
Para ilmuwan dari University of Miami telah menemukan lebih dari 230 jenis virus raksasa baru yang hidup di lautan. Penemuan ini mengejutkan karena virus-virus ini tidak hanya besar dan kompleks, tapi juga punya kemampuan unik: mereka bisa membajak proses fotosintesis pada alga laut. Fotosintesis adalah proses penting di mana alga mengubah cahaya matahari menjadi energi, yang juga menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida dari udara. Ketika virus-virus ini menginfeksi alga, mereka dapat mengubah cara alga berfotosintesis, bahkan membuat alga berkembang biak secara tak terkendali. Akibatnya, bisa terjadi ledakan populasi alga atau algal bloom yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Penelitian ini dipublikasikan pada 21 April 2025 di jurnal ilmiah Nature npj Viruses. Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan teknologi superkomputer dan alat baru bernama BEREN untuk memindai jutaan data DNA dari laut yang tersedia secara publik. Hasilnya, mereka menemukan ratusan genom virus raksasa yang sebelumnya belum pernah diketahui. Di dalam genom tersebut, ditemukan lebih dari 500 protein baru, termasuk sembilan protein yang terlibat dalam fotosintesis—hal yang sebelumnya hanya ditemukan pada tumbuhan dan mikroorganisme.
Menurut para ilmuwan, virus-virus ini berperan besar dalam ekosistem laut karena mereka menyerang organisme mikroskopis seperti alga dan plankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan laut. Ketika alga mati karena serangan virus, mereka melepaskan nutrisi yang memengaruhi seluruh kehidupan laut di sekitarnya. Selain itu, fungsi-fungsi unik dalam virus ini bisa memiliki manfaat lain di masa depan, seperti digunakan dalam bioteknologi untuk membuat enzim baru.
Sebelumnya, virus-virus raksasa ini sulit terdeteksi karena keterbatasan teknologi. Namun, dengan alat BEREN dan bantuan superkomputer Pegasus di University of Miami, para peneliti berhasil mengumpulkan dan menganalisis data dari sembilan proyek riset laut global yang mencakup lautan dari kutub utara hingga selatan. Penemuan ini membuka pintu bagi pemantauan kesehatan laut yang lebih akurat di masa depan, termasuk dalam mendeteksi polusi dan virus-virus baru yang mungkin muncul di perairan dunia.[]
