Astronomi Gempa Awadh

Alhamdulillah. Setelah melewati waktu prediksi gempa a la Frank Hoogerbeets, banyak orang bisa bernapas lega. Tidak hanya alasan karena gempa yang dimaksud pada 3 – 6 Maret tidak terjadi, tetapi di atas itu semua menjadikan kita semakin paham bahwa sebagai makhluk, kita tak boleh gegabah dengan apapun kemampuan kita.

Tetapi ini tidak berarti bahwa ancaman gempa yang dimaksud Hoogerbeets benar-benar tidak ada.

Ketika Hoogerbeets memprediksi gempa Turki melalui tweet-nya (3/2/2023), nampak bahwa ia masih menarasikannya secara spekulatif,

“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”

Namun, ketika ia memprediksi gempa meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan Indonesia pada 3 – 6 Maret 2023, ia nampak di atas angin lalu mengambil diksi “signifikan terjadi” daripada menggunakan diksi “berpotensi terjadi”. Walaupun dalam pemberitaan media lainnya tertulis bahwa prediksi tersebut ditambahkan dengan narasi “gempa pada wilayah tersebut dapat terjadi sepanjang Maret”.

Poin pembelajaran dari kasus ini pada para ilmuwan adalah agar senantiasa menundukkan ilmunya di bawah Kemahakuasaan Allah SWT.

Terlepas dari itu semua, Hoogerbeets dalam perspektif ilmu pengetahuan telah memperkenalkan secara terbuka suatu metodologi yang sangat mungkin dapat membantu umat manusia memprediksi gempa yang dapat dimanfaatkan untuk meminimasi dampak gempa bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di masa mendatang.

Hoogerbeets telah meyakini bahwa secara metodologis, prediksi terhadap peristiwa seismik dapat dilakukan dengan memanfaatkan data pergerakan tata surya.

Sebetulnya Hoogerbeets bukanlah orang pertama yang memanfaatkan dan mempublikasikan data astronomis dalam memprediksi kejadian gempa. Penjelasan ilmiah terkait ini dapat ditemukan pada publikasi Salih M Awadh, akademisi Irak yang menyatakan bahwa efek gravitasi planet-planet dapat memengaruhi lempeng tektonik bumi.

Awadh telah menambahkan argumen dengan baik pada gagasan Hoogerbeets dalam menjelaskan keterkaitan peristiwa astronomis terhadap kasus seismik. Gagasan mereka tidak hanya berisi keterangan yang baik dalam perkembangan sains modern semata, tetapi juga secara tidak langsung menghindarkan kita dari ‘sains palsu’ astrologi, yang mempelajari posisi, gerakan, dan benda langit lalu meramalkan peristiwa di bumi tanpa menyertakan dalil sains.

Awadh dikenal sebagai ahli yang mengemukakan makalah yang lebih tua yang menjelaskan hubungan antara astronomi dan seismologi. Pada Maret 2021 makalahnya yang berjudul “Solar System Planetary Alignment Triggers Tides and Earthquakes” diterbitkan dalam “Journal of Coastal Conservation”. Ia menjelaskan bagaimana pasang surut dan gempa bumi dipengaruhi oleh posisi planet di tata surya.

Pengaruh tersebut dalam hipotesisnya disebutnya sebagai pengaruh posisi planet di bumi menyebabkan adanya daya tarik planet yang mengubah kecepatan rotasi bumi, sehingga lempeng tektonik bumi bergerak dan memicu gempa bumi.

Awadh adalah orang pertama di dunia yang menggunakan data astronomi untuk memprediksi gempa. Ia pernah memprediksi gempa pada Lempeng Eurasion bermagnitudo 5 pada 11 Februari 2021. Gempa yang dimaksud benar-benar terjadi.

Awadh dan Hoogerbeets merupakan ilmuwan yang menggunakan metodologi baru yang bertentangan dengan hukum lama dan teori dominan. Metode yang mereka gunakan bahkan diabaikan oleh banyak lembaga ilmiah, termasuk Survei Geologi AS. Padahal para ilmuwan telah mendeteksi sekitar 20.000 kejadian gempa bumi setiap tahunnya di seluruh dunia (sekitar 55 kali sehari), yang sangat memungkinkan untuk membangun algoritma prediksi gempa.

Untuk menjadi metodologi standar yang dapat diaplikasikan secara luas di dunia, metodologi prediksi gempa Awadh memerlukan validasi.

Melalui metode ini dapat dibangun dan dikembangkan suatu ‘Sistem Peringatan Dini Global untuk Prediksi Kemungkinan Gempa Bumi’. Untuk pengembangannya dibutuhkan pengukuran konstan di setiap area, model komputer yang sangat besar, para ahli yang berspesialisasi dalam software dan bahasa pemrograman, serta ahli astronomi. Ini tentu memerlukan dukungan dana yang sangat besar dari lembaga penelitian global.

Astronomi Gempa Awadh Read More »

Gempa Hoogerbeets

Kita tentu masih ingat bagaimana dahsyatnya gempat Turki pada 6 Februari yang lalu, dengan magnitudo 7,8 tercatat telah menewaskan sekitar 50.000 orang.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa gempa merupakan peristiwa yang tidak linear, karena tidak bisa diprediksi secara akurat, andaipun menggunakan kalkulasi machine learning dari big data yang ada. Beda halnya dengan forecasting data cuaca pada umumnya: curah hujan, suhu, angin, dan sebagainya, yang cenderung akurat dalam pembuatan prediksinya.

Tetapi tidak untuk Frank Hoogerbeets, seorang seismolog asal Belanda. Dia mengklaim pada 3 Februari 2023 telah menulis pada kolom twitternya,

“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”

Hoogerbeets dikenal bekerja untuk Survei Geometri Tata Surya. Ground Report melaporkan bahwa Frank Hoogerbeets adalah ahli geologi yang bekerja untuk Survey of Geometry of the Solar System (SSGEOS). SSGEOS adalah lembaga penelitian yang memantau geometri benda langit dalam kaitannya dengan aktivitas seismik.

Setelah ia viral dengan tweet-nya yang pertama, saat ini ia kembali membuat heboh dengan ketertarikannya memprediksi gempa berikutnya. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memprediksi secara spasio temporal melampaui kemampuannya pada tweet sebelumnya, serta melampaui ‘kepintaran’ ahli terkait yang ada sebelumnya.

Teknologi seismometer terkini pun hanya mampu mendeteksi waktu, posisi, kekuatan gempa, dan potensi tsunami ketika peristiwa gempa benar-benar telah terjadi.

Prediksi spasio temporal yang dimaksud adalah ia menyatakan di mana spektrum lokasi gempa dan kisaran waktu terjadinya gempa berikutnya. Pernyataannya ini mendahului semua lembaga-lembaga otoritas yang berhubungan dengan seismologi di seluruh dunia.

Adapun spektrum lokasi yang diprediksi menjadi lokasi gempa berikutnya meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan juga menandai Sulawesi, Halmahera, bahkan mungkin Laut Banda, Indonesia.

Sementara waktunya diprediksi akan terjadi pada bulan Maret ini, meurutnya signifikan untuk tanggal 3 – 6 Maret. Frank meminta masyarakat untuk waspada dengan prediksi yang ia sampaikan.

Hoogerbeets tidak hanya memprediksi spasio temporal gempa, tetapi juga memprediksi magnitudo-nya yang diprediksi dapat mencapai lebih dari 8 SR.

Menurut kelas bencana gempa bumi, skala 4.0-4.9 Richter berefek dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu mencolok. Skala 6.0-6.9 Richter berefek dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km, dan skala 7.0-7.9 berefek dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas. Banyak kejadian gempa besar dunia berkisar pada skala 7-7.9 Richter, dapat menewaskan ± 100.000-an jiwa (termasuk Gempa Turki kemarin).

Pertanyaannya: lalu apa sikap kita?

Sebagai masyarakat sains tentu kita memerlukan penjelasan ilmiah terkait metode yang digunakan oleh Hoogerbeets sehingga bisa divalidasi sebagai metode yang layak untuk diaplikasikan dalam dunia seismologi. Jika layak secara metodologi, tentu kontribusinya luar biasa dalam bidang ilmu yang dimaksud.

Kenapa ini penting? Agar keilmuannya bisa diverifikasi sebagai basis sains yang relevan dan tidak didasarkan pada astrologi belaka. Tidak sedikit para peramal masa depan (futurist) yang menggunakan mitologi dalam membangun kerangka prediksinya, sebutlah Vanga Baba yang dikenal dengan sebutan Nostradamus dari Balkan.

Ia beberapa kali sukses melakukan ramalan, tetapi gagal memperkirakan jadwal kematiannya sendiri serta prediksi tentang keruntuhan Amerika Serikat sejauh ini belum terbukti.

Sebagai masyarakat beragama, khususnya muslim tentu meyakini dengan sepenuhnya bahwa segenap kejadian yang telah, sedang, dan akan terjadi dari yang mikroskopis hingga yang makrokosmos tidak ada yang luput dari kehendak Allah SWT. Maka sikap yang pantas adalah bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.

Jika dikumpulkan semua analisis terkait penyebab terjadinya gempa, maka akan bermuara pada tiga aspek hipotetik, yakni: azab dari Allah SWT, ujian dari Allah SWT dan Sunnatullah (gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi). Namun tiga aspek hipotetik tersebut, semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.

Oleh karena aspek kausalitas gempa tidak berada dalam kendali manusia maka upaya yang pantas adalah meminta pertolongan dan perlindungan penuh kepada Sang Causa Prima, yakni Allah SWT.

Seorang muslim penting untuk mengambil pelajaran pada kisah-kisah gempa pada masa Rasulullah SAW. Dalam riwayat hadits , setidaknya tercatat dua kali gempa. Pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,

“Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata,

“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”    

Pelajaran besar dalam dua riwayat di atas, bahwa pentingnya keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat sebagai penangkal bencana.

Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan gunung, beliau berkata kepada para shahabat,

“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”

Pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab pernah terjadi gempa, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi,

“Ada apa denganmu?”

Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,

“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Pada kisah Khalifah Umar bin Khaththab di atas nampak bahwa penangkal bencana adalah keberadaan penguasa yan memimpin dengan hukum-hukum Allah SWT, yang dengan kekuasaan itu meniadakan kemaksiatan.

Mari kita mengambil hikmah dari prediksi gempa oleh Hoogerbeets, yang telah membuat panik sebagian kita. Tidak penting untuk harus berada pada kubu yang percaya atau tidak, tetapi yang lebih utama adalah berada pada kubu yang bersegera pada ampunan Allah SWT.

Bukankah bumi ini ciptaan-Nya, sehingga yang pantas bagi kita adalah mempertanyakan sejauh mana kita telah mengimplementasikan visi penciptaan kita, yakni sebagai Abdillah dan sebagai Khalifatu fil ardh.

Sebagai Abdillah sudahkah kita menjadi hamba Allah yang harus meng-ibadahi-Nya tanpa mencampurnya dengan kesyirikan? Sebagai Khalifatu fil ardh sudah kita menjadi pemakmur bumi sesuai dengan syariat-Nya?

Gempa Hoogerbeets yang terhitung per 3 Maret 2023, ini secara tidak langsung membawa memori kita pada peristiwa 3 Maret 1924, saat di mana runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniah, sebuah Institusi yang melanjutkan penerapan Islam Kaaffah sejak era kenabian Muhammad Saw, Khulafaurrasyidin, dan para Khalifah setelahnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Gempa Hoogerbeets Read More »

Oh, Ternyata Ini Buaya Asli Wakatobi?

Mengawali tulisan ini, pertama-tama saya ingin meminta maaf. Tulisan tentang tema buaya ini adalah yang kedua dan terpublikasi setelah dalam rentang waktu yang lumayan lama . Saya tidak bermaksud membesar-besarkan soal buaya ini. Tetapi poin saya adalah membangun literasi bersama tentang makhluk predator ini, kita saling membelajarkan. Mudah-mudahan tidak membosankan.

Kemudian yang kedua adalah saya ingin memperjelas terkait adanya klaim bahwa di Wakatobi terdapat buaya spesies lokal, yang disampaikan oleh beberapa pihak ketika merespon tulisan saya sebelumnya (lihat: https://sunashadi.com/2022/06/26/asal-buaya-wakatobi/). Saya mendapatkan konfirmasi dari beberapa pihak mengenai informasi perjumpaan warga dengan buaya di sejumlah tempat: Tomia, Kaledupa, dan Kapota.

Saya berterima kasih kepada sejumlah kawan-kawan di platform facebook yang telah membagikan sebanyak 74 kali (sampai dengan pukul 21:11 WITA 28 Juni 2022), mendapatkan respon ‘suka’ 54 kali, dan komentar 41 kali. Sementara itu kunjungan pada situs saya (https://sunashadi.com) berkenaan dengan judul tersebut mencapai 700-an, suatu respon yang luar biasa. Sekali lagi terima kasih.

Ini beberapa informasi penting dari percakapan di facebook:

Saleh Hanan: Tahun 2007 kalau tak salah adakah buaya muara yang terbunuh diperairan Tomia kakau tak salah (?)
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : yang bunuh kebetulan di dete… Saya sempat ketemu nelayan yang bunuh dia cerita
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : siap.. tapi infonya yang buaya di Tomia adalah buaya yang lepas, bukan yang migrasi dari luar (info2 yang beredar). Kalau di kaledupa selatan ada pak, sudah banyak yang liat kalau yang lagi cari ikan, termasuk mertua yang bilang, tapi nanti bisa mungkin wawancara orang tua2 yang di kaledupa 😁
Ahmad Yasin: Sunarwan Asuhadi : ini solusi mantap pak.. 😁 kalaau di Kaledupa tempatnya tertentu saja pak, masih melimpah sumber makanan sama habitatnya masih baik, jadi Ndak ganggu2 dari dulu, terinfo sampai sekarang masih aman… 😁
Ld Haerudin Haerudin: Ini perlu kajian mendalam kedepan, jika betul ada pemerintah harus mengambil langkah,untuk keamana kedepan utamanya nelayan!!
Alibasaru Odhem Kawadang: Fenomena ini jg terjadi di kepulauan Taliabu bagian Timur Selatan… Dugaan buaya ini menyebrang dari Australia.. kabarnya ada sekitar 800an ekor buaya lepas dari penangkarannya di Australia…
Elang Timur: Beberapa tahun lalu btnw kaledupa melepas seekor buaya di sekitaran laut pulau hoga. Buaya tersebut sebelumnya terperangkap jaring nelayan di perairan darawa kaledupa
Sem NuRlis: Di perairan kapota sdh sering di lihat
Stevhin Armait: d kapota ad jg
Myhammad Ali: Kalau di Tomia dulu benar adanya dan memang terperangkap dijaring nelayan diperairan dete, konon info yg berkembang buaya ini terlepas dari kapal yg dibawa pedagang
Romeo Syahrir Romeo: Tidak heran ada buaya di wakatobi dan itu fakta, persoalan ditemukan dimana itu tergantung habitat hidupnya,,dijumpai dilaut itu bisa jadi kategori buaya muara, di darat sekitar pantai, tepi sungai kebanyakan dijumpai,,wakatobi dan dikaledupa buaya bukan hal baru bisa kesana dihabitat tumbuh dan hidupnya
Romeo Syahrir Romeo: Sunarwan Asuhadi lokal sdrq kalau mau boleh explorasi di sana di rondo, bahua, ada banyak sarangnx
Romeo Syahrir Romeo: Jenisnya kebanyakan cayman itu buaya disana

Dari percakapan di facebook tersebut, terungkap bahwa pernah ada buaya yang terperangkap di Pulau Tomia (Perairan Dete), namun dibunuh oleh nelayan. Buaya tersebut diduga terlepas dari kapal yang dibawa oleh pedagang. Sayangnya, tak ada dokumentasi untuk memastikan spesiesnya, walaupun ada dugaan jika buaya yang dimaksud adalah buaya muara. Di Pulau Kapota juga kabarnya ditemukan buaya, namun belum ada informasi lebih lanjut mengenai spesiesnya.

Perjumpaan warga dengan buaya di Pulau Kaledupa ternyata lebih intens dibandingkan dengan pulau lainnya di Wakatobi. Terungkap bahwa di Kaledupa Selatan seringkali dijumpai. Bahkan dikabarkan beberapa tahun silam pihak Balai Taman Nasional Wakatobi pernah melepas seekor buaya di sekitar Pulau Hoga yang terperangkap di jaring nelayan Darawa.

Salah satu catatan penting yang saya harus garis bawahi adalah klaim saya pada tulisan sebelumnya yang seakan menyimpulkan bahwa buaya bukan spesies lokal di Wakatobi. Kenapa demikian? Oleh karena ternyata di Pulau Kaledupa sejak dahulu kala telah mengenal ada spesies lokal yang mirip buaya di sana. Hanya saja belum terlaporkan secara detil adalah spesies apa saja yang ada di sana, beredar info kalau spesies yang dimaksud adalah caiman.

Ada 4 spesies yang dianggap memiliki kemiripan: buaya, aligator, caiman, dan gharial. Keempat spesies tersebut berasal dari ordo Crocodilia. Dalam ordo Crocodilia, ada tiga keluarga, yaitu Alligatoridae, Crocodylidae, dan Gavialidae. Dari tiga keluarga ini ada 8 genus dan 23 spesies. Namun, masyarakat umumnya menyebut semua hewan tersebut dengan sebutan buaya, walaupun sebenarnya memiliki perbedaan.

Buaya berasal dari keluarga Crocodylidae, aligator dan caiman adalah bagian dari  keluarga Alligatoridae, sedangkan gharial adalah keluarga Gavialidae. Pada umumnya, buaya dan aligator merupakan dua anggota ordo Crocodilia yang paling populer.

Lalu, bagaimana perbedaannya?

Bentuk rahang aligator dan caiman lebih lebar dan ujungnya tidak lancip, sedangkan buaya memiliki rahang yang lebih panjang dan lancip. Bentuk rahang aligator dan caiman seperti huruf ‘U’, sedangkan buaya berbentuk seperti huruf ‘V’, dan gharial berbentuk moncong panjang dan kecil.

Perbedaan lainnya adalah bentuk gigi. Moncong buaya tertutup, gigi keempat pada bagian bawah, terlihat dan tampak menempel dengan rahang atasnya, seperti menyeringai. Pada aligator dan caiman mempunyai rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah, gigi tidak terlihat saat moncongnya tertutup.

Adapun habitat buaya umumnya di wilayah air asin seperti rawa-rawa di hutan bakau atau muara sungai air asin. Buaya memiliki kelenjar yang dapat menghilangkan kelebihan garam di tubuhnya. Aligator, caiman, dan gharial tidak mempunyai kelenjar seperti buaya, sehingga lebih banyak tinggal di sekitar perairan air tawar (https://bobo.grid.id/read/081654674/perbedaan-buaya-aligator-caiman-dan-gharial-akubacaakutahu?page=all).

Perbedaan ukuran panjang tubuh bervariasi. Gharial bisa mencapai ukuran 6,25 m, umumnya panjangnya sekitar 3,5 – 4,5 meter. Alligator dapat mencapai panjang 2,7 – 4,8 meter. Buaya bisa mencapai 4,2 – 4,5 meter, dan yang terbesar adalah buaya air asin bisa mencapai panjang 5 – 5,4 meter. Adapun caiman berukuran terkecil, panjang hanya 2 – 2,5 meter (https://portalsains.org/2020/09/08/ini-bedanya-crocodile-alligator-caiman-dan-gharial/).

Seberapa bahaya ordo Crocodilia ini?

The Worldwide Crocodilian Attack Database (CrocBITE), mencatat ada sekitar 7 buaya yang dilaporkan memiliki reputasi menakutkan dalam serangannya terhadap manusia, yakni: black caiman (di Amerika Selatan bagian utara dan dapat ditemukan di sebagian besar lembah Sungai Amazon dari Peru dan Ekuador ke arah timur hingga Guyana dan Suriname), buaya rawa (ditemukan di kolam air tawar, lahan basah, danau, dan aliran sungai yang mengalir lambat, seperti ditemukan di Iran ke pinggiran barat Asia Tenggara), buaya Amerika (disebut juga buaya Amerika Tengah, menghuni berbagai habitat perairan dari Florida selatan dan Meksiko selatan melalui pulau-pulau Karibia dan Amerika Tengah hingga Amerika Selatan bagian utara, gharial atau gavial (seperti yang mendiami sungai-sungai di India utara dan Nepal), aligator (misalnya di Amerika berasal dari wilayah Gulf Coast Amerika Serikat dan dapat ditemukan di lingkungan air tawar mulai dari danau dan sungai hingga rawa, rawa, dan lahan basah lainnya), buaya air asin (misalnya yang hidup di kawasan Asia Tenggara, dari India selatan hingga pinggiran utara Australia), dan buaya Sungai Nil (https://sains.sindonews.com/read/628603/766/7-buaya-paling-berbahaya-di-dunia-nomor-5-miliki-reputasi-menakutkan-1639519935?showpage=all).

So, spesies lokal yang ada di Wakatobi adalah caiman. Spesies yang se-ordo dengan buaya, tetapi sesungguhnya bukan spesies buaya. Jadi kalau ada spesies buaya yang ke Wakatobi, sepertinya berasal dari luar daerah. []

Oh, Ternyata Ini Buaya Asli Wakatobi? Read More »

Asal Buaya Wakatobi

Sejak sore, 25 Juni 2022 warga Waha Raya (sebutan untuk wilayah pemekaran Desa Waha: Sombu, Wapia-pia, Waha, dan Koroe Onowa) dihebohkan oleh kabar perjumpaan warga dengan buaya di area perairan laut setempat. Setidaknya ada 2 orang warga yang menyatakan melihat langsung, dan 1 orang warga terindikasi melihatnya secara sepintas.

Saya tidak sempat mendapatkan informasi dari 2 warga yang kabarnya melihat langsung. Satu di antaranya saya sudah ajak untuk berkabar melalui whatsapp (inisial AJR), namun hingga artikel ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan respon. Hanya saja, ia telah mengabarkan kejadian yang dijumpainya secara terbuka melalui akun facebooknya, lalu diedarkan oleh banyak akun whatsapp melalui pesan screenshoot.

Satu warga yang terindikasi melihatnya (Inisial ASR), menceritakan jika beberapa waktu menjelang matahari terbenam, ia melihat ada obyek yang disangkanya merupakan batang pohon yang lumayan besar. Berhubung waktu tak lama lagi akan masuk waktu Magrib, ia memutuskan untuk mengambilnya. Ketika ia mendekat, tiba-tiba obyek tersebut bergerak membenamkan diri ke dalam laut. Ia kaget bukan kepalang, ia segera pulang dan mendayung sampan secepat-cepatnya, karena ketakutan.

