Sunashadi

Kota Kayu

Bayangkan sebuah kota yang dibangun hampir seluruhnya dari kayu. Tidak hanya bangunannya, tetapi juga suasana yang tercipta di dalamnya – tenang, sehat, dan ramah lingkungan. Ini bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang sedang diwujudkan di Swedia melalui proyek ambisius bernama Wood City. Proyek ini bertujuan untuk membangun sebuah kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan menggunakan kayu sebagai bahan utama.

Wood City adalah proyek besar yang sedang dikembangkan di Sickla, sebuah kawasan bekas industri di Stockholm, Swedia. Tujuannya adalah untuk mengubah kawasan ini menjadi kota masa depan yang dibangun dengan bahan kayu, bukan beton atau baja. Kayu dipilih sebagai bahan utama karena lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi dampak perubahan iklim yang dihasilkan oleh konstruksi.

Di dalam proyek ini, bangunan seperti sekolah dan apartemen akan dibangun menggunakan glulam (kayu laminasi) dan CLT (kayu lapis silang). Teknologi ini membuat kayu memiliki kekuatan yang hampir setara dengan beton, namun lebih ringan dan lebih cepat dalam proses pembangunan. Bahkan, dengan kayu, mereka bisa membangun hingga 1.000 meter persegi per minggu.

Keputusan untuk menggunakan kayu bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena dampak positifnya terhadap lingkungan. Kayu adalah bahan yang alami dan bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer saat pohon tumbuh. Ketika kayu digunakan untuk bangunan, karbon yang diserap tetap tersimpan di dalam bangunan selama bertahun-tahun. Ini membantu mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya mengurangi pemanasan global.

Selain itu, kayu juga menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Di dalam bangunan kayu, udara terasa lebih segarkan dan lebih nyaman karena kayu dapat membantu mengatur kelembapan dalam ruangan. Studi menunjukkan bahwa bangunan kayu juga bisa mengurangi stres, membantu anak-anak lebih fokus, dan bahkan mempercepat pemulihan pasien yang sakit.

Kehadiran kayu di dalam bangunan memberikan efek yang lebih dari sekadar estetika. Kayu yang terlihat di dalam rumah atau kantor bisa memberikan rasa tenang dan keterhubungan dengan alam. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan yang dipenuhi kayu dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan bahkan memberikan efek terapeutik yang menyembuhkan. Ini bukan hanya soal penampilan bangunan, tetapi juga tentang pengalaman yang dirasakan oleh orang-orang yang tinggal atau bekerja di dalamnya.

Namun, meskipun kayu menawarkan banyak keuntungan, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Penggunaan kayu secara berlebihan bisa berdampak pada keanekaragaman hayati jika hutan tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk memilih kehutanan yang dikelola dengan baik, di mana pohon yang ditebang bisa digantikan dengan pohon baru, dan prosesnya tidak merusak ekosistem alam.

Swedia, dengan 70% wilayahnya tertutup hutan, sudah memiliki tradisi panjang dalam pembangunan berbahan kayu. Pada tahun 1994, aturan bangunan Swedia mulai melonggarkan pembatasan penggunaan kayu dalam bangunan bertingkat, sehingga bahan ini kini bisa digunakan untuk bangunan lebih tinggi jika memenuhi standar keselamatan tertentu.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Skandinavia lainnya mengikuti jejak Swedia, termasuk Wood City di distrik Jätkäsaari di Helsinki, yang terdiri dari serangkaian bangunan bertingkat yang selesai pada 2021, dan Mjøstårnet di Brumunddal, Norwegia, yang merupakan bangunan tertinggi ketiga di negara tersebut, selesai pada 2019. Contoh lainnya di seluruh dunia termasuk Gaia, kampus kayu di Singapura yang dibuka pada 2023, dan blok perumahan delapan lantai di Seattle, yang dibuka pada tahun yang sama. Di Sydney, Atlassian Headquarters, ruang ritel dan kantor berbahan kayu, mengklaim akan menjadi “menara kayu hibrida komersial tertinggi di dunia” ketika selesai.

Namun, meskipun ada perlombaan untuk membangun secara berkelanjutan, terdapat kepentingan yang bertentangan antara kehutanan, keanekaragaman hayati, rekreasi, dan masalah iklim di Swedia dalam beberapa tahun terakhir. Sementara beberapa orang berpendapat negara ini tidak seharusnya menebang hutan sama sekali, yang lain percaya bahwa kehutanan yang dikelola baik untuk penangkapan karbon. “Seiring waktu, itu mengarah pada lebih banyak pertumbuhan dan lebih banyak karbon yang tersimpan,” kata Erik Serrano, seorang profesor dalam mekanika struktural di Universitas Lund. “Jika Anda bisa memenuhi persyaratan teknis yang sama dalam hal beban, keselamatan kebakaran, kelembapan, akustik, maka kayu memiliki keuntungan yang jelas karena berasal dari siklus alam. Ini adalah permainan bernilai nol dalam hal karbon dioksida selama siklus hidupnya. Yang penting adalah kita menggunakan kayu untuk produk jangka panjang sebanyak mungkin. Jika kita menyimpan karbon dalam bangunan selama 100 atau 200 tahun, kita menunda emisi secara signifikan – itu adalah efek besar.”

Di Sickla, Häggström berhenti di sebuah jendela yang menghadap ke Marcusplatsen square, dan menjelaskan bagaimana Wood City akan mandiri dalam hal listrik berkat sistem energi geotermal. Ada dua pohon birch tepat di luar jendela yang dibiarkan tidak tersentuh – sebuah detail yang tampaknya sepele – tetapi Häggström menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari strategi yang lebih besar.

“Kami memiliki opsi untuk menebang pohon-pohon itu dan menanam yang baru, tetapi kami memilih untuk mempertahankannya – meskipun itu biaya tambahan £20.000 (sekitar 400 juta Rupiah),” katanya. “Kami merasa pohon-pohon yang ada adalah bagian dari identitas tempat ini. Ini bukan hanya tentang membangun secara berkelanjutan – ini tentang menciptakan tempat yang orang ingin berada di dalamnya.” Dengan membangun dengan kayu dan menunjukkan pengaruh karbon yang lebih rendah, dia percaya tekanan diberikan pada industri beton untuk berinovasi. “Mereka melihat angka karbon, mereka melihat apa yang mungkin, dan mereka harus merespons. Dan itu hal yang baik. Proyek ini bukan hanya sekolah – ini bagian dari mendorong seluruh sektor ke depan.”[]

Kota Kayu Read More »

Bisnis Semut

Mungkin banyak dari kita yang tidak pernah membayangkan bahwa semut, serangga kecil yang sering dianggap sepele, bisa menjadi komoditas perdagangan yang sangat menguntungkan. Belakangan ini, semut telah menjadi bagian dari bisnis eksotis yang berkembang pesat. Kisah tentang perdagangan semut ini pun semakin mencuri perhatian setelah dua remaja Belgia tertangkap mencoba menyelundupkan 5.000 semut ke pasar hewan peliharaan di Eropa dan Asia.

Pada bulan April 2023, dua remaja Belgia, Lornoy David dan Seppe Lodewijckx, berusia 19 tahun, mengaku bersalah atas perdagangan hewan liar setelah mereka tertangkap membawa semut-semut eksotis yang akan dijual di pasar hewan peliharaan. Mereka berencana mengirim semut-semut itu menggunakan tabung uji dan syringe yang berisi kapas untuk menjaga semut-semut itu tetap hidup selama perjalanan.

Namun, yang membuat kasus ini semakin mengejutkan adalah jenis semut yang mereka selundupkan. Semut-semut tersebut adalah Messor cephalotes, semut pemanen merah besar yang berasal dari Afrika Timur. Semut-semut ini sangat diminati oleh para kolektor karena perilaku unik dan kemampuan mereka membangun koloni yang sangat kompleks.

Di balik kisah penyelundupan ini, ada sebuah tren besar yang berkembang dalam dunia hewan peliharaan eksotis. Banyak orang kini tertarik untuk memelihara semut sebagai hobi, bahkan ada pameran semut yang diadakan untuk para penggemar semut, di mana mereka saling bertukar informasi tentang cara merawat semut dan membandingkan spesies semut yang berbeda.

Semut-semut ini bukan hanya dilihat sebagai hewan kecil yang lucu, tetapi juga dianggap sebagai hewan peliharaan yang menarik karena perilaku mereka yang unik dan cara mereka membangun koloni. Oleh karena itu, semut menjadi semakin populer, terutama di kalangan orang-orang yang ingin memiliki hewan peliharaan yang tidak biasa.

Menurut beberapa penjual semut online, pasar semut eksotis kini berkembang pesat. Banyak penggemar yang tertarik mengoleksi berbagai jenis semut dan merawatnya di dalam formicarium, yaitu habitat khusus untuk semut. Semut-semut ini dihargai tinggi, bahkan ada yang dijual seharga £99 (sekitar 1.900.000 IDR) per koloni. Selain itu, semakin banyak orang yang mengikuti pameran semut, di mana mereka dapat bertukar informasi dan berbagi pengalaman tentang cara merawat semut.

Apa yang membuat semut begitu menarik? Semut dikenal dengan perilaku kolektifnya yang sangat kompleks. Mereka bekerja sama dalam membangun sarang, mencari makanan, dan merawat koloni mereka. Bagi banyak orang, mengamati semut bekerja di dalam formicarium bisa menjadi pengalaman yang menenangkan dan terapeutik, terutama bagi mereka yang menjalani hidup yang cepat dan penuh tekanan.

Namun, perdagangan semut ini juga membawa risiko lingkungan yang tidak kecil. Beberapa ilmuwan mengingatkan bahwa jika semut yang bukan berasal dari daerah setempat dibawa ke wilayah yang berbeda, mereka bisa menjadi spesies invasif yang mengganggu ekosistem lokal. Misalnya, semut yang dibawa ke daerah yang bukan habitat aslinya bisa mengganggu rantai makanan dan merusak tanaman lokal yang menjadi makanan mereka.

Selain itu, mengambil semut dari alam bebas juga bisa merusak ekosistem alami mereka. Semut berperan penting dalam menyuburkan tanah dengan mengumpulkan dan menyebarkan biji tanaman. Jika mereka diambil dari habitat mereka, hal ini bisa merusak keseimbangan ekologis yang ada.

Beberapa ahli menyarankan bahwa perdagangan serangga seperti semut bisa dilakukan dengan lebih berkelanjutan melalui pemeliharaan serangga yang terkendali. Hal ini bisa mendukung mata pencaharian bagi masyarakat lokal dan menjaga agar perdagangan ini tidak merusak alam. Salah satu contohnya adalah Proyek Kipepeo di Kenya yang membudidayakan kupu-kupu, yang dapat menjadi model untuk perdagangan serangga yang lebih ramah lingkungan.

Bahkan, meskipun ada risiko-risiko tersebut, para ahli juga menyarankan agar perdagangan semut dilakukan dengan lebih terkontrol agar bisa tetap memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Penyuluhan kepada para penggemar semut juga diperlukan untuk memastikan bahwa mereka memahami pentingnya perlindungan ekosistem dan tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Bisnis semut mungkin terdengar tidak biasa, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, semut eksotis telah menjadi bagian dari perdagangan hewan peliharaan yang berkembang pesat. Semut-semut ini, dengan perilaku unik dan kemampuan membangun koloni, kini menjadi komoditas yang dihargai di kalangan kolektor hewan peliharaan. Namun, seperti halnya bisnis lainnya, perdagangan semut juga membawa tantangan ekologis yang perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan alam.

Penting bagi para penggemar semut untuk menyadari dampak dari pengambilan semut dari alam bebas dan untuk mendukung perdagangan yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat menikmati hobi ini tanpa merusak lingkungan dan memastikan bahwa semut-semut tetap menjadi bagian dari ekosistem yang sehat.[]

Bisnis Semut Read More »

Memegang Nuklir

Pada pertengahan April lalu, diberitakan bahwa Pemerintah Sulawesi Tenggara sedang menjajaki kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), dengan dukungan dari Dewan Energi Nasional (DEN). Perusahaan Rosatom, BUMN Rusia di bidang nuklir, berencana berinvestasi tanpa menggunakan dana APBN maupun APBD. Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, menyebut bahwa wilayahnya memiliki stabilitas geologis yang baik serta kebutuhan listrik yang tinggi, terutama untuk industri pengolahan tambang nikel dan sektor rumah tangga.

Sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat, terutama di sektor industri pengolahan tambang nikel dan rumah tangga, Sulawesi Tenggara melihat potensi besar dalam teknologi nuklir. Kerja sama dengan Rusia melalui perusahaan Rosatom ini tidak hanya menawarkan solusi untuk pemenuhan energi, tetapi juga dapat menggugah kembali diskusi global mengenai peran teknologi nuklir dalam kehidupan modern. Hal ini mengingat perkembangan teknologi nuklir yang kerap menjadi topik kontroversial dan ditakuti. Namun, seiring berjalannya waktu, kemajuan dalam teknologi ini berpotensi mengubah persepsi masyarakat, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sebagaimana kita telah melihat pada penerimaan terhadap sumber energi lainnya.

Sejak pertama kali manusia mulai memanfaatkan alat dan pengetahuan untuk mengubah dunia sekitar, muncul pertanyaan besar: Bagaimana interaksi kita dengan teknologi berkembang seiring waktu, dan bagaimana kita belajar untuk beradaptasi dengan penemuan baru yang begitu kuat? Teknologi telah berkembang pesat sepanjang sejarah, membawa kita dari ketidaktahuan dan ketakutan menuju penggunaan yang lebih terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ada satu teknologi yang masih sangat ditakuti oleh banyak orang: nuklir. Mungkin suatu saat, nuklir bukanlah sesuatu yang menakutkan, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, seperti halnya listrik.

