Lingkungan

Badai Petir, Ancaman Baru untuk Hutan Tropis

Pohon-pohon di hutan tropis kini mengalami kematian massal dengan laju yang mengkhawatirkan, dan penyebabnya bukan hanya pemanasan global atau kekeringan. Para ilmuwan menemukan fakta mengejutkan: badai petir biasa, yang sering diabaikan, menjadi salah satu pemicu utama matinya pohon-pohon besar di hutan hujan. Badai-badai ini, meskipun singkat, membawa angin kencang dan petir yang mampu merobohkan pohon-pohon besar hanya dalam hitungan menit.

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Evan Gora, seorang ahli ekologi hutan dari Cary Institute of Ecosystem Studies, menunjukkan bahwa badai petir yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim bisa menjadi penyebab utama meningkatnya kematian pohon tropis. Bahkan, di beberapa wilayah, badai petir mungkin bertanggung jawab atas 30 hingga 60 persen kematian pohon, sebuah angka yang jauh lebih tinggi dari dugaan sebelumnya.

Badai ini bukan jenis topan besar atau siklon, melainkan badai konvektif biasa yang sering kali berlangsung singkat namun sangat kuat. Dengan kilat menyambar dan angin menghantam, badai ini menghancurkan kanopi hutan, menjatuhkan ranting, daun, bahkan batang pohon raksasa. Sayangnya, ancaman ini selama ini nyaris tak masuk hitungan dalam penelitian tentang hutan atau model iklim global.

Rubio, rekan Gora yang juga peneliti hutan, menggambarkan pengalaman berada di tengah badai tropis sebagai peristiwa yang tak terlupakan—udara yang tiba-tiba berubah, langit menghitam, dan badai menerjang dengan hebatnya. Namun selama ini, badai dianggap lebih sebagai gangguan lapangan ketimbang faktor utama kematian pohon.

Setelah menganalisis ulang berbagai data sebelumnya, tim peneliti menemukan bahwa badai bisa menjelaskan pola kematian pohon dan penurunan cadangan karbon di hutan tropis dengan tingkat akurasi yang serupa, bahkan lebih baik daripada kekeringan dan suhu tinggi. Tambahan data badai juga mengubah kesimpulan dari studi terdahulu mengenai hubungan antara suhu ekstrem dan kehilangan karbon—ternyata badai memainkan peran tersembunyi yang sangat signifikan.

Kenyataannya, badai dan kekeringan sering terjadi bersamaan. Di wilayah Amazon selatan, misalnya, badai petir sangat aktif sementara tekanan air juga tinggi. Di sinilah perubahan iklim memberi dampak yang paling ekstrem.

Ironisnya, dalam berbagai kebijakan iklim global, ancaman badai konvektif kecil ini nyaris tak disebutkan. Ian McGregor, salah satu penulis studi, mengaku tak pernah mendengar badai ini disebut dalam kuliah atau buku-buku akademik tentang iklim. Padahal, dengan dampaknya yang sangat besar terhadap pohon dan penyimpanan karbon, badai ini seharusnya masuk dalam model iklim masa depan.

Salah satu alasan badai selama ini diabaikan adalah karena sulitnya memantau dampaknya secara menyeluruh. Data suhu dan curah hujan bisa dicatat lewat stasiun cuaca, sementara kerusakan akibat badai jauh lebih lokal, tak mudah terdeteksi dari satelit, dan memerlukan pengamatan langsung dalam skala besar.

Untuk mengatasi tantangan itu, proyek Gigante—yang dipimpin oleh Gora bersama Adriane Esquivel-Muelbert dari University of Birmingham—menggunakan teknologi seperti pelacak petir, drone, dan pengamat lapangan. Kombinasi alat ini memungkinkan mereka memetakan kapan dan di mana pohon-pohon mati, serta spesies mana yang paling rentan terhadap badai.

Pemahaman mendalam tentang penyebab kematian pohon tropis sangat penting untuk keberhasilan program konservasi dan restorasi hutan jangka panjang. Jika kita salah menentukan spesies yang cocok ditanam karena tak memahami ancaman sebenarnya, maka hasil dari reboisasi baru akan gagal terlihat puluhan tahun kemudian.

Namun, jika kita mulai melihat hutan secara lebih menyeluruh—memahami bahwa badai, bukan hanya kekeringan atau suhu tinggi, bisa membunuh pohon-pohon besar—maka strategi pelestarian dan pengelolaan hutan akan menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan untuk masa depan planet ini.[]

Badai Petir, Ancaman Baru untuk Hutan Tropis Read More »

Produksi Energi Terbarukan Tidak Serta Merta Mengurangi Produksi Energi Fosil di Amerika

Penambahan kapasitas energi terbarukan di Amerika Serikat ternyata tidak secara otomatis menurunkan produksi bahan bakar fosil. Temuan ini berasal dari sebuah studi yang dilakukan oleh Ryan Thombs, asisten profesor sosiologi pedesaan dari Penn State University.

Dalam riset yang dipublikasikan di Journal of Environmental Studies and Sciences pada 20 Mei 2025, Thombs menganalisis data produksi energi dari 33 negara bagian penghasil bahan bakar fosil di AS, mencakup periode antara tahun 1997 hingga 2020. Amerika sendiri adalah penghasil energi dan pengemisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia.

Hasilnya cukup mengejutkan. Thombs tidak menemukan hubungan langsung antara peningkatan energi terbarukan dan penurunan produksi bahan bakar fosil. Ini berarti bahwa meningkatnya energi dari sumber terbarukan seperti matahari, angin, dan air belum tentu menggantikan energi dari batu bara, minyak bumi, atau gas alam.

Faktor-faktor tetap seperti ketersediaan cadangan bahan bakar fosil di tiap negara bagian ternyata menjelaskan lebih dari 96% variasi dalam produksi energi fosil. Artinya, negara bagian dengan cadangan fosil besar tetap cenderung terus memproduksi bahan bakar tersebut, terlepas dari seberapa banyak mereka berinvestasi dalam energi terbarukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa upaya transisi energi membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih tegas dan terfokus. Menurut Thombs, hanya mengandalkan pertumbuhan energi terbarukan belum cukup. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan tambahan yang secara langsung membatasi produksi bahan bakar fosil. Contohnya termasuk pajak karbon, batasan produksi, dan kebijakan untuk tidak mengeksplorasi cadangan fosil tertentu.

Fakta bahwa bahan bakar fosil menjadi penyumbang lebih dari 75% emisi gas rumah kaca dan hampir 90% emisi karbon dioksida, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, membuat peralihan ini semakin mendesak. Meskipun investasi dalam energi terbarukan terus meningkat dan kini mencakup porsi terbesar dalam proyek energi baru, peralihan tersebut belum sepenuhnya menggantikan energi fosil.

Studi ini menggunakan pendekatan analisis data yang kuat dan mencakup produksi energi per kapita dari berbagai jenis bahan bakar, termasuk energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, biomassa, dan biofuel, serta bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam.

Thombs mengakui bahwa hasil ini mungkin terbatas hanya pada konteks Amerika Serikat dan periode waktu yang diteliti. Namun, ia menyarankan agar penelitian serupa dilakukan di negara lain dan dalam konteks kebijakan berbeda, untuk mengetahui apakah temuan ini berlaku secara global.

Ia menambahkan, ada kemungkinan energi terbarukan akan mulai menggantikan bahan bakar fosil jika terjadi perubahan besar dalam sistem politik dan ekonomi, terutama jika didorong oleh regulasi negara bagian. Namun, transisi ini akan terhambat jika energi fosil dan terbarukan sama-sama tersedia melimpah di suatu wilayah, seperti yang terjadi di banyak negara bagian penghasil energi di AS.[]

Produksi Energi Terbarukan Tidak Serta Merta Mengurangi Produksi Energi Fosil di Amerika Read More »

Islam & Eco-Arsitektural

Dalam rentang sejarah umat manusia, kota-kota besar dibangun demi pertahanan, perdagangan, dan kemajuan teknologi. Namun tidak semua peradaban merancang kotanya dengan mempertimbangkan makhluk tak bersuara seperti hewan. Di tengah ketimpangan prioritas ini, peradaban Islam justru menghadirkan wajah kota yang berbeda—kota yang bukan hanya ramah bagi manusia, tetapi juga penuh kasih sayang terhadap hewan. Prinsip rahmah, atau kasih sayang dalam Islam, bukan hanya nilai spiritual, melainkan diwujudkan secara nyata dalam desain arsitektur dan kebijakan sosial.

Sejak masa Kekhilafahan Rasyidah (632–661 M), meski belum banyak struktur monumental, tata kelola masyarakat sudah mencerminkan kepedulian terhadap hewan. Khalifah Umar bin Khattab dikenal tegas dalam menegur siapa pun yang memperlakukan hewan secara semena-mena. Dalam sebuah riwayat, ia memarahi seorang pejabat karena memaksa hewan bekerja tanpa istirahat. Nilai keadilan dan kasih sayang terhadap semua makhluk menjadi fondasi moral masyarakat Muslim, bahkan sebelum lahirnya bentuk-bentuk arsitektur yang kompleks.

Pada era Kekhilafahan Umayyah (661–750 M), kota seperti Damaskus mulai berkembang pesat. Meski bukti arsitektur yang spesifik untuk hewan belum banyak ditemukan, nilai etika terhadap makhluk hidup tetap hidup dalam praktik masyarakat sehari-hari, terutama dalam pertanian dan perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran ekologis sudah tumbuh sejak dini, meski belum tampak dominan secara visual.

Peningkatan yang signifikan terjadi pada masa Kekhilafahan Abbasiyah (750–1258 M). Di Baghdad, yang menjadi pusat ilmu dan budaya, fasilitas publik seperti tempat teduh dan penyediaan air untuk hewan di pasar mulai diperhatikan. Selain itu, berkembang pula ilmu kedokteran hewan dan zoologi. Ilmuwan seperti Al-Jahiz menulis tentang perilaku hewan, dan Ibn al-Baitar mengembangkan pengobatan untuk binatang. Di sini terlihat bahwa etika dan ilmu pengetahuan berjalan seiring.

Puncak perhatian arsitektural terhadap hewan terjadi di masa Dinasti Mamluk (1250–1517 M) dan lebih spektakuler lagi pada masa Kekhilafahan Utsmaniyah (1299–1924 M). Di Kairo, air mancur umum (sabil) dilengkapi dengan saluran air (hawd) khusus untuk hewan seperti keledai dan anjing liar. Di Istanbul, praktik ini dikembangkan menjadi sistem yang lebih kompleks melalui wakaf. Wakaf tidak hanya membiayai masjid atau madrasah, tetapi juga mendanai pembangunan rumah-rumah kecil, tempat makan, dan perlindungan bagi kucing jalanan. Kucing dihormati dalam budaya Islam, dan hal ini tercermin dalam arsitektur kota yang menyediakan celah, jendela kecil, dan area teduh untuk mereka.

