
sunashadi.com, SCIENTIST – John Douglas Cockcroft lahir pada 27 Mei 1897 di Todmorden, Yorkshire, Inggris. Ayahnya memiliki pabrik kapas, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga yang penuh perhatian. Sejak kecil, John sudah tertarik pada mesin air dan mesin uap di sekitar pabrik kapas. Ketertarikan ini menjadi pintu awal perjalanannya menuju dunia sains.
Ia bersekolah di Walsden Church of England School, lalu melanjutkan ke Todmorden Elementary dan Todmorden Secondary School. Pada usia 17 tahun, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Manchester. Kesempatan ini mengubah hidupnya secara besar.
Perang Dunia dan Pendidikan Tinggi
Ketika Perang Dunia I meletus, Cockcroft baru saja lulus sekolah. Ia sempat kuliah setahun dan mengikuti kuliah fisika dari Ernest Rutherford, ilmuwan terkenal saat itu. Namun, pada 1915 ia memutuskan menjadi tentara di usia 18 tahun.
Ia bertugas sebagai signaler di pasukan artileri. Cockcroft ikut dalam Pertempuran Passchendaele, salah satu pertempuran paling mematikan. Meski penuh bahaya, ia dua kali disebut dalam laporan resmi karena keberaniannya.
Setelah perang berakhir, ia kembali ke dunia akademik. Ia menempuh pendidikan teknik listrik di Manchester Municipal College of Technology dan lulus dengan predikat terbaik pada 1920.
Dari Insinyur ke Dunia Fisika
Cockcroft bekerja sebagai insinyur magang di perusahaan Metropolitan-Vickers. Di sana ia meneliti gelombang arus listrik bersama profesornya, Miles Walker. Hasil riset itu memberinya gelar master.
Namun, Walker melihat potensi lebih besar pada Cockcroft. Ia menyarankan John untuk melanjutkan studi matematika di Universitas Cambridge. Dengan dukungan beasiswa dan bantuan keluarganya, ia berhasil meraih gelar sarjana matematika pada 1924.
Bertemu Rutherford dan Riset Besar
Pada 1928, Cockcroft menyelesaikan gelar PhD di bawah bimbingan Ernest Rutherford di Cavendish Laboratory. Rutherford adalah salah satu ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah fisika. Bimbingan ini memperkuat minat Cockcroft pada riset nuklir.
Cockcroft kemudian membaca makalah ilmuwan Rusia, George Gamow, tentang quantum tunneling. Istilah ini menjelaskan bagaimana partikel bisa menembus penghalang energi meski tidak cukup kuat. Konsep ini mendorong Cockcroft untuk melakukan eksperimen baru.
Kolaborasi dengan Ernest Walton
Saat itu, Ernest Walton, ilmuwan muda dari Irlandia, juga meneliti partikel. Rutherford menyarankan mereka bekerja sama. Dengan dana terbatas, keduanya membangun akselerator partikel dari barang bekas.
Meski terlihat sederhana, alat itu mampu mengubah listrik bertegangan rendah menjadi tegangan tinggi. Proses ini mempercepat proton hingga memiliki energi cukup besar untuk menabrak inti atom.
Pemecahan Atom Pertama
Pada 14 April 1932, Walton berhasil mempercepat proton hingga menabrak atom litium. Hasilnya mengejutkan, inti litium terbelah menjadi partikel helium. Inilah pertama kalinya manusia berhasil memecah inti atom secara buatan.
Eksperimen ini bukan hanya pencapaian teknis. Hasilnya juga membuktikan kebenaran rumus terkenal Einstein, E = mc², yang menyatakan massa dapat berubah menjadi energi. Penemuan ini mengubah cara manusia memahami energi di dalam inti atom.
Dampak Besar Penemuan
Setelah itu, Cockcroft dan Walton terus meneliti. Mereka melakukan eksperimen dengan karbon, nitrogen, dan oksigen. Dari eksperimen ini, mereka menghasilkan isotop radioaktif baru yang kemudian bermanfaat di bidang kedokteran.
Pada 1951, keduanya menerima Hadiah Nobel Fisika atas karya perintis mereka. Penghargaan ini menjadi pengakuan dunia terhadap riset pemecahan atom pertama.
Karier Setelah Nobel
Selain penelitian, Cockcroft menjadi dosen fisika di Cambridge. Pada 1939, ia diangkat menjadi profesor filsafat alam. Selama Perang Dunia II, ia berkontribusi pada riset radar yang sangat penting bagi pertahanan Inggris.
Setelah perang, ia memimpin Atomic Energy Research Establishment (AERE) di Harwell pada 1946. Lembaga ini berperan dalam riset energi nuklir Inggris. Pada 1959, ia diangkat sebagai Master pertama Churchill College, Cambridge.
Kehidupan Pribadi dan Penghargaan
Pada 1925, Cockcroft menikah dengan Eunice Elizabeth Crabtree, teman masa mudanya. Mereka memiliki lima anak setelah kehilangan anak pertama di usia dua tahun. Cockcroft dikenal sebagai sosok tenang, penyuka musik, dan arsitektur.
Ia menerima banyak penghargaan internasional, termasuk gelar kebangsawanan pada 1948 dan Medali Kebebasan dari Amerika Serikat. Penghargaan ini mencerminkan pengaruh besar karyanya di dunia.
Akhir Hayat dan Warisan Ilmiah yang Hidup
Sir John Cockcroft wafat pada 18 September 1967 karena serangan jantung di Cambridge. Ia meninggalkan warisan besar bagi ilmu pengetahuan dan dunia. Tanpa penemuan awalnya, riset nuklir mungkin tidak akan berkembang secepat itu.
Penemuan Cockcroft dan Walton membuka jalan bagi riset energi nuklir. Selain itu, teknologi akselerator partikel kini digunakan dalam banyak bidang, mulai dari kedokteran hingga riset fundamental.
Karena itu, kisah hidup Cockcroft tidak hanya tentang sains, tetapi juga tentang keberanian untuk mencoba hal baru. Dari barang bekas dan ide sederhana, ia berhasil mengubah arah sejarah sains modern.[]
