Hennig Brand, Penemu Fosfor yang Mencari Emas

Mungkin kamu tidak menyangka, bahwa penemuan besar bisa berasal dari sesuatu yang sangat biasa—bahkan menjijikkan. Namun begitulah kisah Hennig Brand, seorang pria Jerman yang berhasil menemukan fosfor dari ribuan liter urin manusia. Cerita ini tidak hanya aneh, tapi juga menggugah rasa penasaran. Bagaimana mungkin sesuatu yang terlihat tak berguna bisa menyinari dunia ilmu pengetahuan?

Brand lahir sekitar tahun 1630 di kota pelabuhan Hamburg, Jerman. Informasi tentang masa kecilnya sangat terbatas. Ia diduga tidak mengenyam pendidikan tinggi karena tidak bisa berbahasa Latin. Padahal, saat itu Latin menjadi bahasa utama ilmu pengetahuan.

Meski begitu, Brand tidak menyerah pada keadaan. Pada masa remajanya, ia sempat menjadi tentara di Perang 30 Tahun, konflik keagamaan yang meluluhlantakkan Jerman dan menewaskan jutaan jiwa. Setelah perang, ia mulai menjelajahi dunia lain yang tak kalah penuh risiko: alkimia.

Alkimia adalah cikal bakal kimia modern. Namun bedanya, para alkemis saat itu percaya bisa mengubah logam biasa menjadi emas atau menemukan ramuan kehidupan abadi. Brand sangat terobsesi dengan ide ini. Ia mencari apa yang disebut “batu filsuf” atau philosopher’s stone, benda mistis yang konon bisa mengubah segalanya.

Brand menikah dengan perempuan kaya. Uang dari sang istri ia gunakan untuk membiayai eksperimen-eksperimen anehnya. Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan perempuan kaya lainnya. Karena itu, ia punya cukup dana untuk terus bereksperimen, meski belum menghasilkan apa-apa.

Ia juga mengaku sebagai dokter, meski tak punya ijazah resmi. Ia bahkan menulis gelar M.D. di belakang namanya. Namun sebagian besar waktunya dihabiskan di laboratorium pribadi, tempat ia meniup kaca, meracik cairan, dan mencampur zat-zat aneh. Di masa itu, semua peralatan dibuat sendiri, karena belum ada toko kimia.

Yang paling mengejutkan adalah bahan eksperimennya: urin manusia. Brand percaya bahwa urin menyimpan kunci kehidupan abadi. Gagasan ini mungkin terdengar aneh sekarang, namun saat itu cukup lazim. Urin memang digunakan untuk pupuk, pencuci mulut, bahkan pelunak kulit.

Brand mengumpulkan ribuan liter urin dari tetangga dan masyarakat sekitarnya. Ia lalu menyimpannya hingga membusuk. Setelah itu, ia merebusnya hingga menjadi bubur hitam pekat. Bubur ini lalu ia panaskan bersama pasir. Dari proses ini, keluar uap dan cairan yang ia kondensasikan.

Dari sisa akhir kondensasi, terbentuk zat padat putih yang bisa bersinar dalam gelap. Ia sangat kagum dan menyebut zat itu sebagai “api dingin”. Nama fosfor yang ia berikan berasal dari bahasa Yunani phosphoros, yang berarti pembawa cahaya.

Penemuan ini terjadi pada tahun 1669, di Hamburg. Brand menjadi orang pertama dalam sejarah yang secara jelas dikenali sebagai penemu unsur kimia. Meski tidak tahu itu unsur, ia telah membuka pintu penting dalam ilmu kimia modern.

Di sisi lain, Brand sangat merahasiakan cara membuat fosfor. Namun pada akhirnya ia menjual rahasianya kepada beberapa orang, termasuk ilmuwan terkenal Gottfried Leibniz. Leibniz berharap fosfor bisa membantunya menemukan batu filsuf yang legendaris itu.

Sayangnya, catatan tentang akhir hidup Brand sangat minim. Ia disebut masih menulis surat ke Leibniz pada 1698. Surat-surat lain pada 1699 juga menyebut namanya. Hingga 1710, belum ada berita kematiannya. Jika masih hidup saat itu, usianya mendekati 80 tahun.

Warisan Brand bukan sekadar penemuan fosfor. Ia telah menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan ketekunan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, meski berasal dari sesuatu yang dianggap remeh. Dunia kini mengenal fosfor sebagai unsur penting dalam kehidupan—mulai dari pupuk, korek api, hingga bahan peledak.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *