Sunashadi

Negara Emisi Rendah

Penggunaan sumber energi terbarukan di dunia dibedakan sebanyak 5 jenis: geothermal, hydropower, biomass, tenaga surya (solar), dan tenaga angin (wind). Kontribusi kelistrikannya pada tahun 2021 adalah: energi geothermal berkontribusi sebesar <1%, hydropower 15,3%, biomass 2.3%, solar 3.7%, dan wind 6.6%. Dengan demikian penggunaan energi hydropower (dam, turbin, dsb) merupakan yang tertinggi, dan yang terendah adalah energi geothermal.

Lalu bagaimana kontribusi masing-masing negara di dunia dalam penggunaan energi terbarukan, khususnya penggunaan energi solar dan windpower pada tahun 2021?

Data dari https://elements.visualcapitalist.com menunjukkan bahwa Denmark dan Uruguay memberikan kontribusi tertinggi, masing-masing sebesar 51.9% dan 46.7%. Sementara itu, kontribusi terendah dapat dilihat antara lain pada negara Papua New Guinea juga Myanmar, masing-masing sebesar 0.0% dan 0.1%.

Bagaimana dengan Indonesia? Data di atas Indonesia menunjukkan kontribusi sebesar 0.2%, termasuk terendah di Asia Tenggara.

Negara Emisi Rendah Read More »

Dari Katsuwonus pelamis ke Nabi Sulaiman as

Bersama Dekan FIKP Universitas Hasanuddin, Safruddin, S.Pi., MP.,Ph.D

—Saya memulai tulisan ini dengan menyampaikan disclaimer lebih awal: artikel ini tentu tak seheboh judulnya.—

Sebuah kebanggaan mendapatkan kesempatan akademik dari Pak Safruddin (Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin) terkait topik oseanografi perikanan.

Salah satu penjelasan yang cukup menggelitik pada kesempatan tersebut adalah ketika beliau menjelaskan tentang migrasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di beberapa tempat, khususnya di Negara Jepang. Diskusi berlanjut hingga membahas secara singkat mukjizat Nabi Sulaiman as.

Saya mendapatkan beberapa insight dari penjelasannya: perikanan merupakan dunia yang kompleks, bahkan jauh lebih kompleks dari pekerjaan seorang dokter (pada satu sisi). Seorang dokter mendiagnosa penyakit seseorang dengan cara mendapatkan penjelasan langsung dari pasiennya mengenai berbagai keluhannya.

Begitupun pula pada dunia peternakan, seorang dokter hewan bisa mendapatkan petunjuk tentang penyakit ternaknya dari penampakan visual secara spontan, tanpa perlu menyelam atau menggunakan interprestasi instrumen tertentu secara kompleks sebagai pendekatan sebagaimana pada dunia perikanan.

Dunia perikanan tak bisa dipungkiri telah menunjukkan kemajuan yang demikian pesat, namun demikian, dengan beragamnya organisme laut (spesies ikan khususnya), nampak bahwa respon ikan terhadap lingkungan perairan laut tak bisa digeneralisasi. Masing-masing spesies memiliki karakter habitat yang berbeda-beda.

Ilmu penginderaaan jauh telah ramai digunakan untuk membaca karakter masing-masing ikan, khususnya melalui data sea surface temperature (SST), sea surface chlorophyll (SSC), sea surface height anomaly (SSHA), eddy kinetic energy (EKE), dan sebagainya.

Sayangnya riset terkait faktor-faktor dan parameter oseanografi masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia. Baik karena persoalan klasik ‘pendanaan’, juga karena skema riset yang manajemennya lemah dan tidak berkesinambungan, sehingga sulit untuk menyuplai kebijakan. Belum lagi kebijakan yang dihasilkan oleh para decision maker masih menafikan karya intelektual sebagai basis kebijakan politik.

Kompleksitas oseanografi perikanan tentu menjadi salah satu faktor pembatas dalam mengupayakan keseimbangan produktif antara relasi dunia industri dan stok sumberdaya perikanan. Andai saja kecakapan Nabi Sulaiman as dapat ditransfer dalam era kekinian, tentu kesulitan yang begitu rupa akan dapat dikontruksi langkah-langkah solusinya.

Nabi Sulaiman as dalam berbagai kitab agama samawi dinarasikan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh makhluk dalam semesta ini mewarisi kecakapan ayahnya, yang juga seorang nabiullah, Nabi Daud as.

Mungkin ini terkesan konyol dalam membincangkannya dalam konteks kekinian, namun ini dapat membantu kita mengimajinasikan solusi atas kondisi sumberdaya kita, yang tengah mendapatkan tekanan yang luar biasa.

Biota ikan sebagai makhluk bertulang belakang memiliki syaraf-syaraf yang dapat merasakan stres dan kesakitan sehingga mereka berupaya migrasi ke lokasi sesuai karakteristik faktor-faktor kondisinya yang relevan.

Saat ini mereka migrasi tak bisa lagi diprediksi berdasarkan musim, bukan lagi migrasi dalam siklus alamiahnya. Siklus musim telah berubah ekstrim setelah keserakahan manusia dengan ‘mesin industrialisasinya’ mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Jika saja mereka mengadukan keadaannya (dalam imajinasi kita seumpama kepada Nabi Sulaiman as) sepertinya ikan-ikan tersebut akan meminta perlindungan agar kuasa ‘kekhalifahan’ manusia atas dunia ini ditinjau ulang, karena manusia telah semena-mena kepada alam semesta, sampai-sampai tak ada keadaan yang stabil bagi alam ini untuk mendaur ulang kesiapannya melayani manusia.

Wallahu a’lam bishshowab.

Dari Katsuwonus pelamis ke Nabi Sulaiman as Read More »

4 Menit 1 Kebaikan

Dailymail menyebutkan bahwa setiap tahun, sekitar 300 bencana alam membunuh sekitar 90.000 manusia dan mempengaruhi 160 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya kualitas penanganan terhadap dampak bencana masih sangat rendah. Realitas ini telah mendorong para ilmuwan untuk membuat teknologi robotika berorientasi layanan bencana.

Salah satu negara yang memiliki minat yang tinggi untuk menjadi negara unggul di bidang robotika adalah Italia. Tim Istituto Italiano Tecnologia (IIT) telah mengerjakan robotika spesifikasi ini selama kurang lebih 15 tahun.

Tim ini tengah membuat sebuah robot yang mirip seperti tokoh superhero Marvel, Iron Man. Robot ini dirancang guna membantu manusia ketika terjadi bencana alam seperti membersihkan puing-puing serta menggunakannya ransel penggeraknya untuk dapat terbang diatas tempat yang sulit dilewati. Robot masa depan ini diberi nama iCub.

Dalam 50 tahun terakhir, badan meteorologi PBB mencatat, ada lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia yang meninggal dunia akibat bencana alam. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan jumlah bencana alam, seperti banjir dan gelombang panas, yang didorong oleh perubahan iklim telah meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir, merugikan manusia hingga US$ 3,64 triliun.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pada 2021, Indonesia menduduki peringkat 38 Indeks Resiko Bencana Dunia (WorldRiskIndex) dari 181 negara, dengan skor 10.67 (kategori tinggi). Sebelumnya pada 2020 dan 2019 menduduki peringkat 40 dan 37, dengan skor 10.39 (tinggi) dan 10.58 (tinggi).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat bahwa, jumlah frekuensi bencana alam di Indonesia sepanjang 2021 lebih rendah dibandingkan 3 tahun terakhir. Bahkan kurun 2010-2020 disebut sebagai dekade penuh bencana bagi Indonesia. Walaupun terjadi penurunan frekuensi bencana, namun dampak kejadian itu meningkat cukup signifikan.

Kita tentu menunggu bagaimana robot ‘iCub’ dapat dioperasikan. Akan tetapi, kita lebih berharap agar intensitas bencana yang justru berkurang, bahkan tak menimbulkan dampak. Namun, kejadian bencana di luar kuasa manusia, sehingga upaya yang paling pantas adalah berinvestasi pada ikhtiar menghindari bencana.

Seorang ulama, Ibnul Qayim memiliki pandangan dan penafsiran bahwa sedekah dapat menghindarkan bencana. Dalam Al-Waabilus Shayyib halaman 49, ia menyampaikan,

“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau zalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya”.

Dalam hadits riwayat At-Thabrani, Rasulullah SAW, bersabda,

“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).”

Sedekah (Shodaqoh) memiliki makna yang luas, sedekah dapat bermakna  infak,  zakat  dan  kebaikan  non-materi. 

Dalam  al-Qur‟an,  Allah SWT menggunakan istilah shodaqoh untuk menyebut zakat, misalnya Allah berfirman: Ambillah shodaqoh (zakat)) dari sebagian harta mereka, dengan shodaqoh (zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.

Sedekah juga bisa bemakna yang lebih luas dari zakat, hal itu misalnya disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bersedekah dengan hartanya, beliau bersabda: “Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma‟ruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah”.

Adakah jumlah sedekah minimal bagi setiap manusia setiap harinya?

Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap manusia dari anak Adam diciptakan terdiri dari 360 persendian/ruas” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

“Masing-masing persendian dari setiap manusia itu harus diberi shadaqah.  Setiap hari dimana pada hari itu terbit matahari kemudian ia berbuat adil terhadap dua orang yang berselisih maka itu adalah shadaqah, membantu seseorang untuk menaikkan atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraannya itu adalah shadaqah, ucapan yang baik adalah shadaqah, setiap langkah untuk berjalan menuju ke tempat shalat itu adalah shadaqah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan itu adalah shadaqah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, maka 360 ruas sendi yang ada pada tubuh kita harus diberi sedekah setiap hari.  Sedekahnya itu berupa amal kebaikan.  Jadi, minimal setiap hari kita harus melakukan 360 kebaikan, hanya untuk badan kita.  Dalam 24 jam minimal kita harus berbuat kebaikan 360 kali.  Dengan kata lain, kita harus berbuat kebaikan 360/24 = 15 kebaikan per jam.  Atau setiap 4 menit menghasilkan satu kebaikan (netto). 

Amalan-amalan apa yang bisa bernilai satu kebaikan?

Rasulullah SAW, bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)

Membaca Alquran mendatangkan pahala. Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i karya Abu Ya’la Kurnaedi, pahala yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud adalah:

“Aku mendengar Nabi SAW bersabda: ‘Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf’”.

Imam Syafi’i mencatat ada 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf dalam Al-Qur’an. Sementara itu surat Alfatihah terhitung sebanyak 139 huruf (~2.363 kebaikan dalam 17 rakaat). Dengan shalat wajib seorang muslim telah melakukan sedekah, bahkan melebihi kebutuhan jumlah persendiannya.

Oleh karena itu, jika kita tidak mampu memproduksi per 4 menit 1 kebaikan, maka menahan tangan dan lisan dari merusak dan menyakiti, setidaknya akan menjadi sedekah untuk masing-masing diri.

Namun demikian, bencana yang paling besar di dunia bukanlah gempa bumi, tsunami, banjir bandang, kebakaran hutan, dan semacamnya. Namun, bencana terbesar di dunia adalah tidak tegaknya Islam ini di muka bumi, yang akan berakibat bagi munculnya berbagai prahara, serta marabahaya besar di akhirat kelak.

Wallahu a’lam bishshowab. []

4 Menit 1 Kebaikan Read More »

Negeri Pemuasan

Dalam 2 tahun terakhir ini, dunia dihebohkan dengan hasil teknologi yang diproduksi oleh Peneliti Korea Selatan maupun China. Apa gerangan teknologi yang mereka hasilkan, yang telah menghebohkan dunia tersebut? Ternyata mereka membuat teknologi yang disebut sebagai teknologi matahari buatan.

Matahari buatan Korea Selatan tahun lalu menghasilkan plasma bersuhu tinggi, dilaporkan lebih dari 100 juta derajat Celsius, namun hanya berlangsung 20 detik. Sementara itu China bulan lalu mencatatkan rekor, telah berhasil membuat matahari buatan dengan suhu mencapai 70 juta derajat Celsius.

Teknologi matahari buatan tersebut bahkan melebihi suhu inti matahari yang sebenarnya, yakni 15 juta derajat Celsius. Hanya saja teknologi buatan manusia tersebut (misalnya China) sejauh ini hanya menyala selama 17 menit.

Teknologi matahari buatan ini menghasilkan energi nuklir, dibuat dalam rangka mencari solusi mengatasi krisis energi di bumi dan menghasilkan energi bersih untuk menggantikan ketergantungan pada batubara dan minyak bumi.

Upaya tersebut mengafirmasi bahwa sesungguhnya kemajuan teknologi yang berkembang di dunia saat ini, telah berdampak pada rusaknya ekosistem bumi dan kesehatan manusia. Teknologi semakin maju, tetapi lingkungan hidup semakin rusak.

Kegiatan pertambangan semisal batubara, emas, nikel dan semacamnya telah menyebabkan rusaknya hutan dan hilangnya pepohonan, serta lahan-lahan pertanian, sehingga tak mengherankan suhu bumi bertambah panas dan terjadilah pemanasan global.

Selain itu, penambangan minyak bumi, uji coba hulu ledak nuklir dan semacamnya telah menjadi salah satu penyebab terjadinya gempa bumi. Oleh karena itu, sekali lagi kemajuan teknologi yang kita hasilkan hari ini, yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan manusia, sesungguhnya harus kita bayar mahal dengan banyaknya menghasilkan sumber-sumber bencana.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqaroh 11-12,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan (pembangunan).’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.”

Dengan demikian, sekuat apapun usaha manusia untuk menciptakan surga di bumi, maka hakekatnya tidak akan merubah ketentuan Allah SWT, bahwa bumi ini dirancang oleh Allah SWT bukan sebagai tempat untuk pemuasan kebutuhan dan keinginan manusia, tetapi bumi ini dibuat sebagai tempat untuk beramal.

Pertanyaannya: Lalu di manakah gerangan tempat manusia untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya? Jawabannya pasti, yakni tempatnya adalah di surga Allah SWT.

Kenikmatan-kenikmatan di surga kelak, Allah SWT ciptakan dengan sistem efisiensi, bahkan melebihi 100%: manusia, tempat tinggal, dan lingkungannya mengalami pertambahan kebaikan setiap waktu. Tidak ada derita dan keluh kesah. Tidak ada kewajiban untuk bekerja, karena kenikmatan itu akan menghampiri manusia setiap kali dibutuhkan manusia. Tidak ada kotoran yang keluar dari badan manusia. Tidak ada pencemaran yang keluar dari peralatan transportasi yang digunakan manusia. Dan berbagai kenikmatan lainnya.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim,

Tatkala telah masuk ahli surga ke dalam surga, maka ada yang menyeru dengan ucapan: Kalian akan hidup selamanya tidak akan mati, kalian akan selalu sehat tidak akan pernah sakit, kalian tetap akan muda tidak akan tua, dan kalian akan selalu merasakan kenikmatan tidak akan putus.

Rasulullah SAW bersabda dalam Riwayat Bukhari dan Muslim,

“Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, tak pernah terkhayal dalam khayal manusia”

Oleh karena itu, mari kita merindukan surga, jauh melebihi rindunya kita kepada kenikmatan dunia, sebuah rindu yang melebihi rindunya kita kepada cinta dan kekasih. Sebuah rindu yang tak boleh hilang dan mati pada jiwa seorang mukmin. Sebuah rindu yang hanya ditebus dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Negeri Pemuasan Read More »

Warning 5,8

Pada 5 Januari 2022, pukul 03.55 WITA (dini hari menjelang subuh), Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kendari melaporkan telah terjadi gempa pada jarak 182 km Timur Laut Wakatobi, pada kedalaman 569 Km.

Kejadian ini bahkan dinarasikan secara berlebihan pada salah satu chanel youtube, membubuinya dengan judul: SULAWESI PORAK PORANDA! Baru Saja Gempa 5,8 M Getarkan Wakatobi, Warga Histeris Ketakutan.

Alhamdulillah, gempa yang terjadi tersebut, di saat sebagian besar masyarakat Wakatobi masih tertidur lelap, masih dalam skala gempa yang tidak menimbulkan bencana dan marabahaya.

Alhamdulillah, kebaikan dan keselamatan ini, bisa jadi oleh karena di Wakatobi, masih ada ikhtiar menegakkan agama Allah SWT, dengan ibadah, dengan dakwah, ataupun dengan seruan-seruan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Walaupun sebagian besar manusia tak menyadari, jika upaya memakmurkan masjid dengan sholat-sholat wajib dan sunnah adalah bagian besar dari kegiatan pembangunan.

Banyak yang tidak menyadari, jika seruan dakwah, sholat tahajud, berjalannya hamba-hamba Allah dalam gelap dan dinginnya subuh adalah bagian dari partisipasi pembangunan dari hamba-hamba Allah yang melakukannya.

Kenapa demikian?

Bisa jadi (Insya Allah) atas tegaknya amalan-amalan tersebut, maka bangunan, gedung, jalan-jalan, pemukiman, perkampungan dan berbagai fasilitas pembangunan, tidak mengalami kerusakan, karena dijauhkan dari bencana dan malapetaka, disebabkan oleh tegaknya syari’at Allah SWT.

Oleh karena itu, upaya untuk memakmurkan masjid dan menegakan agama Allah SWT, tak boleh dipandang remeh oleh para pemimpin, oleh karena upaya tersebut adalah salah satu ikhtiar besar bagi keberlangsungan pembangunan, khususnya di negeri-negeri kaum muslimin.

Penting kiranya mengambil pelajaran (ibroh) dari peristiwa ini. Seberapa pun skala gempa yang terjadi sesungguhnya bukanlah sekedar peristiwa alamiah, tetapi adalah warning bagi seluruh warga, khususnya para pemimpin untuk menatakelola pembangunan ini dalam jalan-jalan keridhoan Allah SWT.

Ini persis seperti perkataan Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy,

“Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.’’

Gempa dengan skala 5,8 SR sebagaimana yang terjadi di Wakatobi ini, diindikasikan memiliki efek gempa yang dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik.

Bisa jadi karena jarak gempa dan episentrum yang lumayan jauh dari lokasi pulau di mana warga bermukim (tentu atas izin Allah SWT), sehingga efeknya tak terasa oleh warga.

Selengkapnya skala dan efek gempa diklasifikasikan sebagai berikut:

https://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Richter

Sekali lagi, ada pelajaran penting dari setiap peristiwa, khususnya dalam gempa ini. Mari mengambil bagian dalam menjaga dan menegakkan hukum-hukum Allah SWT, baik qauniyah (hukum alam) maupun qauliyah (hukum syari’at).

Warning 5,8 Read More »

Knot Amal

Pada 22 Desember 2021, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) telah menyampaikan potensi terjadinya bibit siklon tropis di Indonesia.

Suspek area potensi yang akan berdampak pada kondisi cuaca dan gelombang signifikan, berada di sekitar perbatasan wilayah laut Timor dan Arafura, atau sekitar perairan selatan Kepulauan Tanimbar (Saumlaki).

Salah satu area yang terdampak adalah wilayah Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi Sulawesi Tenggara. Pada Kamis (24/12/ 2021) terjadi angin ribut disertai hujan lebat pada 06.00 WITA sekitar 1 jam, dengan kecepatan 25 Knot atau setara dengan 46,3 km/jam.

Berdasarkan kelas kecepatan angin (Beaufort), angin kencang yang terjadi di Pulau Wangi-Wangi, masih terkategori sebagai angin ribut, yakni berkisar 45 – 54 km/jam.

Tentu ini masih jauh di bawah badai yang pernah menimpa Pulau Marshall di dekat Filipina pada tahun 1979, berupa badai Topan Tip dengan kecepatan angin 305 km/jam. Kecepatan ini menenggelamkan kapal dan menyebabkan banyak nelayan meninggal dunia.

Badai TopanTip ini disebut sebagai salah satu badai terhebat sepanjang sejarah bumi.

Adapun skala angin menurut Beaufort adalah sebagai berikut:
Skala 0 (0-1 km/jam): angin reda, tiang asap tegak
Skala 1 (2-6 km/jam): angin sepoi-sepoi, tiang asap miring
Skala 2 (7-12 km/jam): angin lemah, daun bergerak
Skala 3 (13-18 km/jam): angin sedang, ranting bergerak
Skala 4 (19-26 km/jam): angin agak keras, dahan bergerak
Skala 5 (27-35 km/jam): angin keras, batang pohon bergerak
Skala 6 (36-44 km/jam): angin sangat keras, batang pohon besar bergerak
Skala 7 (45-54 km/jam): angin ribut, dahan patah
Skala 8 (55-65 km/jam): angin ribut hebat, pohon kecil patah
Skala 9 (66-77 km/jam): angin badai, pohon besar tumbang
Skala 10 (78-90 km/jam): angin badai hebat, rumah roboh
Skala 11 (91-104 km/jam): angin taufan, benda berat berterbangan
Skala 12 (>105 km/jam): angin taufan hebat, benda beterbangan sejauh beberapa km

Skala-skala kecepatan ini, mengingatkan kita pada titian menuju surga, di mana manusia akan menempuhnya dengan skala kecepatan berdasarkan ‘knot’ amalan-amalan mereka di dunia.

Para ulama mengatakan, titian itu amat halus dan amat tajam serta amat licin sekali.

Menurut Al Fudhail bin ‘Iyadh, titian itu panjangnya 16.000 tahun perjalanan, padanya 5.000 pendakian (naik) dan 5.000 lembah (menurun) dan 5.000 tempat yang datar.

Orang-orang yang baik, yang kebajikannya lebih berat dari kejelekannya akan dapat menempuh titian itu dengan selamat dengan berbagai skala kecepatan menurut amal masing-masing.

Ada yang lambat, ada pula yang lebih cepat dari kilat. Mereka lalu berbondong-bondong masuk ke dalam surga.

Sedangkan orang-orang jahat tidak mungkin dapat melalui titian itu. Mereka jatuh tergelincir, akhirnya berbondong-bondong pula masuk ke dalam neraka.

Setidaknya ada sepuluh skala kecepatan saat melalui titian tersebut. Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di titian (shirath) adalah Nabi Muhammad SAW, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya dalam menyeberangi titian tersebut.

Kumpulan pertama melintas laksana kilat yang memancar. Disusul kumpulan kedua yang melintas seperti hembusan angin yang kencang. Kemudian kumpulan ketiga yang melintas seperti penunggang kuda yang baik/tercepat. Berikutnya kumpulan keempat yang melintas bak burung terbang yang cepat. Dan kumpulan yang kelima laksana orang berlari.

Selain itu, ada kumpulan keenam yang melintas dengan berjalan. Disusul kumpulan ketujuh yang melintas berdiri dan duduk karena dahaga dan penat yang terasa. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka.

Kemudian kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai karena terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Kumpulan ini begitu amat bergantungnya pada pertolongan Nabi Muhammad SAW.

