Technoscience

Bahan Bangunan Hidup yang Mampu Menyerap CO₂ dari Udara

Para ilmuwan dari ETH Zurich berhasil mengembangkan bahan bangunan revolusioner yang tidak hanya hidup tetapi juga mampu menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara. Bahan ini berupa gel cetak yang mengandung bakteri kuno bernama sianobakteri. Dengan bantuan sinar matahari, bakteri ini melakukan fotosintesis untuk menghasilkan biomassa sekaligus memicu pembentukan mineral yang mengurung karbon dalam bentuk stabil. Bahan ini dirancang dengan hidrogel yang mendukung kehidupan mikroba di dalamnya dan mampu bertahan lebih dari setahun. Menariknya lagi, bahan inovatif ini sudah digunakan dalam instalasi arsitektur di Venesia dan Milan, yang menggabungkan desain, keberlanjutan, dan ilmu pengetahuan hidup dalam satu wujud nyata.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Mark Tibbitt dari ETH Zurich memadukan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan bahan bangunan hidup ini. Mereka berhasil memasukkan sianobakteri ke dalam gel yang bisa dicetak menggunakan printer 3D. Hasilnya adalah bahan yang hidup, tumbuh, dan aktif menyerap CO₂ dari udara. Bahan ini hanya membutuhkan sinar matahari, air laut buatan, dan nutrisi sederhana agar bisa terus berkembang. Bahkan, bahan ini mampu menyerap CO₂ dalam jumlah dua kali lipat dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pertumbuhan organiknya, karena karbon juga dikurung dalam bentuk mineral.

Sianobakteri dikenal sebagai salah satu makhluk hidup tertua di bumi yang sangat efisien dalam berfotosintesis, bahkan dengan cahaya yang sangat lemah. Selain menghasilkan biomassa, bakteri ini mengubah lingkungan kimia di sekitarnya sehingga membentuk karbonat padat seperti kapur. Karbonat ini mengunci CO₂ dalam bentuk yang jauh lebih stabil dibandingkan biomassa. Dalam uji laboratorium, bahan ini bisa menyerap sekitar 26 miligram CO₂ per gram bahan selama 400 hari, sebagian besar dalam bentuk mineral.

Hidrogel yang digunakan sebagai media hidup bakteri ini memungkinkan cahaya, air, karbon dioksida, dan nutrisi mengalir dengan baik, sehingga bakteri dapat tumbuh merata di dalam bahan. Bentuk struktur bahan ini juga dirancang agar permukaannya luas, cahaya mudah masuk, dan nutrisi tersebar merata. Dengan desain ini, bakteri tetap hidup dan aktif selama lebih dari setahun.

Para peneliti memandang bahan bangunan hidup ini sebagai cara baru yang ramah lingkungan untuk membantu mengurangi CO₂ di atmosfer. Ke depannya, bahan ini diharapkan bisa digunakan sebagai pelapis dinding gedung sehingga bisa menyerap CO₂ sepanjang usia bangunan. Saat ini, konsep ini telah diujicoba dalam bentuk instalasi di pameran arsitektur dunia. Di Paviliun Kanada di Venesia, struktur setinggi tiga meter dari bahan ini mampu menyerap CO₂ setara dengan pohon pinus berusia 20 tahun. Sementara di Milan, instalasi bernama Dafne’s Skin menunjukkan bagaimana mikroorganisme bisa memperindah sekaligus menyehatkan bangunan dengan mengikat CO₂.

Penelitian ini merupakan bagian dari program ALIVE (Advanced Engineering with Living Materials) di ETH Zurich yang mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk mengembangkan bahan hidup untuk berbagai keperluan. Hasil riset ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 21 Juni 2025.[]

Bahan Bangunan Hidup yang Mampu Menyerap CO₂ dari Udara Read More »

AI Percepat Penemuan Resep Semen Ramah Lingkungan

Ketika semen dicampur dengan air, pasir, dan kerikil, ia berubah menjadi beton—bahan bangunan paling banyak digunakan di dunia. Namun, produksi semen diketahui menjadi salah satu penyumbang emisi karbon dioksida (CO2) terbesar di bumi, bahkan melebihi sektor penerbangan. Para peneliti dari Paul Scherrer Institute (PSI) di Swiss kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menemukan formula semen baru yang tetap kuat tetapi jauh lebih ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan pemodelan komputasi dan jaringan saraf buatan, mereka berhasil menciptakan sistem yang mampu mensimulasikan ribuan kombinasi bahan hanya dalam hitungan detik, untuk menemukan resep semen dengan emisi CO2 minimal tanpa mengorbankan kualitasnya.

Industri semen selama ini menghasilkan sekitar delapan persen dari total emisi CO2 global. Hal ini terjadi karena proses pembakaran batu kapur di kiln pada suhu tinggi 1.400 derajat Celsius, yang selain memerlukan energi sangat besar, juga melepas CO2 dari bahan bakunya. Tim peneliti PSI mencoba mengatasi hal ini dengan pendekatan berbeda, yakni dengan mengubah resep semen itu sendiri. Mereka memanfaatkan pembelajaran mesin untuk memodelkan berbagai kombinasi material alternatif agar emisi CO2 berkurang tetapi sifat mekanis tetap optimal. Cara ini ibarat memiliki “buku resep digital” yang mampu memberikan rekomendasi formula semen ramah iklim dalam waktu sangat singkat.

Hasil penelitian mereka menunjukkan adanya sejumlah kombinasi bahan yang menjanjikan dan berpotensi diproduksi secara massal. Meski begitu, semua formula yang dihasilkan AI ini tetap perlu diuji di laboratorium sebelum diterapkan dalam skala nyata. Studi ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu—dari kimia semen, termodinamika, hingga pakar AI—agar teknologi ini dapat terus dikembangkan, termasuk untuk menyesuaikan formula dengan kondisi spesifik seperti lingkungan laut atau gurun.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Materials and Structures pada 19 Juni 2025, dan dilakukan sebagai bagian dari proyek SCENE (Swiss Centre of Excellence on Net Zero Emissions), sebuah program riset nasional yang fokus mengembangkan solusi ilmiah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis di sektor industri dan energi.[]

AI Percepat Penemuan Resep Semen Ramah Lingkungan Read More »

Deteksi Parkinson Lewat Bau Kotoran Telinga

Bayangkan jika penyakit Parkinson bisa dideteksi hanya dengan mengambil sampel kotoran telinga—bukan lagi lewat pemeriksaan mahal atau tes yang subjektif. Para ilmuwan di China telah mengembangkan metode skrining awal yang revolusioner, yang mampu mengenali Parkinson dari aroma kotoran telinga dengan akurasi mencapai 94 persen. Penelitian ini menggunakan sistem penciuman berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menganalisis senyawa organik volatil (VOC) dalam kotoran telinga. Jika diterapkan secara luas, pendekatan ini bisa menjadi alternatif yang murah, mudah, dan tidak menyakitkan untuk mendeteksi Parkinson sejak dini.

Penyakit Parkinson adalah gangguan neurologis progresif yang umumnya hanya bisa diperlambat lewat pengobatan. Karena itu, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien. Sayangnya, metode diagnosis saat ini masih bergantung pada penilaian klinis yang subjektif atau pencitraan saraf yang mahal. Para peneliti dari jurnal Analytical Chemistry milik American Chemical Society melaporkan upaya awal mereka dalam menciptakan sistem skrining murah dan efektif melalui bau kotoran telinga.

Sebelumnya, penelitian telah menunjukkan bahwa sebum (zat berminyak yang dikeluarkan kulit) mengalami perubahan bau pada penderita Parkinson, dipengaruhi oleh kerusakan saraf, peradangan, dan stres oksidatif. Namun, karena sebum di permukaan kulit mudah terkontaminasi oleh polusi udara dan kelembapan, kotoran telinga—yang sebagian besar terdiri dari sebum dan tersembunyi di dalam liang telinga—dianggap lebih stabil dan andal untuk analisis.

Penelitian ini melibatkan 209 partisipan, termasuk 108 pasien Parkinson. Dengan teknik kromatografi gas dan spektrometri massa, para ilmuwan menemukan empat senyawa VOC dalam kotoran telinga yang berbeda secara signifikan antara penderita dan non-penderita Parkinson. Keempat senyawa tersebut adalah etilbenzena, 4-etiltoluena, pentanal, dan 2-pentadesil-1,3-dioksolan—yang diduga menjadi biomarker Parkinson.

Data bau ini kemudian dimasukkan ke dalam sistem penciuman AI. Hasilnya luar biasa: sistem ini mampu mengklasifikasi dengan akurasi 94 persen, menunjukkan potensinya sebagai alat skrining tahap awal untuk Parkinson. Menurut peneliti Hao Dong dan Danhua Zhu, teknologi ini bisa membuka jalan bagi penanganan medis lebih awal dan perawatan yang lebih baik.

Namun, mereka juga menekankan bahwa studi ini masih berskala kecil dan dilakukan di satu lokasi di China. Langkah selanjutnya adalah melakukan riset lebih luas di berbagai tahap penyakit, di berbagai pusat penelitian, dan dengan populasi yang beragam untuk memastikan keampuhan metode ini secara global.

Penelitian ini diterbitkan oleh American Chemical Society pada tanggal 18 Juni 2025, dengan dukungan dana dari National Natural Sciences Foundation of Science, Pioneer and Leading Goose R&D Program dari Provinsi Zhejiang, serta Dana Penelitian Dasar untuk Universitas-universitas Pusat di China.[]

Deteksi Parkinson Lewat Bau Kotoran Telinga Read More »

Rahasia Panjang Umur dari Secangkir Kopi Hitam

Kebiasaan menikmati secangkir kopi di pagi hari ternyata bukan cuma membantu kita lebih melek, tapi juga bisa berdampak baik bagi kesehatan jangka panjang. Penelitian terbaru dari Tufts University mengungkap bahwa minum satu hingga tiga cangkir kopi berkafein setiap hari berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah, khususnya akibat penyakit jantung. Namun, manfaat ini akan menurun jika kopi tersebut diberi tambahan gula dan lemak jenuh seperti krim dalam jumlah berlebihan.

