
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk merasakan keanekaragaman hayati di alam, bahkan tanpa pelatihan khusus. Hanya dengan melihat foto atau mendengar suara hutan, kita bisa menilai apakah lingkungan tersebut kaya akan keanekaragaman hayati.
Studi ini dipublikasikan pada 10 Juli 2025 oleh British Ecological Society dalam jurnal People and Nature. Penelitian ini dipimpin oleh para ilmuwan dari German Centre for Integrative Biodiversity Research (iDiv), Helmholtz Centre for Environmental Research (UFZ), dan Friedrich Schiller University Jena.
Para peneliti meminta peserta yang tidak memiliki latar belakang ilmu ekologi untuk mengelompokkan gambar dan rekaman suara dari hutan di Jerman, Belgia, dan Polandia. Mereka diminta menilai berdasarkan apa yang mereka rasakan sebagai “keanekaragaman” tanpa petunjuk atau definisi khusus.
Hasilnya sangat mengejutkan. Penilaian peserta secara intuitif ternyata sejalan dengan ukuran ilmiah tentang keanekaragaman hayati. Artinya, penilaian berdasarkan “perasaan” atau insting bisa mendekati data ilmiah yang kompleks.
Melalui pengamatan visual, peserta memperhatikan hal-hal seperti kepadatan vegetasi, cahaya, dan warna. Sementara dalam pengamatan suara, mereka menyoroti nyanyian burung, volume, dan emosi yang ditimbulkan dari rekaman tersebut.
Peneliti utama, Kevin Rozario dari iDiv, mengatakan bahwa persepsi manusia terhadap keanekaragaman alam bisa berdampak besar bagi kesehatan mental. Ia menekankan bahwa yang berpengaruh terhadap kesejahteraan mental adalah keanekaragaman yang kita rasakan, bukan semata-mata yang diukur oleh sains.
Karena itu, penting untuk memahami apa yang sebenarnya kita tangkap dari alam lewat indera kita. Menurut Kevin, ini membantu merancang konservasi yang tidak hanya melestarikan keanekaragaman, tetapi juga menyentuh kesejahteraan psikologis manusia.
Studi ini juga menyoroti pentingnya hutan yang memiliki variasi pohon dan struktur tumbuhan yang beragam. Hutan yang kaya suara burung juga dinilai lebih bernilai secara emosional bagi banyak orang. Hal ini memperkuat alasan untuk melestarikan hutan yang beragam, bukan hanya dari sisi ekologis, tetapi juga demi pengalaman manusia yang lebih kaya.
Menariknya, dalam proses penelitian ini, peserta tidak diberi definisi tentang keanekaragaman. Mereka bebas menilai berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar. Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kepekaan alami terhadap alam yang mungkin sudah tertanam secara biologis.
Namun, ada satu catatan penting. Kemampuan menilai keanekaragaman ini tampaknya muncul ketika kita bisa membandingkan beberapa lingkungan sekaligus. Ketika peserta hanya melihat satu gambar atau mendengar satu rekaman, mereka kesulitan menilai tingkat keanekaragaman secara akurat.
Penelitian ini melibatkan 48 peserta dalam dua kelompok studi. Mereka masing-masing diberi 57 foto atau 16 rekaman suara. Keanekaragaman sebenarnya dari lokasi-lokasi hutan tersebut diukur menggunakan empat indikator: jumlah spesies pohon, variasi struktur hutan, keragaman lapisan bawah, dan kelimpahan vegetasi bawah. Untuk suara, keanekaragaman diukur dari banyaknya jenis burung.
Dengan membandingkan penilaian peserta dan hasil ilmiah, terlihat bahwa persepsi manusia terhadap alam bisa menjadi alat pendukung dalam penilaian ekologi. Meski bukan pengganti metode ilmiah, persepsi ini bisa menjadi indikator awal yang sangat berguna.
Sayangnya, para peneliti juga menyadari keterbatasan studi ini. Sebagian besar peserta adalah perempuan berpendidikan tinggi dari lingkungan universitas. Ini mungkin memengaruhi hasil karena tidak mewakili keseluruhan populasi.
Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar studi serupa dilakukan dengan partisipan dari latar belakang yang lebih beragam. Ini akan membantu memahami apakah insting alami manusia terhadap alam benar-benar bersifat universal.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa ketika kita berjalan di alam dan merasa “nyaman” atau “damai”, itu bukan kebetulan. Mungkin tubuh dan pikiran kita memang terhubung lebih dalam dengan alam daripada yang kita sadari.
Dengan semakin cepatnya kehilangan keanekaragaman hayati, kita juga kehilangan pengalaman emosional dan sensorik yang menyertainya. Ini adalah alarm bagi manusia, bahwa melindungi alam juga berarti melindungi pengalaman hidup yang utuh.
Jadi, lain kali saat Anda berada di tengah hutan atau taman, dengarkan nyanyian burung, perhatikan warna dan cahaya yang menari di antara pepohonan. Mungkin tubuh Anda sedang memberi tahu sesuatu yang sangat penting—dan ilmuwan baru saja membuktikannya.[]