Yang paling unik dan belum tertandingi oleh peradaban lain adalah kuş evleri, rumah-rumah kecil berukir indah yang dibangun untuk burung. Terpasang di dinding luar masjid, madrasah, dan bangunan umum, struktur ini bukan hanya simbol estetika, tetapi juga wujud nyata kepedulian terhadap burung-burung liar. Sementara itu, di Mesir dan Persia, menara merpati dibangun bukan hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai sumber pupuk alami—menggabungkan nilai ekologis dan kasih sayang dalam satu bangunan.

Sebagai pembanding, peradaban lain juga memiliki relasi dengan burung, namun dengan pendekatan yang berbeda. Di Romawi Kuno, bangunan yang disebut dovecote digunakan untuk beternak burung merpati sebagai sumber daging, komunikasi, dan pupuk. Fungsinya lebih pragmatis daripada etis. Di Eropa abad pertengahan, khususnya Prancis dan Inggris, menara merpati hanya boleh dimiliki oleh kaum bangsawan sebagai simbol status. Burung dijadikan simbol kekuasaan, bukan makhluk yang layak dilindungi karena belas kasih.

Di Tiongkok Kuno, taman-taman istana memang dirancang alami dan menarik burung seperti bangau, tetapi tidak ditemukan struktur khusus untuk kenyamanan burung liar. Di Jepang, arsitektur kuil Shinto menghargai harmoni dengan alam, namun tetap tidak ada struktur fisik seperti rumah burung yang dibangun permanen untuk perlindungan atau makanan mereka.

Bandingkan dengan peradaban Islam, khususnya era Utsmaniyah, di mana rumah burung dibangun secara sistematis, berornamen indah, dan diposisikan sebagai bagian dari ibadah melalui wakaf. Di sinilah letak keunggulan peradaban Islam—yaitu mewujudkan kasih sayang sebagai prinsip spiritual dalam bentuk fisik yang nyata dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, keberadaan karavanserai di sepanjang Jalur Sutra juga menjadi bukti nyata kepedulian Islam terhadap hewan pengangkut. Karavanserai menyediakan kandang nyaman, tempat makan, ventilasi, serta sistem pembuangan limbah khusus untuk hewan. Semua ini adalah bagian dari desain standar, bukan pelengkap belaka.

Nilai rahmah dalam Islam bukan sekadar wacana spiritual, tapi menjadi sistem sosial dan arsitektural. Kisah Nabi Muhammad SAW memperkuat etika ini—tentang wanita yang masuk neraka karena menelantarkan kucing, dan tentang pelacur yang diampuni karena memberi minum seekor anjing. Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa peradaban dinilai bukan hanya dari kemegahan bangunannya, tetapi dari belas kasih yang diwujudkan kepada makhluk yang paling lemah sekalipun.

Hingga hari ini, warisan itu masih hidup. Di kota-kota modern Turki, tersedia dispenser makanan dan air untuk kucing dan anjing liar di sudut-sudut jalan. Ini bukan hanya inovasi kontemporer, tetapi perpanjangan nilai lama yang telah hidup berabad-abad lamanya.

Dalam dunia modern yang sedang menghadapi krisis lingkungan dan kepunahan spesies, pelajaran dari Islam klasik menjadi sangat relevan. Kota masa depan tidak cukup hanya canggih—ia harus juga welas asih. Peradaban Islam telah menunjukkan bahwa mungkin untuk membangun ruang yang beradab bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi burung yang terbang dan kucing yang berkeliaran.

Kasih sayang bukan hanya bisa mengubah hati, tetapi juga mengubah kota. Ketika nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam desain, maka lahirlah kota yang tidak hanya indah, tetapi juga menghidupi semua makhluk. Inilah wajah peradaban Islam yang paling hakiki: rahmat bagi seluruh alam, bukan dalam teori, tapi dalam arsitektur yang berbicara.[]

Islam & Eco-Arsitektural Read More »

Mengapa Polusi Tetap Tinggi Meski Emisi Menurun?

Selama beberapa dekade terakhir, dunia telah berupaya mengurangi emisi polutan, namun kualitas udara belum membaik secepat yang diharapkan. Sebuah studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Hokkaido, Jepang, mengungkap alasan mengapa kadar nitrat di atmosfer tetap tinggi, meski emisi penyebabnya sudah berkurang sejak tahun 1990-an. Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 3 Juni 2025, dan memberikan wawasan penting tentang dinamika kimia di udara serta dampaknya terhadap perubahan iklim.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menyoroti bahwa nitrat, salah satu polutan utama di atmosfer, masih banyak ditemukan meski emisi prekursor nitrat—zat yang membentuk nitrat—telah berkurang secara signifikan. Nitrat sendiri bisa berbentuk gas maupun partikel. Nitrat dalam bentuk gas lebih mudah menghilang dari udara, tetapi dalam bentuk partikel, terutama partikel halus, zat ini bisa bertahan lebih lama dan menyebar jauh dari sumbernya. Inilah yang menyebabkan nitrat tetap berada di atmosfer dalam jangka panjang.

Para peneliti menemukan bahwa ada “efek penyangga” yang terjadi di atmosfer. Efek ini membuat nitrat gas berubah menjadi partikel, sehingga memperpanjang masa tinggalnya di udara. Bahkan, di tempat-tempat yang jauh dari sumber polusi, seperti Kutub Utara, peneliti tetap menemukan endapan nitrat yang tinggi dalam inti es. Ini menandakan bahwa zat tersebut dibawa dari tempat lain oleh angin dan proses atmosfer lainnya, bukan berasal dari aktivitas lokal.

Untuk menelusuri sejarah keberadaan nitrat di atmosfer, tim yang dipimpin oleh Profesor Yoshinori Iizuka dari Institut Ilmu Suhu Rendah Universitas Hokkaido, menganalisis inti es dari Greenland tenggara. Mereka mencatat bahwa kadar nitrat meningkat sejak tahun 1850-an, memuncak antara 1970 hingga 2000, lalu sedikit menurun namun tetap tinggi hingga kini. Penurunan ini jauh lebih lambat dibanding penurunan emisi prekursor nitrat, menandakan bahwa faktor lain turut memengaruhi.

Dengan menggunakan model transportasi kimia global, para peneliti menemukan bahwa perbedaan antara kadar nitrat dan prekursornya berkorelasi dengan tingkat keasaman atmosfer. Artinya, bukan suhu udara atau kondisi cuaca yang membuat nitrat bertahan di atmosfer, tetapi proses kimia yang mengubah bentuknya menjadi partikel. Keasaman udara yang meningkat menyebabkan nitrat lebih banyak berubah menjadi bentuk partikel, sehingga lebih sulit hilang dan lebih mudah menyebar.

Penelitian ini juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya, data akurat tentang nitrat partikel dalam inti es berhasil dikumpulkan. Menurut Iizuka, ini adalah pencapaian penting karena selama ini sangat sulit mendapatkan data semacam itu. Data ini bisa membantu memperkirakan seberapa besar pemanasan di Kutub Utara akan meningkat akibat peran nitrat sebagai aerosol utama yang menggantikan sulfat di masa depan.

Dengan kata lain, walaupun emisi sudah ditekan, nitrat tetap menjadi ancaman bagi kualitas udara dan iklim global karena kemampuannya bertahan lama di atmosfer. Studi ini memperingatkan bahwa ke depannya, prediksi perubahan iklim di kawasan Arktik harus mempertimbangkan peran nitrat secara lebih serius. Pemahaman terhadap proses kimia di udara menjadi kunci untuk mengembangkan kebijakan lingkungan yang lebih efektif.[]

Mengapa Polusi Tetap Tinggi Meski Emisi Menurun? Read More »

Bumi Pernah Gagal Bernapas, Kini Kita Sedang Mempercepatnya

Lebih dari 300 juta tahun yang lalu, Bumi pernah mengalami bencana besar yang memengaruhi kehidupan di lautan. Saat itu, terjadi lonjakan besar karbon dioksida yang dilepaskan secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi raksasa. Lonjakan karbon ini menyebabkan laut kehilangan oksigen secara drastis, sehingga banyak makhluk laut yang tidak bisa bertahan hidup.

Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari University of California Davis, Chinese Academy of Sciences, dan Texas A&M University berhasil mengungkap lima peristiwa besar yang disebut sebagai “sendawa karbon” purba. Peristiwa ini menyebabkan lautan kekurangan oksigen hingga 4% sampai 12%. Penemuan ini didapatkan dengan menggabungkan analisis sedimen dasar laut dan pemodelan iklim menggunakan superkomputer.

Yang membuat para ilmuwan khawatir, laju kenaikan karbon dioksida pada masa kini akibat ulah manusia terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sendawa karbon di masa purba. Jika di masa lalu lonjakan ini berlangsung ratusan ribu tahun, kini manusia melepaskan karbon dalam jumlah serupa hanya dalam beberapa abad. Kondisi ini tentu menjadi ancaman besar bagi laut dan seluruh makhluk yang bergantung padanya.

Para peneliti menggali inti sedimen dari formasi geologi bernama Naqing di Tiongkok Selatan. Inti sedimen ini menjadi saksi bisu kondisi Bumi 310 hingga 290 juta tahun lalu. Dari hasil analisis sedimen tersebut, ditemukan jejak lonjakan karbon dioksida yang bersamaan dengan perubahan tanda isotop uranium di lautan.

Dengan memanfaatkan data geokimia ini, para ilmuwan menjalankan model iklim canggih di superkomputer. Model ini mereka jalankan ratusan ribu kali untuk mendapatkan gambaran paling realistis tentang kondisi iklim purba. Hasilnya menunjukkan lima kali terjadinya penurunan kadar oksigen laut yang bertepatan dengan lonjakan karbon dioksida.

Lima peristiwa sendawa karbon tersebut terjadi pada waktu yang berbeda. Peristiwa pertama berlangsung sekitar 310 juta tahun lalu, pada awal masa Pennsylvanian. Peristiwa kedua terjadi sekitar 307 juta tahun lalu, saat Bumi mengalami aktivitas vulkanik besar. Peristiwa ketiga terjadi 304 juta tahun lalu dan menurunkan oksigen laut hingga sekitar 8%.

Peristiwa keempat berlangsung sekitar 297 juta tahun lalu. Saat itu, penurunan oksigen laut mendekati 10%, menyebabkan gangguan besar pada kehidupan laut. Peristiwa kelima terjadi 290 juta tahun lalu dan menjadi yang terpanjang durasinya. Peristiwa ini diduga sangat memengaruhi ekosistem pesisir.

Menariknya, meskipun pada masa itu Bumi memiliki kadar oksigen atmosfer 40% hingga 50% lebih tinggi dibandingkan saat ini, lautan tetap bisa mengalami anoksia atau kekurangan oksigen. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kondisi lebih buruk sangat mungkin terjadi pada masa kini akibat emisi karbon dari aktivitas manusia.

Menurut para ilmuwan, jika peristiwa seperti itu terjadi lagi saat ini, yang pertama terdampak adalah wilayah pesisir. Padahal, wilayah ini kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi tumpuan hidup jutaan orang. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem laut terhadap perubahan iklim.

Para peneliti juga menekankan bahwa lonjakan karbon purba tersebut tidak ada yang terjadi secepat lonjakan karbon yang sedang terjadi sekarang. Sumber karbon di masa lalu berasal dari alam, seperti letusan gunung berapi, sedangkan sekarang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.

Profesor Isabel Montañez dari University of California Davis mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang ini ibarat “sendawa karbon” yang dibuat manusia, namun dengan kecepatan dua hingga tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan peristiwa purba. Ini jelas menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan ekosistem laut.

Dampak dari sendawa karbon purba itu terlihat jelas dalam catatan geologi. Setiap kali peristiwa ini terjadi, perkembangan keanekaragaman hayati laut seakan berhenti. Meski tidak selalu diikuti kepunahan massal, kehidupan laut sangat tertekan selama masa anoksia tersebut.

Para peneliti menekankan bahwa pelajaran dari masa lalu ini seharusnya membuka mata kita. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena kondisi Bumi kini berbeda dari jutaan tahun lalu. Justru dengan perubahan yang lebih cepat, risikonya bisa lebih parah.

Studi ini juga menjadi bukti bahwa laut sangat sensitif terhadap perubahan kadar karbon dioksida di atmosfer. Karbon yang kita lepaskan hari ini bisa memicu bencana yang efeknya bertahan selama ribuan tahun ke depan.

Penelitian penting ini diterbitkan pada 23 Juni 2025 dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi ini mendapat dukungan dari National Natural Science Foundation of China dan U.S. National Science Foundation.

Pesan utama dari penelitian ini adalah kita harus segera mengurangi emisi karbon dioksida. Jika tidak, laut kita bisa kembali kehilangan oksigen dan menyebabkan runtuhnya ekosistem laut seperti yang pernah terjadi di masa purba.[]

Bumi Pernah Gagal Bernapas, Kini Kita Sedang Mempercepatnya Read More »

Daur Ulang Plastik Ternyata Berbahaya

Sebuah penelitian baru yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Gothenburg dan Helmholtz Centre for Environmental Research di Leipzig mengungkap fakta mengejutkan: satu butir plastik daur ulang bisa mengandung lebih dari 80 jenis zat kimia berbeda. Butiran plastik ini, jika direndam dalam air selama 48 jam, melepaskan campuran zat kimia yang dapat mengganggu hormon dan metabolisme lemak pada larva ikan zebra. Hal ini mengkhawatirkan karena bahan-bahan berbahaya ini bisa mengganggu kesehatan makhluk hidup di air dan berisiko mencemari lingkungan kita.

Para peneliti membeli butiran plastik daur ulang berbahan polietilena dari berbagai negara, lalu melakukan uji perendaman dan mengekspos larva ikan zebra selama lima hari. Hasilnya, larva tersebut mengalami perubahan pada gen yang mengatur metabolisme lemak dan sistem hormon. Perubahan ini dikhawatirkan bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan pertumbuhan ikan tersebut. Menurut Azora König Kardgar, peneliti utama dari Universitas Gothenburg, temuan ini menjadi bukti tambahan bahwa bahan kimia dalam plastik punya potensi membahayakan organisme hidup, meski waktu paparan sangat singkat.

Lebih mengkhawatirkan lagi, para ilmuwan menemukan bahwa kandungan kimia dalam butiran plastik berbeda-beda antara satu sampel dan sampel lainnya. Beberapa di antaranya adalah bahan tambahan plastik seperti penstabil UV dan pelunak plastik. Bahkan, ada juga zat yang seharusnya tidak ada dalam plastik, misalnya pestisida, obat-obatan, dan pembasmi kuman. Hal ini menunjukkan bahwa plastik yang didaur ulang bisa tercemar zat kimia sejak pertama kali digunakan.

Profesor Bethanie Carney Almroth, peneliti senior dalam proyek ini, menjelaskan bahwa masalah terbesar dalam mendaur ulang plastik adalah kita tidak pernah benar-benar tahu bahan kimia apa saja yang ada di dalam produk plastik daur ulang. Campuran zat kimia ini bisa menjadikan plastik hasil daur ulang berbahaya dan beracun. Oleh sebab itu, para peneliti mendesak agar perundingan global untuk Perjanjian Plastik Dunia di bawah naungan Program Lingkungan PBB yang akan digelar di Jenewa pada Agustus 2025 benar-benar mempertimbangkan larangan atau pembatasan bahan kimia berbahaya dalam plastik. Tanpa langkah nyata ini, plastik tidak mungkin bisa didaur ulang dengan aman dan ramah lingkungan.

Polietilena sendiri adalah jenis plastik yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari seperti tutup botol, kantong plastik, kabel, pipa, tali, mainan, dan perlengkapan rumah tangga. Plastik ini biasanya diberi kode daur ulang nomor 2 atau 4.

Penelitian ini dipublikasikan oleh University of Gothenburg pada 23 Juni 2025, dan menjadi peringatan serius akan bahaya tersembunyi dari plastik daur ulang yang selama ini dianggap solusi ramah lingkungan.[]

Daur Ulang Plastik Ternyata Berbahaya Read More »

Kapitalis di Balik Habisnya Kuota Deforestasi di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan salah satu tutupan hutan tropis terbesar di dunia, rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna. Namun kini, keberadaan hutan-hutan tersebut menghadapi ancaman serius. Kuota deforestasi nasional yang ditetapkan untuk mendukung komitmen iklim global ternyata sudah habis, bahkan terlampaui, jauh sebelum tenggat waktu yang direncanakan.

Berdasarkan dokumen resmi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, luas deforestasi Indonesia hingga 2019 telah mencapai 4,8 juta hektare. Angka ini melampaui target pengurangan deforestasi sebesar 4,22 juta hektare yang seharusnya dicapai hingga tahun 2030. Dengan kata lain, Indonesia telah melewati batas kuota sebesar 577 ribu hektare lebih banyak dari yang diperbolehkan.

Situasi ini menjadi peringatan keras bagi upaya pengendalian perubahan iklim yang selama ini digadang-gadang pemerintah. Sektor kehutanan, yang menjadi pilar utama pengurangan emisi karbon nasional, kini justru berada dalam tekanan berat akibat maraknya pembukaan lahan hutan alam, baik secara legal maupun ilegal.

Kuota deforestasi sendiri sebenarnya merupakan batas maksimal konversi hutan alam yang diperbolehkan. Batas ini dirumuskan dalam kerangka komitmen nasional dan internasional, termasuk dalam Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC) Indonesia. Dalam dokumen ENDC, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% dengan upaya sendiri.

Target penurunan emisi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan sektor kehutanan menahan laju deforestasi. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan deforestasi terus terjadi. Bahkan, proyek-proyek besar yang sejatinya bertujuan mulia, seperti program food estate, justru berpotensi memperparah situasi ini.

Program food estate yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional memang menjadi prioritas pemerintah. Namun, pelaksanaannya kerap menuai kritik, terutama karena banyak proyek food estate yang berada di kawasan hutan adat, seperti di Merauke, Papua Selatan. Hal ini menambah beban pada ekosistem hutan yang sudah kritis.

Di balik program-program tersebut, jejak kepentingan kapitalis sangat terasa. Perusahaan-perusahaan besar di bidang perkebunan, tambang, dan kayu sering kali menjadi pemain utama yang mendorong pembukaan hutan atas nama pembangunan. Mereka memanfaatkan celah kebijakan, lemahnya pengawasan, dan sering kali mendapatkan perlindungan dari elite politik.

Selain food estate, faktor lain penyumbang deforestasi adalah lemahnya penegakan hukum terhadap pembukaan lahan ilegal. Kebakaran hutan yang disebabkan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar juga turut memperparah kondisi hutan Indonesia. Dalam banyak kasus, pelaku pembakaran tidak tersentuh hukum atau hanya dikenai sanksi ringan.

Dampak deforestasi ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional. Hilangnya hutan tropis Indonesia berkontribusi langsung pada meningkatnya emisi karbon dunia. Padahal, hutan tropis Indonesia berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Upaya restorasi ekosistem seperti gambut dan mangrove memang telah dilakukan pemerintah. Namun, upaya ini menghadapi tantangan besar. Proses restorasi membutuhkan waktu yang sangat lama, dan sering kali hasilnya tidak mampu mengembalikan fungsi ekologis hutan secara utuh. Kerusakan yang telah terjadi pada ekosistem hutan kerap bersifat permanen.

Untuk mengatasi situasi ini, moratorium izin baru pada kawasan hutan primer dan lahan gambut perlu diperkuat dan diperluas. Kebijakan moratorium selama ini terbukti mampu menahan laju deforestasi di beberapa wilayah, meskipun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala teknis dan politik.

Selain moratorium, transparansi dalam tata kelola hutan harus menjadi prioritas. Pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis satelit perlu ditingkatkan, agar pembukaan lahan ilegal dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti. Data pemantauan ini juga harus dibuka untuk publik agar masyarakat dapat turut mengawasi.

Penting juga untuk menempatkan masyarakat adat dan pemilik hutan tradisional sebagai bagian dari solusi. Selama ini, mereka justru sering menjadi korban pembangunan. Padahal, kearifan lokal yang mereka miliki sering kali terbukti efektif dalam menjaga kelestarian hutan dan sumber daya alam.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci penting untuk mengatasi deforestasi. Pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan lestari bukan hanya menguntungkan dari sisi lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mereka. Hutan adat yang dikelola dengan baik akan memberikan manfaat ekonomi tanpa harus merusak ekosistem.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program pembangunan yang selama ini berdampak pada hutan. Program food estate, misalnya, harus dikaji ulang agar tidak menjadi dalih baru bagi pembukaan hutan alam. Perlu pendekatan inovatif untuk menciptakan ketahanan pangan tanpa merusak lingkungan.

Peran dunia usaha tidak bisa dikesampingkan dalam upaya menghentikan deforestasi. Perusahaan-perusahaan besar harus diminta berkomitmen secara nyata pada prinsip pembangunan berkelanjutan. Pengawasan dan sanksi terhadap pelanggaran harus ditegakkan tanpa kompromi, agar kepentingan kapitalis tidak terus menggerogoti hutan Indonesia.

Situasi kuota deforestasi yang telah habis ini adalah alarm keras bagi Indonesia. Jika tidak segera diambil langkah-langkah konkret, maka peluang Indonesia untuk memenuhi komitmen iklimnya akan semakin kecil. Lebih dari itu, generasi mendatang akan mewarisi bumi yang rusak dan penuh bencana ekologis.

Kini, pilihan ada di tangan kita semua. Apakah Indonesia akan terus melaju di jalur deforestasi yang didorong oleh kepentingan kapitalis, atau berbalik arah menuju pembangunan yang benar-benar berkelanjutan? Masa depan hutan Indonesia, dan iklim dunia, sangat bergantung pada langkah yang diambil hari ini.[]

Kapitalis di Balik Habisnya Kuota Deforestasi di Indonesia Read More »

Bahan Bangunan Hidup yang Mampu Menyerap CO₂ dari Udara

Para ilmuwan dari ETH Zurich berhasil mengembangkan bahan bangunan revolusioner yang tidak hanya hidup tetapi juga mampu menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara. Bahan ini berupa gel cetak yang mengandung bakteri kuno bernama sianobakteri. Dengan bantuan sinar matahari, bakteri ini melakukan fotosintesis untuk menghasilkan biomassa sekaligus memicu pembentukan mineral yang mengurung karbon dalam bentuk stabil. Bahan ini dirancang dengan hidrogel yang mendukung kehidupan mikroba di dalamnya dan mampu bertahan lebih dari setahun. Menariknya lagi, bahan inovatif ini sudah digunakan dalam instalasi arsitektur di Venesia dan Milan, yang menggabungkan desain, keberlanjutan, dan ilmu pengetahuan hidup dalam satu wujud nyata.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Mark Tibbitt dari ETH Zurich memadukan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan bahan bangunan hidup ini. Mereka berhasil memasukkan sianobakteri ke dalam gel yang bisa dicetak menggunakan printer 3D. Hasilnya adalah bahan yang hidup, tumbuh, dan aktif menyerap CO₂ dari udara. Bahan ini hanya membutuhkan sinar matahari, air laut buatan, dan nutrisi sederhana agar bisa terus berkembang. Bahkan, bahan ini mampu menyerap CO₂ dalam jumlah dua kali lipat dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pertumbuhan organiknya, karena karbon juga dikurung dalam bentuk mineral.

Sianobakteri dikenal sebagai salah satu makhluk hidup tertua di bumi yang sangat efisien dalam berfotosintesis, bahkan dengan cahaya yang sangat lemah. Selain menghasilkan biomassa, bakteri ini mengubah lingkungan kimia di sekitarnya sehingga membentuk karbonat padat seperti kapur. Karbonat ini mengunci CO₂ dalam bentuk yang jauh lebih stabil dibandingkan biomassa. Dalam uji laboratorium, bahan ini bisa menyerap sekitar 26 miligram CO₂ per gram bahan selama 400 hari, sebagian besar dalam bentuk mineral.

Hidrogel yang digunakan sebagai media hidup bakteri ini memungkinkan cahaya, air, karbon dioksida, dan nutrisi mengalir dengan baik, sehingga bakteri dapat tumbuh merata di dalam bahan. Bentuk struktur bahan ini juga dirancang agar permukaannya luas, cahaya mudah masuk, dan nutrisi tersebar merata. Dengan desain ini, bakteri tetap hidup dan aktif selama lebih dari setahun.

Para peneliti memandang bahan bangunan hidup ini sebagai cara baru yang ramah lingkungan untuk membantu mengurangi CO₂ di atmosfer. Ke depannya, bahan ini diharapkan bisa digunakan sebagai pelapis dinding gedung sehingga bisa menyerap CO₂ sepanjang usia bangunan. Saat ini, konsep ini telah diujicoba dalam bentuk instalasi di pameran arsitektur dunia. Di Paviliun Kanada di Venesia, struktur setinggi tiga meter dari bahan ini mampu menyerap CO₂ setara dengan pohon pinus berusia 20 tahun. Sementara di Milan, instalasi bernama Dafne’s Skin menunjukkan bagaimana mikroorganisme bisa memperindah sekaligus menyehatkan bangunan dengan mengikat CO₂.

Penelitian ini merupakan bagian dari program ALIVE (Advanced Engineering with Living Materials) di ETH Zurich yang mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk mengembangkan bahan hidup untuk berbagai keperluan. Hasil riset ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 21 Juni 2025.[]

Bahan Bangunan Hidup yang Mampu Menyerap CO₂ dari Udara Read More »

Mengapa Gunung Api Tiba-Tiba Meletus Tanpa Tanda?

Beberapa gunung api bisa meletus secara tiba-tiba tanpa memberikan tanda-tanda yang jelas sebelumnya. Fenomena ini tentu sangat berbahaya, apalagi jika gunung tersebut berada dekat dengan pemukiman atau jalur penerbangan. Salah satu contohnya adalah Gunung Veniaminof di Alaska. Meskipun sudah dipantau ketat, gunung ini tetap bisa meletus tanpa diduga. Baru-baru ini, para ilmuwan dari University of Illinois mengembangkan sebuah model ilmiah untuk memahami bagaimana letusan yang diam-diam ini bisa terjadi, dan hasilnya membuka banyak wawasan baru.

Biasanya, tanda-tanda gunung akan meletus bisa dikenali dari gempa bumi kecil atau perubahan permukaan tanah akibat magma dan gas yang naik ke atas. Tapi pada kasus seperti Veniaminof, tanda-tanda ini sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Peneliti utama, Dr. Yuyu Li, menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti aliran magma yang lambat, ruang magma yang kecil, serta batuan di sekitar ruang magma yang hangat, bisa membuat letusan tampak “sembunyi”. Mereka menyebut fenomena ini sebagai stealth eruption atau letusan diam-diam.

Gunung Veniaminof adalah gunung berselimut es yang terletak di Busur Aleutian, Alaska. Meskipun dikenal aktif, dari 13 letusan sejak 1993, hanya dua yang terdeteksi sebelum benar-benar terjadi. Bahkan letusan pada tahun 2021 baru diketahui tiga hari setelah dimulai. Melalui pemodelan berdasarkan data pemantauan tiga musim panas sebelum letusan besar tahun 2018, tim peneliti membuat simulasi tentang perilaku magma di dalam ruang bawah tanah gunung. Mereka mencoba berbagai skenario dengan ukuran ruang magma yang berbeda, tingkat aliran magma, dan bentuk ruang yang beragam.

Hasil dari model tersebut menunjukkan bahwa ketika aliran magma masuk ke ruang kecil secara perlahan, maka kemungkinan besar letusannya tidak akan memberi tanda apa-apa terlebih dahulu. Hal ini berbeda jika aliran magma deras dan ruangnya besar—meski letusan mungkin tidak terjadi, tetapi deformasi tanah akan terlihat dan bisa dijadikan peringatan. Tapi dalam kondisi diam-diam seperti Veniaminof, deformasi tanah dan gempa sangat kecil sehingga sulit terdeteksi.

Yang mengejutkan lagi, ketika faktor suhu dimasukkan ke dalam model, hasilnya semakin jelas: jika batuan ruang magma tetap hangat karena selalu dialiri magma dalam jangka waktu lama, maka tanah di sekitarnya menjadi lebih lentur dan tidak mudah retak. Akibatnya, sinyal seperti gempa dan perubahan bentuk tanah pun nyaris tidak ada. Dengan kata lain, kehangatan batuan membuat letusan makin tersembunyi.

Untuk mengatasi bahaya dari letusan seperti ini, para ilmuwan menyarankan agar sistem pemantauan ditingkatkan dengan alat presisi tinggi seperti tilt meter bawah tanah, strainmeter, serat optik, hingga pemantauan gas dan suara bawah tanah (infrasound). Teknologi kecerdasan buatan juga dianggap punya potensi besar dalam mengenali perubahan kecil dalam perilaku gunung api yang sulit dideteksi oleh manusia secara langsung.

Di masa depan, pendekatan seperti ini akan membantu kita untuk lebih siap menghadapi ancaman dari gunung-gunung api diam-diam. Terutama yang punya ruang magma kecil, dalam, dan hangat dengan aliran magma yang lambat — inilah gunung-gunung yang patut diawasi lebih ketat demi keselamatan banyak orang.[]

Mengapa Gunung Api Tiba-Tiba Meletus Tanpa Tanda? Read More »

Gula Laut Teripang Berpotensi Menghentikan Penyebaran Kanker

Teripang selama ini dikenal sebagai “petugas kebersihan” laut karena perannya dalam membersihkan dasar laut dan mengembalikan nutrisi ke dalam ekosistem laut. Namun, siapa sangka bahwa hewan laut yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia pengobatan kanker? Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Universitas Mississippi menemukan bahwa teripang mengandung senyawa gula unik yang mampu menghambat enzim Sulf-2 — enzim yang diketahui membantu penyebaran sel kanker dalam tubuh manusia.

Enzim Sulf-2 ini bekerja dengan memodifikasi struktur glikan, yakni rambut-rambut halus yang menyelimuti permukaan sel dan berperan penting dalam komunikasi antar sel serta sistem imun. Pada sel kanker, enzim ini membuat perubahan pada glikan sehingga kanker bisa berkembang dan menyebar. Para peneliti menemukan bahwa senyawa gula bernama fucosylated chondroitin sulfate yang berasal dari spesies teripang Holothuria floridana bisa secara efektif menghambat enzim tersebut, yang berarti berpotensi memperlambat atau bahkan menghentikan penyebaran kanker.

Berbeda dari obat-obatan penghambat Sulf-2 lainnya yang bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah, senyawa dari teripang ini tidak memiliki efek samping seperti itu. Ini menjadikannya lebih aman dan menjanjikan untuk dikembangkan sebagai terapi kanker berbasis laut. Bahkan dari segi produksi, senyawa alami dari laut cenderung lebih bersih dan berisiko rendah dalam hal penularan virus, dibandingkan dengan senyawa berbasis hewan darat seperti babi.

Namun, tantangan berikutnya adalah produksi senyawa ini dalam skala besar. Jumlah teripang di alam tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi, dan oleh karena itu para ilmuwan kini berupaya untuk menciptakan senyawa ini secara sintetis di laboratorium. Jika berhasil, penelitian ini dapat membuka jalan baru dalam pengobatan kanker yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Glycobiology edisi Juni 2025 dan dipimpin oleh Marwa Farrag bersama tim peneliti dari Universitas Mississippi dan Universitas Georgetown. Dukungan penelitian ini berasal dari sejumlah hibah bergengsi termasuk dari National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat. Temuan ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama lintas disiplin dalam mengatasi penyakit kompleks seperti kanker, karena penelitian ini melibatkan ahli dari bidang biokimia, farmasi, biologi komputasi, hingga spektrometri massa.[]

Gula Laut Teripang Berpotensi Menghentikan Penyebaran Kanker Read More »