
sunashadi.com, SCIENTIST – Anders Celsius lahir di Uppsala, Swedia, pada tahun 1701. Ia tumbuh dalam keluarga akademis yang taat. Ayahnya, Nils Celsius, adalah profesor astronomi. Karena itu, Anders kecil sudah akrab dengan dunia sains sejak dini.
Sejak masa kecil, Anders menunjukkan bakat luar biasa dalam matematika. Bakat ini membuat gurunya terkesan. Ia menempuh pendidikan di Uppsala, kota kelahirannya. Di universitas yang sama, ia akhirnya menjadi profesor astronomi pada tahun 1730.
Selain itu, kecintaannya pada ilmu pengetahuan mendorongnya berkelana. Ia tak hanya belajar teori, tetapi juga turun langsung melakukan penelitian. Perjalanan hidupnya penuh dengan semangat untuk membuktikan kebenaran ilmiah.
Petualangan Ilmiah ke Lapland
Antara 1732 hingga 1734, Celsius mengunjungi banyak observatorium terkenal di Eropa. Tujuannya sederhana: memperluas wawasan dan mencari inspirasi. Di sisi lain, saat itu ada perdebatan besar. Astronom Inggris dan Prancis berdebat soal bentuk bumi.
Untuk menjawab perdebatan ini, tim ilmuwan dikirim ke berbagai tempat. Anders Celsius ikut serta dalam ekspedisi ke Lapland, wilayah paling utara Swedia. Ia bergabung dengan Pierre Louis de Maupertuis sebagai asistennya.
Ekspedisi itu berlangsung dari 1736 hingga 1737. Hasil pengukuran mereka akhirnya membuktikan teori Newton. Bumi ternyata agak pepat di kutub. Kesimpulan ini baru benar-benar dikukuhkan pada 1744, setelah data lengkap dikaji.
Namun, perjalanan itu bukan sekadar petualangan. Celsius belajar banyak tentang cara kerja ilmuwan Eropa. Ia juga semakin yakin bahwa Swedia butuh observatorium modern.
Penemuan Skala Celsius
Sekembalinya ke Uppsala, Celsius mulai merancang skala suhu baru. Ia membangun Observatorium Astronomi Uppsala pada 1740, yang menjadi pusat penelitian. Dari sini lahir gagasan tentang pembagian suhu dengan lebih akurat.
Awalnya, Celsius mendefinisikan skala dengan titik beku air di angka 100. Sementara titik didih air berada di angka 0. Namun, skala ini kemudian dibalik menjadi seperti yang kita kenal sekarang.
Karena itu, titik beku air kini berada di angka 0 derajat. Sedangkan titik didih air ada di angka 100 derajat. Skala ini lebih sederhana dibanding skala Fahrenheit maupun Réaumur.
Selain itu, Celsius memastikan kondisi pengukuran selalu konsisten. Ia menekankan penggunaan tekanan udara tetap, yaitu 760 mmHg. Dengan cara itu, hasil pengukuran menjadi lebih presisi.
Tak heran, skala Celsius cepat diadopsi. Hingga kini, skala itu menjadi standar suhu di hampir seluruh dunia.
Warisan Ilmiah yang Abadi
Celsius tidak hanya dikenal karena skala suhu. Ia juga meneliti aurora borealis, atau cahaya utara. Ia menjadi orang pertama yang menganalisis perubahan medan magnet bumi saat fenomena itu terjadi.
Selain itu, ia mengukur kecerahan bintang dengan alat. Metode ini sangat maju untuk masanya. Hasil pengukuran membantu generasi astronom berikutnya memahami jagat raya.
Anders Celsius juga mengagumi kalender Gregorian. Kalender ini akhirnya diadopsi Swedia pada 1753, sembilan tahun setelah ia wafat.
Sayangnya, hidupnya tidak panjang. Pada tahun 1744, ia meninggal dunia karena penyakit tuberkulosis. Meski begitu, namanya abadi lewat satuan “derajat Celsius”.
Di sisi lain, penemuan skala suhu itu bukan sekadar teori. Ia membuktikan bagaimana sains mampu memudahkan kehidupan sehari-hari. Dari memasak hingga penelitian, semua terbantu oleh temuannya.
Anders Celsius adalah bukti nyata bahwa semangat belajar bisa mengubah dunia. Ia tidak hanya cerdas, tetapi juga berani menantang pendapat umum. Dari pengukuran bumi hingga skala suhu, ia memberi kontribusi besar bagi sains.
Selain itu, kisahnya mengajarkan pentingnya konsistensi dalam penelitian. Ia teliti, disiplin, dan selalu ingin memastikan hasil ilmiah akurat.
Hari ini, setiap kali kita menyebut suhu 30 derajat Celsius, kita sebenarnya menyebut namanya. Sebuah penghormatan bagi ilmuwan jenius dari Swedia.[]
