Jacob Berzelius: Perintis Kimia Modern dari Swedia

Jöns Jacob Berzelius lahir pada 20 Agustus 1779 di Väversunda, Swedia, dari keluarga guru dan pendeta. Kehidupannya penuh perjuangan sejak kecil. Ayahnya meninggal saat ia baru berusia empat tahun, dan ibunya meninggal beberapa tahun kemudian. Ia sempat diasuh oleh ayah tiri dan kemudian pindah ke rumah pamannya, di mana ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menghindari suasana yang tidak menyenangkan. Meskipun kehidupannya sulit, semangat belajarnya tidak padam.

Saat remaja, Berzelius mulai bersekolah di Linköping dan membiayai hidupnya sendiri dengan mengajar anak-anak kaya. Ia lebih tertarik pada dunia alam daripada pelajaran agama di sekolah. Hobinya mengoleksi serangga dan berburu menunjukkan kecintaannya pada alam sejak dini. Di masa libur sekolah, ia bekerja di ladang sambil tetap belajar. Ia pernah menulis dalam buku hariannya tentang pengalaman hidup sederhana, bahkan harus mencuci rambut dengan larutan garam karena kutu.

Pada usia 18 tahun, Berzelius diterima di Universitas Uppsala, salah satu kampus terbaik di dunia untuk bidang kimia. Ia awalnya tertarik pada kedokteran karena melihatnya sebagai jalan menuju stabilitas ekonomi. Namun, kecintaannya pada ilmu alam membuatnya tekun bereksperimen, bahkan di lemari kamarnya sendiri. Ketika ia berhasil menciptakan gas oksigen dan menyalakan api di ruang gelapnya, ia menggambarkannya sebagai momen penuh kebahagiaan.

Setelah lulus sebagai dokter tahun 1802, Berzelius semakin menekuni bidang kimia. Ia membantu profesor farmasi tanpa bayaran dan bahkan belajar membuat alat-alat gelas sendiri untuk eksperimen. Ia juga bekerja sebagai analis air mineral dan melakukan eksperimen penting dengan baterai untuk memisahkan senyawa garam ke dalam komponen dasarnya. Kerja sama ini menjadi awal dari banyak penemuan penting.

Pada tahun 1803, Berzelius menemukan unsur kimia baru bernama serium bersama rekannya, Hisinger. Penemuan ini diberi nama berdasarkan planet kerdil Ceres. Meski sudah menemukan unsur baru, kondisi ekonominya tetap sulit karena gaji sebagai dokter tidak mencukupi. Ia sempat jatuh miskin karena menjamin pinjaman untuk temannya yang kemudian bangkrut.

Pada usia 28 tahun, Berzelius diangkat menjadi profesor kimia di Karolinska Institute di Stockholm. Ia terus melakukan penelitian dan berhasil menemukan bahwa asam laktat, yang sebelumnya hanya ditemukan dalam susu, ternyata juga ada di otot manusia. Ini adalah temuan penting dalam bidang biokimia dan menunjukkan bahwa ia juga tertarik pada kimia dalam tubuh manusia.

Meskipun awalnya ragu terhadap teori atom dari John Dalton, Berzelius menyadari pentingnya gagasan tersebut. Ia kemudian melakukan ribuan eksperimen untuk menghitung berat atom berbagai unsur dengan menjadikan atom oksigen sebagai standar pembanding. Pada tahun 1826, ia menerbitkan tabel berat atom yang sangat akurat, bahkan masih dihargai sampai hari ini. Karyanya menjadi dasar bagi tabel periodik unsur yang disusun oleh Mendeleev puluhan tahun kemudian.

Kerja kerasnya luar biasa, tetapi pada tahun 1818 ia mengalami kelelahan mental akibat tekanan kerja. Dokternya menyarankan agar ia beristirahat, dan ia pergi ke Paris. Namun, ia tetap berkutat dengan dunia kimia selama di sana. Untungnya, ia pulih sepenuhnya dan kembali aktif berkarya. Ia kemudian menemukan unsur torium dan selenium, serta menghasilkan silikon murni pertama pada tahun 1824.

Selain penemuan unsur, Berzelius juga berjasa dalam menyusun sistem penamaan unsur kimia dengan menggunakan satu atau dua huruf, yang masih kita gunakan sampai hari ini. Misalnya, ia menetapkan simbol Fe untuk besi berdasarkan nama Latinnya, ferrum. Sistem ini menggantikan berbagai penamaan tidak konsisten yang sebelumnya digunakan ilmuwan di berbagai negara.

Pada tahun 1835, Berzelius memperkenalkan istilah “katalisis”, menggambarkan zat yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut bereaksi. Penemuan ini sangat penting, baik untuk memahami proses dalam tubuh manusia maupun dalam industri kimia modern. Ia juga menjelaskan bahwa ikatan kimia terbentuk karena daya tarik elektrostatik antara ion positif dan negatif, yang kini kita kenal sebagai ikatan ionik.

Meskipun ia tidak mengetahui jenis ikatan lain seperti ikatan kovalen, teori ikatan ion yang ia kembangkan membuka jalan bagi pemahaman kimia yang lebih luas. Karya tulisnya, Textbook of Chemistry, menjadi buku pegangan utama para ilmuwan dan diperbarui secara berkala seiring penemuan-penemuan baru. Buku ini menyatukan pengetahuan kimia yang tersebar dan menjadikannya lebih sistematis.

Berzelius dikenal bukan hanya karena keahliannya, tetapi juga karena dedikasinya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Pada tahun 1818, ia diangkat menjadi bangsawan oleh Raja Karl di Swedia, namun ia tetap menjauhi kehidupan sosial dan lebih senang berdiskusi dengan sesama ilmuwan. Ia merasa kehidupan akademik tidak cocok dengan pesta dan hiburan.

Di usia 56 tahun, ia menikah dengan Elisabeth Poppius, putri seorang menteri. Mereka tidak memiliki anak. Di masa tuanya, kesehatannya memburuk akibat kerja seumur hidup dengan bahan kimia, termasuk gangguan ingatan dan asam urat yang membuatnya harus duduk di kursi roda. Ia juga hidup di masa ketika bahan kimia masih diidentifikasi melalui rasa, dan udara laboratorium penuh dengan uap beracun.

Jacob Berzelius wafat pada 7 Agustus 1848 di Stockholm pada usia 68 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Solna dan meninggalkan warisan besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Ia dikenang sebagai salah satu pendiri kimia modern, orang yang membuat ilmu kimia menjadi ilmu pasti dan sistematis seperti yang kita kenal sekarang.[]

Jacob Berzelius: Perintis Kimia Modern dari Swedia Read More »

Mengapa Polusi Tetap Tinggi Meski Emisi Menurun?

Selama beberapa dekade terakhir, dunia telah berupaya mengurangi emisi polutan, namun kualitas udara belum membaik secepat yang diharapkan. Sebuah studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Hokkaido, Jepang, mengungkap alasan mengapa kadar nitrat di atmosfer tetap tinggi, meski emisi penyebabnya sudah berkurang sejak tahun 1990-an. Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 3 Juni 2025, dan memberikan wawasan penting tentang dinamika kimia di udara serta dampaknya terhadap perubahan iklim.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menyoroti bahwa nitrat, salah satu polutan utama di atmosfer, masih banyak ditemukan meski emisi prekursor nitrat—zat yang membentuk nitrat—telah berkurang secara signifikan. Nitrat sendiri bisa berbentuk gas maupun partikel. Nitrat dalam bentuk gas lebih mudah menghilang dari udara, tetapi dalam bentuk partikel, terutama partikel halus, zat ini bisa bertahan lebih lama dan menyebar jauh dari sumbernya. Inilah yang menyebabkan nitrat tetap berada di atmosfer dalam jangka panjang.

Para peneliti menemukan bahwa ada “efek penyangga” yang terjadi di atmosfer. Efek ini membuat nitrat gas berubah menjadi partikel, sehingga memperpanjang masa tinggalnya di udara. Bahkan, di tempat-tempat yang jauh dari sumber polusi, seperti Kutub Utara, peneliti tetap menemukan endapan nitrat yang tinggi dalam inti es. Ini menandakan bahwa zat tersebut dibawa dari tempat lain oleh angin dan proses atmosfer lainnya, bukan berasal dari aktivitas lokal.

Untuk menelusuri sejarah keberadaan nitrat di atmosfer, tim yang dipimpin oleh Profesor Yoshinori Iizuka dari Institut Ilmu Suhu Rendah Universitas Hokkaido, menganalisis inti es dari Greenland tenggara. Mereka mencatat bahwa kadar nitrat meningkat sejak tahun 1850-an, memuncak antara 1970 hingga 2000, lalu sedikit menurun namun tetap tinggi hingga kini. Penurunan ini jauh lebih lambat dibanding penurunan emisi prekursor nitrat, menandakan bahwa faktor lain turut memengaruhi.

Dengan menggunakan model transportasi kimia global, para peneliti menemukan bahwa perbedaan antara kadar nitrat dan prekursornya berkorelasi dengan tingkat keasaman atmosfer. Artinya, bukan suhu udara atau kondisi cuaca yang membuat nitrat bertahan di atmosfer, tetapi proses kimia yang mengubah bentuknya menjadi partikel. Keasaman udara yang meningkat menyebabkan nitrat lebih banyak berubah menjadi bentuk partikel, sehingga lebih sulit hilang dan lebih mudah menyebar.

Penelitian ini juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya, data akurat tentang nitrat partikel dalam inti es berhasil dikumpulkan. Menurut Iizuka, ini adalah pencapaian penting karena selama ini sangat sulit mendapatkan data semacam itu. Data ini bisa membantu memperkirakan seberapa besar pemanasan di Kutub Utara akan meningkat akibat peran nitrat sebagai aerosol utama yang menggantikan sulfat di masa depan.

Dengan kata lain, walaupun emisi sudah ditekan, nitrat tetap menjadi ancaman bagi kualitas udara dan iklim global karena kemampuannya bertahan lama di atmosfer. Studi ini memperingatkan bahwa ke depannya, prediksi perubahan iklim di kawasan Arktik harus mempertimbangkan peran nitrat secara lebih serius. Pemahaman terhadap proses kimia di udara menjadi kunci untuk mengembangkan kebijakan lingkungan yang lebih efektif.[]

Mengapa Polusi Tetap Tinggi Meski Emisi Menurun? Read More »

Daniel Bernoulli, Ilmuwan Jenius yang Dicemburui Ayahnya Sendiri

Daniel Bernoulli lahir di kota Groningen, Belanda, pada 8 Februari 1700. Ia berasal dari keluarga Swiss yang sangat terkenal dalam dunia matematika. Ayahnya, Johann Bernoulli, adalah seorang dokter sekaligus ahli matematika ternama yang dijuluki sebagai “Archimedes pada zamannya”. Dari keluarganya inilah bakat matematika Daniel tumbuh subur. Namun ironisnya, meskipun ayahnya sangat jenius, Johann justru tidak ingin Daniel mengikuti jejaknya sebagai ahli matematika karena merasa profesi itu tidak menghasilkan cukup uang. Ia mendorong Daniel untuk belajar bisnis, tapi Daniel menolak. Akhirnya, mereka sepakat Daniel belajar kedokteran, sebagai jalan tengah.

Daniel mematuhi keinginan ayahnya dan belajar kedokteran sejak usia 15 tahun di Heidelberg, Strasbourg, dan Basel. Namun, kecintaannya pada matematika tak pernah padam. Diam-diam ia tetap mempelajari fisika dan matematika, bahkan belajar langsung dari ayahnya. Ia mulai melakukan eksperimen fluida dan menyadari bahwa semakin tinggi air dalam bejana, maka semakin cepat air keluar. Ia menghubungkan temuan ini dengan konsep energi potensial dan energi kinetik.

Pada 1721, Daniel lulus sebagai dokter dengan skripsi tentang pernapasan. Ia berharap menjadi dosen di Universitas Basel, tetapi gagal karena pemilihannya dilakukan dengan cara undian. Sambil menunggu pekerjaan, ia terus memperdalam matematika. Pada 1723, Daniel pindah ke Venesia dan menghabiskan waktu dengan belajar praktik kedokteran sambil menikmati kehidupan sosial seperti menghadiri opera dan pesta topeng. Namun di sela-sela itu, ia tetap melakukan eksperimen dan menulis karya ilmiah pertamanya Mathematical Exercises yang menyumbang ide penting dalam mekanika fluida, teori peluang, dan geometri.

Di Venesia pula ia mengikuti sayembara dari Akademi Paris untuk membuat jam pasir yang tetap berfungsi di tengah ombak lautan. Karyanya menang dan membuatnya terkenal. Ia kemudian diundang menjadi profesor fisiologi di Akademi Ilmu Pengetahuan di Saint Petersburg, Rusia, bersama saudaranya, Nicolaus. Sayangnya, tak lama setelah tiba, Nicolaus meninggal dunia karena demam. Daniel sangat terpukul. Ayahnya kemudian mengirim murid terbaiknya, Leonhard Euler, untuk menemani Daniel. Bersama Euler, Daniel semakin produktif dalam bidang matematika.

Selama tinggal di Rusia, Daniel menulis karya terkenalnya Hydrodynamica yang ia rampungkan pada 1733. Namun, karena masih merasa tidak betah tinggal di Rusia, ia kembali ke Basel pada tahun yang sama. Di sana, ia diangkat sebagai profesor anatomi dan botani. Salah satu insiden paling menyakitkan dalam hidupnya terjadi pada tahun 1734 ketika ia berbagi kemenangan Grand Prize dari Akademi Paris dengan ayahnya dalam bidang astronomi. Bukannya bangga, sang ayah malah marah dan memutuskan hubungan dengannya.

Yang lebih menyakitkan, Johann mencuri isi Hydrodynamica dan menerbitkannya dengan judul Hydraulica, lalu memalsukan tanggal agar seolah-olah ia yang lebih dulu menulis. Daniel sangat kecewa, apalagi buku itu merupakan hasil kerja kerasnya selama 10 tahun. Untungnya, dunia ilmiah mengakui bahwa ide-ide dalam buku itu adalah milik Daniel.

Salah satu teori penting dari buku tersebut adalah Efek Bernoulli, yang menjelaskan bahwa jika kecepatan fluida meningkat, maka tekanannya akan menurun. Teori ini kini digunakan untuk menjelaskan bagaimana sayap pesawat bisa mengangkat pesawat dari tanah. Tak hanya itu, Daniel juga mengembangkan teori kinetik gas dan menyumbangkan ide awal tentang partikel gas yang bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, jauh sebelum teori Maxwell muncul. Ia bahkan mengembangkan teori pengukuran risiko, dan memperkenalkan konsep utilitas dalam ekonomi — yaitu bahwa nilai suatu barang tidak selalu sebanding dengan harganya, tetapi tergantung pada manfaatnya bagi setiap orang.

Kehidupan Daniel tak pernah jauh dari dunia akademik. Ia memenangkan Grand Prize dari Akademi Paris sebanyak 10 kali, antara lain untuk penelitian tentang pasang surut laut, bentuk jangkar kapal yang ideal, arus laut, hingga stabilitas kapal. Pada 1750, ia diangkat sebagai profesor fisika di Universitas Basel dan terus mengajar hingga usia 76 tahun. Ia sangat populer sebagai dosen karena gaya mengajarnya yang menarik dan penuh demonstrasi.

Daniel Bernoulli tidak pernah menikah dan hidup dengan tenang sampai wafat pada 17 Maret 1782 dalam usia 82 tahun di Basel, Swiss. Meski hidupnya diwarnai konflik dengan sang ayah, karyanya tetap dikenang sebagai fondasi ilmu pengetahuan modern, terutama dalam fisika, matematika, ekonomi, dan kedokteran.[]

Daniel Bernoulli, Ilmuwan Jenius yang Dicemburui Ayahnya Sendiri Read More »

Fenomena Cerai Gugat dan Perempuan Kepala Keluarga: Tafsir Realitas dari Perspektif Islam

Fenomena meningkatnya perceraian di Indonesia telah menimbulkan dinamika sosial baru yang menyentuh banyak aspek kehidupan, mulai dari relasi suami istri, struktur rumah tangga, hingga peran perempuan dalam masyarakat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Mahkamah Agung (MA) tahun 2024, terdapat 1.478.302 pernikahan dan 394.608 perceraian. Ini berarti sekitar 26,7% pernikahan berakhir dengan perceraian—atau kira-kira 1 dari 4 pasangan. Namun di beberapa provinsi seperti Jawa Barat dan Kalimantan Utara, angka perceraian bahkan mendekati atau melampaui 30%.

Lebih dari sekadar statistik, fenomena ini mencerminkan perubahan signifikan dalam peran sosial perempuan. Cerai gugat—yakni perceraian yang diajukan oleh istri—mencapai 78,3% dari total perceraian tahun 2024. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran perempuan terhadap hak-haknya sebagai manusia yang berhak atas kehidupan yang bermartabat dan aman. Dalam pandangan Islam, ini bukanlah bentuk pembangkangan, tetapi bagian dari upaya mewujudkan keadilan sebagaimana yang diajarkan oleh syariat.

Islam mengajarkan bahwa pernikahan adalah ikatan sakral yang harus dibangun di atas fondasi kasih sayang, ketenangan, dan rahmat. Namun, ketika ikatan ini justru menjadi sumber penderitaan, maka Islam memberikan solusi berupa perceraian sebagai jalan keluar. Cerai bukanlah tujuan, tetapi merupakan pintu darurat yang dibuka oleh syariat ketika pernikahan tidak lagi menghadirkan kemaslahatan. Dalam sejarah Islam, perempuan juga memiliki hak untuk mengajukan cerai (khuluk) jika merasa terzalimi, baik secara fisik, ekonomi, maupun emosional.

Perempuan-perempuan yang menggugat cerai umumnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga, ditelantarkan, atau dikhianati. Dalam Islam, laki-laki wajib menafkahi istri, memperlakukan mereka dengan baik, dan menjadi pemimpin rumah tangga yang adil. Ketika peran ini dilalaikan, perempuan tidak hanya boleh, tetapi dianjurkan untuk menuntut keadilan. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ pernah mengabulkan cerai seorang perempuan hanya karena dia tidak sanggup mencintai suaminya, meskipun tidak ada kekerasan—ini menunjukkan bahwa Islam memuliakan perasaan dan martabat perempuan.

Salah satu riwayat paling terkenal adalah kisah Habibah binti Sahl (dalam beberapa riwayat disebut juga Jamilah binti Ubayy) yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

“Wahai Rasulullah, aku tidak mencela agama dan akhlak suamiku, tetapi aku tidak menyukainya. Aku khawatir jika tetap bersamanya, aku akan berlaku kufur terhadapnya (tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai istri).”

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar ia mengembalikan mahar yang telah diberikan suaminya, dan beliau mengabulkan permintaannya untuk bercerai. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab Ath-Thalaq, no. 5273.

Namun perceraian membawa konsekuensi besar, khususnya bagi perempuan. Data BKKBN dan BPS tahun 2024 mencatat lebih dari 11,5 juta keluarga dengan kepala keluarga perempuan, banyak di antaranya adalah janda. Tak hanya itu, data dari GoodStats menunjukkan bahwa 31,18% perempuan pencari nafkah utama di Indonesia—atau dikenal dengan istilah female breadwinners—adalah janda. Artinya, mereka tidak hanya menjalani peran sebagai ibu dan pendidik anak, tetapi juga penopang ekonomi keluarga.

Sayangnya, dalam ideologi kapitalisme-sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik, masalah ini dianggap sebagai urusan pribadi. Negara hanya hadir secara administratif—mengurus akta cerai atau bantuan terbatas—tanpa menyentuh akar persoalan. Padahal dalam Islam, problematika rumah tangga dan peran perempuan pasca-cerai bukan sekadar tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab negara.

Negara dalam Islam (Khilafah) memiliki peran penting sebagai pengurus urusan rakyat (raa’in). Negara wajib menyediakan pendidikan pranikah, bimbingan keluarga, pengadilan syar’i yang adil, sistem ekonomi yang memungkinkan perempuan hidup layak, serta sistem sosial yang memuliakan perempuan baik sebagai istri, janda, maupun ibu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam (pemimpin negara) adalah penggembala dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” Maka tanggung jawab negara terhadap perempuan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mencakup penciptaan sistem yang mencegah munculnya ketidakadilan sejak awal.

Dalam Islam, perempuan kepala keluarga bukanlah aib atau kegagalan. Justru mereka adalah mujahidah—pejuang—yang menjalani takdir dengan ikhlas dan bertanggung jawab. Sejarah mencatat sosok Khadijah, istri Rasulullah ﷺ yang merupakan janda dan kepala keluarga sebelum menikah, namun tetap dihormati dan dicintai Nabi. Islam tidak memandang status, tetapi ketakwaan dan kontribusi.

Stigma sosial terhadap janda dalam masyarakat Indonesia masih tinggi. Budaya malu (shame culture) membuat banyak perempuan menutupi penderitaannya demi menjaga nama baik keluarga. Akibatnya, kekerasan rumah tangga dan konflik berkepanjangan terus berlangsung dalam senyap. Padahal dalam Islam, menyembunyikan kezaliman bukanlah kemuliaan, dan menuntut keadilan adalah ibadah.

Media saat ini mulai membuka ruang bagi narasi perempuan pasca-cerai. Kisah-kisah janda mandiri mulai muncul sebagai inspirasi. Mereka tidak hanya bertahan hidup, tetapi bangkit, bekerja, menyekolahkan anak-anaknya, dan berkontribusi bagi masyarakat. Inilah potret nyata dari konsep tawakkal dan qana’ah yang diajarkan Islam—berserah diri kepada Allah sambil tetap berikhtiar dengan maksimal.

Namun negara tetap harus hadir. Tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan individu. Sistem hukum Islam memberi teladan bagaimana negara harus memfasilitasi penyelesaian konflik keluarga secara syar’i dan manusiawi. Pengadilan agama harus menjadi tempat yang ramah perempuan, bukan justru tempat yang menyulitkan atau memojokkan mereka. Hak perempuan pasca-cerai seperti nafkah iddah, mut’ah, dan hak asuh anak harus ditegakkan dengan serius oleh negara, sebagaimana dicontohkan oleh para khalifah dalam sejarah Islam (Sanusi et al., 2023).

Pendidikan pranikah juga harus diperkuat. Dalam Islam, menikah bukan hanya persoalan cinta, tetapi juga tanggung jawab, kepemimpinan, dan ibadah. Oleh karena itu, negara wajib menyelenggarakan pendidikan pernikahan yang terintegrasi dengan pemahaman agama, psikologi, dan komunikasi. Ini bagian dari pencegahan perceraian sejak hulu, sebagaimana dianjurkan dalam maqashid syariah untuk menjaga keturunan (hifzh al-nasab) (Sururie et al., 2023).

Fenomena meningkatnya cerai gugat dan janda kepala keluarga bukan sekadar tragedi rumah tangga, tetapi sinyal bagi negara dan masyarakat untuk bertobat dari kelalaian sistemik. Islam telah memberikan solusi komprehensif—mulai dari peran individu, keluarga, hingga negara. Maka negara tidak boleh tinggal diam. Saat negara hadir secara utuh dan syariat dijalankan secara kafah, perempuan tidak perlu memilih antara bertahan dalam ketidakadilan atau berjuang sendiri. Mereka akan hidup dalam lindungan sistem yang adil, mulia, dan berpihak pada yang lemah.[]

Referensi:

  1. Rinaldo, R., Nisa, E. F., & Nurmila, N. (2023). Divorce Narratives and Class Inequalities in Indonesia. Journal of Family Issues.
  2. Wardatun, A., & Smith, B. J. (2020). Woman-Initiated Divorce and Feminist Fiqh in Indonesia: Narrating Male Acts of Nushūz in Marriage. Ulumuna.
  3. Ramadhita, R., Mahrus, A., & Syabbul, B. (2023). Gender Inequality and Judicial Discretion in Muslims Divorce of Indonesia. Cogent Social Sciences, 9.
  4. Saraswati, R. (2020). Shame and Indonesian Women Victims of Domestic Violence in Making the Decision to Divorce. Identities, 27(5), 557–573.
  5. Sanusi, S., Iman, R. Q., Baihaki, R., & Farhan, I. (2023). Judges’ Ijtihad on Women’s Rights after Divorce and its Contribution to Family Law Reform in Indonesia. SMART: Journal of Sharia, Tradition, and Modernity.
  6. Sururie, R., Athoillah, M., & Ulhaq, M. Z. (2023). Strategies to Prevent Increasing Divorce Rates for Muslim Families in Indonesia. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam.
  7. GoodStats. (2024). Suami atau Istri, Siapa Lebih Banyak Ajukan Perceraian?.
  8. GoodStats. (2024). 14% Perempuan Indonesia Jadi Pencari Nafkah Utama Keluarga.

Fenomena Cerai Gugat dan Perempuan Kepala Keluarga: Tafsir Realitas dari Perspektif Islam Read More »

Umar Sang Arsitektur Waktu Dunia Islam

Pada tahun 638 Masehi, dunia Islam tengah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Namun di balik kemajuan itu, muncul satu masalah penting yang cukup mengganggu roda pemerintahan: tidak adanya sistem penanggalan resmi. Surat-surat resmi negara, catatan keuangan, dan penjadwalan berbagai urusan administratif kerap kali membingungkan karena tidak ada patokan waktu yang pasti. Peristiwa-peristiwa penting dicatat tanpa tanggal yang seragam. Bahkan, surat dari Abu Musa Al-Asy’ari—gubernur Basrah—yang diterima Umar menjadi salah satu pemicu keresahan itu. Isi surat tersebut meminta kejelasan waktu dalam dokumen-dokumen resmi karena ia mengalami kesulitan menentukan tanggal-tanggal tertentu.

Menanggapi hal itu, Umar bin Khattab menyadari bahwa sebuah negara besar, apalagi yang berbasis pada agama dan hukum seperti Islam, tak bisa berjalan tanpa sistem kalender yang jelas. Kalender bukan hanya tentang menghitung hari, tapi juga tentang menjaga keteraturan, mengenang sejarah, dan membangun identitas bersama. Umar mengumpulkan para sahabat senior dan mengadakan musyawarah besar guna menentukan sistem penanggalan resmi untuk umat Islam.

Dalam musyawarah tersebut, hadir tokoh-tokoh besar seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan para sahabat lainnya. Mereka mendiskusikan dengan serius kapan sebaiknya kalender Islam dimulai. Beberapa usulan muncul. Ada yang mengusulkan agar kalender dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang menyarankan peristiwa turunnya wahyu pertama sebagai titik nol. Namun, gagasan yang paling kuat justru datang dari Ali bin Abi Thalib, yang mengusulkan agar kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Umar menyambut usulan ini dengan sepenuh hati. Baginya, hijrah bukan sekadar perpindahan geografis. Itu adalah momen transformasi besar dalam sejarah umat Islam—saat umat yang tertekan di Makkah berpindah ke Madinah dan membentuk masyarakat baru yang bebas, adil, dan berdaulat. Hijrah adalah titik awal berdirinya negara Islam, dan itu menjadi alasan yang sangat logis dan penuh makna untuk dijadikan permulaan kalender.

Setelah menyepakati bahwa awal kalender Islam harus dihitung dari tahun hijrah (622 Masehi), musyawarah kemudian membahas penentuan bulan pertama dalam kalender tersebut. Meskipun hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal, namun yang dipilih sebagai bulan pertama adalah Muharram. Hal ini bukan keputusan yang sembarangan. Muharram adalah bulan suci yang telah dihormati bahkan sejak masa Jahiliah. Selain itu, bulan ini datang setelah umat Islam menunaikan ibadah haji di bulan Zulhijjah—momen spiritual yang sangat kuat. Dengan dimulainya tahun baru pada bulan suci ini, diharapkan umat Islam memulai tahun mereka dalam keadaan bersih dan penuh tekad baru.

Dengan demikian, sistem kalender Hijriyah pun resmi ditetapkan oleh Umar bin Khattab pada tahun 17 Hijriyah (sekitar 638 M). Kalender ini sepenuhnya menggunakan sistem lunar (berdasarkan siklus bulan), terdiri dari 12 bulan, dan tahun pertamanya dihitung mundur ke waktu hijrah Nabi. Tidak ada perubahan nama-nama bulan karena nama-nama tersebut telah dikenal luas di masyarakat Arab kala itu, seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan seterusnya.

Peristiwa ini, meskipun bersifat administratif, ternyata memiliki dampak luar biasa dalam jangka panjang. Umat Islam kini memiliki kalender sendiri yang tak hanya praktis, tetapi juga mengakar pada nilai-nilai sejarah dan spiritual. Kalender Hijriyah menjadi simbol kemandirian dan identitas Islam yang terpisah dari sistem penanggalan Romawi dan Persia yang sebelumnya dominan.

Sejak saat itu, semua urusan keagamaan seperti penetapan bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, waktu haji, dan peringatan peristiwa penting dalam sejarah Islam, menggunakan patokan kalender Hijriyah. Bahkan hingga hari ini, lebih dari 1.400 tahun kemudian, kita masih menyebut 1 Muharram sebagai tahun baru Islam dan merayakannya dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Apa yang dilakukan Umar bukan sekadar kebijakan teknis. Itu adalah langkah besar dalam membangun struktur masyarakat yang teratur dan berkesadaran sejarah. Ia menanamkan dalam benak umat bahwa waktu bukan hanya sesuatu yang berlalu begitu saja, tapi sesuatu yang harus diingat, dihargai, dan dimaknai.

Kalender Hijriyah juga menjadi alat pengikat umat Islam secara global. Di manapun umat Muslim berada—baik di Indonesia, Turki, Mesir, maupun Maroko—semua merujuk pada sistem waktu yang sama. Ini memperkuat rasa persaudaraan dan kesatuan umat yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Keputusan Umar bin Khattab ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak hanya berkutat pada hal-hal besar seperti perang dan ekspansi wilayah, tetapi juga menyangkut hal-hal mendasar seperti manajemen waktu. Dan dari kebijakan yang tampak sederhana ini, lahirlah sistem waktu yang mampu bertahan lintas zaman.

Warisan ini membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun dalam sehari, tetapi dengan keputusan-keputusan bijak yang memperhatikan nilai, makna, dan kebutuhan masa depan. Kalender Hijriyah adalah jejak sejarah yang terus mengalir, menyatukan umat dalam satu irama waktu yang dimulai dari sebuah hijrah.

Kini, setiap kali kita menyambut tahun baru Islam, kita tidak hanya menandai pergantian angka. Kita sedang memperingati keputusan besar yang dibuat Umar bin Khattab bersama para sahabat. Keputusan itu bukan sekadar penetapan waktu, tapi pengukuhan arah umat, peringatan akan perjuangan, dan ajakan untuk terus bergerak maju.

Dan dengan itu, waktu dalam Islam tidak pernah hampa. Ia selalu mengingatkan akan perjalanan, pengorbanan, dan harapan. Sebuah waktu yang disatukan oleh Umar, untuk umat yang tak pernah berhenti melangkah.[]

Umar Sang Arsitektur Waktu Dunia Islam Read More »

Bumi Pernah Gagal Bernapas, Kini Kita Sedang Mempercepatnya

Lebih dari 300 juta tahun yang lalu, Bumi pernah mengalami bencana besar yang memengaruhi kehidupan di lautan. Saat itu, terjadi lonjakan besar karbon dioksida yang dilepaskan secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi raksasa. Lonjakan karbon ini menyebabkan laut kehilangan oksigen secara drastis, sehingga banyak makhluk laut yang tidak bisa bertahan hidup.

Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari University of California Davis, Chinese Academy of Sciences, dan Texas A&M University berhasil mengungkap lima peristiwa besar yang disebut sebagai “sendawa karbon” purba. Peristiwa ini menyebabkan lautan kekurangan oksigen hingga 4% sampai 12%. Penemuan ini didapatkan dengan menggabungkan analisis sedimen dasar laut dan pemodelan iklim menggunakan superkomputer.

Yang membuat para ilmuwan khawatir, laju kenaikan karbon dioksida pada masa kini akibat ulah manusia terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sendawa karbon di masa purba. Jika di masa lalu lonjakan ini berlangsung ratusan ribu tahun, kini manusia melepaskan karbon dalam jumlah serupa hanya dalam beberapa abad. Kondisi ini tentu menjadi ancaman besar bagi laut dan seluruh makhluk yang bergantung padanya.

Para peneliti menggali inti sedimen dari formasi geologi bernama Naqing di Tiongkok Selatan. Inti sedimen ini menjadi saksi bisu kondisi Bumi 310 hingga 290 juta tahun lalu. Dari hasil analisis sedimen tersebut, ditemukan jejak lonjakan karbon dioksida yang bersamaan dengan perubahan tanda isotop uranium di lautan.

Dengan memanfaatkan data geokimia ini, para ilmuwan menjalankan model iklim canggih di superkomputer. Model ini mereka jalankan ratusan ribu kali untuk mendapatkan gambaran paling realistis tentang kondisi iklim purba. Hasilnya menunjukkan lima kali terjadinya penurunan kadar oksigen laut yang bertepatan dengan lonjakan karbon dioksida.

Lima peristiwa sendawa karbon tersebut terjadi pada waktu yang berbeda. Peristiwa pertama berlangsung sekitar 310 juta tahun lalu, pada awal masa Pennsylvanian. Peristiwa kedua terjadi sekitar 307 juta tahun lalu, saat Bumi mengalami aktivitas vulkanik besar. Peristiwa ketiga terjadi 304 juta tahun lalu dan menurunkan oksigen laut hingga sekitar 8%.

Peristiwa keempat berlangsung sekitar 297 juta tahun lalu. Saat itu, penurunan oksigen laut mendekati 10%, menyebabkan gangguan besar pada kehidupan laut. Peristiwa kelima terjadi 290 juta tahun lalu dan menjadi yang terpanjang durasinya. Peristiwa ini diduga sangat memengaruhi ekosistem pesisir.

Menariknya, meskipun pada masa itu Bumi memiliki kadar oksigen atmosfer 40% hingga 50% lebih tinggi dibandingkan saat ini, lautan tetap bisa mengalami anoksia atau kekurangan oksigen. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kondisi lebih buruk sangat mungkin terjadi pada masa kini akibat emisi karbon dari aktivitas manusia.

Menurut para ilmuwan, jika peristiwa seperti itu terjadi lagi saat ini, yang pertama terdampak adalah wilayah pesisir. Padahal, wilayah ini kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi tumpuan hidup jutaan orang. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem laut terhadap perubahan iklim.

Para peneliti juga menekankan bahwa lonjakan karbon purba tersebut tidak ada yang terjadi secepat lonjakan karbon yang sedang terjadi sekarang. Sumber karbon di masa lalu berasal dari alam, seperti letusan gunung berapi, sedangkan sekarang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.

Profesor Isabel Montañez dari University of California Davis mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang ini ibarat “sendawa karbon” yang dibuat manusia, namun dengan kecepatan dua hingga tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan peristiwa purba. Ini jelas menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan ekosistem laut.

Dampak dari sendawa karbon purba itu terlihat jelas dalam catatan geologi. Setiap kali peristiwa ini terjadi, perkembangan keanekaragaman hayati laut seakan berhenti. Meski tidak selalu diikuti kepunahan massal, kehidupan laut sangat tertekan selama masa anoksia tersebut.

Para peneliti menekankan bahwa pelajaran dari masa lalu ini seharusnya membuka mata kita. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena kondisi Bumi kini berbeda dari jutaan tahun lalu. Justru dengan perubahan yang lebih cepat, risikonya bisa lebih parah.

Studi ini juga menjadi bukti bahwa laut sangat sensitif terhadap perubahan kadar karbon dioksida di atmosfer. Karbon yang kita lepaskan hari ini bisa memicu bencana yang efeknya bertahan selama ribuan tahun ke depan.

Penelitian penting ini diterbitkan pada 23 Juni 2025 dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi ini mendapat dukungan dari National Natural Science Foundation of China dan U.S. National Science Foundation.

Pesan utama dari penelitian ini adalah kita harus segera mengurangi emisi karbon dioksida. Jika tidak, laut kita bisa kembali kehilangan oksigen dan menyebabkan runtuhnya ekosistem laut seperti yang pernah terjadi di masa purba.[]

Bumi Pernah Gagal Bernapas, Kini Kita Sedang Mempercepatnya Read More »

Tim Berners-Lee: Sang Penemu Dunia Web yang Mengubah Dunia

Timothy John Berners-Lee, atau yang lebih dikenal dengan Tim Berners-Lee, lahir di London pada 8 Juni 1955. Ia tumbuh di keluarga yang dekat dengan dunia komputer. Kedua orang tuanya, Mary Lee Woods dan Conway Berners-Lee, pernah bekerja dengan komputer komersial pertama di dunia, Ferranti Mark 1. Tim kecil sudah akrab dengan teknologi sejak dini, bahkan ia belajar banyak tentang elektronik melalui hobinya merakit dan memainkan kereta model. Masa kecilnya diisi dengan rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk saat bersekolah di Sheen Mount Primary School dan kemudian di Emanuel School, London. Setelah lulus sekolah, ia melanjutkan pendidikan ke Queen’s College, University of Oxford, dan berhasil meraih gelar sarjana fisika dengan predikat terbaik pada tahun 1976.

Setelah lulus kuliah, Berners-Lee bekerja sebagai insinyur di Plessey Telecom di Dorset. Di sana, ia menangani berbagai sistem, mulai dari sistem transaksi terdistribusi, pengiriman pesan, hingga teknologi barcode. Pada 1978, ia pindah ke D.G. Nash, perusahaan milik teman-temannya, tempat ia membuat perangkat lunak penyusun huruf untuk printer dan sistem operasi multitugas. Pada 1980, Berners-Lee bekerja di CERN, organisasi penelitian nuklir Eropa. Di tempat inilah ide besarnya mulai terbentuk. Ia mengusulkan sistem berbasis “hypertext” untuk memudahkan para peneliti dalam berbagi dan memperbarui informasi. Ia membuat prototipe sistem bernama ENQUIRE, yang terinspirasi dari buku tua berjudul Enquire Within Upon Everything.

Usai masa pertamanya di CERN, Berners-Lee menjadi direktur teknis di Image Computer Systems di Bournemouth. Di sana, ia mendalami jaringan komputer, grafis, dan perangkat lunak komunikasi. Tahun 1984, ia kembali ke CERN sebagai peneliti dan saat itu CERN sudah menjadi simpul internet terbesar di Eropa. Melihat peluang untuk menggabungkan hypertext dengan internet, pada Maret 1989 ia membuat proposal berjudul Information Management: A Proposal. Inilah cikal bakal lahirnya World Wide Web, sistem yang memungkinkan orang di seluruh dunia berbagi informasi tanpa perlu saling mengirim email. Berners-Lee juga membangun peramban web (web browser) pertama dan server web pertama.

Situs web pertama lahir di CERN pada 6 Agustus 1991 dengan alamat info.cern.ch. Situs ini memuat informasi mengenai proyek Berners-Lee agar orang dapat belajar tentang hypertext dan cara membuat situs sendiri. Dalam waktu singkat, web berkembang pesat. Pada 1992 sudah ada 50 server, dan pada 1994 pengguna web mencapai lebih dari dua juta orang, meski sebagian besar masih di kalangan akademik. Tahun 1994, Berners-Lee mendirikan World Wide Web Consortium (W3C) di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Konsorsium ini menjadi wadah perusahaan yang ingin bekerja sama membuat standar web dan mengembangkannya tanpa biaya royalti atau paten. Sampai kini, Berners-Lee masih menjabat sebagai direktur W3C.

Perkembangan web makin pesat ketika Microsoft meluncurkan Internet Explorer pada 1995 yang membuat pengguna internet melonjak. Pada 1997, web mulai dimanfaatkan untuk perdagangan elektronik (e-commerce). Berners-Lee terus berkontribusi dalam dunia teknologi. Pada 2009, ia ditunjuk Perdana Menteri Inggris saat itu, Gordon Brown, untuk membantu pemerintah membuat data lebih terbuka melalui situs data.gov.uk. Tahun 2016, Berners-Lee menjadi peneliti di Oxford University, setelah sebelumnya menduduki kursi pendiri di bidang ilmu komputer di MIT.

Dari sisi kehidupan pribadi, Berners-Lee menikah dengan Nancy Carlson pada 1990 dan dikaruniai dua anak sebelum bercerai pada 2011. Ia kemudian menikah lagi dengan Rosemary Leith pada 2014. Berkat jasanya, Berners-Lee memperoleh banyak penghargaan. Ia diangkat menjadi anggota Royal Society pada 2001, dianugerahi gelar kebangsawanan pada 2004, dan masuk dalam Ordo of Merit pada 2007. Pada 2009, ia terpilih sebagai anggota asing National Academy of Sciences di Amerika Serikat. Tahun 2016, ia menerima penghargaan bergengsi ACM A.M. Turing Award atas jasanya menciptakan World Wide Web, peramban web pertama, serta protokol dan algoritma dasar yang membuat web berkembang pesat hingga kini.[]

Tim Berners-Lee: Sang Penemu Dunia Web yang Mengubah Dunia Read More »

Strategi Pangan Nabi Yusuf AS: Warisan Abadi

Di balik kisah epik Nabi Yusuf AS dalam Al-Qur’an, tersimpan pelajaran luar biasa tentang manajemen pangan yang visioner. Saat Mesir dihadapkan pada ancaman tujuh tahun masa subur diikuti tujuh tahun paceklik, Nabi Yusuf AS bukan hanya menafsirkan mimpi sang raja, tetapi juga memberikan strategi konkret yang cerdas dan berkelanjutan.

Nabi Yusuf AS menyarankan masyarakat untuk tetap bercocok tanam selama masa subur dan menyimpan hasil panen di dalam bulirnya. Hanya sedikit hasil panen yang diambil untuk konsumsi sehari-hari. Langkah ini mencerminkan gabungan pengetahuan praktis dan hikmah yang sangat mendalam.

Penyimpanan biji-bijian dalam bulir menjadi teknik pengawetan alami yang efektif. Bulir berfungsi sebagai pelindung alami dari kelembapan, jamur, dan hama. Teknik sederhana ini menunjukkan keunggulan kearifan lokal yang sering kali melampaui teknologi modern berbasis bahan kimia.

Strategi Nabi Yusuf AS juga menegaskan pentingnya keadilan distribusi dan disiplin sosial. Rakyat didorong untuk mengendalikan konsumsi agar persediaan pangan tetap cukup selama masa krisis. Konsep ini selaras dengan prinsip keadilan pangan yang kini banyak dikaji dalam studi kontemporer.

Sejarawan meyakini bahwa strategi tersebut juga mencakup pembangunan lumbung penyimpanan besar dan sistem logistik yang tertata. Lumbung ini menjadi simbol manajemen risiko yang matang dalam menghadapi krisis pangan.

Hikmah manajemen pangan dari Nabi Yusuf AS relevan untuk masa kini. Di tengah krisis iklim, kelangkaan pangan, dan ketimpangan distribusi, pendekatan sederhana berbasis kearifan lokal menjadi solusi alternatif yang layak diperhitungkan.

Nabi Yusuf AS mengingatkan bahwa pembangunan ketahanan pangan tidak selalu harus mengandalkan teknologi canggih. Kombinasi nilai spiritual, etika, dan strategi praktis justru menjadi kunci keberlanjutan sebuah sistem pangan.

Konsep penyimpanan kolektif yang diperkenalkan Nabi Yusuf AS menjadi cikal bakal gagasan bank pangan modern. Prinsip gotong royong dalam penyimpanan dan distribusi menjadi teladan yang relevan untuk masyarakat saat ini.

Banyak negara kini mengadopsi langkah serupa melalui cadangan pangan strategis nasional guna mengantisipasi krisis akibat bencana alam, perang, atau gangguan pasar global. Pendekatan kuno terbukti tetap efektif di masa kini.

Nabi Yusuf AS bukan sekadar nabi yang mengajarkan tauhid, tetapi juga negarawan visioner yang mampu merancang kebijakan jangka panjang demi keberlanjutan hidup bangsanya. Sosoknya menjadi teladan dalam memadukan kearifan spiritual dengan kecerdasan praktis.

Kini, pendekatan Nabi Yusuf AS sering dikaitkan dengan agroekologi dan manajemen risiko berbasis keberlanjutan. Nilai-nilai ini telah diterapkan dalam banyak kebijakan ketahanan pangan modern, khususnya di negara berkembang.

Pentingnya edukasi masyarakat dalam pengelolaan pangan juga menjadi pelajaran berharga dari Nabi Yusuf AS. Tanpa kesadaran kolektif, strategi sebaik apa pun tidak akan berjalan efektif.

Strategi Nabi Yusuf AS juga menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati tanaman. Dengan menyimpan biji dalam bulir, keberagaman genetik dapat tetap terjaga, memberi ketahanan tambahan terhadap hama dan perubahan iklim.

Komunitas lokal di berbagai daerah mulai kembali menerapkan teknik tradisional serupa. Penyimpanan di bulir dan lumbung komunitas terbukti hemat biaya dan ramah lingkungan.

Nabi Yusuf AS mengajarkan nilai sabar dan perencanaan matang dalam menghadapi krisis. Ini menjadi pengingat penting agar kita tidak terburu-buru mencari solusi instan tanpa pertimbangan jangka panjang.

Pesan Nabi Yusuf AS menegaskan bahwa solusi krisis pangan bukan hanya soal teknologi, melainkan soal membangun karakter masyarakat yang sabar, adil, dan berpikiran jauh ke depan.

Strategi pangan Nabi Yusuf AS adalah warisan peradaban yang membuktikan bahwa kombinasi hikmah spiritual dan kecerdasan manajerial mampu menyelamatkan bangsa dari bencana kelaparan dan tetap menjadi inspirasi hingga kini.[]

Strategi Pangan Nabi Yusuf AS: Warisan Abadi Read More »

Criticality: Cara Otak Menjaga ‘Ketajamannya’

Otak manusia ternyata bekerja paling baik saat berada di titik rapuh antara keteraturan dan kekacauan. Sebuah teori baru yang dikemukakan oleh Keith Hengen, profesor biologi di Washington University di St. Louis, mengungkap bahwa keadaan ini disebut criticality atau kondisi kritis. Keadaan ini adalah titik manis di mana otak siap belajar, mengingat, dan beradaptasi. Saat otak menjauh dari kondisi ini, risiko munculnya penyakit seperti Alzheimer meningkat. Memahami dan mengembalikan criticality bisa menjadi cara baru mendeteksi dan mengobati penyakit tersebut.

Menurut Hengen, otak yang sehat bukanlah otak yang sudah diprogram sejak lahir. Sebaliknya, otak kita ibarat mesin pembelajar yang siap menerima pengalaman baru setiap hari. Agar mampu belajar, otak harus berada dalam keadaan criticality, sebuah kondisi di mana sistem yang rumit seperti otak berada di batas antara keteraturan dan kekacauan. Di titik inilah, otak kita paling siap menyerap informasi, berpikir, dan mengingat.

Konsep criticality ini diambil dari ilmu fisika. Fisikawan menggambarkannya dengan contoh tumpukan pasir. Saat pasir terus ditambahkan, tumpukan itu semakin curam hingga akhirnya longsor. Tepat sebelum longsor terjadi, tumpukan pasir berada di sudut kritis yang satu langkah lagi menuju ketidakstabilan. Dalam otak, kondisi kritis ini bisa terjadi pada beberapa neuron maupun seluruh area otak. Pola kerja otak dalam hitungan milidetik atau berjam-jam tetap menunjukkan kesamaan, sejalan dengan pengalaman kita yang tidak terbatas waktu.

Hengen bersama rekannya, fisikawan Woodrow Shew dari University of Arkansas, mengusulkan bahwa criticality adalah teori pemersatu untuk memahami kerja otak dan munculnya penyakit. Mereka juga mengembangkan cara mengukur kondisi ini melalui teknologi pencitraan otak seperti fMRI. Dengan alat ini, para ilmuwan dapat mengetahui seberapa dekat otak seseorang dengan kondisi optimalnya.

Teori ini membuka jalan baru dalam memahami penyakit Alzheimer. Alih-alih hanya melihat bagian otak yang rusak atau protein yang menumpuk, Hengen menilai Alzheimer menghancurkan kemampuan otak untuk mempertahankan criticality. Inilah mengapa penderita sering terlihat normal di tahap awal karena otak berusaha keras menutupi masalah dengan berbagai cara. Namun seiring waktu, otak semakin sulit beradaptasi dan memproses informasi, hingga gejala seperti gangguan ingatan mulai tampak.

Penelitian Hengen bersama pakar lainnya menunjukkan bahwa penumpukan protein tau pada Alzheimer memang merusak criticality. Dengan kata lain, penyakit ini secara langsung mengacaukan keseimbangan otak. Temuan ini membuka peluang untuk mendeteksi Alzheimer lebih dini, bahkan sebelum gejala muncul, hanya dengan fMRI dan tes darah canggih. Dengan demikian, intervensi bisa dilakukan sebelum kerusakan terjadi.

Hengen juga meneliti bagaimana tidur memengaruhi criticality. Tidur ternyata berperan seperti tombol reset, mengembalikan otak ke kondisi optimalnya. Hal ini menjelaskan mengapa kurang tidur meningkatkan risiko Alzheimer. Bahkan, terapi berbasis tidur yang dirancang khusus mungkin dapat membantu memperbaiki keseimbangan otak dan memperlambat gejala Alzheimer.

Ke depan, para ilmuwan berharap teori ini dapat menjelaskan lebih banyak hal tentang kemampuan luar biasa otak manusia. Mungkin saja, seseorang yang sangat kreatif berada sangat dekat dengan criticality di bagian otaknya yang mengatur ide. Siapa tahu, bakat yang belum tergali bisa terlihat dengan memahami criticality ini.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Neuron pada 25 Juni 2025 oleh Washington University di St. Louis. Hengen berharap temuan ini dapat menginspirasi dokter, ilmuwan, dan masyarakat luas untuk lebih memahami pentingnya menjaga keseimbangan otak.[]

Criticality: Cara Otak Menjaga ‘Ketajamannya’ Read More »

Emile Berliner: Sosok Jenius di Balik Gramofon, Piringan Hitam, dan Mesin Pesawat

Emile Berliner, seorang penemu hebat yang lahir di Hannover, Jerman pada 20 Mei 1851, dikenal luas sebagai orang yang menciptakan gramofon dan piringan hitam datar yang menjadi cikal bakal teknologi rekaman suara massal yang murah. Penemuannya ini menggantikan silinder Edison yang lebih rapuh dan sulit digunakan. Berliner juga merancang mesin pembakaran putar ringan yang cocok untuk pesawat terbang, sebuah inovasi penting dalam dunia penerbangan.

Berliner merupakan anak dari pasangan Samuel dan Sarah Berliner dan menjadi salah satu dari tiga belas bersaudara. Ayahnya seorang pedagang, sedangkan ibunya dikenal sebagai musisi amatir. Setelah lulus dari Samsonschule di Wolfenbuttel pada usia 14 tahun, ia bekerja serabutan di Hannover untuk membantu keuangan keluarga. Pada tahun 1870, ia hijrah ke Amerika Serikat dan menetap di Washington, D.C. Di sana, ia bekerja sebagai penjaga toko sebelum pindah ke New York untuk belajar fisika di kelas malam di Cooper Union Institute.

Ketertarikan Berliner pada teknologi dimulai saat ia melihat perkembangan telepon karya Alexander Graham Bell. Ia menciptakan mikrofon yang mampu memperbesar suara telepon, kemudian menjual temuannya kepada The Bell Telephone Company dan bekerja di sana sebagai asisten peneliti. Pada 1881, Berliner menjadi warga negara Amerika dan menikahi Cora Adler, dengan siapa ia dikaruniai enam anak.

Pada 1884, Berliner memutuskan untuk menjadi peneliti dan penemu mandiri. Ia kembali ke Washington dan mengembangkan lebih banyak inovasi untuk telepon. Dua tahun kemudian, minatnya beralih pada rekaman dan reproduksi suara mekanik. Pada 1887, ia mematenkan gramofon pertamanya yang menggunakan piringan datar. Alat ini menghasilkan suara yang lebih keras dan jernih dibanding silinder Edison. Gramofon ciptaannya menjadi sensasi dan mendorong Berliner mendirikan perusahaan untuk memproduksi dan mendistribusikan gramofon serta piringan hitam.

Pada awal 1900-an, Berliner mulai tertarik pada dunia penerbangan. Ia merancang mesin pembakaran putar 6 tenaga kuda untuk pesawat dan mendirikan Gyro Motor Company pada 1909 untuk memproduksi mesin ini. Bersama putranya, Henry, ia juga merancang helikopter yang sukses terbang pada 1919. Tak hanya itu, pada 1925 ia menemukan ubin akustik untuk digunakan di aula konser dan auditorium.

Di luar dunia teknologi, Berliner juga pernah menciptakan lagu patriotik berjudul The Columbian Anthem yang populer pada masanya. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada biola dan mencoba memahami kenapa biola antik terdengar lebih nyaring daripada yang baru. Kepeduliannya pada kesehatan masyarakat juga besar. Ia mendanai pembangunan rumah sakit di Maryland untuk mengenang ayahnya dan mendukung program pencegahan tuberkulosis.

Pada 1899, Berliner menulis buku Conclusions yang berisi pandangannya sebagai agnostik dalam agama dan filsafat. Atas dedikasinya, Berliner menerima berbagai penghargaan, termasuk John Scott Medal pada 1897, Elliott Cresson Medal pada 1913, dan Franklin Medal pada 1929. Emile Berliner wafat akibat serangan jantung pada 3 Agustus 1929 di usia 78 tahun dan dimakamkan di Rock Creek Cemetery, Washington, D.C. Lewat penemuan dan karyanya, ia meninggalkan warisan berharga di bidang komunikasi, akustik, dan aeronautika, yang dinikmati dunia hingga kini.[]

Emile Berliner: Sosok Jenius di Balik Gramofon, Piringan Hitam, dan Mesin Pesawat Read More »