
Kita semua tahu bahwa udara kotor buruk bagi paru-paru. Namun, tahukah kamu bahwa polusi udara juga bisa merusak otak? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa partikel halus di udara dapat meningkatkan risiko demensia. Ini adalah penyakit yang menyerang daya ingat dan fungsi otak secara perlahan, dan bisa berdampak besar bagi kualitas hidup seseorang.
Bahaya Tak Terlihat: PM2.5, Nitrogen Dioksida, dan Jelaga
Dalam studi yang melibatkan hampir 30 juta orang, para peneliti menemukan bahwa tiga jenis polutan berperan besar dalam meningkatkan risiko demensia. Pertama adalah PM2.5, partikel halus yang berasal dari kendaraan, industri, dan pembakaran kayu. Ukurannya sangat kecil, sehingga bisa masuk ke paru-paru lalu menembus ke otak. Kedua, nitrogen dioksida (NO₂), gas dari pembakaran bahan bakar, terutama dari knalpot kendaraan. Gas ini bisa memperparah gangguan pernapasan dan juga memengaruhi fungsi otak. Ketiga adalah jelaga, partikel hitam dari pembakaran yang dapat menyebabkan peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh.
Menurut studi yang dipublikasikan pada 24 Juli 2025 di The Lancet Planetary Health oleh University of Cambridge, peningkatan 10 mikrogram PM2.5 per meter kubik bisa meningkatkan risiko demensia hingga 17%. Selain itu, peningkatan NO₂ sebesar 10 mikrogram meningkatkan risiko sebesar 3%, dan setiap 1 mikrogram jelaga menaikkan risiko sebanyak 13%. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa udara yang terlihat bersih belum tentu aman untuk otak kita.
Demensia bukan hanya penyakit orang tua. Penyakit ini perlahan merusak memori, berpikir, dan perilaku seseorang. Di tahun 2025, lebih dari 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dan jumlah ini diprediksi naik jadi 152 juta pada 2050. Polusi udara memperparah masalah ini, terutama di negara berkembang. Kelompok masyarakat miskin sering tinggal di wilayah dengan kualitas udara terburuk. Karena itu, mereka cenderung lebih berisiko terkena dampaknya.
Selain Alzheimer, studi ini juga menemukan bahwa polusi udara memiliki kaitan kuat dengan demensia vaskular, yakni gangguan otak akibat aliran darah yang terganggu. Meski data ini belum sepenuhnya konklusif, arah temuan ini memberi sinyal bahaya. Peradangan otak dan stres oksidatif adalah dua mekanisme utama yang menjelaskan mengapa polusi bisa menyebabkan demensia. Di sisi lain, udara kotor juga memicu penyakit jantung dan paru, yang semuanya saling terhubung.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan Sekarang
Berita baiknya, risiko ini bisa dikurangi. Cara paling efektif adalah dengan menurunkan tingkat polusi udara di lingkungan sekitar kita. Gunakan transportasi umum, hindari pembakaran terbuka, dan tanam lebih banyak pohon. Selain itu, dorong pemerintah daerah untuk menerapkan kebijakan lingkungan yang ketat. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Haneen Khreis dari University of Cambridge, mencegah polusi berarti juga mencegah kerusakan otak.
Di sisi lain, perencanaan kota yang baik dan transportasi ramah lingkungan juga berperan penting. Para ahli menekankan bahwa pencegahan demensia tidak hanya tugas tenaga medis, tetapi juga tanggung jawab arsitek kota, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Karena itu, kita semua harus terlibat dalam menjaga kualitas udara yang kita hirup setiap hari.[]
