
Di balik kemajuan ekonomi dan teknologi yang terus dikejar, Indonesia seperti banyak negara lain menghadapi krisis sosial yang lebih tersembunyi: hilangnya peran ayah dalam keluarga dan masyarakat. Fenomena ini dikenal dengan istilah fatherless country, yakni kondisi di mana banyak anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional. Ini bukan sekadar problem keluarga, tetapi krisis yang merembet pada tatanan sosial dan masa depan bangsa.
Menurut psikolog Edward Elmer Smith, fatherless country adalah kondisi ketika masyarakat secara kolektif kehilangan peran dan kehadiran ayah dalam pengasuhan anak-anaknya. Penyebabnya beragam: perceraian, budaya patriarki yang menempatkan ayah sebagai pencari nafkah semata, tekanan ekonomi, migrasi kerja, hingga sistem sosial yang belum mendukung peran aktif ayah dalam keluarga. Dampaknya tak hanya dirasakan anak, tetapi juga pada kohesi sosial masyarakat luas.
Amerika Serikat menjadi salah satu contoh negara dengan tingkat fatherlessness yang tinggi. Berdasarkan data U.S. Census Bureau, jutaan anak di AS hidup tanpa ayah di rumah. Faktor utama adalah angka perceraian yang tinggi, kehamilan remaja tanpa pernikahan, serta sistem sosial yang kurang mendukung keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Hasilnya, generasi muda seringkali kehilangan panduan moral dan emosional dari sosok ayah.
Inggris juga menghadapi tantangan serupa. Banyak laporan dari lembaga sosial mengungkap bahwa anak-anak laki-laki di Inggris kerap tumbuh tanpa figur ayah yang stabil. Hal ini dikaitkan dengan perubahan struktur keluarga, urbanisasi yang cepat, dan kebijakan kesejahteraan sosial yang tak jarang membuat peran ayah semakin terpinggirkan. Ini berkontribusi pada meningkatnya masalah perilaku dan krisis identitas pada remaja.
Indonesia pernah dikaitkan sebagai negara dengan tingkat fatherlessness tertinggi ketiga di dunia. Walaupun klaim ini perlu divalidasi dengan riset akademis yang lebih kuat, fenomena ini tak bisa diabaikan begitu saja. Budaya patriarki yang menempatkan ayah lebih sebagai pencari nafkah ketimbang pengasuh, angka perceraian yang terus meningkat (lebih dari 500.000 kasus pada 2022), serta tekanan ekonomi yang memaksa banyak ayah merantau, menjadikan kehadiran ayah, baik fisik maupun emosional, semakin langka di banyak keluarga.
Di banyak daerah Indonesia, maskulinitas seringkali dimaknai sebatas kekuatan fisik dan tanggung jawab ekonomi. Pendidikan peran ayah dalam pengasuhan emosional dan spiritual nyaris tak mendapat tempat. Akibatnya, banyak anak kehilangan kedekatan batin dengan sosok ayah, meskipun secara fisik ayah hadir di rumah. Ini melahirkan generasi yang kesulitan membangun relasi sehat, baik dalam keluarga maupun di masyarakat.
Ketidakhadiran figur ayah menimbulkan sejumlah krisis pada generasi muda. Identitas diri menjadi kabur karena hilangnya role model utama. Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah lebih rentan terlibat dalam perilaku menyimpang, kekerasan, atau kriminalitas. Di samping itu, mereka juga kesulitan mengembangkan empati sosial karena kehilangan contoh langsung dalam keluarga tentang relasi yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Penelitian global menunjukkan keterkaitan fatherlessness dengan peningkatan kekerasan dan kriminalitas. Anak-anak tanpa figur ayah yang mendampingi mereka secara emosional lebih rentan merasa terpinggirkan dan marah terhadap sistem sosial. Ini berpotensi meletup dalam bentuk kenakalan remaja, konflik horizontal, bahkan radikalisasi.
Ayah tak hanya berperan dalam ekonomi keluarga, tetapi juga sebagai penjaga nilai, narasi moral, dan sejarah keluarga. Ketika ayah absen, baik secara fisik maupun emosional, anak kehilangan akses terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan lintas generasi. Ini membuat narasi moral bangsa terputus dan identitas kebangsaan menjadi rapuh.
Fenomena fatherlessness tak cukup diatasi di tingkat keluarga saja. Negara perlu hadir melalui kebijakan yang mendukung peran ayah dalam pengasuhan. Cuti ayah yang adil, pendidikan tentang peran ayah di sekolah, serta kampanye publik yang menyeimbangkan maskulinitas dengan empati menjadi langkah penting membangun ulang peran ayah dalam masyarakat.
Sayangnya, hingga kini kebijakan cuti ayah di Indonesia masih sangat minim dan belum memadai untuk mendukung keterlibatan ayah sejak awal kelahiran anak. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan ayah sejak dini berperan penting dalam perkembangan psikologis dan sosial anak. Indonesia perlu mencontoh negara-negara Skandinavia yang sukses dengan kebijakan cuti ayah yang progresif.
Media massa dan institusi pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk narasi baru tentang ayah. Maskulinitas tak boleh lagi dimaknai sebatas otoritas atau kekuatan fisik. Empati, kepedulian, dan kehadiran emosional harus menjadi bagian dari citra ayah masa kini. Narasi ini penting untuk membentuk budaya baru yang lebih mendukung keluarga utuh.
Pendidikan tentang peran ayah seharusnya masuk dalam kurikulum pendidikan karakter sejak sekolah dasar. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa menjadi ayah bukan hanya soal memberi nafkah, tetapi juga soal hadir, mendidik, dan menjadi teladan. Ini menjadi investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang menghargai pentingnya peran ayah.
Selain negara, komunitas juga perlu bergerak. Program seperti sekolah ayah, komunitas parenting, dan konseling keluarga harus diperluas agar para ayah mendapatkan dukungan untuk lebih hadir secara emosional dalam keluarga. Gerakan-gerakan ini bisa menjadi pendorong perubahan budaya secara perlahan namun pasti.
Di era digital, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan hubungan ayah dan anak, terutama bagi ayah yang harus bekerja jauh dari rumah. Video call, pesan singkat, dan berbagai aplikasi parenting bisa menjadi jembatan untuk menghadirkan figur ayah dalam kehidupan anak meskipun terpisah jarak.
Krisis fatherless bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam semalam. Perlu upaya kolektif dari keluarga, masyarakat, dan negara untuk membangun kembali sosok ayah yang utuh: hadir secara fisik, emosional, dan spiritual. Ini adalah pekerjaan besar, tetapi penting untuk memastikan masa depan generasi Indonesia yang lebih kuat dan seimbang.
Nagara Fatherless adalah peringatan bagi kita semua bahwa membangun bangsa tak cukup hanya lewat pembangunan ekonomi atau infrastruktur. Kehadiran ayah dalam keluarga adalah fondasi bagi bangsa yang kuat, empatik, dan bermartabat. Sudah saatnya kita bersama-sama menjadikan peran ayah sebagai prioritas dalam pembangunan karakter bangsa.[]