Di masa lalu, pengetahuan tentang reaksi kimia sangat terbatas. Ketika reaksi kimia ditemukan, mereka sering digunakan untuk pementasan sulap atau trik-trik yang mengagumkan. Misalnya, perubahan warna atau ledakan kecil menjadi bahan hiburan bagi orang-orang yang tidak memahami bagaimana dan mengapa hal itu terjadi. Pengetahuan ilmiah belum begitu meluas, dan banyak orang yang hanya bisa mengagumi keajaiban yang tampak ajaib tanpa benar-benar memahami prinsip yang mendasarinya.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuan manusia berkembang. Salah satu penemuan besar adalah listrik. Pada awalnya, banyak orang merasa takut dengan listrik, bahkan mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Ingatlah bagaimana Thomas Edison dan Nikola Tesla berusaha mengedukasi dunia tentang potensi listrik, tetapi juga menghadapi ketakutan dan ketidakpastian. Masyarakat pada waktu itu belum sepenuhnya siap menerima teknologi yang dapat menyebabkan kejutan listrik fatal atau bahkan kebakaran. Namun, dengan waktu dan pemahaman yang lebih dalam, listrik tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, listrik menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari kita.

Hari ini, hampir semua bagian tubuh manusia berinteraksi dengan listrik setiap saat. Ibarat kata, kita menggenggam listrik hampir setiap saat. Dari perangkat elektronik yang kita bawa di saku celana, seperti ponsel, hingga aliran listrik yang mengalir di dalam tubuh kita melalui alat pacu jantung atau alat medis lainnya. Setiap interaksi dengan teknologi modern, bahkan yang tampaknya sederhana, melibatkan listrik. Kita memanfaatkan aliran listrik untuk komunikasi, hiburan, pekerjaan, dan hampir setiap aspek kehidupan kita tanpa meragukannya.

Sekarang, kita sampai pada nuklir. Teknologi ini sering dianggap sebagai salah satu yang paling canggih dan, pada saat yang sama, paling menakutkan. Dalam beberapa dekade terakhir, nuklir telah menjadi simbol dari potensi besar dan risiko besar. Kekuatan yang dapat dihasilkan oleh energi nuklir mampu memberi kita listrik dalam jumlah yang sangat besar, tetapi juga memiliki potensi yang mengerikan, seperti yang terlihat dalam bencana Chernobyl atau Fukushima.

Pada tahun 1986, bencana Chernobyl di Ukraina menjadi salah satu insiden nuklir paling mengerikan dalam sejarah. Reaktor nomor 4 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl meledak, melepaskan radiasi dalam jumlah besar ke atmosfer. Insiden ini dipicu oleh uji coba sistem di reaktor yang berlangsung pada malam hari, dengan kurangnya prosedur keselamatan yang tepat. Akibatnya, lebih dari 30 orang tewas langsung akibat paparan radiasi, dan ribuan orang lainnya menderita dampak kesehatan jangka panjang. Beberapa laporan menyebutkan bahwa lebih dari 4000 orang meninggal dunia karena kanker terkait radiasi yang disebabkan oleh kecelakaan tersebut, meskipun angka pastinya masih menjadi perdebatan.

Pada tahun 2011, Fukushima di Jepang mengalami bencana nuklir yang dipicu oleh gempa bumi dan tsunami besar. Tsunami menghantam pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, merusak sistem pendingin reaktor dan menyebabkan pelepasan radiasi. Lebih dari 100.000 orang dipaksa untuk mengungsi dari kawasan sekitar, dan meskipun tidak ada korban tewas langsung akibat radiasi, banyak orang yang terpapar pada tingkat radiasi tinggi. Jumlah korban tewas yang tidak langsung akibat bencana ini, termasuk yang terpengaruh oleh kondisi kesehatan dan evakuasi, bisa mencapai ratusan orang, sementara dampak jangka panjang terhadap kesehatan masih terus dipantau.

Insiden-insiden ini menggambarkan bahaya potensial dari teknologi nuklir, yang meskipun dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar, juga dapat menimbulkan risiko yang sangat serius jika tidak dikelola dengan benar.

Namun, sejarah teknologi selalu dipenuhi dengan contoh-contoh di mana manusia beralih dari ketakutan menuju penerimaan dan penggunaan. Apakah kita bisa membayangkan suatu waktu di mana teknologi nuklir menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita? Mungkin ada suatu masa di mana kita, seperti halnya dengan listrik, akan berinteraksi dengan nuklir secara rutin dan tanpa rasa takut. Di masa depan, kita mungkin tidak hanya menggunakan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi global, tetapi juga dalam bidang lain, seperti medis, transportasi, atau bahkan eksplorasi luar angkasa.

Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi nuklir telah berkembang pesat, menunjukkan bagaimana potensi besar yang dimilikinya dapat dimanfaatkan dengan cara yang lebih aman dan lebih efisien. Salah satu pencapaian besar adalah penggunaan reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. Saat ini, banyak negara di dunia, termasuk Prancis, Amerika Serikat, dan Rusia, telah memanfaatkan energi nuklir untuk menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan sedikit emisi karbon.

Selain itu, pemanfaatan nuklir dalam bidang medis juga menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Terapi radiasi telah menjadi metode utama dalam pengobatan berbagai jenis kanker. Mesin pemindaian seperti PET (Positron Emission Tomography) dan CT Scan juga menggunakan teknologi nuklir untuk memberikan gambaran detail tentang kondisi tubuh manusia. Ini adalah contoh bagaimana teknologi nuklir, yang dulunya ditakuti, kini berperan besar dalam menyelamatkan nyawa.

Lebih jauh lagi, teknologi nuklir juga mulai digunakan dalam teknologi propulsi untuk eksplorasi luar angkasa. Misalnya, NASA telah mengembangkan reaktor nuklir mini untuk memberikan daya bagi misi-misi luar angkasa yang jauh, seperti misi Mars. Teknologi ini memungkinkan misi luar angkasa untuk berlangsung lebih lama dan lebih efisien, membuka kemungkinan bagi eksplorasi planet-planet lain dengan lebih banyak sumber daya.

Mungkin pada akhirnya, seperti halnya listrik, nuklir akan menjadi sesuatu yang kita pahami dengan lebih baik, yang kita kelola dengan lebih hati-hati, dan yang kita gunakan untuk kebaikan bersama. Dengan kemajuan teknologi dan pemahaman yang lebih dalam tentang keselamatan dan pengelolaan limbah nuklir, masa depan bisa saja menyaksikan manusia berinteraksi dengan nuklir secara rutin dan tanpa ketakutan yang membayangi.

Pernahkah kita membayangkan bahwa suatu saat, teknologi yang paling menakutkan saat ini bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian kita? Mungkin suatu hari, kita akan merasa sama sekali tidak terkejut dengan kenyataan bahwa nuklir adalah bagian dari kehidupan kita, sama seperti listrik yang kita rasakan saat ini.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kita telah belajar untuk beradaptasi dengan inovasi yang sebelumnya tampak menakutkan atau bahkan berbahaya. Dari sulap kimia di masa lalu hingga listrik yang mengalir di tubuh kita, setiap transisi teknologi membawa kita lebih dekat dengan kenyataan baru. Nuklir, meskipun saat ini dianggap sebagai teknologi yang sangat ditakuti, mungkin suatu saat akan menjadi bagian dari interaksi sehari-hari kita. Seperti halnya listrik, nuklir bisa menjadi sesuatu yang kita pahami, kelola, dan manfaatkan dengan cara yang lebih aman dan efisien di masa depan.

Pertanyaannya, saat ini kita berada pada fase apa baik secara mental maupun teknologi? Karena harusnya keduanya berjalan beriringan: masyarakat secara mental menerima dan siap menggunakan, dan pada saat yang sama, teknologi (nuklir) telah siap dan aman untuk dimanfaatkan.[]

Memegang Nuklir Read More »

Energi Bersih dalam Ancaman Perang Dagang

Tahun 2025 belum berjalan lama, tetapi sudah ada kabar buruk bagi teknologi iklim di Amerika Serikat. Sejumlah proyek besar yang berkaitan dengan energi bersih, seperti baterai, tenaga surya, dan angin, terpaksa dibatalkan, dikurangi skalanya, atau bahkan dihentikan sepenuhnya. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, setidaknya ada 16 proyek bernilai sekitar Rp120 triliun (dengan nilai total $8 miliar) yang dihentikan.

Pembatalan proyek-proyek besar ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Menurut laporan dari E2, sebuah kelompok kebijakan non-partisan, ada beberapa alasan mengapa proyek-proyek ini gagal berjalan. Salah satunya adalah perubahan kebijakan dari pemerintah AS, terutama kebijakan terkait investasi dan tarif pajak.

Pemerintah AS, dalam beberapa bulan terakhir, berusaha menarik kembali dana investasi yang sudah dijanjikan, terutama yang terkait dengan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (Inflation Reduction Act). Selain itu, tarif baru untuk barang-barang impor, terutama dari China (yang sangat dominan dalam produksi baterai dan teknologi energi lainnya), juga mempengaruhi pasar. Sebagai hasilnya, banyak perusahaan merasa ragu untuk melanjutkan proyek-proyek mereka.

Tidak hanya itu, permintaan untuk beberapa teknologi energi bersih, seperti kendaraan listrik (EV), juga ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal ini membuat banyak perusahaan merasa bahwa mereka tidak bisa melanjutkan investasi mereka dengan keyakinan.

Menurut Michael Timberlake, direktur komunikasi dari E2, apa yang kita lihat sekarang adalah ketidakpastian yang besar di pasar teknologi energi bersih. Perusahaan-perusahaan merasa kesulitan untuk memprediksi apa yang akan terjadi ke depan, sehingga mereka memilih untuk menunda atau membatalkan proyek mereka. Ini adalah tanda awal dari ketidakpastian yang semakin besar di sektor teknologi iklim.

Meskipun ada ratusan proyek energi bersih yang telah diumumkan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah proyek yang dilanjutkan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa proyek yang masih berjalan termasuk pabrik-pabrik manufaktur dan fasilitas energi yang sedang dibangun. Namun, tidak sebanyak yang kita harapkan jika kebijakan energi lebih stabil.

Salah satu proyek yang dibatalkan adalah sebuah pabrik yang dibangun oleh Aspen Aerogels di Georgia. Pabrik ini seharusnya memproduksi bahan yang dapat membantu mencegah atau memperlambat kebakaran dalam baterai. Meskipun perusahaan ini sebelumnya menerima komitmen pinjaman senilai Rp10 triliun (sebesar $670 juta) dari Departemen Energi AS, mereka akhirnya memutuskan untuk fokus pada fasilitas yang ada di Rhode Island dan beberapa proyek lainnya di luar negeri, seperti di China dan Meksiko.

Meskipun banyak proyek yang dibatalkan, ini juga merupakan sinyal bahwa banyak perusahaan sedang mencoba menyesuaikan diri dengan realitas pasar dan kebijakan yang berubah. Sejumlah proyek mungkin dibatalkan atau diperkecil karena perusahaan ingin memastikan bahwa pasokan dan permintaan teknologi energi bersih tetap seimbang.

Meskipun begitu, ini tetap menunjukkan ketidakpastian besar dalam sektor teknologi iklim. Banyak perusahaan kini merasa kesulitan untuk berkomitmen dalam jangka panjang, karena kondisi pasar yang sangat berubah-ubah.

Jika tren pembatalan proyek teknologi energi bersih ini berlanjut, dampaknya bisa sangat luas, tidak hanya di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Banyak negara yang bergantung pada teknologi energi bersih untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target iklim mereka. Pembatalan proyek-proyek besar ini bisa menghambat transisi global menuju energi terbarukan.

Teknologi seperti baterai, tenaga angin, dan tenaga surya adalah kunci dalam upaya pengurangan emisi global dan memerangi perubahan iklim. Jika pengembangan teknologi ini melambat, dunia bisa menghadapi tantangan besar dalam mencapai tujuan pengurangan emisi yang diperlukan untuk mencegah pemanasan global lebih dari 1,5°C.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan ini bisa menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada bahan bakar fosil yang sudah terbukti merusak lingkungan. Kebijakan yang tidak stabil akan membuat investor dan perusahaan enggan berinvestasi dalam proyek energi bersih yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Jika kebijakan seperti ini berlangsung dalam jangka panjang, kita bisa melihat perlambatan dalam transisi energi global. Pemanasan global bisa terus meningkat, mengakibatkan bencana alam yang lebih sering dan parah, seperti banjir, kebakaran hutan, dan gelombang panas ekstrem. Selain itu, kerusakan ekosistem yang lebih besar, termasuk kehilangan keanekaragaman hayati, bisa memperburuk krisis lingkungan.

Lebih lanjut, jika ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi, kualitas udara akan semakin buruk, mengarah pada masalah kesehatan global yang lebih besar. Masyarakat dunia bisa menghadapi kerugian ekonomi yang lebih besar akibat perubahan iklim yang tak terkendali.

Dengan adanya pembatalan proyek-proyek besar ini, kita bisa melihat bahwa sektor teknologi iklim di AS sedang menghadapi tantangan besar. Ketidakpastian pasar, kebijakan yang berubah-ubah, dan permintaan yang tidak sesuai dengan harapan membuat banyak perusahaan enggan melanjutkan investasi mereka. Jika kebijakan yang tidak stabil ini terus berlanjut, dampaknya terhadap teknologi energi bersih dan masa depan bumi kita bisa sangat serius.[]

Energi Bersih dalam Ancaman Perang Dagang Read More »

Konflik Satelit

Eropa kini berada di persimpangan yang sangat penting dalam hal teknologi satelit. Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah apakah Eropa akan memilih teknologi satelit dari Amerika Serikat (AS) atau China. Pilihan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang pengaruh politik, ekonomi, dan bahkan keamanan internasional yang akan berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat Eropa.

Brendan Carr, Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS, mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana pengaruh politik dapat membentuk keputusan jangka panjang Eropa terkait teknologi satelit. Carr menyatakan bahwa jika Eropa lebih memilih untuk bekerja sama dengan China dalam hal satelit, mereka akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar di masa depan. Menurut Carr, Eropa seharusnya fokus pada ancaman jangka panjang yang ditimbulkan oleh kebangkitan Partai Komunis China.

Salah satu contoh utama dalam persaingan ini adalah Starlink, yang dimiliki oleh SpaceX, perusahaan milik Elon Musk. Starlink adalah jaringan satelit terbesar di dunia yang menyediakan layanan internet dan konektivitas ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Namun, beberapa negara Eropa mulai mempertanyakan keputusan untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Musk. Baru-baru ini, sejumlah pemerintah Eropa menangguhkan pembicaraan pembelian layanan Starlink setelah Musk mengungkapkan bahwa akses internet Ukraina bisa terhenti di medan perang jika Starlink dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa Starlink, meskipun sangat efisien, juga bisa digunakan untuk tujuan yang kontroversial.

Meskipun Eropa memiliki alternatif untuk teknologi satelit, seperti Eutelsat milik Prancis, namun alternatif-alternatif ini masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Starlink. Eutelsat hanya mengoperasikan sekitar sepersepuluh jumlah satelit yang dimiliki Starlink, dan biaya layanan yang ditawarkan jauh lebih tinggi. Selain itu, perusahaan satelit China, seperti Spacesail, meskipun baru memiliki sedikit satelit, memiliki rencana ambisius untuk meluncurkan hingga 15.000 satelit pada tahun 2030. Ini menempatkan mereka dalam posisi yang lebih baik untuk menjadi pesaing berat bagi Starlink di masa depan.

Jika Eropa memilih untuk terus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS, mereka akan mengandalkan teknologi yang telah terbukti efisien dan dapat diakses dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, keputusan ini bisa berisiko membawa dampak politik yang besar, terutama mengingat ketegangan yang meningkat antara AS dan beberapa negara Eropa. Di sisi lain, memilih untuk bergantung pada satelit China membawa tantangan tersendiri. Banyak yang khawatir bahwa ini bisa memperburuk ketegangan politik dengan AS dan sekutu lainnya, serta meningkatkan risiko keamanan. China memiliki ambisi besar dalam teknologi satelit dan AI, yang bisa menempatkan Eropa dalam posisi yang sangat sulit jika terjadi konflik politik di masa depan.

Eropa kini dihadapkan pada pilihan besar yang bisa menentukan arah masa depan teknologi satelit mereka. Memilih teknologi satelit dari AS menawarkan efisiensi dan biaya yang lebih terjangkau, tetapi membawa risiko politik, sementara memilih teknologi China memberikan peluang untuk pertumbuhan yang lebih cepat tetapi menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan hubungan internasional. Keputusan ini tidak hanya akan mempengaruhi ekonomi dan teknologi Eropa, tetapi juga posisi mereka di panggung dunia dalam beberapa dekade mendatang.

Sumber: Jess Weatherbed, “It’s time for Europe to choose between US or Chinese satellite tech, says FCC chair,” Financial Times, 16 April 2025.

Konflik Satelit Read More »

Amerika, Trump dan Kebijakan Tanpa Data

Pemerintahan Donald Trump memangkas banyak anggaran yang selama ini digunakan untuk mengumpulkan data penting yang digunakan untuk mengukur seberapa efektif kebijakan pemerintah. Akibatnya, banyak data yang berguna untuk memahami masalah seperti penggunaan obat-obatan terlarang, kematian ibu, perubahan iklim, dan banyak isu sosial lainnya kini terancam hilang. Data yang sebelumnya dikumpulkan oleh lembaga-lembaga pemerintah selama bertahun-tahun sekarang sulit ditemukan atau bahkan tidak ada lagi.

Contohnya, tim yang mengumpulkan data tentang penggunaan obat-obatan dan masalah kesehatan mental telah diberhentikan. Survei nasional yang selama lebih dari 50 tahun membantu melacak masalah tersebut kini terhenti. Selain itu, data yang mengukur tingkat kematian ibu, yang sangat penting untuk perbaikan kebijakan kesehatan, juga terancam hilang. Pengurangan anggaran ini juga berdampak pada kemampuan pemerintah untuk melacak emisi gas rumah kaca dan polusi yang dihasilkan oleh pabrik dan kilang, yang selama ini digunakan untuk menilai kebijakan perubahan iklim.

Mengapa data ini begitu penting? Data ini memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan sosial, kesehatan, dan lingkungan kita. Tanpa data yang akurat, sangat sulit untuk menilai apakah kebijakan yang diterapkan berhasil atau tidak. Misalnya, tanpa data mengenai penurunan prestasi pendidikan selama pandemi, kita tidak bisa tahu seberapa buruk dampaknya pada anak-anak sekolah. Tanpa data yang cukup, kita juga tidak bisa menilai kebijakan imigrasi atau kesehatan mental dengan baik.

Dampak dari hilangnya data ini sangat besar. Pemerintah akan kesulitan membuat keputusan yang tepat tanpa data yang jelas. Tanpa data yang memadai, kita tidak bisa tahu apakah kebijakan yang ada berhasil atau tidak. Ini bisa sangat merugikan kita dalam jangka panjang, karena kebijakan yang tidak didasarkan pada data yang akurat mungkin gagal mengatasi masalah yang sebenarnya ada.

Meskipun begitu, ada harapan untuk masa depan. Pemerintahan yang akan datang mungkin bisa memperbaiki keadaan ini dan menghidupkan kembali beberapa program pengumpulan data yang telah dihentikan. Namun, ini tentu akan memakan waktu dan usaha karena banyak data yang hilang dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat kita kesulitan untuk memahami tren yang terjadi.

Intinya, data yang akurat sangat penting untuk membuat keputusan yang baik. Tanpa data, kita akan kesulitan mengatasi masalah-masalah besar yang dihadapi negara kita, mulai dari masalah kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan. Hal ini ditegaskan oleh Alec MacGillis dalam artikelnya berjudul Trump’s War on Measurement Means Losing Data on Drug Use, Maternal Mortality, Climate Change and More yang dipublikasikan pada 18 April 2025, yang mengungkapkan bagaimana pemotongan anggaran ini telah menciptakan “lubang hitam informasi” yang dapat berdampak buruk bagi kebijakan publik di masa depan.

Dengan kebijakan ini nampak bahwa Amerika, sang penjaga ideologi kapitalisme, benar-benar telah mengalami fenomena krisis, bahkan pada hal yang selama ini mereka pelihara, yakni data. Dan hilangnya regenerasi data dalam kebijakan Trump dapat berakibat pada berkurang bahkan hilangnnya data dan informasi global yang selama ini dimanfaatkan oleh dunia.[]  

Amerika, Trump dan Kebijakan Tanpa Data Read More »

Fatimah al-Fihri: Pemberi Gelar Akademik Pertama di Dunia

Apakah anda seorang diploma atau sarjana? Apapun gelar scholar anda, bisa jadi tak sempat membayangkan jika titel akademik anda bisa berasal dari kontribusi seorang perempuan? Bahkan, dialah salah seorang pelopor kampus tertua di dunia.

Fatimah al-Fihri adalah tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam yang dikenal karena mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, pada abad ke-9. Universitas ini diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records sebagai universitas tertua yang masih beroperasi dan pertama yang memberikan gelar akademik di dunia.

