Community

Di mana Negara Paling Kaya Per Orangnya?

Sumber: Visual Capitalist

Infografis di atas tentang “Kekayaan Global Per Orang” (2023). Infografis ini menunjukkan kekayaan rata-rata per orang di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia. Setiap negara atau wilayah diwakili oleh lingkaran dengan dua nuansa biru; nuansa biru yang lebih gelap mewakili jumlah kekayaan non-finansial, sementara nuansa biru yang lebih terang mewakili kekayaan finansial.

Kekayaan Tertinggi: Swiss

Swiss menduduki peringkat pertama dengan kekayaan rata-rata sebesar $564.7K per orang. Kekayaan tinggi ini menunjukkan posisi Swiss yang unggul dibandingkan negara-negara lain.

Negara dengan Kekayaan Tinggi Lainnya

AS, Australia, dan Denmark mengikuti Swiss dengan jumlah kekayaan yang signifikan. Meskipun kekayaan rata-rata di negara-negara seperti Australia dan Belgia lebih rendah, mereka tetap menunjukkan kinerja yang baik dalam hal kemakmuran keseluruhan karena nilai layanan sosial mereka yang tinggi.

Kekayaan di Negara Berkembang

Di sisi lain, negara-negara seperti Meksiko, India, dan Afrika berada di ujung bawah skala. Ini menunjukkan bahwa kekayaan tidak merata di seluruh dunia, dengan beberapa negara memiliki kekayaan rata-rata per orang yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain.

Ada catatan di bagian bawah yang menjelaskan bahwa data dinyatakan dalam dolar AS nominal dan tidak disesuaikan untuk perbedaan harga antar negara. Selain itu, data untuk China hanya melaporkan rumah tangga perkotaan.

Laporan Kekayaan Global 2022 membandingkan kekayaan rata-rata dan median di berbagai negara untuk mengungkap pola yang menarik. Infografis ini memberikan gambaran tentang distribusi kekayaan di seluruh dunia dan menyoroti perbedaan yang signifikan antara negara-negara maju dan berkembang.

Di mana Negara Paling Kaya Per Orangnya? Read More »

Oh, Ternyata Ini Buaya Asli Wakatobi?

Mengawali tulisan ini, pertama-tama saya ingin meminta maaf. Tulisan tentang tema buaya ini adalah yang kedua dan terpublikasi setelah dalam rentang waktu yang lumayan lama . Saya tidak bermaksud membesar-besarkan soal buaya ini. Tetapi poin saya adalah membangun literasi bersama tentang makhluk predator ini, kita saling membelajarkan. Mudah-mudahan tidak membosankan.

Kemudian yang kedua adalah saya ingin memperjelas terkait adanya klaim bahwa di Wakatobi terdapat buaya spesies lokal, yang disampaikan oleh beberapa pihak ketika merespon tulisan saya sebelumnya (lihat: https://sunashadi.com/2022/06/26/asal-buaya-wakatobi/). Saya mendapatkan konfirmasi dari beberapa pihak mengenai informasi perjumpaan warga dengan buaya di sejumlah tempat: Tomia, Kaledupa, dan Kapota.

Saya berterima kasih kepada sejumlah kawan-kawan di platform facebook yang telah membagikan sebanyak 74 kali (sampai dengan pukul 21:11 WITA 28 Juni 2022), mendapatkan respon ‘suka’ 54 kali, dan komentar 41 kali. Sementara itu kunjungan pada situs saya (https://sunashadi.com) berkenaan dengan judul tersebut mencapai 700-an, suatu respon yang luar biasa. Sekali lagi terima kasih.

Ini beberapa informasi penting dari percakapan di facebook:

Saleh Hanan: Tahun 2007 kalau tak salah adakah buaya muara yang terbunuh diperairan Tomia kakau tak salah (?)
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : yang bunuh kebetulan di dete… Saya sempat ketemu nelayan yang bunuh dia cerita
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : siap.. tapi infonya yang buaya di Tomia adalah buaya yang lepas, bukan yang migrasi dari luar (info2 yang beredar). Kalau di kaledupa selatan ada pak, sudah banyak yang liat kalau yang lagi cari ikan, termasuk mertua yang bilang, tapi nanti bisa mungkin wawancara orang tua2 yang di kaledupa 😁
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : ini solusi mantap pak.. 😁 kalaau di Kaledupa tempatnya tertentu saja pak, masih melimpah sumber makanan sama habitatnya masih baik, jadi Ndak ganggu2 dari dulu, terinfo sampai sekarang masih aman… 😁
Ld Haerudin Haerudin: Ini perlu kajian mendalam kedepan, jika betul ada pemerintah harus mengambil langkah,untuk keamana kedepan utamanya nelayan!!
Alibasaru Odhem Kawadang: Fenomena ini jg terjadi di kepulauan Taliabu bagian Timur Selatan… Dugaan buaya ini menyebrang dari Australia.. kabarnya ada sekitar 800an ekor buaya lepas dari penangkarannya di Australia…
Elang Timur: Beberapa tahun lalu btnw kaledupa melepas seekor buaya di sekitaran laut pulau hoga. Buaya tersebut sebelumnya terperangkap jaring nelayan di perairan darawa kaledupa
Sem NuRlis: Di perairan kapota sdh sering di lihat
Stevhin Armait: d kapota ad jg
Myhammad Ali: Kalau di Tomia dulu benar adanya dan memang terperangkap dijaring nelayan diperairan dete, konon info yg berkembang buaya ini terlepas dari kapal yg dibawa pedagang
Romeo Syahrir Romeo: Tidak heran ada buaya di wakatobi dan itu fakta, persoalan ditemukan dimana itu tergantung habitat hidupnya,,dijumpai dilaut itu bisa jadi kategori buaya muara, di darat sekitar pantai, tepi sungai kebanyakan dijumpai,,wakatobi dan dikaledupa buaya bukan hal baru bisa kesana dihabitat tumbuh dan hidupnya
Romeo Syahrir Romeo: Sunarwan Asuhadi lokal sdrq kalau mau boleh explorasi di sana di rondo, bahua, ada banyak sarangnx
Romeo Syahrir Romeo: Jenisnya kebanyakan cayman itu buaya disana

Dari percakapan di facebook tersebut, terungkap bahwa pernah ada buaya yang terperangkap di Pulau Tomia (Perairan Dete), namun dibunuh oleh nelayan. Buaya tersebut diduga terlepas dari kapal yang dibawa oleh pedagang. Sayangnya, tak ada dokumentasi untuk memastikan spesiesnya, walaupun ada dugaan jika buaya yang dimaksud adalah buaya muara. Di Pulau Kapota juga kabarnya ditemukan buaya, namun belum ada informasi lebih lanjut mengenai spesiesnya.

Perjumpaan warga dengan buaya di Pulau Kaledupa ternyata lebih intens dibandingkan dengan pulau lainnya di Wakatobi. Terungkap bahwa di Kaledupa Selatan seringkali dijumpai. Bahkan dikabarkan beberapa tahun silam pihak Balai Taman Nasional Wakatobi pernah melepas seekor buaya di sekitar Pulau Hoga yang terperangkap di jaring nelayan Darawa.

Salah satu catatan penting yang saya harus garis bawahi adalah klaim saya pada tulisan sebelumnya yang seakan menyimpulkan bahwa buaya bukan spesies lokal di Wakatobi. Kenapa demikian? Oleh karena ternyata di Pulau Kaledupa sejak dahulu kala telah mengenal ada spesies lokal yang mirip buaya di sana. Hanya saja belum terlaporkan secara detil adalah spesies apa saja yang ada di sana, beredar info kalau spesies yang dimaksud adalah caiman.

Ada 4 spesies yang dianggap memiliki kemiripan: buaya, aligator, caiman, dan gharial. Keempat spesies tersebut berasal dari ordo Crocodilia. Dalam ordo Crocodilia, ada tiga keluarga, yaitu Alligatoridae, Crocodylidae, dan Gavialidae. Dari tiga keluarga ini ada 8 genus dan 23 spesies. Namun, masyarakat umumnya menyebut semua hewan tersebut dengan sebutan buaya, walaupun sebenarnya memiliki perbedaan.

Buaya berasal dari keluarga Crocodylidae, aligator dan caiman adalah bagian dari  keluarga Alligatoridae, sedangkan gharial adalah keluarga Gavialidae. Pada umumnya, buaya dan aligator merupakan dua anggota ordo Crocodilia yang paling populer.

Lalu, bagaimana perbedaannya?

Bentuk rahang aligator dan caiman lebih lebar dan ujungnya tidak lancip, sedangkan buaya memiliki rahang yang lebih panjang dan lancip. Bentuk rahang aligator dan caiman seperti huruf ‘U’, sedangkan buaya berbentuk seperti huruf ‘V’, dan gharial berbentuk moncong panjang dan kecil.

Perbedaan lainnya adalah bentuk gigi. Moncong buaya tertutup, gigi keempat pada bagian bawah, terlihat dan tampak menempel dengan rahang atasnya, seperti menyeringai. Pada aligator dan caiman mempunyai rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah, gigi tidak terlihat saat moncongnya tertutup.

Adapun habitat buaya umumnya di wilayah air asin seperti rawa-rawa di hutan bakau atau muara sungai air asin. Buaya memiliki kelenjar yang dapat menghilangkan kelebihan garam di tubuhnya. Aligator, caiman, dan gharial tidak mempunyai kelenjar seperti buaya, sehingga lebih banyak tinggal di sekitar perairan air tawar (https://bobo.grid.id/read/081654674/perbedaan-buaya-aligator-caiman-dan-gharial-akubacaakutahu?page=all).

Perbedaan ukuran panjang tubuh bervariasi. Gharial bisa mencapai ukuran 6,25 m, umumnya panjangnya sekitar 3,5 – 4,5 meter. Alligator dapat mencapai panjang 2,7 – 4,8 meter. Buaya bisa mencapai 4,2 – 4,5 meter, dan yang terbesar adalah buaya air asin bisa mencapai panjang 5 – 5,4 meter. Adapun caiman berukuran terkecil, panjang hanya 2 – 2,5 meter (https://portalsains.org/2020/09/08/ini-bedanya-crocodile-alligator-caiman-dan-gharial/).

Seberapa bahaya ordo Crocodilia ini?

The Worldwide Crocodilian Attack Database (CrocBITE), mencatat ada sekitar 7 buaya yang dilaporkan memiliki reputasi menakutkan dalam serangannya terhadap manusia, yakni: black caiman (di Amerika Selatan bagian utara dan dapat ditemukan di sebagian besar lembah Sungai Amazon dari Peru dan Ekuador ke arah timur hingga Guyana dan Suriname), buaya rawa (ditemukan di kolam air tawar, lahan basah, danau, dan aliran sungai yang mengalir lambat, seperti ditemukan di Iran ke pinggiran barat Asia Tenggara), buaya Amerika (disebut juga buaya Amerika Tengah, menghuni berbagai habitat perairan dari Florida selatan dan Meksiko selatan melalui pulau-pulau Karibia dan Amerika Tengah hingga Amerika Selatan bagian utara, gharial atau gavial (seperti yang mendiami sungai-sungai di India utara dan Nepal), aligator (misalnya di Amerika berasal dari wilayah Gulf Coast Amerika Serikat dan dapat ditemukan di lingkungan air tawar mulai dari danau dan sungai hingga rawa, rawa, dan lahan basah lainnya), buaya air asin (misalnya yang hidup di kawasan Asia Tenggara, dari India selatan hingga pinggiran utara Australia), dan buaya Sungai Nil (https://sains.sindonews.com/read/628603/766/7-buaya-paling-berbahaya-di-dunia-nomor-5-miliki-reputasi-menakutkan-1639519935?showpage=all).

So, spesies lokal yang ada di Wakatobi adalah caiman. Spesies yang se-ordo dengan buaya, tetapi sesungguhnya bukan spesies buaya. Jadi kalau ada spesies buaya yang ke Wakatobi, sepertinya berasal dari luar daerah. []

Oh, Ternyata Ini Buaya Asli Wakatobi? Read More »

Asal Buaya Wakatobi

Sejak sore, 25 Juni 2022 warga Waha Raya (sebutan untuk wilayah pemekaran Desa Waha: Sombu, Wapia-pia, Waha, dan Koroe Onowa) dihebohkan oleh kabar perjumpaan warga dengan buaya di area perairan laut setempat. Setidaknya ada 2 orang warga yang menyatakan melihat langsung, dan 1 orang warga terindikasi melihatnya secara sepintas.

Saya tidak sempat mendapatkan informasi dari 2 warga yang kabarnya melihat langsung. Satu di antaranya saya sudah ajak untuk berkabar melalui whatsapp (inisial AJR), namun hingga artikel ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan respon. Hanya saja, ia telah mengabarkan kejadian yang dijumpainya secara terbuka melalui akun facebooknya, lalu diedarkan oleh banyak akun whatsapp melalui pesan screenshoot.

Satu warga yang terindikasi melihatnya (Inisial ASR), menceritakan jika beberapa waktu menjelang matahari terbenam, ia melihat ada obyek yang disangkanya merupakan batang pohon yang lumayan besar. Berhubung waktu tak lama lagi akan masuk waktu Magrib, ia memutuskan untuk mengambilnya. Ketika ia mendekat, tiba-tiba obyek tersebut bergerak membenamkan diri ke dalam laut. Ia kaget bukan kepalang, ia segera pulang dan mendayung sampan secepat-cepatnya, karena ketakutan.

Peristiwa ini terjadi dalam durasi waktu yang hampir bersamaan. Pertama dikabarkan terlihat di Watutowengka Desa Wapia-pia, area tebing pantai yang berdekatan dengan perairan Sombu Dive dan Jokowi Point, suatu area perairan yang menjadi ikon utama untuk diving di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Kedua dikabarkan terlihat di area perairan Ou Ntooge Desa Waha (Inisial LPD). Keduanya menyaksikan ketika sedang beraktivitas memanah ikan.

Apakah ini patut dipercaya: ada buaya di Perairan Wangi-Wangi, khususnya Perairan Waha Raya?

Sejauh pengamatan saya, sebagian warga yang saya konfirmasi cenderung percaya. Para pemberi kabar adalah orang-orang yang cukup dipercaya di tempatnya masing-masing. Dan secara terpisah memberikan kesaksian yang serupa. Apakah spesies buaya yang dijumpai tersebut adalah individu yang berbeda ataukah sama? Ini juga belum terjawab.

Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah. Bisa jadi karena bertepatan dengan hari libur, ataukah tidak ada pihak yang melaporkan secara resmi, dan ataukah peristiwanya terjadi secara spontan dan posisi obyeknya tak terpantau lagi.

Tentu ini perlu kepastian, sehingga selayaknya pihak yang berwenang dapat mengambil inisiatif untuk mengendalikan informasinya, sebelum digiring, ditekel, dan disundul ke sana ke mari oleh opini.

Seberapa pentingkah opini tentang buaya di laut Wakatobi ini untuk direspon?

Sederhananya saja, sejak informasi ini tersebar, di perairan Waha Raya, tak ditemukan ada warga yang berani berenang: dari anak-anak hingga dewasa. Tentu pola serupa akan sama pada para penghobi diving, snorkeling, atau penikmat wisata air laut lainnya. Padahal kekuatan wisata di Wakatobi adalah perairan lautnya. Bahkan muncul seruan (liar) lokal agar aktivitas ‘panah-panah ikan’ dihentikan untuk sementara waktu. Jika ini terjadi, tentu akan ada dampak pendapatan dan suplai pangan, minimal pada skala desa.

Opini ‘liar’ buaya ini seyogyanya perlu ditanggapi. Ini dapat memengaruhi citra wisata laut Wakatobi, terlebih lagi bersinggungan dengan keselamatan jiwa warga. Buaya di laut itu bukanlah obyek estetika, tetapi ia adalah predator. Sehingga perairan Wakatobi harus dipastikan ‘zero buaya’.

Terlepas dari keberadaan buaya ini perlu pembuktian secara resmi atau scientific dalam sudut pandang pemerintah atau tidak, tetapi keberadaannya dalam perspektif sosial, sudah dianggap terbukti. Perjumpaan di Waha ini bukan kasus yang pertama di Wakatobi, sejumlah warga sudah mengafirmasi, jika di beberapa tempat pernah ditemukan: di Tomia, infonya dengan panjang sekitar 2,5-3 m terperangkap dalam jaring warga, di Kapota juga tahun lalu ada warga yang menyaksikan pada saat menyuluh.

Pertanyaan berikutnya: jika benar buaya ada di Wakatobi, apakah ia spesies lokal atau introduksi?

Berdasarkan data historis yang tersimpan dalam ‘arsip’ memori warga, termasuk data hasil survey para pemangku kepentingan sumber daya fauna di Wakatobi, dapat disimpulkan bahwa buaya bukan spesies lokal (native species atau indigenous species.). Beberapa habitat yang relevan dengan kehidupan buaya di Wakatobi, secara jangka panjang tidak pernah ditemukan buaya, misalnya pada ekosistem mangrove di Kaledupa, dsb.

Oleh karena buaya bukan spesies lokal, maka sudah pasti kemungkinannya adalah spesies introduksi. Lalu dari mana ia berasal?

Untuk mengidentifikasi sumbernya, disayangkan tidak ada satupun data dokumentasi terkait spesies buaya yang dijumpai ini. Faktor (dokumentasi) inilah yang membuat sampai saat ini, keberadaan buaya yang dijumpai warga tersebut dianggap kurang meyakinkan bagi sebagian warga.

Salah satu wilayah yang patut diduga menjadi asal muasal buaya di Wakatobi adalah bisa jadi berasal dari muara sungai di sepanjang pesisir bagian Selatan Pulau Buton, yang menghadap ke pulau-pulau di Wakatobi. Spesies buaya yang dilaporkan ada di wilayah tersebut adalah buaya muara (Crocodylus porosus) (https://kumparan.com/kendarinesia/buaya-4-2-meter-yang-ditangkap-di-buton-diduga-pernah-terkam-warga-1rsHNKfCwIa/1).

Spesies tersebut disebut juga buaya air asin sama dengan yang pernah ditemukan di pulau Pasifik Selatan. Apatah lagi beberapa hari ini, terjadi hujan deras berhari-hari, tentu akan menurunkan kadar salinitas air laut yang dapat saja mendukung interaksi buaya dengan air laut, seumpama ketika berada di sungai dan muara.

Spesies Crocodylus porosus dilaporkan dapat mengendarai arus permukaan laut untuk perjalanan jarak jauh, bahkan memungkinkan mereka untuk berlayar dari satu pulau samudera ke pulau lainnya (>48 km). Buaya spesies ini menurut para ilmuwan akan memulai perjalanan jauh terhitung satu jam setelah perubahan pasang yang memungkinkan mereka untuk mengikuti arus (https://www.kompas.com/sains/read/2022/01/08/180200323/ilmuwan-ungkap-cara-buaya-air-asin-menyebrangi-laut?page=all#page2).

Pertanyaannya: apa penyebab spesies ini meninggalkan habitatnya?

Reptil ini dikenal merupakan pemangsa yang memiliki selera makan yang besar dan kuat. Ketika melakukan migrasi, mereka melakukannya secara kolektif. Apakah mungkin habitat buaya di sungai-sungai dan muara di bagian Selatan Pulau Buton telah mengalami gangguan? Tersebar informasi jika di beberapa tempat di sana terjadi eksploitasi yang terindikasi memengaruhi habitat dan kenyamanan buaya. Sejumlah video beredar di grup-grup whatsapp yang memperlihatkan aktivitas warga melakukan penangkapan buaya. Dalam keterangan video tersebut, tertulis: Malaoge Lasalimu Selatan.

Dengan demikian, eksistensi pariwisata laut Wakatobi akan dipengaruhi oleh ekosistem wilayah di sekitarnya. Tidak bisa otonom. Dibutuhkan kepastian membaiknya ekosistem sungai dan muara di wilayah-wilayah di sekitarnya, misalnya Kabupaten-Kabupaten yang berada di bagian Selatan Pulau Buton. Sehingga buaya yang ada di wilayah tersebut dapat tinggal secara alami di sana, tak perlu melakukan migrasi.

Salah satu informasi yang dapat dijadikan contoh adalah inisiatif dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lingga yang mempertimbangkan perlunya tempat penampungan buaya, sehingga tidak mengganggu aktivitas warga (https://soj.umrah.ac.id/index.php/SOJFISIP/article/view/629/545).

Kebutuhan akan pengendalian buaya di wilayah-wilayah bagian Selatan Pulau Buton semakin penting, semisal penangkaran, sehingga buaya yang berkeliaran segera dapat teratasi agar tidak mengganggu warga dan aktivitasnya. Yang tak kalah penting adalah kebutuhan kita akan manajemen pembangunan yang berkualitas dari pemerintah terkait, yang mampu mengendalikan aspirasi-aspirasi kemajuan fisik daerah tanpa merusak tata lingkungan ekosistem kita. Wallahualam bissawab.

Asal Buaya Wakatobi Read More »

Warning 5,8

Pada 5 Januari 2022, pukul 03.55 WITA (dini hari menjelang subuh), Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kendari melaporkan telah terjadi gempa pada jarak 182 km Timur Laut Wakatobi, pada kedalaman 569 Km.

Kejadian ini bahkan dinarasikan secara berlebihan pada salah satu chanel youtube, membubuinya dengan judul: SULAWESI PORAK PORANDA! Baru Saja Gempa 5,8 M Getarkan Wakatobi, Warga Histeris Ketakutan.

Alhamdulillah, gempa yang terjadi tersebut, di saat sebagian besar masyarakat Wakatobi masih tertidur lelap, masih dalam skala gempa yang tidak menimbulkan bencana dan marabahaya.

Alhamdulillah, kebaikan dan keselamatan ini, bisa jadi oleh karena di Wakatobi, masih ada ikhtiar menegakkan agama Allah SWT, dengan ibadah, dengan dakwah, ataupun dengan seruan-seruan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Walaupun sebagian besar manusia tak menyadari, jika upaya memakmurkan masjid dengan sholat-sholat wajib dan sunnah adalah bagian besar dari kegiatan pembangunan.

Banyak yang tidak menyadari, jika seruan dakwah, sholat tahajud, berjalannya hamba-hamba Allah dalam gelap dan dinginnya subuh adalah bagian dari partisipasi pembangunan dari hamba-hamba Allah yang melakukannya.

Kenapa demikian?

Bisa jadi (Insya Allah) atas tegaknya amalan-amalan tersebut, maka bangunan, gedung, jalan-jalan, pemukiman, perkampungan dan berbagai fasilitas pembangunan, tidak mengalami kerusakan, karena dijauhkan dari bencana dan malapetaka, disebabkan oleh tegaknya syari’at Allah SWT.

Oleh karena itu, upaya untuk memakmurkan masjid dan menegakan agama Allah SWT, tak boleh dipandang remeh oleh para pemimpin, oleh karena upaya tersebut adalah salah satu ikhtiar besar bagi keberlangsungan pembangunan, khususnya di negeri-negeri kaum muslimin.

Penting kiranya mengambil pelajaran (ibroh) dari peristiwa ini. Seberapa pun skala gempa yang terjadi sesungguhnya bukanlah sekedar peristiwa alamiah, tetapi adalah warning bagi seluruh warga, khususnya para pemimpin untuk menatakelola pembangunan ini dalam jalan-jalan keridhoan Allah SWT.

