
Lebih dari 300 juta tahun yang lalu, Bumi pernah mengalami bencana besar yang memengaruhi kehidupan di lautan. Saat itu, terjadi lonjakan besar karbon dioksida yang dilepaskan secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi raksasa. Lonjakan karbon ini menyebabkan laut kehilangan oksigen secara drastis, sehingga banyak makhluk laut yang tidak bisa bertahan hidup.
Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari University of California Davis, Chinese Academy of Sciences, dan Texas A&M University berhasil mengungkap lima peristiwa besar yang disebut sebagai “sendawa karbon” purba. Peristiwa ini menyebabkan lautan kekurangan oksigen hingga 4% sampai 12%. Penemuan ini didapatkan dengan menggabungkan analisis sedimen dasar laut dan pemodelan iklim menggunakan superkomputer.
Yang membuat para ilmuwan khawatir, laju kenaikan karbon dioksida pada masa kini akibat ulah manusia terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sendawa karbon di masa purba. Jika di masa lalu lonjakan ini berlangsung ratusan ribu tahun, kini manusia melepaskan karbon dalam jumlah serupa hanya dalam beberapa abad. Kondisi ini tentu menjadi ancaman besar bagi laut dan seluruh makhluk yang bergantung padanya.
Para peneliti menggali inti sedimen dari formasi geologi bernama Naqing di Tiongkok Selatan. Inti sedimen ini menjadi saksi bisu kondisi Bumi 310 hingga 290 juta tahun lalu. Dari hasil analisis sedimen tersebut, ditemukan jejak lonjakan karbon dioksida yang bersamaan dengan perubahan tanda isotop uranium di lautan.
Dengan memanfaatkan data geokimia ini, para ilmuwan menjalankan model iklim canggih di superkomputer. Model ini mereka jalankan ratusan ribu kali untuk mendapatkan gambaran paling realistis tentang kondisi iklim purba. Hasilnya menunjukkan lima kali terjadinya penurunan kadar oksigen laut yang bertepatan dengan lonjakan karbon dioksida.
Lima peristiwa sendawa karbon tersebut terjadi pada waktu yang berbeda. Peristiwa pertama berlangsung sekitar 310 juta tahun lalu, pada awal masa Pennsylvanian. Peristiwa kedua terjadi sekitar 307 juta tahun lalu, saat Bumi mengalami aktivitas vulkanik besar. Peristiwa ketiga terjadi 304 juta tahun lalu dan menurunkan oksigen laut hingga sekitar 8%.
Peristiwa keempat berlangsung sekitar 297 juta tahun lalu. Saat itu, penurunan oksigen laut mendekati 10%, menyebabkan gangguan besar pada kehidupan laut. Peristiwa kelima terjadi 290 juta tahun lalu dan menjadi yang terpanjang durasinya. Peristiwa ini diduga sangat memengaruhi ekosistem pesisir.
Menariknya, meskipun pada masa itu Bumi memiliki kadar oksigen atmosfer 40% hingga 50% lebih tinggi dibandingkan saat ini, lautan tetap bisa mengalami anoksia atau kekurangan oksigen. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa kondisi lebih buruk sangat mungkin terjadi pada masa kini akibat emisi karbon dari aktivitas manusia.
Menurut para ilmuwan, jika peristiwa seperti itu terjadi lagi saat ini, yang pertama terdampak adalah wilayah pesisir. Padahal, wilayah ini kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi tumpuan hidup jutaan orang. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem laut terhadap perubahan iklim.
Para peneliti juga menekankan bahwa lonjakan karbon purba tersebut tidak ada yang terjadi secepat lonjakan karbon yang sedang terjadi sekarang. Sumber karbon di masa lalu berasal dari alam, seperti letusan gunung berapi, sedangkan sekarang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.
Profesor Isabel Montañez dari University of California Davis mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang ini ibarat “sendawa karbon” yang dibuat manusia, namun dengan kecepatan dua hingga tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan peristiwa purba. Ini jelas menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan ekosistem laut.
Dampak dari sendawa karbon purba itu terlihat jelas dalam catatan geologi. Setiap kali peristiwa ini terjadi, perkembangan keanekaragaman hayati laut seakan berhenti. Meski tidak selalu diikuti kepunahan massal, kehidupan laut sangat tertekan selama masa anoksia tersebut.
Para peneliti menekankan bahwa pelajaran dari masa lalu ini seharusnya membuka mata kita. Kita tidak boleh merasa aman hanya karena kondisi Bumi kini berbeda dari jutaan tahun lalu. Justru dengan perubahan yang lebih cepat, risikonya bisa lebih parah.
Studi ini juga menjadi bukti bahwa laut sangat sensitif terhadap perubahan kadar karbon dioksida di atmosfer. Karbon yang kita lepaskan hari ini bisa memicu bencana yang efeknya bertahan selama ribuan tahun ke depan.
Penelitian penting ini diterbitkan pada 23 Juni 2025 dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi ini mendapat dukungan dari National Natural Science Foundation of China dan U.S. National Science Foundation.
Pesan utama dari penelitian ini adalah kita harus segera mengurangi emisi karbon dioksida. Jika tidak, laut kita bisa kembali kehilangan oksigen dan menyebabkan runtuhnya ekosistem laut seperti yang pernah terjadi di masa purba.[]