Fatimah al-Fihri, yang berasal dari keluarga terhormat, menggunakan warisannya untuk mendirikan institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak ulama tetapi juga mempengaruhi peradaban Islam secara keseluruhan. Melalui visi dan dedikasinya terhadap pendidikan, Al-Qarawiyyin menjadi pusat intelektual yang tak ternilai, mendidik banyak pemikir besar dalam sejarah dunia Islam.

Universitas Al-Qarawiyyin memiliki keistimewaan tersendiri. Selain menjadi universitas tertua, ia juga memainkan peran sentral dalam menyebarkan pengetahuan di dunia Islam, terutama dalam bidang filsafat, matematika, astronomi, dan kedokteran. Universitas ini juga dikenal sebagai tempat pertama yang memberikan gelar akademik formal, termasuk gelar dalam bidang keislaman dan ilmu pengetahuan lainnya. Banyak ilmuwan besar, seperti Ibn Rushd (Averroes) dan Maimonides, pernah belajar di sini. Sebagai pusat pendidikan, universitas ini tidak hanya menyediakan ilmu pengetahuan, tetapi juga melahirkan ideologi yang memperkaya peradaban Islam dan dunia Barat.

Pendirian universitas ini juga menunjukkan peran signifikan perempuan dalam sejarah Islam, yang sering kali dilupakan dalam narasi sejarah arus utama. Sebagai seorang wanita, Fatimah mengatasi batasan-batasan gender pada zamannya, membuktikan bahwa perempuan dapat berperan aktif dalam bidang pendidikan dan pembangunan peradaban. Legasinya hidup hingga kini, dengan Universitas Al-Qarawiyyin yang masih beroperasi dan diakui sebagai salah satu lembaga pendidikan paling bergengsi di Maroko.

Fatimah al-Fihri bukan hanya seorang pendiri universitas, tetapi juga simbol dari semangat pemberdayaan perempuan dalam dunia pendidikan. Ia memperlihatkan bagaimana kekayaan dan kedudukan sosial bisa digunakan untuk tujuan mulia yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Fatimah al-Fihri: Pemberi Gelar Akademik Pertama di Dunia Read More »

Ideologi: Kerajaan Pemikiran di Kepala

Setiap orang sebenarnya membawa kerajaan kecil di dalam kepalanya. Kerajaan ini dipenuhi oleh ide-ide, nilai-nilai, dan keyakinan tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan. Kerajaan ini dinamakan ideologi. Ideologi adalah kumpulan gagasan yang membentuk cara kita memandang hidup, mengambil keputusan, dan menilai apa yang benar atau salah. Ini bukan sekadar opini biasa, melainkan semacam aturan tak tertulis yang mengarahkan seluruh jalan berpikir kita. Di dalam “kerajaan” ini, ada “raja” berupa prinsip utama — seperti kebebasan, keadilan, atau ketuhanan — yang menjadi pusat dari seluruh struktur pemikiran.

Setiap orang hidup di dalam kerajaannya sendiri. Ada yang rajanya adalah kebebasan individu, ada pula yang mengedepankan keadilan bersama. Semua ide-ide kecil yang kita pegang berfungsi seperti rakyat dan pasukan yang mendukung kekuasaan raja ideologi tersebut. Namun, kerajaan pemikiran ini tidak selalu kuat. Ia bisa digoyang, dipertanyakan, bahkan dihancurkan oleh pengalaman baru, pendidikan, atau kejadian besar dalam hidup seseorang. Kadang orang tetap mempertahankan kerajaannya, kadang pula membangun kerajaan baru.

Sangat penting bagi setiap manusia untuk menyadari, mengenali, dan menguji kerajaan pemikiran di dalam kepalanya. Karena kenyataannya, hampir sebagian besar manusia tidak memperdulikan ideologi yang membentuk cara mereka berpikir. Mereka membiarkan ide-ide, nilai, dan prinsip-prinsip besar masuk ke kepala mereka tanpa penyaringan, seolah menerima begitu saja dari lingkungan, media, budaya, atau arus zaman. Jika kita membiarkan kerajaan pemikiran kita tanpa pernah memeriksanya, kita menjadi mudah dikendalikan oleh ideologi orang lain tanpa sadar. Kita juga rentan terombang-ambing oleh tren sesaat, propaganda, atau tekanan sosial. Bahkan, kita mungkin hidup dengan keyakinan yang bertentangan dengan nilai sejati diri kita, hanya karena kita tidak pernah mengkritisinya. Pada skala sosial, pembiaran ini bisa membuat masyarakat jatuh ke dalam krisis identitas, kehampaan makna hidup, atau keterpecahan sosial.

Karena itu, mengenali dan mengaudit ideologi kita adalah kewajiban intelektual dan moral bagi setiap manusia. Untuk lebih memahami, kita bisa melihat contoh dari tiga ideologi besar yang membentuk dunia modern. Sosialisme-Komunisme adalah kerajaan pemikiran yang menempatkan keadilan sosial sebagai rajanya. Semua alat produksi dikuasai negara atas nama rakyat. Keadilan diutamakan, tetapi dalam praktiknya sering kali terjadi penghapusan kebebasan individu demi kesetaraan mutlak, di mana negara menjadi penguasa tunggal atas hidup rakyatnya. Kapitalisme-Sekulerisme, di sisi lain, menjadikan kebebasan individu dan kepemilikan pribadi sebagai rajanya, dengan menyingkirkan nilai-nilai ketuhanan dari ruang publik. Hasilnya adalah kemajuan ekonomi pesat, tetapi sering kali disertai kesenjangan sosial ekstrem, kekeringan spiritual, dan hilangnya makna hidup di tengah masyarakat.

Sebaliknya, dalam ideologi Islam, Allah adalah Raja mutlak di atas semua kerajaan pemikiran. Islam mengajarkan bahwa seluruh aspek hidup — ekonomi, sosial, politik, budaya — harus tunduk pada syariat yang berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu manusia. Islam menggabungkan keadilan sosial, kebebasan pribadi, dan makna spiritual dalam satu kesatuan hidup yang harmonis. Melalui perbandingan ini, kita bisa melihat bahwa setiap ideologi memiliki konsekuensinya masing-masing. Karena itu, manusia perlu dengan sadar memilih, membangun, dan memperjuangkan kerajaan pemikirannya sendiri — bukan sekadar ikut arus zaman.

Ideologi adalah kerajaan pemikiran di kepala kita. Mengenalinya, mengujinya, dan memperbaikinya adalah tanggung jawab setiap manusia agar ia tidak menjadi budak dari ideologi yang salah atau tidak menyadarinya. Dengan kesadaran penuh, manusia dapat memilih nilai-nilai yang benar untuk hidupnya, membangun kerajaan pemikiran yang kuat, adil, dan bermakna. Sudahkah Anda mengenali dan menguji kerajaan pemikirannya?

Ideologi: Kerajaan Pemikiran di Kepala Read More »

Klorofil Kota

Kota-kota di seluruh dunia kini menghadapi krisis yang jarang disadari: semakin menipisnya tutupan kanopi pohon. Pohon-pohon yang selama ini menjadi paru-paru kota perlahan menghilang, digantikan oleh gedung-gedung beton, jalan-jalan beraspal, dan kawasan pemukiman padat. Fenomena ini dikenal sebagai defisit klorofil kota.

Penelitian mengungkapkan beberapa penyebab utama berkurangnya tutupan pohon di kota. Pengembangan properti, seperti pembangunan rumah, jalan, dan fasilitas umum, menyebabkan pengurangan drastis pohon di lahan-lahan kosong dan ruang hijau. Di Tokyo, Jepang, misalnya, tutupan kanopi pohon menurun dari 9,2% pada tahun 2013 menjadi 7,3% pada 2022 (Shiraishi & Terada, 2024). Selain itu, fragmentasi habitat juga terjadi akibat pertumbuhan populasi yang pesat, seperti yang dilaporkan di Perth, Australia, di mana habitat pepohonan menjadi terpisah-pisah dan kondisinya memburuk (Barber & Hardy, 2012). Faktor lain seperti perubahan gaya hidup perkotaan yang cenderung memilih ruang terbuka beraspal, serta kurangnya perencanaan kota berbasis alam, memperparah situasi ini.

Meski begitu, ada beberapa kota yang berhasil menjaga dan meningkatkan kanopi pohonnya. Salah satunya adalah Bristol di Inggris, yang melalui program “One City Plan” berkomitmen untuk melipatgandakan tutupan pohon hingga tahun 2045. Studi menunjukkan bahwa dengan menanam sekitar 18.000 pohon besar setiap tahun, target tersebut sangat mungkin tercapai (Walters & Sinnett, 2021).

Idealnya, para ahli merekomendasikan rasio satu pohon untuk setiap orang di kota untuk menjaga keseimbangan ekologis dan kualitas hidup. Beberapa kota bahkan menetapkan target 30–40% dari total area kota harus ditutupi oleh kanopi pohon. Studi dari Australia menunjukkan bahwa peningkatan tutupan kanopi hingga 30% dapat menurunkan biaya kesehatan masyarakat serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular (Feng et al., 2024). Semakin besar populasi kota, semakin besar pula kebutuhan akan pohon untuk menjaga iklim mikro, kualitas udara, dan kesehatan masyarakat.

Sebagai solusi tambahan, banyak kota mulai mengadopsi desain atap hijau (green roofs) di mana atap rumah atau gedung ditanami tanaman tertentu. Atap hijau tidak hanya menambah tutupan vegetasi, tetapi juga membantu mengurangi suhu udara, menyerap air hujan, serta memperbaiki kualitas udara. Kota seperti Toronto dan Copenhagen bahkan mewajibkan gedung-gedung baru untuk memiliki atap hijau sebagai bagian dari regulasi lingkungan. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan klorofil ke ruang-ruang urban yang kian tergerus.

Pohon-pohon bukan sekadar elemen dekoratif kota, tetapi adalah infrastruktur vital yang menunjang kesehatan, kenyamanan, dan keberlanjutan hidup. Menjaga, menanam, dan mengembangkan kanopi pohon di kota adalah investasi jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik. Bagaimana dengan tempat Anda?

Klorofil Kota Read More »

Pax Islamica

 

 

Dalam laporan yang diterbitkan oleh National Intelligence Council (NIC) pada Desember 2004 berjudul Mapping the Global Future, NIC memprediksi beberapa skenario besar yang akan menentukan konstelasi global pada tahun 2020 (NIC, 2004).

Salah satu skenario tersebut adalah Pax Americana, yang menggambarkan dunia yang masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan dominasi ekonominya. Namun, laporan tersebut juga mengemukakan beberapa skenario lain yang memperlihatkan potensi perubahan besar dalam tatanan global, termasuk Cycle of Fear, yang memprediksi dunia yang terperangkap dalam ketakutan terhadap terorisme; A New Caliphate, yang mengantisipasi kebangkitan khilafah Islam sebagai tantangan terhadap nilai-nilai global; dan Davos World, yang memperkirakan bahwa pada tahun 2020 Tiongkok dan India akan menjadi pemain kunci dalam ekonomi dan politik global, mencerminkan pergeseran besar dalam kekuasaan global (NIC, 2004). Prediksi ini semakin relevan dengan semakin besarnya pengaruh Tiongkok dalam perekonomian dunia.

Perubahan dalam kepemimpinan global ini semakin terasa dengan kebijakan luar negeri Donald Trump, yang dikenal dengan nama Trumpisme. Kebijakan tersebut menciptakan ketegangan dan menggoyang tatanan geopolitik dunia yang sebelumnya lebih bersifat multilateral (Freeland, 2018).

Kebijakan ‘America First’, yang dianggap oleh banyak pihak lebih isolasionis dan proteksionis, mendominasi hubungan internasional dan mengarah pada penurunan kerja sama multilateral yang selama ini menjadi dasar hubungan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa dunia, meskipun terus berubah, selalu dihadapkan pada pola-pola baru dalam kepemimpinan yang menentukan arah global. Setiap perubahan kepemimpinan ini memberikan dampak yang mendalam terhadap tatanan internasional yang ada.

Salah satu aspek besar dari perubahan ini adalah konflik dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang memuncak pada tarif resiprokal. Perang tarif ini dimulai dengan keputusan Donald Trump untuk memberlakukan tarif terhadap produk-produk Tiongkok pada tahun 2018, dengan Amerika Serikat memberlakukan tarif senilai $250 miliar terhadap produk-produk Tiongkok (CNN Indonesia, 05/04/2025), yang kemudian direspons oleh Beijing dengan memberlakukan tarif balik senilai $110 miliar terhadap produk-produk Amerika (Kontan, 01/04/2025).

Perang tarif ini berlanjut hingga 2021, ketika pemerintahan Joe Biden tetap mempertahankan sebagian besar tarif tersebut (Tirto.ID, 10/04/2025). Pada tahun 2025, Presiden Trump kembali memberlakukan kebijakan tarif impor baru, termasuk tarif universal sebesar 10% untuk semua barang impor dan tarif tambahan untuk negara-negara tertentu. Indonesia, misalnya, dikenai tarif sebesar 32%, sementara Tiongkok menghadapi tarif sebesar 245% (Kontan, 01/04/2025).

Sebagai respons, Tiongkok menaikkan tarif terhadap barang-barang Amerika hingga 125% dan memberlakukan pembatasan ekspor pada logam tanah jarang serta komponen teknologi tinggi yang penting bagi industri AS (CNN Indonesia, 05/04/2025). Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga memicu volatilitas ekonomi global (Tirto.ID, 10/04/2025).

Dampak tarif ini terhadap ekonomi global cukup besar, dengan pasar saham, emas, dan minyak mengalami perubahan signifikan. Kedua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ini, yaitu Amerika Serikat dengan PDB nominal sekitar $27,720 miliar pada tahun 2023 (Trading Economics, 31/03/2023) dan Tiongkok dengan PDB sekitar $17,794 miliar pada tahun 2023 (Trading Economics, 31/03/2023), saling bergantung dalam perdagangan dan investasi.