Ini persis seperti perkataan Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy,

“Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.’’

Gempa dengan skala 5,8 SR sebagaimana yang terjadi di Wakatobi ini, diindikasikan memiliki efek gempa yang dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik.

Bisa jadi karena jarak gempa dan episentrum yang lumayan jauh dari lokasi pulau di mana warga bermukim (tentu atas izin Allah SWT), sehingga efeknya tak terasa oleh warga.

Selengkapnya skala dan efek gempa diklasifikasikan sebagai berikut:

https://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Richter

Sekali lagi, ada pelajaran penting dari setiap peristiwa, khususnya dalam gempa ini. Mari mengambil bagian dalam menjaga dan menegakkan hukum-hukum Allah SWT, baik qauniyah (hukum alam) maupun qauliyah (hukum syari’at).

Warning 5,8 Read More »

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 2/2)

Kemudian secara sosial, pencapaian kesejahteraan itu dapat divaluasi numeriknya melalui sensor-sensornya, baik sensor rasio maupun emosi sebagai bawaan alamiah dalam diri manusia.

Sistem kepribadian manusia dibangun dari potensi akalnya sebagai peralatan rasio dan potensi kehidupannya sebagai peralatan emosi.

Akal bukanlah potensi kehidupan, tetapi hanya potensi kemanusiaan. Kenapa bisa? Hewan dan tumbuhan tidak mempunyai akal, namun bisa hidup segar bugar.

Akal memiliki memori yang tersimpan dalam otak dengan kapasitas sekitar 2,5 petabyte, dan sebagai sebuah potensi, akal juga memerlukan pemenuhan.

Semakin mudah seseorang mendapatkan informasi (ilmu) dan semakin mudah seseorang memecahkan masalah berdasakan ilmu pengetahuan, semakin mudah ia merasakan kenyamanan dalam pemenuhan fungsi-fungsi akalnya. Sebaliknya, semakin sulit ia memenuhi tuntutan pemenuhan akan kepuasan akal, semakin ia dekat dengan kegelisahan.

Sensor yang kedua adalah emosi yang bersumber dari potensi kehidupan, yang terdiri dari dua subsensor utama, yakni kebutuhan jasmani (hajatul udhuwiyah) dan naluri.

Kebutuhan jasmani merupakan pemenuhan yang bersifat pasti dan tak boleh ditunda-tunda. Menunda pemenuhannya akan mengantarkan seseorang lebih dekat dengan kondisi kritisnya, karena bisa berakibat fatal, misalnya sakit, pingsan, bahkan kematian. Ini menyangkut pemenuhan kebutuhan penting, seperti makan, minum, buang air, dsb.

Semakin mudah seseorang memenuhi tuntutan dari kebutuhan jasmani, maka akan semakin terasa nyaman ia dengan kehidupannya. Sebaliknya semakin sulit ia memenuhi tuntutan dari kebutuhan jasmani tersebut, maka semakin gelisah dan kritis suasana kehidupannya.

Kemudian berikutnya terkait dengan pemenuhan naluri, yang pokoknya ada tiga macam, yakni: naluri beragama (gharizah tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) maupun naluri melestarikan keturunan (gharizah naw’).

Adalah mustahil seseorang mendapatkan kebahagiaan bila mengabaikan atau menghilangkan pemenuhan salah satu dari naluri di atas. Tidak memenuhi salah satunya, maka akan menimbulkan kegelisahan.

Orang-orang atheis di Uni Soviet (sekarang Rusia) mengaku tak meyakini adanya tuhan, namun dalam prakteknya, pemenuhan naluri tersebut dialihkan dari pengagungan kepada tuhan menjadi pengagungan kepada sosok yang lain, misalnya kepada patung idola mereka.

Untuk naluri mempertahankan diri, setiap manusia membutuhkan perlindungan, baik berupa perlindungan tempat tinggal, baju, maupun ancaman lainnya.

Sementara itu, pemenuhan naluri menyukai lawan jenis, bukanlah semata-mata sebagai perkara seksualitas semata. Tetapi lebih agung dari itu, yakni perkara melestarikan keturunan.

Mencermati uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sensor-sensor kesejahteraan merupakan fungsi pemenuhan potensi manusia dan potensi kehidupan. Terpenuhi tidaknya kesejahteraan akan terukur melalui sensor-sensor tersebut.

Semakin terpenuhi pemenuhan kedua potensi manusia di atas, maka bacaannya akan kelihatan pada sensor-sensor tersebut.

Mengingat kesejahteraan adalah kesempurnaan dan atau idealitas, maka kesempurnaan pencapaiannya setara dengan 100% = 1.

Jadi secara umum, kesejahteraan dapat diformulasikan dalam fungsi sebagai berikut:

ppM + ppK = Ks
ppM + ppK = 1
p(A) + [pKJ + pKN] = 1
p(A) + [pKJ + (pNA + pNMD + pNMK)] = 1

Dimana;
Ks = Kesejahteraan
ppM = Pemenuhan potensi manusia
ppK = Pemenuhan potensi kehidupan
p(A) = Pemenuhan kebutuhan akan akal
pKJ = Pemenuhan kebutuhan jasmani
pKN = Pemenuhan kebutuhan naluri
pNA = Pemenuhan naluri beragama
pNMD = Pemenuhan naluri mempertahankan diri, dan
pNMK = Pemenuhan naluri melestarikan keturunan

Mampukah manusia memenuhi 100% kesejahteraan mereka? Tentu sulit bagi manusia untuk memenuhinya. Namun setidaknya, dalam sistem yang baik akan cenderung mampu memenuhi sekitar 80-90%, sementara dalam sistem yang malfungsi akan ‘bermain’ di bawah 50% bahkan mayoritas di sekitar 20%.

Kenapa demikian? Karena memang dunia ini, oleh Allah SWT tidak dirancang sebagai tempat ‘pemuasan’ kebutuhan dan keinginan manusia. Tetapi Allah SWT merancang bumi ini sebagai tempat ujian untuk mementaskan amal saleh.

Sedangkan untuk negeri ‘pemuasan’ kebutuhan dan keinginan manusia itu adanya adalah di surga.

Oleh karena itu, jika ingin merasakan kesejahteraan maksimal di dunia, maka gunakanlah sistem terbaik.

Namun, itu tidak cukup memuaskan seluruh kebutuhan dan keinginan manusia. Akan tetapi, dalam sistem terbaik itu dapat menjadi jalan utama untuk mendapatkan kesejahteraan sesungguhnya, bahkan jauh di atas 100%.

Rasulullah SAW bersabda dalam Riwayat Bukhari dan Muslim,

“Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, tak pernah terkhayal dalam khayal manusia”

Ingatlah sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa perbandingan dunia ini dan akhirat, adalah seumpama seorang pergi ke pinggir laut lalu memasukkan sebuah jari tangannya ke laut lalu mengangkatkan tangan itu.

Lanjutnya, air yang melekat pada jarinya yang basah itu adalah ibarat dunia. Sedangkan air yang tertinggal di lautan itulah akhirat.

Begitupun sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan 100 rahmat. Satu rahmat dibagikan kepada seluruh isi dunia ini yang merupakan manusia dan binatang-binatang, sedang 99 bagian yang lain akan dibagikan di akhirat, yakni di dalam surga.

Jadi, sederhananya, kesejahteraan di surga itu adalah 99 kali kesejahteraan dunia sekarang ini.

Wallahu a’lam bishawab.

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 2/2) Read More »

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 1/2)

Salah satu terma pembangunan yang dapat dikatakan seumuran dengan masyarakat manusia adalah kesejahteraan. Dan atas nama kesejahteraan pula, manusia menyepakati perlunya negara dan pemerintahannya.

Akan tetapi, usia panjang terma kesejahteraan tersebut, tidak lantas menjadikannya mudah untuk direalisasikan.

Silih berganti negara, kekuasaan, manusia, waktu, bahkan peperangan dan silang sengketa hadir untuk mengurusnya, namun mewujudkannya laksana menegakkan benang basah.

Demikian sulitkah menghadirkan kesejahteraan?

Tentu, tidak juga. Oleh karena, ada masa-masa di mana ia pernah membersamai masyarakat. Tetapi ia hadir bukan laksana musim apalagi adakadabra.

Menyebut Negeri Saba’, Kekuasaan Nabi Sulaiman, ataupun Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, maupun Khalifah Harun ar Rasyid tentu menjadi puncak-puncak percontohan Negara Sejahtera.

Itu berarti, kesejahteraan bukanlah warisan yang diterima begitu saja, tetapi merupakan resultan dari pekerjaan sistem yang mengusahakannya.

Kesejahteraan itu tidaklah laksana memetik buah mangga, mengupas, lalu memakannya. Akan tetapi, ia laksana resep makanan yang memerlukan keahlian meraciknya, sistem memasaknya hingga menyajikannya.

Dalam buku saya ‘Islam dan Negara Kolaboratokrasi: Kritik dan Rekonstruksi Ideologis Pembangunan Masyarakat’ Jilid I, saya mengistilahkan ‘meracik pembangunan’ dengan sebutan Filosofi Kolaborasi MENO (Makanan Enak dan Nutritious).

Oleh karena itu dalam usaha meng-konstruksi kesejahteraan, dibutuhkan sistem cerdas dan keahlian sistemik.

Maknanya adalah tombol aktif kesejahteraan itu adalah sistem dan manajernya.

Namun, tidak asal ada sistem dan manajer, maka masyarakat akan sejahtera, karena ada tombol sosial yang bawaannya memang malfungsi: kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, dan komunisme adalah contohnya.

Itulah pentingnya mengambil ibrah dari sistem sosial yang benar-benar telah terbukti sebagai tombol aktif kesejahteraan.

Salah satu sifat utama sistem cerdas adalah kemampuan metodiknya mengelola urusan-urusan warga secara total dan berkeselarasan.

Sebaliknya tombol-tombol yang cacat, bawaan sistem rusak akan menampakkan sifat kanibalisme-nya. Contohnya, jika ingin memaksimalkan aspek ekonomi, terkadang harus mengorbankan aspek sosial, dsb.

Tidak jarang, untuk alasan pendapatan, maka produksi minuman keras dilegalkan, lokalisasi prostitusi dibolehkan, termasuk perjudian dsb. Untuk alasan ini, maka aspek sosial seperti keteladanan dan moralitas menjadi terbanting ambruk. Inilah kanibalisme dalam sistem yang malfungsi.

Lanjut ke Bagian 2

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 1/2) Read More »

Hijrah ke Kolaboratokrasi

Sumber foto: https://ekonomi.kompas.com

Pada era Orde Baru, para pemerhati pembangunan mengkritik habis cara Pemerintah dalam memperlakukan perencanaan pembangunan, yang sangat kental dengan pendekatan teknorasi.

Pendekatan tersebut diwarnai oleh praktek pembangunan yang mengandalkan modal asing.

Kritik di atas bermuara pada tiadanya ruang bagi warga ‘akar rumput’ mentransaksikan ide perencanaannya serta bagaimana mereka memiliki kedaulatan dalam membuat ‘proyek’ pembangunan berdasarkan fakta dan realitas yang mereka hadapi.

Seiring dengan hadirnya reformasi, euforia pembangunan berbasis masyarakat bertumbuh dengan pesatnya.

Pada awalan reformasi tersebut, terma inisiatori dan partisipatori mendominasi percakapan pembangunan, seakan-akan saat itu adalah era partisipatokrasi, padahal realitasnya, suasana tersebut didefinisikan sebagai era demokratisasi.

Dalam prakteknya, ternyata pembangunan pada level masyarakat belum bisa bergantung pada apa yang disebut dengan partisipatori.

Bahkan partisipatori sentris menjadi salah satu bias demokratisasi, yang membuka lapangan bebas bagi seluruh warga untuk memaksakan persepsi dan ekspektasinya dalam pembangunan.

Bekerjanya partisipatori dalam masyarakat menyebabkan ‘surplus’ R-O-N pada satu sisi, dan ‘defisit’ R-O-N pada sisi yang lain. Artinya partisipatori memerlukan gerakan tambahan yang berperan untuk memproses pengukuran unsur-unsur pembangunan sesuai isu yang dihadapi.

Proses yang dapat mengumpulkan aneka partisipasi stakeholders tersebut, kemudian dikenal dengan kolaborasi.

Rasa-rasanya kolaborasi telah dianggap menjadi panggung terakhir yang dipercaya dapat meracik kebutuhan pembangunan seluruh pemangku kepentingan.

Untuk tugas ini, sepertinya gagasan kolaborasi berhasil untuk meyakinkan kita bahwa, ia-lah kebutuhan kita.

Sayangnya, kita ternyata tidak hanya membutuhkan kolaborasi sebagai proses yang dapat meramu semua kebutuhan kita. Namun, kita membutuhkan suatu wadah yang bisa mempertahankan proses kolaborasi tersebut.

Wadah kolaborasi tersebut, oleh penulis menyebutnya sebagai kolaboratokrasi. Dengan penciri utama di antaranya: tidak hanya kolaborasi pada sumberdaya (Resources) maupun kelembagaaan (Organization) semata, tetapi ada kepastian kolaborasi tersebut diikat melalui norma-norma (Norm) di masyarakat.

Maka kebutuhan kita saat ini adalah bagaimana pemerintah memiliki kewajiban untuk mengadopsi success story pembangunan untuk menjadi bahan baku peraturan perundang-undangan.

Peraturan perundang-undangan tersebut akan memperpanjang nafas kolaborasi.

Pada saat yang sama, semua praktek cerdas yang telah dihasilkan dari berbagai ragam praktek pembangunan, baik yang diperankan oleh pemerintah, non pemerintah, bahkan perseorangan sekalipun harus didorong untuk menjadi bahan dasar dari peraturan perundangan-undangan.

Upaya meletakkan praktek-praktek pembangunan seperti ini akan menjadi jangkar ‘bersama’ warga.

Melalui kolaboratokrasi diyakini akan dihasilkan suatu internalisasi dan ekternalisasi dari kolaborasi R-O-N (Resources-Organization-Norma) pembangunan.

Wallahu a’lam.

Hijrah ke Kolaboratokrasi Read More »

Menanti ‘Godot’ Kolaborasi Pembangunan

Sumber gambar: Kompasiana.com

Godot merupakan istilah yang diadopsi dari judul (naskah) drama dua babak karya Samuel Beckett. Karya tersebut berupa drama absurd yang hanya menampilkan lima aktor itu berkisah tentang Estragon dan Vladimir. Keduanya menantikan kedatangan Godot—suatu sosok yang mewakili gagasan sentral yang hakekatnya justru tidak pernah muncul sepanjang cerita.

Pada akhirnya Godot menjadi ungkapan umum. Menunggu Godot menjadi bermakna sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Dalam penggunaannya secara konotatif, kata ini dapat bermakna sebagai sebuah kesia-siaan atau juga ketidakmampuan (yang keterlaluan) dalam membaca situasi atau gelagat. Dengan kata lain: bisa bermakna sebagai sebuah penantian konyol.

Kalau demikain maknanya, kenapa kolaborasi dapat menjelma sebagai Godot?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyepelekan nilai penting perjuangan para pengusung kolaborasi. Hanya saja, berkaca dari sejumlah inisiasi kolaborasi pembangunan yang pernah bertumbuh, banyak di antaranya hanya hadir seumur jagung.

Pertanyaannya: apa penyebab kegagalan kita merangkai kolaborasi dalam pembangunan?

Sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini, penting kiranya menghitung ulang, berapa sudah program dan kegiatan pembangunan yang telah anda saksikan dibangun atas nama kolaborasi. Mungkin anda-lah orangnya yang pernah merencanakan kolaborasi untuk rehabilitasi hutan? Atau penyelamatan terumbu karang? Atau mungkin penanganan sampah plastik dan timbulan sampah? Dan lain sebagainya.

Jangan bilang penyebabnya oleh karena tidak ada dana. Kenapa? Sungai Ciliwung menjadi saksi, jika permasalahan primer kolaborasi bukanlah anggaran. Sungai Ciliwung kerapkali mengirimkan air bah menggenangi Jakarta, Ibukota Negara. Memangnya Jakarta sebagai ibukota negara dan Provinsi yang ada di ibukota negara tidak punya anggaran?

Jangan bilang penyebabnya karena kekurangan tenaga ahli atau tenaga teknis? Sekali lagi Sungai Ciliwung menjadi saksi. Jawa Barat Provinsi terpadat penduduknya, sepertinya tak akan sulit mencari tenaga yang dibutuhkan. Belum lagi, kampusnya para engineering ada di Bandung (Institut Teknologi Bandung). Jangan lupa juga Institut Pertanian Bogor, gudangnya pakar lingkungan ada di Jawa Barat.

Jangan bilang lagi jika penyebabnya adalah egosektoral? Kenapa? Jika anda pernah bertengkar dengan saudara anda karena alasan ‘egosektoral’, cukuplah kebijakan dan sanksi seorang ayah dan/atau ibu yang menyebabkan anda kembali berkolaborasi.

Jika Jakarta dan Jawa Barat belum mengajarkan kita arti sebuah dana dan SDM untuk kolaborasi, terasa sulit kesannya untuk memberhasilkan kolaborasi bagi kita yang hidup di Indonesia Tengah dan Timur. Sedangkan di kota sudah tak bisa, apalagi di desa, demikian kesannya. Rasa-rasanya inilah contoh Godot dalam kolaborasi.

Namun, jika benar-benar kolaborasi menjelma menjadi Godot, sepertinya kita harus menjadi Samuel Beckett untuk memaksakan memunculkan Godot pada drama yang ditulis dan dipentaskan. Artinya persis yang disebutkan rekan saya Syaharudin (HAK) ketika menyoal tentang kolaborasi Cagar Biosfer Wakatobi dengan mengatakan: kita membutuhkan leader untuk mewujudkan (kolaborasi) itu.

Menanti ‘Godot’ Kolaborasi Pembangunan Read More »

Aset Berharga Pembangunan Kita: Refleksi 17 Tahun Ber-Wakatobi

Salah satu pemandangan di Pulau Tomia (Foto: Abas)

Sekira Tiga Belas tahun yang lalu, saya untuk pertama kalinya memfasilitasi suatu program pendampingan masyarakat. Program tersebut bernama Coral Reef Rehabilitation and Management Program, disingkat dengan Coremap. Di atas kertas, program ini merupakan salah satu program unggulan di sektor perikanan dan kelautan.

Sepanjang pelaksanaan program tersebut, acapkali dilaksanakan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas bagi pengelola, pelaksana lapangan, juga warga pada umumnya. Program ini berjalan sekitar tahun 2005 s.d. 2011.

Pada sekitaran tahun tersebut, 2005 – 2010, berlangsung sejumlah pengembangan kapasitas pengorganisasian maupun pemfasilitasian masyarakat di Kabupaten Wakatobi. Ada pelatihan Community Organizer yang terselenggara atas kerjasama TNC – WWF. Kemudian berlangsung juga pelatihan untuk Community Facilitator yang terlaksana atas kerjasama JICA CDP dan Bappeda Wakatobi.

Selain itu, ada juga pelatihan untuk pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s), U Theory dan lain sebagainya.

Jika serentetan pelatihan peningkatan kapasitas tersebut, dihitung perubahan yang dihasilkan, tentu kita akan sepakat bahwa Output, Outcome, Benefit dan Impact-nya ada. Setidak-tidaknya (mungkin) masih tersedimentasi pada semesta berpikir para alumni-nya. Walaupun mungkin tidak seluruhnya.

Hanya sayangnya, jika kualitas kita mendiskusikan rehabilitasi terumbu karang, penanganan sampah, dilema penambangan pasir, dll pada periode 5 tahun pertama masih setara dengan periode 5 tahun ketiga, mungkin juga 5 tahun mendatang.

Bagi saya, salah satu aset berharga dari pelaksanaan pembangunan Wakatobi selama ini, di antaranya ada pada para kader dari sejumlah alumni pelatihan tersebut. Khususnya pada pelatihan yang berorientasi sistem. Aset berharga kita bukan pada bangunan fisik pembangunan yang dihasilkan (jalan raya, jembatan, dlsb). Tentu saja, tidak semua para alumni-nya adalah ‘kader yang sesungguhnya’, kecuali pada mereka yang masih ‘merapihkan’ file-file kognisi, afeksi, dan skill-nya dari sistem berpikir sejumlah pelatihan tersebut.

Sepertinya aset-aset berharga ini membutuhkan inventarisasi maupun revitalisasi, persis seumpama Barang Milik Daerah/Negara. Mereka merupakan salah satu tombol aktif utama yang dapat meningkatkan kualitas pembangunan di Wakatobi. Kebutuhan kita terhadap keberadaan mereka, bahkan sama dengan peran para dokter dan tenaga medis lainnya dalam menyehatkan raga warga, atau laksana peran para guru dalam mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik. Karena mereka tidak hanya merawat alam tapi juga merawat prinsip, metodologi, dan teknik-teknik untuk pembangunan dan kesejahteraan.

Para dokter dan tenaga medis menyelamatkan kita dari penyakit-penyakit tertentu, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi apa yang disebut dengan malpraktek. Sama halnya juga guru yang mungkin juga melakukan salah didik. Begitupun juga dalam tindakan pembangunan daerah, dimungkinkan berlangsung apa yang disebut dengan malpraktek dari kebijakan pembangunan, maka tak jarang kita menemukan, jika kritik maupun inisiatif dan partisipasi pembangunan justru diproduksi oleh para kader di atas.

Sampai dengan saat ini, kita dapat menemukan kontribusi kritik konstruktif, inisiatif, partisipasi, bahkan implementasi kolaborasi diperankan secara konsisten oleh Forkani, Komunto, Komanangi, Foneb, dan tentu saja masih banyak pihak lainnya yang tidak tersebut satu per satu. Mereka pada umumnya adalah keluaran dari ‘almamater’ pelatihan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah disebutkan di atas.

Demikianlah aset-aset pembangunan daerah kita yang perlu dirawat eksistensinya.

Aset Berharga Pembangunan Kita: Refleksi 17 Tahun Ber-Wakatobi Read More »

Bagaimana Memulai Perubahan?

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap saat manusia ingin berubah. Hanya saja manusia diperhadapkan dengan perbedaan orientasi, metodologis, dan teknik melakukan perubahan.

Bahkan luar biasanya, peralatan perubahan yang paling mendasar dari manusia ada pada dirinya sendiri.

Tak jarang banyak manusia terkesima dengan hasil yang dicapai oleh orang lain. Tanpa mempertanyakan atas dasar apa perubahan itu bisa terjadi. Padahal semua manusia memiliki perangkat alamiah untuk menghasilkan perubahan.


Peralatan dasar tersebut terbentuk secara alamiah bersama kelahirannya. Apa itu peralatan mendasarnya?

Peralatan yang dimaksud adalah dasar dari manusia untuk menghasilkan kesadaran. Dengan peralatan dasar tersebut, manusia menyadari apa pentingnya ia harus berubah.

Dan peralatan dasar yang dimaksud adalah akalnya. Dari kinerja akalnya, manusia akan menetapkan positioning berupa mindset perubahan itu sendiri, baik terkait orientasi, metodologis, maupun teknisnya.

So, mari menjaga aset dasar kita!!! Dengan kinerja akal yang baik, kita berpotensi menghasilkan perubahan terbaik dalam hidup ini.

Bagaimana Memulai Perubahan? Read More »