Sir Macfarlane Burnet: Jenius Imunologi dari Australia

Frank Macfarlane Burnet lahir pada 3 September 1899 di Traralgon, Victoria, Australia. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara dan akrab dipanggil “Mac”. Ayahnya seorang manajer bank asal Skotlandia, sedangkan ibunya putri seorang guru. Sejak kecil, Mac lebih suka membaca daripada bermain olahraga. Ia tumbuh sebagai anak yang pemalu dan lebih senang menyendiri.

Pada usia 10 tahun, Mac pindah ke Terang karena pekerjaan ayahnya. Di sana, ia mulai mencintai alam dan bergabung dengan Pramuka. Selain itu, ia mengembangkan hobi unik, yaitu mengoleksi kumbang. Pengetahuannya tentang biologi awalnya hanya berasal dari ensiklopedia tua, namun rasa ingin tahunya membuatnya terus mencari buku-buku terbaru.

Pendidikan dan Jalan Menuju Sains

Mac mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan sekolah di Geelong College, sekolah elit di Victoria. Namun, ia tidak terlalu menikmati masa SMA karena teman-temannya kebanyakan anak kaya yang gemar olahraga. Di sisi lain, Mac memilih menyembunyikan hobinya mempelajari kumbang agar tidak diejek.

Pada 1917, Mac masuk Universitas Melbourne untuk belajar kedokteran. Meski bergabung dengan korps militer kampus saat Perang Dunia I, ia tidak menyukai perang. Setelah lulus sebagai dokter pada 1922, ia sempat ingin menjadi dokter rumah sakit. Namun, supervisornya melihat bakat besarnya ada di penelitian.

Karier Awal di Melbourne dan London

Pada 1923, Mac menjadi ahli patologi di Walter and Eliza Hall Institute di Melbourne. Dua tahun kemudian, ia pergi ke London untuk bekerja di Lister Institute. Di sana, ia meneliti mikroorganisme dan mendapatkan gelar Ph.D. pada 1928 berkat riset tentang bakteriofag, yaitu virus yang menyerang bakteri.

Setelah kembali ke Australia, ia menjadi asisten direktur di Walter and Eliza Hall Institute. Pada 1944, ia diangkat menjadi direktur dan juga profesor kedokteran eksperimental di Universitas Melbourne. Dari sinilah namanya mulai dikenal di dunia ilmiah.

Teori Toleransi Imunologi yang Mengubah Dunia

Salah satu penemuan terbesar Burnet adalah teori toleransi imunologi yang diperolehnya pada 1949. Ia bertanya-tanya bagaimana tubuh membedakan sel sendiri dan sel asing. Bersama Frank Fenner, ia menemukan bahwa jika sel asing dimasukkan ke embrio, maka saat dewasa, tubuh tidak akan menolak sel tersebut.

Penemuan ini membuka jalan bagi keberhasilan transplantasi organ. Teori tersebut terbukti pada 1956 melalui eksperimen Peter Medawar pada tikus. Karena itu, Burnet dan Medawar berbagi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 1960.

Teori Seleksi Klonal dan Memori Imun

Selain itu, Burnet mengembangkan teori seleksi klonal. Ia menjelaskan bahwa setiap sel limfosit memiliki reseptor khusus untuk melawan antigen tertentu. Ketika bertemu antigen yang cocok, sel ini akan membuat banyak klon untuk melawan infeksi.

Teori ini juga menjelaskan mengapa tubuh bisa memiliki memori imun, sehingga kebal terhadap penyakit yang pernah diderita. Konsep ini menjadi dasar imunologi molekuler modern dan melahirkan pengembangan antibodi monoklonal yang banyak digunakan dalam pengobatan.

Penemuan Lain yang Tak Kalah Penting

Burnet tidak hanya dikenal karena dua teorinya. Ia juga menemukan penyebab penyakit Q-fever dan psittacosis, mempelajari kombinasi virus influenza, hingga membuktikan bahwa virus myxomatosis tidak berbahaya bagi manusia. Selain itu, ia mengembangkan metode menumbuhkan virus di telur ayam yang masih dipakai hingga sekarang.

Sepanjang hidupnya, Burnet menerbitkan lebih dari 400 makalah penelitian. Ia juga menulis puluhan buku tentang virologi, imunologi, penuaan, dan genetika. Berbagai penghargaan bergengsi ia terima, termasuk gelar kebangsawanan dan penghargaan ilmiah internasional.

Pada 1960, ia dinobatkan sebagai “Australian of the Year” dan mendapat Copley Medal dari Royal Society London. Bahkan, ia diangkat menjadi Knight of the Order of Australia pada 1978.

Kehidupan Pribadi dan Masa Pensiun

Burnet menikah dengan Edith Linda Marston Druce pada 1928 dan dikaruniai tiga anak. Setelah istrinya meninggal pada 1973, ia menikah lagi pada 1976. Meski resmi pensiun pada 1966, ia tetap aktif menulis dan meneliti. Dalam 11 tahun setelah pensiun, ia menerbitkan 13 buku.

Namun, Burnet juga dikenal sebagai sosok yang tegas dalam pandangan hidup. Ia adalah ateis, mendukung euthanasia, dan anti-rokok. Ia bahkan berhenti merokok sejak 1950-an.

Burnet meninggal dunia pada 31 Agustus 1985 akibat kanker usus besar, di usia 85 tahun. Pemerintah Australia mengadakan pemakaman kenegaraan untuknya. Ia dimakamkan di Tower Hill Cemetery, dekat cagar alam yang indah di Victoria.

Warisan Burnet tidak hanya dalam bentuk teori ilmiah, tetapi juga dalam dampaknya pada dunia kedokteran modern. Karena itu, namanya tetap dikenang sebagai salah satu ilmuwan terbesar abad ke-20.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *