikenal luas. Ia lalu berkeliling India untuk melakukan survei burung dan menulis pengamatan-pengamatannya.

Pada tahun 1941, ia menulis buku “The Book of Indian Birds”, yang menjadi sangat populer. Ia juga bekerja sama dengan ahli burung dunia, S. Dillon Ripley, dan menulis seri buku “Handbook of the Birds of India and Pakistan” sebanyak 10 jilid. Buku ini sangat penting bagi siapa saja yang ingin belajar tentang burung-burung di kawasan Asia Selatan.

Selain itu, Salim menulis buku-buku lain seperti “Common Birds” (1967) dan autobiografinya “The Fall of a Sparrow” (1985), di mana ia menceritakan perjalanan hidupnya.

Salim Ali tidak hanya meneliti burung, tapi juga berjuang melindungi alam. Ia pernah mendapatkan penghargaan internasional berupa uang, tapi seluruhnya ia sumbangkan ke Bombay Natural History Society. Ia juga menerima dua penghargaan tertinggi dari pemerintah India: Padma Bhushan (1958) dan Padma Vibhushan (1976).

Salim Ali wafat pada 20 Juni 1987 dalam usia 90 tahun setelah lama melawan kanker prostat. Namun, warisannya dalam dunia ilmu pengetahuan tetap hidup hingga kini.[]

Salim Ali: Si “Manusia Burung” dari India Read More »

Selamatkan Bumi Sebelum 2050!

Sebuah kabar baik datang dari hasil penelitian Universitas Utrecht yang dirilis pada 14 Mei 2025. Penelitian ini menunjukkan bahwa dunia masih punya peluang untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan yang semakin parah. Jika kita mengambil langkah-langkah yang berani dan terkoordinasi, para peneliti percaya bahwa tekanan terhadap lingkungan global bisa dikembalikan ke tingkat yang sama seperti tahun 2015, paling lambat pada tahun 2050.

Penelitian ini menyatakan bahwa kita bisa menghindari kerusakan lebih lanjut dan membawa bumi kembali ke kondisi yang lebih aman. Namun, ini hanya bisa dicapai jika seluruh dunia bersama-sama melakukan perubahan besar dalam berbagai hal, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, mengubah pola makan, mengurangi pemborosan makanan, serta meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk.

Para ilmuwan menyebut bahwa batas-batas lingkungan bumi sudah banyak yang dilanggar. Dari sembilan batas penting, seperti kestabilan iklim, ketersediaan air bersih, dan keanekaragaman hayati, enam di antaranya telah terlampaui. Ini berarti bumi sudah memasuki fase berbahaya, dan jika dibiarkan, bisa berujung pada krisis besar yang memengaruhi kehidupan manusia di seluruh dunia.

Tapi tidak semua harapan hilang. Peneliti utama, Prof. Detlef Van Vuuren dari Universitas Utrecht dan Badan Penilaian Lingkungan Belanda (PBL), mengatakan bahwa jika kita melakukan lima langkah kunci secara bersamaan, dampak kerusakan bisa dikurangi secara signifikan. Langkah-langkah tersebut meliputi: mengurangi emisi karbon agar pemanasan global tetap di bawah 1,5°C, beralih ke pola makan sehat yang ramah lingkungan, mengurangi limbah makanan hingga setengahnya, menggunakan air dengan lebih hemat, dan meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk di bidang pertanian.

Dengan menggabungkan semua tindakan ini, tekanan terhadap bumi bisa kembali seperti pada tahun 2015. Ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa manusia bisa hidup sejahtera tanpa melampaui batas kemampuan bumi. Namun, para peneliti juga mengingatkan bahwa meskipun beberapa sistem bumi bisa dipulihkan, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama dan tindakan yang lebih ekstrem bahkan setelah tahun 2050.

Penelitian ini, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature dan disampaikan oleh Utrecht University, menekankan bahwa meskipun tantangan besar, perubahan masih mungkin terjadi. Walaupun dibutuhkan upaya besar dan perubahan cara hidup hampir di seluruh dunia, para ilmuwan yakin bahwa dengan kebijakan yang kuat dan dukungan masyarakat global, bumi masih bisa diselamatkan.

Seperti yang dikatakan Prof. Van Vuuren, “Bumi memang sedang sakit parah, tapi belum terlambat untuk menyembuhkannya.” Pesan dari penelitian ini jelas: kita masih bisa mengubah arah dan hidup dalam batas kemampuan bumi. Kita hanya perlu mulai bertindak sekarang.[]

Selamatkan Bumi Sebelum 2050! Read More »

Ratchet Overfishing

Perairan Eropa sebenarnya sangat kaya akan ikan, namun sayangnya banyak stok ikan kini berada dalam kondisi kritis akibat penangkapan berlebihan. Setiap tahun, Uni Eropa menetapkan kuota perikanan, yaitu batas jumlah ikan yang boleh ditangkap. Sayangnya, kuota ini seringkali melebihi jumlah yang disarankan oleh para ilmuwan. Akibatnya, banyak spesies ikan mengalami penurunan drastis bahkan mendekati kepunahan. Padahal, hukum Uni Eropa sudah dengan tegas menyatakan bahwa jumlah ikan yang ditangkap tidak boleh lebih banyak daripada jumlah yang bisa tumbuh kembali setiap tahun.

Masalah ini menjadi perhatian serius bagi para peneliti dari Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel (GEOMAR) dan Universitas Kiel. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tanggal 22 Mei 2025 di jurnal Science, mereka menyelidiki penyebab utama kegagalan Uni Eropa dalam mencapai target perikanan berkelanjutan. Mereka menggunakan wilayah Laut Baltik bagian barat sebagai contoh studi kasus karena wilayah ini cukup sederhana dan sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Uni Eropa.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keputusan soal kuota sering kali dipengaruhi oleh tekanan politik dari negara-negara anggota yang menginginkan tangkapan lebih besar demi keuntungan jangka pendek. Akibatnya, saran ilmiah sering diabaikan atau disesuaikan agar kuota yang lebih tinggi bisa disahkan. Selain itu, lembaga ilmiah seperti ICES (Dewan Internasional untuk Eksplorasi Laut) sering kali membuat perkiraan yang terlalu optimis mengenai jumlah stok ikan yang tersedia. Ini menciptakan kesan seolah-olah populasi ikan sedang pulih, padahal kenyataannya banyak yang justru stagnan atau menurun— fenomena yang disebut para peneliti sebagai “phantom recoveries” atau pemulihan semu.

Contoh nyatanya bisa dilihat pada ikan cod (ikan kod) dan herring (ikan haring) di Laut Baltik barat. Kedua spesies ini mengalami penurunan tajam akibat penangkapan berlebih yang berlangsung selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ikan pipih seperti plaice (ikan sebelah), yang kurang populer dan jarang ditangkap, justru menunjukkan populasi yang stabil atau meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan penangkapan adalah faktor kunci yang menentukan keberlangsungan stok ikan.

Yang paling terdampak dari situasi ini adalah para nelayan kecil di pesisir. Mereka sering kali menjadi korban dari kebijakan yang tidak mereka buat, dan hanya mengikuti keputusan asosiasi perikanan atau pemerintah yang ternyata mendukung kuota yang tidak berkelanjutan. Ironisnya, kuota resmi yang ditetapkan kadang kala bahkan lebih besar daripada jumlah ikan yang benar-benar tersedia di laut. Ini menciptakan kondisi yang sangat tidak masuk akal, di mana nelayan diminta menangkap ikan yang sebenarnya sudah sangat sedikit atau bahkan nyaris tidak ada.

Para peneliti menyebut proses ini sebagai “ratchet overfishing”, yaitu sistem di mana kuota cenderung naik terus dari waktu ke waktu tanpa koreksi signifikan meskipun situasi stok ikan memburuk. Saran dari ilmuwan yang sudah terlalu tinggi sering kali ditingkatkan lagi oleh Komisi Eropa, kemudian disetujui atau diperbesar oleh Dewan Menteri, menciptakan siklus yang sulit dipatahkan.

Sebagai solusi, para peneliti dari GEOMAR mengusulkan pembentukan lembaga baru yang bersifat independen dan bebas dari campur tangan politik. Lembaga ini akan bertugas menetapkan batas tangkapan tahunan berdasarkan prinsip pengelolaan perikanan berbasis ekosistem (ecosystem-based fisheries management). Dengan tingkat independensi yang serupa dengan bank sentral, lembaga ini diharapkan dapat memberikan saran ilmiah yang kuat dan tidak bisa diabaikan oleh pembuat kebijakan.

Jika langkah ini diambil, laut Eropa berpotensi pulih dalam waktu singkat. Dalam beberapa tahun saja, stok ikan bisa kembali melimpah, nelayan bisa menangkap dengan cara yang berkelanjutan, dan keseimbangan ekosistem laut bisa dipulihkan. Ini akan menjadi langkah penting bagi Uni Eropa untuk menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan dan menjadi contoh bagi kawasan lain di dunia.

Intinya, untuk menjaga kelestarian laut, mendukung kehidupan nelayan, dan melindungi masa depan perikanan, kita harus mengelola sumber daya laut berdasarkan ilmu pengetahuan yang objektif dan bukan berdasarkan kepentingan politik jangka pendek.[]

Ratchet Overfishing Read More »

Generasi dalam Bahaya: 0,2°C Lagi

Bayangkan, seorang anak yang lahir hari ini akan tumbuh di dunia yang jauh lebih panas, lebih kering, dan lebih berbahaya dibanding masa kecil kita dulu.

Menurut penelitian terbaru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB), anak-anak yang lahir tahun 2020 akan menghadapi risiko tinggi mengalami bencana iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bencana-bencana itu antara lain gelombang panas ekstrem, kekeringan panjang, banjir besar, kebakaran hutan, gagal panen, dan badai tropis. Semua ini bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Jika suhu bumi naik hingga 3,5°C pada tahun 2100, maka 92% anak-anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami gelombang panas ekstrem sepanjang hidup mereka. Itu berarti sekitar 111 juta anak dari satu tahun kelahiran saja akan terdampak. Bila kita menghitung semua anak usia 5 hingga 18 tahun saat ini (2025), maka jumlah anak yang akan hidup dalam risiko iklim ekstrem mencapai 1,5 miliar orang. Namun jika dunia bisa menahan pemanasan global di bawah 1,5°C, maka sekitar 654 juta anak bisa terhindar dari risiko ini.

Kondisi “belum pernah terjadi sebelumnya” di sini maksudnya adalah: tanpa perubahan iklim buatan manusia, kemungkinan seseorang mengalami bencana sebanyak itu sepanjang hidupnya sangat kecil—hanya 1 banding 10.000. Artinya, seharusnya generasi ini tidak akan mengalami bencana sebanyak ini jika tidak ada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Anak-anak dari keluarga miskin atau negara-negara berkembang adalah yang paling menderita. Di bawah kebijakan iklim saat ini, 95% dari anak-anak termiskin yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami gelombang panas ekstrem seumur hidupnya, dibandingkan 78% anak dari kelompok yang lebih mampu. Anak-anak yang paling tidak bertanggung jawab atas perubahan iklim justru harus menanggung beban terberat.

Para ilmuwan dan lembaga kemanusiaan seperti Save the Children mendesak semua negara untuk segera bertindak. Dunia harus mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis dan memperbarui komitmen iklim mereka sebelum Konferensi Iklim COP30 di Brasil. Jika tidak, anak-anak hari ini akan hidup dalam keadaan darurat iklim sepanjang hidup mereka. Mereka akan menghadapi panas ekstrem yang mengganggu kesehatan dan pendidikan, badai yang merusak rumah dan sekolah, dan kekeringan yang membuat makanan makin langka.

Pada tahun 2025, jumlah anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun yang akan mengalami bencana iklim sangat bergantung pada seberapa panas suhu bumi nantinya. Jika pemanasan global berhasil dibatasi pada 1,5°C, maka sekitar 855 juta anak akan mengalami gelombang panas sepanjang hidup mereka. Namun jika suhu naik menjadi 2,7°C, jumlahnya melonjak menjadi 1,35 miliar anak, dan pada skenario terburuk 3,5°C, sebanyak 1,51 miliar anak akan terdampak.

Untuk bencana gagal panen, sebanyak 316 juta anak terdampak dalam skenario 1,5°C, naik menjadi 400 juta anak pada 2,7°C, dan 431 juta anak pada 3,5°C. Anak-anak juga akan menghadapi risiko kebakaran hutan, yang memengaruhi 119 juta anak pada skenario 1,5°C, 134 juta anak pada 2,7°C, dan 147 juta anak pada 3,5°C.

Dalam hal kekeringan, 89 juta anak akan terdampak pada skenario 1,5°C, meningkat menjadi 111 juta pada 2,7°C, dan 116 juta pada 3,5°C. Sementara itu, banjir sungai akan menghantam 132 juta anak dalam skenario 1,5°C, lalu 188 juta anak pada 2,7°C, dan 191 juta anak pada 3,5°C. Terakhir, untuk badai tropis, jumlah anak yang terdampak adalah 101 juta pada 1,5°C, dan tetap tinggi pada 163 juta anak di skenario 2,7°C maupun 3,5°C.

Perubahan iklim bukan lagi soal masa depan yang jauh. Ini soal anak-anak kita hari ini. Dunia punya pilihan: menempuh jalan yang aman dan menjaga bumi tetap layak huni, atau membiarkan anak-anak kita hidup dalam krisis terus-menerus.

Dunia hanya tinggal 0,2°C dari batas bahaya 1,5°C. Angka tersebut akan menaikan suhu rata-rata global menjadi 15,2°C. Nilai tersebut adalah angka bahaya yang disepakati oleh para ahli. Waktunya hampir habis. Saatnya bertindak sekarang.[]

Generasi dalam Bahaya: 0,2°C Lagi Read More »

“Emas Bodoh”: Rahasia Alam Menstabilkan Iklim

Tahukah anda bahwa laut punya cara unik untuk membantu menyelamatkan bumi dari krisis iklim? Bahkan menggunakan sesuatu yang dijuluki ‘emas bodoh’!

Saat gunung berapi meletus, maka tidak hanya mengeluarkan lava dan abu, tapi juga gas karbon dioksida (CO₂) dalam jumlah besar ke udara. Jika terlalu banyak CO₂ di atmosfer, suhu bumi meningkat — inilah yang kita kenal sebagai pemanasan global.

Biasanya, sebagian dari karbon ini akan larut ke laut. Tapi kalau jumlahnya terlalu banyak, bisa menyebabkan laut menjadi asam, yang berbahaya bagi makhluk laut seperti terumbu karang dan ikan.

Tim ilmuwan dari berbagai universitas ternama di dunia, termasuk University of Connecticut dan Yale, menemukan bahwa laut ternyata punya trik rahasia untuk menyeimbangkan kondisi ekstrem ini. Triknya muncul saat laut kehilangan oksigen — situasi yang disebut anoksik.

Saat ini terjadi, muncul reaksi kimia yang menghasilkan pirit — mineral yang juga dikenal sebagai emas bodoh karena warnanya mirip emas tapi tidak berharga.

Pirit adalah mineral berwarna kuning keemasan yang mirip emas. Namanya ‘emas bodoh’ karena dulu banyak orang mengiranya emas sungguhan. Tapi ternyata, di balik julukannya, mineral ini bisa memainkan peran penting dalam menstabilkan iklim!

Ternyata, pembentukan pirit ini membantu laut tetap basa (tidak asam), sehingga menjaga keseimbangan dan melindungi kehidupan laut dari kerusakan akibat karbon berlebih.

Sayangnya, proses ini tidak cepat. Dibutuhkan ribuan hingga jutaan tahun agar mekanisme ini memberi dampak nyata. Jadi, meski laut punya cara sendiri untuk ‘memulihkan diri’, manusia tetap perlu bertindak sekarang untuk mengatasi perubahan iklim.

“Proses ini membantu bumi pulih dari bencana besar di masa lalu,” kata Mojtaba Fakhraee, peneliti utama studi ini. “Tapi jangan salah, proses ini terlalu lambat untuk menyelamatkan kita dari krisis iklim sekarang.”

Studi ini menunjukkan betapa luar biasanya alam dalam menjaga keseimbangan. Bahkan saat laut kekurangan oksigen — yang biasanya dianggap buruk — ternyata bisa memicu reaksi yang menyelamatkan sistem bumi dalam jangka panjang.

Namun bagi manusia, waktu adalah segalanya. Kita tidak bisa berharap laut menyelesaikan masalah ini sendiri.

Bumi punya cara bertahan hidup — termasuk dengan bantuan ‘emas bodoh’ di dasar laut. Tapi kita, manusia, hidup dalam skala waktu yang jauh lebih singkat. Jika kita tidak segera mengurangi emisi karbon dan menjaga lingkungan, kita yang akan paling merasakan dampaknya.[]

“Emas Bodoh”: Rahasia Alam Menstabilkan Iklim Read More »