Sunashadi

Astronomi Gempa Awadh

Alhamdulillah. Setelah melewati waktu prediksi gempa a la Frank Hoogerbeets, banyak orang bisa bernapas lega. Tidak hanya alasan karena gempa yang dimaksud pada 3 – 6 Maret tidak terjadi, tetapi di atas itu semua menjadikan kita semakin paham bahwa sebagai makhluk, kita tak boleh gegabah dengan apapun kemampuan kita.

Tetapi ini tidak berarti bahwa ancaman gempa yang dimaksud Hoogerbeets benar-benar tidak ada.

Ketika Hoogerbeets memprediksi gempa Turki melalui tweet-nya (3/2/2023), nampak bahwa ia masih menarasikannya secara spekulatif,

“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”

Namun, ketika ia memprediksi gempa meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan Indonesia pada 3 – 6 Maret 2023, ia nampak di atas angin lalu mengambil diksi “signifikan terjadi” daripada menggunakan diksi “berpotensi terjadi”. Walaupun dalam pemberitaan media lainnya tertulis bahwa prediksi tersebut ditambahkan dengan narasi “gempa pada wilayah tersebut dapat terjadi sepanjang Maret”.

Poin pembelajaran dari kasus ini pada para ilmuwan adalah agar senantiasa menundukkan ilmunya di bawah Kemahakuasaan Allah SWT.

Terlepas dari itu semua, Hoogerbeets dalam perspektif ilmu pengetahuan telah memperkenalkan secara terbuka suatu metodologi yang sangat mungkin dapat membantu umat manusia memprediksi gempa yang dapat dimanfaatkan untuk meminimasi dampak gempa bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di masa mendatang.

Hoogerbeets telah meyakini bahwa secara metodologis, prediksi terhadap peristiwa seismik dapat dilakukan dengan memanfaatkan data pergerakan tata surya.

Sebetulnya Hoogerbeets bukanlah orang pertama yang memanfaatkan dan mempublikasikan data astronomis dalam memprediksi kejadian gempa. Penjelasan ilmiah terkait ini dapat ditemukan pada publikasi Salih M Awadh, akademisi Irak yang menyatakan bahwa efek gravitasi planet-planet dapat memengaruhi lempeng tektonik bumi.

Awadh telah menambahkan argumen dengan baik pada gagasan Hoogerbeets dalam menjelaskan keterkaitan peristiwa astronomis terhadap kasus seismik. Gagasan mereka tidak hanya berisi keterangan yang baik dalam perkembangan sains modern semata, tetapi juga secara tidak langsung menghindarkan kita dari ‘sains palsu’ astrologi, yang mempelajari posisi, gerakan, dan benda langit lalu meramalkan peristiwa di bumi tanpa menyertakan dalil sains.

Awadh dikenal sebagai ahli yang mengemukakan makalah yang lebih tua yang menjelaskan hubungan antara astronomi dan seismologi. Pada Maret 2021 makalahnya yang berjudul “Solar System Planetary Alignment Triggers Tides and Earthquakes” diterbitkan dalam “Journal of Coastal Conservation”. Ia menjelaskan bagaimana pasang surut dan gempa bumi dipengaruhi oleh posisi planet di tata surya.

Pengaruh tersebut dalam hipotesisnya disebutnya sebagai pengaruh posisi planet di bumi menyebabkan adanya daya tarik planet yang mengubah kecepatan rotasi bumi, sehingga lempeng tektonik bumi bergerak dan memicu gempa bumi.

Awadh adalah orang pertama di dunia yang menggunakan data astronomi untuk memprediksi gempa. Ia pernah memprediksi gempa pada Lempeng Eurasion bermagnitudo 5 pada 11 Februari 2021. Gempa yang dimaksud benar-benar terjadi.

Awadh dan Hoogerbeets merupakan ilmuwan yang menggunakan metodologi baru yang bertentangan dengan hukum lama dan teori dominan. Metode yang mereka gunakan bahkan diabaikan oleh banyak lembaga ilmiah, termasuk Survei Geologi AS. Padahal para ilmuwan telah mendeteksi sekitar 20.000 kejadian gempa bumi setiap tahunnya di seluruh dunia (sekitar 55 kali sehari), yang sangat memungkinkan untuk membangun algoritma prediksi gempa.

Untuk menjadi metodologi standar yang dapat diaplikasikan secara luas di dunia, metodologi prediksi gempa Awadh memerlukan validasi.

Melalui metode ini dapat dibangun dan dikembangkan suatu ‘Sistem Peringatan Dini Global untuk Prediksi Kemungkinan Gempa Bumi’. Untuk pengembangannya dibutuhkan pengukuran konstan di setiap area, model komputer yang sangat besar, para ahli yang berspesialisasi dalam software dan bahasa pemrograman, serta ahli astronomi. Ini tentu memerlukan dukungan dana yang sangat besar dari lembaga penelitian global.

Astronomi Gempa Awadh Read More »

Gempa Hoogerbeets

Kita tentu masih ingat bagaimana dahsyatnya gempat Turki pada 6 Februari yang lalu, dengan magnitudo 7,8 tercatat telah menewaskan sekitar 50.000 orang.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa gempa merupakan peristiwa yang tidak linear, karena tidak bisa diprediksi secara akurat, andaipun menggunakan kalkulasi machine learning dari big data yang ada. Beda halnya dengan forecasting data cuaca pada umumnya: curah hujan, suhu, angin, dan sebagainya, yang cenderung akurat dalam pembuatan prediksinya.

Tetapi tidak untuk Frank Hoogerbeets, seorang seismolog asal Belanda. Dia mengklaim pada 3 Februari 2023 telah menulis pada kolom twitternya,

“Cepat atau lambat akan ada gempa M 7,5 di wilayah ini (Turki, Yordania, Suriah, Lebanon)”

Hoogerbeets dikenal bekerja untuk Survei Geometri Tata Surya. Ground Report melaporkan bahwa Frank Hoogerbeets adalah ahli geologi yang bekerja untuk Survey of Geometry of the Solar System (SSGEOS). SSGEOS adalah lembaga penelitian yang memantau geometri benda langit dalam kaitannya dengan aktivitas seismik.

Setelah ia viral dengan tweet-nya yang pertama, saat ini ia kembali membuat heboh dengan ketertarikannya memprediksi gempa berikutnya. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memprediksi secara spasio temporal melampaui kemampuannya pada tweet sebelumnya, serta melampaui ‘kepintaran’ ahli terkait yang ada sebelumnya.

Teknologi seismometer terkini pun hanya mampu mendeteksi waktu, posisi, kekuatan gempa, dan potensi tsunami ketika peristiwa gempa benar-benar telah terjadi.

Prediksi spasio temporal yang dimaksud adalah ia menyatakan di mana spektrum lokasi gempa dan kisaran waktu terjadinya gempa berikutnya. Pernyataannya ini mendahului semua lembaga-lembaga otoritas yang berhubungan dengan seismologi di seluruh dunia.

Adapun spektrum lokasi yang diprediksi menjadi lokasi gempa berikutnya meliputi Kamchatka Kepulauan Kuril dan Jepang di Utara, di atas Filipina, dan juga menandai Sulawesi, Halmahera, bahkan mungkin Laut Banda, Indonesia.

Sementara waktunya diprediksi akan terjadi pada bulan Maret ini, meurutnya signifikan untuk tanggal 3 – 6 Maret. Frank meminta masyarakat untuk waspada dengan prediksi yang ia sampaikan.

Hoogerbeets tidak hanya memprediksi spasio temporal gempa, tetapi juga memprediksi magnitudo-nya yang diprediksi dapat mencapai lebih dari 8 SR.

Menurut kelas bencana gempa bumi, skala 4.0-4.9 Richter berefek dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu mencolok. Skala 6.0-6.9 Richter berefek dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km, dan skala 7.0-7.9 berefek dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas. Banyak kejadian gempa besar dunia berkisar pada skala 7-7.9 Richter, dapat menewaskan ± 100.000-an jiwa (termasuk Gempa Turki kemarin).

