
Pernahkah Anda membayangkan ada makhluk yang bisa masuk ke tubuh tanpa menimbulkan rasa sakit atau gatal? Inilah yang dilakukan oleh cacing parasit Schistosoma mansoni. Hewan kecil ini berkembang dengan kemampuan mematikan sinyal nyeri dan gatal di kulit manusia. Dengan cara itu, ia dapat masuk tanpa disadari.
Penemuan ini berasal dari riset yang diterbitkan di The Journal of Immunology pada 12 Agustus 2025 oleh American Association of Immunologists Inc. Para peneliti menemukan bahwa trik ini tidak hanya membantu parasit bertahan hidup, tetapi juga bisa membuka peluang untuk membuat obat pereda nyeri baru.
Selain itu, temuan ini dapat menjadi dasar untuk menciptakan krim pencegah infeksi yang dioleskan pada kulit. Jadi, penelitian ini bukan hanya tentang memahami parasit, tetapi juga tentang peluang besar di dunia kesehatan.
Di sisi lain, kemampuan ini menjelaskan mengapa infeksi cacing ini sering sulit terdeteksi. Banyak orang baru menyadarinya ketika sudah terlambat.
Bagaimana Parasit Ini Menghilangkan Rasa Sakit?
Infeksi Schistosoma mansoni terjadi saat seseorang bersentuhan dengan air yang mengandung larvanya. Aktivitas seperti berenang, mencuci, atau memancing bisa menjadi jalur masuk. Saat larva menembus kulit, kebanyakan parasit akan memicu rasa gatal atau nyeri. Namun, cacing ini berbeda.
Riset dari Tulane School of Medicine menunjukkan bahwa parasit ini mengurangi aktivitas protein bernama TRPV1+. Protein ini berperan mengirim sinyal panas, nyeri, atau gatal ke otak. Selain itu, TRPV1+ juga membantu mengatur respons imun tubuh terhadap infeksi, alergi, kanker, dan bahkan pertumbuhan rambut.
Karena protein ini dilemahkan, sinyal ke otak terblokir. Akibatnya, tubuh tidak memberi peringatan bahaya. Trik ini membuat parasit bisa menyusup tanpa perlawanan berarti dari sistem imun.
Di sisi lain, para ilmuwan menduga kemampuan ini adalah hasil evolusi panjang demi mempertahankan hidup parasit.
Dari Parasit Menjadi Sumber Inovasi Medis
Menurut Dr. De’Broski R. Herbert, profesor imunologi di Tulane School of Medicine, jika molekul penghambat TRPV1+ dari cacing ini bisa diidentifikasi, dunia medis dapat menemukan alternatif pengobatan nyeri non-opioid. Hal ini penting karena obat berbasis opioid sering menimbulkan efek samping dan risiko ketergantungan.
Selain itu, molekul tersebut berpotensi menjadi terapi untuk mengurangi peradangan pada penyakit tertentu. Bayangkan, dari parasit yang merugikan, kita justru bisa mendapatkan solusi untuk masalah kesehatan kronis.
Namun, ada tantangan. TRPV1+ ternyata penting untuk memulai perlindungan tubuh terhadap infeksi. Aktivasi TRPV1+ memanggil sel-sel imun seperti sel T gamma-delta, monosit, dan neutrofil. Sel-sel ini memicu peradangan yang membantu menolak masuknya larva.
Karena itu, memahami cara kerja molekul penghambat ini menjadi kunci agar manfaatnya bisa digunakan tanpa mengorbankan pertahanan tubuh.
Penelitian ini menggunakan tikus sebagai model percobaan. Para peneliti menilai sensitivitas nyeri dan peran TRPV1+ dalam mencegah infeksi. Hasilnya memberi gambaran jelas bahwa parasit ini memang “ahli” dalam penyamaran biologis.
Ke depan, para ilmuwan ingin menemukan sifat pasti molekul yang dihasilkan parasit ini, serta jenis sel T gamma-delta yang berperan. Pengetahuan ini bisa membuka jalan bagi pembuatan krim pelindung kulit yang mengaktifkan TRPV1+ untuk mencegah infeksi.
Mengapa Temuan Ini Sangat Penting?
Schistosomiasis, penyakit yang disebabkan cacing ini, adalah masalah kesehatan di banyak wilayah tropis. Penyakit ini sering tidak terdeteksi hingga sudah kronis. Dengan memahami cara parasit menghindari sistem imun, kita punya peluang lebih besar untuk mencegah dan mengobatinya.
Selain itu, penelitian ini mengajarkan bahwa inspirasi medis bisa datang dari tempat yang tidak terduga. Bahkan, dari makhluk kecil yang hidup di air kotor sekalipun.
Namun, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Hindari kontak langsung dengan air yang berpotensi terkontaminasi, terutama di daerah endemik. Edukasi masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi penyebaran penyakit ini.
Dengan penemuan ini, masa depan pengobatan nyeri dan perlindungan terhadap infeksi bisa berubah. Semua berawal dari rasa ingin tahu ilmuwan terhadap makhluk yang nyaris tak terlihat ini.[]
Sumber: The Journal of Immunology, 12 Agustus 2025, American Association of Immunologists Inc.
