Sunashadi

Alexander Bain: Penenun yang Menjadi Pelopor Ilmu Psikologi dan Filsafat Modern

Alexander Bain, yang lahir pada 11 Juni 1818 di Aberdeen, Skotlandia, berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang mantan tentara dan penenun tangan. Bain kecil harus meninggalkan sekolah pada usia sebelas tahun untuk menjadi penenun seperti ayahnya. Namun, kehausannya akan ilmu membuatnya rajin menghadiri kuliah umum di Perpustakaan Umum Aberdeen dan mengikuti kelas malam di Mechanic’s Institute. Pada tahun 1836, ia masuk Marischal College dan mempelajari bahasa klasik, matematika, dan filsafat. Di sanalah ia bertemu Profesor John Cruickshank yang sangat memengaruhi pemikirannya.

Ketika hampir lulus, Bain menulis artikel berjudul The Electrotype and the Daguerrotype untuk Westminster Review, yang menandai awal keterlibatannya dalam dunia tulis-menulis ilmiah. Ia lulus dengan predikat kehormatan tertinggi pada tahun 1840. Setelah itu, ia sempat menjadi dosen pengganti dalam bidang Filsafat Moral dan mulai berkontribusi secara reguler untuk Westminster Review. Bain juga membantu tokoh besar filsafat, John Stuart Mill, dalam merevisi naskah System of Logic, yang kemudian membuat mereka menjadi sahabat seumur hidup.

Pada 1845, Bain diangkat sebagai Profesor Filsafat Alam dan Matematika di Anderson’s University (sekarang University of Strathclyde). Setahun kemudian, ia mengundurkan diri demi fokus pada penulisan. Ia pindah ke London dan bekerja di Board of Health, tempat ia banyak mencurahkan tenaga untuk reformasi sosial. Pada tahun 1855, Bain menerbitkan karya utamanya dalam psikologi berjudul The Senses and Intellect, diikuti oleh The Emotions and the Will pada 1859. Kedua buku ini digabungkan menjadi referensi utama dalam psikologi selama lebih dari setengah abad.

Ia juga menjadi penguji dalam bidang Filsafat Moral dan Logika di University of London selama beberapa periode. Pada 1860, Bain menerima posisi terhormat sebagai Regius Chair of Logic di University of Aberdeen. Di sana ia mengajarkan tata bahasa, komposisi, retorika, serta filsafat moral dan mental. Ia menerbitkan berbagai buku teks tentang tata bahasa yang kemudian mengangkat standar pendidikan di Skotlandia Utara dan bahkan memengaruhi seluruh sistem pengajaran bahasa di Inggris. Ia juga mendirikan Sekolah Filsafat di universitas tersebut.

Pada tahun 1870, ia menerbitkan buku Logic yang dirancang khusus bagi mahasiswa dan terinspirasi dari karya sahabatnya, John Stuart Mill. Enam tahun kemudian, Bain mendirikan Mind, jurnal pertama yang secara khusus membahas psikologi dan filsafat analitik. Ia menjadi pemilik jurnal ini selama enam belas tahun.

Selain pencapaian akademiknya, Bain juga aktif dalam gerakan reformasi sosial dan pendidikan. Ia dikenal sebagai pembela keadilan sosial dan hak-hak mahasiswa. Setelah pensiun dari jabatan profesor pada tahun 1880, ia terpilih dua kali sebagai Lord Rector di University of Aberdeen. Ia terus mendorong pembaruan kurikulum sekolah, termasuk mendukung penggunaan bahasa modern dalam pengajaran.

Meskipun telah pensiun, semangatnya untuk berkarya tidak pernah padam. Ia masih menulis banyak artikel dan buku, termasuk John Stuart Mill: a Criticism, with Personal Recollections dan biografi James Mill pada tahun 1882. Bain menjalani sisa hidupnya di Aberdeen dengan tenang. Ia menikah dua kali namun tidak memiliki anak. Ketika wafat pada 18 September 1903, permintaan terakhirnya adalah agar tidak ada batu nisan yang diletakkan di makamnya. Ia ingin buku-bukunya menjadi monumen abadi bagi hidup dan pemikirannya.[]

Alexander Bain: Penenun yang Menjadi Pelopor Ilmu Psikologi dan Filsafat Modern Read More »

Pasar Tanpa Muslim: Kegelisahan Umar yang Terlupakan

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan kesejahteraan umat dan keadilan sosial. Suatu hari, ketika ia mengunjungi pasar, Umar mendapati bahwa hampir semua pedagang di sana bukan berasal dari kalangan kaum Muslimin, melainkan dari penduduk daerah-daerah yang baru dibebaskan. Keadaan ini membuatnya sedih dan cemas. Baginya, pasar adalah urat nadi ekonomi masyarakat, dan keterlibatan umat Islam di dalamnya sangat penting, bukan hanya untuk kesejahteraan pribadi tetapi juga untuk menjaga kemandirian komunitas Muslim.

Melihat kenyataan itu, Umar segera mengumpulkan para pemimpin dan menegur mereka. Ia mengkritik keras sikap sebagian orang yang meninggalkan perdagangan dengan alasan bahwa mereka sudah merasa cukup dengan harta rampasan perang. Dalam pandangan Umar, pemikiran semacam itu sangat berbahaya. Ia menegaskan bahwa jika kaum Muslimin tidak lagi aktif berdagang, maka mereka akan menjadi bergantung pada orang lain, baik laki-laki maupun perempuan. Umar mengingatkan bahwa rezeki dari Allah tidak hanya datang melalui rampasan perang atau bantuan, tetapi juga melalui usaha dan kerja keras seperti berdagang.

Apa yang dikhawatirkan Umar bukan sekadar tentang penurunan aktivitas ekonomi, tapi juga menyangkut martabat dan kemandirian umat Islam. Ia ingin agar kaum Muslimin tetap aktif dalam dunia usaha, tidak hanya mengandalkan hasil dari perjuangan militer, tetapi juga membangun peradaban yang kuat dan mandiri secara ekonomi. Dalam pandangannya, perdagangan bukanlah sekadar mencari untung, tetapi juga sarana menjaga kekuatan sosial, politik, dan spiritual umat.

Pesan Umar tetap relevan hingga kini. Ketika sebagian umat terlalu bergantung pada bantuan atau merasa cukup dengan apa yang diberikan, semangat berusaha bisa melemah. Padahal, dalam Islam, mencari nafkah dengan cara yang halal, termasuk lewat perdagangan, adalah bentuk ibadah. Umar menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukan hanya mendorong orang berperang di jalan Allah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat berdagang sebagai jalan rezeki yang mulia.[]

Pasar Tanpa Muslim: Kegelisahan Umar yang Terlupakan Read More »

Francis Bacon: Peletak Dasar Metode Ilmiah

Bayangkan dunia tanpa metode ilmiah. Tanpa eksperimen, tanpa data, dan hanya mengandalkan logika atau keyakinan lama. Itulah kondisi ilmu pengetahuan sebelum munculnya Francis Bacon — seorang pemikir brilian asal Inggris yang hidup di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.

Lahir di London tahun 1561, Bacon berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah pejabat tinggi kerajaan, dan ibunya seorang cendekiawan religius. Dari usia muda, Bacon telah menunjukkan kecerdasannya. Ia belajar di Cambridge sejak usia 12 tahun, tapi justru di sanalah ia mulai mempertanyakan dominasi pemikiran filsafat Aristoteles yang begitu diagung-agungkan oleh para akademisi.

Alih-alih menerima pemikiran lama secara buta, Bacon menuntut sesuatu yang lebih nyata: pembuktian melalui pengalaman dan eksperimen. Ia merasa frustrasi melihat bahwa meski teknologi seperti kompas, mesiu, dan mesin cetak telah mengubah dunia, pemahaman ilmiah manusia tak kunjung berkembang. Bacon yakin bahwa kunci kemajuan adalah observasi dan eksperimen — bukan spekulasi logis semata.

Melalui karyanya Novum Organum, Bacon memperkenalkan metode induktif: mulai dari pengamatan fakta lalu menyusun hukum umum. Ini berbanding terbalik dengan metode deduktif Aristoteles yang lebih banyak berandai-andai. Bacon bahkan berani menentang kebiasaan para filsuf yang mencampur aduk sains dan agama, karena menurutnya hukum alam tidak perlu tujuan suci — cukup dipelajari dan dimanfaatkan.

Pemikiran Bacon menginspirasi ilmuwan besar seperti Robert Boyle, yang menggunakan metode Baconian dalam eksperimen nyata dan mendirikan Royal Society — cikal bakal komunitas ilmiah modern. Motto mereka, “Nullius in Verba” (“Jangan percaya kata orang”), adalah bentuk penghormatan langsung pada Bacon: hanya bukti yang bisa dipercaya.

Namun hidup Bacon tak selalu gemilang. Ia juga menapaki jalur politik hingga mencapai puncak sebagai Lord High Chancellor Inggris. Sayangnya, nafsunya pada kekayaan menjatuhkannya. Ia terlibat skandal suap, diadili, dan dipenjara beberapa hari. Meski mengaku bersalah, Bacon bersikeras bahwa keputusannya tetap adil. Ironisnya, ia jatuh justru di tengah upaya membawa kebenaran melalui ilmu.

Francis Bacon meninggal tahun 1626 karena pneumonia setelah mencoba eksperimen pembekuan makanan di udara dingin. Dalam surat terakhirnya, ia menyatakan bahwa eksperimen itu “berhasil dengan sangat baik.” Sebuah akhir yang dramatis bagi seorang pionir yang memperjuangkan ilmu lewat tindakan nyata.

Warisan Bacon hidup hingga hari ini. Metode ilmiah yang ia perjuangkan — melalui data, pengamatan, dan eksperimen — menjadi fondasi seluruh sains modern. Tanpa dia, mungkin kita masih percaya bahwa logika semata cukup untuk memahami alam semesta.[]

Francis Bacon: Peletak Dasar Metode Ilmiah Read More »

Keteladanan Umar bin Al-Khathab: Tegas pada Diri, Tegas pada Keluarga

Umar bin Al-Khathab adalah sosok pemimpin yang bukan hanya dikenal karena keberanian dan keadilannya, tetapi juga karena komitmen pribadinya terhadap nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Dalam setiap langkah kepemimpinannya, Umar selalu menekankan pentingnya konsistensi antara ucapan dan tindakan. Ia menyadari betul bahwa rakyat bukan hanya mendengar, tetapi juga memperhatikan dan mencontoh perilaku pemimpinnya. Karena itu, Umar tidak segan untuk terlebih dahulu menertibkan diri dan keluarganya sebelum menertibkan rakyatnya.

Sebagai Amirul Mukminin, Umar memegang prinsip bahwa siapa pun yang berada di lingkaran keluarganya harus menjadi teladan, bukan beban bagi umat. Ia tidak ingin keluarganya menikmati privilese atau keuntungan dari posisinya sebagai pemimpin. Bahkan, ia bersumpah akan memberikan hukuman dua kali lipat kepada keluarganya jika melanggar peraturan yang ia buat untuk rakyat. Ketegasan ini menunjukkan bahwa Umar tidak ingin ada celah dalam keadilan, bahkan jika itu menyangkut orang-orang yang paling dekat dengannya.

Salah satu kisah yang menggambarkan prinsip hidup Umar adalah peristiwa ketika ia memanggil putranya, Abdullah bin Umar, setelah mengetahui bahwa unta-unta peliharaan Abdullah terlihat lebih gemuk dan sehat daripada unta milik rakyat lainnya. Umar curiga bahwa unta-unta itu mendapat perlakuan istimewa karena pemiliknya adalah anak pemimpin. Meskipun Abdullah menjelaskan bahwa ia membelinya dengan jujur, Umar tetap bersikeras agar keuntungan dari penjualan unta itu dikembalikan ke Baitul Mal, dan Abdullah hanya mengambil modalnya. Ini adalah bentuk nyata dari kepemimpinan yang tidak hanya adil, tetapi juga berani menolak nepotisme.

Kepemimpinan Umar adalah potret dari integritas total, di mana ia tidak ingin ada satu pun anggota keluarganya yang mempermalukan nilai-nilai keadilan yang ia perjuangkan. Dalam masyarakat modern yang kerap kali dihantui oleh praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, keteladanan Umar bin Al-Khathab menjadi cermin penting tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap—bukan hanya mengatur, tetapi memberi contoh yang hidup.[]

Keteladanan Umar bin Al-Khathab: Tegas pada Diri, Tegas pada Keluarga Read More »

Hotspot Keanekaragaman Hayati

Peneliti dari Universitas Reading dan Umeå University telah menemukan sebuah pola global yang mengejutkan: di mana pun di Bumi ini, kehidupan mengikuti aturan yang sama. Terlepas dari apakah makhluk hidup itu berupa pohon, capung, burung, atau ikan pari laut, semuanya cenderung berkelompok dalam wilayah kecil yang disebut “titik panas keanekaragaman hayati”, lalu menyebar secara perlahan ke wilayah sekitarnya—namun semakin jauh, semakin sedikit spesies yang bisa bertahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dunia sebenarnya tidak tersebar secara acak, melainkan sangat terorganisir mengikuti pola tertentu. Wilayah-wilayah inti ini—yang menjadi tempat konsentrasi kehidupan tertinggi—memberikan kondisi lingkungan paling ideal bagi spesies untuk berkembang dan bertahan. Dari sinilah kehidupan menyebar, meskipun tidak semua spesies mampu bertahan di luar zona inti tersebut.

Peneliti utama Rubén Bernardo-Madrid dari Umeå University menyatakan bahwa pola ini berlaku di setiap wilayah geografis besar (bioregion) di dunia. Menurutnya, inti wilayah keanekaragaman hayati ini menjadi sumber utama penyebaran spesies, semacam “jantung kehidupan” yang memancarkan keberagaman ke seluruh penjuru wilayah.

Studi ini mencakup berbagai kelompok makhluk hidup yang sangat berbeda gaya hidupnya—dari amfibi, burung, reptil, mamalia, pohon, hingga ikan pari laut. Meskipun sangat berbeda, mereka semua mengikuti pola yang sama. Artinya, ada satu prinsip umum yang mendasari cara kehidupan tersusun di Bumi.

Prinsip itu disebut “penyaringan lingkungan” (environmental filtering)—sebuah konsep bahwa hanya spesies yang mampu bertahan dalam kondisi tertentu (seperti suhu ekstrem, kekeringan, atau salinitas tinggi) yang bisa hidup di suatu tempat. Dan ini berlaku di seluruh planet. Apa pun bentuk ancamannya—panas, dingin, atau kekeringan—hanya spesies yang kuatlah yang bertahan. Inilah yang menciptakan distribusi kehidupan yang bisa diprediksi.

Para ilmuwan menilai temuan ini sangat penting. Dengan memahami aturan ini, kita bisa memprediksi bagaimana kehidupan akan bereaksi terhadap perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati di masa depan. Dan karena zona inti ini memainkan peran sangat besar dalam menjaga keanekaragaman hayati seluruh wilayah, melindungi wilayah-wilayah ini harus menjadi prioritas utama konservasi global.

Ulasan ini didasarkan pada penelitian yang dipublikasikan pada 4 Juni 2025 dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. Studi ini merupakan kolaborasi antara Umeå University (Swedia), University of Reading (Inggris), dan institusi lainnya seperti Estación Biológica de Doñana-CSIC (Spanyol) serta Rey Juan Carlos University (Spanyol). Para peneliti menelusuri data dari berbagai wilayah ekologi global dan membandingkan distribusi spesies dari banyak cabang kehidupan. Studi ini memberikan bukti kuat bahwa ada pola universal dalam penyebaran makhluk hidup di Bumi.[]

Hotspot Keanekaragaman Hayati Read More »

Baktilah Seperti Abu Bakar, Cintai Ayah Sepenuh Hati

Abu Bakar Ash-Shiddiq bukan hanya sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, tapi juga teladan dalam kasih sayang dan bakti kepada orang tua. Kisah hidupnya menyentuh hati, salah satunya terjadi saat ia melaksanakan umrah pada bulan Rajab, tahun ke-12 Hijriah. Ketika sampai di Makkah, Abu Bakar tak langsung menuju tempat suci atau bersantai—ia justru menuju rumahnya, ingin bertemu sang ayah, Abu Qufahah.

Waktu itu, Abu Qufahah sedang duduk di depan rumah bersama beberapa pemuda. Begitu tahu putranya datang, beliau berdiri. Melihat itu, Abu Bakar langsung meloncat turun dari untanya meski hewan itu belum sempat duduk. Ia bergegas, penuh hormat dan cinta, menyambut ayahnya.

Tak hanya dalam pertemuan biasa, dalam urusan harta pun Abu Bakar menunjukkan betapa ia menjunjung tinggi peran seorang ayah. Suatu hari, seseorang mengadukan pada Abu Bakar—yang saat itu menjabat sebagai khalifah—bahwa ayahnya ingin mengambil semua hartanya. Tapi Abu Bakar tak langsung memihak. Ia berkata lembut kepada sang ayah, bahwa ia hanya berhak mengambil secukupnya. Namun sang ayah membalas, “Bukankah Rasulullah bersabda: ‘Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu?'”

Apa jawaban Abu Bakar? Dengan bijak ia menjawab, “Ridhalah dengan apa yang diridhai Allah.” Ia tak mengabaikan ajaran agama, namun tetap menjaga keadilan dan cinta dalam keluarga.

Kisah ini bukan sekadar cerita zaman dahulu. Ini pelajaran besar tentang bagaimana memperlakukan orang tua dengan penuh hormat, meski kita sudah dewasa, berkuasa, bahkan punya jabatan tinggi. Abu Bakar mengajarkan bahwa cinta pada orang tua tak ada batas waktunya, dan pengorbanan demi mereka adalah bagian dari keimanan.[]

Baktilah Seperti Abu Bakar, Cintai Ayah Sepenuh Hati Read More »

Charles Babbage: Sang Perintis Komputer yang Dunia Lupa

Pernahkah kamu membayangkan siapa orang pertama yang punya ide menciptakan komputer? Mungkin kita sering mengucapkan terima kasih kepada perusahaan teknologi masa kini, tapi sebenarnya, semua itu bermula dari seorang pria bernama Charles Babbage.

Charles Babbage lahir pada 26 Desember 1791 di Inggris. Ia adalah seorang jenius di banyak bidang—matematika, teknik mesin, penemu, dan juga filsuf. Namun, yang paling membuatnya dikenang adalah gagasan gilanya: menciptakan mesin hitung otomatis, cikal bakal dari komputer modern yang kita pakai saat ini.

Babbage dikenal sebagai “bapak komputer” karena merancang mesin mekanik pertama yang bisa diprogram. Rancangannya menjadi cetak biru untuk mesin-mesin canggih di masa depan. Meskipun belum sempat selesai dibuat pada masanya, rancangan Babbage akhirnya diwujudkan pada tahun 1991 oleh Science Museum di London, berdasarkan desain aslinya. Mesin tersebut memiliki 8.000 bagian, beratnya lima ton, dan panjangnya lebih dari tiga meter!

Sejak kecil, Babbage sudah menunjukkan kecintaan pada matematika. Ia belajar di berbagai sekolah dan akhirnya masuk ke Trinity College, Cambridge. Di sana, ia menjadi mahasiswa matematika terbaik dan aktif dalam berbagai klub ilmiah bersama tokoh-tokoh terkenal seperti John Herschel.

Pada awal abad ke-19, semua perhitungan untuk ilmu pengetahuan dan navigasi dilakukan secara manual. Ini sering menyebabkan kesalahan. Babbage melihat masalah ini dan menciptakan Difference Engine, sebuah mesin yang bisa menghitung secara otomatis tanpa kesalahan manusia. Mesin ini digerakkan dengan memutar tuas dan dapat mencetak tabel matematika secara langsung.

Sayangnya, karena biayanya sangat mahal, proyek itu akhirnya dihentikan. Tapi Babbage tidak menyerah. Ia merancang mesin yang lebih canggih lagi, yang disebut Analytical Engine. Mesin ini bisa diprogram menggunakan kartu berlubang, teknologi yang terinspirasi dari mesin tenun Jacquard. Ini adalah langkah awal menuju konsep pemrograman komputer yang kita kenal sekarang.

Meski tak pernah melihat mesin-mesinnya selesai, Babbage tak hanya meninggalkan warisan di bidang teknologi. Ia juga menulis buku soal efisiensi industri, menciptakan alat pemeriksa mata (ophthalmoscope), dan bahkan menemukan “cow-catcher”—alat di depan kereta api untuk membersihkan rintangan.

Charles Babbage menikah dengan Georgiana Whitmore dan memiliki delapan anak, namun hanya tiga yang hidup sampai dewasa. Istrinya meninggal lebih dulu, dan Babbage wafat pada 18 Oktober 1871 di usia 79 tahun karena gagal ginjal.

Kini, setiap kali kamu menyalakan laptop atau ponsel, ingatlah bahwa semua itu bisa terjadi karena mimpi seorang pria di abad ke-19 yang tak pernah menyerah mewujudkan idenya: Charles Babbage.[]

Charles Babbage: Sang Perintis Komputer yang Dunia Lupa Read More »

Tanpa Kepercayaan Publik, Kebijakan Iklim Tak Akan Pernah Berhasil

Salah satu kesalahan terbesar dalam perumusan kebijakan iklim adalah terlalu fokus pada teknologi dan ekonomi, sementara suara masyarakat justru sering diabaikan. Akibatnya, banyak kebijakan ambisius yang gagal mendapat dukungan publik, dan ini bisa menjadi hambatan serius dalam upaya menghadapi krisis iklim.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Vincent de Gooyert dan timnya dari Radboud University Nijmegen mengungkap bahwa kebijakan iklim di Eropa saat ini lebih menekankan pada solusi teknis seperti teknologi penangkap dan penyimpan karbon (CCS), tanpa mempertimbangkan bahwa masyarakat juga perlu merasa dilibatkan dan dipercaya. Padahal, CCS adalah teknologi penting untuk mencapai target iklim, tetapi perkembangannya terhambat karena tidak ada pihak yang benar-benar mau mengambil langkah pertama. Industri meminta subsidi, pemerintah menunggu dukungan publik, dan masyarakat justru ingin industri menunjukkan komitmen lebih dulu. Alhasil, semua pihak saling menunggu dan kebijakan tidak bergerak.

Kebijakan yang efektif memerlukan lebih dari sekadar teknologi dan insentif ekonomi. Dukungan publik adalah fondasi utama. Menurut para peneliti, masyarakat tidak cukup hanya diberi informasi, tetapi juga perlu ruang untuk menyampaikan pandangan dan ikut serta dalam pengambilan keputusan. Komunikasi satu arah justru bisa menimbulkan ketidakpercayaan dan perasaan bahwa kebijakan dipaksakan dari atas.

Solusi yang ditawarkan termasuk membentuk dewan penasihat ilmiah independen dan dewan warga (citizens’ councils), di mana masyarakat bisa berdiskusi secara terbuka, mendapatkan informasi yang jujur, dan memahami pilihan-pilihan sulit yang dihadapi. Dalam proses ini, baik pemerintah maupun industri harus mau berkorban demi membangun kepercayaan. Tanpa pendekatan baru ini, kebijakan iklim akan terus terjebak di tempat, sementara waktu untuk bertindak semakin menipis.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Radboud University Nijmegen, Belanda, yang terdiri dari Vincent de Gooyert, Senni Määttä, Sandrino Smeets, dan Heleen de Coninck. Artikel ini dipublikasikan pada tanggal 27 Mei 2025 dalam jurnal Earth System Governance. Studi ini berdasarkan pengalaman langsung para peneliti dalam memfasilitasi dialog antara pemerintah, masyarakat, industri, dan organisasi lingkungan di berbagai negara Eropa seperti Finlandia, Swedia, Spanyol, dan Belgia. Temuan mereka menekankan bahwa kepercayaan dan partisipasi publik adalah kunci utama dalam merancang kebijakan iklim yang berhasil.[]

Tanpa Kepercayaan Publik, Kebijakan Iklim Tak Akan Pernah Berhasil Read More »

Kebijakan Politik Pasar di Era Umar bin Khathab

Pasar bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga tempat yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khathab, pengawasan terhadap aktivitas di pasar dilakukan dengan sangat ketat agar semua transaksi berjalan adil dan sesuai aturan Islam.

Umar sangat peduli agar orang-orang yang berjualan dan membeli di pasar tidak melakukan kecurangan. Ia bahkan turun langsung ke pasar membawa cambuk sebagai tanda ia siap menegur siapa saja yang melanggar aturan. Tak hanya itu, Umar juga menunjuk petugas khusus untuk menjaga keadilan di pasar. Mereka bertugas memastikan harga barang wajar dan tidak ada praktik curang.

Salah satu hal yang dilarang keras adalah monopoli. Monopoli terjadi saat pedagang sengaja menimbun barang agar stok di pasar sedikit, sehingga harga bisa mereka tentukan sesuka hati, dan akhirnya yang dirugikan adalah orang miskin, janda, dan anak yatim yang jadi susah membeli kebutuhan pokok. Umar sangat menentang hal ini dan bahkan memperingatkan pedagang agar menjual barang sesuai aturan atau meninggalkan pasar.

Umar juga menolak praktik riba dalam transaksi, misalnya menukar emas dengan perak secara tidak tunai atau tidak seimbang jumlahnya. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yang melarang riba agar perdagangan tetap adil dan tidak merugikan pihak manapun.

Selain itu, Umar pernah menumpahkan susu yang dicampur air di pasar karena tindakan itu merugikan pembeli. Ia ingin pasar menjadi tempat yang jujur dan aman bagi semua orang.

Bila ada pedagang yang menjual dengan harga di luar kesepakatan pasar, Umar akan memintanya memilih antara menjual dengan harga yang berlaku atau keluar dari pasar. Dengan cara ini, hak konsumen dan pedagang yang jujur tetap terlindungi.

Singkatnya, pengawasan pasar di masa Umar sangat ketat karena pasar adalah pusat kehidupan ekonomi umat. Keadilan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama menjadi prinsip utama supaya semua orang bisa mendapatkan kebutuhan mereka tanpa ada yang dirugikan. Itulah pentingnya pasar dan perdagangan dalam Islam yang diajarkan sejak zaman Khalifah Umar bin Al-Khathab.[]

Kebijakan Politik Pasar di Era Umar bin Khathab Read More »

Ibnu Sina: Sang Jenius Serba Bisa dari Dunia Islam

Ibnu Sina, yang lebih dikenal di dunia Barat dengan nama Avicenna, adalah seorang ilmuwan sejati yang menguasai banyak bidang. Ia memberikan kontribusi besar dalam ilmu kedokteran, psikologi, farmakologi, geologi, fisika, astronomi, kimia, dan filsafat. Selain itu, ia juga seorang penyair, cendekiawan Islam, dan ahli teologi.

Karya paling terkenalnya dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun fi al-Tibb (Hukum Kedokteran), sebuah ensiklopedia medis yang terdiri dari lima jilid dengan lebih dari satu juta kata. Buku ini merangkum pengetahuan medis dari sumber-sumber kuno dan Islam. Karyanya yang lain yang juga sangat penting adalah Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan), yang merupakan ensiklopedia ilmiah dan filosofis.

Ibnu Sina lahir sekitar tahun 980 M di desa Afshana, dekat Bukhara, yang sekarang termasuk wilayah Uzbekistan. Ayahnya berasal dari Balkh (kini di Afghanistan) dan menganut mazhab Ismaili. Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia menghafal Al-Quran pada usia sepuluh tahun dan pada usia empat belas tahun sudah melampaui pengetahuan para gurunya. Ia kemudian mempelajari hukum Islam, filsafat, dan ilmu alam. Ia juga belajar logika, karya Euclid, dan Almagest karya Ptolemeus.

Sebagai orang yang sangat religius, Ibnu Sina pernah merasa sangat bingung dengan karya Aristoteles tentang metafisika. Ia bahkan berdoa agar diberi petunjuk oleh Tuhan. Akhirnya, setelah membaca penjelasan dari filsuf terkenal Al-Farabi, ia berhasil memahami isi karya tersebut.

Pada usia enam belas tahun, ia mulai fokus belajar kedokteran dan dua tahun kemudian sudah dikenal sebagai dokter ternama. Ia bahkan berhasil menyembuhkan Nuh II, penguasa Dinasti Samanid, dari penyakit yang gagal ditangani oleh dokter lain. Sebagai hadiah, ia diizinkan mengakses perpustakaan kerajaan yang penuh dengan buku-buku langka dan berharga.

Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina pindah ke Jurjan di dekat Laut Kaspia dan mulai mengajar logika dan astronomi. Di sana ia bertemu dengan ilmuwan besar lainnya, Abu Rayhan Al-Biruni. Ia kemudian melakukan perjalanan ke berbagai kota di Iran, termasuk Rey, Hamadan, dan Isfahan, di mana ia terus menulis, mengajar, dan menyembuhkan para bangsawan.

Pada masa tuanya, Ibnu Sina menjadi penasihat ilmiah dan dokter pribadi bagi panglima militer Ala al-Dawla Muhammad. Ia bahkan ikut serta dalam kampanye militer. Kesehatannya mulai menurun akibat tekanan mental dan kekacauan politik. Ia wafat pada Juni tahun 1037 M dalam usia 58 tahun dan dimakamkan di kota Hamadan, Iran.

Karya Al-Qanun fi al-Tibb diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dan menjadi buku pegangan standar di universitas-universitas Eropa hingga pertengahan abad ke-17. Sementara Kitab al-Shifa dibagi menjadi empat bagian: logika, ilmu alam, matematika, dan metafisika. Dalam buku ini, ia menciptakan sistem logika tersendiri yang disebut logika Avicenna. Dalam bidang astronomi, ia menyatakan bahwa planet Venus lebih dekat ke matahari daripada bumi, dan ia menciptakan alat untuk mengamati posisi bintang. Ia juga mengatakan bahwa bintang-bintang bersinar dari diri mereka sendiri. Dalam matematika, ia menjelaskan teknik “pembagian sembilan” untuk memeriksa hasil hitungan. Ia juga menulis puisi dan memberi kontribusi dalam bidang musik dan agama. Secara keseluruhan, Ibnu Sina menulis lebih dari 400 karya, dan sekitar 240 di antaranya masih bertahan hingga kini.[]

Ibnu Sina: Sang Jenius Serba Bisa dari Dunia Islam Read More »