Technoscience

Knot Amal

Pada 22 Desember 2021, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) telah menyampaikan potensi terjadinya bibit siklon tropis di Indonesia.

Suspek area potensi yang akan berdampak pada kondisi cuaca dan gelombang signifikan, berada di sekitar perbatasan wilayah laut Timor dan Arafura, atau sekitar perairan selatan Kepulauan Tanimbar (Saumlaki).

Salah satu area yang terdampak adalah wilayah Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi Sulawesi Tenggara. Pada Kamis (24/12/ 2021) terjadi angin ribut disertai hujan lebat pada 06.00 WITA sekitar 1 jam, dengan kecepatan 25 Knot atau setara dengan 46,3 km/jam.

Berdasarkan kelas kecepatan angin (Beaufort), angin kencang yang terjadi di Pulau Wangi-Wangi, masih terkategori sebagai angin ribut, yakni berkisar 45 – 54 km/jam.

Tentu ini masih jauh di bawah badai yang pernah menimpa Pulau Marshall di dekat Filipina pada tahun 1979, berupa badai Topan Tip dengan kecepatan angin 305 km/jam. Kecepatan ini menenggelamkan kapal dan menyebabkan banyak nelayan meninggal dunia.

Badai TopanTip ini disebut sebagai salah satu badai terhebat sepanjang sejarah bumi.

Adapun skala angin menurut Beaufort adalah sebagai berikut:
Skala 0 (0-1 km/jam): angin reda, tiang asap tegak
Skala 1 (2-6 km/jam): angin sepoi-sepoi, tiang asap miring
Skala 2 (7-12 km/jam): angin lemah, daun bergerak
Skala 3 (13-18 km/jam): angin sedang, ranting bergerak
Skala 4 (19-26 km/jam): angin agak keras, dahan bergerak
Skala 5 (27-35 km/jam): angin keras, batang pohon bergerak
Skala 6 (36-44 km/jam): angin sangat keras, batang pohon besar bergerak
Skala 7 (45-54 km/jam): angin ribut, dahan patah
Skala 8 (55-65 km/jam): angin ribut hebat, pohon kecil patah
Skala 9 (66-77 km/jam): angin badai, pohon besar tumbang
Skala 10 (78-90 km/jam): angin badai hebat, rumah roboh
Skala 11 (91-104 km/jam): angin taufan, benda berat berterbangan
Skala 12 (>105 km/jam): angin taufan hebat, benda beterbangan sejauh beberapa km

Skala-skala kecepatan ini, mengingatkan kita pada titian menuju surga, di mana manusia akan menempuhnya dengan skala kecepatan berdasarkan ‘knot’ amalan-amalan mereka di dunia.

Para ulama mengatakan, titian itu amat halus dan amat tajam serta amat licin sekali.

Menurut Al Fudhail bin ‘Iyadh, titian itu panjangnya 16.000 tahun perjalanan, padanya 5.000 pendakian (naik) dan 5.000 lembah (menurun) dan 5.000 tempat yang datar.

Orang-orang yang baik, yang kebajikannya lebih berat dari kejelekannya akan dapat menempuh titian itu dengan selamat dengan berbagai skala kecepatan menurut amal masing-masing.

Ada yang lambat, ada pula yang lebih cepat dari kilat. Mereka lalu berbondong-bondong masuk ke dalam surga.

Sedangkan orang-orang jahat tidak mungkin dapat melalui titian itu. Mereka jatuh tergelincir, akhirnya berbondong-bondong pula masuk ke dalam neraka.

Setidaknya ada sepuluh skala kecepatan saat melalui titian tersebut. Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di titian (shirath) adalah Nabi Muhammad SAW, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya dalam menyeberangi titian tersebut.

Kumpulan pertama melintas laksana kilat yang memancar. Disusul kumpulan kedua yang melintas seperti hembusan angin yang kencang. Kemudian kumpulan ketiga yang melintas seperti penunggang kuda yang baik/tercepat. Berikutnya kumpulan keempat yang melintas bak burung terbang yang cepat. Dan kumpulan yang kelima laksana orang berlari.

Selain itu, ada kumpulan keenam yang melintas dengan berjalan. Disusul kumpulan ketujuh yang melintas berdiri dan duduk karena dahaga dan penat yang terasa. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka.

Kemudian kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai karena terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Kumpulan ini begitu amat bergantungnya pada pertolongan Nabi Muhammad SAW.

Berikutnya kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas titian, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang.

Terkait dengan angin kencang dari bibit siklon tropis ini, Sebagian orang mungkin membuat kesimpulan bahwa, kejadian tersebut, adalah peristiwa biasa yang alamiah. Namun, bagi seorang muslim pasti meyakini bahwa, semua peristiwa di muka bumi ini, tak ada yang kebetulan terjadi, tetapi kesemuanya dalam izin dan pengetahuan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-An’aam: 59,

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Oleh karena itu, jangankan angin kencang yang telah menyebabkan pepohonan bertumbangan, dedaunan dan biji-bijian kering yang jatuh di tengah malam gelap gulita, pasti terjadi atas izin dan pengetahuan Allah SWT.

Maka dari itu, sekecil apapun tanda-tanda alam, termasuk angin kencang yang baru saja terjadi, hendaknya kita dapat mengambil ibrah, bahwasanya sehebat apapun kita manusia, ternyata kita tak memiliki kuasa apapun untuk menghindar dari azab Allah SWT, termasuk kematian, jika tanpa perlindungan dari Allah SWT.

Sesungguhnya di bumi ini terdapat tentara-tentara Allah yang tidak hanya berasal dari golongan malaikat, Nabi dan Rasul serta orang-orang sholeh. Tetapi juga, bala tentara Allah dapat berasal dari berbagai benda di alam raya ini.

Matahari pernah menahan agar tidak terbenam terlebih dahulu untuk membantu salah satu nabi dalam mengalahkan musuh. Dengan demikian, matahari adalah tentara Allah SWT.

Laut, berubah menjadi daratan kering, menyelamatkan Nabi Musa as dan pengikutnya. Laut adalah tentara Allah SWT.

Demikian pula angin, hujan, dan lain sebagainya, sewaktu-waktu dapat menjadi tentara Allah SWT, untuk menjadi penolong manusia ataupun menjadi azab pada manusia, jika manusia berkubang dalam kemaksiatan kepada Allah SWT.

Setiap kemaksiatan, baik besar ataupun kecil, akan menjadikan rusaknya kehidupan kita, hilangnya keberkahan hidup kita, bahkan ketika kemaksiatan itu menjadi tersebar merata, maka dampak kerusakannya juga merata.

Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan manusia dalam haditsnya, terkait 5 jenis bencana yang mengancam kaum muslimin.

Dalam Riwayat Ibnu Majah, Rasulullah Saw, bersabda,

“Lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya: tidaklah kekejian/perzinahan menyebar di suatu kaum, hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka, tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim, tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan, tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.”

Knot Amal Read More »

Kinetika Surgawi

Pernahkah kita membayangkan jika suatu ketika perjalanan wisata berkembang menjadikan perjalanan antar planet sebagai destinasi wisata? Tentu ini akan menjadi peristiwa yang langka, yang mungkin hanya diminati oleh segelintir manusia. Ya, khususnya tentu para astronot.

Sementara itu bos SpaceX, Elon Musk sudah sejak lama mengungkapkan idenya untuk manusia bisa pindah ke Mars. Dengan alasan demi kelangsungan peradaban sebab Matahari disebut akan menelan Bumi dan planet ini akan hancur.

Selain mahal, perjalanan semacam itu membutuhkan nyali yang besar, serta waktu tempuh yang lumayan lama.

Jumlah waktu yang dibutuhkan dari Bumi untuk sampai ke planet lain berbeda-beda pada setiap perjalanan. Itu tergantung pada posisi planet pada satu waktu, karena jarak antara planet dan Bumi terus berubah.

Pada tahun 2008, seorang pebinsis asal kelahiran London, Inggris Richard Branson menguraikan visinya di masa depan, yang dinamai Virgin Galactic. Visi itu merupakan keinginan untuk mengembangkan hotel di luar angkasa.

Perjalanan tersebut disimulasikan akan memakan waktu yang bervariasi tergantung wahana transportasi yang digunakan. Ada misi ke Bulan 1 tahun, jika menggunakan teknologi SMART-1 ESA, ada misi 5 hari menggunakan teknologi antariksa China Chang’e-1, ada misi 36 jam menggunakan wahana teknologi dari Uni Soviet, yakni Luna 1, serta ada misi 8 jam menggunakan wahana antariksa milik NASA, New Horizons.

Kemudian perjalanan ke Mars dari Bumi bisa memakan waktu antara enam dan delapan bulan. Itu sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan astronot untuk mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Lama perjalanan ini berhubungan dengan kesiapan wahana transportasi yang sangat terbatas kecepatannya. Kita tahu saat ini, pendekatan kecepatan cahaya telah menjadi salah satu perbandingan dalam menghasilkan berbagai objek luar angkasa.

Kita tahu, cahaya bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik (300.000 kilometer per detik), sehingga dapat pergi dari Bumi ke Bulan hanya dalam waktu satu detik.

Salah satu objek buatan manusia tercepat saat ini adalah pesawat luar angkasa, dengan menggunakan roket untuk membebaskan diri dari gravitasi bumi, yang membutuhkan kecepatan 25.000 mph (40.000 km/jam).

Adapun pesawat luar angkasa yang dianggap tercepat adalah Parker Solar Probe milik NASA. Telah diluncurkan dari Bumi pada 2018, kemudian menelusuri atmosfer Matahari dan menggunakan gravitasi Matahari untuk mencapai 330.000 mph (535.000 km/jam).

Tentu, itu sangat cepat, namun hanya 0,05% dari kecepatan cahaya. Pertanyaannya: apa yang membuat manusia sulit untuk mencapai 1% dari kecepatan cahaya?

Ternyata jawabannya adalah faktor energi. Bahwasanya semua benda yang bergerak memiliki energi karena gerakannya. Para fisikawan menyebutnya sebagai energi kinetik. Formulanya adalah untuk melaju lebih cepat, maka anda perlu meningkatkan energi kinetik.

Salah satu cara yang diproyeksikan saat ini untuk membuat sesuatu bergerak sangat cepat adalah dengan menggunakan layar surya yang menempel pada pesawat ruang angkasa dan dirancang agar sinar matahari dapat mendorongnya, seperti angin di layar normal.

Dengan pemanfaatan layar surya ini, para ilmuwan memiliki ekspektasi untuk menghasilkan energi kinetik yang dapat mendorong pesawat ruang angkasa hingga 10% dari kecepatan cahaya .

Jika umat manusia masih terbatas pada sebagian kecil dari kecepatan cahaya, maka mimpi berwisata dengan destinasi ke planet-planet dan bintang-bintang sulit bahkan tidak akan terwujud.

Namun, percayakah anda jika perjalanan antar planet dan bintang itu akan enteng dan menjadi tidak mustahil bila anda adalah seorang ahli surga?

Dalam Al-Qur’an, surga digambarkan seluas langit dan bumi (Al-A’raf: 133, Al-Hadid: 21), sehingga dalam hitungan para ahli perbintangan luas surga sekira 13.000.000.000 tahun cahaya.

Dalam suatu riwayat (Imam at-Tirmidzi), “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, Ya Rasulullah, adakah di dalam surga kuda? Rasulullah menjawab: mudah-mudahan Allah memasukkan engkau dalam surga, maka engkau akan mendapat kendaraan berupa kuda yang terbuat dari Yaquut (permata mahal) berwarna merah, engkau dapat terbang dengannya di dalam surga kemana saja engkau kehendaki. Lalu bertanya pula seorang laki-laki lain: Ya Rasulullah, adakah di dalam surga unta? Berkata Rasulullah: mudah-mudahan Allah memasukkan engkau dalam surga, dan di dalamnya engkau akan mendapatkan apa saja yang diinginkan oleh keinginanmu dan apa saja yang disenangi oleh matamu.”

Hadits di atas juga terdapat dalam hadits lainnya yang menyatakan adanya kendaraan dalam surga. Oleh karena bangsa Arab belum mengenal kendaraan lain selain kuda dan unta atau semisalnya, maka Rasulullah menerangkan kendaraan surga dengan sebutan kuda atau unta. Namun dengan spesifikasi yang unik laksana burung, yakni bisa terbang ke destinasi mana saja sesuai keinginan para ahli surga atas izin Allah SWT.

Kendaraan tersebut disebutkan oleh Rasulullah, selain bisa terbang juga terbuat dari desain yang sangat modern, yakni dari permata termahal.

Dalam beberapa hadits lainnya diterangkan bahwa kendaraan yang dimaksud tidak buang air besar dan tidak buang air kecil. Suatu kendaraan yang dapat terbang tanpa bahan bakar seperti yang kita bayangkan saat ini dan tidak memiliki sistem buangan bahan bakar, sehingga kendaraan ini benar-benar ‘zero emission’.

Dengan demikian, pastilah kendaraan surga merupakan pesawat terbang tercanggih yang dijalankan berdasarkan kinetika dari iradah Allah SWT yang tak terbatas, dan diperuntukkan khusus kepada manusia-manusia ahli surga.

Wallahu a’lam.

Kinetika Surgawi Read More »

Kacamata Supraverse

Tentu mencari kacamata dengan spesifikasi atau merek ini “Supraverse”, tidak akan kita temukan di pemilik Ray-Ban Essilor Luxottica. Kenapa? Memang kacamata ini secara fisik belum ada yang produksi, baik lewat perusahaan apalagi perseorangan.

Terus, apa pentingnya ‘kacamata’ supraverse? Ini tentang ‘perspektif’ yang tentu penting bagi siapa saja yang meyakini kehidupan akhirat.

Kacamata ini bukanlah antitesa dari kacamata multiverse, yang saat ini dikembangkan oleh pemilik Facebook, Mark Zuckerberg bekerjasama dengan pemilik Ray-Ban Essilor Luxottica.

Kacamata multiverse bermerek Ray-Ban yang dikembangkan oleh Facebook tersebut merupakan salah satu langkah pertama menciptakan kacamata futuristik yang menambah dunia nyata dengan data atau grafik dari Internet.

Kacamata pintar yang disebut kacamata augmented reality ini, merupakan kacamata virtual di mana pengguna akan dapat ‘berteleportasi’ ke ruang digital menggunakan teknologi AR dan VR.

Tidak hanya Mark Zuckerberg yang kepincut dengan dunia metaverse, founder Microsoft, Bill Gates turut meramalkan bahwa tahun depan akan banyak orang yang mulai melakukan kegiatan kantor melalui metaverse.

Gates melihat bahwa Pandemi COVID-19 telah merevolusi tempat kerja, dengan lebih banyak perusahaan yang menawarkan fleksibilitas bagi karyawan yang ingin bekerja dari jarak jauh (work from home atau work from anywhere).

Dunia metaverse yang diprediksi akan segera terwujud, pertemuan akan berlangsung secara virtual yang dihadiri secara ‘langsung’ oleh karakter pengguna yang berwujud 3D. Pengguna juga bisa saling berinteraksi dengan avatar kolega kerja mereka.

Bahkan dunia metaverse ini, untuk pertama kalinya telah dimanfaatkan jasanya oleh pasangan dari Amerika Serikat, Traci (52) dan Dave Gagnon (60) untuk melangsungkan pernikahan virtual. Upacara pernikahannya pun disiapkan oleh Virbela, perusahaan yang membangun lingkungan virtual untuk bekerja, belajar maupun membuat acara.

Hanya saja, dunia metaverse akan merubah struktur interaksi manusia, bahkan kepribadian manusia.

Manusia dalam kesendirinnya disiapkan fasilitas untuk berselancar bebas secara emosi ‘penuh’ yang menyandera kesadarannya untuk berinteraksi dengan berbagai suasana yang merupakan habitat dan kebiasaannya. Kenapa? Karena mesin Artificial Intelligence (AI) memanjakannya dengan pelayanan sesuai kesukaannya.

Bekerjanya mesin AI tersebut, dampaknya sudah bisa kita bayangkan sejak awal, bahwasanya mesin-mesin kapitalisme yang dimasukan sebagai salah satu karakter dasar dunia metaverse yang dikembangkan saat ini, akan ‘menahan’ manusia, khususnya generasi muda dalam jebakan teknologi mereka.

Efek ‘toksik’ dunia gym akan bertambah konsentransi-nya dalam ‘senyawa’ metaverse ini. Generasi muda muslim kita akan berpotensi kehilangan vitalitasnya sebagai generasi sosial yang berkarakter rabbani. Juga berpotensi akan mengganggu kematangan kepribadian generasi muda kita, jika tangan-tangan kapitalisme menjadi pengendali utamanya.

Oleh karena itu, kita membutuhkan kacamata supraverse, sebuah ‘kacamata’ literasi yang senantiasa menyadarkan manusia akan misi penciptaannya, bahwasanya dunia ini jangan sampai menjadi panggung senda gurau yang melalaikan kita semua akan kehidupan akhirat yang abadi.

Lalu, di mana kacamata supraverse ini bisa dijumpai? kacamata ini adalah perspektif –yang mungkin saja bisa diteknologikan di kemudian hari– menjadi kacamata futuristik yang dapat menjadi piranti dakwah, dan berbagai kompetensi amal sholeh.

Adapun substansi kacamata supraverse ini (sebagai perspektif) bisa diinstal di masjid, majelis-majelis ilmu, dsb.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Kacamata Supraverse Read More »

Ecosystem Restoration

Sumber: www.iucn.org

Sejak 2020, hasil penelitian para ilmuwan menemukan hal yang mengejutkan tentang bumi. Mereka menemukan bahwa bumi mulai berputar lebih cepat, yang mengakibatkan hari-hari menjadi lebih pendek.

Setidaknya, perputaran bumi saat ini lebih cepat dibanding kapan pun dalam 50 tahun terakhir. Menurut catatan selama 50 tahun terakhir, rekor 28 hari tercepat atau terpendek terjadi pada 2020. Ini karena bumi menyelesaikan rotasi di sekitar porosnya lebih cepat sekian milidetik daripada rata-rata.

Sayangnya hingga saat ini, para ilmuwan belum mendapatkan alasan yang meyakinkan terkait mengapa terjadi peningkatan laju rotasi bumi tersebut. Sementara itu, pada tahun 2021 diperkirakan bumi akan berputar lebih cepat dari biasanya.

Hal tersebut membuat waktu seolah terasa lebih singkat, di mana rata-rata hari berlangsung 0,5 detik lebih pendek dari hitungan sempurna 24 jam.

Walaupun demikian, para peneliti meyakini bahwa kondisi ini hanyalah bersifat sementara, yang akan kembali normal di masa-masa mendatang.

Sesungguhnya bagi seorang muslim, sangat meyakini bahwa segala kejadian yang menimpa bumi dan segenap isinya tidak terlepas dari kehendak Allah SWT.

Allah SWT menghubungkan segala kejadian di bumi bersifat sebab akibat. Kerusakan dan kebaikan kehidupan bumi terkait dengan baik buruknya perilaku manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum[30]:41, “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). “

Jika demikian, apakah mungkin memendeknya putaran waktu berhubungan dengan kelalaian manusia? Jawabannya adalah wallahu a’lam bishshowab.

Namun, yang patut direnungkan adalah tentang fakta ka’bah sebagai Pusat Bumi.

Adalah Prof Hussain Kamel (Peneliti dari Mesir) dan Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayid, salah satu anggota Haiah al-I’jaz al-ilmi lil Quran wa as-Sunah (Majelis Keajaiban Ilmiyah Alquran dan sunah) mengemukakan fakta, bahwa Mekkah merupakan pusat bumi.

Fakta tersebut, menurutnya selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syura[42]:7, “Dan demikianlah Kami wahyukan Al-Qur’an kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk Ummul Quro dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (Kiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.”

Kata Ummul Quro pada ayat di atas, yang diartikan sebagai Kota Mekkah, sebagian para penafsir memaknainya relevan dengan makna sebagai Pusat Bumi.

Fakta ini memperkuat pemahaman kita tentang makna thawaf dalam peristiwa haji, yang dilaksanakan setiap tahunnya. Bahwa sesungguhnya gerakan thawaf jamaah haji, mengelilingi ka’bah bukanlah peristiwa biasa. Akan tetapi, gerakan thawaf tersebut, membawa energi yang luar biasa bagi bumi yang kita tempati ini.

Agus Mustofa mengistilahinya dengan sebutan Spiritual Cosmology.

Selain itu lokasi Ka’bah adalah tegak lurus dengan Baitul Makmur, tempat para malaikat melakukan thawaf di langit.

Dengan demikian, berkurangnya manusia yang melaksanakan ibadah haji dan umroh di Mekkah setiap tahunnya, tidak hanya mengurangi pencapaian ibadah haji dan umroh bagi kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi bisa saja berhubungan dengan kondisi bumi kita.

Tercatat bahwa, sejak 2020, ketika Pandemi Corona terjadi di berbagai belahan bumi, termasuk Arab Saudi, maka jumlah jamaah haji di Mekkah mengalami penurunan yang sangat drastis.

Sebelumnya setiap tahun, jumlah jamaah haji di Mekkah bisa mencapai 2,4 juta orang. Namun, dalam ibadah haji tahun 2020, dengan alasan pandemi Covid-19, pemerintah Saudi memutuskan hanya mengizinkan sebanyak 10.000 orang. Itu pun cuma untuk warga negara Saudi dan warga negara lain yang bermukim di Tanah Suci.

Itu berarti terjadi pengurangan sebanyak 99% jamaah haji yang melakukan thawaf. Dan kita meyakini bahwa keadaan demikian ini tidak baik bagi kaum muslimin, bahkan tidak baik untuk seluruh manusia dan planet bumi yang dihuninya.

Ditambah lagi tahun ini, Kementerian Agama Republik Indonesia memutuskan kembali tidak mengirim jamaah pada ibadah haji 2021 tahun ini. Penundaan ini menjadi yang kedua setelah tahun lalu (tahun 2020), pemerintah juga tak mengirim jamaah haji karena pandemi virus corona.

Tanggal 5 Juni 2021, seluruh dunia memperingati hari lingkungan hidup, dengan mengkampanyekan pentingnya pemulihan bumi. Sayangnya, sepanjang bumi ini diatur dengan hukum-hukum yang tidak bersandar pada hukum-hukum Allah SWT, maka bumi ini akan selalu mengalami ketidakkeseimbangan.

Kenapa demikian? Oleh karena bumi ini diciptakan oleh Allah SWT lengkap dengan aturan-aturan-Nya. Namun, karena kesombongan manusia, tergeserlah hukum-hukum Allah SWT dengan membuat dan menerapkan hukum-hukum kreasi manusia sendiri.

Kita ini menganggap bahwa bumi beserta lautannya, gunung-gunungnya, segenap yang kita lihat dan pijak ini, kita menganggapnya hanyalah benda mati dan abai untuk dipertimbangan, itu tentu saja adalah kesalahan besar.

Padahal kesemuanya itu adalah peralatan-peralatan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang dapat menghidupkan sekaligus dapat membinasakan manusia. Kenapa demikian? Karena hakekatnya seluruh benda-benda di bumi ini berzikir kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadits —derajat dha’if, tapi boleh digunakan untuk alasan ‘peringatan’—, dari Imam Ahmad meriwayatkan dalam “Musnad”-nya , dari Umar bin Al-Khathab ra, Rasulullah Saw, bersabda, “Tidak ada satu malam-pun, kecuali di dalamnya lautan mendekat ke bumi tiga kali, meminta ijin kepada Allah untuk membanjiri/menenggelamkan mereka. Maka Allah -Azza wa Jalla- menahannya.

Oleh karena itu, keberlanjutan bumi ini membutuhkan orang-orang shaleh, yang tidak hanya dibutuhkan ibadah dan zikirnya, tetapi pada saat yang sama selaras dengan pikiran dan amalan nyatanya.

Persis seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang ketika ia memimpin, maka seluruh kekuasaannya menghadirkan kemakmuran. Atas kemakmuran dalam kepemimpinannya, sampai-sampai harimau dan kambing dapat bermain bersama.

Hanya dengan indikator sistem seperti inilah, semangat kita untuk melakukan Ecosystem Restoration, sebagaimana Tema hari Lingkungan Hidup Se-Dunia tahun 2021 ini akan dapat diwujudkan.[]

Ecosystem Restoration Read More »

WakatobiAIS dan Tragedi Perairan Batang

Sumber foto: www.liputan6.com

“Kapal nelayan berbobot 30 gross ton milik Hermanto warga Kelirahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang mengalami kecelakaan di perairan utara Batang, dua orang dari 14 orang yang berada di kapal Berkah Abadi berhasil ditemukan selamat, sisanya masih dalam belum ketemu”. Demikian www.liputan6.com membuka pewartaaannya terkait tragedi kecelakaan laut di perairan Batang pada 14 Januari 2021 (https://www.liputan6.com/regional/read/4456742/tragedi-tabrakan-kapal-tengah-malam-12-nelayan-hilang-di-perairan-batang).

Kejadian ini mengingatkan kita pada peristiwa kecelakaan laut pada 2 Januari 2019. Peristiwa tersebut menimpa tiga nelayan Banten yang terlibat kecelakaan laut dengan Kapal Baruna Jaya 1 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sedang melakukan survey (https://pusriskel.litbang.kkp.go.id/index.php/en/home/2169-hikmah-tragedi-baruna-jaya-i-saatnya-wakatobiais-selamatkan-nelayan).

Kita juga masih ingat kejadian yang menimpa Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang 1,5 bulan hanyut terombang-ambing hingga di Perairan Laut Jepang tahun 2018 (https://pusriskel.litbang.kkp.go.id/index.php/en/component/content/article/36-berita/2056-kenapa-aldi-life-of-pi-bisa-hanyut-ke-guam-ini-penjelasannya).

Tragedi seperti ini merupakan peristiwa nelayan hilang yang berulang, dan terkesan mengalami pembiaran. Pembiaran yang dimaksud berhubungan dengan kelambanan para pihak melakukan upaya mitigasi agar kejadian serupa dapat dikurangi kejadian dan resikonya.

Bukankah sejak 2018, KKP melalui Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK BRSDM KP) bermitra dengan Lab Solusi 247 telah memperkenalkan peralatan mitigasi kecelakaan laut untuk nelayan kecil?

Peralatan mitigasi kecelakaan laut untuk nelayan kecil tersebut disebut dengan WakatobiAIS. WakatobiAIS sendiri merupakan akronim dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Automatic Identification System.

Penggunaan alat ini akan membantu keberadaan kapal nelayan kecil akan terbaca pada kapal-kapal berdimensi besar. Sehingga resiko kecelakaan laut bisa dihindari dan/atau dapat diminimalisasi.

Padahal regulasi kita sangat mendukung, baik terkait kewajiban kapal-kapal berdimensi besar maupun akses nelayan kecil untuk mendapatkan teknologi tersebut.

Kapal penumpang dan Kapal barang Non Konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35 (tiga puluh lima Gross Tonnage) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia, serta pada Kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan, serta (3) pada Kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60 (enam puluh Gross Tonnage) wajib dipasang AIS Klas B.

Sedangkan teknologi AIS untuk nelayan kecil dapat diakses melalui kewajiban pemerintah (pusat) dan daerah untuk merealisasikan jaminan keselamatan Nelayan dalam melakukan Penangkapan Ikan sebagaimana amanat Pasal 40 ayat 1 UU 7/2016 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.

Salah satu teknologi yang mendukung keselamatan nelayan kecil tersebut adalah WakatobiAIS.

Lalu, apa kendalanya pengimplementasian WakatobiAIS padahal telah lulus uji sertifikasi di Kementerian Perhubungan? Ya, ditahap hilirisasi membutuhkan political will dari para pengambil kebijakan untuk mendorong pemanfaatannya.

Mengenai informasi WakatobiAIS dapat diakses melalui link ini: https://pusriskel.litbang.kkp.go.id/index.php/en/home/2145-wakatobiais-perangkat-ais-class-b-buatan-indonesia.

WakatobiAIS dan Tragedi Perairan Batang Read More »