Lingkungan

Mikro Arus Berdampak Makro di Laut

Selama ini, para ilmuwan telah lama mempelajari arus laut besar yang terlihat jelas, tetapi arus kecil di bawahnya — yang disebut pusaran submesoskal — sering kali luput dari pengamatan. Ukurannya yang hanya beberapa kilometer hingga sekitar 100 kilometer membuatnya sulit dideteksi. Namun kini, dengan bantuan satelit terbaru bernama SWOT (Surface Water and Ocean Topography), misteri arus-arus laut kecil ini mulai terungkap. Data dari satelit ini menunjukkan bahwa arus kecil tersebut jauh lebih kuat dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.

Pusaran laut atau eddy bisa dibayangkan seperti pusaran air kecil di belakang batu di sungai, hanya saja ukurannya jauh lebih besar dan kompleks. Di laut, pusaran ini dapat membawa panas, energi, dan nutrisi ke seluruh dunia — peran penting yang berpengaruh besar terhadap iklim, cuaca, dan kehidupan laut. Namun, perhatian selama ini lebih banyak tertuju pada pusaran besar, sedangkan pusaran kecil justru merupakan “potongan puzzle” yang hilang dalam pemahaman sistem laut dunia.

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Jinbo Wang dari Departemen Oseanografi Universitas Texas A&M, bekerja sama dengan NASA, CNES (lembaga antariksa Prancis), dan Caltech, berhasil memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya tentang pusaran submesoskal. Satelit SWOT menggunakan teknologi radar canggih yang mampu mengukur tinggi permukaan laut dengan ketelitian hingga milimeter. Dengan alat ini, pola pusaran dan gelombang internal laut bisa terlihat jelas dari luar angkasa — sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Penemuan ini membawa kejutan besar. Ternyata, arus-arus kecil ini membawa energi dalam jumlah besar dan berperan penting dalam mengatur distribusi panas antara permukaan dan bagian laut yang lebih dalam. Ini artinya, mereka juga berpengaruh terhadap ekosistem laut, pembentukan badai, hingga fenomena cuaca besar seperti El Niño dan La Niña. Arus kecil ini bukan sekadar fitur laut biasa — mereka terkait langsung dengan sistem iklim yang memengaruhi kehidupan kita semua.

Sebelum peluncuran SWOT, banyak ilmuwan — termasuk Wang sendiri — tidak yakin bahwa satelit ini cukup sensitif untuk menangkap perubahan kecil di permukaan laut. Tapi hasilnya jauh melampaui harapan, bahkan empat kali lebih baik dari perkiraan awal. Temuan ini memperlihatkan betapa aktifnya gerakan laut kecil dalam mencampur air hangat dan dingin serta menyebarkan energi ke seluruh samudra. Dampaknya terasa langsung pada pola sirkulasi laut, cuaca global, dan tentu saja, prediksi iklim.

Keberhasilan ini bukan terjadi dalam semalam. Misi SWOT merupakan hasil kerja sama internasional selama lebih dari 20 tahun, dengan biaya sekitar satu miliar dolar. Banyak ilmuwan yang dulu merancang misi ini bahkan telah pensiun, namun warisan keilmuan mereka terus berlanjut. Universitas Texas A&M sendiri telah lama berinvestasi untuk mengembangkan riset satelit oseanografi dan iklim, termasuk dengan merekrut Wang sebagai bagian dari strategi jangka panjang mereka.

Kini, Wang juga memimpin kelompok kerja NASA yang fokus pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin untuk menganalisis data satelit yang terus berkembang. Tujuannya, agar misi-misi satelit ke depan bisa lebih efisien dan tepat sasaran.

Penelitian ini menjadi pengingat bahwa lautan masih menyimpan banyak rahasia. Dan dengan teknologi baru seperti SWOT, kita akhirnya punya “mata” untuk melihat apa yang selama ini tersembunyi di depan mata. Penelitian penting ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature pada edisi 17 April 2024, dan menjadi artikel utama yang tampil di sampul depan. Artikel ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi ilmiah jangka panjang dalam mengungkap aspek tersembunyi dari sistem Bumi.[]

Mikro Arus Berdampak Makro di Laut Read More »

Insinyur Mikrobioma Laut

Di kedalaman laut tropis, terdapat pemandangan unik yang menyerupai salon kecantikan bawah air. Di sana, ikan-ikan besar seperti antrean pelanggan menunggu giliran untuk dibersihkan oleh ikan-ikan kecil yang dikenal sebagai ikan pembersih. Salah satu yang paling terkenal adalah ikan gobi pembersih, ikan mungil seukuran jari kelingking dengan garis mencolok di tubuhnya. Mereka tidak hanya membersihkan sisik ikan lain dari parasit dan bakteri, tapi juga memberikan sentuhan menenangkan layaknya pijatan kecil. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa peran mereka mungkin jauh lebih besar: mereka bisa menjadi insinyur mikrobioma laut.

Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of California, Davis, bekerja sama dengan Woods Hole Oceanographic Institute dan University of Miami Rosenstiel School, menggali lebih dalam tentang dampak keberadaan ikan pembersih terhadap keanekaragaman mikroba di ekosistem terumbu karang. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Marine Ecology Progress Series pada Juni 2025. Para peneliti bertanya-tanya, apakah stasiun pembersih ini seperti klinik kesehatan yang bisa menyebarkan penyakit, atau justru pusat penyebaran mikroba yang menguntungkan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, para ilmuwan melakukan eksperimen di dua lokasi terumbu karang di Karibia, yaitu Puerto Rico dan St. Croix. Mereka secara sementara menghilangkan ikan gobi pembersih dari beberapa lokasi dan membandingkan komposisi mikroba dan kadar nutrisi di air dengan lokasi lain yang masih memiliki ikan pembersih. Penelitian ini juga memperhatikan ikan damselfish, pelanggan tetap dari para pembersih laut itu.

Hasilnya cukup menarik. Lokasi yang masih memiliki ikan pembersih cenderung lebih ramai dikunjungi oleh berbagai jenis ikan dibandingkan lokasi yang ikannya dihilangkan. Selain itu, perbedaan signifikan ditemukan dalam keragaman mikroba yang hidup di air di sekitar terumbu karang. Namun, para peneliti juga menemukan bahwa efek tersebut tidak selalu sama. Faktor seperti jenis substrat dan kondisi lingkungan terumbu turut memengaruhi bagaimana ikan pembersih membentuk komunitas mikroba di sekitarnya. Setiap terumbu karang memiliki “sidik jari mikroba” yang unik, dan keberadaan ikan pembersih tampaknya ikut andil dalam membentuknya.

Studi ini menyoroti bahwa meskipun ukurannya kecil, ikan pembersih memiliki dampak besar pada kesehatan dan keseimbangan lingkungan laut. Mereka bukan hanya pemakan parasit, tetapi juga berperan dalam menyebarkan atau bahkan mengatur mikroba yang ada di sekitar terumbu karang. Penelitian ini membuka jalan untuk memahami lebih lanjut bagaimana mikroorganisme berpindah dan berinteraksi dalam ekosistem laut yang kompleks. Hal ini penting, karena mikroba memainkan peran penting dalam fenomena seperti pemutihan karang yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.

Penelitian ini didukung oleh National Science Foundation, WHOI, serta lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi dari Portugal. Tim peneliti percaya bahwa dengan memahami lebih dalam peran ikan pembersih dalam ekosistem mikroba laut, kita bisa menemukan cara-cara baru untuk menjaga dan memulihkan kesehatan terumbu karang di seluruh dunia.[]

Insinyur Mikrobioma Laut Read More »

Rahasia Umur Panjang Centenarian Acciaroli

 

 

Sebuah desa kecil bernama Acciaroli di wilayah Cilento-Salerno, Italia selatan, telah menjadi perhatian dunia ilmiah karena jumlah penduduknya yang luar biasa banyak yang berusia lebih dari 100 tahun dan tetap sehat secara fisik maupun mental. Studi selama satu dekade yang dinamai Cilento Initiative on Aging Outcomes (CIAO) telah mengungkap sejumlah faktor yang diyakini berperan besar dalam umur panjang para centenarian—sebutan bagi mereka yang berusia lebih dari seabad—yang tinggal di wilayah ini. Penelitian ini dimulai sejak tahun 2015 dan disimpulkan dalam sebuah simposium ilmiah yang berlangsung pada 22-23 Mei 2025. Dalam simposium tersebut, para ilmuwan dari seluruh dunia berkumpul untuk membedah hasil studi ini yang luar biasa.

Hasil studi menunjukkan bahwa pola makan dan gaya hidup merupakan dua faktor utama yang paling konsisten dikaitkan dengan umur panjang. Hampir 90% centenarian di wilayah ini menjalani pola makan Mediterania, yaitu makanan yang kaya akan buah dan sayuran segar, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, minyak zaitun, serta konsumsi daging merah dalam jumlah sangat terbatas. Menurut Dr. Salvatore di Somma, peneliti utama dari Italia dalam studi ini dan pendiri Great Health Science, diet Mediterania bukan sekadar menu makanan, tetapi merupakan cara hidup yang memberikan dampak kesehatan yang nyata dalam jangka pendek maupun panjang. Dalam salah satu percobaan, hanya dalam enam hari setelah mengganti pola makan Eropa Utara dengan diet Mediterania, peserta studi mengalami peningkatan senyawa metabolit yang terkait dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, serta penurunan biomarker yang berkaitan dengan konsumsi daging merah.

Selain pola makan, gaya hidup para centenarian ini juga menunjukkan konsistensi luar biasa. Mereka secara rutin aktif secara fisik dan memiliki hubungan sosial yang erat dengan keluarga dan komunitas. Dr. Paola Antonini, kepala medis dan ilmiah di Great Health Science, menjelaskan bahwa banyak dari mereka tetap memiliki fungsi kognitif yang tajam, stabil secara emosional, serta memiliki daya tahan terhadap penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Mereka juga cenderung memiliki tingkat optimisme yang tinggi, kepribadian yang stabil, serta tujuan hidup yang jelas.

Penelitian CIAO juga menggali aspek biologis dengan teknologi canggih seperti epigenomik, metabolomik, dan analisis multi-omics. Salah satu temuan penting adalah bahwa sistem kekebalan tubuh para centenarian menunjukkan respons yang terkoordinasi dengan baik terhadap ancaman kesehatan. Peneliti dari UC San Diego, Dr. Allen Wang, menekankan pentingnya membaca tanda-tanda epigenetik untuk memahami bagaimana faktor lingkungan sepanjang hidup, termasuk diet dan gaya hidup, membentuk kesehatan di usia tua. Dalam analisis awal, ditemukan bahwa sel-sel imun seperti T-cell dan makrofag dari para centenarian memiliki regulasi sitokin yang efisien dan komunikasi yang aktif antar sel, sesuatu yang penting dalam mencegah peradangan kronis.

Studi ini juga menunjukkan bahwa secara biologis, para centenarian ini lebih muda dari usia kronologis mereka. Dengan menganalisis lebih dari 32.000 metabolit dari darah 128 centenarian dan 50 orang kontrol, para ilmuwan menemukan bahwa secara rata-rata, usia biologis para centenarian delapan tahun lebih muda dari usia mereka yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan kemampuan tubuh mereka dalam menjaga kesehatan sel dan organ lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain seusia mereka. Meski demikian, penelitian juga mencatat bahwa para centenarian ini memiliki kadar penanda peradangan yang tinggi, yang biasanya merupakan faktor risiko penyakit. Namun, tampaknya tubuh mereka juga menghasilkan zat anti-peradangan dalam jumlah tinggi yang menetralkan dampak negatif dari peradangan tersebut.

Aspek penting lainnya adalah sirkulasi darah mikro yang tetap baik pada usia tua. Para centenarian dari Cilento menunjukkan sirkulasi darah yang efisien, setara dengan orang yang usianya 30 tahun lebih muda. Kadar hormon bio-ADM (adrenomedulin) dalam darah mereka juga rendah, suatu indikator kesehatan pembuluh darah yang baik. Penelitian lanjutan bahkan mengindikasikan bahwa enzim PAM (dipeptidyl alpha amidating monooxygenase) bisa digunakan untuk meningkatkan kadar bio-ADM dan memperbaiki fungsi pembuluh darah, termasuk pada otak.

Efek positif dari pola hidup ini juga mulai diuji di tempat lain. Di Australia, seorang dokter bernama Robert Hetzel melakukan studi kecil terhadap 23 pasien berusia 55–79 tahun. Mereka diminta mengikuti lima kebiasaan sehat selama tiga tahun, yaitu mengadopsi diet Mediterania, olahraga setiap hari, tidur cukup, aktivitas kreatif yang menstimulasi otak, dan memperkuat hubungan sosial. Hasilnya memang belum konklusif karena jumlah peserta yang kecil, tetapi banyak dari mereka melaporkan penurunan berat badan, peningkatan kesehatan, dan suasana hati yang lebih baik.

Penelitian CIAO yang dipublikasikan oleh Sanford Burnham Prebys pada tanggal 11 Juni 2025 ini merupakan langkah besar dalam memahami rahasia umur panjang. Para peneliti kini berupaya menyatukan seluruh data biologis dan sosial yang telah dikumpulkan dengan bantuan kecerdasan buatan untuk menemukan formula baru dalam memperpanjang usia sehat manusia. Jika rahasia umur panjang benar-benar tersembunyi di darah, otak, dan minyak zaitun masyarakat Acciaroli, maka dunia punya banyak hal untuk dipelajari dari desa kecil ini.[]

Rahasia Umur Panjang Centenarian Acciaroli Read More »

Quo Vadis Maritime Center Wakatobi?

Jika anda berkunjung ke Marina Togo Mowondu dalam beberapa bulan terakhir, anda tentu akan melihat sebuah bangunan baru yang mencuri perhatian di tepian laut. Dengan desain modern yang berpadu dengan unsur-unsur lokal, bangunan itu kini berdiri sebagai ikon baru Kabupaten Wakatobi: Maritime Center Wakatobi. Tentu, bangunan ini bukan sekadar hiasan arsitektural. Ia seyogyanya hendak mencerminkan simbol arah pembangunan kelautan Wakatobi.

Bangunan tersebut merupakan bagian dari skema proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dan sebagai proyek nasional, tentu desain pemanfaatan bangunan ini telah dirancang secara matang sebelum fisiknya dibangun. Ini bukan sekadar gedung kosong atau papan nama tanpa makna—melainkan pusat kegiatan maritim yang tentunya diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi laut berbasis konservasi atau kepariwisataan.

Lebih dari itu, bangunan ini relevan dengan komitmen Kabupaten Wakatobi dalam mewujudkan visi RPJPD 2025–2045: “Wakatobi menjadi pusat ekonomi maritim yang Sentosa.” Dalam konteks ini, “Sentosa” mencakup kesejahteraan, kelestarian, keamanan, dan harmoni antara masyarakat dengan lautnya. Visi tersebut tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi arah pembangunan yang sedang diikhtiarkan secara bertahap dan sistematis, berlandaskan pada potensi nyata yang dimiliki Wakatobi sebagai daerah kepulauan dengan keunggulan ekologisnya.

Untuk memahami potensi dan arah pengembangan Maritime Center ini, penting mengacu pada beberapa teori dan praktik global tentang Maritime Center. Zhang, Lam, dan Li (2013) menjelaskan bahwa Maritime Center adalah kawasan strategis yang mengintegrasikan pelabuhan, logistik, industri maritim, jasa keuangan, pendidikan, dan riset dalam satu ekosistem. Tiga model utama dikenal dalam praktik global: pertama, Maritime Production Center, yang berfokus pada pelabuhan dan aktivitas industri; kedua, Maritime Service Center, yang menonjolkan jasa profesional seperti arbitrase, asuransi, dan shipbroking; dan ketiga, All-in-One Maritime Center, yang menggabungkan fungsi produksi dan layanan. Masing-masing model telah diterapkan oleh negara-negara maju.

Kita tentu tak berharap sebagaimana praktek Maritime Center di beberapa negara maju. Sebagai contoh, Singapura mengembangkan All-in-One Maritime Center yang mengintegrasikan pelabuhan kelas dunia, keuangan, logistik, dan inovasi teknologi maritim secara simultan (Qiu et al., 2022). Sementara itu, London tampil sebagai Maritime Service Center, unggul dalam bidang arbitrase hukum laut dan keuangan maritim (Gang, 2009). Shanghai membangun dirinya sebagai Maritime Knowledge Hub melalui investasi besar di bidang riset dan pelatihan maritim (Lie-hui, 2012). Di Korea Selatan, Busan menjadi pusat logistik dan keuangan pelabuhan dengan koneksi kuat ke akademisi dan inovasi teknologi kelautan (Yeandle, 2014).

Kabupaten Wakatobi, tentu memiliki pendekatan yang berbeda. Alih-alih meniru industrialisasi pelabuhan seperti Singapura, Wakatobi tentu relevan jika diarahkan sebagai eco-maritime center—yakni pusat ekonomi kelautan yang dibangun atas dasar konservasi, riset, pemberdayaan masyarakat, dan pariwisata bahari berkelanjutan. Keunggulan ekologis Wakatobi, sebagai bagian dari segitiga terumbu karang dunia, adalah modal yang tak dimiliki wilayah lain.

Tak hanya itu, jejaring transportasi laut antarpulau di Wakatobi telah lama tersedia dan siap dikembangkan. Konektivitas antara pulau-pulau besar seperti Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, serta akses reguler ke pelabuhan Baubau dan Kendari bahkan antarProvinsi, membentuk fondasi logistik laut yang sangat potensial. Yang dibutuhkan saat ini adalah optimalisasi: perbaikan atau peningkatan layanan pelabuhan, digitalisasi pelayaran, serta penyusunan sistem logistik laut berbasis kebutuhan lokal dan pariwisata.

Kemajuan lainnya adalah implementasi teknologi Automatic Identification System (AIS) yang telah dimanfaatkan oleh sejumlah nelayan lokal dengan branding WakatobiAIS, yang dikendalikan operasionalisasinya oleh Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK). Selain itu, ada Taman Nasional Wakatobi, Bidang Litbang Bappeda, Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi (ITBMW), AKKP Wakatobi yang merupakan stakeholders lokal yang bisa memberikan dukungan dalam mendukung sistem kerja yang disiapkan dan dilakukan oleh Maritime Center. Apatah lagi lembaga-lembaga tersebut telah memiliki jejaring kemitraan baik nasional maupun internasional—suatu langkah penting menuju penguatan kapasitas daerah sebagai simpul teknologi dan inovasi kelautan.

Dengan semua fondasi ini—visi daerah yang jelas, dukungan proyek nasional, konektivitas laut yang siap dikembangkan, teknologi yang sudah diterapkan, serta kolaborasi kelembagaan yang semakin solid—maka Maritime Center Wakatobi bukanlah menara gading. Ia adalah titik tolak mewujudkan tata kelola maritim yang visioner. Sebuah pusat yang kelak bisa digunakan untuk pelatihan, mungkin bagi pelaut, riset kelautan tropis, bazar hasil laut, forum kebijakan maritim, koleksi keanekaragaman hayati laut bahkan pertemuan internasional tentang konservasi, dan sebagainya.

Maka, jika suatu hari anda kembali ke Marina Togo Mowondu dan melihat bangunan itu penuh aktivitas—dari anak muda belajar tentang navigasi laut, nelayan berdiskusi tentang pasar hasil tangkapan, sampai peneliti asing mempelajari terumbu karang Wakatobi, dan sebagainya—saat itu anda akan menyaksikan Wakatobi bukan hanya menjaga laut, tapi mungkin tengah memimpin masa depan maritim Indonesia.

Sebaliknya, jika bangunan tersebut hanya menambah daftar bangunan yang tak berfungsi di Wakatobi, tentu adalah wajar jika kita menjadi kecewa, karena sejatinya pada bangunan tersebut kita tengah mengubur ide dan materi yang ‘diperas’ dari usaha dan harapan yang penting.[]

Daftar Referensi:
Gang, D. (2009). Exploration of the key initiatives driving London International Maritime Service Center.
Lie-hui, W. (2012). Research on global maritime knowledge hub—A case study of Shanghai.
Pullen, J., & Bruno, M. (2014). The Center for Secure and Resilient Maritime Commerce: A DHS National Center of Excellence in Maritime Security. In J. M. Scott (Ed.), Maritime security and technology (pp. 20–38). IGI Global. https://doi.org/10.4018/978-1-4666-5946-9.ch002
Qiu, W., Zhu, J., & Wang, X. (2022). An analysis of London and Shanghai as International Maritime Centres. In Proceedings of SPIE – The International Society for Optical Engineering (Vol. 12302, Paper 123024R). https://doi.org/10.1117/12.2645508
Yeandle, M., & Z/Yen Group. (2014). Maritime financial centres. Other Financial Economics eJournal.
Zhang, W., Lam, J. S. L., & Li, K. X. (2013). Business models for development of international maritime centre. International Journal of Shipping and Transport Logistics.

Quo Vadis Maritime Center Wakatobi? Read More »

Hotspot Keanekaragaman Hayati

Peneliti dari Universitas Reading dan Umeå University telah menemukan sebuah pola global yang mengejutkan: di mana pun di Bumi ini, kehidupan mengikuti aturan yang sama. Terlepas dari apakah makhluk hidup itu berupa pohon, capung, burung, atau ikan pari laut, semuanya cenderung berkelompok dalam wilayah kecil yang disebut “titik panas keanekaragaman hayati”, lalu menyebar secara perlahan ke wilayah sekitarnya—namun semakin jauh, semakin sedikit spesies yang bisa bertahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dunia sebenarnya tidak tersebar secara acak, melainkan sangat terorganisir mengikuti pola tertentu. Wilayah-wilayah inti ini—yang menjadi tempat konsentrasi kehidupan tertinggi—memberikan kondisi lingkungan paling ideal bagi spesies untuk berkembang dan bertahan. Dari sinilah kehidupan menyebar, meskipun tidak semua spesies mampu bertahan di luar zona inti tersebut.

Peneliti utama Rubén Bernardo-Madrid dari Umeå University menyatakan bahwa pola ini berlaku di setiap wilayah geografis besar (bioregion) di dunia. Menurutnya, inti wilayah keanekaragaman hayati ini menjadi sumber utama penyebaran spesies, semacam “jantung kehidupan” yang memancarkan keberagaman ke seluruh penjuru wilayah.

Studi ini mencakup berbagai kelompok makhluk hidup yang sangat berbeda gaya hidupnya—dari amfibi, burung, reptil, mamalia, pohon, hingga ikan pari laut. Meskipun sangat berbeda, mereka semua mengikuti pola yang sama. Artinya, ada satu prinsip umum yang mendasari cara kehidupan tersusun di Bumi.

Prinsip itu disebut “penyaringan lingkungan” (environmental filtering)—sebuah konsep bahwa hanya spesies yang mampu bertahan dalam kondisi tertentu (seperti suhu ekstrem, kekeringan, atau salinitas tinggi) yang bisa hidup di suatu tempat. Dan ini berlaku di seluruh planet. Apa pun bentuk ancamannya—panas, dingin, atau kekeringan—hanya spesies yang kuatlah yang bertahan. Inilah yang menciptakan distribusi kehidupan yang bisa diprediksi.

Para ilmuwan menilai temuan ini sangat penting. Dengan memahami aturan ini, kita bisa memprediksi bagaimana kehidupan akan bereaksi terhadap perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati di masa depan. Dan karena zona inti ini memainkan peran sangat besar dalam menjaga keanekaragaman hayati seluruh wilayah, melindungi wilayah-wilayah ini harus menjadi prioritas utama konservasi global.

Ulasan ini didasarkan pada penelitian yang dipublikasikan pada 4 Juni 2025 dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. Studi ini merupakan kolaborasi antara Umeå University (Swedia), University of Reading (Inggris), dan institusi lainnya seperti Estación Biológica de Doñana-CSIC (Spanyol) serta Rey Juan Carlos University (Spanyol). Para peneliti menelusuri data dari berbagai wilayah ekologi global dan membandingkan distribusi spesies dari banyak cabang kehidupan. Studi ini memberikan bukti kuat bahwa ada pola universal dalam penyebaran makhluk hidup di Bumi.[]

Hotspot Keanekaragaman Hayati Read More »

Tanpa Kepercayaan Publik, Kebijakan Iklim Tak Akan Pernah Berhasil

Salah satu kesalahan terbesar dalam perumusan kebijakan iklim adalah terlalu fokus pada teknologi dan ekonomi, sementara suara masyarakat justru sering diabaikan. Akibatnya, banyak kebijakan ambisius yang gagal mendapat dukungan publik, dan ini bisa menjadi hambatan serius dalam upaya menghadapi krisis iklim.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Vincent de Gooyert dan timnya dari Radboud University Nijmegen mengungkap bahwa kebijakan iklim di Eropa saat ini lebih menekankan pada solusi teknis seperti teknologi penangkap dan penyimpan karbon (CCS), tanpa mempertimbangkan bahwa masyarakat juga perlu merasa dilibatkan dan dipercaya. Padahal, CCS adalah teknologi penting untuk mencapai target iklim, tetapi perkembangannya terhambat karena tidak ada pihak yang benar-benar mau mengambil langkah pertama. Industri meminta subsidi, pemerintah menunggu dukungan publik, dan masyarakat justru ingin industri menunjukkan komitmen lebih dulu. Alhasil, semua pihak saling menunggu dan kebijakan tidak bergerak.

Kebijakan yang efektif memerlukan lebih dari sekadar teknologi dan insentif ekonomi. Dukungan publik adalah fondasi utama. Menurut para peneliti, masyarakat tidak cukup hanya diberi informasi, tetapi juga perlu ruang untuk menyampaikan pandangan dan ikut serta dalam pengambilan keputusan. Komunikasi satu arah justru bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan perasaan bahwa kebijakan dipaksakan dari atas.

Solusi yang ditawarkan termasuk membentuk dewan penasihat ilmiah independen dan dewan warga (citizens’ councils), di mana masyarakat bisa berdiskusi secara terbuka, mendapatkan informasi yang jujur, dan memahami pilihan-pilihan sulit yang dihadapi. Dalam proses ini, baik pemerintah maupun industri harus mau berkorban demi membangun kepercayaan. Tanpa pendekatan baru ini, kebijakan iklim akan terus terjebak di tempat, sementara waktu untuk bertindak semakin menipis.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Radboud University Nijmegen, Belanda, yang terdiri dari Vincent de Gooyert, Senni Määttä, Sandrino Smeets, dan Heleen de Coninck. Artikel ini dipublikasikan pada tanggal 27 Mei 2025 dalam jurnal Earth System Governance. Studi ini berdasarkan pengalaman langsung para peneliti dalam memfasilitasi dialog antara pemerintah, masyarakat, industri, dan organisasi lingkungan di berbagai negara Eropa seperti Finlandia, Swedia, Spanyol, dan Belgia. Temuan mereka menekankan bahwa kepercayaan dan partisipasi publik adalah kunci utama dalam merancang kebijakan iklim yang berhasil.[]

Tanpa Kepercayaan Publik, Kebijakan Iklim Tak Akan Pernah Berhasil Read More »

Manusia di Balik Titik Balik Global Ketiga

Selama puluhan juta tahun, herbivora besar seperti mastodon, rusa raksasa, dan nenek moyang gajah modern telah menjadi arsitek utama lanskap Bumi. Mereka merumput, merobek tumbuhan, dan membuka jalur yang memengaruhi kehidupan makhluk lain. Menakjubkannya, meskipun kelompok-kelompok ini mengalami kepunahan berulang kali, jaringan ekologis yang mereka bentuk tetap bertahan teguh—hingga sekarang.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa hanya dua peristiwa besar dalam 60 juta tahun terakhir yang benar-benar mengguncang komunitas herbivora besar. Yang pertama terjadi sekitar 21 juta tahun lalu ketika terbentuk jembatan darat antara Afrika dan Eurasia, yang memungkinkan terjadinya migrasi besar-besaran antarspesies seperti gajah, babi, rusa, dan badak. Yang kedua terjadi sekitar 10 juta tahun lalu ketika iklim Bumi menjadi lebih kering dan lebih dingin. Perubahan ini memunculkan padang rumput luas, menghilangkan hutan, dan menyebabkan punahnya banyak spesies penghuni hutan. Namun, meski banyak spesies hilang, struktur ekologi komunitas tetap utuh. Spesies baru menggantikan peran lama, menjaga keseimbangan fungsi dalam ekosistem, seperti tim sepak bola yang mengganti pemain tapi tetap memakai formasi yang sama.

Sayangnya, pola ketahanan ini kini menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya: manusia. Aktivitas manusia seperti perusakan habitat, perburuan, dan perubahan iklim yang sangat cepat mengancam kemampuan ekosistem untuk menyesuaikan diri. Jika kehilangan spesies dan peran ekologis terus terjadi dalam tempo yang tinggi, sistem alami ini bisa kolaps. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kita mungkin sedang menuju titik balik global ketiga, kali ini bukan karena alam, tetapi karena ulah manusia sendiri.

Temuan ini berasal dari studi internasional yang dipimpin oleh peneliti dari University of Gothenburg, berdasarkan analisis fosil lebih dari 3.000 herbivora besar yang hidup selama 60 juta tahun terakhir. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada tanggal 9 Juni 2025.[]

Manusia di Balik Titik Balik Global Ketiga Read More »

Molekul Super – Itaconate

Para ilmuwan menemukan bahwa sebuah molekul yang dikenal dalam sistem kekebalan hewan, yaitu itaconate, ternyata juga memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman. Penemuan ini membuka kemungkinan baru dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman pangan secara alami dan berkelanjutan. Dalam studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari University of California San Diego, mereka membuktikan bahwa itaconate tidak hanya ada di dalam sel tumbuhan, tetapi juga mampu merangsang pertumbuhan tanaman, seperti menjadikan bibit jagung tumbuh lebih tinggi. Ini merupakan temuan mengejutkan karena selama ini itaconate lebih dikenal sebagai senyawa pelindung dalam tubuh hewan terhadap virus dan peradangan.

Dengan menggunakan teknik pencitraan kimia dan spektrometri massa, para ilmuwan mendeteksi keberadaan itaconate di dalam sel tumbuhan, khususnya pada bagian-bagian yang sedang tumbuh. Mereka menyiram tanaman jagung dengan larutan yang mengandung itaconate dan mengamati bahwa bibit-bibit tersebut tumbuh lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak diberi perlakuan. Hal ini mendorong penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana molekul ini bekerja bersama protein tumbuhan dan apa saja dampak positifnya.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara UC San Diego, Stanford University, Peking University, Carnegie Institute of Science, dan Universidad Nacional Autónoma de México. Mereka menemukan bahwa itaconate berperan dalam berbagai proses penting dalam tubuh tanaman, termasuk metabolisme dasar dan respons terhadap stres oksigen. Temuan ini memberikan harapan bahwa manfaat alami dari itaconate bisa menjadi alternatif pengganti bahan kimia sintetis dalam meningkatkan hasil pertanian dengan cara yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Selain berdampak pada pertumbuhan tanaman, penelitian ini juga memberikan wawasan baru dalam hubungan antara biologi tumbuhan dan hewan. Karena manusia juga memproduksi itaconate, pemahaman yang lebih dalam mengenai molekul ini dapat membuka jalan untuk penemuan baru dalam ilmu kesehatan manusia. Dengan pendekatan yang terinspirasi dari alam, para peneliti berharap penemuan ini dapat diterapkan untuk meningkatkan pertanian sekaligus memperluas pemahaman kita tentang kesehatan secara menyeluruh.[]

Molekul Super – Itaconate Read More »

Virus Raksasa di Laut Bisa Kendalikan Fotosintesis dan Picu Ledakan Alga

Para ilmuwan dari University of Miami telah menemukan lebih dari 230 jenis virus raksasa baru yang hidup di lautan. Penemuan ini mengejutkan karena virus-virus ini tidak hanya besar dan kompleks, tapi juga punya kemampuan unik: mereka bisa membajak proses fotosintesis pada alga laut. Fotosintesis adalah proses penting di mana alga mengubah cahaya matahari menjadi energi, yang juga menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida dari udara. Ketika virus-virus ini menginfeksi alga, mereka dapat mengubah cara alga berfotosintesis, bahkan membuat alga berkembang biak secara tak terkendali. Akibatnya, bisa terjadi ledakan populasi alga atau algal bloom yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

Penelitian ini dipublikasikan pada 21 April 2025 di jurnal ilmiah Nature npj Viruses. Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan teknologi superkomputer dan alat baru bernama BEREN untuk memindai jutaan data DNA dari laut yang tersedia secara publik. Hasilnya, mereka menemukan ratusan genom virus raksasa yang sebelumnya belum pernah diketahui. Di dalam genom tersebut, ditemukan lebih dari 500 protein baru, termasuk sembilan protein yang terlibat dalam fotosintesis—hal yang sebelumnya hanya ditemukan pada tumbuhan dan mikroorganisme.

Menurut para ilmuwan, virus-virus ini berperan besar dalam ekosistem laut karena mereka menyerang organisme mikroskopis seperti alga dan plankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan laut. Ketika alga mati karena serangan virus, mereka melepaskan nutrisi yang memengaruhi seluruh kehidupan laut di sekitarnya. Selain itu, fungsi-fungsi unik dalam virus ini bisa memiliki manfaat lain di masa depan, seperti digunakan dalam bioteknologi untuk membuat enzim baru.

Sebelumnya, virus-virus raksasa ini sulit terdeteksi karena keterbatasan teknologi. Namun, dengan alat BEREN dan bantuan superkomputer Pegasus di University of Miami, para peneliti berhasil mengumpulkan dan menganalisis data dari sembilan proyek riset laut global yang mencakup lautan dari kutub utara hingga selatan. Penemuan ini membuka pintu bagi pemantauan kesehatan laut yang lebih akurat di masa depan, termasuk dalam mendeteksi polusi dan virus-virus baru yang mungkin muncul di perairan dunia.[]

Virus Raksasa di Laut Bisa Kendalikan Fotosintesis dan Picu Ledakan Alga Read More »

Lumut dalam Perencanaan Kota

Lumut, tanaman kecil hijau yang sering kita temui di tembok lembap atau pinggir jalan, ternyata punya potensi besar untuk membuat kota menjadi lebih bersih, sejuk, dan ramah lingkungan. Dalam dunia perencanaan kota modern, lumut kini mulai dilirik sebagai solusi hijau yang murah, efisien, dan alami.

Lumut bisa menyerap polusi udara seperti logam berat dan debu halus. Teknologi “dinding lumut” bahkan sedang dikembangkan sebagai sistem penyaring udara di kota-kota padat penduduk (Inelova et al., 2022; Ernwein & Palmer, 2024). Lumut juga dapat digunakan di atap dan dinding bangunan sebagai bagian dari “green roofing” untuk menyerap panas dan menurunkan suhu sekitar (Marsaglia et al., 2023).

Selain itu, lumut bisa dijadikan “sensor alami” untuk mendeteksi keberadaan logam berat dan polutan di udara kota (Chaudhuri & Roy, 2023; Sfetsas et al., 2024).

Lumut dapat ditempel di dinding gedung sebagai elemen estetika dan penyaring udara. Pada atap bangunan, lumut cocok digunakan karena ringan, tahan panas, dan bisa tumbuh hanya dengan air hujan (Marttinen et al., 2020). Bahkan inovasi seperti “moss concrete” sedang dikembangkan untuk menciptakan beton yang bisa ditumbuhi lumut dan menyerap CO₂ tanpa perawatan tambahan (Qureshi et al., 2025; Veeger et al., 2025).

Beberapa kota yang telah menerapkan lumut dalam perencanaannya antara lain Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag di Belanda. Di sana, para peneliti mengkaji spesies lumut terbaik untuk menempel di beton dan digunakan di bangunan ramah lingkungan (Veeger et al., 2025). Di Seattle, Amerika Serikat, lumut digunakan sebagai alat pemantauan logam berat di udara untuk mendukung kebijakan keadilan lingkungan (Jovan et al., 2022). Di Pakistan, arsitek mulai menerapkan beton bioresptif berbasis lumut untuk melawan smog musiman yang parah setiap tahunnya (Qureshi et al., 2025). Sementara di Thessaloniki, Yunani, lumut digunakan untuk memetakan polusi logam berat di berbagai zona aktivitas kota (Sfetsas et al., 2024).

Lumut bukan hanya tanaman liar tak berguna. Dengan desain dan perencanaan yang tepat, lumut dapat menjadi solusi alami, murah, dan efisien untuk membuat kota lebih sehat, sejuk, dan bersih.[]

Referensi:

Chaudhuri, S., & Roy, M. (2023). Global ambient air quality monitoring: Can mosses help? A systematic meta-analysis of literature about passive moss biomonitoring. Environment, Development and Sustainability. https://doi.org/10.1007/s10668-023-03043-0.
Ernwein, M., & Palmer, J. (2024). Making the mos(s)t of nature? Cleantech, smart nature-based solutions, and the ‘rendering investable’ of urban moss. Environment and Planning E: Nature and Space. https://doi.org/10.1177/25148486241295950.
Inelova, Z., Yermekov, A., & Yedilkhan, D. (2022). Usage and features of cultivation of sphagnum moss in a biotechnological system for natural filtration, purification of air in urban conditions. Bulletin of the Karaganda University: Biology, Medicine, Geography Series, 3, 67–77. https://doi.org/10.31489/2022bmg3/67-77.
Jovan, S., Zuidema, C., Derrien, M. M., Bidwell, A., Brinkley, W., Smith, R. J., … & Abel, T. D. (2022). Heavy metals in moss guide environmental justice investigation: A case study using community science in Seattle, WA, USA. bioRxiv. https://doi.org/10.1101/2022.04.20.488941.
Marsaglia, V., Brusa, G., & Paoletti, I. (2023). Moss as a multifunctional material for technological greenery systems. The Plan Journal. https://doi.org/10.15274/tpj.2023.08.01.3.
Marttinen, E. M., Niemikapee, J., Laaka‐Lindberg, S., & Valkonen, J. (2020). Fungal pathogens infecting moss green roofs in Finland. Urban Forestry & Urban Greening. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2020.126812.
Qureshi, A., Malik, U. M., Riaz, K., & Ramzan, Z. (2025). Mitigating smog, a new challenge to Pakistan and the applications of bio-receptive materials, moss concrete an architect’s perspective. Social Sciences Spectrum. https://doi.org/10.71085/sss.04.01.209.
Sfetsas, T., Ghoghoberidze, S., Karnoutsos, P., Tziakas, V., Karagiovanidis, M., & Katsantonis, D. (2024). Spatial and temporal patterns of trace element deposition in urban Thessaloniki: A Syntrichia moss biomonitoring study. Atmosphere. https://doi.org/10.3390/atmos15111378.
Veeger, M., Veenendaal, E. M., Limpens, J., Ottelé, M., & Jonkers, H. M. (2025). Moss species for bioreceptive concrete: A survey of epilithic urban moss communities and their dynamics. Ecological Engineering. https://doi.org/10.1016/j.ecoleng.2024.107502.

Lumut dalam Perencanaan Kota Read More »