
sunashadi.com, SCIENTIST – Santiago Ramón y Cajal dikenal sebagai bapak neurosains modern. Ia lahir di Spanyol pada 1 Mei 1852. Sejak kecil, ia dikenal nakal dan sulit diatur. Namun, di balik itu ia memiliki bakat besar dalam seni menggambar.
Selain itu, masa kecilnya dipenuhi dengan pindah sekolah karena sikapnya yang sulit diatur. Ayahnya, Justo Ramón, seorang profesor anatomi, bahkan sempat memaksanya magang menjadi tukang cukur dan tukang sepatu. Namun, usaha itu tidak berhasil karena Cajal sangat keras kepala.
Di sisi lain, hobinya menggambar membuat ayahnya mencari cara agar minat itu bisa bermanfaat. Suatu hari, ayahnya mengajaknya menggambar tulang dari kuburan. Cara itu berhasil menumbuhkan minat Cajal pada anatomi dan akhirnya membawanya ke dunia medis.
Perjalanan Pendidikan dan Awal Karier
Pada tahun 1868, Cajal masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Zaragoza. Di sana, ia berkembang pesat dalam bidang anatomi. Ia bahkan menjadi asisten pengajar diseksi saat masih mahasiswa. Karena kerja kerasnya, ia lulus di usia 21 tahun sebagai salah satu mahasiswa terbaik.
Namun, hidup tidak selalu mudah. Setelah lulus, ia wajib masuk tentara Spanyol. Ia sempat dikirim ke Kuba saat perang kemerdekaan berlangsung. Di sana, ia jatuh sakit karena malaria dan disentri. Penyakit itu hampir merenggut nyawanya.
Karena itu, ia kembali ke Spanyol untuk pemulihan. Di rumah, keluarganya merawatnya hingga ia pulih. Setelah sehat, ia kembali menekuni dunia akademik. Pada 1877, ia meraih gelar doktor dan mulai mengajar di Universitas Zaragoza.
Penemuan Penting dalam Neurosains
Cajal awalnya meneliti peradangan, kolera, dan jaringan tubuh. Namun, titik balik datang saat ia mempelajari metode pewarnaan saraf dari ilmuwan Italia, Camillo Golgi. Metode ini menggunakan bahan kimia agar sel saraf terlihat jelas di bawah mikroskop.
Metode Golgi hanya bisa menampilkan sekitar 5% sel saraf. Namun, Cajal tidak menyerah. Ia mengembangkan teknik baru dengan bahan lebih pekat dan potongan jaringan lebih tebal. Dengan cara itu, ia berhasil melihat jauh lebih banyak sel saraf.
Penemuan ini membuatnya mampu membuktikan “doktrin neuron.” Doktrin ini menjelaskan bahwa saraf terdiri dari sel-sel terpisah, bukan jaringan yang menyatu. Hal ini sangat penting karena menjadi dasar seluruh ilmu neurosains modern.
Nobel Prize dan Persaingan dengan Golgi
Pada 1906, Cajal dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi/Kedokteran. Menariknya, ia harus berbagi dengan Golgi, orang yang berbeda pandangan dengannya. Golgi percaya saraf adalah jaringan tunggal, sedangkan Cajal membuktikan bahwa saraf adalah sel individu.
Namun, bukti yang dimiliki Cajal jauh lebih kuat. Karena itu, teori neuron miliknya akhirnya diterima luas oleh dunia ilmiah. Meski bersaing, ia tetap menghormati Golgi sebagai penemu metode yang membantunya menemukan kebenaran.
Penerimaan Nobel ini menegaskan posisi Cajal sebagai ilmuwan besar. Hingga kini, doktrin neuron tetap menjadi dasar penelitian otak manusia dan makhluk hidup lain.
Kehidupan Pribadi dan Hobi Fotografi
Selain menjadi ilmuwan, Cajal juga pecinta fotografi. Pada masa itu, orang harus berpose berlama-lama agar foto bisa jadi. Namun, Cajal menemukan cara agar proses itu hanya butuh beberapa detik. Sayangnya, Thomas Edison sudah lebih dulu mengembangkan teknologi serupa.
Walau begitu, hobinya membuat banyak foto dirinya masih tersimpan hingga sekarang. Foto-foto itu memperlihatkan sisi manusiawi seorang ilmuwan besar, baik di laboratorium maupun bersama keluarganya.
Cajal menikah dengan Silvería Fañanás García dan memiliki enam anak. Ia dikenal sebagai sosok ayah penyayang, meskipun sangat sibuk dengan penelitian. Kehangatan keluarganya menjadi penyeimbang dari kerasnya dunia ilmiah.
Akhir Kehidupan dan Warisan Ilmiah
Istrinya meninggal pada 1930, dan itu menjadi pukulan berat baginya. Empat tahun kemudian, pada 17 Oktober 1934, Cajal wafat di usia 82 tahun. Ia dimakamkan bersama istrinya di Madrid.
Namun, warisannya tidak pernah hilang. Semua peneliti otak modern masih menggunakan doktrin neuron yang ia temukan. Karena itu, namanya selalu disebut dalam sejarah sains.
Lebih dari sekadar ilmuwan, Cajal adalah simbol kegigihan. Dari anak nakal yang hampir gagal sekolah, ia berubah menjadi peraih Nobel yang mengubah pemahaman manusia tentang otak.[]
