
Bahan kimia yang sering digunakan dalam tabir surya ternyata bisa memperparah pencemaran plastik di laut. Penelitian baru dari University of Stirling, Inggris, mengungkap bahwa senyawa bernama Ethylhexyl Methoxycinnamate (EHMC) dapat memperlambat proses penguraian plastik di laut sekaligus mendorong pertumbuhan mikroba laut yang membentuk biofilm, yaitu lapisan lendir yang membuat plastik lebih sulit terurai. Senyawa ini banyak ditemukan dalam produk pelindung sinar ultraviolet (UV) dan ternyata memiliki dampak jangka panjang yang belum banyak disadari.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Sabine Matallana-Surget ini menjadi yang pertama meneliti pengaruh gabungan antara polusi plastik dan bahan kimia dalam tabir surya. Ia menyoroti fenomena “co-pollution” atau polusi ganda, di mana plastik menjadi tempat menempelnya polutan lain seperti filter UV. Ketika plastik sudah tercemar oleh bahan seperti EHMC, ia menjadi semakin sulit dihancurkan oleh sinar matahari maupun mikroba alami di laut.
EHMC bekerja dengan cara menekan aktivitas bakteri aerobik yang seharusnya berperan penting dalam menguraikan plastik. Sebaliknya, ia justru mendukung jenis bakteri lain seperti Pseudomonas yang membentuk lapisan pelindung dan tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem. Masalahnya, beberapa jenis Pseudomonas juga dikenal sebagai patogen oportunistik yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.
Plastik yang mengapung di lautan bisa menjadi tempat tumbuhnya mikroba laut, membentuk lapisan bernama “plastisphere.” Lapisan ini bisa menyerap bahan kimia seperti tabir surya yang bersifat hidrofobik atau tidak larut dalam air. Karena bersifat tidak larut, bahan ini mudah menempel pada permukaan plastik, membuat kombinasi yang lebih sulit terurai oleh proses alam.
Penelitian ini diterbitkan dalam Journal of Hazardous Materials pada 28 Juni 2025. Dalam studi tersebut ditemukan bahwa kehadiran EHMC menyebabkan penurunan jumlah bakteri perusak polutan seperti Marinomonas, sementara bakteri seperti Pseudomonas justru meningkat jumlahnya dan menghasilkan protein bernama OprF. Protein ini memperkuat struktur biofilm sehingga bakteri lebih tahan hidup di lingkungan laut yang keras.
Lebih jauh, para peneliti juga menemukan perubahan metabolisme pada komunitas mikroba. Adanya peningkatan aktivitas respirasi anaerob menunjukkan bahwa mikroba di plastisphere lebih memilih jalur tanpa oksigen untuk menghasilkan energi. Ini memperkuat dugaan bahwa EHMC tidak hanya mengubah struktur mikroba, tetapi juga cara mereka hidup dan berkembang.
Menurut Dr. Matallana-Surget, sifat pelindung UV dari EHMC, ditambah kemampuannya menekan bakteri pengurai plastik, menyebabkan plastik bertahan lebih lama di laut. Efek ini diperparah dengan meningkatnya jumlah bakteri yang berpotensi berbahaya bagi manusia, terutama di wilayah pesisir yang ramai wisatawan.
Penelitian ini dikerjakan bersama Dr. Charlotte Lee yang melakukan eksperimen utama, Dr. Lauren Messer dari University of Stirling, dan Profesor Ruddy Wattiez dari University of Mons, Belgia. Mereka telah bekerja sama selama 15 tahun dan kali ini fokus pada isu polusi ganda antara plastik dan bahan kimia pelindung UV.
Studi ini dibiayai oleh UKRI Natural Environment Research Council (NERC) dan National Research Foundation Singapore. Dukungan tambahan datang dari European Regional Development Fund dan pemerintah daerah Walloon, Belgia. Riset ini melanjutkan temuan sebelumnya dari Dr. Matallana-Surget yang mengungkap pentingnya peran bakteri di permukaan sampah plastik laut.
Penemuan ini membuka mata dunia ilmiah dan pembuat kebijakan untuk mulai memperhatikan bahaya tersembunyi dari bahan-bahan kimia yang dianggap aman, seperti tabir surya. Dr. Matallana-Surget menyerukan perlunya riset lanjutan dan intervensi kebijakan untuk mengatasi ancaman ekologi yang saling memperkuat ini.
Dampak dari perubahan ekosistem mikroba laut ini bisa menjalar ke banyak aspek, termasuk kesehatan manusia. Jika bakteri patogen berkembang di kawasan wisata laut, maka risiko penularan penyakit meningkat. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat terhadap jenis tabir surya yang digunakan perlu ditingkatkan.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengembangkan tabir surya ramah lingkungan yang tidak mencemari laut. Penggunaan plastik sekali pakai juga harus dikurangi karena plastik yang tercemar bahan kimia seperti EHMC lebih sulit diuraikan. Kombinasi keduanya bisa menciptakan krisis lingkungan yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Masyarakat perlu memahami bahwa meskipun tabir surya melindungi kulit manusia, ia bisa membahayakan lautan jika tidak digunakan secara bijak. Alternatif produk yang bebas bahan kimia berbahaya seharusnya dipromosikan lebih luas.
Kesimpulan dari riset ini jelas: plastik di laut bukan hanya masalah sampah, tetapi juga wadah bagi polutan kimia lain yang bisa memperparah kerusakan lingkungan. Penanganannya harus holistik, melibatkan perubahan perilaku, regulasi bahan kimia, dan pendekatan ilmiah lintas disiplin.[]
