Lingkungan

Perubahan Iklim: Sayuran Segar Tanpa Gizi

Perubahan iklim kini tidak hanya memengaruhi cuaca, tapi juga kandungan gizi dari makanan yang kita konsumsi setiap hari. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa tanaman seperti bayam, kale, dan rocket memang tumbuh lebih cepat akibat meningkatnya karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Namun, di balik itu semua, ada bahaya tersembunyi yang mengancam: tanaman ini jadi kurang bergizi.

Penelitian ini dilakukan oleh Jiata Ugwah Ekele, seorang mahasiswa doktoral dari Liverpool John Moores University di Inggris. Ia dan timnya meneliti dampak kombinasi suhu tinggi dan kadar CO2 tinggi terhadap tanaman pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Hasilnya cukup mengkhawatirkan, karena kualitas gizi dari tanaman tersebut justru menurun.

Selama ini, banyak riset hanya fokus pada seberapa banyak hasil panen yang bisa diperoleh dari pertanian di tengah perubahan iklim. Padahal, seberapa besar hasil panen menjadi kurang berarti jika nilai gizinya rendah. Penelitian Ekele berusaha menggali lebih dalam, bukan sekadar kuantitas, tetapi kualitas dari makanan yang kita makan.

Melalui serangkaian percobaan di laboratorium, tanaman ditanam di ruangan yang dikendalikan suhunya. Simulasi ini menggambarkan kondisi iklim masa depan di Inggris. Dalam kondisi ini, tanaman memang tumbuh lebih cepat dan lebih besar. Namun, itu tidak berarti tanaman menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi.

Tim peneliti menggunakan metode canggih seperti kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) dan profil fluoresensi sinar-X untuk menganalisis kandungan zat gizi di dalam tanaman. Mereka mengukur kadar gula, protein, vitamin, senyawa antioksidan, dan mineral penting lainnya.

Hasil awal menunjukkan bahwa CO2 yang lebih tinggi membuat tanaman menyerap lebih banyak gula, sehingga rasanya mungkin jadi sedikit lebih manis. Namun sayangnya, kandungan protein dan mineral seperti kalsium menurun cukup signifikan. Ini menjadi perhatian besar karena nutrisi-nutrisi tersebut sangat penting untuk menjaga sistem imun dan metabolisme tubuh manusia.

Yang lebih parah, saat suhu tinggi digabungkan dengan kadar CO2 tinggi, efeknya menjadi semakin kompleks dan merugikan. Tanaman tidak hanya tumbuh lebih cepat, tetapi juga semakin miskin kandungan gizinya. Kombinasi ini menyebabkan penurunan kualitas yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hanya satu faktor saja.

Beragam jenis tanaman menunjukkan respons yang berbeda-beda terhadap tekanan perubahan iklim. Ada yang cukup tahan, tapi ada juga yang sangat sensitif. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa menyamaratakan dampaknya. Setiap jenis tanaman perlu diteliti secara spesifik.

Penurunan kandungan protein, vitamin, dan mineral ini tidak bisa dianggap remeh. Jika makanan yang kita konsumsi semakin miskin gizi, maka dampaknya bisa sangat luas terhadap kesehatan masyarakat global. Risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kronis lain bisa meningkat karena pola makan yang tinggi kalori tapi rendah nutrisi.

Khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, situasi ini bisa semakin memperparah masalah kekurangan gizi. Masyarakat yang sudah kesulitan mendapatkan makanan bergizi kini akan menghadapi tantangan tambahan akibat efek perubahan iklim terhadap pertanian.

Walaupun penelitian ini dilakukan dengan simulasi iklim Inggris, temuan ini berlaku secara global. Negara-negara di belahan bumi selatan, seperti di Asia dan Afrika, bahkan berhadapan dengan tantangan yang lebih berat seperti kekeringan, hama, dan kerusakan tanah.

Ekele menekankan pentingnya pendekatan lintas disiplin untuk mengatasi masalah ini. Ilmu pertanian, nutrisi, dan kebijakan iklim harus bekerja sama untuk menciptakan sistem pangan yang tidak hanya cukup secara jumlah, tetapi juga sehat dan tahan terhadap perubahan lingkungan.

Menurut Ekele, makanan bukan sekadar soal kalori. Ini adalah fondasi dari kesehatan manusia dan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Jika makanan kita tidak lagi sehat, maka upaya untuk meningkatkan kualitas hidup juga akan terhambat.

Tim Ekele berharap penelitian ini dapat mendorong kolaborasi global untuk memikirkan kembali cara kita memproduksi makanan. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, kita harus membangun sistem pangan yang lebih tangguh, adil, dan bergizi.

Meski penelitian ini masih bersifat awal, hasilnya menjadi alarm penting bagi dunia. Tanpa tindakan nyata, kualitas makanan yang kita konsumsi bisa terus menurun dan membawa dampak besar bagi generasi mendatang.

Penelitian ini dipresentasikan dalam Konferensi Tahunan Society for Experimental Biology yang berlangsung di Antwerp, Belgia, pada tanggal 8 Juli 2025. Studi ini menjadi pengingat bahwa solusi perubahan iklim tidak hanya soal energi dan emisi, tetapi juga tentang makanan yang ada di piring kita.[]

Perubahan Iklim: Sayuran Segar Tanpa Gizi Read More »

Platform Minyak Lepas Pantai: Novel Ecosystem

Banyak orang mengira platform minyak dan gas di laut hanya sebagai simbol eksploitasi sumber daya alam. Padahal, di balik konstruksi baja yang kokoh itu, tersimpan kisah tak terduga tentang kehidupan laut yang berkembang subur.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa platform minyak lepas pantai ternyata berperan penting sebagai rumah bagi berbagai spesies laut. Dari karang, spons, hingga ikan dan hiu, semua menjadikan struktur ini sebagai tempat tinggal dan berkembang biak.

Dalam jurnal ilmiah “Frontiers in Marine Science” yang dipublikasikan pada September 2019 oleh Van Elden dan tim peneliti lainnya, dijelaskan bahwa banyak platform minyak yang memenuhi kriteria “novel ecosystems” atau ekosistem baru.

Ekosistem baru ini terbentuk karena kombinasi faktor abiotik (non-hayati) dan biotik (hayati) yang telah berubah jauh dari kondisi alaminya. Kehadiran platform mengubah struktur dasar laut dan menciptakan habitat keras yang sebelumnya tidak ada.

Beberapa contoh menarik terjadi di Laut Utara, di mana karang air dingin tumbuh subur di struktur platform. Bahkan, hiu paus terlihat sering berkumpul di sekitar platform di wilayah Qatar. Fenomena ini tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran platform tersebut.

Ekosistem yang terbentuk ini juga mandiri. Artinya, mereka tidak membutuhkan campur tangan manusia secara intensif untuk terus berkembang. Ribuan ton invertebrata ditemukan tumbuh di bawah permukaan platform, menciptakan komunitas laut yang unik.

Namun, tantangan muncul saat platform mencapai akhir masa operasionalnya. Dalam banyak kasus, platform harus didekomisioning atau dibongkar. Sayangnya, proses ini berarti menghancurkan seluruh ekosistem yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Padahal, biaya dekomisioning sangat mahal dan bisa mencapai puluhan miliar dolar. Di beberapa wilayah, seperti Laut Utara, sebagian besar biaya ini bahkan harus ditanggung oleh pemerintah dan pajak rakyat.

Sebagian negara mulai mempertimbangkan pendekatan alternatif, seperti program “Rigs-to-Reefs” yang mengubah platform menjadi terumbu buatan permanen. Namun, masih ada anggapan bahwa ini hanyalah cara perusahaan untuk menghindari biaya besar.

Konsep novel ecosystems membantu menyeimbangkan argumen tersebut. Bukan untuk memberi izin kepada perusahaan membuang limbah, tetapi sebagai pengakuan atas nilai ekologis yang telah tercipta dan bisa dipertahankan.

Penting dicatat bahwa tidak semua platform bisa dianggap sebagai novel ecosystem. Penilaian harus dilakukan secara hati-hati, berdasarkan bukti ilmiah dan pendekatan kasus per kasus.

Misalnya, jika platform berada dekat terumbu alami, ia mungkin hanya menjadi perluasan dari habitat yang sudah ada. Tetapi, jika berada di perairan yang sebelumnya tidak memiliki substrat keras, maka dampaknya jauh lebih signifikan.

Konflik sosial juga turut memengaruhi. Di beberapa tempat seperti California, masyarakat menolak keberadaan platform dan menuntut penghapusan total. Namun, di wilayah lain, platform justru menjadi daya tarik wisata selam dan memancing.

Kebijakan dekomisioning sebaiknya mempertimbangkan nilai ekologis, sosial, dan ekonomis secara seimbang. Jangan sampai kita mengorbankan ekosistem yang telah berkembang hanya demi prosedur yang tidak mempertimbangkan realitas di lapangan.

Peneliti menyarankan pendekatan portofolio dalam pengambilan keputusan. Artinya, platform yang bernilai ekologis tinggi dapat dipertahankan, sementara yang kurang bernilai bisa dihapuskan secara bertahap.

Ke depan, kita perlu kebijakan yang lebih fleksibel, berdasarkan data ilmiah dan aspirasi masyarakat. Dengan begitu, kita tidak hanya menyelamatkan anggaran, tapi juga kekayaan laut yang telah terbentuk secara alami di sekitar struktur buatan manusia.

Platform minyak mungkin diciptakan untuk energi, tapi mereka juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan laut. Menolak melihat sisi ekologisnya bisa berarti kehilangan peluang besar untuk konservasi laut di masa depan.[]

Platform Minyak Lepas Pantai: Novel Ecosystem Read More »

Pulau Atol dan Burung Laut

Pulau atol ternyata memegang peran penting dalam kelangsungan hidup jutaan burung laut tropis di seluruh dunia. Demikian pula, keberadaan burung-burung ini memberikan manfaat luar biasa bagi pulau atol itu sendiri. Dalam sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan oleh Ruth E. Dunn dalam jurnal Nature Ecology & Evolution edisi Oktober 2024, dijelaskan bahwa sebanyak 31,2 juta burung laut berkembang biak di atol-atol, dan aktivitas mereka menjadi semacam “pompa nutrisi” alami lintas ekosistem. Dengan temuan ini, urgensi pelestarian atol menjadi semakin nyata.

Burung laut, meskipun tidak sebesar paus, ternyata juga memiliki peran penting dalam menyebarkan nutrisi antar ekosistem. Studi terbaru yang dilakukan oleh Steibl dan timnya menunjukkan bahwa atol-atol menjadi habitat utama bagi burung-burung ini untuk bersarang dan berkembang biak. Mereka mengumpulkan data dari lebih dari 90 survei burung laut yang mencakup 199 dari 280 atol di kawasan Indo-Pasifik, dan hasilnya menunjukkan bahwa 37 spesies burung laut bergantung pada atol sebagai tempat bertelur dan beranak pinak.

Beberapa spesies bahkan sangat bergantung pada atol. Misalnya, lebih dari 95% populasi albatros kaki hitam dan albatros Laysan bersarang di atol, begitu juga lebih dari 50% populasi burung Polynesian storm-petrel yang terancam punah. Dengan tubuh kecil seukuran sebungkus keripik, burung ini menggali lubang di tanah atol untuk menyembunyikan sarangnya. Ketergantungan ini memperlihatkan bahwa tanpa atol, masa depan burung-burung ini bisa terancam.

Namun, kontribusi burung laut tidak hanya terbatas pada kebutuhan sarang. Kotoran mereka—yang dikenal sebagai guano—ternyata kaya akan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor, yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Menurut perhitungan Steibl dan koleganya, atol-atol menerima rata-rata 337 kilogram nitrogen per hektare setiap tahun, jauh melampaui batas maksimum pemupukan lahan pertanian di Uni Eropa yang hanya 220 kilogram per hektare.

Nutrisi ini tidak hanya bermanfaat bagi ekosistem daratan atol, tetapi juga berpengaruh besar pada ekosistem laut sekitarnya. Guano burung laut terbukti meningkatkan keanekaragaman spesies alga, memperkaya padang lamun, mempercepat pertumbuhan terumbu karang, serta menarik ikan dan pari manta. Artinya, keberadaan burung laut membantu menjaga keberlanjutan rantai makanan dan keanekaragaman hayati di laut tropis.

Sayangnya, keberadaan burung laut di atol kini terancam oleh berbagai faktor seperti spesies invasif, hilangnya habitat, dan perburuan manusia. Para peneliti meyakini bahwa jumlah burung laut pada masa lalu mungkin jauh lebih banyak dibandingkan saat ini. Namun, dengan konservasi yang efektif, koloni burung yang hilang masih bisa dikembalikan dan jalur aliran nutrisi lintas ekosistem dapat dipulihkan.

Hasil studi ini juga menyoroti bahwa hanya 55% dari 74 atol yang memenuhi kriteria sebagai Important Bird Areas (Wilayah Burung Penting) yang saat ini diakui secara resmi. Sebanyak 33 atol lainnya, meskipun memiliki koloni burung yang melebihi ambang batas konservasi internasional, belum mendapat pengakuan. Langkah pengakuan ini penting agar perlindungan bisa diberikan, termasuk menghapus spesies pengganggu dan memulihkan habitat bersarang burung laut.

Dampak dari konservasi atol dan pemulihan populasi burung laut dapat sangat luas. Misalnya, emisi amonia dari guano burung di wilayah Arktik telah terbukti memengaruhi pembentukan awan dan berdampak pada iklim. Di kawasan Indo-Pasifik saja, diperkirakan emisi amonia dari burung laut mencapai 2,7 juta kilogram per tahun, dan dampaknya terhadap iklim regional masih perlu diteliti lebih lanjut.

Selain itu, guano juga membantu mempercepat pertumbuhan karang. Ini sangat penting untuk melindungi pesisir dari gelombang dan badai, terutama saat frekuensi siklon dan gelombang panas meningkat akibat perubahan iklim. Atol yang selama ini dianggap hanya pulau terpencil ternyata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam dan perlindungan wilayah pesisir.

Temuan ini membuka pertanyaan-pertanyaan penting lainnya tentang hubungan kompleks antara atol dan burung laut. Untuk menjawabnya, kita perlu terus melakukan pengamatan dan pencatatan populasi burung laut, sekaligus memperjuangkan perlindungan dan restorasi habitat mereka. Upaya ini tidak hanya penting bagi kelangsungan hidup burung, tetapi juga bagi kesehatan ekosistem global.

Dalam foto dokumentasi dari Kepulauan Chagos, terlihat sekelompok burung sooty tern yang menjadi salah satu dari 37 spesies burung yang bersarang di atol. Kehadiran mereka bukan sekadar pemandangan indah, tetapi bagian penting dari siklus alam yang menjaga keseimbangan bumi.

Artikel ini diambil dari jurnal Nature Ecology and Evolution, volume 8 nomor 10, halaman 1784–1785, dan ditulis oleh Ruth E. Dunn dari Lancaster Environment Centre dan The Lyell Centre, Heriot-Watt University. Artikel ini dipublikasikan pada Oktober 2024 dan dapat diakses secara daring melalui https://doi.org/10.1038/s41559-024-02518-1.[]

Pulau Atol dan Burung Laut Read More »

Produksi Ammonia Ramah Lingkungan dari Udara dan Listrik

Para ilmuwan dari Universitas Sydney, Australia, baru saja menemukan cara mengejutkan untuk memproduksi amonia tanpa menggunakan bahan bakar fosil. Amonia merupakan bahan utama pupuk yang berkontribusi pada hampir separuh produksi pangan dunia. Biasanya, proses pembuatannya membutuhkan gas alam dan meninggalkan jejak karbon besar. Namun, para peneliti ini justru meniru kilat petir buatan dan mengalirkannya ke dalam alat kecil yang disebut electrolyser berbasis membran. Hasilnya, mereka berhasil mengubah udara menjadi amonia hanya dengan bantuan listrik.

Selama lebih dari seratus tahun, industri global mengandalkan proses Haber-Bosch untuk memproduksi amonia. Proses ini membutuhkan tekanan dan suhu tinggi serta konsumsi energi yang besar. Tidak hanya boros, cara tersebut juga menyumbang emisi karbon dalam jumlah signifikan. Namun, kini proses itu mulai ditantang oleh pendekatan yang lebih hijau dan terdesentralisasi.

Profesor PJ Cullen dari Fakultas Teknik Kimia dan Biomolekular Universitas Sydney, sekaligus peneliti utama, mengatakan bahwa industri sangat bergantung pada amonia dan permintaannya terus meningkat. Ia dan timnya telah meneliti selama enam tahun untuk menemukan cara memproduksi amonia yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil dan bisa dilakukan di mana saja, bahkan dalam skala kecil.

Dalam penelitian terbaru ini, mereka berhasil mengubah udara menjadi gas amonia secara langsung. Ini jauh lebih efisien dibandingkan upaya sebelumnya dari berbagai laboratorium yang hanya mampu menghasilkan amonia dalam bentuk larutan (NH4+), yang membutuhkan proses tambahan untuk diubah menjadi bentuk gas yang siap digunakan.

Kunci keberhasilan metode ini adalah penggunaan plasma yang membangkitkan atau “menggairahkan” molekul udara, lalu mengalirkannya ke dalam alat elektrolyser berbasis membran. Di sinilah konversi menjadi amonia gas terjadi. Pendekatan dua langkah ini—kombinasi antara plasma dan elektrolisis—ternyata lebih sederhana dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan industri.

Amonia mengandung tiga molekul hidrogen, menjadikannya calon kuat sebagai sumber dan pembawa energi hidrogen. Teknologi saat ini bahkan memungkinkan hidrogen dipisahkan dari amonia melalui proses yang disebut “cracking”, yang membuka peluang baru dalam penyimpanan dan pengangkutan energi bersih.

Menariknya, amonia juga sedang dilirik oleh industri pelayaran global sebagai bahan bakar tanpa emisi karbon. Industri ini sendiri menyumbang sekitar 3 persen dari total emisi gas rumah kaca dunia. Maka, jika amonia bisa diproduksi secara bersih dan digunakan sebagai bahan bakar, dampaknya terhadap lingkungan akan sangat signifikan.

Penelitian ini diterbitkan dalam Angewandte Chemie International Edition pada 5 Juli 2025 dan mendapat sorotan besar dari komunitas ilmiah dunia. Dalam jurnal itu dijelaskan bahwa alat berwarna perak polos yang tampak biasa-biasa saja ternyata menjadi pusat inovasi energi yang luar biasa.

Tim peneliti mengakui bahwa tantangan selanjutnya adalah membuat komponen elektrolyser menjadi lebih hemat energi agar metode ini bisa bersaing secara langsung dengan proses Haber-Bosch. Namun mereka optimis, karena komponen plasmanya sudah terbukti efisien dan mudah ditingkatkan skalanya.

Penemuan ini juga membuka jalan bagi desentralisasi produksi amonia. Artinya, amonia tidak lagi harus diproduksi di pabrik besar dekat sumber gas alam, tapi bisa dilakukan di berbagai tempat, bahkan mungkin di wilayah terpencil yang hanya memiliki akses ke listrik dan udara.

Dalam sejarahnya, amonia pernah begitu langka hingga memicu konflik antarnegara. Kini, teknologi memberi kita peluang baru untuk memproduksinya secara damai, murah, dan ramah lingkungan. Jika metode ini terus dikembangkan, maka dunia tidak hanya akan memiliki pupuk yang lebih bersih, tetapi juga sumber energi alternatif yang revolusioner.

Para ilmuwan percaya bahwa metode ini bisa menjadi fondasi baru dalam mengatasi perubahan iklim. Dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, kita bisa mewujudkan sistem pertanian dan energi yang lebih berkelanjutan.

Masa depan mungkin tidak lagi tergantung pada tambang atau sumur minyak, tetapi pada udara di sekitar kita dan listrik bersih yang mengalirkannya. Dengan memanfaatkan kekuatan “petir buatan” di laboratorium, umat manusia membuka bab baru dalam teknologi ramah lingkungan.[]

Produksi Ammonia Ramah Lingkungan dari Udara dan Listrik Read More »

Gunung Api yang Tertidur Siap Meletus Saat Es Mencair

Mencairnya gletser di seluruh dunia kini menimbulkan ancaman baru yang tak kalah mengejutkan dari kenaikan permukaan laut atau cuaca ekstrem. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa es yang selama ribuan tahun membungkam aktivitas gunung api kini mulai hilang, membuka peluang terjadinya letusan eksplosif yang dahsyat. Terutama di wilayah seperti Antartika, tekanan yang dulu menahan magma kini menghilang seiring mencairnya lapisan es raksasa, yang berpotensi memicu aktivitas vulkanik berantai. Fenomena ini bukan hanya ancaman lokal, tetapi bisa berdampak global karena berisiko memperparah perubahan iklim dalam lingkaran setan yang berbahaya.

Temuan penting ini dipaparkan pada Goldschmidt Conference di Praha pada 8 Juli 2025. Para ilmuwan dari University of Wisconsin-Madison, bersama tim dari Lehigh University, UCLA, dan Dickinson College, mempelajari enam gunung api di Pegunungan Andes, Chili. Mereka menggunakan metode penanggalan argon dan analisis kristal untuk memahami pengaruh gletser terhadap aktivitas vulkanik selama ribuan tahun terakhir. Penelitian ini membuka wawasan baru bahwa wilayah yang selama ini dianggap aman dari letusan, sebenarnya menyimpan bahaya tersembunyi yang siap bangkit kapan saja.

Salah satu temuan paling mencolok adalah bahwa saat puncak zaman es terakhir sekitar 26.000 hingga 18.000 tahun yang lalu, lapisan es tebal justru menekan aktivitas letusan dan memungkinkan magma kaya silika menumpuk di kedalaman 10–15 km di bawah permukaan bumi. Namun ketika es mencair dengan cepat pada akhir zaman es, kerak bumi melonggar dan gas dalam magma mengembang, menyebabkan tekanan besar yang memicu letusan eksplosif.

Ilmuwan Pablo Moreno-Yaeger menjelaskan bahwa lapisan gletser tebal memang bisa menekan volume letusan, namun ketika es mulai mencair—seperti yang terjadi sekarang akibat pemanasan global—gunung-gunung api yang tertidur dapat kembali aktif dan meletus dengan kekuatan yang lebih besar. Ini tidak hanya berlaku di Islandia, yang sudah lama diketahui mengalami hal serupa, tetapi juga di Antartika, Amerika Utara, Selandia Baru, dan Rusia. Wilayah-wilayah ini kini menjadi perhatian baru bagi para peneliti vulkanologi dan iklim dunia.

Meskipun perubahan sistem magma berlangsung lambat secara geologi, dampak mencairnya es terhadap letusan bisa berlangsung relatif cepat. Artinya, pemantauan dan sistem peringatan dini menjadi sangat penting agar masyarakat bisa lebih siap menghadapi potensi bencana ini. Penelitian ini menggarisbawahi perlunya memperkuat sistem deteksi dini di daerah-daerah kutub dan pegunungan tinggi yang sebelumnya dianggap stabil.

Selain risiko lokal seperti abu vulkanik dan aliran piroklastik, letusan yang terjadi karena mencairnya es juga dapat memengaruhi iklim global. Dalam jangka pendek, letusan memang dapat menurunkan suhu bumi karena menyebarnya aerosol ke atmosfer. Fenomena ini pernah terjadi saat letusan Gunung Pinatubo pada 1991 yang menurunkan suhu global sekitar 0,5°C. Namun jika letusan terus berulang, akumulasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida justru bisa mempercepat pemanasan global.

Dengan kata lain, mencairnya es dapat memicu letusan, lalu letusan menghasilkan gas rumah kaca, yang kembali mempercepat pencairan es. Ini menciptakan lingkaran setan yang memperparah krisis iklim yang sedang kita hadapi. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa bumi menyimpan mekanisme kompleks yang saling berhubungan, dan satu perubahan di satu sisi bisa berdampak luas ke seluruh sistem planet.

Proyek ini didanai oleh National Science Foundation melalui hibah yang dipimpin oleh Profesor Brad Singer dari UW-Madison. Hasil lengkap dari riset ini akan segera diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang ditinjau sejawat dalam waktu dekat. Konferensi Goldschmidt sendiri merupakan ajang geokimia terbesar di dunia, dihadiri lebih dari 4.000 peserta, dan diselenggarakan oleh European Association of Geochemistry bersama Geochemical Society dari Amerika Serikat.

Penemuan ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan suhu, es, atau cuaca ekstrem, tetapi bisa memicu respons bumi yang jauh lebih berbahaya seperti aktivitas vulkanik. Oleh karena itu, upaya mitigasi perubahan iklim tidak bisa lagi ditunda. Kita perlu memperkuat riset, pemantauan, dan kebijakan global untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin sedang dalam perjalanan menuju permukaan.

Gunung-gunung yang selama ini tertidur di bawah lapisan es mungkin sebentar lagi akan bangun. Dan saat mereka bangun, bukan hanya tanah yang berguncang, tetapi mungkin juga keseimbangan iklim seluruh planet. Ini bukan sekadar spekulasi, tapi peringatan ilmiah berdasarkan data, sejarah geologi, dan perkembangan iklim yang sedang terjadi saat ini.

Sumber informasi ini berasal dari European Association of Geochemistry, yang dipublikasikan pada tanggal 8 Juli 2025 dalam rangkaian presentasi ilmiah di Goldschmidt Conference, Praha, Republik Ceko. Studi ini akan segera dimuat dalam jurnal ilmiah yang diakui secara internasional dan telah didanai oleh lembaga sains ternama.[]

Gunung Api yang Tertidur Siap Meletus Saat Es Mencair Read More »

Pohon Ara dari Kenya yang Mengubah Karbon Jadi Batu untuk Melawan Perubahan Iklim

Beberapa pohon ara di Kenya ternyata mampu melakukan hal luar biasa: mengubah sebagian tubuh mereka menjadi batu kapur. Penelitian terbaru menemukan bahwa pohon-pohon ini menyimpan kalsium karbonat di batangnya, suatu bentuk mineral yang sama seperti batu kapur atau kapur tulis. Melalui bantuan mikroorganisme, pohon ini mengubah kristal dalam tubuhnya menjadi endapan kalsium karbonat yang mampu mengikat karbon dioksida (CO₂) dari udara. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah dan tetap menghasilkan buah.

Penelitian ini dipresentasikan pada Konferensi Goldschmidt di Praha, dan melibatkan ilmuwan dari Kenya, Amerika Serikat, Austria, dan Swiss. Mereka mengamati tiga spesies pohon ara yang tumbuh di Samburu, Kenya, dan menemukan bahwa salah satu spesies, Ficus wakefieldii, paling efektif dalam mengubah CO₂ menjadi endapan kalsium karbonat. Yang menarik, proses ini berlangsung baik di permukaan batang maupun jauh di dalam jaringan kayu pohon.

Dalam dunia tanaman, semua pohon sebenarnya menyerap CO₂ melalui fotosintesis dan mengubahnya menjadi karbon organik, membentuk batang, akar, dan daun. Namun, beberapa pohon, termasuk pohon ara ini, juga menyimpan CO₂ sebagai kalsium oksalat. Ketika bagian pohon membusuk, mikroorganisme akan mengubah kalsium oksalat tersebut menjadi kalsium karbonat yang lebih stabil dan tahan lama di tanah. Artinya, karbon disimpan lebih lama dalam bentuk anorganik, yang sangat efektif sebagai bentuk penyerapan karbon jangka panjang.

Menurut Dr. Mike Rowley dari Universitas Zurich, kemampuan jalur oksalat-karbonat ini sebenarnya telah lama diketahui, namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Kini, para peneliti menyadari bahwa memilih pohon buah yang memiliki jalur ini bisa memberikan manfaat ganda: pohon menyerap karbon, meningkatkan kesuburan tanah, dan tetap menghasilkan makanan.

Menggunakan analisis sinar sinkrotron di Stanford Synchrotron Radiation Lightsource, para ilmuwan memastikan bahwa endapan kalsium karbonat terbentuk secara aktif di dalam dan luar batang pohon. Hasil ini menunjukkan bahwa penyerapan karbon terjadi jauh lebih dalam daripada yang sebelumnya diperkirakan. Selain itu, tanah di sekitar pohon menjadi lebih basa, yang meningkatkan ketersediaan nutrisi penting bagi tanaman lain.

Tim peneliti juga akan melanjutkan studi terhadap kebutuhan air dan produktivitas buah dari Ficus wakefieldii, sekaligus memperkirakan jumlah karbon yang bisa diserap dalam berbagai kondisi lingkungan. Penelitian sebelumnya tentang jalur oksalat-karbonat biasanya berfokus pada pohon non-buah di hutan tropis. Misalnya, pohon iroko (Milicia excelsa) diketahui bisa menyimpan satu ton kalsium karbonat di tanah selama masa hidupnya.

Kalsium oksalat sendiri adalah biomineral yang umum ditemukan di banyak tanaman, dan mikroorganisme yang mengubahnya menjadi kalsium karbonat juga tersebar luas. Bahkan di lingkungan yang basah, karbon tetap dapat diserap dalam bentuk ini. Karena itu, para ilmuwan percaya bahwa masih banyak spesies pohon lain yang memiliki kemampuan serupa, dan hal ini membuka peluang besar untuk strategi mitigasi iklim berbasis pohon yang belum banyak dieksplorasi.

Konferensi Goldschmidt sendiri adalah konferensi geokimia terbesar di dunia, diselenggarakan oleh Asosiasi Geokimia Eropa dan Geochemical Society Amerika Serikat. Pada tahun ini, konferensi digelar di Praha pada 6–11 Juli 2025 dan dihadiri sekitar 4.000 peserta dari berbagai negara.

Penemuan luar biasa dari Kenya ini menunjukkan bahwa alam menyimpan banyak solusi kreatif untuk perubahan iklim. Bayangkan jika setiap pohon yang kita tanam bukan hanya menyerap CO₂, tetapi juga mengubahnya menjadi batu untuk menyimpan karbon selamanya, sambil tetap memberi kita buah. Inilah contoh nyata bagaimana alam bisa menjadi sekutu paling kuat dalam menjaga masa depan Bumi.[]

Pohon Ara dari Kenya yang Mengubah Karbon Jadi Batu untuk Melawan Perubahan Iklim Read More »

Bumi Semakin Rapuh Akibat Emisi Karbon Manusia

Para ilmuwan mengungkap bahwa ketahanan Bumi terhadap tekanan akibat emisi karbon buatan manusia mungkin lebih lemah dari yang selama ini diperkirakan. Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang dipimpin oleh International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) bekerja sama dengan Lviv Polytechnic National University, Ukraina. Penelitian ini tidak hanya menghitung emisi karbon dalam bentuk angka, tetapi juga mengembangkan pendekatan baru untuk melihat bagaimana Bumi secara fisik merespons tekanan lingkungan yang terus meningkat.

Dalam studi ini, para peneliti memperkenalkan konsep “daya tekanan” atau stress power, yaitu ukuran seberapa besar energi yang ditambahkan oleh aktivitas manusia ke dalam sistem Bumi setiap tahunnya. Pada tahun 2021, daya tekanan ini diperkirakan berada di kisaran 12,8 hingga 15,5 pascal per tahun. Meskipun terdengar kecil—sekitar tekanan dari hembusan angin ringan—dampaknya bisa sangat besar jika dilihat dalam konteks skala global, mencakup daratan, laut, dan atmosfer. Tekanan ini diyakini mampu menggeser keseimbangan alami Bumi yang selama ribuan tahun relatif stabil.

Penelitian ini juga menemukan adanya titik balik tersembunyi dalam respons sistem karbon Bumi antara tahun 1925 hingga 1945. Dalam periode itu, Bumi mulai menunjukkan perubahan cara merespons tekanan, jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya. Sebelumnya, lahan dan lautan berperan besar dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) yang dilepaskan oleh manusia. Namun sejak titik balik tersebut, kemampuannya mulai menurun seiring dengan intensitas aktivitas manusia yang terus meningkat.

Matthias Jonas, penulis utama studi ini dari IIASA, menjelaskan bahwa sebelumnya para ilmuwan hanya berfokus pada jumlah emisi karbon per tahun. Padahal, hal yang lebih penting adalah bagaimana Bumi sebagai sebuah sistem fisik meregang dan menanggapi tekanan tersebut. Studi ini membawa pendekatan baru dengan mengukur “tegangan” dan “regangan” dalam sistem Bumi, serupa dengan cara insinyur mengukur kekuatan material dalam dunia fisika.

Menurut para peneliti, temuan ini berarti bahwa dunia perlu bertindak lebih cepat dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Bahkan jika target iklim global tercapai, tetap ada kemungkinan besar bahwa kerusakan sistem alami Bumi sudah mencapai titik yang tidak dapat dipulihkan. Model-model iklim saat ini belum sepenuhnya menangkap kerentanan awal Bumi ini, padahal hal tersebut sangat penting dalam merancang kebijakan mitigasi.

Oleh karena itu, mereka menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk menghitung lebih tepat pergeseran tersebut dan memasukkan pendekatan stress-strain ini ke dalam pemodelan iklim global. Dengan demikian, manusia dapat lebih memahami tidak hanya jumlah karbon yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana sistem Bumi secara keseluruhan menanggung bebannya.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science of The Total Environment pada 27 Juni 2025 oleh Matthias Jonas, Rostyslav Bun, Iryna Ryzha, dan Piotr Żebrowski, dengan judul “Human-induced carbon stress power upon Earth: integrated data set, rheological findings and consequences.”[]

Bumi Semakin Rapuh Akibat Emisi Karbon Manusia Read More »

Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan berhasil menyaksikan secara langsung gempa lambat (slow slip earthquake) yang terjadi di bawah laut Jepang. Peristiwa ini merupakan momen langka di mana tekanan tektonik dilepaskan secara perlahan di sepanjang zona patahan besar di bawah laut. Gempa ini tidak seperti gempa biasa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, seperti gerakan lambat yang membuka sumbat tekanan dalam perut Bumi.

Peristiwa unik ini berhasil terekam oleh sensor dasar laut yang dipasang jauh dari daratan, tepatnya di zona rawan tsunami di lepas pantai Jepang. Peneliti dari University of Texas di Austin menyamakan peristiwa ini dengan gerakan ritsleting yang terbuka perlahan di antara dua lempeng tektonik yang saling bergesekan. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science pada 26 Juni 2025 dengan judul ilmiah “Migrating shallow slow slip on the Nankai Trough megathrust captured by borehole observatories.”

Sensor yang digunakan merupakan hasil dari program pemantauan bawah laut yang dimulai sejak 2016 oleh International Ocean Discovery Program. Sensor-sensor tersebut dipasang di kedalaman hampir 450 meter di bawah dasar laut. Teknologi ini sangat sensitif dan mampu mendeteksi pergerakan sekecil beberapa milimeter—sesuatu yang tidak mungkin ditangkap oleh GPS darat biasa.

Tim peneliti mencatat bahwa gempa lambat ini terjadi pada musim gugur tahun 2015 dan melintasi bagian luar zona patahan di dekat dasar laut, wilayah yang terkenal rawan tsunami saat gempa dangkal terjadi. Hebatnya, pergerakan yang sama kembali terjadi di tahun 2020, menunjukkan bahwa fenomena ini mungkin rutin dan tidak acak. Gerakan tersebut tidak memperparah potensi tsunami, melainkan membantu melepaskan energi secara aman.

Patahan Nankai sendiri memiliki reputasi sebagai penghasil gempa besar dan tsunami mematikan, seperti yang terjadi pada tahun 1946 ketika gempa berkekuatan 8,0 menghancurkan 36.000 rumah dan menewaskan lebih dari 1.300 orang. Namun, temuan baru ini memberi harapan bahwa sebagian energi di zona ini mungkin dilepaskan secara bertahap melalui gempa lambat yang tidak merusak.

Sensor menunjukkan bahwa gerakan lambat ini menyebar sekitar 30 mil (sekitar 48 km) dari garis pantai Jepang ke arah laut, lalu meredup saat mendekati tepi benua. Butuh waktu berminggu-minggu bagi gempa ini untuk merambat sejauh 20 mil (sekitar 32 km), memperlihatkan bahwa proses ini sangat lambat namun stabil.

Yang menarik, kedua gempa lambat ini terjadi di wilayah yang memiliki tekanan fluida bawah tanah yang sangat tinggi. Ini menjadi petunjuk kuat bahwa tekanan fluida memainkan peran penting dalam memicu gempa lambat—sebuah teori lama dalam dunia geofisika yang akhirnya mendapatkan bukti nyata.

Penemuan ini memiliki dampak besar terhadap pemahaman kita tentang bagaimana lempeng tektonik saling berinteraksi dan melepaskan energi. Para peneliti kini berharap bisa menerapkan metode yang sama di wilayah lain, seperti zona patahan Cascadia di Amerika Utara. Berbeda dengan Nankai, Cascadia belum menunjukkan tanda-tanda adanya pelepasan tekanan melalui gempa lambat di wilayah yang paling berisiko tsunami. Ini mengkhawatirkan karena Cascadia diyakini dapat menghasilkan gempa berkekuatan 9 dan tsunami dahsyat.

Menurut Demian Saffer, Direktur UTIG dan salah satu peneliti utama dalam studi ini, metode pengamatan presisi tinggi seperti yang diterapkan di Jepang perlu segera diterapkan di wilayah seperti Cascadia. Ia menambahkan bahwa sangat penting untuk mengetahui apakah patahan di sana juga memiliki mekanisme pelepas tekanan, atau justru benar-benar ‘terkunci’ dan diam hingga suatu saat meledak dalam gempa besar.

Penelitian ini memberikan harapan bahwa tidak semua bagian dari patahan aktif menghasilkan bencana. Sebagian di antaranya mungkin justru menjadi “katup pengaman alami” yang melepaskan tekanan secara teratur dan lambat. Dengan terus memasang sensor dan memantau pola-pola ini, para ilmuwan bisa memahami lebih jauh dinamika bawah tanah Bumi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk masyarakat.

Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation Amerika Serikat, dan sensor bawah lautnya dipasang oleh Integrated Ocean Drilling Program. Data tambahan diperoleh dari kabel observasi bawah laut milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC). Semua hasil ini membuka jendela baru dalam mempelajari siklus gempa bumi, khususnya di kawasan Cincin Api Pasifik yang dikenal paling aktif secara seismik di dunia.

Temuan gempa lambat ini memperlihatkan bahwa Bumi tidak selalu melepaskan tekanannya dengan keras dan tiba-tiba. Kadang, ia hanya “mendesah pelan” di kedalaman laut, tanpa disadari oleh dunia di permukaan.[]

Gempa Lambat di Bawah Laut Jepang Terekam Langsung Read More »

Ketika Hutan Hujan Hilang, Bumi Terjebak dalam Panas Ekstrem

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa hilangnya hutan hujan tropis saat peristiwa kepunahan massal terbesar di Bumi — yang dikenal sebagai “Kematian Besar” — mungkin menjadi penyebab utama dari pemanasan global berkepanjangan yang terjadi setelahnya. Sekitar 252 juta tahun lalu, peristiwa ini menghapus sebagian besar kehidupan laut dan banyak spesies darat, diduga akibat aktivitas vulkanik besar di Siberia. Namun, para ilmuwan selama ini masih bertanya-tanya mengapa pemanasan ekstrem tersebut berlangsung selama lima juta tahun.

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Universitas Leeds dan Universitas Geosains China di Wuhan kini telah menemukan bukti baru yang menguatkan hipotesis bahwa kehancuran hutan hujan tropis menyebabkan hilangnya fungsi Bumi dalam menyerap karbon dioksida. Saat hutan ini lenyap, CO₂ yang seharusnya diserap oleh tanaman dan tanah dibiarkan melayang bebas di atmosfer, menyebabkan suhu global terus naik.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis catatan fosil dan kondisi iklim purba melalui batuan-batuan khas di China. Mereka memetakan perubahan produktivitas tanaman selama peristiwa tersebut dan menemukan bahwa vegetasi hancur secara drastis. Hasil riset ini dipublikasikan dalam Nature Communications pada 2 Juli 2025.

Penulis utama makalah ini, Dr. Zhen Xu dari Universitas Leeds, menyatakan bahwa kepunahan hutan tropis ini merupakan satu-satunya dalam sejarah Bumi yang dikaitkan dengan lonjakan suhu ekstrem. Temuan ini menegaskan bahwa sistem iklim Bumi memiliki “titik kritis”, yaitu ambang batas yang jika terlewati, pemanasan global bisa melaju tak terkendali.

China memiliki catatan geologi paling lengkap tentang peristiwa kepunahan ini. Dr. Xu melanjutkan kerja para profesor senior di bidang paleontologi China, dan sejak 2016 melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah terpencil untuk mengumpulkan data fosil. Ia kemudian bekerja sama dengan Profesor Benjamin Mills di Inggris untuk memodelkan bagaimana kehilangan hutan berdampak pada sistem iklim.

Model iklim yang mereka buat menunjukkan bahwa penurunan penyerapan karbon akibat hancurnya hutan sesuai dengan besarnya pemanasan yang terjadi setelah peristiwa tersebut. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa jika hutan tropis saat ini mengalami kehancuran serupa akibat pemanasan global, maka iklim kita mungkin tidak akan kembali ke kondisi sebelum era industri — bahkan jika emisi CO₂ dihentikan.

Profesor Mills memperingatkan bahwa dalam skenario semacam itu, pemanasan bisa terus meningkat karena sistem karbon Bumi telah terganggu dalam jangka waktu geologis. Ini berarti pemulihannya bisa memakan waktu jutaan tahun.

Profesor Hongfu Yin dan Profesor Jianxin Yu menambahkan bahwa penting bagi paleontologi untuk menggabungkan metode lama dan teknologi baru seperti pemodelan numerik untuk memahami masa lalu dan melindungi masa depan. Mereka berharap hasil kerja mereka bisa berdampak luas, bukan hanya untuk ilmu pengetahuan tetapi juga bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di Bumi.

Penelitian ini didanai oleh UK Research and Innovation (UKRI) dan National Natural Science Foundation of China (NSFC), serta didukung oleh ETH+, Australian Research Council, dan berbagai lembaga internasional lainnya. Dengan studi ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana hutan tropis yang kini kita miliki bisa jadi menjadi satu-satunya penghalang terakhir terhadap bencana iklim tak terbendung.[]

Ketika Hutan Hujan Hilang, Bumi Terjebak dalam Panas Ekstrem Read More »

Perubahan Iklim Terlalu Cepat, Hutan Tak Mampu Adaptasi

Perubahan iklim saat ini terjadi jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan hutan untuk menyesuaikan diri. Sementara suhu global meningkat hanya dalam hitungan dekade, pohon-pohon di hutan membutuhkan waktu 100 hingga 200 tahun untuk menyesuaikan diri. Hal ini mengakibatkan ketidaksesuaian antara kecepatan perubahan iklim dan kemampuan alami ekosistem hutan untuk beradaptasi.

Penelitian terbaru dari Syracuse University yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 4 Juli 2025 mengungkap bahwa hutan-hutan di belahan bumi utara mengalami keterlambatan adaptasi hingga dua abad dalam merespons perubahan iklim. Dengan menggunakan data serbuk sari purba dari inti sedimen dan metode analisis spektral, para ilmuwan berhasil memperkirakan seberapa lama waktu yang dibutuhkan oleh populasi pohon untuk bergeser akibat perubahan iklim.

Sebelum perubahan iklim ekstrem terjadi dalam satu abad terakhir, pohon-pohon dapat bermigrasi perlahan ke arah selatan saat zaman es terjadi, lalu kembali ke utara ketika suhu bumi menghangat. Migrasi ini didorong oleh angin dan hewan yang menyebarkan biji. Namun, saat ini perubahan iklim terjadi terlalu cepat. Pohon-pohon yang berumur panjang tidak bisa bergerak cepat, dan regenerasi alami mereka terlalu lambat.

David Fastovich, penulis utama studi ini dan peneliti pascadoktoral di Syracuse University, menjelaskan bahwa meskipun para ilmuwan telah mengetahui adanya jeda waktu ini, belum pernah ada yang menyampaikan angka pasti secara ilmiah. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa dalam waktu satu hingga dua abad, ekosistem hutan akan mengalami perombakan besar karena kematian dan penggantian pohon secara alami sebagai respons terhadap iklim.

Dengan metode analisis spektral, yang biasanya digunakan dalam fisika dan teknik, para peneliti dapat memahami pola hubungan antara perubahan populasi pohon dan perubahan iklim dalam rentang waktu dari dekade hingga ribuan tahun. Ini memungkinkan pemahaman yang lebih utuh tentang bagaimana hutan berubah secara perlahan dalam jangka panjang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam skala waktu tahunan hingga dekade, perubahan hutan berlangsung sangat lambat. Namun setelah sekitar 800 tahun, perubahan yang terjadi menjadi lebih signifikan karena dipengaruhi oleh variabilitas iklim alami. Temuan ini sangat penting bagi para ahli ekologi dan ahli paleoklimatologi karena memberikan “bahasa bersama” untuk memahami dinamika hutan di masa lalu dan masa kini.

Dengan teknik baru ini, ilmuwan dapat melihat keterkaitan antara penyebaran, perubahan populasi, dan proses ekologis lainnya yang memengaruhi kondisi hutan dari waktu ke waktu. Hal ini belum pernah dilakukan secara komprehensif sebelumnya.

Namun yang paling penting, penelitian ini menegaskan bahwa hutan tidak akan mampu bertahan hanya dengan mengandalkan proses alami. Intervensi manusia menjadi penting untuk menjaga kelestarian hutan di masa depan. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah “migrasi terbantu”, yaitu memindahkan jenis pohon dari daerah yang lebih hangat ke lokasi yang sebelumnya lebih dingin agar hutan tetap dapat berkembang.

Fastovich menekankan bahwa penyesuaian hutan terhadap iklim akan menjadi proses lambat dan kompleks. Dibutuhkan strategi pengelolaan jangka panjang dan cermat. Dengan perubahan iklim yang terus mempercepat, upaya manusia perlu diintensifkan untuk melindungi hutan-hutan yang berharga.

Ia menambahkan bahwa ketidaksesuaian waktu antara proses alami dan perubahan iklim yang cepat ini dapat mengancam kelangsungan ekosistem hutan. Tanpa intervensi, banyak hutan bisa layu atau bahkan runtuh. Oleh karena itu, migrasi terbantu hanyalah satu dari banyak alat yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan hutan-hutan yang kita cintai tetap bertahan lebih lama.

Hutan bukan hanya sekumpulan pohon, melainkan rumah bagi jutaan makhluk hidup, sumber udara bersih, dan penjaga keseimbangan iklim global. Jika manusia ingin terus menikmati manfaat ini, maka menjaga dan mendukung adaptasi hutan menjadi tanggung jawab bersama.[]

Perubahan Iklim Terlalu Cepat, Hutan Tak Mampu Adaptasi Read More »