Penelitian observasional ini dilakukan oleh para ahli dari Gerald J. dan Dorothy R. Friedman School of Nutrition Science and Policy, dan telah dipublikasikan secara daring di The Journal of Nutrition pada 17 Juni 2025. Mereka menganalisis data dari lebih dari 46.000 orang dewasa berusia 20 tahun ke atas yang mengikuti survei diet harian dalam kurun waktu 1999–2018. Para peserta mengisi laporan konsumsi makanan selama 24 jam, lalu datanya dihubungkan dengan catatan kematian nasional.

Hasilnya, orang yang mengonsumsi 1–2 cangkir kopi hitam atau kopi dengan sedikit tambahan gula dan lemak jenuh memiliki risiko kematian 14% lebih rendah dibanding mereka yang tidak minum kopi sama sekali. Bila ditingkatkan menjadi 2–3 cangkir, risikonya menurun hingga 17%. Namun, jika gula dan krim ditambahkan terlalu banyak, manfaat ini hampir hilang.

Menurut Prof. Fang Fang Zhang, penulis utama studi ini, manfaat kesehatan dari kopi kemungkinan berasal dari senyawa bioaktif di dalamnya. Tapi jika kita terlalu banyak menambahkan pemanis dan krim, maka potensi manfaat tersebut bisa hilang. Ia menambahkan bahwa penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kopi tidak otomatis sehat—cara penyajiannya juga menentukan.

Bingjie Zhou, penulis pertama yang baru lulus dari program epidemiologi nutrisi di Friedman School, menegaskan bahwa temuan ini sejalan dengan Pedoman Diet untuk Warga Amerika yang menyarankan pembatasan gula tambahan dan lemak jenuh. Ia juga mengatakan bahwa masih sedikit penelitian yang membahas dampak bahan tambahan pada kopi terhadap kesehatan secara mendalam.

Meski begitu, studi ini memiliki keterbatasan, seperti bergantung pada laporan konsumsi makanan harian yang mungkin tidak selalu akurat. Selain itu, konsumsi kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan penurunan risiko kematian, kemungkinan karena jumlah konsumsinya rendah di kalangan responden.

Penelitian ini didanai oleh National Institute on Minority Health and Health Disparities, bagian dari National Institutes of Health. Meskipun didukung lembaga resmi, isi penelitian sepenuhnya menjadi tanggung jawab para peneliti.[]

Rahasia Panjang Umur dari Secangkir Kopi Hitam Read More »

Mengapa Gunung Api Tiba-Tiba Meletus Tanpa Tanda?

Beberapa gunung api bisa meletus secara tiba-tiba tanpa memberikan tanda-tanda yang jelas sebelumnya. Fenomena ini tentu sangat berbahaya, apalagi jika gunung tersebut berada dekat dengan pemukiman atau jalur penerbangan. Salah satu contohnya adalah Gunung Veniaminof di Alaska. Meskipun sudah dipantau ketat, gunung ini tetap bisa meletus tanpa diduga. Baru-baru ini, para ilmuwan dari University of Illinois mengembangkan sebuah model ilmiah untuk memahami bagaimana letusan yang diam-diam ini bisa terjadi, dan hasilnya membuka banyak wawasan baru.

Biasanya, tanda-tanda gunung akan meletus bisa dikenali dari gempa bumi kecil atau perubahan permukaan tanah akibat magma dan gas yang naik ke atas. Tapi pada kasus seperti Veniaminof, tanda-tanda ini sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Peneliti utama, Dr. Yuyu Li, menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti aliran magma yang lambat, ruang magma yang kecil, serta batuan di sekitar ruang magma yang hangat, bisa membuat letusan tampak “sembunyi”. Mereka menyebut fenomena ini sebagai stealth eruption atau letusan diam-diam.

Gunung Veniaminof adalah gunung berselimut es yang terletak di Busur Aleutian, Alaska. Meskipun dikenal aktif, dari 13 letusan sejak 1993, hanya dua yang terdeteksi sebelum benar-benar terjadi. Bahkan letusan pada tahun 2021 baru diketahui tiga hari setelah dimulai. Melalui pemodelan berdasarkan data pemantauan tiga musim panas sebelum letusan besar tahun 2018, tim peneliti membuat simulasi tentang perilaku magma di dalam ruang bawah tanah gunung. Mereka mencoba berbagai skenario dengan ukuran ruang magma yang berbeda, tingkat aliran magma, dan bentuk ruang yang beragam.

Hasil dari model tersebut menunjukkan bahwa ketika aliran magma masuk ke ruang kecil secara perlahan, maka kemungkinan besar letusannya tidak akan memberi tanda apa-apa terlebih dahulu. Hal ini berbeda jika aliran magma deras dan ruangnya besar—meski letusan mungkin tidak terjadi, tetapi deformasi tanah akan terlihat dan bisa dijadikan peringatan. Tapi dalam kondisi diam-diam seperti Veniaminof, deformasi tanah dan gempa sangat kecil sehingga sulit terdeteksi.

Yang mengejutkan lagi, ketika faktor suhu dimasukkan ke dalam model, hasilnya semakin jelas: jika batuan ruang magma tetap hangat karena selalu dialiri magma dalam jangka waktu lama, maka tanah di sekitarnya menjadi lebih lentur dan tidak mudah retak. Akibatnya, sinyal seperti gempa dan perubahan bentuk tanah pun nyaris tidak ada. Dengan kata lain, kehangatan batuan membuat letusan makin tersembunyi.

Untuk mengatasi bahaya dari letusan seperti ini, para ilmuwan menyarankan agar sistem pemantauan ditingkatkan dengan alat presisi tinggi seperti tilt meter bawah tanah, strainmeter, serat optik, hingga pemantauan gas dan suara bawah tanah (infrasound). Teknologi kecerdasan buatan juga dianggap punya potensi besar dalam mengenali perubahan kecil dalam perilaku gunung api yang sulit dideteksi oleh manusia secara langsung.

Di masa depan, pendekatan seperti ini akan membantu kita untuk lebih siap menghadapi ancaman dari gunung-gunung api diam-diam. Terutama yang punya ruang magma kecil, dalam, dan hangat dengan aliran magma yang lambat — inilah gunung-gunung yang patut diawasi lebih ketat demi keselamatan banyak orang.[]

Mengapa Gunung Api Tiba-Tiba Meletus Tanpa Tanda? Read More »

Gula Laut Teripang Berpotensi Menghentikan Penyebaran Kanker

Teripang selama ini dikenal sebagai “petugas kebersihan” laut karena perannya dalam membersihkan dasar laut dan mengembalikan nutrisi ke dalam ekosistem laut. Namun, siapa sangka bahwa hewan laut yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia pengobatan kanker? Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Universitas Mississippi menemukan bahwa teripang mengandung senyawa gula unik yang mampu menghambat enzim Sulf-2 — enzim yang diketahui membantu penyebaran sel kanker dalam tubuh manusia.

Enzim Sulf-2 ini bekerja dengan memodifikasi struktur glikan, yakni rambut-rambut halus yang menyelimuti permukaan sel dan berperan penting dalam komunikasi antar sel serta sistem imun. Pada sel kanker, enzim ini membuat perubahan pada glikan sehingga kanker bisa berkembang dan menyebar. Para peneliti menemukan bahwa senyawa gula bernama fucosylated chondroitin sulfate yang berasal dari spesies teripang Holothuria floridana bisa secara efektif menghambat enzim tersebut, yang berarti berpotensi memperlambat atau bahkan menghentikan penyebaran kanker.

Berbeda dari obat-obatan penghambat Sulf-2 lainnya yang bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah, senyawa dari teripang ini tidak memiliki efek samping seperti itu. Ini menjadikannya lebih aman dan menjanjikan untuk dikembangkan sebagai terapi kanker berbasis laut. Bahkan dari segi produksi, senyawa alami dari laut cenderung lebih bersih dan berisiko rendah dalam hal penularan virus, dibandingkan dengan senyawa berbasis hewan darat seperti babi.

Namun, tantangan berikutnya adalah produksi senyawa ini dalam skala besar. Jumlah teripang di alam tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi, dan oleh karena itu para ilmuwan kini berupaya untuk menciptakan senyawa ini secara sintetis di laboratorium. Jika berhasil, penelitian ini dapat membuka jalan baru dalam pengobatan kanker yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Glycobiology edisi Juni 2025 dan dipimpin oleh Marwa Farrag bersama tim peneliti dari Universitas Mississippi dan Universitas Georgetown. Dukungan penelitian ini berasal dari sejumlah hibah bergengsi termasuk dari National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat. Temuan ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama lintas disiplin dalam mengatasi penyakit kompleks seperti kanker, karena penelitian ini melibatkan ahli dari bidang biokimia, farmasi, biologi komputasi, hingga spektrometri massa.[]

Gula Laut Teripang Berpotensi Menghentikan Penyebaran Kanker Read More »

Quo Vadis Maritime Center Wakatobi?

Jika anda berkunjung ke Marina Togo Mowondu dalam beberapa bulan terakhir, anda tentu akan melihat sebuah bangunan baru yang mencuri perhatian di tepian laut. Dengan desain modern yang berpadu dengan unsur-unsur lokal, bangunan itu kini berdiri sebagai ikon baru Kabupaten Wakatobi: Maritime Center Wakatobi. Tentu, bangunan ini bukan sekadar hiasan arsitektural. Ia seyogyanya hendak mencerminkan simbol arah pembangunan kelautan Wakatobi.

Bangunan tersebut merupakan bagian dari skema proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dan sebagai proyek nasional, tentu desain pemanfaatan bangunan ini telah dirancang secara matang sebelum fisiknya dibangun. Ini bukan sekadar gedung kosong atau papan nama tanpa makna—melainkan pusat kegiatan maritim yang tentunya diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi laut berbasis konservasi atau kepariwisataan.

Lebih dari itu, bangunan ini relevan dengan komitmen Kabupaten Wakatobi dalam mewujudkan visi RPJPD 2025–2045: “Wakatobi menjadi pusat ekonomi maritim yang Sentosa.” Dalam konteks ini, “Sentosa” mencakup kesejahteraan, kelestarian, keamanan, dan harmoni antara masyarakat dengan lautnya. Visi tersebut tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi arah pembangunan yang sedang diikhtiarkan secara bertahap dan sistematis, berlandaskan pada potensi nyata yang dimiliki Wakatobi sebagai daerah kepulauan dengan keunggulan ekologisnya.

Untuk memahami potensi dan arah pengembangan Maritime Center ini, penting mengacu pada beberapa teori dan praktik global tentang Maritime Center. Zhang, Lam, dan Li (2013) menjelaskan bahwa Maritime Center adalah kawasan strategis yang mengintegrasikan pelabuhan, logistik, industri maritim, jasa keuangan, pendidikan, dan riset dalam satu ekosistem. Tiga model utama dikenal dalam praktik global: pertama, Maritime Production Center, yang berfokus pada pelabuhan dan aktivitas industri; kedua, Maritime Service Center, yang menonjolkan jasa profesional seperti arbitrase, asuransi, dan shipbroking; dan ketiga, All-in-One Maritime Center, yang menggabungkan fungsi produksi dan layanan. Masing-masing model telah diterapkan oleh negara-negara maju.

Kita tentu tak berharap sebagaimana praktek Maritime Center di beberapa negara maju. Sebagai contoh, Singapura mengembangkan All-in-One Maritime Center yang mengintegrasikan pelabuhan kelas dunia, keuangan, logistik, dan inovasi teknologi maritim secara simultan (Qiu et al., 2022). Sementara itu, London tampil sebagai Maritime Service Center, unggul dalam bidang arbitrase hukum laut dan keuangan maritim (Gang, 2009). Shanghai membangun dirinya sebagai Maritime Knowledge Hub melalui investasi besar di bidang riset dan pelatihan maritim (Lie-hui, 2012). Di Korea Selatan, Busan menjadi pusat logistik dan keuangan pelabuhan dengan koneksi kuat ke akademisi dan inovasi teknologi kelautan (Yeandle, 2014).

Kabupaten Wakatobi, tentu memiliki pendekatan yang berbeda. Alih-alih meniru industrialisasi pelabuhan seperti Singapura, Wakatobi tentu relevan jika diarahkan sebagai eco-maritime center—yakni pusat ekonomi kelautan yang dibangun atas dasar konservasi, riset, pemberdayaan masyarakat, dan pariwisata bahari berkelanjutan. Keunggulan ekologis Wakatobi, sebagai bagian dari segitiga terumbu karang dunia, adalah modal yang tak dimiliki wilayah lain.

Tak hanya itu, jejaring transportasi laut antarpulau di Wakatobi telah lama tersedia dan siap dikembangkan. Konektivitas antara pulau-pulau besar seperti Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, serta akses reguler ke pelabuhan Baubau dan Kendari bahkan antarProvinsi, membentuk fondasi logistik laut yang sangat potensial. Yang dibutuhkan saat ini adalah optimalisasi: perbaikan atau peningkatan layanan pelabuhan, digitalisasi pelayaran, serta penyusunan sistem logistik laut berbasis kebutuhan lokal dan pariwisata.

Kemajuan lainnya adalah implementasi teknologi Automatic Identification System (AIS) yang telah dimanfaatkan oleh sejumlah nelayan lokal dengan branding WakatobiAIS, yang dikendalikan operasionalisasinya oleh Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK). Selain itu, ada Taman Nasional Wakatobi, Bidang Litbang Bappeda, Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi (ITBMW), AKKP Wakatobi yang merupakan stakeholders lokal yang bisa memberikan dukungan dalam mendukung sistem kerja yang disiapkan dan dilakukan oleh Maritime Center. Apatah lagi lembaga-lembaga tersebut telah memiliki jejaring kemitraan baik nasional maupun internasional—suatu langkah penting menuju penguatan kapasitas daerah sebagai simpul teknologi dan inovasi kelautan.

Dengan semua fondasi ini—visi daerah yang jelas, dukungan proyek nasional, konektivitas laut yang siap dikembangkan, teknologi yang sudah diterapkan, serta kolaborasi kelembagaan yang semakin solid—maka Maritime Center Wakatobi bukanlah menara gading. Ia adalah titik tolak mewujudkan tata kelola maritim yang visioner. Sebuah pusat yang kelak bisa digunakan untuk pelatihan, mungkin bagi pelaut, riset kelautan tropis, bazar hasil laut, forum kebijakan maritim, koleksi keanekaragaman hayati laut bahkan pertemuan internasional tentang konservasi, dan sebagainya.

Maka, jika suatu hari anda kembali ke Marina Togo Mowondu dan melihat bangunan itu penuh aktivitas—dari anak muda belajar tentang navigasi laut, nelayan berdiskusi tentang pasar hasil tangkapan, sampai peneliti asing mempelajari terumbu karang Wakatobi, dan sebagainya—saat itu anda akan menyaksikan Wakatobi bukan hanya menjaga laut, tapi mungkin tengah memimpin masa depan maritim Indonesia.

Sebaliknya, jika bangunan tersebut hanya menambah daftar bangunan yang tak berfungsi di Wakatobi, tentu adalah wajar jika kita menjadi kecewa, karena sejatinya pada bangunan tersebut kita tengah mengubur ide dan materi yang ‘diperas’ dari usaha dan harapan yang penting.[]

Daftar Referensi:
Gang, D. (2009). Exploration of the key initiatives driving London International Maritime Service Center.
Lie-hui, W. (2012). Research on global maritime knowledge hub—A case study of Shanghai.
Pullen, J., & Bruno, M. (2014). The Center for Secure and Resilient Maritime Commerce: A DHS National Center of Excellence in Maritime Security. In J. M. Scott (Ed.), Maritime security and technology (pp. 20–38). IGI Global. https://doi.org/10.4018/978-1-4666-5946-9.ch002
Qiu, W., Zhu, J., & Wang, X. (2022). An analysis of London and Shanghai as International Maritime Centres. In Proceedings of SPIE – The International Society for Optical Engineering (Vol. 12302, Paper 123024R). https://doi.org/10.1117/12.2645508
Yeandle, M., & Z/Yen Group. (2014). Maritime financial centres. Other Financial Economics eJournal.
Zhang, W., Lam, J. S. L., & Li, K. X. (2013). Business models for development of international maritime centre. International Journal of Shipping and Transport Logistics.

Quo Vadis Maritime Center Wakatobi? Read More »

Molekul Super – Itaconate

Para ilmuwan menemukan bahwa sebuah molekul yang dikenal dalam sistem kekebalan hewan, yaitu itaconate, ternyata juga memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman. Penemuan ini membuka kemungkinan baru dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman pangan secara alami dan berkelanjutan. Dalam studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari University of California San Diego, mereka membuktikan bahwa itaconate tidak hanya ada di dalam sel tumbuhan, tetapi juga mampu merangsang pertumbuhan tanaman, seperti menjadikan bibit jagung tumbuh lebih tinggi. Ini merupakan temuan mengejutkan karena selama ini itaconate lebih dikenal sebagai senyawa pelindung dalam tubuh hewan terhadap virus dan peradangan.

Dengan menggunakan teknik pencitraan kimia dan spektrometri massa, para ilmuwan mendeteksi keberadaan itaconate di dalam sel tumbuhan, khususnya pada bagian-bagian yang sedang tumbuh. Mereka menyiram tanaman jagung dengan larutan yang mengandung itaconate dan mengamati bahwa bibit-bibit tersebut tumbuh lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak diberi perlakuan. Hal ini mendorong penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana molekul ini bekerja bersama protein tumbuhan dan apa saja dampak positifnya.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara UC San Diego, Stanford University, Peking University, Carnegie Institute of Science, dan Universidad Nacional Autónoma de México. Mereka menemukan bahwa itaconate berperan dalam berbagai proses penting dalam tubuh tanaman, termasuk metabolisme dasar dan respons terhadap stres oksigen. Temuan ini memberikan harapan bahwa manfaat alami dari itaconate bisa menjadi alternatif pengganti bahan kimia sintetis dalam meningkatkan hasil pertanian dengan cara yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Selain berdampak pada pertumbuhan tanaman, penelitian ini juga memberikan wawasan baru dalam hubungan antara biologi tumbuhan dan hewan. Karena manusia juga memproduksi itaconate, pemahaman yang lebih dalam mengenai molekul ini dapat membuka jalan untuk penemuan baru dalam ilmu kesehatan manusia. Dengan pendekatan yang terinspirasi dari alam, para peneliti berharap penemuan ini dapat diterapkan untuk meningkatkan pertanian sekaligus memperluas pemahaman kita tentang kesehatan secara menyeluruh.[]

Molekul Super – Itaconate Read More »

Cahaya yang Membekukan Kuantum

Penelitian gabungan dari Universitas Harvard dan Paul Scherrer Institute (PSI) di Swiss telah menghasilkan terobosan besar dalam dunia fisika kuantum. Dipublikasikan pada 5 Juni 2025 oleh Paul Scherrer Institute, studi ini menunjukkan bahwa para ilmuwan berhasil menggunakan trik laser super cepat untuk membekukan keadaan kuantum yang biasanya hanya berlangsung sangat singkat. Temuan ini dirilis secara resmi melalui jurnal ilmiah Nature Materials.

Pada dasarnya, keadaan kuantum adalah kondisi unik dalam materi yang hanya muncul di dunia partikel sangat kecil, seperti elektron. Dalam dunia ini, hal-hal aneh bisa terjadi—partikel bisa berada di dua tempat sekaligus, berpindah tanpa jejak, dan berubah hanya karena diamati. Namun, masalahnya adalah keadaan kuantum ini sangat rapuh dan biasanya hanya bertahan dalam hitungan triliunan detik. Hal ini membuatnya sulit dimanfaatkan dalam teknologi praktis. Itulah mengapa penelitian ini menjadi sangat penting: tim peneliti berhasil membuat keadaan kuantum bertahan hingga ribuan kali lebih lama dari biasanya.

Para ilmuwan bekerja dengan sebuah bahan khusus bernama Sr14Cu24O41, dikenal juga sebagai cuprate ladder, yang memiliki struktur menyerupai tangga kecil dalam skala atom. Dalam keadaan normal, muatan listrik di dalam bahan ini hanya mengalir dalam bagian tertentu dan tidak bisa berpindah ke bagian lainnya. Namun, dengan menembakkan pulsa cahaya laser super cepat, para peneliti berhasil “membuka jalur” yang memungkinkan muatan listrik berpindah, lalu menjebaknya di tempat baru saat pulsa dimatikan. Ini menciptakan keadaan kuantum yang stabil dan bertahan jauh lebih lama dari yang pernah dicapai sebelumnya.

Untuk mengamati apa yang terjadi dalam hitungan waktu yang sangat singkat ini, mereka menggunakan sinar-X super cepat dari fasilitas SwissFEL di PSI. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan melihat secara langsung bagaimana elektron bergerak dalam waktu yang disebut femtodetik—sepersejuta triliun detik. Melalui teknik pengamatan canggih yang disebut tr-RIXS, mereka bisa mengintip langsung proses perubahan struktur dan interaksi kuantum yang sebelumnya mustahil ditangkap dengan alat biasa.

Apa artinya semua ini dalam kehidupan nyata? Temuan ini membuka jalan untuk revolusi teknologi di masa depan. Dengan kemampuan mengontrol dan menstabilkan keadaan kuantum menggunakan cahaya, kita dapat menciptakan komputer kuantum yang jauh lebih cepat dan efisien, serta perangkat penyimpanan data non-volatil, di mana data tetap tersimpan walau listrik dimatikan. Selain itu, teknologi ini juga dapat melahirkan komunikasi kuantum yang tidak bisa diretas, dan komputasi fotonik, di mana cahaya digunakan untuk menggantikan arus listrik dalam pengolahan data. Bahkan, bisa dikembangkan menjadi transduser cahaya-listrik, yaitu alat yang dapat mengubah sinyal listrik menjadi cahaya dan sebaliknya, sangat penting dalam perangkat optoelektronik ultracepat.

Penelitian ini juga menjadi eksperimen pertama yang dilakukan oleh kelompok pengguna di stasiun akhir Furka dari fasilitas SwissFEL, dan sejak itu, fasilitas tersebut telah diperbarui untuk mengamati fenomena kuantum yang lebih kompleks. Para ilmuwan yakin bahwa langkah ini baru awal dari eksplorasi lebih jauh dalam pengendalian materi dengan cahaya, yang suatu saat dapat mengubah cara manusia membangun teknologi dari dasar yang benar-benar baru. Melalui satu kedipan cahaya, dunia kuantum yang dulunya tak terjangkau kini mulai bisa dijinakkan.[]

Cahaya yang Membekukan Kuantum Read More »

Berapa Usia Gerontologis Kita?

Kita semua tahu tentang usia kronologis—usia yang dihitung dari tanggal lahir kita. Tapi pernahkah anda mendengar tentang usia gerontologis? Meskipun terdengar ilmiah, sebenarnya ini adalah konsep yang sangat menarik dan relevan bagi kehidupan sehari-hari, terutama saat kita membicarakan penuaan dan kesehatan. Usia gerontologis adalah cara untuk mengukur usia tubuh dan fungsi biologis kita, bukan hanya angka di KTP. Seseorang bisa saja berusia 60 tahun secara kronologis, tetapi tubuhnya bisa berfungsi seperti orang berusia 45 tahun—atau sebaliknya. Itulah yang dimaksud dengan usia gerontologis: seberapa “tua” tubuh anda secara biologis dan fungsional dibandingkan dengan usia sebenarnya.

Istilah ini dipopulerkan antara lain oleh ilmuwan dan penulis medis terkenal asal Rusia-Amerika, Vladimir Korenchevsky, pada awal abad ke-20. Ia adalah salah satu tokoh pionir dalam ilmu gerontologi modern. Korenchevsky tertarik pada gagasan bahwa usia biologis seseorang bisa berbeda dari usia kronologisnya, dan bahwa penuaan adalah proses yang bisa dipelajari, diukur, dan bahkan diperlambat. Konsep usia gerontologis kemudian terus dikembangkan oleh para ahli di bidang biologi penuaan, kesehatan masyarakat, dan ilmu kedokteran.

