Penemu Beta Blocker: Kisah James Black Menyelamatkan Jutaan Nyawa

James Black adalah sosok luar biasa di dunia kedokteran modern. Ia menciptakan dua kelompok obat revolusioner yang telah menyelamatkan jutaan nyawa: beta blocker untuk penyakit jantung dan histamin antagonis untuk sakit maag. Berkat penemuan ini, ia dianugerahi Penghargaan Nobel di bidang Kedokteran pada tahun 1988.

Black bukan sekadar ilmuwan biasa. Ia memperkenalkan pendekatan baru dalam menciptakan obat, yaitu dengan merancang molekul sintetis yang mampu menghalangi molekul alami penyebab penyakit di dalam tubuh. Pendekatan ini bukan hanya inovatif, tetapi juga menjadi fondasi bagi banyak penemuan obat modern setelahnya.

Obat ciptaannya, propranolol dan cimetidine, bukan hanya populer, tetapi menjadi yang paling banyak diresepkan pada masanya. Cimetidine bahkan mencetak sejarah sebagai obat resep pertama yang menghasilkan penjualan lebih dari satu miliar dolar.

Lahir pada 14 Juni 1924 di kota kecil Uddingston, Skotlandia, James Black tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang mantan penambang yang kemudian menjadi insinyur pertambangan lewat pendidikan malam. Ibunya seorang penganut Baptis yang taat, namun keluarga mereka tetap hangat dan penuh musik.

Sejak kecil, James diajak oleh sang ayah untuk menjauhi kehidupan tambang dan mengejar pendidikan yang lebih baik. Di sekolah, ia dikenal cerdas, terutama dalam matematika dan musik. Gurunya melihat potensi besar dan mendorongnya ikut ujian masuk Universitas St Andrews di usia 15 tahun.

Keputusannya untuk belajar kedokteran dipengaruhi oleh kakaknya, William, yang juga kuliah di sana. Ia berhasil masuk dan belajar dengan sangat giat, bahkan mendapat banyak penghargaan akademis. Namun, setelah lulus, ia merasa tidak cocok menjadi dokter rumah sakit karena cara sebagian dokter memperlakukan pasien tanpa empati.

Black akhirnya memutuskan menjadi dosen fisiologi di Singapura selama tiga tahun, guna melunasi utangnya selama kuliah. Sepulang dari sana, ia kembali ke Inggris dan menjadi kepala departemen fisiologi di Sekolah Kedokteran Hewan Universitas Glasgow. Di sinilah ia mulai meneliti dua hal penting: efek serotonin pada lambung dan cara menurunkan kebutuhan oksigen pada jantung penderita angina.

Salah satu momen paling berpengaruh dalam hidupnya adalah saat melihat ayahnya meninggal karena serangan jantung. Hal itu membuatnya berpikir: bagaimana jika efek adrenalin pada jantung bisa dihambat agar jantung tidak perlu bekerja terlalu keras? Gagasan ini menjadi awal mula terciptanya beta blocker.

Berkat makalah lama dari ilmuwan lain bernama Raymond Ahlquist, Black menyadari adanya dua jenis reseptor adrenalin di tubuh, yaitu alfa dan beta. Ia lalu berpikir, jika bisa menciptakan molekul yang mirip adrenalin tapi tidak memicu kerja jantung, maka reseptor bisa diblokir dan kebutuhan oksigen jantung bisa dikurangi.

Pada tahun 1958, Black menawarkan idenya kepada perusahaan kimia terbesar Inggris saat itu, ICI. Di sanalah ia memimpin tim peneliti dan akhirnya menciptakan propranolol, yang disetujui untuk digunakan secara medis pada tahun 1964. Obat ini menjadi penyelamat bagi penderita tekanan darah tinggi, kecemasan, hingga tremor.

Metodenya sangat berbeda dari ilmuwan lain pada masa itu. Jika biasanya para ilmuwan mencoba berbagai molekul secara acak, Black justru merancang molekul dari awal dengan tujuan tertentu. Pendekatan ini dianggap seperti menembakkan peluru dari senapan, dibandingkan menebar peluru dari senapan angin.

Setelah sukses dengan propranolol, Black melanjutkan karyanya di perusahaan Smith, Kline & French. Di sana, ia menciptakan cimetidine, obat pertama yang mampu menghambat kerja histamin di lambung. Obat ini kemudian dikenal dengan merek dagang Tagamet dan menjadi obat paling laris di dunia.

Meski penemuan-penemuannya membawa keuntungan besar bagi perusahaannya, Black tidak mengejar kekayaan. Ia hanya ingin menyelesaikan masalah medis yang ada di depan matanya. Prinsip inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai pribadi yang tulus dan berdedikasi.

Setelah keluar dari industri, Black kembali ke dunia akademik. Ia sempat mengajar di berbagai universitas ternama dan mendirikan James Black Foundation untuk mendukung penelitian farmakologi. Pada tahun 1992, ia diangkat menjadi Rektor Universitas Dundee hingga tahun 2006.

Sepanjang hidupnya, Black menerima banyak penghargaan bergengsi, termasuk Penghargaan Lasker, Knight dari Ratu Elizabeth, hingga Medali Emas Wellcome. Namun, kehormatan tertinggi datang pada tahun 1988 saat ia menerima Hadiah Nobel Kedokteran atas kontribusinya bagi dunia.

Di balik kesuksesannya, kehidupan pribadi Black juga penuh cerita. Ia menikah dua kali dan memiliki satu putri. Ia sempat kehilangan istri pertamanya, Hilary, pada tahun 1986, dan menikah lagi dengan Profesor Rona MacKie pada 1994. Ia tetap aktif berkarya hingga tahun-tahun terakhir hidupnya.

Pada tahun 2002, Black didiagnosis menderita kanker prostat dan diperkirakan hanya akan hidup dua tahun. Namun, ia bertahan hingga delapan tahun kemudian. James Black wafat pada 22 Maret 2010 di usia 85 tahun. Warisannya dalam dunia kedokteran tetap hidup dan menyentuh kehidupan jutaan orang hingga kini.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *