Kendaraan listrik, hibrida, dan mesin pembakaran internal memiliki perbedaan signifikan dalam emisi siklus hidup mereka. Berikut ini adalah analisis perbandingan emisi karbon dioksida (CO2e) antara ketiga jenis kendaraan tersebut.
Manufaktur Baterai dan Kendaraan
Kendaraan listrik menghasilkan 5 tCO2e pada tahap manufaktur baterai dan 9 tCO2e pada tahap manufaktur kendaraan. Kendaraan hibrida memiliki emisi 9 tCO2e pada tahap manufaktur baterai dan juga 9 tCO2e pada proses pembuatan kendaraannya. Sedangkan, kendaraan dengan mesin pembakaran internal mencatatkan angka 10 tCO2e hanya pada tahap produksi.
Produksi Bahan Bakar/Elektrisitas
Emisi dari kendaraan listrik mencapai puncaknya di sini dengan 26 tCO2e. Kendaraan hibrida menghasilkan 12 tCO2e. Mesin pembakaran internal memiliki emisi sebesar 13 tCO2e.
Pemeliharaan
Semua jenis kendaraan memiliki emisi yang sangat rendah pada tahap pemeliharaan.
Total Emisi Siklus Hidup
Kendraaan listrik memiliki total emisi terendah yaitu sebesar 41t CO2e. Hibrida mencatatkan total emisi sebesar 48t CO2e. Sementra itu, mesin pembakaran internal memiliki total tertinggi yaitu sebesar 56t CO2e.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam jangka panjang, kendala utama penggunaannya adalah tingginya emsi yang dihasilkan saat produksi bahan bakar/elektrisitas. Namun, jika dilihat dari total emisi siklus hidup, kendaraan listrik memiliki emisi terendah dibandingkan dengan kendaraan hibrida dan mesin pembakaran internal.
Kobalt adalah elemen penting yang digunakan dalam berbagai teknologi, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga perangkat portabel seperti smartphone dan laptop. Permintaan terhadap logam ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030.
Pada tahun 2022, Indonesia menjadi produsen kobalt terbesar kedua di dunia dengan produksi sebesar 9.454 ton, mengungguli Australia dan Filipina. Sektor kendaraan listrik (EV) sendiri menyumbang sekitar 40% dari total pasar kobalt.
Namun, produksi kobalt tidak lepas dari tantangan. Di Republik Demokratik Kongo (DRC), produsen kobalt terbesar di dunia dengan produksi 145kt, sebagian besar kobaltnya ditambang oleh pekerja anak. Hal ini menimbulkan masalah etis yang serius.
Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas produksinya dan mendominasi pasar global jika dapat mengatasi tantangan lingkungan dan sosial yang mungkin muncul. Dengan peningkatan permintaan dan tantangan etis yang dihadapi oleh produsen terbesar saat ini, peluang bagi Indonesia untuk memimpin pasar kobalt global semakin terbuka.
Mineral kritis memiliki peran penting dalam keamanan dan perkembangan teknologi suatu negara. Gambar ini menunjukkan distribusi mineral kritis yang dimiliki oleh China, Uni Eropa (EU), dan Amerika Serikat (AS).
China
China mendominasi dalam pengolahan mineral dengan mengendalikan 100% produksi beberapa mineral dunia. Negara ini juga memiliki lebih dari 50% cadangan mineral grafis, hampir 60% litium, dan sekitar 40% tembaga. Beberapa mineral kritis yang dimiliki oleh China antara lain Emas (Au), Besi (Fe), dan Aluminium (Al).
Uni Eropa (EU)
Uni Eropa sangat bergantung pada impor bahan baku mineral karena memiliki sedikit cadangan domestik. Namun, EU adalah importir besar batu bara kokas yang digunakan dalam produksi baja. Beberapa mineral kritis yang dimiliki oleh EU antara lain Emas (Au), Fosfor (P), dan Antimon (Sb).
Amerika Serikat (AS)
Amerika Serikat memiliki berbagai jenis mineral tetapi terus menghadapi tantangan dalam memastikan keamanan pasokannya. Beberapa mineral kritis yang dimiliki oleh AS antara lain Emas (Au), Uranium (U), dan Aluminium (Al).
Pemerintah masing-masing negara merumuskan daftar mineral kritis sesuai dengan kebutuhan industri mereka dan evaluasi strategis terhadap risiko pasokan. Dengan memahami distribusi dan kebutuhan mineral kritis ini, setiap negara dapat merencanakan strategi mereka dalam menghadapi tantangan keamanan dan perkembangan teknologi di masa depan.
Alhamdulillah. Setelah melewati waktu prediksi gempa a la Frank Hoogerbeets, banyak orang bisa bernapas lega. Tidak hanya alasan karena gempa yang dimaksud pada 3 – 6 Maret tidak terjadi, tetapi di atas itu semua menjadikan kita semakin paham bahwa sebagai makhluk, kita tak boleh gegabah dengan apapun kemampuan kita.
Tetapi ini tidak berarti bahwa ancaman gempa yang dimaksud Hoogerbeets benar-benar tidak ada.
Ketika Hoogerbeets memprediksi gempa Turki melalui tweet-nya (3/2/2023), nampak bahwa ia masih menarasikannya secara spekulatif,
“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”
Namun, ketika ia memprediksi gempa meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan Indonesia pada 3 – 6 Maret 2023, ia nampak di atas angin lalu mengambil diksi “signifikan terjadi” daripada menggunakan diksi “berpotensi terjadi”. Walaupun dalam pemberitaan media lainnya tertulis bahwa prediksi tersebut ditambahkan dengan narasi “gempa pada wilayah tersebut dapat terjadi sepanjang Maret”.
Poin pembelajaran dari kasus ini pada para ilmuwan adalah agar senantiasa menundukkan ilmunya di bawah Kemahakuasaan Allah SWT.
Terlepas dari itu semua, Hoogerbeets dalam perspektif ilmu pengetahuan telah memperkenalkan secara terbuka suatu metodologi yang sangat mungkin dapat membantu umat manusia memprediksi gempa yang dapat dimanfaatkan untuk meminimasi dampak gempa bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di masa mendatang.
Hoogerbeets telah meyakini bahwa secara metodologis, prediksi terhadap peristiwa seismik dapat dilakukan dengan memanfaatkan data pergerakan tata surya.
Sebetulnya Hoogerbeets bukanlah orang pertama yang memanfaatkan dan mempublikasikan data astronomis dalam memprediksi kejadian gempa. Penjelasan ilmiah terkait ini dapat ditemukan pada publikasi Salih M Awadh, akademisi Irak yang menyatakan bahwa efek gravitasi planet-planet dapat memengaruhi lempeng tektonik bumi.
Awadh telah menambahkan argumen dengan baik pada gagasan Hoogerbeets dalam menjelaskan keterkaitan peristiwa astronomis terhadap kasus seismik. Gagasan mereka tidak hanya berisi keterangan yang baik dalam perkembangan sains modern semata, tetapi juga secara tidak langsung menghindarkan kita dari ‘sains palsu’ astrologi, yang mempelajari posisi, gerakan, dan benda langit lalu meramalkan peristiwa di bumi tanpa menyertakan dalil sains.
Awadh dikenal sebagai ahli yang mengemukakan makalah yang lebih tua yang menjelaskan hubungan antara astronomi dan seismologi. Pada Maret 2021 makalahnya yang berjudul “Solar System Planetary Alignment Triggers Tides and Earthquakes” diterbitkan dalam “Journal of Coastal Conservation”. Ia menjelaskan bagaimana pasang surut dan gempa bumi dipengaruhi oleh posisi planet di tata surya.
Pengaruh tersebut dalam hipotesisnya disebutnya sebagai pengaruh posisi planet di bumi menyebabkan adanya daya tarik planet yang mengubah kecepatan rotasi bumi, sehingga lempeng tektonik bumi bergerak dan memicu gempa bumi.
Awadh adalah orang pertama di dunia yang menggunakan data astronomi untuk memprediksi gempa. Ia pernah memprediksi gempa pada Lempeng Eurasion bermagnitudo 5 pada 11 Februari 2021. Gempa yang dimaksud benar-benar terjadi.
Awadh dan Hoogerbeets merupakan ilmuwan yang menggunakan metodologi baru yang bertentangan dengan hukum lama dan teori dominan. Metode yang mereka gunakan bahkan diabaikan oleh banyak lembaga ilmiah, termasuk Survei Geologi AS. Padahal para ilmuwan telah mendeteksi sekitar 20.000 kejadian gempa bumi setiap tahunnya di seluruh dunia (sekitar 55 kali sehari), yang sangat memungkinkan untuk membangun algoritma prediksi gempa.
Untuk menjadi metodologi standar yang dapat diaplikasikan secara luas di dunia, metodologi prediksi gempa Awadh memerlukan validasi.
Melalui metode ini dapat dibangun dan dikembangkan suatu ‘Sistem Peringatan Dini Global untuk Prediksi Kemungkinan Gempa Bumi’. Untuk pengembangannya dibutuhkan pengukuran konstan di setiap area, model komputer yang sangat besar, para ahli yang berspesialisasi dalam software dan bahasa pemrograman, serta ahli astronomi. Ini tentu memerlukan dukungan dana yang sangat besar dari lembaga penelitian global.
Kita tentu masih ingat bagaimana dahsyatnya gempat Turki pada 6 Februari yang lalu, dengan magnitudo 7,8 tercatat telah menewaskan sekitar 50.000 orang.
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa gempa merupakan peristiwa yang tidak linear, karena tidak bisa diprediksi secara akurat, andaipun menggunakan kalkulasi machine learning dari big data yang ada. Beda halnya dengan forecasting data cuaca pada umumnya: curah hujan, suhu, angin, dan sebagainya, yang cenderung akurat dalam pembuatan prediksinya.
Tetapi tidak untuk Frank Hoogerbeets, seorang seismolog asal Belanda. Dia mengklaim pada 3 Februari 2023 telah menulis pada kolom twitternya,
“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”
Hoogerbeets dikenal bekerja untuk Survei Geometri Tata Surya. Ground Report melaporkan bahwa Frank Hoogerbeets adalah ahli geologi yang bekerja untuk Survey of Geometry of the Solar System (SSGEOS). SSGEOS adalah lembaga penelitian yang memantau geometri benda langit dalam kaitannya dengan aktivitas seismik.
Setelah ia viral dengan tweet-nya yang pertama, saat ini ia kembali membuat heboh dengan ketertarikannya memprediksi gempa berikutnya. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memprediksi secara spasio temporal melampaui kemampuannya pada tweet sebelumnya, serta melampaui ‘kepintaran’ ahli terkait yang ada sebelumnya.
Teknologi seismometer terkini pun hanya mampu mendeteksi waktu, posisi, kekuatan gempa, dan potensi tsunami ketika peristiwa gempa benar-benar telah terjadi.
Prediksi spasio temporal yang dimaksud adalah ia menyatakan di mana spektrum lokasi gempa dan kisaran waktu terjadinya gempa berikutnya. Pernyataannya ini mendahului semua lembaga-lembaga otoritas yang berhubungan dengan seismologi di seluruh dunia.
Adapun spektrum lokasi yang diprediksi menjadi lokasi gempa berikutnya meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan juga menandai Sulawesi, Halmahera, bahkan mungkin Laut Banda, Indonesia.
Sementara waktunya diprediksi akan terjadi pada bulan Maret ini, meurutnya signifikan untuk tanggal 3 – 6 Maret. Frank meminta masyarakat untuk waspada dengan prediksi yang ia sampaikan.
Hoogerbeets tidak hanya memprediksi spasio temporal gempa, tetapi juga memprediksi magnitudo-nya yang diprediksi dapat mencapai lebih dari 8 SR.
Menurut kelas bencana gempa bumi, skala 4.0-4.9 Richter berefek dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu mencolok. Skala 6.0-6.9 Richter berefek dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km, dan skala 7.0-7.9 berefek dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas. Banyak kejadian gempa besar dunia berkisar pada skala 7-7.9 Richter, dapat menewaskan ± 100.000-an jiwa (termasuk Gempa Turki kemarin).
Pertanyaannya: lalu apa sikap kita?
Sebagai masyarakat sains tentu kita memerlukan penjelasan ilmiah terkait metode yang digunakan oleh Hoogerbeets sehingga bisa divalidasi sebagai metode yang layak untuk diaplikasikan dalam dunia seismologi. Jika layak secara metodologi, tentu kontribusinya luar biasa dalam bidang ilmu yang dimaksud.
Kenapa ini penting? Agar keilmuannya bisa diverifikasi sebagai basis sains yang relevan dan tidak didasarkan pada astrologi belaka. Tidak sedikit para peramal masa depan (futurist) yang menggunakan mitologi dalam membangun kerangka prediksinya, sebutlah Vanga Baba yang dikenal dengan sebutan Nostradamus dari Balkan.
Ia beberapa kali sukses melakukan ramalan, tetapi gagal memperkirakan jadwal kematiannya sendiri serta prediksi tentang keruntuhan Amerika Serikat sejauh ini belum terbukti.
Sebagai masyarakat beragama, khususnya muslim tentu meyakini dengan sepenuhnya bahwa segenap kejadian yang telah, sedang, dan akan terjadi dari yang mikroskopis hingga yang makrokosmos tidak ada yang luput dari kehendak Allah SWT. Maka sikap yang pantas adalah bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
Jika dikumpulkan semua analisis terkait penyebab terjadinya gempa, maka akan bermuara pada tiga aspek hipotetik, yakni: azab dari Allah SWT, ujian dari Allah SWT dan Sunnatullah (gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi). Namun tiga aspek hipotetik tersebut, semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.
Oleh karena aspek kausalitas gempa tidak berada dalam kendali manusia maka upaya yang pantas adalah meminta pertolongan dan perlindungan penuh kepada Sang Causa Prima, yakni Allah SWT.
Seorang muslim penting untuk mengambil pelajaran pada kisah-kisah gempa pada masa Rasulullah SAW. Dalam riwayat hadits , setidaknya tercatat dua kali gempa. Pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,
“Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”
Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata,
“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”
Pelajaran besar dalam dua riwayat di atas, bahwa pentingnya keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat sebagai penangkal bencana.
Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan gunung, beliau berkata kepada para shahabat,
“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”
Pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab pernah terjadi gempa, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi,
“Ada apa denganmu?”
Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,
“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”
Pada kisah Khalifah Umar bin Khaththab di atas nampak bahwa penangkal bencana adalah keberadaan penguasa yan memimpin dengan hukum-hukum Allah SWT, yang dengan kekuasaan itu meniadakan kemaksiatan.
Mari kita mengambil hikmah dari prediksi gempa oleh Hoogerbeets, yang telah membuat panik sebagian kita. Tidak penting untuk harus berada pada kubu yang percaya atau tidak, tetapi yang lebih utama adalah berada pada kubu yang bersegera pada ampunan Allah SWT.
Bukankah bumi ini ciptaan-Nya, sehingga yang pantas bagi kita adalah mempertanyakan sejauh mana kita telah mengimplementasikan visi penciptaan kita, yakni sebagai Abdillah dan sebagai Khalifatu fil ardh.
Sebagai Abdillah sudahkah kita menjadi hamba Allah yang harus meng-ibadahi-Nya tanpa mencampurnya dengan kesyirikan? Sebagai Khalifatu fil ardh sudah kita menjadi pemakmur bumi sesuai dengan syariat-Nya?
Gempa Hoogerbeets yang terhitung per 3 Maret 2023, ini secara tidak langsung membawa memori kita pada peristiwa 3 Maret 1924, saat di mana runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniah, sebuah Institusi yang melanjutkan penerapan Islam Kaaffah sejak era kenabian Muhammad Saw, Khulafaurrasyidin, dan para Khalifah setelahnya.
Sejak sore, 25 Juni 2022 warga Waha Raya (sebutan untuk wilayah pemekaran Desa Waha: Sombu, Wapia-pia, Waha, dan Koroe Onowa) dihebohkan oleh kabar perjumpaan warga dengan buaya di area perairan laut setempat. Setidaknya ada 2 orang warga yang menyatakan melihat langsung, dan 1 orang warga terindikasi melihatnya secara sepintas.
Saya tidak sempat mendapatkan informasi dari 2 warga yang kabarnya melihat langsung. Satu di antaranya saya sudah ajak untuk berkabar melalui whatsapp (inisial AJR), namun hingga artikel ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan respon. Hanya saja, ia telah mengabarkan kejadian yang dijumpainya secara terbuka melalui akun facebooknya, lalu diedarkan oleh banyak akun whatsapp melalui pesan screenshoot.
Satu warga yang terindikasi melihatnya (Inisial ASR), menceritakan jika beberapa waktu menjelang matahari terbenam, ia melihat ada obyek yang disangkanya merupakan batang pohon yang lumayan besar. Berhubung waktu tak lama lagi akan masuk waktu Magrib, ia memutuskan untuk mengambilnya. Ketika ia mendekat, tiba-tiba obyek tersebut bergerak membenamkan diri ke dalam laut. Ia kaget bukan kepalang, ia segera pulang dan mendayung sampan secepat-cepatnya, karena ketakutan.
Peristiwa ini terjadi dalam durasi waktu yang hampir bersamaan. Pertama dikabarkan terlihat di Watutowengka Desa Wapia-pia, area tebing pantai yang berdekatan dengan perairan Sombu Dive dan Jokowi Point, suatu area perairan yang menjadi ikon utama untuk diving di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Kedua dikabarkan terlihat di area perairan Ou Ntooge Desa Waha (Inisial LPD). Keduanya menyaksikan ketika sedang beraktivitas memanah ikan.
Apakah ini patut dipercaya: ada buaya di Perairan Wangi-Wangi, khususnya Perairan Waha Raya?
Sejauh pengamatan saya, sebagian warga yang saya konfirmasi cenderung percaya. Para pemberi kabar adalah orang-orang yang cukup dipercaya di tempatnya masing-masing. Dan secara terpisah memberikan kesaksian yang serupa. Apakah spesies buaya yang dijumpai tersebut adalah individu yang berbeda ataukah sama? Ini juga belum terjawab.
Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah. Bisa jadi karena bertepatan dengan hari libur, ataukah tidak ada pihak yang melaporkan secara resmi, dan ataukah peristiwanya terjadi secara spontan dan posisi obyeknya tak terpantau lagi.
Tentu ini perlu kepastian, sehingga selayaknya pihak yang berwenang dapat mengambil inisiatif untuk mengendalikan informasinya, sebelum digiring, ditekel, dan disundul ke sana ke mari oleh opini.
Seberapa pentingkah opini tentang buaya di laut Wakatobi ini untuk direspon?
Sederhananya saja, sejak informasi ini tersebar, di perairan Waha Raya, tak ditemukan ada warga yang berani berenang: dari anak-anak hingga dewasa. Tentu pola serupa akan sama pada para penghobi diving, snorkeling, atau penikmat wisata air laut lainnya. Padahal kekuatan wisata di Wakatobi adalah perairan lautnya. Bahkan muncul seruan (liar) lokal agar aktivitas ‘panah-panah ikan’ dihentikan untuk sementara waktu. Jika ini terjadi, tentu akan ada dampak pendapatan dan suplai pangan, minimal pada skala desa.
Opini ‘liar’ buaya ini seyogyanya perlu ditanggapi. Ini dapat memengaruhi citra wisata laut Wakatobi, terlebih lagi bersinggungan dengan keselamatan jiwa warga. Buaya di laut itu bukanlah obyek estetika, tetapi ia adalah predator. Sehingga perairan Wakatobi harus dipastikan ‘zero buaya’.
Terlepas dari keberadaan buaya ini perlu pembuktian secara resmi atau scientific dalam sudut pandang pemerintah atau tidak, tetapi keberadaannya dalam perspektif sosial, sudah dianggap terbukti. Perjumpaan di Waha ini bukan kasus yang pertama di Wakatobi, sejumlah warga sudah mengafirmasi, jika di beberapa tempat pernah ditemukan: di Tomia, infonya dengan panjang sekitar 2,5-3 m terperangkap dalam jaring warga, di Kapota juga tahun lalu ada warga yang menyaksikan pada saat menyuluh.
Pertanyaan berikutnya: jika benar buaya ada di Wakatobi, apakah ia spesies lokal atau introduksi?
Berdasarkan data historis yang tersimpan dalam ‘arsip’ memori warga, termasuk data hasil survey para pemangku kepentingan sumber daya fauna di Wakatobi, dapat disimpulkan bahwa buaya bukan spesies lokal (native species atau indigenous species.). Beberapa habitat yang relevan dengan kehidupan buaya di Wakatobi, secara jangka panjang tidak pernah ditemukan buaya, misalnya pada ekosistem mangrove di Kaledupa, dsb.
Oleh karena buaya bukan spesies lokal, maka sudah pasti kemungkinannya adalah spesies introduksi. Lalu dari mana ia berasal?
Untuk mengidentifikasi sumbernya, disayangkan tidak ada satupun data dokumentasi terkait spesies buaya yang dijumpai ini. Faktor (dokumentasi) inilah yang membuat sampai saat ini, keberadaan buaya yang dijumpai warga tersebut dianggap kurang meyakinkan bagi sebagian warga.
Spesies tersebut disebut juga buaya air asin sama dengan yang pernah ditemukan di pulau Pasifik Selatan. Apatah lagi beberapa hari ini, terjadi hujan deras berhari-hari, tentu akan menurunkan kadar salinitas air laut yang dapat saja mendukung interaksi buaya dengan air laut, seumpama ketika berada di sungai dan muara.
Pertanyaannya: apa penyebab spesies ini meninggalkan habitatnya?
Reptil ini dikenal merupakan pemangsa yang memiliki selera makan yang besar dan kuat. Ketika melakukan migrasi, mereka melakukannya secara kolektif. Apakah mungkin habitat buaya di sungai-sungai dan muara di bagian Selatan Pulau Buton telah mengalami gangguan? Tersebar informasi jika di beberapa tempat di sana terjadi eksploitasi yang terindikasi memengaruhi habitat dan kenyamanan buaya. Sejumlah video beredar di grup-grup whatsapp yang memperlihatkan aktivitas warga melakukan penangkapan buaya. Dalam keterangan video tersebut, tertulis: Malaoge Lasalimu Selatan.
Dengan demikian, eksistensi pariwisata laut Wakatobi akan dipengaruhi oleh ekosistem wilayah di sekitarnya. Tidak bisa otonom. Dibutuhkan kepastian membaiknya ekosistem sungai dan muara di wilayah-wilayah di sekitarnya, misalnya Kabupaten-Kabupaten yang berada di bagian Selatan Pulau Buton. Sehingga buaya yang ada di wilayah tersebut dapat tinggal secara alami di sana, tak perlu melakukan migrasi.
Salah satu informasi yang dapat dijadikan contoh adalah inisiatif dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lingga yang mempertimbangkan perlunya tempat penampungan buaya, sehingga tidak mengganggu aktivitas warga (https://soj.umrah.ac.id/index.php/SOJFISIP/article/view/629/545).
Kebutuhan akan pengendalian buaya di wilayah-wilayah bagian Selatan Pulau Buton semakin penting, semisal penangkaran, sehingga buaya yang berkeliaran segera dapat teratasi agar tidak mengganggu warga dan aktivitasnya. Yang tak kalah penting adalah kebutuhan kita akan manajemen pembangunan yang berkualitas dari pemerintah terkait, yang mampu mengendalikan aspirasi-aspirasi kemajuan fisik daerah tanpa merusak tata lingkungan ekosistem kita. Wallahualam bissawab.
-In Memoriam Bu Oce Astuti, Ahli Budidaya Perairan Asal Wakatobi-
Seakan tak percaya mendengar kabar kepergiannya. Saat saya sedang mengikuti salah satu acara sosialisasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) via daring, tiba-tiba pesan beruntun di beberapa grup WhatsApp mengabarkan duka cita kepergian beliau, Oce Astuti, S.Pi., M.Si. Saat ini beliau masih tercatat sebagai Wakil Dekan Bidang Umum, Perencanaan dan Keuangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-FPIK Universitas Halu Oleo (UHO) (https://www.uho.ac.id/fakultas/fpik/profil-2/struktur-organisasi/senat/).
Bu Oce Astuti (kerudung merah, berdiri), 2017 di LPTK
Saya kaget mendapatkan kabar duka ini, tak terbayang jika beliau memiliki penyakit berat, ditambah lagi bawaan beliau selalu terkesan ceria. Tapi, begitulah hidup, hari esok adalah ghaib, kita tak bisa menebak apapun dengan pasti.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang lincah, ceria, dan sederhana. Beberapa kali tim kami (dari LPTK) difasilitasi untuk berdiskusi dengan Dr. La Sara, M.Sc (Dekan FPIK UHO), ketika mengkonsultasikan kerjasama riset dan perekayasaan.
Beliau lahir di Kaledupa, salah satu pulau utama di Kabupaten Wakatobi pada 15 Mei 1976. Di kampus FPIK UHO, beliau mengampu mata kuliah: Dasar-Dasar Akuakultur, Pengembangan Industri Akuakultur, Manajemen Akuakultur Tawar, Manajemen Akuakultur Payau, dan Manajemen Tata Lingkungan Akuakultur. Pada 2016, beliau meraih Dosen Berprestasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, melalui SK Rektor UHO No:1090/UN.29/SK/KP/2016 (https://www.uho.ac.id/fakultas/fpik/wp-content/uploads/sites/2/2016/01/CV-Oce-Astuti-Copy.docx).
Saya mengenalnya sepintas di Bogor sejak tahun 2005, saat beliau kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) mengambil Program Magister. Setelah 11 tahun kemudian, tepatnya tahun 2016, saya dan teman-teman di Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK), Wakatobi intens berinteraksi dengan beliau. Beliau melakukan technical assistance pada kegiatan kami, khususnya Rancang Bangun Teknologi Konservasi/Restorasi Sumber Daya Laut pada spesises bambu laut (Isis hippuris sp).
Bu Oce, 2018 (Kerudung hijau, kanan)
Saat itu, saya menyaksikan langsung kepiawaian beliau merakit wahana riset skala laboratorium dari berbagai peralatan yang disiapkan LPTK yang tidak benar-benar bisa dipasang secara otomatis. Beliau juga yang membuatkan desain (lay out), sehingga nampak lebih sederhana. Bersama rekan beliau (Bu Rahmadani) dan asisten beliau (Bung Fajar), akhirnya wahana riset akuarial skala mini untuk bambu laut dapat dioperasikan.
Seiring dengan perubahan anggaran riset di LPTK pada tahun 2017 yang mengharuskan penyesuaian beberapa kegiatan perekayasaan di LPTK, kami mengintegrasikan beberapa kegiatan riset yang serumpun, hingga lahirnya kegiatan dengan skema terpadu: ex-situ dan in situ untuk desain teknologi budidaya bambu laut.
Pada skala ex-situ, LPTK menyiapkan aquarium yang untuk penumbuhan bambu laut. Hasil perlakuan ex-situ ditindaklanjuti dengan kegiatan in-situ di salah satu area perairan di Pulau Wangi-Wangi. Pada kegiatan ex-situ inilah, beliau banyak memberikan masukan, sejak pemasangan peralatan aquarium hingga desain substrat. Beberapa tenaga teknis LPTK mendapatkan transfer keterampilan beliau, khususnya teknis perakitan dan maintenance akuarium.
Pengembangan skema kegiatan integrasi ex-situ dan in-situ tersebut pada tahun 2018 yang dilakukan LPTK menghasilkan ‘branding’ Wakatobi Sea Bamboo, yang merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo.
Beliau juga berkesempatan memberikan masukan pada inovasi wahana kegiatan riset LPTK yang disebut dengan Combbity Garden, Community Based Biodiversity Garden.
Seingat saya, pada tahun 2020, saya sempat berdiskusi by phone dengan beliau terkait teknologi untuk budidaya anemon laut, sayangnya belum sempat tertindaklanjuti.
Kini beliau telah pergi dalam usia 46 tahun, terbilang masih dalam usia muda (lahir: 15 Mei 1976, Wafat: 21 Juni 2022). Masih dalam usia produktif, yang harusnya masih memungkinkan beliau mendapatkan berbagai prestasi. Tapi itulah ketentuan Allah SWT, yang kita harus tunduk atasnya.
Akhirnya, inilah perjalanan hidup. Beliau, kita, dan siapa saja tidak akan pernah tahu bagaimana bumi ini berkisah tentang kita. Yang pasti hari esok akan memaksa kita menjadi kisah. Akan ada manusia yang dikisahkan dengan baik bersama karya-karya mereka, dan tentu juga ada yang sebaliknya.
Semoga kita bisa mengambil ibrah atas kepergiannya. Sebaik-baik ibrah adalah yang bisa mengantar kita mendapatkan kebaikan atas ilmu dan karya kita untuk menghadap Allah SWT.
Ya Allah ampunilah segenap alpa dan khilafnya, jadikanlah ilmu & karyanya menjadi amal jariah yang tak terputus. Ya Allah berikanlah kekuatan, kesabaran dan keikhlasan pada keluarga yang ditinggalkannya. Serta masukanlah beliau dalam golongan hamba-hamba-Mu yang mendapatkan pengampunan-Mu Ya Allah. Allahumma Aamiin…
Bersama Dekan FIKP Universitas Hasanuddin, Safruddin, S.Pi., MP.,Ph.D
—Saya memulai tulisan ini dengan menyampaikan disclaimer lebih awal: artikel ini tentu tak seheboh judulnya.—
Sebuah kebanggaan mendapatkan kesempatan akademik dari Pak Safruddin (Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin) terkait topik oseanografi perikanan.
Salah satu penjelasan yang cukup menggelitik pada kesempatan tersebut adalah ketika beliau menjelaskan tentang migrasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di beberapa tempat, khususnya di Negara Jepang. Diskusi berlanjut hingga membahas secara singkat mukjizat Nabi Sulaiman as.
Saya mendapatkan beberapa insight dari penjelasannya: perikanan merupakan dunia yang kompleks, bahkan jauh lebih kompleks dari pekerjaan seorang dokter (pada satu sisi). Seorang dokter mendiagnosa penyakit seseorang dengan cara mendapatkan penjelasan langsung dari pasiennya mengenai berbagai keluhannya.
Begitupun pula pada dunia peternakan, seorang dokter hewan bisa mendapatkan petunjuk tentang penyakit ternaknya dari penampakan visual secara spontan, tanpa perlu menyelam atau menggunakan interprestasi instrumen tertentu secara kompleks sebagai pendekatan sebagaimana pada dunia perikanan.
Dunia perikanan tak bisa dipungkiri telah menunjukkan kemajuan yang demikian pesat, namun demikian, dengan beragamnya organisme laut (spesies ikan khususnya), nampak bahwa respon ikan terhadap lingkungan perairan laut tak bisa digeneralisasi. Masing-masing spesies memiliki karakter habitat yang berbeda-beda.
Ilmu penginderaaan jauh telah ramai digunakan untuk membaca karakter masing-masing ikan, khususnya melalui data sea surface temperature (SST), sea surface chlorophyll (SSC), sea surface height anomaly (SSHA), eddy kinetic energy (EKE), dan sebagainya.
Sayangnya riset terkait faktor-faktor dan parameter oseanografi masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia. Baik karena persoalan klasik ‘pendanaan’, juga karena skema riset yang manajemennya lemah dan tidak berkesinambungan, sehingga sulit untuk menyuplai kebijakan. Belum lagi kebijakan yang dihasilkan oleh para decision maker masih menafikan karya intelektual sebagai basis kebijakan politik.
Kompleksitas oseanografi perikanan tentu menjadi salah satu faktor pembatas dalam mengupayakan keseimbangan produktif antara relasi dunia industri dan stok sumberdaya perikanan. Andai saja kecakapan Nabi Sulaiman as dapat ditransfer dalam era kekinian, tentu kesulitan yang begitu rupa akan dapat dikontruksi langkah-langkah solusinya.
Nabi Sulaiman as dalam berbagai kitab agama samawi dinarasikan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh makhluk dalam semesta ini mewarisi kecakapan ayahnya, yang juga seorang nabiullah, Nabi Daud as.
Mungkin ini terkesan konyol dalam membincangkannya dalam konteks kekinian, namun ini dapat membantu kita mengimajinasikan solusi atas kondisi sumberdaya kita, yang tengah mendapatkan tekanan yang luar biasa.
Biota ikan sebagai makhluk bertulang belakang memiliki syaraf-syaraf yang dapat merasakan stres dan kesakitan sehingga mereka berupaya migrasi ke lokasi sesuai karakteristik faktor-faktor kondisinya yang relevan.
Saat ini mereka migrasi tak bisa lagi diprediksi berdasarkan musim, bukan lagi migrasi dalam siklus alamiahnya. Siklus musim telah berubah ekstrim setelah keserakahan manusia dengan ‘mesin industrialisasinya’ mempercepat terjadinya perubahan iklim.
Jika saja mereka mengadukan keadaannya (dalam imajinasi kita seumpama kepada Nabi Sulaiman as) sepertinya ikan-ikan tersebut akan meminta perlindungan agar kuasa ‘kekhalifahan’ manusia atas dunia ini ditinjau ulang, karena manusia telah semena-mena kepada alam semesta, sampai-sampai tak ada keadaan yang stabil bagi alam ini untuk mendaur ulang kesiapannya melayani manusia.
Dailymail menyebutkan bahwa setiap tahun, sekitar 300 bencana alam membunuh sekitar 90.000 manusia dan mempengaruhi 160 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya kualitas penanganan terhadap dampak bencana masih sangat rendah. Realitas ini telah mendorong para ilmuwan untuk membuat teknologi robotika berorientasi layanan bencana.
Salah satu negara yang memiliki minat yang tinggi untuk menjadi negara unggul di bidang robotika adalah Italia. Tim Istituto Italiano Tecnologia (IIT) telah mengerjakan robotika spesifikasi ini selama kurang lebih 15 tahun.
Tim ini tengah membuat sebuah robot yang mirip seperti tokoh superhero Marvel, Iron Man. Robot ini dirancang guna membantu manusia ketika terjadi bencana alam seperti membersihkan puing-puing serta menggunakannya ransel penggeraknya untuk dapat terbang diatas tempat yang sulit dilewati.Robot masa depan ini diberi namaiCub.
Dalam 50 tahun terakhir, badan meteorologi PBB mencatat, ada lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia yang meninggal dunia akibat bencana alam. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan jumlah bencana alam, seperti banjir dan gelombang panas, yang didorong oleh perubahan iklim telah meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir, merugikan manusia hingga US$ 3,64 triliun.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pada 2021, Indonesia menduduki peringkat 38 Indeks Resiko Bencana Dunia (WorldRiskIndex) dari 181 negara, dengan skor 10.67 (kategori tinggi). Sebelumnya pada 2020 dan 2019 menduduki peringkat 40 dan 37, dengan skor 10.39 (tinggi) dan 10.58 (tinggi).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat bahwa, jumlah frekuensi bencana alam di Indonesia sepanjang 2021 lebih rendah dibandingkan 3 tahun terakhir. Bahkan kurun 2010-2020 disebut sebagai dekade penuh bencana bagi Indonesia. Walaupun terjadi penurunan frekuensi bencana, namun dampak kejadian itu meningkat cukup signifikan.
Kita tentu menunggu bagaimana robot ‘iCub’ dapat dioperasikan. Akan tetapi, kita lebih berharap agar intensitas bencana yang justru berkurang, bahkan tak menimbulkan dampak. Namun, kejadian bencana di luar kuasa manusia, sehingga upaya yang paling pantas adalah berinvestasi pada ikhtiar menghindari bencana.
Seorang ulama, Ibnul Qayim memiliki pandangan dan penafsiran bahwa sedekah dapat menghindarkan bencana. Dalam Al-Waabilus Shayyib halaman 49, ia menyampaikan,
“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau zalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya”.
Dalam hadits riwayat At-Thabrani, Rasulullah SAW, bersabda,
“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).”
Sedekah (Shodaqoh) memiliki makna yang luas, sedekah dapat bermakna infak, zakat dan kebaikan non-materi.
Dalam al-Qur‟an, Allah SWT menggunakan istilah shodaqoh untuk menyebut zakat, misalnya Allah berfirman: Ambillah shodaqoh (zakat)) dari sebagian harta mereka, dengan shodaqoh (zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.
Sedekah juga bisa bemakna yang lebih luas dari zakat, hal itu misalnya disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bersedekah dengan hartanya, beliau bersabda: “Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma‟ruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah”.
Adakah jumlah sedekah minimal bagi setiap manusia setiap harinya?
Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap manusia dari anak Adam diciptakan terdiri dari 360 persendian/ruas” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain disebutkan,
“Masing-masing persendian dari setiap manusia itu harus diberi shadaqah. Setiap hari dimana pada hari itu terbit matahari kemudian ia berbuat adil terhadap dua orang yang berselisih maka itu adalah shadaqah, membantu seseorang untuk menaikkan atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraannya itu adalah shadaqah, ucapan yang baik adalah shadaqah, setiap langkah untuk berjalan menuju ke tempat shalat itu adalah shadaqah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan itu adalah shadaqah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, maka 360 ruas sendi yang ada pada tubuh kita harus diberi sedekah setiap hari. Sedekahnya itu berupa amal kebaikan. Jadi, minimal setiap hari kita harus melakukan 360 kebaikan, hanya untuk badan kita. Dalam 24 jam minimal kita harus berbuat kebaikan 360 kali. Dengan kata lain, kita harus berbuat kebaikan 360/24 = 15 kebaikan per jam. Atau setiap 4 menit menghasilkan satu kebaikan (netto).
