
Peneliti dari Universitas Reading dan Umeå University telah menemukan sebuah pola global yang mengejutkan: di mana pun di Bumi ini, kehidupan mengikuti aturan yang sama. Terlepas dari apakah makhluk hidup itu berupa pohon, capung, burung, atau ikan pari laut, semuanya cenderung berkelompok dalam wilayah kecil yang disebut “titik panas keanekaragaman hayati”, lalu menyebar secara perlahan ke wilayah sekitarnya—namun semakin jauh, semakin sedikit spesies yang bisa bertahan.
Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dunia sebenarnya tidak tersebar secara acak, melainkan sangat terorganisir mengikuti pola tertentu. Wilayah-wilayah inti ini—yang menjadi tempat konsentrasi kehidupan tertinggi—memberikan kondisi lingkungan paling ideal bagi spesies untuk berkembang dan bertahan. Dari sinilah kehidupan menyebar, meskipun tidak semua spesies mampu bertahan di luar zona inti tersebut.
Peneliti utama Rubén Bernardo-Madrid dari Umeå University menyatakan bahwa pola ini berlaku di setiap wilayah geografis besar (bioregion) di dunia. Menurutnya, inti wilayah keanekaragaman hayati ini menjadi sumber utama penyebaran spesies, semacam “jantung kehidupan” yang memancarkan keberagaman ke seluruh penjuru wilayah.
Studi ini mencakup berbagai kelompok makhluk hidup yang sangat berbeda gaya hidupnya—dari amfibi, burung, reptil, mamalia, pohon, hingga ikan pari laut. Meskipun sangat berbeda, mereka semua mengikuti pola yang sama. Artinya, ada satu prinsip umum yang mendasari cara kehidupan tersusun di Bumi.
Prinsip itu disebut “penyaringan lingkungan” (environmental filtering)—sebuah konsep bahwa hanya spesies yang mampu bertahan dalam kondisi tertentu (seperti suhu ekstrem, kekeringan, atau salinitas tinggi) yang bisa hidup di suatu tempat. Dan ini berlaku di seluruh planet. Apa pun bentuk ancamannya—panas, dingin, atau kekeringan—hanya spesies yang kuatlah yang bertahan. Inilah yang menciptakan distribusi kehidupan yang bisa diprediksi.
Para ilmuwan menilai temuan ini sangat penting. Dengan memahami aturan ini, kita bisa memprediksi bagaimana kehidupan akan bereaksi terhadap perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati di masa depan. Dan karena zona inti ini memainkan peran sangat besar dalam menjaga keanekaragaman hayati seluruh wilayah, melindungi wilayah-wilayah ini harus menjadi prioritas utama konservasi global.
Ulasan ini didasarkan pada penelitian yang dipublikasikan pada 4 Juni 2025 dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. Studi ini merupakan kolaborasi antara Umeå University (Swedia), University of Reading (Inggris), dan institusi lainnya seperti Estación Biológica de Doñana-CSIC (Spanyol) serta Rey Juan Carlos University (Spanyol). Para peneliti menelusuri data dari berbagai wilayah ekologi global dan membandingkan distribusi spesies dari banyak cabang kehidupan. Studi ini memberikan bukti kuat bahwa ada pola universal dalam penyebaran makhluk hidup di Bumi.[]
