Waktu Terbaik bagi Mahasiswa untuk Pelaksanaan Ujian

Artikel baru ini mengungkap bahwa waktu pelaksanaan ujian bisa sama pentingnya dengan seberapa baik mahasiswa mempersiapkan diri. Dalam sebuah penelitian besar yang dilakukan di Italia, para ilmuwan menemukan bahwa mahasiswa lebih mungkin lulus ujian lisan jika menjalaninya sekitar waktu makan siang. Hasil ini diambil dari analisis terhadap lebih dari 100.000 data ujian, yang menunjukkan bahwa tingkat kelulusan memuncak antara pukul 11.00 hingga 13.00. Fenomena ini diduga berkaitan erat dengan ritme biologis tubuh dan kelelahan dalam pengambilan keputusan.

Para mahasiswa di Italia umumnya menjalani ujian lisan sebagai bagian penting dalam penilaian akademik mereka. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya materi ujian yang menentukan kelulusan, tetapi juga jam berapa ujian tersebut dilakukan. Bahkan setelah mengesampingkan faktor kesulitan ujian, hasil terbaik tetap ditemukan di sekitar tengah hari, sementara hasil terburuk terjadi di pagi atau sore hari.

Profesor Carmelo Mario Vicario dari Universitas Messina, selaku penulis utama, menyatakan bahwa pola hasil ujian sangat berkaitan dengan waktu. Mahasiswa paling banyak lulus saat ujian dijadwalkan menjelang siang, sementara tingkat kelulusan menurun drastis pada pagi atau sore hari. Penelitian ini membuka peluang untuk menilai ulang waktu ideal pelaksanaan evaluasi, tidak hanya dalam dunia pendidikan tetapi juga dalam konteks lain seperti wawancara kerja atau sidang pengadilan.

Penelitian ini terinspirasi dari studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa hakim cenderung mengambil keputusan yang lebih menguntungkan setelah istirahat makan. Namun, karena putusan hukum bisa dipengaruhi jenis kasus, para peneliti memilih fokus pada ujian lisan yang lebih bersifat subjektif. Mereka berasumsi bahwa jika waktu benar-benar mempengaruhi penilaian, maka data ujian skala besar akan memperlihatkannya dengan jelas.

Ujian lisan di universitas Italia biasanya berlangsung 10 hingga 30 menit, dengan format yang tidak seragam. Dosen bisa menanyakan apa saja sesuai konten mata kuliah, dan hasilnya diumumkan saat itu juga. Kondisi ini sangat menegangkan bagi mahasiswa karena sifatnya yang spontan dan bobotnya yang tinggi dalam penilaian akademik.

Dengan menggunakan basis data Universitas Messina, para peneliti menganalisis 104.552 hasil ujian yang dilakukan antara Oktober 2018 hingga Februari 2020. Data ini mencakup waktu dan tanggal ujian, nama penguji, mata kuliah, serta jumlah kredit yang diperoleh mahasiswa. Dengan mengontrol tingkat kesulitan ujian melalui jumlah kredit, para peneliti dapat memastikan bahwa perbedaan hasil semata-mata karena waktu pelaksanaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 57% mahasiswa yang berhasil lulus. Pola tingkat kelulusan berbentuk kurva lonceng, dengan puncak pada tengah hari. Tidak ada perbedaan signifikan antara ujian jam 11 dan jam 13, tetapi kemungkinan lulus menurun tajam pada jam 08.00, 09.00, 15.00, dan 16.00. Artinya, pagi dan sore hari sama-sama memiliki tingkat kelulusan yang rendah.

Profesor Alessio Avenanti dari Universitas Bologna menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan betapa ritme biologis yang sering diabaikan dapat memengaruhi hasil evaluasi yang sangat penting. Meski mekanisme pastinya belum diketahui, hasil ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa performa kognitif membaik sepanjang pagi lalu menurun di sore hari.

Penurunan energi pada mahasiswa bisa menyebabkan konsentrasi menurun dan berdampak pada performa. Sebaliknya, dosen juga bisa mengalami kelelahan dalam membuat keputusan, yang menyebabkan penilaian jadi lebih ketat seiring berjalannya hari. Faktor ini bisa menjelaskan mengapa ujian siang hari lebih menguntungkan.

Masalah lainnya adalah perbedaan ritme tidur antara mahasiswa dan dosen. Mahasiswa usia 20-an umumnya memiliki pola tidur begadang, sedangkan dosen yang lebih tua cenderung aktif di pagi hari. Akibatnya, saat dosen sedang segar, mahasiswa justru belum optimal secara kognitif.

Profesor Vicario menyarankan agar mahasiswa memperhatikan waktu biologis pribadi, memastikan cukup tidur, dan menghindari menjadwalkan ujian di jam-jam “lemah” mereka. Untuk institusi, menunda jadwal pagi dan memusatkan ujian di akhir pagi bisa menjadi strategi untuk meningkatkan hasil.

Meski begitu, para peneliti menekankan perlunya studi lanjutan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap perbedaan hasil ujian berdasarkan waktu. Salah satunya adalah dengan mengukur aspek fisiologis atau perilaku secara langsung, seperti kebiasaan tidur atau tingkat stres.

Profesor Massimo Mucciardi yang juga terlibat dalam penelitian ini mengakui bahwa meskipun tingkat kesulitan ujian telah dikontrol, masih mungkin ada faktor tersembunyi lain yang belum diukur. Oleh karena itu, mereka mendorong penelitian lanjutan untuk menemukan akar penyebabnya dan mengembangkan sistem evaluasi yang lebih adil.

Penelitian ini diterbitkan oleh jurnal ilmiah Frontiers in Psychology pada tanggal 24 Juli 2025. Hasilnya menambah wawasan penting bahwa dalam proses evaluasi, aspek biologis dan waktu pelaksanaan perlu diperhatikan agar hasilnya tidak bias terhadap jam tertentu.

Jika strategi ini diadopsi secara luas, bukan tidak mungkin kita bisa menciptakan sistem penilaian yang lebih manusiawi dan seimbang, baik di dunia akademik maupun dalam proses seleksi profesional lainnya.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *