MRI Ajaib: Mendeteksi Penuaan dan Risiko Demensia Sebelum Gejala Muncul

Bayangkan jika kesehatan masa depan Anda bisa terlihat dari satu pemindaian otak. Kini hal itu bukan lagi sekadar imajinasi. Para ilmuwan dari Duke University, Harvard, dan University of Otago di Selandia Baru telah menciptakan alat pemindai otak berbasis MRI yang dapat mengukur seberapa cepat seseorang menua. Bahkan, alat ini mampu memprediksi risiko penyakit seperti demensia dan penyakit kronis lainnya, jauh sebelum gejala pertama muncul.

Penelitian ini dipublikasikan pada 1 Juli 2025 di jurnal Nature Aging. Dengan menggunakan data dari studi jangka panjang yang melibatkan 1.037 orang sejak mereka lahir di kota Dunedin, Selandia Baru, para peneliti berhasil menciptakan sebuah model bernama DunedinPACNI. Model ini dilatih untuk memperkirakan kecepatan penuaan seseorang hanya melalui satu kali pemindaian otak MRI yang diambil ketika mereka berusia 45 tahun.

Berbeda dari alat ukur penuaan lainnya yang hanya mengandalkan data satu waktu dari kelompok usia berbeda, pendekatan ini menggunakan data riil yang melacak satu individu secara berkelanjutan. Selama hampir dua dekade, para peneliti memantau tekanan darah, indeks massa tubuh, kadar glukosa dan kolesterol, fungsi paru dan ginjal, bahkan kesehatan gigi para peserta studi.

Ketika diterapkan pada berbagai data dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Amerika Latin, alat ini menunjukkan hasil yang konsisten. Mereka yang dinilai mengalami penuaan lebih cepat memiliki kinerja kognitif yang lebih buruk, mengalami penyusutan hippocampus lebih cepat (bagian otak yang penting untuk memori), dan lebih rentan mengalami penurunan kemampuan berpikir di masa tua.

Bahkan, dalam salah satu analisis terhadap 624 orang berusia 52 hingga 89 tahun, ditemukan bahwa mereka yang menunjukkan penuaan tercepat 60% lebih mungkin mengalami demensia beberapa tahun kemudian. Mereka juga mengalami gangguan memori dan kemampuan berpikir lebih awal dibandingkan dengan yang menua lebih lambat.

Tak hanya itu, mereka yang menua lebih cepat juga terbukti lebih rapuh, lebih sering mengalami serangan jantung, penyakit paru, atau stroke. Bahkan, mereka memiliki kemungkinan 18% lebih besar untuk didiagnosis penyakit kronis dalam beberapa tahun, dan 40% lebih tinggi untuk meninggal dunia dalam kurun waktu tersebut.

Temuan ini memperlihatkan keterkaitan erat antara penuaan otak dan tubuh. Yang mengejutkan, korelasi ini ditemukan konsisten di berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan demografi—termasuk populasi berpendapatan rendah dan non-kulit putih di Inggris dan Amerika Latin. Artinya, alat ini tidak hanya berlaku untuk satu kelompok masyarakat saja.

Ahmad Hariri, profesor psikologi dan ilmu saraf di Duke University, menjelaskan bahwa selama ini banyak terapi untuk penyakit Alzheimer gagal karena dimulai terlalu lambat, saat kerusakan otak sudah terlalu parah. Dengan alat ini, harapannya diagnosis dapat dilakukan lebih dini, sebelum kerusakan otak berkembang terlalu jauh.

Lebih lanjut, menurut Ethan Whitman—penulis utama yang tengah menempuh studi doktoral di Duke—alat ini juga bisa membantu menjelaskan mengapa beberapa orang menua lebih cepat dari yang lain, misalnya akibat kualitas tidur buruk atau gangguan mental tertentu.

Meski saat ini DunedinPACNI masih digunakan dalam dunia riset, tim berharap ke depannya alat ini bisa diintegrasikan dalam layanan kesehatan untuk memprediksi penuaan dan risiko penyakit dengan lebih akurat. Mereka juga telah mengajukan hak paten untuk teknologi ini. Penelitian ini mendapat dukungan dari U.S. National Institute on Aging, UK Medical Research Council, dan New Zealand Health Research Council.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *