Eduard Buchner, Membuktikan Fermentasi Tanpa Sel Hidup

Eduard Buchner lahir pada 20 Mei 1860 di kota Munich, Jerman. Ia tumbuh dalam keluarga terpelajar dan cukup berada. Ayahnya seorang dokter dan profesor ilmu forensik. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pejabat kerajaan.

Namun, hidupnya berubah drastis saat ayahnya meninggal karena stroke. Saat itu, Buchner baru berusia 12 tahun dan baru masuk sekolah menengah. Kehilangan ini tak membuatnya putus asa. Ia justru semakin tekun belajar.

Di sisi lain, kakaknya, Hans Buchner, menjadi ilmuwan bakteri yang cukup terkenal. Pengaruh sang kakak juga mendorong Eduard tertarik pada dunia sains dan penelitian.

Meniti Ilmu dengan Serius dan Tak Biasa

Setelah menyelesaikan tugas militer di usia 18 tahun, Buchner mulai menekuni ilmu pengetahuan dengan sangat serius. Ia kuliah di Universitas Ludwig Maximilian, sembari magang di laboratorium ahli kimia Emil Erlenmeyer.

Tak berhenti di situ, ia juga bekerja di pabrik selai dan mempelajari jamur di lembaga botani. Semua ini ia lakukan dalam waktu bersamaan. Karena itu, ia punya pengalaman luas, mulai dari kimia hingga biologi mikro.

Pada tahun 1884, Buchner mulai studi pascasarjana di bawah arahan Adolf von Baeyer. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan tulisan tentang pengaruh oksigen dalam fermentasi. Ini adalah awal dari karya besarnya.

Membuktikan Fermentasi Tanpa Sel Hidup

Buchner berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1888. Ia lalu menjadi dosen di berbagai universitas, termasuk di Kiel dan Tübingen. Di Tübingen inilah, ia mulai meneliti fermentasi alkohol tanpa sel hidup.

Penelitian ini sangat berbeda dari anggapan sebelumnya. Dulu, ilmuwan percaya bahwa hanya sel hidup seperti ragi yang bisa menyebabkan fermentasi. Namun, Buchner punya ide lain.

Ia mengekstrak cairan dari ragi mati, lalu mencampurnya dengan gula. Hasilnya mengejutkan: proses fermentasi tetap terjadi. Dari sinilah ia menyimpulkan bahwa zat kimia tertentu yang aktif—bukan sel hidup—yang menyebabkan fermentasi.

Penemuan Zymase dan Penghargaan Nobel

Buchner menamai zat aktif itu dengan “zymase”. Enzim ini, katanya, bisa mengubah gula menjadi alkohol tanpa bantuan sel hidup. Penemuan ini mengubah cara pandang ilmuwan terhadap proses biokimia.

Pada tahun 1903, Buchner dan tim menerbitkan buku Die Zymasegärung yang merangkum seluruh hasil penelitiannya. Ini menjadi landasan penting bagi ilmu biokimia modern.

Karena itu, pada tahun 1907, ia menerima Hadiah Nobel Kimia. Ia menjadi ilmuwan pertama yang membuktikan bahwa reaksi kimia dalam tubuh bisa terjadi di luar sel. Penemuannya membuka jalan bagi ilmu enzim dan metabolisme.

Dalam pidato Nobel-nya, ia menyebut sel sebagai pabrik kimia yang rumit. Enzim, kata Buchner, adalah pengawas di pabrik tersebut. Ia menunjukkan bahwa kehidupan bisa dijelaskan secara kimiawi.

Kehidupan Pribadi dan Akhir yang Tragis

Di balik kejeniusannya, Buchner juga seorang pria keluarga. Ia menikah dengan Lotte Stahl pada tahun 1900 dan memiliki empat anak. Sayangnya, anak bungsunya meninggal saat masih bayi.

Ketika Perang Dunia I meletus pada 1914, Buchner ikut serta sebagai mayor di unit logistik. Meski sempat dibebastugaskan untuk fokus pada akademik, ia kembali mendaftar saat Amerika ikut perang pada 1917.

Sayangnya, pada 11 Agustus 1917, ia terluka parah di Focsani, Rumania. Dua hari kemudian, pada usia 57 tahun, ia meninggal dunia karena luka tersebut. Ia dimakamkan di pemakaman militer Focsani.

Warisan Ilmiah yang Tetap Hidup

Penemuan Buchner telah mengubah arah ilmu biokimia selamanya. Ia membuktikan bahwa kehidupan tak selalu diperlukan untuk menjalankan proses kimia tubuh. Ini adalah pandangan yang revolusioner pada zamannya.

Selain itu, ia juga membuka jalan bagi penelitian tentang enzim dan metabolisme. Dunia sains menjadi lebih sadar bahwa tubuh kita bukan hanya kumpulan organ, tetapi juga laboratorium kimia mini.

Buchner mengajarkan kita pentingnya berpikir di luar batas. Ia tidak puas dengan jawaban umum, dan berani menguji hal yang tampak mustahil.

Dari Ragi Mati untuk Kehidupan yang Baru

Penemuan fermentasi tanpa sel hidup mungkin terdengar sederhana. Namun, itu adalah pintu masuk ke dunia biokimia yang sangat luas. Kita bisa memahami bagaimana tubuh memecah makanan, menyimpan energi, dan menjaga keseimbangan.

Kini, ilmu enzim dipakai di berbagai bidang. Mulai dari industri makanan, obat-obatan, hingga riset genetik. Semua berakar dari eksperimen sederhana yang dilakukan Buchner lebih dari 100 tahun lalu.

Karena itu, meski Buchner telah tiada, warisannya tetap hidup dalam setiap botol bir, roti, dan bahkan obat yang kita konsumsi.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *