Erwin Chargaff: Ilmuwan yang Menemukan Kunci Rahasia DNA

sunashadi.comSCIENTIST – Erwin Chargaff lahir pada 11 Agustus 1905 di Czernowitz, Austria-Hongaria. Kini, wilayah itu masuk Ukraina. Ia berasal dari keluarga Yahudi Austria yang berpendidikan. Ayahnya, Hermann, memiliki bank kecil, sementara ibunya bernama Rosa Silberstein.

Masa kecilnya berjalan nyaman meski sempat terlambat berbicara. Rumah mereka penuh dengan buku, yang menjadi dunia kecil penuh inspirasi bagi Erwin. Namun, ketika Erwin berusia lima tahun, bank ayahnya jatuh karena kecurangan pegawai. Sejak itu keluarga Chargaff harus berjuang lebih keras.

Perang Dunia I mengubah segalanya. Saat liburan di tepi Laut Baltik, mereka mendengar kabar bahwa Rusia akan menduduki kota mereka. Karena itu, mereka pindah ke Wina dan menetap di sana.

Pendidikan dan Dunia Sastra

Di Wina, Erwin masuk Maximiliansgymnasium, salah satu sekolah terbaik. Ia belajar bahasa Yunani dan Latin, bahkan kelak menguasai hingga 15 bahasa. Meskipun sekolah tidak mengajarkan kimia, rasa ingin tahunya besar. Ia membaca banyak literatur klasik dan sering menghadiri opera.

Selain itu, Erwin gemar berdiskusi sastra bersama temannya. Ia mengagumi karya Karl Kraus, penulis satir terkenal. Kecintaannya pada sastra tidak pernah hilang sepanjang hidup. Hal ini membuatnya dikenal sebagai ilmuwan dengan jiwa humanis yang mendalam.

Pilihan Karier di Dunia Kimia

Saat berusia 18 tahun, Erwin bingung menentukan jurusan kuliah. Ia tidak ingin jadi dokter atau pengacara. Akhirnya ia memilih kimia, meski awalnya hampir tidak tahu apa-apa tentang bidang itu. Alasannya sederhana, ia ingin mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Erwin menempuh kuliah di Universitas Wina dan meraih gelar doktor kimia pada usia 23 tahun. Disertasinya membahas senyawa perak organik. Walau awalnya kurang menyukai kimia, ia akhirnya jatuh cinta pada penelitian ilmiah.

Petualangan ke Amerika dan Eropa

Tahun 1928, Erwin mendapat beasiswa riset di Yale University, Amerika Serikat. Namun, ia sempat ditahan di Ellis Island karena dianggap mencurigakan. Beruntung, profesor Yale menolongnya sehingga ia bisa melanjutkan riset.

Di Yale, ia menemukan asam lemak bercabang dan meneliti bakteri tuberkulosis. Namun, hidup di Amerika terasa suram, sehingga ia kembali ke Eropa pada 1930. Ia sempat meneliti di Berlin, lalu pindah ke Paris ketika Hitler berkuasa.

Kembali ke Amerika dan Fokus pada Darah

Pada 1935, Erwin kembali ke Amerika dan bekerja di Universitas Columbia. Selama lebih dari satu dekade, ia meneliti pembekuan darah. Namun, pada 1944, ia membaca hasil eksperimen Oswald Avery yang menyatakan bahwa DNA adalah materi genetik.

Karena itu, ia langsung menghentikan semua penelitiannya tentang darah. Ia memutuskan mengabdikan seluruh waktunya untuk mempelajari DNA. Keputusan itu menjadi titik balik besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Penemuan Aturan Chargaff

Erwin menemukan bahwa DNA terdiri atas empat basa nitrogen: adenina (A), timina (T), sitosina (C), dan guanina (G). Tahun 1949, ia membuktikan bahwa komposisi basa berbeda pada setiap spesies. Temuan ini membantah anggapan lama bahwa DNA tidak mungkin menjadi materi genetik.

Selain itu, ia menemukan pola penting yang kini dikenal sebagai Aturan Chargaff. Ia membuktikan bahwa jumlah A selalu sama dengan T, dan jumlah C selalu sama dengan G. Temuan sederhana ini membuka jalan bagi penemuan struktur heliks ganda DNA.

Hubungan dengan Watson dan Crick

Pada 1952, Erwin bertemu James Watson dan Francis Crick di Cambridge. Ia membicarakan temuannya tentang perbandingan basa. Crick sangat antusias karena langsung menyadari bahwa basa DNA saling berpasangan.

Namun, Erwin menilai Watson dan Crick tidak mengesankan. Ia bahkan menganggap mereka terlalu ambisius. Ternyata, kurang dari setahun kemudian, Watson dan Crick berhasil memecahkan struktur heliks ganda DNA. Mereka menyebut karya Erwin, tetapi tidak memberi penghargaan yang layak.

Kekecewaan dan Penolakan Nobel

Ketika Watson, Crick, dan Maurice Wilkins mendapat Nobel tahun 1962, Erwin merasa kecewa. Penelitiannya yang sangat penting justru diabaikan. Ia meyakini pandangannya yang keras membuatnya dijauhi oleh komite Nobel.

Di sisi lain, Erwin semakin kritis terhadap arah ilmu biologi molekuler. Ia menolak praktik rekayasa genetika, cloning, dan manipulasi gen. Baginya, ilmu tidak boleh digunakan tanpa batas moral.

Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat

Erwin menikah dengan Vera Broido pada 1929 dan memiliki seorang putra, Thomas. Tragedi menghantam hidupnya ketika ibunya dideportasi oleh Nazi pada 1943 dan tidak pernah kembali. Luka itu membekas sepanjang hidupnya.

Walau begitu, Erwin tetap produktif. Ia menulis lebih dari 500 publikasi ilmiah. Setelah pensiun dari Columbia pada 1974, ia tetap meneliti hingga usia lanjut.

Pada 2002, Erwin Chargaff wafat di New York pada usia 96 tahun. Ia dimakamkan di Mount Carmel Cemetery bersama istri dan saudara perempuannya. Hingga akhir hayat, ia dikenal sebagai ilmuwan yang tajam, kritis, dan penuh semangat intelektual.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *