
Sunashadi, INSPIRASI – Berpikir sering dianggap sebagai kegiatan yang otomatis. Banyak orang merasa bahwa selama manusia punya otak, maka ia pasti bisa berpikir dengan benar. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Berpikir yang benar memerlukan syarat, bahan, dan proses. Dalam hal ini, berpikir sangat mirip dengan memasak. Orang yang memasak tanpa bahan yang baik akan menghasilkan masakan yang buruk. Begitu pula orang yang berpikir tanpa fakta yang benar dan informasi yang sahih akan mudah menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Perumpamaan ini penting karena membuat kita sadar bahwa salah paham, prasangka, dan kesimpulan yang salah sering lahir bukan semata-mata karena orang tidak cerdas, melainkan karena ada cacat pada syarat berpikir, bahan berpikir, atau cara mengolahnya. Ada yang melihat setengah, lalu menyimpulkan seluruhnya. Ada yang mendengar sepotong, lalu merasa sudah tahu semuanya. Ada pula yang memakai informasi lama, palsu, atau tidak relevan, lalu menghubungkannya dengan fakta baru. Hasilnya tentu seperti masakan yang dibuat dari bahan basi: bentuknya mungkin tetap terlihat seperti makanan, tetapi mutunya buruk.
Pertama-tama, berpikir mempersyaratkan syarat internal dan syarat eksternal. Syarat internal ialah otak dan indera yang sehat. Indera menangkap kenyataan dari luar, sedangkan otak mengolahnya. Jika mata keliru melihat, telinga keliru mendengar, atau otak terganggu dalam menghubungkan makna, maka hasil berpikir bisa melenceng. Ini seperti juru masak yang penglihatannya kabur atau penciumannya terganggu: ia bisa salah membedakan gula dengan garam, atau tidak sadar bahwa bahan yang dipakai sudah rusak.
Syarat eksternal ialah adanya obyek yang terindera, dan adanya informasi sahih sebelumnya yang berkaitan dengan obyek itu. Mengapa informasi sebelumnya penting? Karena otak tidak bekerja dalam ruang kosong. Ketika seseorang melihat sesuatu, ia tidak hanya melihat, tetapi juga memaknai. Makna itu lahir dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, dua orang bisa melihat obyek yang sama, tetapi memberi kesimpulan berbeda, sebab bekal informasi mereka tidak sama.
Contoh sederhana: seorang anak kecil melihat kompor menyala. Ia melihat cahaya api yang indah. Tetapi orang dewasa melihatnya sekaligus memahami bahwa api itu panas dan bisa membakar. Perbedaannya bukan pada obyeknya, melainkan pada informasi sebelumnya yang dimiliki masing-masing. Anak kecil hanya melihat cahaya; orang dewasa melihat cahaya dan tahu bahayanya. Dalam berpikir, pengetahuan lama yang sahih berfungsi seperti resep dalam memasak. Resep itulah yang menuntun bahan-bahan agar tidak asal dicampur.
Di sinilah letak poin kedua: kualitas berpikir ditentukan oleh kualitas bahan-bahannya, sebagaimana kualitas masakan ditentukan oleh kualitas bahan masakannya. Dalam berpikir, bahannya adalah fakta yang tertangkap indera dan informasi sebelumnya yang dipakai untuk menafsirkan fakta itu. Bila faktanya keliru, kesimpulannya akan keliru. Bila informasi sebelumnya palsu, kesimpulannya pun akan salah. Bila keduanya buruk, maka lahirlah kekacauan.
Kisah Musa kecil di istana Firaun adalah contoh yang sangat menarik untuk memahami hal ini. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Musa bayi dihanyutkan ke sungai, lalu dipungut keluarga Firaun. Dalam kisah masyhur dalam literatur tafsir, Musa kecil diceritakan memegang jenggot Firaun. Firaun marah dan curiga bahwa anak ini kelak berbahaya. Asiyah membela Musa dan menyatakan bahwa Musa masih kecil, belum mengerti apa-apa.
Untuk menguji hal itu, dihadirkan dua pilihan: perhiasan dan bara api. Riwayat tersebut menyebut Musa justru mengambil bara api, lalu bara itu menyentuh mulut atau lidahnya. Dari sini sering dikaitkan penjelasan tentang kekakuan lisannya. Pelajarannya jelas: Firaun hampir mengambil kesimpulan besar hanya dari satu gejala kecil, sedangkan Asiyah meminta pengujian tambahan. Jadi, perkara besar tidak boleh diputuskan dari data yang belum cukup.
Contoh serupa tampak pada kisah Nabi Ibrahim ketika mengamati bintang, bulan, dan matahari. Ia tidak berhenti pada rasa takjub, melainkan menguji apa yang dilihatnya. Ketika semuanya tenggelam, ia menyimpulkan bahwa yang berubah dan lenyap tidak layak menjadi Tuhan. Ini menunjukkan bahwa berpikir yang benar tidak berhenti pada penampakan luar, tetapi bergerak dari pengamatan menuju penilaian yang matang.
Ada pula kisah Ratu Balqis ketika menerima kabar dari hudhud pada masa Nabi Sulaiman. Ia tidak tergesa-gesa. Ia menimbang berita, bermusyawarah, dan membaca keadaan dengan hati-hati. Ia tidak menolak mentah-mentah, tetapi juga tidak menerima mentah-mentah. Ini contoh bahwa berpikir yang baik memerlukan kehati-hatian, bukan sekadar keberanian mengambil keputusan.
Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian. Seseorang melihat tetangganya jarang keluar rumah, lalu menyimpulkan ia sombong. Padahal bisa jadi ia sedang sakit atau bekerja dari rumah. Seorang murid mendengar gurunya berbicara keras, lalu mengira gurunya membencinya. Padahal mungkin guru itu sedang menegaskan aturan untuk seluruh kelas. Di sini indera hanya menangkap sebagian fakta, tetapi otak keburu menambahkan prasangka.
Di sinilah poin ketiga menjadi jelas: berpikir adalah proses pencerapan fakta melalui panca indera, diteruskan ke otak, lalu dikaitkan dengan informasi sebelumnya yang sahih tentang obyek yang dicerap, kemudian diambil kesimpulan. Urutan ini penting. Berpikir yang sehat tidak melompat langsung ke kesimpulan.
Bayangkan seseorang mencium bau hangus dari dapur. Hidungnya menangkap fakta: ada aroma terbakar. Fakta itu lalu diteruskan ke otak. Otak menghubungkannya dengan informasi sebelumnya: mungkin nasi gosong, mungkin plastik meleleh, mungkin kabel terbakar. Setelah itu, ia memeriksa lebih lanjut dengan mata. Ternyata benar, wajan dibiarkan terlalu lama di atas api. Inilah berpikir yang tertib.
Persis seperti memasak, bahan yang baik saja belum cukup; harus ada proses yang benar. Beras harus dicuci, air harus ditakar, api harus diatur. Kalau semua bahan bagus tetapi cara mengolahnya salah, hasilnya tetap gagal. Dalam berpikir pun demikian. Seseorang bisa punya mata yang sehat, telinga yang tajam, dan banyak informasi. Namun jika ia tergesa-gesa atau suka memelintir fakta, maka hasil pikirannya tetap rusak.
Karena itu, orang yang ingin berpikir baik harus menjaga tiga hal sekaligus: alat tangkapnya, bahan berpikirnya, dan cara mengolahnya. Ia harus belajar teliti, mencari informasi yang sahih, dan tidak memaksakan kesimpulan sebelum datanya cukup.
Maka benar bahwa berpikir itu laksana memasak. Ia memerlukan syarat internal berupa otak dan indera yang sehat. Ia memerlukan syarat eksternal berupa obyek yang dapat dicerap dan informasi sahih sebelumnya. Kualitasnya ditentukan oleh kualitas bahan-bahannya. Prosesnya berlangsung bertahap: menangkap fakta, menghubungkannya dengan pengetahuan yang benar, lalu menarik kesimpulan yang layak.
Dengan memahami hal ini, kita belajar untuk tidak mudah kagum pada kesimpulan yang cepat dan tidak mudah percaya pada ucapan yang terdengar meyakinkan. Kesimpulan yang baik bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling benar bahan dan prosesnya. Sebagaimana masakan yang baik dinilai dari mutu bahan dan cara memasaknya, demikian pula pikiran yang baik lahir dari fakta yang benar, informasi yang sahih, dan proses yang jernih.[]
