Mengapa Polusi Tetap Tinggi Meski Emisi Menurun?

Selama beberapa dekade terakhir, dunia telah berupaya mengurangi emisi polutan, namun kualitas udara belum membaik secepat yang diharapkan. Sebuah studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Hokkaido, Jepang, mengungkap alasan mengapa kadar nitrat di atmosfer tetap tinggi, meski emisi penyebabnya sudah berkurang sejak tahun 1990-an. Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 3 Juni 2025, dan memberikan wawasan penting tentang dinamika kimia di udara serta dampaknya terhadap perubahan iklim.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menyoroti bahwa nitrat, salah satu polutan utama di atmosfer, masih banyak ditemukan meski emisi prekursor nitrat—zat yang membentuk nitrat—telah berkurang secara signifikan. Nitrat sendiri bisa berbentuk gas maupun partikel. Nitrat dalam bentuk gas lebih mudah menghilang dari udara, tetapi dalam bentuk partikel, terutama partikel halus, zat ini bisa bertahan lebih lama dan menyebar jauh dari sumbernya. Inilah yang menyebabkan nitrat tetap berada di atmosfer dalam jangka panjang.

Para peneliti menemukan bahwa ada “efek penyangga” yang terjadi di atmosfer. Efek ini membuat nitrat gas berubah menjadi partikel, sehingga memperpanjang masa tinggalnya di udara. Bahkan, di tempat-tempat yang jauh dari sumber polusi, seperti Kutub Utara, peneliti tetap menemukan endapan nitrat yang tinggi dalam inti es. Ini menandakan bahwa zat tersebut dibawa dari tempat lain oleh angin dan proses atmosfer lainnya, bukan berasal dari aktivitas lokal.

Untuk menelusuri sejarah keberadaan nitrat di atmosfer, tim yang dipimpin oleh Profesor Yoshinori Iizuka dari Institut Ilmu Suhu Rendah Universitas Hokkaido, menganalisis inti es dari Greenland tenggara. Mereka mencatat bahwa kadar nitrat meningkat sejak tahun 1850-an, memuncak antara 1970 hingga 2000, lalu sedikit menurun namun tetap tinggi hingga kini. Penurunan ini jauh lebih lambat dibanding penurunan emisi prekursor nitrat, menandakan bahwa faktor lain turut memengaruhi.

Dengan menggunakan model transportasi kimia global, para peneliti menemukan bahwa perbedaan antara kadar nitrat dan prekursornya berkorelasi dengan tingkat keasaman atmosfer. Artinya, bukan suhu udara atau kondisi cuaca yang membuat nitrat bertahan di atmosfer, tetapi proses kimia yang mengubah bentuknya menjadi partikel. Keasaman udara yang meningkat menyebabkan nitrat lebih banyak berubah menjadi bentuk partikel, sehingga lebih sulit hilang dan lebih mudah menyebar.

Penelitian ini juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya, data akurat tentang nitrat partikel dalam inti es berhasil dikumpulkan. Menurut Iizuka, ini adalah pencapaian penting karena selama ini sangat sulit mendapatkan data semacam itu. Data ini bisa membantu memperkirakan seberapa besar pemanasan di Kutub Utara akan meningkat akibat peran nitrat sebagai aerosol utama yang menggantikan sulfat di masa depan.

Dengan kata lain, walaupun emisi sudah ditekan, nitrat tetap menjadi ancaman bagi kualitas udara dan iklim global karena kemampuannya bertahan lama di atmosfer. Studi ini memperingatkan bahwa ke depannya, prediksi perubahan iklim di kawasan Arktik harus mempertimbangkan peran nitrat secara lebih serius. Pemahaman terhadap proses kimia di udara menjadi kunci untuk mengembangkan kebijakan lingkungan yang lebih efektif.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *