
Sunashadi.com, Lingkungan – Wakatobi tidak hanya dikenal sebagai surga bawah laut. Di balik pesona terumbu karang dan laut birunya, kawasan ini juga menyimpan kekayaan penting lain: hutan mangrove yang berperan besar dalam menjaga iklim, melindungi pesisir, dan menyimpan nilai ekonomi dari karbon biru.
Hal itu tergambar dalam artikel jurnal berjudul Diversity, carbon stock and economic value of the mangrove ecosystem in Wakatobi Biosphere Reserve, Indonesia yang terbit di jurnal Biodiversitas Vol. 26 No. 3 tahun 2025. Penelitian ini mengkaji keragaman jenis mangrove, cadangan karbon, serta nilai ekonomi karbon mangrove di Cagar Biosfer Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lokasi penelitian mencakup empat pulau utama, yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, dengan pengambilan data pada 11 stasiun pengamatan selama Juni–September 2024.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Abdul Manan, dkk. bersama sejumlah peneliti dari Departemen Ilmu Lingkungan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo dan juga melibatkan peneliti BRIN. Luas mangrove yang dianalisis di kawasan Cagar Biosfer Wakatobi mencapai 1.099,40 hektare. Pulau Kaledupa menjadi wilayah dengan luasan mangrove terbesar, yaitu 1.005,09 hektare. Sementara itu, Wangi-Wangi memiliki luas mangrove 55,88 hektare, Tomia 27,18 hektare, dan Binongko 11,25 hektare. Perbedaan luasan ini penting karena besarnya cadangan karbon sangat dipengaruhi oleh luas kawasan mangrove, kerapatan vegetasi, dan ukuran pohon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove Wakatobi bukan sekadar vegetasi pesisir biasa. Ekosistem ini berfungsi seperti “gudang karbon alami”. Melalui batang, akar, daun, dan biomassa lainnya, mangrove mampu menyerap karbon dioksida dari atmosfer lalu menyimpannya dalam jangka panjang. Dalam konteks perubahan iklim, kemampuan ini menjadikan mangrove sebagai salah satu ekosistem penting untuk menahan laju pemanasan global.
Penelitian tersebut menemukan sedikitnya tujuh jenis mangrove di Wakatobi, antara lain Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia alba. Komposisi jenis ini berbeda antar-pulau. Wangi-Wangi memiliki enam spesies dari empat famili, Kaledupa dan Tomia memiliki tujuh spesies, sedangkan Binongko memiliki enam spesies.
Dari sisi keanekaragaman, mangrove Wakatobi masuk kategori sedang. Nilai indeks keanekaragaman secara keseluruhan tercatat 1,25, sedangkan indeks kemerataan mencapai 0,75. Angka ini menunjukkan bahwa komunitas mangrove Wakatobi relatif seimbang, meskipun tetap terdapat beberapa jenis yang lebih dominan dibanding jenis lain. Keseimbangan komposisi jenis ini penting karena ekosistem yang beragam umumnya lebih stabil dan lebih tahan terhadap tekanan lingkungan.
Temuan paling menonjol adalah besarnya cadangan karbon yang tersimpan. Total stok karbon mangrove di kawasan Cagar Biosfer Wakatobi diperkirakan mencapai 329.182,06 ton CO₂e. Pulau Kaledupa menjadi penyumbang terbesar dengan stok karbon sekitar 317.226,51 ton CO₂e. Besarnya stok karbon di Kaledupa berkaitan erat dengan luas mangrovenya yang paling besar dibanding tiga pulau lainnya. Dengan luas lebih dari seribu hektare, mangrove Kaledupa memiliki peran sangat penting sebagai kawasan utama penyimpan karbon biru di Wakatobi.
Sementara itu, Tomia menyimpan stok karbon sekitar 6.145,78 ton CO₂e, Wangi-Wangi sekitar 3.755,97 ton CO₂e, dan Binongko sekitar 2.053,80 ton CO₂e. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa setiap pulau memiliki kontribusi berbeda terhadap penyimpanan karbon, tergantung pada luas mangrove, struktur vegetasi, jenis mangrove, dan kondisi ekologisnya.
Secara ekonomi, nilai karbon mangrove Wakatobi juga sangat besar. Dengan menggunakan acuan harga perdagangan karbon IDX Carbon sebesar Rp57.000 per ton CO₂e, nilai karbon mangrove Wakatobi diperkirakan mencapai Rp18,76 miliar. Jika menggunakan pendekatan Social Cost of Carbon, nilainya melonjak menjadi sekitar Rp266,39 miliar. Sementara berdasarkan harga pasar sukarela atau voluntary market, nilainya mencapai sekitar Rp43,15 miliar.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi nilai ekonomi dari stok karbon yang tersimpan, bukan pendapatan tahunan, bulanan, atau harian. Artinya, nilai miliaran rupiah itu menggambarkan potensi ekonomi karbon yang melekat pada ekosistem mangrove Wakatobi berdasarkan jumlah karbon yang tersimpan dan acuan harga karbon per ton CO₂e.
Temuan ini memperlihatkan bahwa mangrove tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang nyata. Dengan pengelolaan yang tepat, mangrove dapat menjadi aset daerah dalam skema konservasi, perdagangan karbon, penguatan ekonomi masyarakat pesisir, dan pembangunan rendah karbon.
Namun, penelitian ini juga memberi pesan penting: potensi besar tersebut dapat hilang jika ekosistem mangrove terus tertekan oleh eksploitasi, pembangunan pesisir, abrasi, sedimentasi, fragmentasi habitat, dan pencemaran laut. Jika kerusakan tidak dikendalikan, kemampuan mangrove sebagai penyerap karbon dan pusat keanekaragaman hayati akan menurun.
Dengan demikian, perlindungan mangrove Wakatobi bukan hanya urusan lingkungan, tetapi juga strategi pembangunan masa depan. Mangrove menjaga pesisir, menjadi rumah bagi berbagai biota, mendukung perikanan, menyerap karbon, dan menyimpan potensi ekonomi bernilai miliaran rupiah. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap karbon biru, Wakatobi memiliki peluang besar untuk menempatkan mangrovenya sebagai modal ekologis dan ekonomi yang harus dijaga bersama.[]