Kekuatan ekonomi AS terletak pada sektor teknologi tinggi, keuangan, dan konsumsi domestik yang besar, sementara Tiongkok mengandalkan manufaktur, ekspor, dan konsumsi domestik yang terus meningkat (TrenAsia, 12/02/2024). Meskipun ekonomi AS tetap lebih dominan secara nominal, Tiongkok terus berkembang dan memperkuat pengaruhnya di tingkat global. Kebijakan tarif yang baru oleh AS dan balasan dari Tiongkok menghadirkan tantangan tambahan bagi hubungan dagang kedua negara ini, sekaligus memengaruhi stabilitas rantai pasokan global.

Jika konflik dagang ini tidak terkendali dan berkembang menjadi konflik militer, maka baik Amerika Serikat maupun Tiongkok akan memperlihatkan kecanggihan militer mereka. Kedua negara ini memiliki kekuatan militer yang sangat besar, namun dengan fokus dan keahlian yang berbeda. Militer AS dikenal sebagai salah satu yang terkuat di dunia, dengan anggaran pertahanan terbesar, sekitar $916 miliar pada 2023 (Databoks, 23/04/2024).

Mereka memiliki teknologi canggih seperti pesawat siluman, kapal induk dengan kemampuan peluncuran elektromagnetik, dan sistem pertahanan rudal canggih seperti THAAD (IDX Channel, 22/04/2024). Keahlian dalam perang siber dan peperangan elektronik juga memberi AS keunggulan dalam melumpuhkan infrastruktur musuh secara efektif. Di sisi lain, Tiongkok, dengan anggaran militer sekitar $296 miliar pada 2023 (GoodStats, 02/01/2025), memiliki kekuatan militer yang semakin modern, dengan fokus pada senjata jarak jauh seperti rudal hipersonik yang dapat mengancam kapal induk AS di kawasan Indo-Pasifik (Kontan, 15/04/2025).

Rudal hipersonik Tiongkok dapat terbang dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan sangat sulit dideteksi (TribunNews, 06/04/2025). Tiongkok juga memiliki kekuatan pertahanan cyber yang semakin kuat, serta kemampuan dalam peperangan elektronik yang terus berkembang. Jika perang ini benar-benar terjadi, kedua negara akan menunjukkan kecanggihan teknologi dan kekuatan militer mereka dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Laporan Pentagon mengungkapkan bahwa Tiongkok memiliki kemampuan militer canggih, termasuk rudal hipersonik seperti DF-17, yang dapat menghancurkan seluruh armada kapal induk AS dalam waktu singkat. Rudal ini dirancang dengan kecepatan tinggi dan presisi, menjadi ancaman signifikan bagi kekuatan militer AS di kawasan Indo-Pasifik (Kontan, 15/04/2025). Teknologi rudal hipersonik tersebut menjadi salah satu faktor keunggulan strategis Tiongkok dalam menghadapi proyeksi kekuatan militer global (TribunNews, 06/04/2025).

Jika konflik ini berakhir dengan kerugian besar bagi kedua negara, dunia berpotensi akan menyaksikan munculnya kekuatan baru, yakni Islam. Uniknya, kekuatan Islam ini sangat khas, dengan ideologi yang berbeda baik dari Amerika maupun Tiongkok. A New Caliphate yang dikhawatirkan oleh NIC yang berpotensi bangkit akan menawarkan sistem politik dan ekonomi yang berbeda dari tatanan global sebelumnya. Sistem ekonomi Islam menawarkan dua keunggulan utama: sistem moneter berbasis emas dan perak yang stabil, serta fokus pada sektor riil dengan larangan riba serta pajak yang zalim (CPS Global, 2025).

Dalam sejarah, istilah Pax Vacuum Power dapat digunakan untuk menggambarkan situasi di mana kekosongan kekuasaan (power vacuum) terjadi setelah runtuhnya kekuatan dominan yang sebelumnya menjaga stabilitas global. Kekosongan ini sering kali memicu konflik baru atau perebutan kekuasaan oleh berbagai pihak. Dalam konteks modern, jika kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok mengalami keruntuhan atau melemah secara signifikan, dunia mungkin akan menyaksikan kebangkitan Islam sebagai kekuatan global yang menawarkan tatanan baru berdasarkan nilai-nilai Islam (CPS Global, 2025).

Istilah Pax Islamica merujuk pada periode perdamaian dan stabilitas yang dipimpin oleh peradaban Islam, seperti yang muncul setelah masa kejayaan Persia dan Romawi. Pada periode ini, dunia Islam berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan budaya, membawa kemajuan besar bagi umat manusia. Masa ini sangat menonjol selama era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, ketika peradaban Islam menjadi mercusuar kemajuan dunia.

Pax Islamica tidak hanya memberikan kontribusi dalam aspek ekonomi dan politik, tetapi juga dalam ranah pendidikan, seni, dan pemikiran, yang membentuk dunia modern seperti yang kita kenal sekarang (Lapidus, 2002). Jika kebangkitan Islam terjadi kembali di masa depan, dunia akan menyaksikan sebuah tatanan global baru yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan kemakmuran sejati.

Sebagai dasar spiritual untuk memahami siklus kejayaan dan keruntuhan suatu peradaban, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan Kami pergilirkan di antara manusia (kemenangan dan kekalahan) supaya Allah mengetahui siapa yang beriman dan siapa yang sabar.” (QS. Ali Imran: 140). Ayat ini menjelaskan bahwa peradaban memiliki sunatullah, mengalami siklus pergantian dari satu kekuasaan lain ke kekuasaan lainnya.

Dalam konteks sejarah Islam, Hadis Rasulullah ﷺ memberikan kerangka yang lebih terstruktur tentang lima fase kepemimpinan umat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Nubuwwah ada pada kalian sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian khalifah di atas manhaj nubuwwah sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerajaan yang menggigit sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian kerajaan yang diktator sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian Khalifah di atas Manhaj Nubuwwah. Kemudian beliau diam.” (HR Ahmad, Hadis Hasan).

Uraian ini memberikan gambaran jelas bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang—sebagai kebangkitan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah—dapat membawa stabilitas dan kemakmuran seperti yang terjadi pada Pax Islamica sebelumnya. Seperti dalam hadis tersebut, fase terakhir ini memberikan harapan akan adanya sistem kepemimpinan berbasis kenabian yang membawa keadilan global. Dengan nilai-nilai yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Kaum Muslimin memiliki tugas berupa beban peradaban yang mulia dalam menjalankan dakwah politik yang berdasarkan ajaran Rasulullah ﷺ, karena kaum muslimin meyakini bahwa hanya Islamlah yang akan bisa memperbaiki kerusakan bumi akibat Komunisme dan Kapitalisme.

Kaum Muslimin yang istiqomah dalam menjalankan dakwah politik ini akan menjadi pemimpin dunia yang membawa perubahan besar. Mereka tidak hanya dituntut untuk sabar dan tekun dalam perjuangan, tetapi juga untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam yang menekankan keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian bagi seluruh umat manusia. Sistem Islam yang ditegakkan melalui kepemimpinan Islam bukan hanya berfungsi sebagai solusi bagi masalah umat Islam, tetapi juga sebagai cahaya bagi dunia yang membutuhkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana.[]

Pax Islamica Read More »