Mush’ab bin Umair, Pemuda Tajir yang Cinta Mati pada Islam

Di kota Mekah yang glamor, nama Mush’ab bin Umair dikenal luas. Ia bukan sembarang pemuda. Mush’ab adalah simbol kemewahan dan gaya hidup tinggi di kalangan Quraisy. Ia tampil elegan dengan pakaian berkelas dan wewangian mahal yang menyertainya ke mana pun ia pergi.
Namun, hidup tidak selamanya soal kemewahan. Di tengah kenikmatan itu, Mush’ab mendengar ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ. Ia penasaran, lalu mendalami. Dan saat yakin, ia mantap memeluk Islam. Keputusan ini mengubah segalanya.
Keislaman Mush’ab membuat keluarganya murka. Ibunya, seorang wanita terpandang dan keras hati, menolak mentah-mentah keyakinan baru anaknya. Ia bahkan mencabut seluruh fasilitas hidup Mush’ab, termasuk harta, tempat tinggal, dan dukungan sosial.
Namun, Mush’ab tidak goyah. Ia menerima kehilangan itu dengan lapang. Ia bahkan semakin teguh mendalami Islam. Ia sadar, kebenaran tidak selalu datang dengan kenyamanan. Justru, kebenaran sering menuntut pengorbanan.
Rasulullah ﷺ melihat potensi Mush’ab yang luar biasa. Karena itu, beliau mengutus Mush’ab ke Yatsrib—kota yang kelak dikenal sebagai Madinah. Mush’ab diberi tugas berat: menyebarkan Islam kepada penduduk setempat sebelum hijrah.
Tugas ini tidak ringan. Namun Mush’ab menjalaninya dengan penuh semangat. Ia tidak hanya berbicara, tapi juga memberi teladan melalui akhlaknya. Di sisi lain, penduduk Madinah perlahan luluh dengan kelembutan dan kebijaksanaannya.
Karena itu, banyak tokoh penting Madinah masuk Islam berkat dakwah Mush’ab. Ia sukses menjadi duta pertama Islam, tanpa pedang, tanpa paksaan. Hanya lewat perkataan dan perilaku. Inilah kekuatan sejatinya.
Ketika Perang Uhud meletus, Mush’ab turut bertempur. Ia memegang bendera Islam dengan tangan kokoh. Namun, ia gugur sebagai syuhada. Musuh menebas tubuhnya, dan ia jatuh dengan kehormatan.
Para sahabat menangis ketika menemukan jasad Mush’ab. Ia hanya memiliki satu lembar kain kafan. Jika ditutup bagian kepalanya, kakinya terbuka. Jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Itu sangat menyayat hati.
Rasulullah ﷺ pun terharu. Beliau menyaksikan langsung perubahan luar biasa pemuda yang dulu hidup dalam kemewahan. Sekarang, ia wafat dalam kesederhanaan dan penuh pengorbanan. Ini adalah bentuk cinta sejati pada agama.
Kisah Mush’ab memberi pelajaran penting. Harta dan status bisa sirna, tapi iman sejati akan tetap abadi. Di sisi lain, pengorbanan yang tulus pasti mendapat tempat di sisi Allah.
Banyak dari kita mengejar kenyamanan hidup. Tapi Mush’ab menunjukkan bahwa hidup mulia kadang butuh melepaskan semuanya. Ia tidak hanya berubah, tapi juga mengubah banyak orang.
Karena itu, kisah Mush’ab cocok dijadikan inspirasi generasi muda. Ia bukan hanya pahlawan, tapi simbol keteguhan iman dan keikhlasan. Sebuah contoh nyata bahwa keberanian bukan soal kekuatan, tapi soal pilihan.[]
Mush’ab bin Umair, Pemuda Tajir yang Cinta Mati pada Islam Read More »