Amalan-amalan apa yang bisa bernilai satu kebaikan?
Rasulullah SAW, bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)
“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i karya Abu Ya’la Kurnaedi, pahala yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud adalah:
“Aku mendengar Nabi SAW bersabda: ‘Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf’”.
Imam Syafi’i mencatat ada 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf dalam Al-Qur’an. Sementara itu surat Alfatihah terhitung sebanyak 139 huruf (~2.363 kebaikan dalam 17 rakaat). Dengan shalat wajib seorang muslim telah melakukan sedekah, bahkan melebihi kebutuhan jumlah persendiannya.
Oleh karena itu, jika kita tidak mampu memproduksi per 4 menit 1 kebaikan, maka menahan tangan dan lisan dari merusak dan menyakiti, setidaknya akan menjadi sedekah untuk masing-masing diri.
Namun demikian, bencana yang paling besar di dunia bukanlah gempa bumi, tsunami, banjir bandang, kebakaran hutan, dan semacamnya. Namun, bencana terbesar di dunia adalah tidak tegaknya Islam ini di muka bumi, yang akan berakibat bagi munculnya berbagai prahara, serta marabahaya besar di akhirat kelak.
Dalam 2 tahun terakhir ini, dunia dihebohkan dengan hasil teknologi yang diproduksi oleh Peneliti Korea Selatan maupun China. Apa gerangan teknologi yang mereka hasilkan, yang telah menghebohkan dunia tersebut? Ternyata mereka membuat teknologi yang disebut sebagai teknologi matahari buatan.
Matahari buatan Korea Selatan tahun lalu menghasilkan plasma bersuhu tinggi, dilaporkan lebih dari 100 juta derajat Celsius, namun hanya berlangsung 20 detik. Sementara itu China bulan lalu mencatatkan rekor, telah berhasil membuat matahari buatan dengan suhu mencapai 70 juta derajat Celsius.
Teknologi matahari buatan tersebut bahkan melebihi suhu inti matahari yang sebenarnya, yakni 15 juta derajat Celsius. Hanya saja teknologi buatan manusia tersebut (misalnya China) sejauh ini hanya menyala selama 17 menit.
Teknologi matahari buatan ini menghasilkan energi nuklir, dibuat dalam rangka mencari solusi mengatasi krisis energi di bumi dan menghasilkan energi bersih untuk menggantikan ketergantungan pada batubara dan minyak bumi.
Upaya tersebut mengafirmasi bahwa sesungguhnya kemajuan teknologi yang berkembang di dunia saat ini, telah berdampak pada rusaknya ekosistem bumi dan kesehatan manusia. Teknologi semakin maju, tetapi lingkungan hidup semakin rusak.
Kegiatan pertambangan semisal batubara, emas, nikel dan semacamnya telah menyebabkan rusaknya hutan dan hilangnya pepohonan, serta lahan-lahan pertanian, sehingga tak mengherankan suhu bumi bertambah panas dan terjadilah pemanasan global.
Selain itu, penambangan minyak bumi, uji coba hulu ledak nuklir dan semacamnya telah menjadi salah satu penyebab terjadinya gempa bumi. Oleh karena itu, sekali lagi kemajuan teknologi yang kita hasilkan hari ini, yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan manusia, sesungguhnya harus kita bayar mahal dengan banyaknya menghasilkan sumber-sumber bencana.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqaroh 11-12,
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan (pembangunan).’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.”
Dengan demikian, sekuat apapun usaha manusia untuk menciptakan surga di bumi, maka hakekatnya tidak akan merubah ketentuan Allah SWT, bahwa bumi ini dirancang oleh Allah SWT bukan sebagai tempat untuk pemuasan kebutuhan dan keinginan manusia, tetapi bumi ini dibuat sebagai tempat untuk beramal.
Pertanyaannya: Lalu di manakah gerangan tempat manusia untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya? Jawabannya pasti, yakni tempatnya adalah di surga Allah SWT.
Kenikmatan-kenikmatan di surga kelak, Allah SWT ciptakan dengan sistem efisiensi, bahkan melebihi 100%: manusia, tempat tinggal, dan lingkungannya mengalami pertambahan kebaikan setiap waktu. Tidak ada derita dan keluh kesah. Tidak ada kewajiban untuk bekerja, karena kenikmatan itu akan menghampiri manusia setiap kali dibutuhkan manusia. Tidak ada kotoran yang keluar dari badan manusia. Tidak ada pencemaran yang keluar dari peralatan transportasi yang digunakan manusia. Dan berbagai kenikmatan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim,
Tatkala telah masuk ahli surga ke dalam surga, maka ada yang menyeru dengan ucapan: Kalian akan hidup selamanya tidak akan mati, kalian akan selalu sehat tidak akan pernah sakit, kalian tetap akan muda tidak akan tua, dan kalian akan selalu merasakan kenikmatan tidak akan putus.
Rasulullah SAW bersabda dalam Riwayat Bukhari dan Muslim,
“Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, tak pernah terkhayal dalam khayal manusia”
Oleh karena itu, mari kita merindukan surga, jauh melebihi rindunya kita kepada kenikmatan dunia, sebuah rindu yang melebihi rindunya kita kepada cinta dan kekasih. Sebuah rindu yang tak boleh hilang dan mati pada jiwa seorang mukmin. Sebuah rindu yang hanya ditebus dengan ketaatan kepada Allah SWT.