Sidoharjo: Desa Santri di Jantung Lampung Selatan

Jika ada yang bertanya, “Desa manakah di Indonesia yang layak disebut sebagai desa santri?” maka jawabannya tidak selalu harus dicari di jantung Pulau Jawa.
Selama ini, ketika istilah “desa santri” disebutkan, bayangan banyak orang langsung tertuju pada kawasan pedesaan di Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jawa Barat. Wilayah-wilayah ini memang dikenal dengan tradisi pesantren yang kuat dan kehidupan religius yang mengakar dalam masyarakatnya.
Gambaran tersebut terasa begitu dominan, seolah-olah hanya di Pulau Jawa-lah desa-desa religius dapat tumbuh dan berkembang.
Namun anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Di luar Pulau Jawa, tepatnya di bagian selatan Pulau Sumatera, terdapat sebuah desa yang mampu membalik stereotip tersebut.
Desa Sidoharjo di Lampung Selatan dikenal karena kehidupan keagamaannya yang hidup, keberadaan pesantren yang aktif, serta semangat religius yang meresap dalam keseharian warganya.
Desa ini menjadi bukti bahwa identitas “desa santri” tidak eksklusif milik Jawa.
Meski demikian, Pulau Jawa tetap menyimpan banyak desa yang layak menyandang predikat “desa santri.”
Salah satunya adalah Desa Kajen di Pati, Jawa Tengah. Desa ini dijuluki sebagai “desa seribu pesantren” dan menjadi tujuan ribuan santri dari berbagai penjuru nusantara. Tradisi keilmuan Islam tumbuh subur di sini, menjadikannya pusat pendidikan dan spiritualitas.
Lalu ada Desa Kalibeber di Wonosobo, Jawa Tengah. Desa ini mencerminkan keseimbangan antara pendidikan agama dan pemberdayaan ekonomi lokal melalui peran pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Asyariyyah.
Di Jawa Timur, Desa Ploso di Jombang menonjol karena keberadaan Pondok Pesantren Darul Ulum yang besar dan berpengaruh. Pesantren ini telah melahirkan banyak tokoh ulama dan cendekiawan Muslim.
Sementara itu, di Jawa Barat, Desa Cipasung di Tasikmalaya berdiri kokoh sebagai simbol pendidikan Islam. Pondok Pesantren Cipasung yang berdiri sejak 1931 telah menjadi motor penggerak kehidupan keislaman di kawasan Priangan Timur.
Kehadiran desa-desa ini menunjukkan bahwa sebutan “desa santri” bukan sekadar label. Ia adalah refleksi dari kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang tumbuh dari akar tradisi serta keteguhan iman masyarakatnya.
Di tengah semangat pembangunan yang terus bergerak di Kabupaten Lampung Selatan, saya menyaksikan sendiri bagaimana Desa Sidoharjo tumbuh tak hanya dalam fisik dan jumlah penduduk, tetapi juga dalam jati diri spiritualnya. Terletak di Kecamatan Jati Agung, desa ini bukan sekadar pemukiman yang berkembang, melainkan rumah bagi kehidupan religius yang terasa hangat dan menyatu dalam keseharian warganya.
Pada tanggal 24 hingga 28 Juni 2025, saya berkesempatan mengunjungi Desa Sidoharjo bersama keluarga kecil kami. Saat itu, kami mendampingi istri saya yang mengikuti yudisium dan wisuda di Universitas An Nur Lampung. Dalam suasana tersebut, saya menyempatkan diri melakukan observasi cepat dan beberapa wawancara singkat dengan warga setempat. Hasilnya sangat berkesan—dan jujur saja, cukup menginspirasi.
Data dari BPS tahun 2024 mencatat luas wilayah Desa Sidoharjo sekitar 6,10 km² dengan jumlah penduduk kurang lebih 3.300 jiwa. Namun angka ini hanya permukaan. Yang terasa lebih kuat justru identitas masyarakatnya sebagai komunitas santri—di mana ibadah, pengajian, dan obrolan bernuansa Islam menjadi nadi kehidupan mereka sehari-hari. Ini bukan hanya slogan, tetapi benar-benar tampak dalam gaya hidup warganya.
Salah satu hal pertama yang saya perhatikan adalah nuansa kesantrian yang begitu mencolok di desa ini. salah seorang warga, mengabarkan bahwa terdapat lima pondok pesantren di desa ini. Sejumlah anak muda, remaja, hingga orang dewasa tampak mengenakan sarung dan kopiah dalam aktivitas sehari-hari. Penampilan ini bukan formalitas keagamaan, melainkan bagian dari identitas sosial yang dijalani dengan kesadaran dan kebanggaan. Di sela-sela masjid dan halaman rumah warga, saya melihat anak-anak berjalan berkelompok sambil mengaji atau bercengkerama dalam bahasa yang akrab.
Pada malam pertama di desa ini, saat dini hari saya mendengar azan, lalu segera saya bergegas ke Masjid at Taqwa—nama salah satu masjid di tempat ini. Dalam Masjid saya melihat satu orang jamaah sedang melaksanakan sholat—sepertinya yang mengumandangkan azan. Tidak lama berselang menyusul 2 jamaah berikutnya. Setelah 15 menunggu, tidak ada tanda-tanda akan dilaksanakan sholat Subuh, dan jamaah tidak bertambah jumlahnya sebagaimana sholat Magrib dan Isya. Setelah saling mengonfirmasi ternyata waktu baru menunjukkan pukul 02.45 WIB. Dan azan yang dikumandangkan tadi ternyata adalah azan pertama atau azan fajar awal. Dalam tradisi Islam, khususnya yang mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, azan ini memang disyariatkan untuk membangunkan orang-orang yang ingin shalat malam dan mengingatkan waktu sahur bagi yang berpuasa.
Tak cukup sampai di situ, sekitar setengah jam sebelum azan subuh, kita akan mendengar pengantar berupa tadarus dan sholawat bersahut-sahutan—bukan rekaman. Sebuah suasana yang membingkai desa setiap hari. Ketika waktu subuh datang, nampak warga dari anak-anak hingga lansia datang memakmurkan masjid. Dan setelahnya, masih nampak anak-anak sibuk membaca Al-Qur’an dan menghafalnya.
Di luar pesantren, tercatat ada sekitar 11 lembaga pendidikan di desa ini. Beberapa di antaranya memang berorientasi keagamaan seperti MTSS Darul Munajah, MTSS Hidayatul Mubtadiin, MAS Hidayatul Mubtadiin, hingga Madrasah Tsanawiyah Sidoharjo. Artinya, pendidikan formal dan tradisional benar-benar berjalan berdampingan, menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berilmu dan beriman.
Aktivitas shalat berjamaah, pengajian rutin, tahsin Al-Qur’an, hingga madrasah diniyah untuk anak-anak berjalan aktif di sini. Di setiap dusun, juga terdapat mushola yang fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan interaksi sosial.
Ada satu hal menarik lainnya yang saya catat selama berada di sana: mayoritas warga Desa Sidoharjo adalah penutur bahasa Jawa. Ini memberi warna tersendiri dalam kehidupan sosial mereka. Selain itu, suasana agraris nampak kental di desa ini—singkong dan jagung menjadi salah satu komoditas andalan. Suasana desa yang rindang, menjadi salah satu pertanda kalau lahan agraris cukup subur di tempat ini.
Pemandangan lainnya, di desa ini, di setiap 2-3 rumah warga kita bisa melihat ada mobil yang diparkir di masing-masing halaman rumah. Sebuah pertanda jika pendapatan masyarakat di desa ini lumayan baik.
Inilah catatan singkat tentang Desa Sidoharjo. Berharap ke depan desa ini terus bertumbuh menjadi mapan dengan dukungan spiritualitas yang semakin matang. Tentu, sebuah perpaduan yang ‘ujungnya menjulang ke langit’ dan ‘akarnya menghujam ke bumi’. Semoga menjadi salah satu desa yang memberikan teladan untuk desa-desa lainnya. Wallahu ‘alam bissawab[]
Sidoharjo: Desa Santri di Jantung Lampung Selatan Read More »
