
Ketika lebah tidak lagi mampu berdengung dengan baik, alam mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Society for Experimental Biology pada 8 Juli 2025 mengungkapkan bahwa panas ekstrem dan paparan logam berat ternyata dapat melemahkan dengungan khas lebah. Ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman besar bagi proses penyerbukan dan komunikasi koloni lebah. Dengan alat sensor kecil, para peneliti menemukan bahwa getaran sayap lebah yang bisa mencapai 400 getaran per detik dapat melemah atau melambat saat mereka mengalami stres lingkungan.
Riset tersebut menunjukkan bahwa pencemaran dan suhu tinggi mampu mengubah nada dan kekuatan getaran yang dihasilkan oleh lebah. Penurunan ini dapat memengaruhi kemampuan lebah dalam mengguncang serbuk sari dari bunga serta dalam berkomunikasi dengan sesamanya di dalam sarang. Data dari alat pengukur percepatan menunjukkan bahwa perubahan getaran yang nyaris tak terdengar ini dapat menjadi sinyal awal kerusakan ekosistem.
Selama ini orang mengira otot sayap lebah hanya digunakan untuk terbang. Namun, menurut Dr. Charlie Woodrow dari Universitas Uppsala, otot ini sebenarnya juga dimanfaatkan lebah untuk aktivitas lain seperti komunikasi, pertahanan diri, dan penyerbukan dengan metode “buzz pollination”. Dalam metode ini, lebah akan melilit tubuhnya di sekitar bagian bunga yang menyembunyikan serbuk sari, lalu menggetarkan tubuhnya ratusan kali per detik untuk melepaskan serbuk sari tersebut.
Menurut Dr. Woodrow, penting untuk memahami bagaimana variasi getaran tersebut memengaruhi proses pelepasan serbuk sari agar kita dapat mengetahui lebih dalam cara kerja reproduksi tanaman dan perilaku lebah sebagai penyerbuk. Ia dan timnya pun meneliti bagaimana getaran non-penerbangan ini bervariasi antar spesies lebah, sekaligus faktor lingkungan yang mempengaruhi kekuatan dengungan tersebut.
Eksperimen dilakukan menggunakan koloni lebah Bombus terrestris atau lebah ekor-gemuk, spesies yang banyak ditemukan di Eropa. Dengan alat pengukur percepatan, tim Dr. Woodrow dapat merekam frekuensi getaran yang dihasilkan lebah. Mereka hanya perlu menempelkan alat tersebut ke bagian dada lebah atau bunga yang sedang dikunjungi lebah, lalu alat akan merekam getaran secara langsung di lapangan.
Tidak hanya itu, pengukuran ini juga dipadukan dengan pencitraan termal untuk mengetahui bagaimana lebah mengatasi panas yang dihasilkan selama proses berdengung. Bahkan, dengan teknologi kamera berkecepatan tinggi, mereka berhasil mengungkap perilaku lebah yang sebelumnya belum diketahui. Salah satunya adalah fakta bahwa lebah tidak hanya bergetar di atas bunga, tetapi juga menggigit bunga tersebut untuk mentransmisikan getaran lebih efektif.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa suhu ternyata memiliki pengaruh lebih besar terhadap proses berdengung daripada yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini sedang dalam proses publikasi ilmiah dan membuka babak baru dalam penelitian metode penyerbukan lebah. Sebelumnya, suhu tidak pernah dianggap sebagai faktor utama dalam studi tentang buzz pollination.
Selain suhu tinggi, paparan logam berat juga terbukti memperlambat kontraksi otot penerbangan saat lebah berdengung tanpa terbang. Ini adalah hasil kolaborasi dengan Dr. Sarah Scott dari Newcastle University di Inggris. Namun yang mengejutkan, tidak ditemukan perbedaan efek suhu terhadap dengungan saat percobaan dilakukan di daerah Kutub Utara dibandingkan dengan daerah yang lebih selatan, menunjukkan bahwa struktur otot dasar lebah yang lebih berpengaruh dibandingkan adaptasi lingkungan.
Memahami dampak perubahan lingkungan terhadap dengungan lebah memberikan manfaat besar dalam ekologi dan perilaku lebah. Informasi ini dapat membantu mengidentifikasi spesies atau wilayah yang paling rentan. Bahkan, deteksi spesies berbasis kecerdasan buatan bisa lebih akurat dengan menganalisis suara dengungan. Tidak menutup kemungkinan di masa depan, perubahan pada dengungan lebah dapat digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem.
Dr. Woodrow menegaskan pentingnya pemahaman terhadap getaran non-penerbangan ini karena terkait langsung dengan aspek utama dalam ekologi lebah. Jika getaran ini terganggu, koloni lebah bisa mengalami komunikasi yang buruk, kesulitan mengatur suhu tubuh, hingga kesulitan mendapatkan makanan untuk larva mereka.
Ancaman paling serius adalah potensi penurunan proses buzz-pollination yang bisa berdampak besar pada reproduksi tanaman dan keanekaragaman hayati. Dr. Woodrow menjelaskan bahwa buzz-pollination membutuhkan energi besar dan menghasilkan panas metabolik. Apabila suhu lingkungan terlalu tinggi, lebah mungkin akan memilih untuk menghindari bunga yang memerlukan metode ini.
Selain memperluas pemahaman tentang pengaruh perubahan lingkungan terhadap lebah, penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi robotika di bidang penyerbukan. Tim Dr. Woodrow tengah mengembangkan mikro-robot untuk mempelajari getaran lebah dan mekanisme pelepasan serbuk sari, yang kelak bisa menjadi solusi jika populasi lebah semakin terancam.
Studi ini dipresentasikan dalam Konferensi Tahunan Society for Experimental Biology yang berlangsung di Antwerpen, Belgia pada tanggal 8 Juli 2025. Hasil penelitian ini semakin menegaskan bahwa ancaman terhadap lebah tak hanya berupa pestisida atau kehilangan habitat, melainkan juga polusi dan pemanasan global yang sering diabaikan.
Dengungan lebah yang selama ini terdengar biasa ternyata memiliki peran vital bagi kelangsungan hidup tanaman dan keseimbangan ekosistem. Ketika dengungan ini mulai melemah, itu adalah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan oleh manusia.
Dengan temuan ini, harapan baru muncul agar teknologi dapat membantu memantau kesehatan lingkungan melalui dengungan lebah. Teknologi mikro-robotik pun dapat menjadi cadangan apabila peran alamiah lebah tidak lagi mampu menjaga keberlanjutan penyerbukan secara optimal.
Semua ini menunjukkan bahwa suara kecil dari lebah memiliki dampak besar bagi masa depan alam semesta. Jangan sampai kita terlambat menyadarinya saat dengungan terakhir itu berhenti.[]
