
Sunashadi.com, LINGKUNGAN – Wakatobi dan Biak mencuri perhatian dunia kelautan. Dua kawasan ini disebut sebagai “hotspot terpanas” ikan karang di Indonesia karena memiliki keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang yang sangat tinggi. Temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat utama biodiversitas laut dunia.
Tulisan ini disusun berdasarkan artikel jurnal berjudul “Biak and Wakatobi reefs are the two hottest hotspots of coral reef fish diversity and abundance in the Indonesian Archipelago” yang terbit dalam jurnal Fisheries and Aquatic Sciences, Vol. 25 No. 11 Tahun 2022. Artikel ilmiah tersebut ditulis oleh Imam Bachtiar, Edwin Jefri, Muhammad Abrar, dan Tri Aryono Hadi.
Dalam penelitian tersebut, para penulis menyoroti pentingnya mengetahui lokasi-lokasi utama keanekaragaman ikan karang di Indonesia. Selama ini Indonesia dikenal sebagai bagian penting dari Segitiga Karang dunia, tetapi belum banyak kajian berskala nasional yang membandingkan langsung kawasan terumbu karang dari berbagai wilayah Indonesia dengan metode yang sama.
Penelitian ini menggunakan data dari program pemantauan kesehatan terumbu karang nasional yang dilakukan oleh Research Center for Oceanography, BRIN, sebelumnya LIPI. Data dikumpulkan dari 321 transek di 24 lokasi yang tersebar di empat kawasan besar, yaitu Samudra Hindia, Paparan Sunda, Wallacea, dan Samudra Pasifik. Pengamatan ikan dilakukan langsung di bawah laut menggunakan metode underwater visual census pada kedalaman 5–7 meter.
Ikan yang diamati dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu ikan koralivora, herbivora, dan karnivora. Ikan koralivora berkaitan erat dengan kondisi karang, ikan herbivora berperan mengendalikan pertumbuhan alga, sedangkan ikan karnivora menunjukkan kompleksitas rantai makanan di ekosistem terumbu karang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Samudra Pasifik memiliki keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang tertinggi dibandingkan tiga kawasan lainnya. Namun, ketika dilihat pada tingkat lokasi, Wakatobi dan Biak tampil sebagai dua kawasan paling menonjol. Bahkan, peneliti menyebut keduanya sebagai dua hotspot terpanas ikan karang di Kepulauan Indonesia.
Wakatobi menunjukkan keunggulan khusus pada kelompok ikan karnivora dan koralivora. Dalam studi tersebut, Wakatobi mencatat keanekaragaman ikan karnivora tertinggi dibandingkan lokasi lain. Kelimpahan ikan karnivora di Wakatobi juga lebih tinggi dibandingkan Biak. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang Wakatobi masih memiliki struktur komunitas ikan yang kuat dan kompleks.
Sementara itu, Biak tampil sangat kuat pada kelompok ikan herbivora. Kelompok ikan ini sangat penting bagi kesehatan terumbu karang karena membantu mengontrol alga. Jika alga tumbuh berlebihan, karang dapat tertutup dan ruang hidup karang muda menjadi terbatas. Karena itu, tingginya ikan herbivora di Biak menjadi tanda penting bagi keseimbangan ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut.
Menariknya, Raja Ampat yang selama ini sangat populer sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia berada pada posisi ketiga dalam studi ini. Para penulis menjelaskan bahwa perbandingan ini dilakukan secara setara karena menggunakan metode dan skala pengamatan yang sama. Dengan demikian, Wakatobi, Biak, dan Raja Ampat dapat dibandingkan dalam kerangka ilmiah yang lebih adil.
Selain Wakatobi, Biak, dan Raja Ampat, penelitian ini juga mencatat sepuluh lokasi terbaik untuk keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang. Lokasi tersebut meliputi Sabang, Mentawai, Makassar, Selayar, Buton, Wakatobi, Luwuk, Ternate, Raja Ampat, dan Biak. Tidak ada lokasi dari Paparan Sunda yang masuk dalam daftar sepuluh besar tersebut.
Bagi Wakatobi, temuan ini sangat penting. Selama ini Wakatobi dikenal sebagai destinasi wisata bahari dan kawasan konservasi laut. Namun, hasil penelitian Imam Bachtiar dan kawan-kawan memberi dasar ilmiah yang lebih kuat bahwa Wakatobi bukan hanya indah, tetapi juga memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi.
Posisi Wakatobi di kawasan Wallacea dan dekat dengan bentang laut Sunda-Banda diduga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung tingginya keanekaragaman ikan karang. Wilayah ini berpotensi menjadi tempat pertemuan, akumulasi, dan kelangsungan hidup berbagai jenis ikan karang. Dengan kata lain, Wakatobi adalah salah satu simpul penting dalam jaringan kehidupan laut Indonesia.
Namun, predikat sebagai surga ikan karang juga membawa tanggung jawab besar. Kawasan dengan keanekaragaman tinggi biasanya rentan terhadap tekanan penangkapan, kerusakan habitat, perubahan iklim, dan aktivitas manusia di pesisir. Karena itu, pengelolaan Wakatobi harus terus diperkuat melalui konservasi berbasis data, pengawasan lapangan, dan pelibatan masyarakat lokal.
Temuan ini juga penting bagi pengembangan perikanan berkelanjutan. Ikan karang bukan hanya bagian dari kekayaan alam, tetapi juga menopang ekonomi masyarakat pesisir. Jika terumbu karang rusak, maka sumber daya ikan juga akan menurun. Sebaliknya, jika terumbu karang sehat, masyarakat akan memperoleh manfaat jangka panjang dari perikanan, pariwisata, pendidikan, dan riset kelautan.
Artikel jurnal yang ditulis oleh Imam Bachtiar, Edwin Jefri, Muhammad Abrar, dan Tri Aryono Hadi ini memberi pesan kuat bahwa Wakatobi dan Biak adalah dua kawasan laut yang harus dijaga secara serius. Keduanya bukan sekadar nama besar dalam pariwisata bahari, tetapi juga laboratorium alam yang memperlihatkan betapa kayanya laut Indonesia.
Dengan bukti ilmiah tersebut, Wakatobi layak terus diperkuat sebagai pusat konservasi, riset, dan edukasi kelautan. Menjaga Wakatobi berarti menjaga salah satu rumah terbaik bagi ikan karang Indonesia.[]
