
Bayangkan jika hasil pemindaian dada Anda yang dulu pernah dilakukan untuk alasan lain, ternyata menyimpan peringatan tersembunyi tentang kesehatan jantung Anda. Kini, hal itu menjadi mungkin berkat teknologi kecerdasan buatan (AI) terbaru. Para peneliti dari Mass General Brigham bekerja sama dengan Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat (VA) telah mengembangkan algoritma deep learning bernama AI-CAC. Teknologi ini mampu menelusuri hasil CT scan dada lama Anda dan mendeteksi kadar kalsium pada arteri koroner—suatu penanda penting yang dapat memprediksi risiko serangan jantung dan kematian dalam 10 tahun ke depan. Penelitian ini dipublikasikan pada 23 Juni 2025 di jurnal NEJM AI oleh Mass General Brigham.
Setiap tahunnya, jutaan CT scan dada dilakukan, terutama pada orang sehat untuk skrining kanker paru-paru. Namun, para peneliti menyebutkan bahwa hasil scan ini sering kali menyimpan informasi penting tentang risiko penyakit jantung yang terabaikan begitu saja. Menurut Hugo Aerts, PhD, selaku peneliti senior dan direktur Program Kecerdasan Buatan dalam Kedokteran di Mass General Brigham, AI dapat mengubah cara dokter memberikan layanan kesehatan. Teknologi ini memungkinkan dokter mendeteksi tanda-tanda awal penyakit jantung, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi serangan jantung.
CT scan dada memang bisa mendeteksi tumpukan kalsium di pembuluh darah jantung, yang berhubungan dengan risiko serangan jantung. Biasanya, untuk mengukur kadar kalsium secara akurat digunakan CT scan jenis gated yang disesuaikan dengan detak jantung agar hasilnya lebih jelas. Namun kenyataannya, sebagian besar CT scan dada yang dilakukan untuk pemeriksaan rutin adalah jenis nongated. Para peneliti menyadari bahwa kadar kalsium tetap dapat terlihat di hasil CT scan nongated ini. Hal inilah yang mendorong mereka menciptakan AI-CAC, algoritma deep learning yang mampu mengukur kadar kalsium pada arteri koroner meski dari hasil scan nongated, dan memprediksi risiko serangan jantung.
Model AI-CAC ini dilatih menggunakan ribuan CT scan dada para veteran yang dikumpulkan dari 98 pusat medis VA di Amerika. Dalam pengujian terhadap 8.052 hasil CT scan, teknologi ini berhasil mengidentifikasi keberadaan kalsium dengan akurasi hampir 90 persen. Bahkan, AI-CAC juga mampu menilai apakah skor kalsium menunjukkan risiko sedang atau tinggi terhadap penyakit jantung. Pasien dengan skor kalsium sangat tinggi (lebih dari 400) memiliki risiko kematian 3,49 kali lipat lebih tinggi dalam 10 tahun dibandingkan mereka yang skornya nol. Empat ahli jantung yang meninjau temuan ini menyatakan hampir seluruh pasien dengan skor sangat tinggi itu seharusnya mendapatkan terapi penurun lipid.
Saat ini, sistem data gambar di rumah sakit VA menyimpan jutaan CT scan nongated yang awalnya dibuat untuk pemeriksaan lain. Menurut Raffi Hagopian, MD, penulis utama studi ini, inilah peluang besar bagi AI-CAC untuk membantu dokter memanfaatkan data yang sudah ada guna menilai risiko penyakit jantung dan meningkatkan perawatan pasien. Dengan begitu, perawatan medis bisa bergeser dari yang sifatnya reaktif menjadi pencegahan proaktif, sehingga menekan angka kematian, kesakitan jangka panjang, serta biaya kesehatan. Para peneliti juga menyadari adanya keterbatasan, karena studi ini baru dilakukan pada populasi veteran. Ke depan, mereka berencana meneliti lebih luas di masyarakat umum dan menilai apakah teknologi ini dapat memantau efek obat penurun lipid terhadap skor kalsium.
Penelitian penting ini dipublikasikan di NEJM AI pada 23 Juni 2025, dengan sumber utama dari Mass General Brigham bekerja sama dengan Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat.
Ringkasnya, penelitian ini menunjukkan bahwa hasil CT scan lama Anda, yang mungkin sudah terlupakan, bisa menjadi sumber informasi penting untuk memprediksi risiko penyakit jantung. Dengan bantuan kecerdasan buatan, potensi bahaya ini dapat terdeteksi lebih dini, sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan sebelum muncul gejala.[]
