Aage Bohr, Fisikawan Jenius Penerus Warisan Atom Ayahnya

Aage Niels Bohr lahir pada 19 Juni 1922 di Kopenhagen, Denmark, dari keluarga ilmuwan yang luar biasa. Ayahnya, Niels Bohr, merupakan pemenang Hadiah Nobel Fisika pada tahun kelahiran Aage, karena penjelasannya mengenai struktur atom dan radiasi yang dipancarkan. Ibunya, Margrethe Nørlund, adalah perempuan berpendidikan tinggi yang sering terlibat dalam diskusi ilmiah bersama sang suami. Aage tumbuh dalam lingkungan intelektual yang sangat kaya, bahkan sejak usia sekolah, ia sudah terbiasa berbincang dengan ilmuwan besar seperti Werner Heisenberg dan Wolfgang Pauli, yang dianggapnya sebagai “paman.”

Saat Perang Dunia II meletus dan Jerman Nazi menginvasi Denmark pada 1940, keluarga Bohr menghadapi risiko karena nenek Aage berasal dari keluarga Yahudi. Ketika Nazi mulai menangkap kaum Yahudi Denmark pada 1943, keluarga Bohr melarikan diri ke Swedia menggunakan perahu nelayan. Dari sana, Aage dan ayahnya diterbangkan ke Inggris menggunakan pesawat tempur de Havilland Mosquito, dan mulai bekerja untuk pemerintah Inggris dalam proyek rahasia pengembangan bom atom.

Aage dan Niels Bohr kemudian terlibat dalam Proyek Manhattan di Amerika Serikat, yang bertujuan membangun bom atom pertama. Demi menjaga kerahasiaan, mereka menggunakan nama samaran “Nicholas Baker” dan “James Baker.” Setelah perang usai, Aage kembali ke Kopenhagen, menyelesaikan gelar magisternya, dan melanjutkan riset di Institut Fisika Teoretis Universitas Kopenhagen yang kini dikenal sebagai Institut Niels Bohr.

Pada 1948, Aage pindah ke Amerika dan bekerja di Institut Studi Lanjut Princeton. Di sana, ia mencoba memodelkan perilaku inti atom dalam medan magnet. Ia menikahi Marietta Soffer pada tahun 1950, dan setahun kemudian mereka kembali ke Denmark. Aage meraih gelar Ph.D. pada 1954 dan mengabdikan dirinya untuk penelitian hingga pensiun pada 1981, termasuk menjadi direktur Institut Niels Bohr selama lima tahun.

Ketertarikan utama Aage adalah struktur inti atom, khususnya bagaimana proton dan neutron tersusun di dalamnya. Ia mempelajari dua pendekatan utama: model tetesan cair dan model kulit inti. Model tetesan cair, yang dikembangkan ayahnya, menggambarkan inti atom seperti tetesan cairan yang bisa bergetar atau pecah, menjelaskan fusi dan fisi nuklir. Namun, model ini terbatas dalam menjelaskan struktur inti yang lebih ringan.

Sebaliknya, model kulit menyatakan bahwa proton dan neutron berada dalam lapisan energi tertentu, mirip dengan elektron dalam atom. Model ini sangat berhasil menjelaskan stabilitas inti dengan “angka ajaib” seperti 2, 8, 20, dan seterusnya. Namun, model kulit pun tidak sempurna, terutama untuk inti yang lebih berat seperti uranium.

Menemukan celah dari dua model tersebut, fisikawan James Rainwater mengusulkan gagasan untuk menggabungkan kelebihan keduanya. Aage Bohr, yang saat itu berada di universitas yang sama, langsung tertarik. Ia membawa gagasan ini kembali ke Kopenhagen dan mengembangkannya bersama Ben Mottelson. Mereka menyusun teori gabungan atau model kolektif, yang menjelaskan bagaimana inti atom dapat berputar, bergetar, dan berubah bentuk tanpa menjadi objek kaku.

Dalam model ini, inti atom dianalogikan seperti kawanan lebah. Masing-masing proton dan neutron seperti lebah yang bergerak sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan mereka membentuk suatu kesatuan yang berperilaku kolektif. Hal ini membuka jalan untuk memahami perilaku inti secara lebih menyeluruh, baik dari sisi energi rotasi, deformasi bentuk, hingga stabilitasnya.

Prediksi-prediksi dari model kolektif ini terbukti sesuai dengan hasil eksperimen, memperkuat validitasnya dalam dunia fisika. Bahkan ayah Aage, Niels Bohr, yang semula skeptis, akhirnya mengakui keunggulan pendekatan baru ini. Pada 1975, Aage Bohr, Ben Mottelson, dan James Rainwater dianugerahi Hadiah Nobel Fisika atas kontribusi luar biasa mereka dalam memahami struktur inti atom melalui hubungan gerakan kolektif dan partikel.

Meski telah banyak kemajuan, struktur inti atom hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Namun, kontribusi Aage Bohr dan rekan-rekannya telah menjadi fondasi penting dalam fisika nuklir modern. Mereka menunjukkan bahwa memahami sesuatu yang sangat kecil seperti inti atom memerlukan imajinasi ilmiah yang luar biasa dan kolaborasi lintas generasi.

Aage Bohr meninggal pada 8 September 2009 dalam usia 87 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Mariebjerg, Kopenhagen. Ia meninggalkan seorang istri kedua bernama Bente Meyer Scharff, serta dua putra dan satu putri dari pernikahan pertamanya dengan Marietta. Salah satu putranya, Tomas Bohr, mengikuti jejak sang ayah sebagai profesor fisika di Universitas Teknik Denmark.

Sepanjang hidupnya, Aage Bohr tidak hanya mewarisi nama besar ayahnya, tetapi juga menorehkan prestasi yang membuat namanya bersinar sendiri. Ia meyakini bahwa mempertanyakan nilai dan pencapaian adalah syarat mutlak bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Sikap ilmiah yang penuh keraguan dan rasa ingin tahu inilah yang membentuk karakter seorang Aage Bohr.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *