Kritik Pembangunan dari Surah Al-Baqarah

Pembangunan sering kali dianggap sebagai simbol kemajuan dan keberhasilan suatu bangsa. Gedung-gedung tinggi, jalan tol yang membentang, dan berbagai inovasi teknologi dianggap sebagai bukti nyata perbaikan. Namun, Al-Qur’an mengingatkan kita untuk tidak tertipu oleh penampilan luar yang menawan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 11–12, Allah menegaskan bahwa ada orang-orang yang mengaku sedang melakukan pembangunan atau perbaikan (islah), padahal sejatinya mereka sedang menebar kerusakan di muka bumi.

Ketika mereka ditegur agar tidak berbuat kerusakan, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya melakukan perbaikan.” Jawaban ini menyiratkan ironi yang sangat tajam. Mereka merasa benar, padahal sebenarnya menyimpang jauh dari nilai-nilai kebenaran. Fenomena ini sangat relevan dengan kondisi dunia modern yang sering mengklaim berbagai proyek sebagai wujud kemajuan, padahal justru merusak tatanan kehidupan.

Ambil contoh pembangunan kawasan wisata yang menjadikan hiburan malam dan industri seks sebagai penggerak ekonomi. Meski dianggap menguntungkan secara finansial, aktivitas tersebut melanggar ajaran Islam dan justru menghancurkan moral masyarakat. Banyak tempat hiburan yang merusak nilai keluarga dan menyuburkan gaya hidup hedonistik.

Eksploitasi alam juga menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan dapat membawa bencana. Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk tambang dan perkebunan kelapa sawit memang menghasilkan devisa, tetapi juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. Banjir, longsor, dan perubahan iklim adalah dampak yang tak terhindarkan.

Gentrifikasi perkotaan juga menunjukkan wajah pembangunan yang tidak berpihak pada keadilan sosial. Ketika masyarakat miskin terusir dari tempat tinggalnya demi pembangunan apartemen mewah, sesungguhnya martabat manusia sedang dikorbankan. Kota tumbuh megah, tetapi penghuninya kehilangan rumah.

Digitalisasi yang berkembang pesat juga membawa tantangan moral yang besar. Akses yang luas ke internet tanpa pengawasan etika membuka jalan bagi pornografi, perjudian online, dan konten-konten yang merusak jiwa anak-anak dan remaja. Ini semua dianggap sebagai bentuk kemajuan teknologi, tetapi sejatinya menjerumuskan masyarakat ke dalam kehancuran moral.

Festival budaya yang menyimpang dari ajaran Islam pun kini marak diadakan atas nama pariwisata dan pelestarian tradisi. Padahal, tak jarang acara semacam itu menampilkan praktik syirik, pergaulan bebas, dan pamer aurat. Semua dibungkus dalam kemasan budaya, tetapi mengikis nilai agama sedikit demi sedikit.

Pembangunan yang tidak berpihak pada nilai spiritual akan kehilangan arah. Beton, baja, dan listrik bukanlah ukuran satu-satunya kemajuan. Pembangunan yang sejati adalah yang menjaga keseimbangan antara kemajuan fisik dan kebijaksanaan moral. Tanpa itu, yang tercipta hanyalah kerusakan yang sistematis dan meluas.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa ukuran perbaikan bukan pada gemerlapnya kota, melainkan pada keberpihakan kepada keadilan, kejujuran, dan keberlanjutan alam. Kemajuan yang tidak berakar pada nilai ilahiah hanya akan menjadi bencana yang terorganisir.

Mereka yang tidak sadar sedang menyebar kerusakan—itulah yang disebut sebagai “mufsiduuna”. Mereka merasa sedang berbuat baik, tetapi sebenarnya menjadi penyebab utama kehancuran. Mereka inilah yang ditegur keras oleh Al-Qur’an, karena kerusakan mereka tidak hanya tampak secara lahir, tetapi juga merusak batin masyarakat.

Dalam konteks ini, peran umat Islam menjadi penting untuk meluruskan arah pembangunan. Kita tidak boleh diam melihat perusakan lingkungan, pelecehan moral, dan penindasan sosial dibungkus dalam retorika modernisasi. Suara kebenaran harus tetap bergema, meski dibungkam oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Masyarakat harus lebih kritis terhadap apa yang disebut sebagai “kemajuan”. Tidak semua yang bersinar adalah emas. Tidak semua yang digital itu baik. Tidak semua festival adalah budaya yang layak dilestarikan. Ukurannya harus dikembalikan kepada nilai Islam.

Para pemimpin dan pembuat kebijakan juga perlu merenungkan ayat ini. Keputusan mereka tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek moral, spiritual, dan keberlanjutan lingkungan. Setiap kebijakan harus dipertimbangkan dalam kerangka maslahat umat dan amanah kepada Allah.

Pendidikan juga memegang peranan penting untuk menyadarkan generasi muda bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur. Nilai-nilai akhlak, tanggung jawab sosial, dan kecintaan pada alam harus ditanamkan sejak dini sebagai fondasi pembangunan masa depan.

Akhirnya, Surah Al-Baqarah ayat 11–12 bukan hanya teguran, tetapi juga peringatan agar kita tidak terjebak dalam kebohongan yang dikemas sebagai kemajuan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari kerusakan yang mengatasnamakan perbaikan. Perubahan yang benar adalah yang berakar pada nilai Islam, menjaga ciptaan Tuhan, dan mengangkat martabat manusia.

Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu mengikuti arus mayoritas. Kadang, ia harus berdiri sendiri di tengah dunia yang mengagungkan kemajuan material. Tetapi justru di situlah letak kemuliaannya—karena ia datang dari Tuhan, bukan dari manusia.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *