
David Bohm adalah sosok yang tak biasa dalam dunia ilmu pengetahuan. Ia dikenal sebagai salah satu fisikawan teoretis terbesar pada abad ke-20, tetapi perjalanannya tak hanya berhenti di laboratorium atau ruang kuliah. Ia adalah ilmuwan yang juga menyelami dunia filsafat dan psikologi untuk memahami alam semesta secara lebih menyeluruh. Lahir di Wilkes-Barre, Pennsylvania, Bohm tumbuh dalam keluarga Yahudi dan menunjukkan ketertarikan pada ilmu pengetahuan sejak remaja. Ia dikenal kreatif dalam memecahkan persoalan matematika dan sains saat masih duduk di bangku sekolah menengah.
Setelah lulus dari Pennsylvania State College dengan gelar sarjana fisika pada 1939, Bohm melanjutkan pendidikannya di California Institute of Technology. Namun, tak lama kemudian ia pindah ke University of California, Berkeley. Di sana, ia meraih gelar doktor dalam fisika teoretis di bawah bimbingan fisikawan terkenal Robert Oppenheimer. Masa kuliah ini juga menjadi periode di mana minatnya terhadap politik kiri mulai berkembang, hingga ia bergabung dengan Partai Komunis selama sembilan bulan pada tahun 1942.
Karier Bohm sempat melejit saat diundang ke Konferensi Shelter Island yang bergengsi pada tahun 1947. Tahun yang sama, ia diterima sebagai asisten profesor di Universitas Princeton dan mulai bekerja sama dengan Albert Einstein. Selama masa itu, ia menerbitkan sejumlah artikel tentang fisika plasma. Namun, situasi politik Amerika yang memanas pada masa McCarthyisme membuat Bohm ditangkap pada tahun 1950 karena menolak bersaksi di depan Kongres terkait pandangan politiknya. Meskipun akhirnya dibebaskan pada 1951, pengalaman ini membuatnya sulit berkarya di Amerika Serikat.
Demi melanjutkan kariernya, Bohm menerima tawaran menjadi profesor fisika di Universitas São Paulo, Brasil. Di sana, ia menulis buku teks klasik “Quantum Theory” yang mengulas pandangan ortodoks mekanika kuantum, khususnya interpretasi Kopenhagen dari Niels Bohr. Namun, ketertarikannya pada pertanyaan filosofis mendorongnya untuk menggali lebih dalam dari sekadar pandangan arus utama.
Tahun 1955, Bohm pindah ke Israel dan bekerja selama dua tahun di Technion, Haifa. Setelah itu, pada 1957, ia melanjutkan riset di Inggris sebagai peneliti di University of Bristol. Ia menerbitkan buku keduanya berjudul “Causality and Chance in Modern Physics” yang menyoroti hubungan sebab-akibat dalam ilmu pengetahuan dan menegaskan reputasinya sebagai pemikir orisinal.
Salah satu kontribusinya yang paling terkenal muncul pada tahun 1959 ketika ia dan Yakir Aharonov menemukan efek Aharonov-Bohm. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel kuantum bisa dipengaruhi oleh medan elektromagnetik meskipun mereka berada di ruang kosong tanpa medan listrik dan magnet langsung. Efek ini mengguncang pemahaman konvensional fisika dan memperkuat peran informasi dalam teori kuantum.
Pada tahun 1961, Bohm menjadi profesor fisika teoretis di Birkbeck College, University of London. Di tempat inilah ia menjalin hubungan intelektual mendalam dengan filsuf Jiddu Krishnamurti. Persahabatan mereka berlangsung selama 25 tahun dan menghasilkan buku “The Ending of Time” pada 1985 yang memuat percakapan mereka tentang kesadaran dan realitas.
David Bohm dikenal bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai filsuf. Ia mencoba menggabungkan fisika dan filsafat untuk menjelaskan hakikat kenyataan. Menurutnya, mekanika kuantum konvensional menyisakan banyak paradoks yang bisa diselesaikan dengan pendekatan baru. Ia mengembangkan gagasan tentang “implicate order” (tatanan tersirat), suatu filosofi yang menyatakan bahwa semua hal terhubung secara mendalam meskipun tampak terpisah.
Konsep “implicate-explicate order” yang dikembangkan Bohm menjadi kesimpulan filosofis dari hasil risetnya seumur hidup. Ia meyakini bahwa di balik dunia fisik yang tampak acak, tersembunyi tatanan yang lebih dalam dan harmonis. Pandangannya ini mengingatkan pada cara berpikir Aristoteles yang memulai dari fisika lalu melangkah ke metafisika untuk memahami kehidupan, materi, dan kesadaran secara utuh.
Bohm juga berbeda dari ilmuwan pada umumnya karena tidak pernah sepenuhnya menerima interpretasi mekanika kuantum yang berlaku umum. Seperti halnya Einstein, Bohm merasa bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam teori tersebut. Ia percaya ada “tatanan tersembunyi” yang mengatur perilaku partikel-partikel kuantum secara lebih dalam daripada yang bisa dijelaskan oleh teori standar.
Pada tahun 1956, Bohm menikah dengan Sarah Woolfson di Israel, meskipun mereka tidak memiliki anak. Setelah pensiun pada 1987, ia tetap aktif dalam menulis dan berpikir. Ia menyelesaikan buku “The Undivided Universe” bersama Basil Hiley, yang kemudian diterbitkan setelah kematiannya.
David Bohm meninggal dunia pada 27 Oktober 1992 di Hendon, London karena gagal jantung. Ia wafat pada usia 74 tahun, meninggalkan warisan ilmiah dan filosofis yang terus dikenang hingga kini. Karyanya tetap menginspirasi para ilmuwan dan filsuf yang mencoba menyatukan ilmu pengetahuan dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kesadaran dan kenyataan.
Bohm tidak hanya dikenang sebagai ahli fisika, melainkan juga sebagai tokoh spiritual ilmiah yang mencoba meretas batas-batas antara dunia material dan batiniah. Ia memperlihatkan bahwa fisika bukan hanya soal angka dan rumus, melainkan juga tentang memahami makna hidup dan hubungan kita dengan alam semesta. Keberanian dan orisinalitasnya menjadi warisan berharga bagi dunia.
Kini, pemikiran Bohm kembali relevan, terutama dalam diskusi tentang kesadaran, informasi kuantum, dan keterhubungan segala hal. Meskipun karyanya tidak selalu mudah diterima oleh komunitas akademik arus utama, kontribusinya membuka jalan bagi pendekatan baru dalam memahami alam raya. Ia adalah contoh nyata bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat bisa berjalan beriringan untuk mencari kebenaran.[]