Pertanyaannya: lalu apa sikap kita?

Sebagai masyarakat sains tentu kita memerlukan penjelasan ilmiah terkait metode yang digunakan oleh Hoogerbeets sehingga bisa divalidasi sebagai metode yang layak untuk diaplikasikan dalam dunia seismologi. Jika layak secara metodologi, tentu kontribusinya luar biasa dalam bidang ilmu yang dimaksud.

Kenapa ini penting? Agar keilmuannya bisa diverifikasi sebagai basis sains yang relevan dan tidak didasarkan pada astrologi belaka. Tidak sedikit para peramal masa depan (futurist) yang menggunakan mitologi dalam membangun kerangka prediksinya, sebutlah Vanga Baba yang dikenal dengan sebutan Nostradamus dari Balkan.

Ia beberapa kali sukses melakukan ramalan, tetapi gagal memperkirakan jadwal kematiannya sendiri serta prediksi tentang keruntuhan Amerika Serikat sejauh ini belum terbukti.

Sebagai masyarakat beragama, khususnya muslim tentu meyakini dengan sepenuhnya bahwa segenap kejadian yang telah, sedang, dan akan terjadi dari yang mikroskopis hingga yang makrokosmos tidak ada yang luput dari kehendak Allah SWT. Maka sikap yang pantas adalah bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.

Jika dikumpulkan semua analisis terkait penyebab terjadinya gempa, maka akan bermuara pada tiga aspek hipotetik, yakni: azab dari Allah SWT, ujian dari Allah SWT dan Sunnatullah (gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi). Namun tiga aspek hipotetik tersebut, semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.

Oleh karena aspek kausalitas gempa tidak berada dalam kendali manusia maka upaya yang pantas adalah meminta pertolongan dan perlindungan penuh kepada Sang Causa Prima, yakni Allah SWT.

Seorang muslim penting untuk mengambil pelajaran pada kisah-kisah gempa pada masa Rasulullah SAW. Dalam riwayat hadits , setidaknya tercatat dua kali gempa. Pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Pertama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,

“Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata,

“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”    

Pelajaran besar dalam dua riwayat di atas, bahwa pentingnya keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat sebagai penangkal bencana.

Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan gunung, beliau berkata kepada para shahabat,

“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”

Pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab pernah terjadi gempa, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi,

“Ada apa denganmu?”

Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,

“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Pada kisah Khalifah Umar bin Khaththab di atas nampak bahwa penangkal bencana adalah keberadaan penguasa yan memimpin dengan hukum-hukum Allah SWT, yang dengan kekuasaan itu meniadakan kemaksiatan.

Mari kita mengambil hikmah dari prediksi gempa oleh Hoogerbeets, yang telah membuat panik sebagian kita. Tidak penting untuk harus berada pada kubu yang percaya atau tidak, tetapi yang lebih utama adalah berada pada kubu yang bersegera pada ampunan Allah SWT.

Bukankah bumi ini ciptaan-Nya, sehingga yang pantas bagi kita adalah mempertanyakan sejauh mana kita telah mengimplementasikan visi penciptaan kita, yakni sebagai Abdillah dan sebagai Khalifatu fil ardh.

Sebagai Abdillah sudahkah kita menjadi hamba Allah yang harus meng-ibadahi-Nya tanpa mencampurnya dengan kesyirikan? Sebagai Khalifatu fil ardh sudah kita menjadi pemakmur bumi sesuai dengan syariat-Nya?

Gempa Hoogerbeets yang terhitung per 3 Maret 2023, ini secara tidak langsung membawa memori kita pada peristiwa 3 Maret 1924, saat di mana runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniah, sebuah Institusi yang melanjutkan penerapan Islam Kaaffah sejak era kenabian Muhammad Saw, Khulafaurrasyidin, dan para Khalifah setelahnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Gempa Hoogerbeets Read More »