Peristiwa ini terjadi dalam durasi waktu yang hampir bersamaan. Pertama dikabarkan terlihat di Watutowengka Desa Wapia-pia, area tebing pantai yang berdekatan dengan perairan Sombu Dive dan Jokowi Point, suatu area perairan yang menjadi ikon utama untuk diving di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Kedua dikabarkan terlihat di area perairan Ou Ntooge Desa Waha (Inisial LPD). Keduanya menyaksikan ketika sedang beraktivitas memanah ikan.

Apakah ini patut dipercaya: ada buaya di Perairan Wangi-Wangi, khususnya Perairan Waha Raya?

Sejauh pengamatan saya, sebagian warga yang saya konfirmasi cenderung percaya. Para pemberi kabar adalah orang-orang yang cukup dipercaya di tempatnya masing-masing. Dan secara terpisah memberikan kesaksian yang serupa. Apakah spesies buaya yang dijumpai tersebut adalah individu yang berbeda ataukah sama? Ini juga belum terjawab.

Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah. Bisa jadi karena bertepatan dengan hari libur, ataukah tidak ada pihak yang melaporkan secara resmi, dan ataukah peristiwanya terjadi secara spontan dan posisi obyeknya tak terpantau lagi.

Tentu ini perlu kepastian, sehingga selayaknya pihak yang berwenang dapat mengambil inisiatif untuk mengendalikan informasinya, sebelum digiring, ditekel, dan disundul ke sana ke mari oleh opini.

Seberapa pentingkah opini tentang buaya di laut Wakatobi ini untuk direspon?

Sederhananya saja, sejak informasi ini tersebar, di perairan Waha Raya, tak ditemukan ada warga yang berani berenang: dari anak-anak hingga dewasa. Tentu pola serupa akan sama pada para penghobi diving, snorkeling, atau penikmat wisata air laut lainnya. Padahal kekuatan wisata di Wakatobi adalah perairan lautnya. Bahkan muncul seruan (liar) lokal agar aktivitas ‘panah-panah ikan’ dihentikan untuk sementara waktu. Jika ini terjadi, tentu akan ada dampak pendapatan dan suplai pangan, minimal pada skala desa.

Opini ‘liar’ buaya ini seyogyanya perlu ditanggapi. Ini dapat memengaruhi citra wisata laut Wakatobi, terlebih lagi bersinggungan dengan keselamatan jiwa warga. Buaya di laut itu bukanlah obyek estetika, tetapi ia adalah predator. Sehingga perairan Wakatobi harus dipastikan ‘zero buaya’.

Terlepas dari keberadaan buaya ini perlu pembuktian secara resmi atau scientific dalam sudut pandang pemerintah atau tidak, tetapi keberadaannya dalam perspektif sosial, sudah dianggap terbukti. Perjumpaan di Waha ini bukan kasus yang pertama di Wakatobi, sejumlah warga sudah mengafirmasi, jika di beberapa tempat pernah ditemukan: di Tomia, infonya dengan panjang sekitar 2,5-3 m terperangkap dalam jaring warga, di Kapota juga tahun lalu ada warga yang menyaksikan pada saat menyuluh.

Pertanyaan berikutnya: jika benar buaya ada di Wakatobi, apakah ia spesies lokal atau introduksi?

Berdasarkan data historis yang tersimpan dalam ‘arsip’ memori warga, termasuk data hasil survey para pemangku kepentingan sumber daya fauna di Wakatobi, dapat disimpulkan bahwa buaya bukan spesies lokal (native species atau indigenous species.). Beberapa habitat yang relevan dengan kehidupan buaya di Wakatobi, secara jangka panjang tidak pernah ditemukan buaya, misalnya pada ekosistem mangrove di Kaledupa, dsb.

Oleh karena buaya bukan spesies lokal, maka sudah pasti kemungkinannya adalah spesies introduksi. Lalu dari mana ia berasal?

Untuk mengidentifikasi sumbernya, disayangkan tidak ada satupun data dokumentasi terkait spesies buaya yang dijumpai ini. Faktor (dokumentasi) inilah yang membuat sampai saat ini, keberadaan buaya yang dijumpai warga tersebut dianggap kurang meyakinkan bagi sebagian warga.

Salah satu wilayah yang patut diduga menjadi asal muasal buaya di Wakatobi adalah bisa jadi berasal dari muara sungai di sepanjang pesisir bagian Selatan Pulau Buton, yang menghadap ke pulau-pulau di Wakatobi. Spesies buaya yang dilaporkan ada di wilayah tersebut adalah buaya muara (Crocodylus porosus) (https://kumparan.com/kendarinesia/buaya-4-2-meter-yang-ditangkap-di-buton-diduga-pernah-terkam-warga-1rsHNKfCwIa/1).

Spesies tersebut disebut juga buaya air asin sama dengan yang pernah ditemukan di pulau Pasifik Selatan. Apatah lagi beberapa hari ini, terjadi hujan deras berhari-hari, tentu akan menurunkan kadar salinitas air laut yang dapat saja mendukung interaksi buaya dengan air laut, seumpama ketika berada di sungai dan muara.

Spesies Crocodylus porosus dilaporkan dapat mengendarai arus permukaan laut untuk perjalanan jarak jauh, bahkan memungkinkan mereka untuk berlayar dari satu pulau samudera ke pulau lainnya (>48 km). Buaya spesies ini menurut para ilmuwan akan memulai perjalanan jauh terhitung satu jam setelah perubahan pasang yang memungkinkan mereka untuk mengikuti arus (https://www.kompas.com/sains/read/2022/01/08/180200323/ilmuwan-ungkap-cara-buaya-air-asin-menyebrangi-laut?page=all#page2).

Pertanyaannya: apa penyebab spesies ini meninggalkan habitatnya?

Reptil ini dikenal merupakan pemangsa yang memiliki selera makan yang besar dan kuat. Ketika melakukan migrasi, mereka melakukannya secara kolektif. Apakah mungkin habitat buaya di sungai-sungai dan muara di bagian Selatan Pulau Buton telah mengalami gangguan? Tersebar informasi jika di beberapa tempat di sana terjadi eksploitasi yang terindikasi memengaruhi habitat dan kenyamanan buaya. Sejumlah video beredar di grup-grup whatsapp yang memperlihatkan aktivitas warga melakukan penangkapan buaya. Dalam keterangan video tersebut, tertulis: Malaoge Lasalimu Selatan.

Dengan demikian, eksistensi pariwisata laut Wakatobi akan dipengaruhi oleh ekosistem wilayah di sekitarnya. Tidak bisa otonom. Dibutuhkan kepastian membaiknya ekosistem sungai dan muara di wilayah-wilayah di sekitarnya, misalnya Kabupaten-Kabupaten yang berada di bagian Selatan Pulau Buton. Sehingga buaya yang ada di wilayah tersebut dapat tinggal secara alami di sana, tak perlu melakukan migrasi.

Salah satu informasi yang dapat dijadikan contoh adalah inisiatif dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lingga yang mempertimbangkan perlunya tempat penampungan buaya, sehingga tidak mengganggu aktivitas warga (https://soj.umrah.ac.id/index.php/SOJFISIP/article/view/629/545).

Kebutuhan akan pengendalian buaya di wilayah-wilayah bagian Selatan Pulau Buton semakin penting, semisal penangkaran, sehingga buaya yang berkeliaran segera dapat teratasi agar tidak mengganggu warga dan aktivitasnya. Yang tak kalah penting adalah kebutuhan kita akan manajemen pembangunan yang berkualitas dari pemerintah terkait, yang mampu mengendalikan aspirasi-aspirasi kemajuan fisik daerah tanpa merusak tata lingkungan ekosistem kita. Wallahualam bissawab.

Asal Buaya Wakatobi Read More »