Untuk memahami istilah ini lebih jauh, kita perlu tahu dulu apa itu gerontologi. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari proses penuaan dari berbagai aspek—biologis, psikologis, dan sosial. Ilmu ini bertujuan untuk memahami bagaimana manusia menua, dan bagaimana kita bisa menua dengan lebih sehat, aktif, dan bahagia. Dalam dunia medis dan ilmiah, para ahli gerontologi mencoba memahami perbedaan besar yang terjadi antara usia kronologis dan usia biologis seseorang. Mereka mencari tahu mengapa ada orang yang tetap bugar di usia tua, sementara yang lain sudah mengalami gangguan kesehatan di usia muda.

Mengukur usia gerontologis tidak semudah melihat kalender. Dibutuhkan kombinasi dari berbagai indikator kesehatan dan fungsi tubuh. Beberapa faktor yang sering dipertimbangkan antara lain: tekanan darah dan detak jantung, kadar gula darah dan kolesterol, kekuatan otot dan massa tubuh, kesehatan kulit dan gigi, kemampuan fisik seperti berjalan dan berdiri, fungsi kognitif seperti daya ingat dan konsentrasi, kondisi sistem imun, serta kesehatan mental dan stres. Kini, dengan teknologi modern dan ilmu genetika, para ilmuwan bahkan dapat menganalisis biomarker penuaan—penanda dalam tubuh seperti perubahan DNA (epigenetik), inflamasi kronis, atau fungsi sel-sel tubuh. Semua itu bisa memberikan gambaran lebih akurat tentang “usia tubuh” kita.

Usia gerontologis bisa memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kesehatan jangka panjang. Misalnya, seseorang yang secara biologis lebih tua dari usianya mungkin lebih rentan terhadap penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau Alzheimer. Sebaliknya, jika usia gerontologis anda lebih muda dari usia kronologis, ini bisa menjadi pertanda bahwa gaya hidup dan kebiasaan anda mendukung kesehatan yang baik. Fakta ini membawa pesan penting: proses penuaan bisa diperlambat dan dikendalikan. Usia bukanlah nasib, tapi hasil dari pilihan hidup kita.

Ada banyak faktor yang bisa mempercepat atau memperlambat usia biologis seseorang. Beberapa faktor utama antara lain gaya hidup, stres, kualitas sosial dan mental, genetika, dan lingkungan. Pola makan sehat, olahraga teratur, tidur cukup, dan menjauhi rokok serta alkohol akan menjaga tubuh tetap muda. Sebaliknya, stres berkepanjangan, kesepian, dan paparan polusi dapat mempercepat proses penuaan.

Kabar baiknya, usia gerontologis bisa diperlambat bahkan diturunkan dengan beberapa perubahan sederhana namun konsisten. Mengonsumsi makanan bergizi tinggi seperti sayur, buah, protein sehat, dan biji-bijian; rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu; mengelola stres lewat meditasi, hobi, atau waktu bersama keluarga; tidur cukup idealnya 7–9 jam per malam; menjaga berat badan tetap ideal; serta memeriksakan kesehatan secara rutin adalah beberapa langkah efektif. Bahkan, kini sudah ada aplikasi dan tes medis yang bisa membantu anda memperkirakan usia biologis anda. Meskipun belum sepenuhnya akurat, alat ini bisa memberi gambaran awal apakah gaya hidup anda membuat tubuh anda lebih muda atau lebih tua dari usia sebenarnya.

Bila anda ingin mengetahui usia gerontologis anda secara lebih akurat, beberapa klinik anti-aging dan pusat kesehatan kini sudah menyediakan tes usia biologis berbasis biomarker. Tes ini dapat ditemukan di rumah sakit besar atau klinik spesialis penuaan di kota-kota besar. Selain itu, ada juga layanan daring (online) seperti InsideTracker, Elysium Index, dan Aging.ai yang menawarkan analisis usia biologis berdasarkan data darah atau profil gaya hidup anda. Namun, jika anda memilih layanan daring, pastikan anda memilih yang terpercaya dan diawasi oleh profesional medis. Adapun keakuratan metode di atas masih terus dikembangkan dan belum sepenuhnya dapat menggantikan pemeriksaan medis langsung

“Berapa usia gerontologis kita?” bukanlah pertanyaan retoris. Ini adalah pertanyaan penting yang bisa membuka kesadaran tentang bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari. Usia biologis kita bukan hanya ditentukan oleh waktu, tetapi oleh bagaimana kita menjaga tubuh dan pikiran kita. Jadi, meskipun angka di akta kelahiran anda tak bisa diubah, kualitas hidup anda bisa ditingkatkan. Tubuh anda bisa “lebih muda” dari umur anda, jika anda merawatnya dengan baik. Inilah mengapa memahami usia gerontologis sangat penting bagi siapa pun yang ingin menua dengan sehat, aktif, dan bahagia. Karena dalam penuaan, angka bukan segalanya—kualitaslah yang utama.[]

Berapa Usia Gerontologis Kita? Read More »