Berikutnya kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas titian, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang.

Terkait dengan angin kencang dari bibit siklon tropis ini, Sebagian orang mungkin membuat kesimpulan bahwa, kejadian tersebut, adalah peristiwa biasa yang alamiah. Namun, bagi seorang muslim pasti meyakini bahwa, semua peristiwa di muka bumi ini, tak ada yang kebetulan terjadi, tetapi kesemuanya dalam izin dan pengetahuan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-An’aam: 59,

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Oleh karena itu, jangankan angin kencang yang telah menyebabkan pepohonan bertumbangan, dedaunan dan biji-bijian kering yang jatuh di tengah malam gelap gulita, pasti terjadi atas izin dan pengetahuan Allah SWT.

Maka dari itu, sekecil apapun tanda-tanda alam, termasuk angin kencang yang baru saja terjadi, hendaknya kita dapat mengambil ibrah, bahwasanya sehebat apapun kita manusia, ternyata kita tak memiliki kuasa apapun untuk menghindar dari azab Allah SWT, termasuk kematian, jika tanpa perlindungan dari Allah SWT.

Sesungguhnya di bumi ini terdapat tentara-tentara Allah yang tidak hanya berasal dari golongan malaikat, Nabi dan Rasul serta orang-orang sholeh. Tetapi juga, bala tentara Allah dapat berasal dari berbagai benda di alam raya ini.

Matahari pernah menahan agar tidak terbenam terlebih dahulu untuk membantu salah satu nabi dalam mengalahkan musuh. Dengan demikian, matahari adalah tentara Allah SWT.

Laut, berubah menjadi daratan kering, menyelamatkan Nabi Musa as dan pengikutnya. Laut adalah tentara Allah SWT.

Demikian pula angin, hujan, dan lain sebagainya, sewaktu-waktu dapat menjadi tentara Allah SWT, untuk menjadi penolong manusia ataupun menjadi azab pada manusia, jika manusia berkubang dalam kemaksiatan kepada Allah SWT.

Setiap kemaksiatan, baik besar ataupun kecil, akan menjadikan rusaknya kehidupan kita, hilangnya keberkahan hidup kita, bahkan ketika kemaksiatan itu menjadi tersebar merata, maka dampak kerusakannya juga merata.

Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan manusia dalam haditsnya, terkait 5 jenis bencana yang mengancam kaum muslimin.

Dalam Riwayat Ibnu Majah, Rasulullah Saw, bersabda,

“Lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya: tidaklah kekejian/perzinahan menyebar di suatu kaum, hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka, tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim, tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan, tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.”

Knot Amal Read More »

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 2/2)

Kemudian secara sosial, pencapaian kesejahteraan itu dapat divaluasi numeriknya melalui sensor-sensornya, baik sensor rasio maupun emosi sebagai bawaan alamiah dalam diri manusia.

Sistem kepribadian manusia dibangun dari potensi akalnya sebagai peralatan rasio dan potensi kehidupannya sebagai peralatan emosi.

Akal bukanlah potensi kehidupan, tetapi hanya potensi kemanusiaan. Kenapa bisa? Hewan dan tumbuhan tidak mempunyai akal, namun bisa hidup segar bugar.

Akal memiliki memori yang tersimpan dalam otak dengan kapasitas sekitar 2,5 petabyte, dan sebagai sebuah potensi, akal juga memerlukan pemenuhan.

Semakin mudah seseorang mendapatkan informasi (ilmu) dan semakin mudah seseorang memecahkan masalah berdasakan ilmu pengetahuan, semakin mudah ia merasakan kenyamanan dalam pemenuhan fungsi-fungsi akalnya. Sebaliknya, semakin sulit ia memenuhi tuntutan pemenuhan akan kepuasan akal, semakin ia dekat dengan kegelisahan.

Sensor yang kedua adalah emosi yang bersumber dari potensi kehidupan, yang terdiri dari dua subsensor utama, yakni kebutuhan jasmani (hajatul udhuwiyah) dan naluri.

Kebutuhan jasmani merupakan pemenuhan yang bersifat pasti dan tak boleh ditunda-tunda. Menunda pemenuhannya akan mengantarkan seseorang lebih dekat dengan kondisi kritisnya, karena bisa berakibat fatal, misalnya sakit, pingsan, bahkan kematian. Ini menyangkut pemenuhan kebutuhan penting, seperti makan, minum, buang air, dsb.

Semakin mudah seseorang memenuhi tuntutan dari kebutuhan jasmani, maka akan semakin terasa nyaman ia dengan kehidupannya. Sebaliknya semakin sulit ia memenuhi tuntutan dari kebutuhan jasmani tersebut, maka semakin gelisah dan kritis suasana kehidupannya.

Kemudian berikutnya terkait dengan pemenuhan naluri, yang pokoknya ada tiga macam, yakni: naluri beragama (gharizah tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) maupun naluri melestarikan keturunan (gharizah naw’).

Adalah mustahil seseorang mendapatkan kebahagiaan bila mengabaikan atau menghilangkan pemenuhan salah satu dari naluri di atas. Tidak memenuhi salah satunya, maka akan menimbulkan kegelisahan.

Orang-orang atheis di Uni Soviet (sekarang Rusia) mengaku tak meyakini adanya tuhan, namun dalam prakteknya, pemenuhan naluri tersebut dialihkan dari pengagungan kepada tuhan menjadi pengagungan kepada sosok yang lain, misalnya kepada patung idola mereka.

Untuk naluri mempertahankan diri, setiap manusia membutuhkan perlindungan, baik berupa perlindungan tempat tinggal, baju, maupun ancaman lainnya.

Sementara itu, pemenuhan naluri menyukai lawan jenis, bukanlah semata-mata sebagai perkara seksualitas semata. Tetapi lebih agung dari itu, yakni perkara melestarikan keturunan.

Mencermati uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sensor-sensor kesejahteraan merupakan fungsi pemenuhan potensi manusia dan potensi kehidupan. Terpenuhi tidaknya kesejahteraan akan terukur melalui sensor-sensor tersebut.

Semakin terpenuhi pemenuhan kedua potensi manusia di atas, maka bacaannya akan kelihatan pada sensor-sensor tersebut.

Mengingat kesejahteraan adalah kesempurnaan dan atau idealitas, maka kesempurnaan pencapaiannya setara dengan 100% = 1.

Jadi secara umum, kesejahteraan dapat diformulasikan dalam fungsi sebagai berikut:

ppM + ppK = Ks
ppM + ppK = 1
p(A) + [pKJ + pKN] = 1
p(A) + [pKJ + (pNA + pNMD + pNMK)] = 1

Dimana;
Ks = Kesejahteraan
ppM = Pemenuhan potensi manusia
ppK = Pemenuhan potensi kehidupan
p(A) = Pemenuhan kebutuhan akan akal
pKJ = Pemenuhan kebutuhan jasmani
pKN = Pemenuhan kebutuhan naluri
pNA = Pemenuhan naluri beragama
pNMD = Pemenuhan naluri mempertahankan diri, dan
pNMK = Pemenuhan naluri melestarikan keturunan

Mampukah manusia memenuhi 100% kesejahteraan mereka? Tentu sulit bagi manusia untuk memenuhinya. Namun setidaknya, dalam sistem yang baik akan cenderung mampu memenuhi sekitar 80-90%, sementara dalam sistem yang malfungsi akan ‘bermain’ di bawah 50% bahkan mayoritas di sekitar 20%.

Kenapa demikian? Karena memang dunia ini, oleh Allah SWT tidak dirancang sebagai tempat ‘pemuasan’ kebutuhan dan keinginan manusia. Tetapi Allah SWT merancang bumi ini sebagai tempat ujian untuk mementaskan amal saleh.

Sedangkan untuk negeri ‘pemuasan’ kebutuhan dan keinginan manusia itu adanya adalah di surga.

Oleh karena itu, jika ingin merasakan kesejahteraan maksimal di dunia, maka gunakanlah sistem terbaik.

Namun, itu tidak cukup memuaskan seluruh kebutuhan dan keinginan manusia. Akan tetapi, dalam sistem terbaik itu dapat menjadi jalan utama untuk mendapatkan kesejahteraan sesungguhnya, bahkan jauh di atas 100%.

Rasulullah SAW bersabda dalam Riwayat Bukhari dan Muslim,

“Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, tak pernah terkhayal dalam khayal manusia”

Ingatlah sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa perbandingan dunia ini dan akhirat, adalah seumpama seorang pergi ke pinggir laut lalu memasukkan sebuah jari tangannya ke laut lalu mengangkatkan tangan itu.

Lanjutnya, air yang melekat pada jarinya yang basah itu adalah ibarat dunia. Sedangkan air yang tertinggal di lautan itulah akhirat.

Begitupun sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan 100 rahmat. Satu rahmat dibagikan kepada seluruh isi dunia ini yang merupakan manusia dan binatang-binatang, sedang 99 bagian yang lain akan dibagikan di akhirat, yakni di dalam surga.

Jadi, sederhananya, kesejahteraan di surga itu adalah 99 kali kesejahteraan dunia sekarang ini.

Wallahu a’lam bishawab.

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 2/2) Read More »

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 1/2)

Salah satu terma pembangunan yang dapat dikatakan seumuran dengan masyarakat manusia adalah kesejahteraan. Dan atas nama kesejahteraan pula, manusia menyepakati perlunya negara dan pemerintahannya.

Akan tetapi, usia panjang terma kesejahteraan tersebut, tidak lantas menjadikannya mudah untuk direalisasikan.

Silih berganti negara, kekuasaan, manusia, waktu, bahkan peperangan dan silang sengketa hadir untuk mengurusnya, namun mewujudkannya laksana menegakkan benang basah.

Demikian sulitkah menghadirkan kesejahteraan?

Tentu, tidak juga. Oleh karena, ada masa-masa di mana ia pernah membersamai masyarakat. Tetapi ia hadir bukan laksana musim apalagi adakadabra.

Menyebut Negeri Saba’, Kekuasaan Nabi Sulaiman, ataupun Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, maupun Khalifah Harun ar Rasyid tentu menjadi puncak-puncak percontohan Negara Sejahtera.

Itu berarti, kesejahteraan bukanlah warisan yang diterima begitu saja, tetapi merupakan resultan dari pekerjaan sistem yang mengusahakannya.

Kesejahteraan itu tidaklah laksana memetik buah mangga, mengupas, lalu memakannya. Akan tetapi, ia laksana resep makanan yang memerlukan keahlian meraciknya, sistem memasaknya hingga menyajikannya.

Dalam buku saya ‘Islam dan Negara Kolaboratokrasi: Kritik dan Rekonstruksi Ideologis Pembangunan Masyarakat’ Jilid I, saya mengistilahkan ‘meracik pembangunan’ dengan sebutan Filosofi Kolaborasi MENO (Makanan Enak dan Nutritious).

Oleh karena itu dalam usaha meng-konstruksi kesejahteraan, dibutuhkan sistem cerdas dan keahlian sistemik.

Maknanya adalah tombol aktif kesejahteraan itu adalah sistem dan manajernya.

Namun, tidak asal ada sistem dan manajer, maka masyarakat akan sejahtera, karena ada tombol sosial yang bawaannya memang malfungsi: kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, dan komunisme adalah contohnya.

Itulah pentingnya mengambil ibrah dari sistem sosial yang benar-benar telah terbukti sebagai tombol aktif kesejahteraan.

Salah satu sifat utama sistem cerdas adalah kemampuan metodiknya mengelola urusan-urusan warga secara total dan berkeselarasan.

Sebaliknya tombol-tombol yang cacat, bawaan sistem rusak akan menampakkan sifat kanibalisme-nya. Contohnya, jika ingin memaksimalkan aspek ekonomi, terkadang harus mengorbankan aspek sosial, dsb.

Tidak jarang, untuk alasan pendapatan, maka produksi minuman keras dilegalkan, lokalisasi prostitusi dibolehkan, termasuk perjudian dsb. Untuk alasan ini, maka aspek sosial seperti keteladanan dan moralitas menjadi terbanting ambruk. Inilah kanibalisme dalam sistem yang malfungsi.

Lanjut ke Bagian 2

Tombol-Sensor Kesejahteraan (Bagian 1/2) Read More »

Kinetika Surgawi

Pernahkah kita membayangkan jika suatu ketika perjalanan wisata berkembang menjadikan perjalanan antar planet sebagai destinasi wisata? Tentu ini akan menjadi peristiwa yang langka, yang mungkin hanya diminati oleh segelintir manusia. Ya, khususnya tentu para astronot.

Sementara itu bos SpaceX, Elon Musk sudah sejak lama mengungkapkan idenya untuk manusia bisa pindah ke Mars. Dengan alasan demi kelangsungan peradaban sebab Matahari disebut akan menelan Bumi dan planet ini akan hancur.

Selain mahal, perjalanan semacam itu membutuhkan nyali yang besar, serta waktu tempuh yang lumayan lama.

Jumlah waktu yang dibutuhkan dari Bumi untuk sampai ke planet lain berbeda-beda pada setiap perjalanan. Itu tergantung pada posisi planet pada satu waktu, karena jarak antara planet dan Bumi terus berubah.

Pada tahun 2008, seorang pebinsis asal kelahiran London, Inggris Richard Branson menguraikan visinya di masa depan, yang dinamai Virgin Galactic. Visi itu merupakan keinginan untuk mengembangkan hotel di luar angkasa.

Perjalanan tersebut disimulasikan akan memakan waktu yang bervariasi tergantung wahana transportasi yang digunakan. Ada misi ke Bulan 1 tahun, jika menggunakan teknologi SMART-1 ESA, ada misi 5 hari menggunakan teknologi antariksa China Chang’e-1, ada misi 36 jam menggunakan wahana teknologi dari Uni Soviet, yakni Luna 1, serta ada misi 8 jam menggunakan wahana antariksa milik NASA, New Horizons.

Kemudian perjalanan ke Mars dari Bumi bisa memakan waktu antara enam dan delapan bulan. Itu sedikit lebih lama dari yang dibutuhkan astronot untuk mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Lama perjalanan ini berhubungan dengan kesiapan wahana transportasi yang sangat terbatas kecepatannya. Kita tahu saat ini, pendekatan kecepatan cahaya telah menjadi salah satu perbandingan dalam menghasilkan berbagai objek luar angkasa.

Kita tahu, cahaya bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik (300.000 kilometer per detik), sehingga dapat pergi dari Bumi ke Bulan hanya dalam waktu satu detik.

Salah satu objek buatan manusia tercepat saat ini adalah pesawat luar angkasa, dengan menggunakan roket untuk membebaskan diri dari gravitasi bumi, yang membutuhkan kecepatan 25.000 mph (40.000 km/jam).

Adapun pesawat luar angkasa yang dianggap tercepat adalah Parker Solar Probe milik NASA. Telah diluncurkan dari Bumi pada 2018, kemudian menelusuri atmosfer Matahari dan menggunakan gravitasi Matahari untuk mencapai 330.000 mph (535.000 km/jam).

Tentu, itu sangat cepat, namun hanya 0,05% dari kecepatan cahaya. Pertanyaannya: apa yang membuat manusia sulit untuk mencapai 1% dari kecepatan cahaya?

Ternyata jawabannya adalah faktor energi. Bahwasanya semua benda yang bergerak memiliki energi karena gerakannya. Para fisikawan menyebutnya sebagai energi kinetik. Formulanya adalah untuk melaju lebih cepat, maka anda perlu meningkatkan energi kinetik.

Salah satu cara yang diproyeksikan saat ini untuk membuat sesuatu bergerak sangat cepat adalah dengan menggunakan layar surya yang menempel pada pesawat ruang angkasa dan dirancang agar sinar matahari dapat mendorongnya, seperti angin di layar normal.

Dengan pemanfaatan layar surya ini, para ilmuwan memiliki ekspektasi untuk menghasilkan energi kinetik yang dapat mendorong pesawat ruang angkasa hingga 10% dari kecepatan cahaya .

Jika umat manusia masih terbatas pada sebagian kecil dari kecepatan cahaya, maka mimpi berwisata dengan destinasi ke planet-planet dan bintang-bintang sulit bahkan tidak akan terwujud.

Namun, percayakah anda jika perjalanan antar planet dan bintang itu akan enteng dan menjadi tidak mustahil bila anda adalah seorang ahli surga?

Dalam Al-Qur’an, surga digambarkan seluas langit dan bumi (Al-A’raf: 133, Al-Hadid: 21), sehingga dalam hitungan para ahli perbintangan luas surga sekira 13.000.000.000 tahun cahaya.

Dalam suatu riwayat (Imam at-Tirmidzi), “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, Ya Rasulullah, adakah di dalam surga kuda? Rasulullah menjawab: mudah-mudahan Allah memasukkan engkau dalam surga, maka engkau akan mendapat kendaraan berupa kuda yang terbuat dari Yaquut (permata mahal) berwarna merah, engkau dapat terbang dengannya di dalam surga kemana saja engkau kehendaki. Lalu bertanya pula seorang laki-laki lain: Ya Rasulullah, adakah di dalam surga unta? Berkata Rasulullah: mudah-mudahan Allah memasukkan engkau dalam surga, dan di dalamnya engkau akan mendapatkan apa saja yang diinginkan oleh keinginanmu dan apa saja yang disenangi oleh matamu.”

Hadits di atas juga terdapat dalam hadits lainnya yang menyatakan adanya kendaraan dalam surga. Oleh karena bangsa Arab belum mengenal kendaraan lain selain kuda dan unta atau semisalnya, maka Rasulullah menerangkan kendaraan surga dengan sebutan kuda atau unta. Namun dengan spesifikasi yang unik laksana burung, yakni bisa terbang ke destinasi mana saja sesuai keinginan para ahli surga atas izin Allah SWT.

Kendaraan tersebut disebutkan oleh Rasulullah, selain bisa terbang juga terbuat dari desain yang sangat modern, yakni dari permata termahal.

Dalam beberapa hadits lainnya diterangkan bahwa kendaraan yang dimaksud tidak buang air besar dan tidak buang air kecil. Suatu kendaraan yang dapat terbang tanpa bahan bakar seperti yang kita bayangkan saat ini dan tidak memiliki sistem buangan bahan bakar, sehingga kendaraan ini benar-benar ‘zero emission’.

Dengan demikian, pastilah kendaraan surga merupakan pesawat terbang tercanggih yang dijalankan berdasarkan kinetika dari iradah Allah SWT yang tak terbatas, dan diperuntukkan khusus kepada manusia-manusia ahli surga.

Wallahu a’lam.

Kinetika Surgawi Read More »

Kacamata Supraverse

Tentu mencari kacamata dengan spesifikasi atau merek ini “Supraverse”, tidak akan kita temukan di pemilik Ray-Ban Essilor Luxottica. Kenapa? Memang kacamata ini secara fisik belum ada yang produksi, baik lewat perusahaan apalagi perseorangan.

Terus, apa pentingnya ‘kacamata’ supraverse? Ini tentang ‘perspektif’ yang tentu penting bagi siapa saja yang meyakini kehidupan akhirat.

Kacamata ini bukanlah antitesa dari kacamata multiverse, yang saat ini dikembangkan oleh pemilik Facebook, Mark Zuckerberg bekerjasama dengan pemilik Ray-Ban Essilor Luxottica.

Kacamata multiverse bermerek Ray-Ban yang dikembangkan oleh Facebook tersebut merupakan salah satu langkah pertama menciptakan kacamata futuristik yang menambah dunia nyata dengan data atau grafik dari Internet.

Kacamata pintar yang disebut kacamata augmented reality ini, merupakan kacamata virtual di mana pengguna akan dapat ‘berteleportasi’ ke ruang digital menggunakan teknologi AR dan VR.

Tidak hanya Mark Zuckerberg yang kepincut dengan dunia metaverse, founder Microsoft, Bill Gates turut meramalkan bahwa tahun depan akan banyak orang yang mulai melakukan kegiatan kantor melalui metaverse.

Gates melihat bahwa Pandemi COVID-19 telah merevolusi tempat kerja, dengan lebih banyak perusahaan yang menawarkan fleksibilitas bagi karyawan yang ingin bekerja dari jarak jauh (work from home atau work from anywhere).

Dunia metaverse yang diprediksi akan segera terwujud, pertemuan akan berlangsung secara virtual yang dihadiri secara ‘langsung’ oleh karakter pengguna yang berwujud 3D. Pengguna juga bisa saling berinteraksi dengan avatar kolega kerja mereka.

Bahkan dunia metaverse ini, untuk pertama kalinya telah dimanfaatkan jasanya oleh pasangan dari Amerika Serikat, Traci (52) dan Dave Gagnon (60) untuk melangsungkan pernikahan virtual. Upacara pernikahannya pun disiapkan oleh Virbela, perusahaan yang membangun lingkungan virtual untuk bekerja, belajar maupun membuat acara.

Hanya saja, dunia metaverse akan merubah struktur interaksi manusia, bahkan kepribadian manusia.

Manusia dalam kesendirinnya disiapkan fasilitas untuk berselancar bebas secara emosi ‘penuh’ yang menyandera kesadarannya untuk berinteraksi dengan berbagai suasana yang merupakan habitat dan kebiasaannya. Kenapa? Karena mesin Artificial Intelligence (AI) memanjakannya dengan pelayanan sesuai kesukaannya.

Bekerjanya mesin AI tersebut, dampaknya sudah bisa kita bayangkan sejak awal, bahwasanya mesin-mesin kapitalisme yang dimasukan sebagai salah satu karakter dasar dunia metaverse yang dikembangkan saat ini, akan ‘menahan’ manusia, khususnya generasi muda dalam jebakan teknologi mereka.

Efek ‘toksik’ dunia gym akan bertambah konsentransi-nya dalam ‘senyawa’ metaverse ini. Generasi muda muslim kita akan berpotensi kehilangan vitalitasnya sebagai generasi sosial yang berkarakter rabbani. Juga berpotensi akan mengganggu kematangan kepribadian generasi muda kita, jika tangan-tangan kapitalisme menjadi pengendali utamanya.

Oleh karena itu, kita membutuhkan kacamata supraverse, sebuah ‘kacamata’ literasi yang senantiasa menyadarkan manusia akan misi penciptaannya, bahwasanya dunia ini jangan sampai menjadi panggung senda gurau yang melalaikan kita semua akan kehidupan akhirat yang abadi.

Lalu, di mana kacamata supraverse ini bisa dijumpai? kacamata ini adalah perspektif –yang mungkin saja bisa diteknologikan di kemudian hari– menjadi kacamata futuristik yang dapat menjadi piranti dakwah, dan berbagai kompetensi amal sholeh.

Adapun substansi kacamata supraverse ini (sebagai perspektif) bisa diinstal di masjid, majelis-majelis ilmu, dsb.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Kacamata Supraverse Read More »